132 research outputs found

    Urban Stream Buffer Kawasan Sempadan Sungai Bailang Di Kota Manado

    Get PDF
    Sungai Bailang merupakan salah satu sungai besar di Kota Manado, makin pesatnya kebutuhan ruang dan ketersediaan ruang yang tidak sebanding, sehingga menyebabkan terjadinya konversi penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Hal ini menyebabkan banyak ruas sungai yang mulai mengalami penyempitan (bottle neck) dan semakin meningkatnya indensitas penggunaan lahan. Oleh karenan itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kawasan yang dapat dijadikan daerah Urban Stream Buffer (USB). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi eksisting penggunaan lahan pada kawasan sempadan sungai Bailang, mengidentifikasi kesesuaian lahan pada kawasan sempadan sungai Bailang berdasarkan 3 zona USB, dan merekomendasi USB kawasan sempadan sungai bailang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode analisis sistem informasi geografi dan pengindraan jauh menggunakan bantuan perangkat lunak ArcGis. Hasil penelitian berdasarkan kondisi eksisting penggunaan lahan sempadan sungai bailang terdapat 5 jenis penggunaan lahan yaitu; penggunaan lahan perkebunan, penggunaan lahan permukiman, penggunaan lahan semak belukar, penggunaan lahan tanah kosong dan penggunaan lahan tegalan/ladang. Adapun kesesuain lahan pada sempadan sungai bailang berdasarkan ketentuan 3 zona urban stream buffer, terdapat beberapa kawasan yang tidak sesuai dengan parameter 3 zona USB maka perlu adanya rekomendasi agar sempadan sungai Bailang sesuai dengan 3 zona USB. Kata kunci: Urban Stream Buffer; Sempadan Sungai; Sungai Bailang

    Karakteristik Kriminalitas Di Kawasan Permukiman Kota Manado (Studi Kasus: Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan Tuminting)

    Get PDF
    Kawasan permukiman yang adalah tempat dimana masyarakat tinggal dan beraktivitas tentunya diharapkan menjadi tempat yang aman dan nyaman termasuk aman dari kriminalitas bagi penghuninya. Salah faktor satu penyebab terjadinya kriminal adalah kepadatan penduduk yang tentunya memiliki efek samping terkait masalah kependudukan antara lain adalah kawasan permukiman kumuh dengan lingkungan dan bangunan yang belum sepenuhnya layak bagi penghuninya untuk di tinggali, tingginya kompetisi kerja, menurunnya kualitas lingkungan dan terganggunya stabilitas keamanan. Salah satu kecamatan yang memiliki kawasan kumuh adalah Kecamatan Tuminting yang terletak di beberapa kelurahan yaitu kelurahan Sindulang 1, Maasing, Mahawu dan Sumompo. Berbagai tindak kejahatan yang terjadi tentunya di sebabkan oleh berbagai hal mulai dari latar belakang pelaku kejahatan, kualitas permukiman dan aspek defensible space kawasan permukiman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi jenis kriminalitas dan pola sebaran pada kawasan permukiman di Kecamatan Tuminting dan Menganalisis karakteristik permukiman yang rawan kriminalitas berdasarkan aspek defensible space. Dengan menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dari penelitian ini dapat mendiskripsikan dan memahami karakteristik kriminalitas di kawasan permukiman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik kriminalitas yang terjadi di kawasan permukiman kumuh Kecamatan Tuminting adalah sebagian besar di sebabkan oleh pengaruh minuman keras (miras) yang menjadi pemicu terjadinya tindak kriminalitas lainya dan juga rendahnya penerapan aspek defensible space di kawasan permukiman kumuh Kecamatan Tuminting. Kata Kunci: Kriminalitas; Permukiman Kumuh; Defensible Spac

    Perencanaan Kawasan Pariwisata di Kota Tobelo

    Get PDF
    The city of Tobelo has many tourist attractions it's run government and people who live close to the attractions. The city of Tobelo has the potential of a tourist attraction known as luari beach, the island coast of kumo, Kupa-Kupa Beach and Telaga Paca. The tourism support facility has not been adequate, damaged and unavailable and road infrastructure at small tourist spots. Special attention was needed from the city government of tobelo especially the western halmahera tourism service to implement a special strategy planning the existing tourist areas in the city of Tobelo and then the potential for tourism in the city of tobelo could be developed optimally so that no damage to the development of the region itself. The methods used in this study are qualitative and quantitative descriptive by using the SWOT method of analysis. The purpose of this study is to determine the tobelo city's strengths, weaknesses, threats, and opportunities and tourism development strategy correspond to the variable tourism research. The results of this study created internal and external factors for the city of tobelo's tourism development with its development strategy considering existentially conditions consistent with analysis available according analysis results. which is to raise awareness of people, maintain quality of objects, tourist promotion and socialization of the tourist awareness. Keyword : tourism, infrastructure, sosialitatio

    Analisis Ketersediaan Prasarana dan Sarana Wisata di Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

    Get PDF
    Bolaang Mongondow Utara sebagai salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Sulawesi Utara dengan berbagai potensi objek wisata salah satunya di Kecamatan Kaidipang yang harus di kelola dengan baik. Dalam hal ini tentu memerlukan dukungan infrastruktur untuk mendongkrak potensi wisata yang ada agar dapat meningkatkan nilai jual daerah. Namun dalam kenyataannya ada beberapa kendala antara lain ketersediaan prasarana sarana serta fasilitas penunjang yang tidak mendukung. Mislalnya, aksesibilitas menuju lokasi dengan kondisi jalan yang rusak, tidak adanya akses internet dan kurangnya wahana bermain serta homestay di lokasi tersebut. Dengan mengidentifikasi prasarana dan sarana wisata yang ada di kecamatan Kaidipang merupakan tujuan dari penelitian ini. Penelitian ini menganalisis tentang tingkat ketersediaan prasarana dan sarana wisata yang ada di Kecamatan Kaidipang dengan menggunakan metode analisis model kualitatif dan kuantitatif yang di lakukan. Yaitu dengan observasi atau turun langsung ke lapangan guna memperoleh data primer maupun sekunder dengan membagikan kuesioner di 7 lokasi wisata yang ada di kecamatan Kaidipang yang kemudian di analisis menggunakan skala likert. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa kondisi eksisting yang ada pada keseluruhan objek wisata di kecamatan Kaidipang masih membutuhkan perbaikan, pembangunan serta penambahan ulang prasarana dan sarana wisata. Dari ke 7 lokasi wisata, terdapat 2 lokasi wisata yang sudah banyak tersedia fasilitas penunjang yaitu Pantai Batu Pinagut dan Rumah Raja Komalig. Sisanya 5 lokasi wisata yaitu Pulau Damar, Pantai Tanjung Dulang,Pantai air belanda, Makam Raja Jere,Air Terjun Pontak masih minim fasilitas penunjang prasarana dan sarana wisata. Setelah melakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan skala likert terhadap tingkat ketersediaan prasarana dan sarana wisata yaitu 2 prasarana dan sarana sangat tersedia, 12 prasarana dan sarana wisata cukup tersedia, dan 5 prasarana dan sarana wisata sangat tidak tersedia. Kata Kunci: Kawasan Wisata; Prasarana Sarana; Kecamatan Kaidipan

    Identifikasi Struktur Ruang Berdasarkan Indikator Pola Pergerakan Masyarakat di Kota Bitung

    Get PDF
    Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bitung sebagai wilayah penelitian telah memasuki tahap revisi saat penelitian ini diangkat, dan perlu dilihat bahwa pusat keramaian kota saat ini lebih banyak terjadi di kecamatan Girian yang merupakan Sub-Pusat Kota daripada kecamatan Maesa yang merupakan Pusat Kota sesuai yang tertera di dalam RTRW Kota Bitung, sehingga perlu dilihat pusat pelayanan dalam Struktur Ruang Kota dengan melihat indikator Pola Pergerakan Masyarakat lewat metode “Origin Destination Surveyâ€. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi struktur ruang kota Bitung berdasarkan indikator pola pergerakan masyarakat di kota Bitung dengan metode “Origin Destination Survey†dan mengidentifikasi permasalahan yang berpotensi terjadi sesuai dengan struktur ruang yang telah diidentifikasi. Metode pengumpulan data adalah melakukan survey dalam bentuk wawancara kuesioner kepada masyarakat kota Bitung dan metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif yaitu melihat visualisasi pergerakan masyarakat lewat Matriks Asal Tujuan dan Peta “Desire Lineâ€. Hasil penelitian saat ini: (1) Struktur ruang kota Bitung yang diidentifikasi adalah kota dengan Struktur Ruang Kota Polisentris. (2)Adapun permasalahan yang akan terjadi di kota Bitung dengan struktur ruang kota polisentris, yaitu : Kota Polisentris dengan arahan pembangunan cenderung horizontal membuat jarak beberapa zona ke pusat pelayanan jauh sehingga masyarakat akan bergantung pada kendaraan bermotor sebagai transportasi, investasi untuk penyediaan transportasi publik tidak efektif dan mahal sehingga masyarakat akan cenderung bergantung pada transportasi pribadi, dan kecenderungan masyarakat bergantung pada kendaraan bermotor bisa berakibat pada polusi udara dari emisi bahan bakar yang bisa berakibat buruk pada lingkungan sekitar. Kata kunci: Struktur Ruang; Pola Pergerakan Masyarakat; Origin Destination Surve

    Konsep Aerotropolis Pulau Lembeh Kota Bitung

    Get PDF
    Pulau Lembeh adalah pulau-pulau kecil yang memiliki luas kurang lebih 50 km2 , terletak di kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan RTRW Provinsi Sulawesi Utara tahun 2014 – 2034, terdapat rencana pembangunan bandara pengumpan di pulau Lembeh, tetapi jika dilihat dari kestrategisan wilayah baik Sulawesi Utara maupun pulau Lembeh, rencana pembangunan bandara dapat ditingkatkan menjadi bandara pengumpul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wilayah, mengetahui arahan kesesuaian lahan yang potensial terhadap pengembangan kawasan budidaya serta untuk pengembangan wilayah pulau Lembeh menjadi kawasan aerotropolis. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deksriptif kualitatif - kuantitatif dengan menganalisis kondisi eksisting, selanjutnya melakukan analisis kesesuaian lahan dan pada tahapan terakhir akan disesuaikan dengan kebijakan pemerintah, indikator dan prinsip perencanaan aerotropolis. Hasil penelitian menunjukan bahwa di pulau Lembeh memiliki sejumlah potensi wilayah yang dapat mendukung pengembangan aerotropolis dilihat dari stuktur ruang, ketersediaan prasarana - sarana lingkungan, jaringan jalan dan moda transportasi eksisting, penggunaan lahan, dan dari aspek kesesuaian lahan didapati lahan dengan arahan kawasan budidaya perkebunan dan permukiman terbatas mendominasi di pulau Lembeh, dan untuk pengembangan konsep aerotropolis pulau Lembeh terbagi menjadi pengembangan wilayah, perencanaan bandara, perencanaan kota, perencanaan kawasan bisnis dan perencanaan transportasi multimoda. Kata kunci: Aerotropolis; Pengembangan Wilayah; Potensi Wilayah; Kesesuaian Lahan

    Analisis Morfologi Permukiman Di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

    Get PDF
    Land needs for the construction of settlements, infrastructure and facilities, other needs make the intensity of development to increase, so that there is a change in land use in a region. In 2008, Bolaang Mongondow Regency was born from the expansion of Bolaang Mongondow Regency. Along with the development of settlements that occur, thus causing changes in land use towards lowland, coastal and even hills. Research conducted to look at the morphology of residential land use, covering aspects of land use, road and building networks. The purpose of the study was to identify the development of residential areas and analyze the morphological form of settlements on the coast of South Bolaang Mongondow Regency. This research uses qualitative descriptive method and spatial analysis using ArcGIS 10.7 application. A technique in processing multiple counts and mathematical evaluations is called spatial analysis. The results of land use analysis in South Bolaang Mongondow Regency dominated by land was not built by 99% of the area. Settlement development in a period of 6 years amounted to 105.89 ha or 0.85% of the area. The morphological form of settlements in Bolaang Mongondow Selatan Regency is dominated by morphology along the coastal area along 73.09 ha, while the morphology of the land direction is found in Bolaang Uki District, Pinolisian District, Central Pinolisian District and East Pinolisian District of 136.77 Ha. Morphological forms of settlements in hilly areas are found in Pinolosian subdistrict and East Pinolosian District. Keywords: Morphology, Coastal, Settlemen

    Perwilayahan Peri Urban di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa

    Get PDF
    Wilayah peri urban atau daerah pinggiran kota merupakan zona transisi tata guna lahan, karakteristik sosial dan ekonomi, yang terletak di antara lahan perkotaan terbangun yang menyatu dengan pusat kota dan lahan pedesaan yang hampir tidak terdapat kawasan perkotaan, bentuk tanah lahan dan pemukiman perkotaan. Kecamatan Tombulu merupakan salah satu wilayah peri urban kota Kota Manado yang mengalami banyak perubahan baik secara fisik, sosial maupun ekonomi sebagai dampak dari perkembangan Kota Manado. Tujuan dari penenlitian ini, yang pertama untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah peri urban berdasarkan aspek fisik, sosial dan ekonomi. Serta menganalisis dan menentukan perwilayahan peri urban. Dalam penelitian ini menggunakan tiga metode analisis, yang pertama adalah metode analisis statistik deskriptif untuk memperoleh hasil data yang sesuai dengan definisi operasional variabel. Kedua adalah metode analisis skoring untuk memberikan skor pada tiap variabel sesuai dengan karakteristik tiap desa, kemudian yang terakhir adalah metode analisis overlay untuk menentukan skor total yang akan digunakan dalam menentukan klasifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kecamatan Tombulu memiliki dua karakteristik wilayah peri urban, yaitu PU sekunder dan rural PU. Dari 11 desa yang ada di Kecamatan Tombulu, 10 desa bercirikan PU sekunder dan 1 desa bercirikan rural PU. Kata kunci: Perwilayahan; Peri Urban; Karakteristik; Kecamatan Tombul

    Analisis Kawasan Pariwisata Bahari Di Kabupaten Minahasa Tenggara

    Get PDF
    Southeast Minahasa has growing tourism potential, however, several tourism objects need attention, such as the marine tourism area. Cooperation between the government, the private sector and the community is urgently needed. The purpose of this research is to identify the potential of marine tourism areas in Southeast Minahasa Regency, to map the zoning of marine tourism areas in Southeast Minahasa Regency. The research was conducted using secondary data analysis methods obtained in several related institutions and equipped with survey methods then assisted by field observations, data analysis including potential objects was carried out by observation and identification. Potential objects are obtained from the tourism object assessment criteria and the assessed assessment technique, then the total score found is classified as applying the interval class method in the low, medium and high categories. The results showed that Lakban Beach was included in a high combined potential. Lumintang Beach, Bentenan Beach, Punten Island and Naga Island (Dakokayu) belong to the mixed potential class. Meanwhile, Baling-Baling Island, Hais Beach and Pasir Panjang Beach are included in the low combined potential class. There are three marine tourism zones, namely the coastal zone, the sea level zone, the underwater zone, the distributionzone for the location of marine tourism areas which are implemented in the form of a Geographical Information System in the form of a thematic map. Keywords: Potential, Maritime Tourism, Zoning

    Analisis Kebutuhan Infrastruktur Di Perbatasan Pulau Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe

    Get PDF
    Infrastructure development has a vital role in fulfilling people's basic rights. The availability of infrastructure can have an effect on increasing Marore Island people's access to resources so as to increase access to resource productivity which in turn encourages economic growth. So it is necessary to do research on the analysis of infrastructure needs at the border of Marore Island, Sangihe Islands Regency, where this research aims to identify the existing infrastructure conditions on Marore Island and analyze the infrastructure needs on Marore Island as a national strategic area. The variables to be analyzed in this study include roads, electricity, telecommunications, clean water, waste water, solid waste, drainage, environmental facilities, educational facilities, health facilities, socio-cultural facilities, public service facilities and open space facilities using the distribution analysis method. frequency, comparison of minimum service standards (SPM), analysis of fulfillment of needs and spatial analysis. Based on the results of research and discussion regarding the analysis of infrastructure needs at the border of Marore Island, Sangihe Islands Regency, the conclusion that can be obtained is that the existing conditions of each infrastructure are available, but there are still some damaged infrastructure such as environmental facilities (markets), equipment desalination (distillation of salt water into fresh water), PLTS (solar power plant), ice storage equipment for fishermen, telecommunication tower transmitters and connecting roads between eastern settlements to western settlements. So it needs repairs again. Keywords: Border Areas, Infrastructure, Spatial Analysi

    129

    full texts

    132

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SABUA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇