Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PENATAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI AWAK KAPAL PENANGKAP IKAN DI INDONESIA

    Get PDF
    Kompetensi awak kapal penangkap ikan merupakan salah satu faktor utama penunjang keberhasilan operasi penangkapan ikan. Penguasaan kompetensi awak kapal dibuktikan dengan sertifikat kompetensi yang didapatkan melalui pendidikan dan latihan serta uji sertifikasi awak kapal penangkap ikan oleh badan berwenang. Standar kompetensi awak kapal penangkap ikan harus sesuai dengan ukuran kapal (panjang kapal dan gross tonage) dan wilayah operasi penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesenjangan yang terjadi antara sertifikat kompetensi awak kapal penangkap ikan dengan ketentuan perundangan yang berlaku di Indonesia beserta faktor penyebabnya. Penelitian telah dilakukan pada kapal ukuran lebih dari 30 GT di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dan Pelabuhan Perikanan Samudra Nijam Zachman Muara Baru Jakarta.  Data primer diperoleh dari  bukti dokumen awak kapal (BST, buku pelaut, Ankapin, Atkapin, SKK) yang berada diatas kapal. Data sekunder diperoleh dari Sijil Awak Kapal, SPB, ukuran kapal (panjang dan GT), wilayah operasi penangkapan serta peraturan perundangan tentang pengawakan kapal penangkap ikan yang berlaku di Indonesia. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas awak kapal penangkap ikan Indonesia belum memiliki sertifikat kompetensi sesuai peraturan yang berlaku.  Hal ini disebabkan oleh dispensasi penerbitan SPB dan keterbatasan waktu pelaksanaan uji sertifikasi.  Pihak berwenang harus tegas menentukan batas waktu dispensasi penerbitan SPB serta  memperbanyak  waktu dan tempat uji sertifikasi yang mudah diakses oleh awak kapal.Competence crew of fishing vessels is one of the main factors supporting the success of fishing operations. Mastery of crew competence evidenced by a certificate of competence gained through education and training as well as certification testing crew of the fishing vessel by the competent authority. Crew competency standards fishing vessels must conform to the size of the vessel (ship’s length and gross tonnage) and area fishing operations. This study aims to assess the gap that occurs between the crew competency certificates fishing vessels with provisions of existing law in Indonesia as well as a contributing factor. Research has been done on the ship measuring more than 30 GT in Pelabuhanratu Nusantara Fishery Port and Fishing Port Ocean Nijam Zachman Muara Baru Jakarta. Primary data obtained from the evidence documents crew (BST, seaman books, Ankapin, Atkapin, SKK) who were on board. Secondary data were obtained from the Sijil Crew, SPB, vessel size (length and GT), the area of fishing operations as well as legislation on the manning of fishing vessels that apply in Indonesia. Data processing was performed using descriptive analysis with qualitative approach. The results showed the majority of the crew of the fishing vessel Indonesia does not have a certificate of competence in accordance with applicable regulations. This is caused by the publication dispensation SPB and certification test execution time constraints. The authorities should make clear deadline for publishing the dispensation of SPB and multiply the time and place of the certification test that is easily accessible by the crew

    PENGARUH ANEMON (Heteractis magnifica) TERHADAP VITALITAS IKAN BADUT (Amphiprion oscellaris) UNTUK MEMINIMALISASI PENGGUNAAN KARANG HIDUP PADA AKUARIUM LAUT BUATAN

    Get PDF
    Anemon laut adalah kerabat dekat dari karang. Binatang ini merupakan salah satu biota laut yang digemari oleh kalangan pecinta akuarium hias air laut. Bentuk tubuhnya menyerupai bunga karang dengan warna yang indah pada tubuhnya. Anemon laut ini merupakan hewan lunak yang tergolong dalam hewan invertebrata (hewan tak bertulang belakang). Ikan badut dan anemon laut biasa hidup dengan cara bersimbiosis, adapun simbiosis yang dilakukan adalah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Namun, pada usaha budidaya ikan badut, banyak digunakan Anemon yang merupakan karang hidup. Penggunaan Anemon secara berlebih menyebabkan jumlah Anemon di ekosistem terumbu karang menjadi berkurang dan terancam menuju kepunahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vitalitas Amphiprion oscellaris yang hidup dilingkungan akuarium buatan dengan kondisi lingkungan perairan yang ideal tidak dipengaruhi oleh simbiosis dengan Heteractis magnefica. Pemeliharaan ikan Amphiprion oscellaris di akurium tidak membutuhkan anemon laut untuk bertahan hidup, sehingga penggunaan anemon  laut dapat diminimalisir dan mengganti dengan anemon buatan sebagai hiasan akuaskap.Sea Anemone is a close relative of corals. It is one of the marine life that is favored by lovers of sea-water ornamental Aquarium. Its body form resembling sponges with a beautiful color on her body. This sea anemone is a software belongs to the animals of animal invertebrates (spineless animals back). However, in the cultivation of fish, Clown fish which is much used living coral. The use of excess numbers of Anemone coral reef ecosystems in a dwindling and threatened to extinction. The results of this research show that the vitality of the living surroundings Amphiprion oscellaris aquariums made by an ideal aquatic environment conditions is not affected by symbiosis with Heteractis magnefica. Amphiprion oscellaris fish maintenance doesn\u27t need sea anemone to survive, so the use of sea anemone can be minimised and replacing with artificial Anemone akuaskap as a decoration

    KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN DI KOTA PALOPO PROVINSI SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Industri perikanan tangkap merupakan salah satu industri yang berpotensi untuk dikembangkan. Potensi perikanan tangkap Indonesia tergolong besar dan dapat dijadikan peluang dalam membangun industri pengolahan ikan. Kota Palopo memiliki kebijakan struktur ruang yang mewujudkan pusat kegiatan yang memperkuat kegiatan agroindustri, perdagangan dan jasa serta pariwisata dan kegiatan kota lainnya secara optimal. Subsektor perikanan merupakan subsektor unggulan di Kota Palopo. Kajian tentang pengembangan industri pengolahan ikan di Kota Palopo dilakukan, bertujuan untuk menentukan strategi yang sesuai untuk kondisi Kota Palopo. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan SWOT. Hasil analisis menggunakan SWOT menyimpulkan bahwa strategi yang dapat diterapkan dalam rangka mendorong pengembangan industri pengolahan ikan di Kota Palopo diantaranya: (1) penguatan dan pengembangan  kelompok pengolah ikan terpadu masyarakat pesisir; (2) memanfaatkan dan memelihara fasilitas penanganan hasil tangkapan yang tersedia yaitu chilling room, pabrik es, dan gedung pengolahan ikan; (3) mengembangkan jangkauan pasar terutama produk olahan hasil perikanan; (4) mempermudah akses administrasi pendirian industri pengolahan ikan di daerah; dan (5) meningkatkan daya saing volume produksi hasil tangkapan ikan nelayan lokal Kota Palopo di PPI Pontap.The fishing industry is one of industry that has the potential to be developed. Specifically Indonesian fisheries potential quite large and can be an opportunity to build fish processing industry. Palopo town has a structure that embodies the policy center that strengthen agro industry activities, trade and services as well as tourism and other municipal activities optimally. In addition, the fisheries subsector is featured subsector in Palopo. Therefore, the study of fish processing industry development in Palopo done, it aims to determine the appropriate strategy for Palopo conditions. The analytical method used are qualitative descriptive and SWOT. Results by using SWOT analysis concluded that the strategies that can be offered were 1) strengthening and developing an integrated fish processing group from local coastal community; 2) utilizing and maintaining the cold storage, ice factory, and fish processing building; 3) expanding the market especially processed fish products; and 4) easy administration access for local fish industry

    KOMPONEN FITOKIMIA DAN TOKSISITAS SENYAWA BIOAKTIF DARI LAMUN ENHALUS ACOROIDES DAN THALASSIA HEMPRICHII DARI PULAU PRAMUKA, DKI JAKARTA

    Get PDF
    Beberapa penelitian mengenai kandungan bioaktif  telah dilakukan dengan menggunakan bahan dasar lamun. Sehubungan dengan kandungan senyawa bioaktif yang terkandung dalam Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii yang kaya dan potensial sebagai bahan kecantikan, obat, dan bidang farmasi lain, maka perlu dilakukan observasi mengenai komponen fitokimia dan tingkat toksisitasnya.  Penelitian ini melaporkan golongan senyawa kimia yang terkandung dalam Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii dari Pulau Pramuka, DKI Jakarta serta tingkat toksisitasnya. Uji fitokimia yang dilakukan menunjukkan ekstrak Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii mengandung senyawa bioaktif dari jenis flavonoid, alkaloid, dan steroid. Uji toksisitas dengan metode BSLT yang dilakukan menunjukkan ekstrak metanol Enhalus acoroides bersifat sangat toksik dengan nilai LC50 5,74 ppm, sedangkan ekstrak n-heksana Enhalus acoroides bersifat tidak toksik ditunjukkan dengan nilai LC50 1309,42 ppm.Some of marine bioactive research has been done using seagrass, such as Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii. Respect to the bioactive compound in Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii as medicine, and other pharmaceuticals, it is necessary to observations phytochemical components and toxicity level. This study informs the toxicity level and phytochemical compounds which is contained in Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii from Pramuka Island, Jakarta. Phytochemical test of Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii showed that there are containing flavonoids, alkaloids, and steroids. Toxicity test wich is conducted with Brain Shrimp Lethal Toxic (BSLT) method showed that methanol extract of Enhalus acoroides is highly toxic with LC50 = 5.74 ppm, while the n-hexane extract of Enhalus acoroides is not toxic, indicated by LC50 = 1309.42 ppm

    PERANAN FASILITAS PPI TERHADAP KELANCARAN AKTIVITAS PENDARATAN IKAN DI CITUIS TANGERANG

    Get PDF
    Fasilitas berperan menunjang kelancaran aktivitas pelabuhan perikanan. Ketidakcukupan kapasitas atau ketidaktersediaan salah satu fasilitas yang diperlukan akan dapat menghambat kelancaran aktivitas pelabuhan tersebut. Permasalahan ini sering ditemukan pada banyak pelabuhan perikanan. PPI Cituis merupakan salah satu dari 7 PPI di Kabupaten Tangerang yang dapat memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah tertinggi. Tujuan penelitian ini mengetahui kondisi dan kapasitas fasilitas tersedia terkait dengan kelancaran aktivitas di PPI Cituis. Metode penelitian adalah kasus terhadap aktivitas dan fasilitas PPI Cituis. Analisis dilakukan secara deskriptif setelah dilakukan identifikasi terhadap fasilitas dan aktivitas yang ada dan penghitungan kembali kapasitas tempat pelelangan ikan, dermaga dan kolam pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tiga belas jenis aktivitas kepelabuhanan perikanan yang tercantum dalam UU RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, maka PPI Cituis telah melaksanakannya 9. Permasalahan kurangnya kapasitas dermaga (154,18 m) dan kedalaman kolam pelabuhan (70 cm) mengakibatkan terhambatnya aktivitas di PPI Cituis khususnya pendaratan kapal dan pembongkaran hasil tangkapan.Facilities support the role of fishing port activity. Insufficient capacity or unavailability of one of the necessary facilities will be able to hamper the smooth activity of the port. These problems are often found at many fishing ports. PPI Cituis one of the 7 PPI in Tangerang district that contributes the highest region origin income. The purpose of this study to know the condition of capture fisheries in Tangerang Regency, activities and facilities in the PPI Cituis and assess the capacity of the facilities available. The research method is a case to PPI Cituis activities and facilities. Descriptive analysis was performed after the identification of existing activities and the calculation of return on the capacity of the fish auction place, quai and port basin. The results showed that based on thirteen fishing port activities listed in Law No. 45 of 2009 on Fisheries, the PPI Cituis has done it 9. Problem of lack of capacity of the pier (154.18 m) and depth of the bassin port (70 cm) resulted in inhibition of activity in the PPI Cituis especially landing boat and the unloading of the catch

    PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI BERBASIS SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL DI PULAU SAYAFI DAN LIWO, KABUPATEN HALMAHERA TENGAH

    Get PDF
    Kawasan pesisir pulau Sayafi dan Liwo memiliki potensi sumberdaya alam hayati yang tergolong masih cukup tinggi. Potensi sumberdaya alam yang dimiliki kedua pulau ini dapat dilihat pada ekosistem terumbu karang, ikan karang, ikan hias, padang lamun dan perikanan. Selain memiliki fungsi ekologis, ekosistem ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi untuk pengembangan wisata bahari (marine tourism). Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kelas kesesuaian dan daya dukung ekowisata bahari untuk jenis kegiatan diving dan snorkeling yang dapat di manfaatkan di pulau Sayafi dan Liwo Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian ekowisata bahari pulau Sayafi dan Liwo berada dalam kategori sesuai dan sangat sesuai, dengan daya tampung untuk jenis kegiatan wisata diving sebanyak 260 orang/ hari dengan area pemanfaatan sebesar 18.07 ha, dan untuk wisata snorkeling dengan area pemanfaatan sebesar 16.01 ha, mampu menampung wisatawan sebanyak 231 orang/ hari. Dengan demikian total wisatawan yang dapat ditampung kedua jenis kegiatan wisata sebesar 491 orang/hari.The coastal areas in Sayafi and Liwo islands have the potential of natural resources that are classified as still quite high. The potential of natural resources owned by the two islands reflected on coral reefs, reef fish, ornamental fish, seagrass beds and fisheries. In addition to ecological function, this ecosystem also have a high aesthetic value to the development of marine tourism. The purpose of this study is to determine the suitability index and carrying capacity of the marine ecotourism for the type of diving and snorkeling activities that can be developed on the island Sayafi and Liwo Patani subdistrict of North Central Halmahera in North Maluku province. The results showed that the suitability index of marine ecotourism Sayafi and Liwo islands are in the appropriate category and very appropriate category with the capacity for this type of diving tourism activities 260 people/day in the area of the utilization is equal to 18.07 ha, and for snorkel tour with the utilization is equal to 16.01 ha area, tourists can accommodate as many as 231 people/ day. So, the total tourists who can fit both types of tourist activities is equal to 491 people/day

    HASIL TANGKAPAN IKAN MADIDIHANG DARI ASPEK TEKNIS DAN BIOLOGI MENGGUNAKAN ARMADA PANCING TONDA DI PERAIRAN PALABUHANRATU

    Get PDF
    Pembangunan perikanan di daerah terdiri dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek teknis dan aspek biologis. Aspek biologis memiliki peranan penting untuk pengembangan perikanan di suatu daerah. Aspek teknis digunakan untuk melihat bagaimana cara madidihang tertangkap dan aspek biologis digunakan dalam penelitian ini berguna untuk mengetahui perkembangan penangkapan pada objek ikan yang tertangkap dalam hal ini adalah madidihang yang mendarat di PPN Palabuhanratu. Sampel madidihang diambil pada Agustus 2015 sampai Desember 2015 dari seorang nelayan di PPN Palabuhanratu. Dalam pengoperasian armada pancing tonda, digunakan 4 alat jenis alat tangkap yaitu taber, tomba, pancing ulur, dan layang-layang yang mempunyai fungsi dan jenis hasil tangkapan yang berbeda. Pengukuran total panjang total berat dan analisis korelasi panjang-berat. Data yang telah dihitung antara korelasi dari jumlah panjang dan jumlah-berat madidihang yang issometric dengan b nilai 3.304. Panjang tuna madidihang yang didaratkan secara keseluruhan berkisar antara 39–68cm FL. Distribusi frekuensi panjang tuna madidihang selama lima bulan didominasi oleh ukuran < 100 cm FL. Berdasarkan pengamatan armada pancing tonda, tiap alat tangkap yang digunakan mempunyai cara yang berbeda-beda dalam operasi penangkapannya dengan hasil tangkapan yang berbeda. Berdasarkan analisis korelasi panjang-berat, madidihang memiliki hasil isometrik yang dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan madidihang berkembang dengan baik. Hasil tangkapan bedasarkan analisis selang kelas panjang madidihang menunjukan 55% hasil tangkapan berada pada ukuran jouvenile.The development of fisheries in the consisting area from various aspects, one of them from the biological aspect. The biological aspect has important effort for fisheries development in the area. Biological aspect for this research is useful to know composition of gastric yellowfin tuna that landed on PPN Palabuhanratu. Sample yellowfin tuna taken on August 2015 to December 2015 from a fisherman in the PPN Palabuhanratu In the operation of tonda fishing vassel, haved 4 types of fishing gear used are taber, tomba, fishing line, and kite which have different type and function of catch. for the measurement of the total-length, total-weight and length-weight correlation analysis. The data have been calculated between correlation from total-length and total-weight of yellowfin tuna were issometric with b values 3.304. The total length of tuna madidihang obtained in total ranges from 39-68cm FL. The long-term frequency distribution of tuna madidihang for five months is dominated by the size <100 cm FL. Based on the observation of the fishing fleet of tents, each fishing gear used has different ways of catching operations with different catches. Madidihang in PPN Palabuhanratu and based on the length-weight correlation analysis is issometric results obtained in which the growth of yellow fin tuna weight normal with the growth of length but to much jouvenile to catch with this fisshing vassel, it have lokked at leght distribution analysis 55% are have juvenile leght

    KONDISI TERUMBU KARANG DAN ASOSIASINYA DENGAN BINTANG LAUT DI PERAIRAN PULAU TUNDA, KABUPATEN SERAM, PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat unik dengan berbagai macam bentuk pertumbuhan. Banyak bintang laut jenis Linckia laevigata ditemukan berasosiasi dengan terumbu karang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari tahun 2014 berlokasi di perairan Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Penilaian kondisi terumbu karang dan bintang laut ditentukan dengan metode Line Intercept Transect (LIT) dan kelimpahan bintang laut yang diterumbu karang ditentukan dengan metode Belt Transect. Parameter kualitas perairan pada seluruh lokasi pengambilan sampel masih sesuai dengan kehidupan terumbu karang dan bintang laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang pada perairan P. Tunda tergolong kategori baik, dengan tutupan karang hidup antara 54,95-73,00%. Bentuk pertumbuhan di dominasi oleh kelompok coral massif dan coral foliose. Kelimpahan bintang laut biru jenis L. laevigata yang ditemukan di perairan P. Tunda adalah 8-45 ind/100 m2. Asosiasi ini terjadi antara terumbu karang danbintang laut jenis L. laevigata yang merupakan asosiasi saling menguntungkan (mutualisme).Coral reef constitute extremely uniquely ecosystem with various of life forms. A lot of sea star Linckia laevigata werefound to associate with coral reef in Tunda Island, Serang Regency, Banten. This research was conducted on January-February 2014 that located in Tunda Island, Serang Regency, Banten. Determination of observatory station was usingtime swimming (snorkeling) with observing the existence of coral reef and sea star that associated with coral reef.Assessment of coral reef condition was determined by Line Intercept Transect method and abundance of sea stardetermined by belt transect method. The parameter of water quality were found in entire sites of sampling were stillappropriated with coral reef life and sea star. The result showed that coral cover were between 54.95-73.00%. Life form was dominated by massive and foliose coral. Abundance of Linckia laevigata that found in Tunda Island water was 8-45 ind/100 m2. This association occurred between coral reef and Linckia laevigata that constitute association of the mutualistic symbiosis

    PROSES PENANGKAPAN DAN TINGKAH LAKU IKAN BAGAN PETEPETE MENGGUNAKAN LAMPU LED

    Get PDF
    Konsep aktivitas penelitian dan pengembangan teknologi penangkapan ikan pada masa yang akan datang tidak hanya ditujukan meningkatkan hasil tangkapan tetapi juga ditujukan untuk memperbaiki proses penangkapan (capture process), mengurangi fishing impact terhadap lingkungan dan bio-diversity. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis tahapan pengoperasian dan permasalahan dalam mengoperasikan liftnet (bagan petepete) khas masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Barru dan masukan terhadap taktik dan metode penangkapan ikan, melalui: analisis tahap proses pengoperasian dan analisis tingkah laku ikan di sekitar pencahayaan pada bagan petepete (boat lift net) yang menggunakan lampu LED. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kabupaten Barru-Selat Makassar, Sulawesi Selatan. Pengamatan lapang dilakukan dari bulan Juni sampai Agustus 2014 (20 trip). Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat tahapan operasi penangkapan, sedangkan pengamatan tingkah laku ikan diamati dengan menggunakan fish finder. Tahapan pengoperasian bagan petepete adalah: persiapan operasi, menuju fishing ground, proses penyalaan lampu, proses penurunan waring (setting), proses menunggu kawanan ikan (soaking), proses pemadaman lampu, proses pengangkatan waring (hauling), pengambilan hasil tangkapan, dan proses pengangkatan waring ke atas bagan. Analisis tingkah laku ikan memperlihatkan pola pergerakan kawanan ikan mendatangi pencahayaan berada pada kedalaman 5-10 m dan 20-40 m dari segala arah pada saat semua lampu dinyalakan. Pola Kawanan ikan terkonsentrasi di sekitar catchable area pada saat hanya satu lampu yang dinyalakan disetiap sisi dengan jumlah kawanan semakin sedikit tetapi kepadatan kawanan yang besar disebabkan bergabungnya beberapa kawanan ikan sehingga kawanan ikan semakin membesar.Concept of research activity and development of fishing technology in the future is not only aimed to improve the catch but is also aimed to improve the capture process, reducing the impact of fishing on the environment and biodiversity. The research was conducted with the purpose of the analysis stage of the operation and problems in operating the lift net (bagan pete pete) typical South Sulawesi especially Barru Regency and inputs to the tactics and methods of fishing, through: analyze stage of the operation and analyze the patterns of fish behavior around lighting on the boat lift net (bagan pete pete) by using LED light. This study was conducted in in Barru District waters, Strait of Makassar, South Sulawesi. Field observations were conducted from June-August 2014 (20 trips). Analysis of the fishing was done descriptively to see the stages of operation, while fish behavior was observed by using fish finder. Stages of operation bagan petepete was preparation operation, heading fishing ground, the lighting process, setting, soaking, the process of extinguishing the lights, hauling, taking the catch, and the process of appointment of waring to the boat. Fish shoal approached the light was at a depth of 5-10 m and 20-30 m from any directions after all the lights turned on. When only one lamp lit on each side, the shoal was getting smaller but in larger density

    ANALISIS REFLEKTANSI SPEKTRAL LAMUN MENGGUNAKAN SPEKTROMETER DI PULAU TUNDA SERANG, BANTEN

    Get PDF
    Analisis reflektansi spektral suatu objek mulai banyak berkembang dan memberikan data atau informasi tentang pola spektral. Objek dalam penelitian ini adalah lamun, yang merupakan tanaman memiliki kemampuan untuk beradaptasi hidup di perairan dengan salinitas tinggi. Permasalahan yang muncul adalah sejauh mana pola spektral objek mampu memberikan gambaran yang sesuai dengan karakteristik objek di lapangan. Penelitian dilaksanakan di ekosistem lamun Pulau Tunda Kabupaten Serang pada bulan Agustus 2014 dan dilanjutkan bulan Maret 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kurva reflektansi spektral lamun, karakteristik spektral, dan identifikasi panjang gelombang yang memberikan karakteristik berbeda dari setiap jenis lamun. Pengukuran reflektansi insitu menggunakan spektrometer USB4000 menghasilkan nilai intensitas dan dianalisis menggunakan algoritma reflektansi untuk menghasilkan kurva. Kurva reflektansi memiliki dua puncak pada panjang gelombang 500-650 nm dan 700-750 nm dengan nilai tertinggi adalah 22% dipuncak pertama dan 14% dipuncak kedua. Hasil dari analisis statistik menunjukkan nilai reflektansi dari lima spesies lamun di Pulau Tunda berbeda signifikan. Berdasarkan nilai reflektansi dari lima jenis lamun dan uji Tukey yang telah dilakukan, dapat diketahui panjang gelombang penciri karena lima jenis lamun memiliki perbedaan signifikan yaitu dipanjang gelombang hijau, kuning, merah tepi, dan NIR-2.Research of object spectral reflectance has develop and giving data or information about spectral pattern. Objects that are used in this study was seagrass, which plant with ability to adapt with high salinity water. The problem arrise was how extent object spectral that observed was able to giving an overview of different characteristics of the object in the field. The experiment was conducted in seagrass Tunda Island Serang District in August 2014 and resumed in March 2015. The aim of this research was to determine seagrases spectral reflectance curve, spectral characteristics, and identifier wavelength which gave different characteristics from each type of seagrass. In situ reflectance measurements by using USB4000 spectrometer which generate intensity value and analysis using reflectance algorithms to generate the curve. Reflectance curve has two peaks at wavelengths 500-650 nm and 700-750 nm with a highest value was 22%) in the first peak and 14% in the second peak. The result from statistic analysis showed the reflectance values of five species of seagrass in Tunda Island is significantly different. Based on the reflectance values of the five species of seagrass and Tukey test has been done, it is known wavelength identifier for five species of seagrasses have significant differences that wavelenght of green, yellow, red edge, and NIR-2

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇