SABUA
Not a member yet
132 research outputs found
Sort by
Kajian Ruang Terbuka Publik di Kota Kotamobagu
Public open space is a necessity in an urban area because it is equipped with supporting facilities for active and passive community activities, either alone or in groups. Kotamobagu City has 35 public open spaces, but the available supporting facilities are not evenly distributed, resulting in some public open spaces being rarely visited because they cannot serve the needs of the community. This study aims to analyze the need for public open space and the need for public open space facilities in Kotamobagu City. The research method used in this research is descriptive qualitative using standard parameters of the Minister of Public Works Regulation No. 5 of 2008 concerning Guidelines for the Provision and Utilization of Green Open Space in Urban Areas and the radius of reaching social facilities according to Hugh Barton.The results of this study indicate that the need for public open space based on the population is adequate. The need for public open space based on the radius of achievement in Kotamobagu Utara and West Kotamobagu Districts has covered all settlements, but Kotamobagu Timur and South Kotamobagu Districts do not cover all settlements, requiring additional public open space. The need for public open space facilities requires the addition of all available public open space units in Kotamobagu City. Keyword: Public Open Space; Public Open Space Facilities; Kotamobagu Cit
Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara
Land suitability is a measurement of a certain land use whether it is in accordance with the land capability in terms of land cover ratio directions, building height directions, raw water utilization directions, and land capacity. This research was conducted in Talawaan Subdistrict, North Minahasa Regency to determine the spatial capacity and suitability of the land carrying capacity in Talawaan Subdistrict for the development of large-scale new settlement functions based on the Regional Regulation of North Minahasa Regency Number 1 of 2013 about Regional Spatial Planning for North Minahasa Regency 2013- 2033. The method used is descriptive analysis method and overlay of various basic physical maps, such as maps of morphology, topography, geology, soil types, hydrology, rainfall, land use, natural disasters, and land capability unit maps obtained later. The results of this study indicated that the land in Talawaan District is feasible to develop for new residential functions on a massive scale by taking into account the applicable technical terms and conditions. Keyword: Land Capability, Land Suitability, Talawaan Subdistrict
Perwilayahan Peri Urban Berdasarkan Aspek Fisik Sosial dan Ekonomi di Kecamatan Kalawat, Talawaan dan Wori Kabupaten Minahasa Utara
Tuntutan kebutuhan lahan perkotaan seringkali berdampak pada kawasan sekitarnya atau disebut juga kawasan pinggiran kota, khususnya Kecamatan Kalawat, Talawaan dan Wori yang merupakan kawasan yang berbatasan dengan kota Manado sebagai pusat kota Provinsi Sulawesi Utara yang mulai mengalami perubahan fisik serta perubahan sosial dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi penelitian, menganalisis wilayah dan mengklasifikasikan zona perwilayahan peri urban berdasarkan klasifikasi WPU yaitu peri urban primer, peri urban sekunder dan rural peri urban dilakukan dengan analisis skoring agar diketahui daerah mana saja yang cenderung lebih terpengaruh jika dilihat dari ciri kekotaan dan kedesaan dilanjutkan mengklasifikasikan menggunakan arc GIS sehingga diketahui Kecamatan Kalawat memiliki 2 desa berkarakteristik PU Primer dan 8 desa berkarakteristik PU Sekunder, Talawaan 1 desa berkarakteristik PU primer, 10 desa PU Sekunder 1 desa Rural PU berbeda dengan Kecamatan Wori, 2 desa berkarakteristik PU Sekunder dan 18 desa berkarakteristik Rural PU. Hasil akhir menunjukkan Kecamatan Kalawat lebih dominan berkarakteristik kekotaan dari Kecamatan Talawaan dan Wori peri. Kata kunci: Peri-urban; Karakteristik; Kecamatan Kalawat; Kecamatan Talawaan; Kecamatan Wori
Partisipasi Masyarakat Pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Kecamatan Likupang Timur
East Likupang District is designated as a Special Economic Zone (SEZ) for Tourism according to Government Regulation Number 84 of 2019 concerning the Likupang Special Economic Zone. However, the problem is that the citizen does not actively participate in the development process. The purpose of this study is to identify citizen participation and to analyze the relationship between the factors that influence citizen participation in the Tourism Special Economic Zone (SEZ) in East Likupang District. The analytical method used is the likert scale analysis and the chi square test. Likert scale analysis with manual calculations uses a formula to measure the opinion of each respondent about citizen participation in the development stage and the forms of participation given. Meanwhile, the chi square test is used to analyze the relationship between the factors that influence citizen participation with the help of SPSS. The results showed that the citizen was involved in the development stages from planning, implementation, monitoring to evaluation. However, the participation given is still not good in the aspects of involvement in meetings, giving ideas, energy, expertise and materials. In the development stage, citizen participation is influenced by external factors in the form of government and community groups but is not influenced by community leaders and internal factors. Meanwhile, forms of citizen participation are influenced by external factors in the form of government, community groups and community leaders as well as internal factors such as age and marital status but not influenced by gender, education level and type of work Keyword: Citizen Participation; Tourism SEZ; Likert Scale; Chi Squar
Evaluasi Ketersediaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan di Kecamatan Kauditan
According to RTRW of North Minahasa in 2013-2033, Kauditan subdistrict is designated as one of the subdistricts included in the Klabat Agropolitan Area. Besides having to have superior commodities, Agropolitan Areas must also be supported by adequate agricultural sector infrastructure. Lack of supporting infrastructure has overwhelmed farmers to increase their agricultural production. This study aims to identify the development of the agropolitan area’s infrastructure, as well as evaluate the availability of infrastructure in the agropolitan area in the Kauditan subdistrict. The analysis method used is Time Series analysis method, and qualitative descriptive analysis that will use a Likert Scale as a rating scale, with indicators such as infrastructure conditions, comparison with standards, and fulfillment of needs. The result of the analysis show that the infrastructure of the agropolitan area that has developed in the Kauditan subdistrict is farm road and irrigation, meanwhile the jetty and collecting sub-terminal are not experiencing any development, and the result of the evaluation of the agropolitan area’s infrastructure in Kauditan subdistrict show a value of 35,53% or in the “bad†category. This value occurs because even though the farm road already “very goodâ€, the evaluation results for irrigation are still “badâ€, the the unavailability of collecting sub-terminals are also affects the overall results. The jetty is not available inKauditan subdistrict, also actually not needed because the Kauditan subdistrict not near the lake or the sea. Keyword: Evaluation; Infrastructure; Agropolitan Area
Pengaruh Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) terhadap Masyarakat & Lingkungan di Kota Manado
Sebagai bentuk realisasi Kebijakan Energi Nasional, pemerintah kota Manado menerima hibah hasil penelitian teknologi biogas yang diadakan oleh FCU Taiwan melalui program APEC ACABT berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). PLTBg ini merupakan sebuah proyek percontohan bertenaga 10kW dengan model sistem Biowaste-to-Bioenergy menggunakan Teknologi Paten Biohidrogen/Biometana Dua Tahap (Two-stage Biohythane Production - HyMeTek) dan beroperasi menggunakan limbah biologis dari RPH sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik dan pupuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah instalasi PLTBg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan masyarakat pada kawasan permukiman di kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis Uji T (One sample t test) untuk menganalisa apakah ada perbedaan signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial dan lingkungan baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Sedangkan aspek ekonomi dihitung menggunakan asumsi pendapatan dan pengeluaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan yang dihasilkan oleh PLTBg terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan pada kawasan permukiman di kota Manado baik setelah 1 hingga 2 tahun diimplementasikan. Dimana perubahan lebih signifikan dirasakan oleh masyarakat setelah PLTBg telah diimplementasikan selama 2 tahun. Oleh sebab itu, direkomendasikan pengembangan PLTBg skala besar agar manfaatnya bisa menjangkau seluruh mayarakat kota, bahkan pulau-pulau kecil di sekitar kota Manado. Kata Kunci : Pengaruh, Energi, Biogas, Uji t, PLTBg, Manad
Analisis Faktor Pembentuk Urban Heat Island di Kota Bitung
Urban Heat Island (UHI) is a phenomenon where urban areas experience hotter temperatures than the surrounding rural areas. Changes in land cover that occur include the establishment of buildings and infrastructure that replace open areas and vegetation, where the land cover that was originally permeable and moist has changed to impermeable and dry as a result of urban development which led to the formation of the Urban Heat Island. UHI is formed by various factors such as weather, geographic location, vegetation, materials, geometry and anthropogenic heat. Bitung city experienced population growth from 2008-2017 of 2.12% per year as well as various land use changes resulting in decreased open space and vegetation which led to an increase in surface temperature. Therefore this research was conducted to identify the distribution of surface temperature in the Bitung city and its forming factors. This study aims to find out how the surface temperature in the city of Bitung and the conditions of land use, building materials and urban geometry at high surface temperatures. The data analysis used is in the form of spatial analysis with GIS software in the form of ArcGIS 10.3. In determining the surface temperature, data from Landsat 8 imagery is used. From image processing in Bitung city, it was found that the lowest surface temperature was 15.47 ºC and the highest surface temperature was 43.34 ºC. The highest average surface temperature in the city of Bitung is in the sub-districts of Girian, Madidir, and Maesa with land use for housing, trade, industry and services; with the use of zinc roofing material and concrete walls and a building distance of 0.82m to 8.47m. Keyword: Urban heat island; Land use; Building materials; Urban geometr
Perencanaan Ruang Terbuka Sebagai Ruang Evakuasi di Kota Manado
Mitigasi bencana merupakan hal yang penting untuk kota manado yang berada di Wilayah Sulawesi dikepung oleh lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia dengan jumlah penduduk tahun 2018 menurut BPS adalah 430.133 jiwa membuat Kota Manado menjadi rawan bencana, selain itu dari data BMKG tahun 1845-2014, Kota Manado dilanda puluhan gempa bumi dan juga memiliki resiko bencana tsunami. Untuk itu, diperlukan mitigasi bencana, salah satu mitigasi bencana di Indonesia adalah dengan menambah ruang Terbuka (Open Space). Secara umum ruang terbuka terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau yang berfungsi sebagai konektor antar ruang permukiman yang bertujuan memudahkan saat evakuasi bencana sehingga dapat meminimalkan jatuhnya korban. RTRW Kota Manado telah mengatur ruang evakuasi pada titik tertentu, namun belum ada detail khusus bencana gempa bumi dan tsunami, untuk itulah maka perlu dilakukan penelitian dengan tujuan secara umum yaitu untuk melengkapi dokumen RTRW Kota Manado tentang ruang terbuka berbasis mitigasi bencana terutama bencana gempa bumi dan tsunami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ruang-ruang terbuka di Wilayah penelitian sudah mencukupi sebagai ruang evakuasi bencana Gempa Bumi namun untuk bencana Tsunami, ruang-ruang terbuka yang ada belum memenuhi syarat sebagai ruang evakuasi sehingga kebutuhan ruang evakuasi untuk bencana tsunami masih perlu ditambah Kata kunci: Ruang Terbuka;Ruang Evakuasi; Kota Manad
Dampak Keterkenalan Objek Wisata Terhadap Perubahan Guna Lahan di Kota Tomohon
Kota Tomohon memiliki kondisi karakteristik wilayah yang spesifik sehingga terdapat banyak objek wisata yang terkenal serta adanya pembangunan tempat-tempat wisata baru. Hal ini telah mempengaruhi perubahan guna lahan seperti lahan kosong menjadi lahan terbangun berupa sarana penunjang pariwisata. Tujuan penelitian ini mengukur tingkat keterkenalan objek wisata di Kota Tomohon dan menganalisis dampak keterkenalan objek wisata terhadap perubahan guna lahan di Kota Tomohon. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis formula milgram dengan kuesioner dan analisis spasial dengan menggunakan aplikasi ArcGIS. Berdasarkan hasil analisis maka tingkat keterkenalan objek wisata pertama bukit doa dengan perubahan guna lahan 31%, kedua danau linow dengan perubahan guna lahan 31%, ketiga welu dengan perubahan guna lahan 12%, keempat kaisanti dengan perubahan guna lahan 11%, kelima valentine dengan perubahan guna lahan 6%, keenam puncak tintingon dengan perubahan guna lahan 9%. Sehingga disimpulkan semakin tinggi nilai keterkenalan suatu objek wisata maka perubahan guna lahan pada kawasan sekitar objek wisata tersebut semakin bertambah dengan adanya perubahan guna lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan juga tidak hanya di pengaruhi oleh keterkenalan objek wisata tetapi juga terjadi karena adanya pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga permintaan akan lahan permukiman bertambah. Kata kunci: Keterkenalan, Objek Wisata, Perubahan Guna Laha
Analisis Perkembangan Fisik Perkotaan Berbasis GIS di Kabupaten Minahasa Utara
Perkembangan dan pertumbuhan suatu kota dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor kependudukan dan interaksi antara kota dengan kota lainnya dalam lingkup wilayah maupun luar wilayah suatu daerah. Perkembangan dan pertumbuhan faktor tersebut menjadi pemicu berkembangnya wilayah yang berdampak terhadap terjadinya penggunaan lahan dan perubahan fisik. Salah satu fenomena yang menandai perkembangan fisik kota adalah ekspansi daerah terbangun pada daerah non terbangun. Fenomena ini juga dapat dilihat pada Kabupaten Minahasa Utara. Kabupaten Minahasa Utara memiliki 4 Wilayah perkotaan yaitu di daerah Kecamatan Kalawat, Kecamatan Airmadidi sebagai pusat kota dan Kecamatan Kauditan dan Kecamatan Kema. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi perkembangan fisik yang terjadi pada wilayah perkotaan di Kabupaten Minahasa Utara pada tahun 2011 & 2019; 2) menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan wilayah perkotaan di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini dilakukan dengan 2 metode analisis yaitu pada tujuan pertama menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisa spasial dan menggunakan software Arcgis 10.3 dan tujuan kedua dengan metode deskripstif. Berdasarkan hasil penelitan, perkembangan terjadi pada 4 kecamatan yaitu Kecamatan Kalawat, Airmadidi, Kauditan dan Kema cenderung mengalami perkembangan secara horizontal. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan, berbeda di tiap kecamatan seperti adanya faktor kebijakan strategis terkait perekembangan, keadaan geografis, fungsi kota yang menjadi daya tarik masyarakat. Kata kunci: Perkembangan Fisik Perkotaan, Faktor-faktor perkembanga