Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
BIOAKUSTIK SUARA STRIDULATORY GERAK IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) PADA AIR BERSALINITAS
Study on bioacoustic learns about sound production, dispersion through elastic media, and reception in animals, including humans, intensity of sound amplitude, sound fluctuation, and sound patterns of fish. Bioacoustic is a multidiscipline science that combine biology and acoustic science that usually refer to sound production research, sound dispersion through the elastic medium, and sound reception in animal including guppy fish (Poecilia reticulata). In this research, salt level about 2 g/mol was added in the water/medium until the salinity was 30 ppm. The result indicated that the sound intensity of guppy fish on days 3 and 7 after the addition of salt reaches the highest value of -44 dB with interval time of 40-50 seconds. This research showed that guppy fish can survive in salinity 30 ppm with sound intensity -48 dB and the frequency of flapping fins or guppy fish stridulatory was 0-19.60 kHz.Studi bioakustik mempelajari produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan pada hewan, termasuk manusia. Intensitas amplitude suara, fluktuasi suara, dan bentuk pola-pola suara ikan. Bioakustik adalah ilmu lintas-disiplin yang menggabungkan biologi dan akustik yang biasanya merujuk pada penelitian mengenai produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan suara pada hewan; termasuk pada ikan guppy (Poecilia reticulata). Dalam penelitian ini, kadar garam sebesar 2 gram/mol ditambahkan ke dalam air hingga salinitas mencapai 30 ppm. Nilai intensitas awal tertinggi pada ikan guppy yaitu pada setelah penambahan garam pada hari ke 3 dan 7 memiliki intensitas yang lebih tinggi, dengan rata-rata intensitas yaitu berada pada -44 dB pada range waktu yaitu detik 40-50. Studi ini menunjukkan bahwa ikan guppy mampu bertahan pada salinitas 30 ppm dengan nilai intensitas -48 dB dan frekuensi kepakan sirip atau stridulatory ikan guppy adalah 0 sampai 19,6 kHz
POLA PEMANFAATAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN UNTUK MEREDUKSI KONFLIK PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN UTARA ACEH
Konflik perikanan tangkap di perairan Utara Aceh merupakan persoalan konflik yang sedang terjadi sejak tahun 2005 sampai 2015. Konflik perikanan tangkap secara umum terjadi akibat sumberdaya ikan yang semakin berkurang sehingga terjadi persaingan yang tidak sehat dalam memperebutkan sumberdaya pada daerah penangkapan ikan yang sama. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor penyebab dan dampak konflik perikanan tangkap serta menentukan pola pemanfaatan daerah penangkapan ikan untuk mereduksi konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan AHP (Analitycal Hierarchy Process). Hasil analisis menunjukan bahwa faktor-faktor penyebab konflik perikanan tangkapan di perairan Utara Aceh adalah penggunaan cahaya lampu pada purse seine, perebutan daerah penangkapan ikan, penggunaan bom ikan, penggunaan trawl, pemutusan rumpon, dan illegal fishing. Dampak yang dihasilkan dari konflik perikanan tangkap adalah tergganggunya habitat sumberdaya ikan, menurunnyan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan tradisional serta pertikaian antar nelayan di daerah penangkapan ikan yang diperebutkan. Pola pemanfaatan yang dapat dikembangkan adalah (1) memberi perhatian dominan terhadap aspek biologi/SDI dalam setiap tindakan pemanfaatan, (2) meminimalisir terjadinya pemutusan rumpon (konflik utama), (3) menerapkan strategi penggelolaan dengan urutan prioritas: mediasi, arbitrase, negosiasi dan ganti rugi
BIOGAS PRODUCTION FROM RED MACTOALGAE (Gracilaria verrucosa) IN BATCH SYSTEM
Makroalga dari laut menjadi salah satu pilihan sumber biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi melalui proses degradasi anaerobik. Proses ini membutuhkan bantuan bakteri yang sangat melimpah pada rumen ataupun feses sapi. Ketersediaan bahan baku Gracilaria verrucosa sisa (rejected) pada budidaya makroalga di tambak menunjang bagi pengembangan energi biogas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengananlisis produksi biogas dari makroalga merah Gracilaria verrucosa serta uji coba potensinya pada lampu dan kompor biogas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem batch pada digester sebesar 1500 L dengan volume kerja digester sebesar 1200 L. Volume rata-rata gas metana yang dihasilkan selama pengamatan adalah 72 L/hari. Uji coba biogas makroalga dilakukan terhadap pemakaian lampu biogas memerlukan 1.8 L/menit dan kompor biogas memerlukan 6.0 L/menit gas dari digester. Potensi dari biogas ini dapat diaplikasikan dan dikembangkan jika ditunjang dengan keberadaan sumber biomassa makroalga sebagai substrat utama.Marine macroalgae become one of biomass resource to be converted into energy using anaerobic degradation. This process requires bacteria agent contained in cattle rumen or manure. Availability of residual Gracilaria verrucosa (rejected) on fishpond macroalgae cultivation support for biogas energy development. The aims of this research were analyzing biogas production from red macroalgae Gracilaria verrucosa and applying the gas to biogas lamp and stove. The method in this research was batch system, used 1500 L capacity digester with 1200 L working volume. Methane production average volume was 72 L/day during 31 days of observation. The trials were carried out to operate lamp and stove, biogas lamp require 1.80 L/min and biogas stoves require 6.00 L/min gas from digester. This research may be applied and developed when supported by availability of macroalgae biomass as the prime substrate
REKAYASA LAMPU LED CELUP UNTUK PERIKANAN BAGAN APUNG DI PERAIRAN PATEK KABUPATEN ACEH JAYA PROPINSI ACEH
Kegiatan pemanfaatan potensi perikanan tangkap di perairan Aceh Jaya masih banyak tergantung pada teknologi penangkapan ikan masih terbatas. Jenis alat tangkap yang digunakan di Aceh Jaya adalah pukat pantai, pancing, jaring insang, dan bagan. Jenis bagan yang digunakan oleh nelayan patek yaitu bagan apung. Bagan merupakan salah satu perikanan light fishing. Jenis lampu yang digunakan oleh nelayan patek adalah neon yang ditempatkan di permukaan, sedangkan lampu permukaan ini kurang efektif untuk digunakan. Penelitian ini menggunakan lampu LED celup. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan konstruksi lampu celup dalam air dan menentukan efektifitas lampu LED celup. Konstruksi lampu LED celup dirancang sebuah inovasi yaitu lampu dapat diredupkan sehingga ikan-ikan yang sudah mendekat ke cahaya sehingga lebih terfokus ke bagan. Metode penelitian ini adalah deskriptif, rancang bangun alat, percobaan atau experimental fishing. Dengan adanya lampu LED celup bisa membantu nelayan patek dalam menangkap ikan dan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Total hasil tangkapan dengan menggunakan lampu neon sebesar 2343 kg. Sedangkan, total hasil tangkapan dengan lampu LED celup adalah sebesar 3779 kg. Jenis ikan yang tertangkap pada alat tangkap bagan yaitu teri, peperek, tembang, kembung, selar, japuh, dan layur selama 10 trip, 5 trip bulan gelap dan bulan terang. Terlihat bahwa ada perbedaan jumlah dan komposisi hasil tangkapan dengan menggunakan lampu neon dan lampu celup. Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan lampu LED celup lebih efektif untuk digunakan sebagai alat bantu pada perikanan bagan.Fishery potential utilization in the waters of Aceh Jaya was dependent on fishing technology and still limited.The type of fishing gears which used in Aceh Jaya were beach seine, line fishing, gillnet, and liftnet. Liftnet used by Patek fishermen was floating liftnet. Bagan was classified in light fishing. The type of lamps which used by fishermen was fluorescent and set on the surface, whereas the surface lamp was less effective for use. This research used underwater lamp. The aims of this research were to get underwater lamp construction and determine the LED effectiveness. Construction of underwater lamp designed an innovation, that was the dimmed, so that fish which have aggregated by the light would more focus to the liftnet. The research methods were descriptive, fishing gear construction design, experiment or experimental fishing. Underwater lamp lights could help Patek fishermen for fishing and got maximum catches. Total catches by using fluorescent light were 2343 kg. Meanwhile, total catches with underwater lamp were 3779 kg. Fish species that were caught by liftnet were anchovy, peperek, tembang, mackerel, selar, japuh, and layur for 10 trip, 5 trip in the dark and the bright moon. Seen that there were differences of catches amount and composition by using fluorescent lamps and underwater lamp. The results of research it was concluded effective underwater lamp as a tool in fisheries liftnet
ESTIMASI INTENSITAS UPWELLING PANTAI DARI SATELIT AQUAMODIS DI PERAIRAN SELATAN JAWA DAN BARAT SUMATERA
Upwelling musiman pada umumnya terjadi di sepanjang selatan jawa hingga barat Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi intensitas upwelling dari data SPL dan konsentrasi klorofil-a dari sensor satelit. Data SPL dan Klorofil-a yang digunakan adalah data satelit Aqua-MODIS level-3 dan data angin dari satelit Quikscat pada bulan Juli 2002 sampai Juni 2011. Indeks upwelling diperoleh dengan formula Coastal Upwelling Index (CUIx). Analisis statistik digunakan untuk melihat hubungan antara SPL dan klorofil dengan CUIx. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara temporal upwelling terjadi pada musim timur, dengan kisaran SPL 25.10 – 27.30 °C dan konsentrasi klorofil-a 0.30 – 0.67 mg m-3. Namun pada tahun 2006 terjadi anomali intensitas upwelling yang ditandai dengan SPL yang turun mencapai 24.98 °C (Selatan Jawa) dan 25.97 °C (Barat Sumatera), konsentrasi klorofil-a meningkat 1.33 mg m-3 (Barat Sumatera) dan 3.71 mg m-3 (Selatan Jawa). Hasil analisis menunjukkan bahwa SPL memiliki hubungan yang sangat kuat dengan CUIx di Barat Sumatra (r=0.84). Sementara di perairan selatan Jawa, kedua parameter (SPL dan klorofil-a) menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan CUIx (r=0.86 yang untuk SPL dan r = 0.81 untuk klorofil-a). Monsoonal upwelling generally occurred along the coasts of South Java to Western Sumatera. The aimed of this study was to estimate the upwelling intensity derived from sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a. SST and chlorophyll-a data was obtained from 3rd level of Aqua-MODIS satellite censor, and wind data derived from Quikscat satellite censor on July 2002 to June 2011. Upwelling index derived from coastal upwelling index (CUIx) formula. Statistical analysis was used to describe the relationship of SST and chlorophyll-a to CUIx. The result of this study show that the occurrence of upwelling was in east monsoon temporally, the range of SST is about 25.10 – 27.30 °C and chlorophyll-a is about 0.30 – 0.67 mg m-3. However in 2006 the anomaly of upwelling intensity coincide perfectly with the descend of SST to 24.98 °C (Sout Java) and 25.97 °C (West Sumatera), meanwhile the concentration of chlorophyll-a is increase to 1.3 mg m-3 (West Sumatra) and 3.71 mg m-3 (South Java). Statistical analysis show that the SST give a strong relationship between CUIx and SST (r=0.84) in West Sumatera. Meanwhile in South Java, both of those parameters (SST and Chlorophyll-a) gives the strong relationship to CUIx respectively (r= 0.86 and r = 0.81)
ANALISIS DAN KLASIFIKASI SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT MENGGUNAKAN SUB-BOTTOM PROFILER
Peningkatan aktivitas manusia di bidang kelautan seperti operasi pengerukan (dredging), eksplorasi minyak dan gas, penambangan pasir mineral, dan berbagai penelitian kelautan telah mengakibatkan permintaan yang mendesak terhadap peta dasar laut yang akurat. Sub-bottom Profiler (SBP) adalah sistem akustik tradisional yang digunakan untuk menggambarkan lapisan sedimen dan batuan di bawah dasar laut, serta memberikan informasi tentang ketebalan sedimen dan stratigrafinya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan profil lapisan sedimen dasar laut (near-surface sediment) dan memperoleh nilai koefisien refleksi dari lapisan tersebut. Proses akuisisi data dilakukan menggunakan SBP jenis sparker single channel oleh BPPT, yaitu survei pemeliharaan pipa migas dan kabel listrik Pertaminatahun 2010 yang berada di sebelah timur pantai Balongan, Indramayu. Pengambilan sampel sedimen dasar laut menggunakan gravity corer. Hasil dari pengolahan data mentah SBP dengan Matlab di dekat lokasi B19 diperoleh profil 2D dari lapisan sedimen dimana terlihat jelas dasar laut dan reflektornya serta memiliki nilai koefisien refleksi berkisar 0 hingga 0.2955. Selain itu teknik analitis untuk estimasi parameter sedimen dari data laboratorium ditunjukkan sebagai pembanding. Hasil sedimennya berupa silt/lanau dengan nilai koefisien refleksinya adalah 0.2807. The increased human activity in the marine sector, such as dredging operations, oil and gas exploration, mineral sands mining and various marine research has led to an imperative demand for accurate seafloor maps. Sub-bottom profilers (SBP) are acoustic systems traditionally used to image sediment layers and rocks beneath the seabed, providing information about sediment thicknesses and stratigraphy. Therefore, the objectives of this research were to determine the profile of the seafloor sediment layer (near-surface sediment) and obtain the value of the reflection coefficient of the layer. The process of data acquisition was conducted using SBP type of a single channel sparker by BPPT that was the survey of oil and gas pipeline maintenance and electrical cable Pertamina in 2010, which was on the east coast Balongan, Indramayu. Whereas for seafloor sediment sampling was used gravity corer. The results of the processing of the raw data with Matlab nearby B19 have been obtained 2D profile of seabed sediments and reflector, which was clearly visible and had a reflection coefficient value range 0 to 0.2955. In addition, an analytical technique for parameter estimation of sediment from laboratory data was performed as a comparison. The result of sediment in the form of silt with reflection coefficient value was 0.2807
TINGKAT EFISIEN PEMASARAN IKAN LAUT SEGAR DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) BRONDONG
Pemasaran merupakan kunci dari keberlanjutan aktivitas perekonomian tidak terkecuali ikan hasil tangkapan yang berasal dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong. Ikan yang didaratkan di PPN Brondong beragam. Ikan swangi (Priacanthus tayenus) dan ikan kuniran (Upeneus sulphureus) merupakan ikan hasil tangkapan dominan serta ikan tongkol (Euthynnus affinis) dan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) merupakan ikan ekonomis tinggi yang di daratkan di PPN Brondong. Nelayan PPN Brondong perhari rata-rata melakukan penangkapan ikan 159 ton ikan. Potensi besarnya hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Brondong harus dapat diimbangi dengan pemasaran yang baik. Aktivitas pemasaran harus dapat dilakukan se efisien mungkin sehingga dari sisi bisnis dapat memberikan keuntungan yang besar dari hasil kegiatan pemasaran ini. Aktivitas distribusi pemasaran ikan yang berasal dari PPN Brondong saat ini masih belum efisien dikarenakan aktivitas pemasaran masih menggunakan alat-alat yang tradisional. Melihat kondisi itu penting untuk mengetahui tingkat efisien dari aktivitas pemasaran ikan yang berasal dari PPN Brondong. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung tingkat efisiensi pemasaran ikan yang ada di PPN Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Penelitian akan dilaksanakan dengan metode kasus terhadap strategi peningkatan efisiensi pemasaran dalam pendistribusian ikan dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPN) Brondong. Analisis yang dipergunakan yaitu dengan rumus efisiensi pemasaran. Berdasarkan analisis yang dilakukan didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa aktivitas pemasaran yang ada di PPN Brondong tidak efisien. Terbukti berdasarkan analisis didapatkan ikan swangi memiliki tingkat Eps 45,44%, ikan kuniran 38,98%, ikan tongkol 57,94% dan ikan kakap merah 25,65% dengan dinyatakan dimana pemasaran dikatakan efisien jika memiliki Eps <5%.Marketing is the key to the sustainability of economic activity is no exception fish catches came from Brondong fishing port. Fish landed in Brondong fishing port is diverse. Spotted big eye fish (Priacanthus tayenus) and yellow goat fish (Upeneus sulphureus) is the dominant fish catches and eastern little tuna (Euthynnus affinis) and red snapper (Lutjanus malabaricus) is an economical high in fish landed in Brondong fishing port. Fishermen in Brondong fishing port average daily fishing 159 tons of fish. The potential magnitude of catches landed in Brondong fishing port must be balanced with good marketing. Marketing activities should be carried out as efficiently as possible so that the business sidecan provide great benefits from the results of these marketing activities. Fish marketing activities stemming from Brondong fishing port is still inefficient due to marketing activities still using traditional tools. Seeing the condition that it is important to know the level of the efficient marketing activity fish from Brondong fishing port. The aim of this study is to calculate the level of marketing efficiency of fish in Brondong fishing port, Lamongan, East Java. The research will be implemented by the method of the case against the strategy of increasing marketing efficiency of fish from Brondong fishing port. Analysis of the formula used is marketing efficiency. Based on the analysis conducted showed that showed that the existing marketing activity in Brondong fishing port is inefficient. Proved by analysis obtained spotted big eye fish have high levels of Eps 45.44%, 38.98% yellow goat fish, eastern little tuna 57.94% and 25.65% red snapper with declared where marketing said to be efficient if it has Eps <5%
POTENSI LESTARI IKAN LAYANG (Decapterus spp) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI TENGGARA
Decapterus spp is one of small pelagic fish species having potential and high economic value in Southeast Sulawesi. The utilization of resources activities in East Southeast Sulawesi is using the purse seine units. Study aim was to determine of the maximum sustainable yield (MSY) and catches of the Decapterus spp allowed (JTB) in the East Southeast Sulawesi waters. This research was using survey method to get a represented potential of Decapterus spp in the East Southeast Sulawesi waters. The approach done by means of analyzed data efforts and the catch data of Decapterus spp by using the purse seine unit in Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari. The results about the potential fish a sustainable (Decapterus spp) were : the maximum sustainable yield (MSY) of Decapterus spp : 5.747.61 tonnes/years and catches of Decapterus spp allowed (JTB) 4.598 tonnes/ year.Ikan layang (Decapterus spp) merupakan salah satu sumberdaya ikan ikan pelagis kecil yang memiliki potensi dan nilai ekonomis tinggi di Sulawesi Tenggara. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan layang di Sulawesi Tenggara umumnya dilakukan oleh unit penangkapan ikan purse seine (pukat cincin). Tujuan kajian ini yaitu menentukan potensi maksimum lestari (MSY) dan jumlah tangkapan ikan layang yang diperbolehkan (JTB) di Perairan bagian Timur Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk mendapatkan gambaran yang dapat mewakili potensi ikan layang di Perairan Timur Sulawesi Tenggara. Pendekatan dilakukan dengan cara menganalisis data upaya penangkapan dan data hasil tangkapan (produksi) ikan layang oleh unit penangkapan pukat cincin yang di daratkan di PPS Kendari. Hasil penelitian menunjukkan potensi maksimum lestari (MSY) ikan layang sebesar 5.747,61 ton/tahun dan jumlah tangkapan ikan layang yang diperbolehkan (JTB) sebesar 4.598 ton/tahun
SEBARAN SPASIAL VOLUME BACKSCATTERING STRENGTH IKAN PELAGIS DI DANAU RANAU, SUMATERA SELATAN
Danau Ranau tergolong danau besar sehingga dapat dikatakan memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai penyedia air minum, perikanan, irigasi, transportasi dan rekreasi. Sv sebagai bagian dari karakteristik hidroakustik, merupakan parameter acuan dalam mengkaji atau mengkuantifikasi sumberdaya ikan pelagis (densitas, dan sebarannya). Penelitian bertujuan mengkuantifikasi hasil dari penggunaan metode akustik yang diterapkan di Danau Ranau. Data kuantitatif yang diperoleh diharapkan menjadi dasar analisis selanjutnya dalam hal pengelolaan sumberdaya perikanan di Danau Ranau, Sumatera Selatan. Penelitian dilaksanakan di Danau Ranau yang meliputi wilayah OKU Selatan dan Lampung Barat, pada Bulan November 2012 dan Februari 2013. Penelitian menggunakan perangkat akustik split beam echosounder Simrad EY60 frekuensi 120 kHz. Data hasil tangkapan yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan ikan di wilayah OKU Selatan yang didominasi oleh ikan pelagis digunakan untuk memverifikasi data akustik. Sebaran ikan berdasarkan nilai volume backscattering strength (Sv) menunjukan penyebaran yang tidak merata. secara spasial, kelompok ikan menyebar di sisi litoral danau, hampir tidak ditemukan di sisi barat laut. Kelompok ukuran kecil ditemukan di barat daya dan selatan danau, sementara kelompok ukuran besar terkonsentrasi di tenggara dan timur. Sebaran secara vertical menunjukan bahwa ukuran dari semua kelompok target (kecil hingga besar) ditemukan di kedalaman 0-75 m, sementara di kedalaman 75-125 m ditemukan ukuran yang relative lebih besar. Suhu dan DO menunjukan bahwa terjadi stratifikasi minor di perairan ini. Koefisien korelasi menunjukan keeratan hubungan antara Sv dengan suhu (0.94), namun tidak demikian dengan Sv dan DO (0.56
PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES
Penelitian bertujuan untuk membandingkan penampang hasil pengolahan data seismik menggunakan stack konvensional dan metode Common Reflection Surface (CRS), dan membuktikan bahwa metode CRS mampu memberikan pencitraan yang lebih baik dibandingkan dengan metode stack konvensional. Penelitian menggunakan satu lintasan data seismik hasil akusisi Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) pada Juni 2012 di Laut Flores. Penelitian mengolah data seismik mulai dari input data sampai stack, kemudian dilanjutkan dengan metode CRS. Metode CRS menggunakan beberapa penyesuaian pada aperture. Penampang yang optimal menggunakan dip aperture 300 m dan stack aperture 100 m. Hasil menunjukkan penampang data seismik menggunakan metode CRS mampu memberikan pencitraan yang lebih baik dibandingkan dengan metode stack konvensional. Metode CRS dapat meningkatkan kualitas penampang karena reflektor yang terlihat jelas dan kontinu.The aim of the research was to compare the results of seismic data processing using conventional stack and Common Reflection Surface (CRS) methods, also proves this method capable for providing better imaging than conventional stack method. Seismic data on June 2012 in Flores Sea from Marine Geological Institute (MGI) was used in this research. Processing started from input data, geometry, editing, preprocessing, normal moveout (NMO) correction and stack, then using CRS method. This method used some adjustment on aperture. The optimal visualization used dip aperture 300 m and stack aperture 100 m. Results showed the seismic data using the CRS provide better imaging than conventional stack method. CRS method can improve the quality of the stack result because the reflector more visible and continuous