132 research outputs found

    Dampak Industri Kelapa Sawit Terhadap Lingkungan Perumahan dan Permukiman di Kecamatan Budong-Budong Kabupaten Mamuju Tengah

    Get PDF
    Lokasi industri kelapa sawit di Kecamatan Budong-Budong berada pada kawasan industri yang berdekatan dengan lingkungan perumahan permukiman, dalam RTRW Kabupaten Mamuju Tengah 2017-2037 peruntukan lahan di Kecamatan Budong-Budong terdiri dari kawasan lindung dan kawasan budidaya termasuk didalamnya kawasan industri dan kawasan permukiman. Kondisi Lingkungan Perumahan dan Permukiman serta Infastruktur khususnya sangat terpengaruh oleh kawasan industri karena berada di sekitar kawasan industri, untuk menjawab rumusan masalah yang ada maka analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis kondisi eksisting menggunakan teknis analisis overlay untuk mengetahui perubahan spasial, skoring pembobotan dengan skala likert guna mengetahui kondisi ketersediaan Prasarana sarana dan utilitas di lingkungan perumahan permukiman serta analisis deskriptif berdasarkan persepsi masyarakat menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui dampak industri terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dari hasil analisis dampak keberadaan industri kelapa sawit terhadap penggunaan lahan sekitar kawasan industri di Kecamatan Budong-Budong memperlihatkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, hasil analisis terhadap kondisi fisik lingkungan perumahan dan permukiman menunjukkan bahwa indikator jalan dan MCK berdampak positif. Sedangkan pada kondisi limbah, drainase dan persampahan berdampak negatif. Dampak industri pada kondisi sosial-ekonomi membawa dampak sangat positif dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, status sosial-ekonomi serta berkembangnya sarana penunjang pada lingkungan permukiman. Kata kunci: dampak industri; analisis spasial; PKP Abstract The location of the palm oil industry in Budong-Budong District is in an industrial area adjacent to a residential housing environment, in the 2017-2037 Mamuju Tengah Regency Spatial Plan land allotment in Budong-Budong District consists of protected areas and cultivation areas including industrial areas and residential areas. Housing and Settlement Environmental Conditions and Infrastructure in particular are very much affected by industrial areas because they are located around industrial areas. likert in order to determine the condition of the availability of infrastructure and utilities in residential areas as well as descriptive analysis based on public perceptions using a qualitative approach to determine the impact of industry on the social and economic conditions of the community. From the results of an analysis of the impact of the existence of the palm oil industry on land use around the industrial area in the Budong-Budong District, it shows that there have been significant changes in the last ten years. Meanwhile, the condition of waste, drainage and solid waste has a negative impact. The impact of industry on socio-economic conditions has had a very positive impact by increasing people's living standards, socio-economic status and the development of supporting facilities in residential areas. Keyword : industri impact; spatial analysis; PK

    Kenyamanan Termal Para Pengunjung Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Manado

    Get PDF
    AbstrakRuang publik berperan penting sebagai tempat terjadinya berbagai aktivitas sosial, rekreasi dan budaya. Taman kota merupakan salah satu ruang terbuka hijau publik yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan kenyamanan penunjung atau penggunanya. Salah satu aspek fisik nyaman di ruang luar yaitu kenyamanan termal yang merupakan hal mutlak yang dibutuhkan tubuh manusia. Namun, dampak pemanasan global dan angka kepadatan penduduk perkotaan yang meningkat mengakibatkan peningkatan suhu di perkotaan. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat kenyamanan termal di tiga taman kota Manado melalui pengukuran iklim mikro (suhu udara, kelembaban, kecepatan angin dan suhu bola hitam) dan faktor individu (berat dan tinggi badan) serta melalui kuesioner. Hasil penelitian berdasarkan hasil perhitungan dan persepsi kuesioner menunjukan bahwa taman kota dengan tingkat kenyamanan paling tinggi adalah di Taman God Bless. Tingkat kenyamanan termal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim mikro, lokasi taman, vegetasi, dan fasilitas yang ada disetiap taman kota.Kata kunci: Iklim mikro, kenyamanan termal, ruang terbuka hijau publik, kota ManadoAbstractPublic space plays an important role as a venue for various social, recreational and cultural activities. City parks are one of the public green open spaces that are expected to be able to meet the needs and demands for the comfort of visitors or users. One of the physical aspects of comfort in outdoor space is thermal comfort which is absolutely necessary for the human body. However, the impact of global warming and the increasing urban population density resulted in an increase in urban temperatures. The aim of the study was to analyze the level of thermal comfort in three Manado city parks through microclimate measurements (air temperature, humidity, wind speed and black ball temperature) and individual factors (weight and height) as well as through a questionnaire. The results of the research based on the results of calculations and perceptions of the questionnaire show that the city park with the highest comfort level is God Bless Park. This level of thermal comfort can be influenced by microclimatic conditions, park location, vegetation, and existing facilities in each city park.Keyword: Microclimate, thermal comfort, public green open space, Manado cit

    Model Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Manado

    Get PDF
    AbstrakRumah merupakan standar untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk ekonomi. Kota Manado termasuk dalam Kawasan BIMINDO(Bitung, Minahasa Utara dan Manado) yang berperan dalam bidang pariwisata dan industri. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tinggi di Kota Manado, sehingga banyak memunculkan slum dan squatter. Penyediaan hunian diperlukan, dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan dimasa yang akan datang, untuk rekomendasi hunian vertikal dan horizontal. Penelitian ini bertujuan menghitung jumlah unit hunian pada zona arahan pengembangan vertikal dan horizontal, kemudian memberikan rekomendasi zona potensial hunian, ruang terbuka hijau, dan sarana, prasarana dan utilitas, serta memodelkan pembiayaan hunian agar bisa dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah(MBR). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis spasial dengan overlay peta citra untuk melihat keadaan eksisting perubahan guna lahan, dan melakukan perhitungan menggunakan aplikasi excel untuk memperoleh jumlah unit hunian di wilayah zona pengembangan. Didapati beberapa wilayah yang sudah terbangun pada rekomendasi zona pengembangan vertikal dan horizontal, sehingga terjadi pengurangan luasan wilayah. Kemudian kecamatan dengan kebutuhan hunian vertikal di Kota Manado diperoleh sejumlah 81.888 unit. Berdasarkan luasan lahan, masih tersedia sejumlah 126.945 unit hunian horizontal yang tersedia, kemudian terdapat 2 kecamatan dengan luasan lahan yang tidak memungkinkan untuk pengembangan perumahan, yaitu Kecamatan Sario(kebutuhan hunian 6.960 unit) dan Kecamatan Wenang(kebutuhan hunian 10.510 unit).Kata kunci: Pengembangan Hunian; Hunian Vertikal; Hunian Horizontal; Zona Potensial Hunian; MBR.AbstractThe house is a standard to fulfil human needs as economic beings. The city of Manado is included in the BIMINDO Region (Bitung, North Minahasa and Manado) which plays a role in tourism and industry. This causes high population growth in the city of Manado, causing many slums and squatters to emerge. Provision of shelter is required, taking into account future land availability, for vertical and horizontal housing recommendations. This study aims to calculate the number of residential units in the vertical and horizontal development direction zones, then provide recommendations for potential residential zones, green open spaces, and facilities, infrastructure and utilities, as well as model housing finance so that it can be reached by low-income communities (MBR). The research method used in this study is spatial analysis by overlaying image maps to see the existing state of land use change, and performing calculations using the excel application to obtain the number of residential units in the development zone area. It was found that several areas had been developed according to the recommendations for vertical and horizontal development zones, resulting in a reduction in area. Then districts with vertical housing needs in Manado City obtained a total of 81,888 units. Based on land area, there are still 126,945 units available horizontal residential zones, then there are 2 sub-districts with land areas that do not allow for housing development, namely Sario District (6,960 residential units) and Wenang District (10,510 residential units). Keyword: Residential Development; Vertical Housing; Horizontal Housing; Residential Potential Zone; Low Income Society

    Dampak Normalisasi Sungai Tondano Terhadap Kondisi Lingkungan, Sosial Dan Ekonomi Masyarakat Kota Manado

    Get PDF
    Program Normalisasi Sungai dilakukan untuk mengembalikan fungsi sungai dan kawasan sekitar sungai. Pelaksanaan normalisasi sungai Tondano di Kota Manado dilakukan dengan pengerukan, pelebaran kemudian konstruksi tanggul. Dalam prosesnya, terjadi pembebasan lahan, interaksi masyarakat yang menjadi lebih sering, dan adanya penurunan pendapatan masyarakat maupun perubahan lainnya pada kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi pada masyarakat sekitar sungai sebagai dampak dari adanya normalisasi sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi  kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi sejak adanya normalisasi dengan observasi lapangan, menganalisis faktor dari normalisasi yang paling berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi dengan pengumpulan data penyebaran kuesioner kemudian metode analisis regresi linear berganda dan menganalisis dampak normalisasi Sungai Tondano terhadap kondisi lingkungan sosial, dan ekonomi masyarakat dengan menganalisis secara spasial yang diuraikan berdasarkan segmen. Hasil identifikasi kondisi lingkungan penggunaan lahan terbesar merupakan permukiman dengan kepadatan berskala rendah sampai tinggi serta jaringan jalan dan jaringan drainase yang mengalami penambahan maupun perbaikan. Tahapan konstruksi tanggul yang paling berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat.. Dengan adanya normalisasi membuat fasilitas pemanfaatan serbaguna, Adanya jalan inspeksi memudahkan akses masyarakat dalam beraktivitas. Kata kunci: dampak, normalisasi sungai Tondano, lingkungan, sosial-ekonomi. Abstract River Normalization Program is carried out to restore the function of the river and the area around the river. The normalization of the Tondano river in Manado City was carried out by dredging, widening and then constructing an embankment. In the process, land acquisition occurred, community interactions became more frequent, and there was a decrease in people's incomes as well as other changes in environmental, social and economic conditions in communities around the river as a result of river normalization. This study aims to identify environmental, social and economic conditions since normalization with field observations, analyze the factors of normalization that have the most influence on environmental, social and economic conditions by collecting data on distributing questionnaires then using multiple linear regression methods and analyzing the impact of river normalization Tondano on environmental, social and economic of the community by analyzing spatially. The results of the identification of the environmental conditions of the largest land use are settlements than roadand drainage networks that have experienced additions or improvements. The stages of the construction of the embankment that have the most influence and normalization makes multi-purpose utilization facilities available. Inspection roads facilitate access for the community in their activities. Keyword: impact, normalization Tondano river, environment, social-economic &nbsp

    Sistem Tata Kelola Perdagangan dan Jasa Sektor Informal di Kecamatan Tuminting Kota Manado

    Get PDF
    Di negara berkembang, ekonomi informal memainkan peran penting dalam penyediaan dan menciptakan lapangan kerja dan berfungsi sebagai zona penyangga penting antara pekerjaan dan pengangguran. Informalitas perkotaan telah menjadi bagian dari banyak masyarakat di Selatan Global yang tidak lagi dianggap sementara tetapi “sekarang dilihat sebagai mode umum urbanisasi metropolitan”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem tata kelola sektor kegiatan ini di dalam ruang perkotaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil analisis yaitu bahwa jenis perdagangan dan jasa sektor informal yang yang terbanyak yaitu warung makan dengan presentase mencapai 70% dari sampel yang ada. Dengan sistem tata kelola yang sepenuh belum terlaksana dengan baik. Perlu adanya penyediaan alat pemadam kebakaran disetiap tempat usaha atau pemerintah memberikan bantuan alat pemadam kebakaran di setiap tempat usaha atau menyediakan beberapa yang bisa dijangkau oleh semua pedagang untuk meminimalisir terjadinya kebakaran dan perlu penyediaan tempat khusus parkir agar pedagang maupun pengunjung yang menggunakan kendaraan tidak menggunakan jalan sebagai tempat parkir. Kata Kunci : sistem tata kelola sektor informal perkotaan. Abstract In developing countries, the informal economy plays an important role in providing and creating jobs and serves as an important buffer zone between employment and unemployment. Urban informality has become part of many societies in the Global South that are no longer considered temporary but are "now seen as the common fashion of metropolitan urbanization". The purpose of this study is to find out how the governance system of this sector of activity in urban spaces. The method used in this study is a descriptive qualitative research method. Based on the results of the analysis, the most types of trade and services in the informal sector are food stalls with a percentage reaching 70% of the existing sample. With a full governance system, it has not been implemented properly. So need existence provision tool extinguisher fire at each the place effort or government give help tool extinguisher fire in every the place effort or provide some can reachable by all trader for minimize happening fire and need provision the place special parking for traders nor visitors who use vehicle no use Street as the place parking. Keywords : Managing Urban informalita

    Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua

    Get PDF
    AbstrakKecamatan Muara Tami tepatnya Desa Holtekamp merupakan destinasi wisata yang pengembangannya diprakarsai oleh Peraturan Daerah Kota Jayapura No. 9 Tahun 2002 tentang Kepariwisataan dan Rencana Wilayah Kota Jayapura (RTRW) 2013-2033. maka dari itu perlu penelitian bagaimana mengembangkan potensi wisata yang ada di Kecamtan Muara Tami ini. Tujuan penelitian ini yaitu Mengindentifikasi Potensi Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp di Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura dan Menganalisis Pengembangan Potensi Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp di Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif, dengan menggunakan teknik analisis SWOT. Dari hasil kajian bermakna bahwa potensi wisata yang dikembangkan di kawasan ini adalah Pantai Pasir Putih, Panorama Alam dan Batuan Unik. Selain itu, proyek pengembangan yang layak dilakukan antara lain pengembangan wisata yang menarik khususnya pariwisata dan wisata pariwisata, membuat website khusus untuk destinasi pariwisata di sub wilayah Muara Tami, serta peningkatan kerjasama promosi pariwisata, kemudahan akses. antara berbagai tujuan dan meningkatkan kesadaran tentang tujuan wisata. manajemen tujuan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Potensi Pengembangan, Kawasan Wisata, Holtekamp.Abstract (10 pt)Muara Tami District, precisely Holtekamp Village, is a tourist destination whose development was initiated by Jayapura City Regional Regulation No. 9 of 2002 concerning Tourism and the Jayapura City Regional Plan (RTRW) 2013-2033. therefore it is necessary to research how to develop the existing tourism potential in Muara Tami District. The purpose of this study is to identify the potential for beach tourism in Holtekamp village in Muara Tami sub-district, Jayapura city and to analyze the development of potential for beach tourism in Holtekamp village in Muara Tami sub-district, Jayapura city. The method used in this research is descriptive and qualitative, using SWOT analysis techniques. From the results of the study it means that the tourism potential developed in this area is White Sand Beach, Natural Panorama and Unique Rocks. In addition, development projects that are feasible include developing attractive tourism, especially tourism and tourism, creating a special website for tourism destinations in the Muara Tami sub-region, as well as increasing cooperation in tourism promotion, ease of access. between various destinations and raise awareness about tourist destinations. sustainable goal management.Keyword: Development Potential, Tourism Area, Holtekam

    Persepsi dan Preferensi Masyarakat dalam Kegiatan Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Di Kota Manado

    Get PDF
    AbstrakJumlah penduduk terus bertambah, menyebabkan peningkatan kebutuhan bangunan dan menyebabkan sulitnya penyediaan RTH, terutama pada skala kecamatan. Salah satu solusi penghijauan dan penyediaan RTH pada lokasi padat ialah dengan partisipasi masyarakat untuk menghijaukan lahan pribadi dengan cara urban farming. Sebelum itu, perlu diteliti pemahaman masyarakat tentang urban farming untuk penghijauan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi yang berpotensi serta bagaimana persepsi dan preferensi masyarakat terkait urban farming. Penelitian menggunakan metode deskriptif dari data yang diperoleh melalui observasi langsung dan kuesioner. Adapun penelitian ini difokuskan pada kecamatan padat yakni Kecamatan Sario, Wenang, dan Singkil, lokasi potensial untuk pelaksanaan urban farming antara lain lahan terbengkalai di kecamatan (54 titik lahan terbengkalai), area revitalisasi sungai, ruang vertikal, halaman rumah ataupun pada lahan di bangunan komersil dan perkantoran. Berdasarkan analisa, 85% responden memberikan respon positif mengenai urban farming, dan dari preferensi masyarakat, urban farming pada lahan privat dapat dilakukan dengan metode konvensional dan vertikal, ditujukan untuk penyediaan RTH privat, estetika lingkungan, dan ketahanan pangan, sedangkan untuk di lahan bersama atau lahan terbengkalai ditujukan untuk pembuatan taman komunal dengan fungsi pemenuhan RTH dan penghijauan, ketahanan pangan dan ekonomi. Urban farming juga dapat dilakukan di atap bangunan terutama bagi bangunan komersil. Kata kunci: Pertanian Perkotaan; Ruang Terbuka Hijau; Penghijauan Kawasan Padat; Partisipasi Masyarakat.Abstract  The number of opulation continues to grow, causing an increase in the need for buildings and making it difficult to provide green open space, especially at the sub-district scale. Therefore, one of the solution for reforestation in crowded locations is by involving community participation to utilize their own private with urban farming. So, it is necessary to do research about the community's understanding of urban farming for reforestation purposes. This study uses a descriptive method based on the data obtained through direct observation regarding urban farming. This research is focused on densely populated sub-districts namely Sario, Wenang, and Singkil District, potential locations for urban farming are abandoned lands in each sub-district (54 points location), river revitalization areas, vertical space and private land and commercial buildings. Based on the analysis, 85% of respondents gave a positive response about urban farming, and from their preferences, urban farming on private land can be carried out using conventional and vertical methods, aimed for of private green open space, and food security, while urban farming on shared land is intended for the function of fulfilling green open space, reforestation, as well as resilience food and economy. Urban farming can also be done on the rooftop, especially for commercial buildings Keyword: Urban Farming, Green Opesn Space, Reforestation Dense Areas, Community Participation

    Ketangguhan Wilayah Perkotaan Tondano dalam Menghadapi Bencana Pandemi di Era New Normal

    Get PDF
    Ketangguhan wilayah merupakan kemampuan sebuah wilayah untuk dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap suatu kejadian bencana. Bencana pandemi merupakan salah satu wabah penyakit terbesar di dalam sejarah peradaban manusia, yang mengakibatkan banyaknya kerugian di berbagai sektor. Data yang diperoleh dari gugus tugas Covid 19 Minahasa menetapkan, bahwa Kecamatan Tondano Barat dan Kecamatan Tondano Selatan adalah 2 Kecamatan yang memiliki angka kasus positif Covid-19 kedua terbanyak di wilayah perkotaan Tondano. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi adaptasi masyarakat selama pandemi Covid-19 sebagai moda ketangguhan wilayah, serta menganalisis tingkat ketangguhan Kecamatan Tondano Barat dan Kecamatan Tondano Selatan terhadap ancaman dari pandemi Covid-19 . Metode yang digunakan untuk proses analisis adalah analisis likert untuk mengukur tingkat ketangguhan tiap aspek dan analisis spasial untuk menghasilkan peta-peta mengenai pola persebaran fasilitas kesehatan dan perdagangan jasa yang menjadi mitigasi dalam ketangguhan wilayah terhadap bencana pandemi. Hasil dari kedua analisis tersebut dapat menunjukkan adaptasi, mitigasi dan inovasi wilayah Tondano Selatan dan Tondano Barat dalam menghadapi bencana pandemi di era new normal. Kata kunci: Ketangguhan , Pandemi, Analisa Spasial Abstract Regional resilience is the ability of a region to be able to adapt and adapt to a disaster event. The pandemic disaster is one of the largest disease outbreaks in the history of human civilization, resulting in many losses in various sectors. Based on data from the Minahasa Regency Covid-19 task force, it was determined that West Tondano District and South Tondano District were the 2 sub-districts that had the second highest positive rate of Covid-19 cases in the Tondano urban area. This study have a purpose to identify community adaptation during the Covid-19 pandemic as a mode of regional resilience, as well as analyze the level of resilience of West Tondano District and South Tondano District against the threat of the Covid-19 pandemic. The analytical method used is Likert analysis to measure the level of resilience of each aspect and spatial analysis to produce maps of the distribution pattern of health facilities and trade in services that are a mitigation in the region's resilience to pandemic disasters. The results of the two analyzes can show the adaptation, mitigation and innovation of the South Tondano and West Tondano regions in the face of a pandemic disaster in the new normal era.Keyword: resilience, pandemic, spatial analyz

    Sistem Transportasi Publik di Kota Tomohon Berdasarkan Konsep Kota Layak Huni

    Get PDF
    Kota yang baik haruslah mampu menampung segala aktivitas masyarakat dengan memberikan rasa nyaman, aman dan tanang bagi seluruh masyarakat guna untuk beraktivitas dikenal dengan livable city atau kota layak huni. Salah satu aspek yang ada dalam konsep kota layak huni adalah aspek transportasi. Pembangunan Kota Tomohon saat ini sedang berkembang keadaan ini akan selalu sebanding dengan pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan pribadi, akan tetapi tidak didukung dengan sistem transportasi angkutan umum yang memadai. Tujuan peneltian ini untuk menganalisis apakah sistem transportasi angkutan umum di KotaTomohon mampu mencapai indicator transportasi yang nyaman dalam konteks kota yang layak huni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif. Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan menggunakan angka-angka dengan menggunakan perhitungan statistic dengan metode skoring skala guttman sampel dalam penelitian ini yaitu 50 responden. Hasil penelitian ini yaitu Kota Tomohon masuk pada kategori mendekati tidak sesuai. Hal tersebut terjadi dikarenakan terdapat variabel yang belum memenuhi prinsip-prinsip yang dikembangkan. Variabel tersebut yaitu, jalur pejalan kaki dengan proporsi masyarakat yang merasa nyaman 36% dan yang tidak 64%, terminal dengan jarak rata-rata terminal ke pusat pelayanan 178 meter serta kepadatan bangunan yaitu 6 bangunan/ha tergolong klasifikasi rendah dan belum sesuai dengan kriteria yang ada dan kenyamanan moda transportasi karena waktu tunggu angkutan umum rata-rata 88 menit. Kata kunci : Kota Layak Huni, Transportasi, Angkutan Umum, Kota TomohonA good city must be able to accommodate all community activities by providing a sense of comfort, security and challenge for the entire community to carry out activities known as Livable City or City Worth Living. One aspect of the concept of a livable city is the transportation aspect. The development of Tomohon City is currently developing. This situation will always be proportional to population growth and the number of private vehicles, but it is not supported by an adequate public transportation transportation system. The purpose of this study is to analyze whether the public transportation transportation system in Tomohon City is able to achieve comfortable transportation indicators in the context of a livable city. This study uses a quantitative-descriptive approach. This analysis aims to explain the phenomenon by using numbers using statistical calculations using the Guttman scale scoring method. The sample in this research is 50 respondents. The results of this study are that the City of Tomohon is in the category of approaching unsuitable. This hall occurs because there are variables that do not meet the principles developed. These variables are pedestrian paths with the proportion of people who feel comfortable 36% and those who don't 64%, terminals with an average distance of 178 meters from the terminal to the service center and a building density of 6 buildings/ha classified as low and not in accordance with existing criteria. and the convenience of transportation modes because the average waiting time for public transportation is 88. Keywords: Liveable City, Transportation, Public Transportation, Tomohon Cit

    Pengembangan Ekowisata di Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori Papua: Ecotourism Development in Supiori Timur District, Supiori Regency Papua

    Get PDF
    Abstrak Wilayah Distrik Supiori Timur merupakan administrasi Kabupaten Supiori, Provinsi Papua, yang terdiri dari 10 Kampung, untuk pengembangan ekowisata mangrove terdapat di kampung Waryesi dan Sorendidori. Pengembangan ekowisata mangrove di Distrik Supiori Timur Kabupaten Supiori, dari data lapangan dan informasi masyarakat dinilai kurang maksimal dalam mendukung program pengembangan daerah, karena beberapa hal yaitu ; pengembangan hanya berfokus pada kawasan mangrove tanpa melihat potensi yang ada disekitar kawasan, maka penelitian ini bertujuan daya tarik wisata ekowisata mangrove yang ada di Distrik Supiori Timur, serta strategi pengembangan ekowisata di Distrik Supiori Timur Kampung Waryesi dan Sorendidori, Kabupaten Supiori Papua. Teknik analisis deskriptif kualitatif, menganalisis mempergunakan acuan ADO-ODTWA (analisis daerah operasi -objek dan daya Tarik) dan analisis SWOT Kata kunci : Pengembangan ekowisata, ADO-ODTWA, Strategi Pengembangan Abstract The East Supiori District area is the administration of Supiori Regency, Papua Province, which consists of 10 villages, for the development of mangrove ecotourism located in Waryesi and Sorendidori villages. The development of mangrove ecotourism in Supiori Timur District, Supiori Regency, from field data and community information is considered less than optimal in supporting regional development programs, due to several things, namely; development only focuses on mangrove areas without looking at the potential that exists around the area, so this study aims to attract mangrove ecotourism tourism in East Supiori District, as well as ecotourism development strategies in East Supiori District Waryesi and Sorendidori Villages, Supiori Regency Papua. Qualitative descriptive analysis technique, analyzing using ADO-ODTWA reference (analysis of operating area - object and attraction) and SWOT analysis Keyword: Development of ecotourism, ADO-ODTWA, Development Strateg

    129

    full texts

    132

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SABUA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇