Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    DINAMIKA PERIKANAN TUNA LONG LINE INDONESIA (STUDI KASUS TUNA SIRIP BIRU SELATAN)

    Get PDF
    Sebagai anggota Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Indonesia harus mengikuti aturan kuota penangkapan tuna sirip biru selatan (southern bluefin tuna/SBT) yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan pengaturan dan tata kelola yang baik dalam pemanfaatan SBT di Indonesia agar selaras dengan kaidah dan aturan-aturan internasional yang telah disepakati Indonesia sebagai bagian dari CCSBT. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung komposisi hasil tangkapan dan tingkat produktivitas armada tuna long line Indonesia khususnya yang melakukan aktivitas penangkapan SBTmenduga bulan musim penangkapan dan menghitung ukuran rata-rata tertangkap SBT hasil tangkapan tuna long line Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan jenis SBT memiliki nilai persentase terkecil dari komposisi hasil tangkapan tuna long line di Indonesia. Namun demikian, tren persentase produksi SBT memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya tren produktivitas tuna long line. Musim penangkapan SBT di Indonesia terjadi pada bulan Agustus-Maret, yang diduga juga merupakan musim pemijahan tuna sirip biru selatan. Ukuran rata-rata tertangkap SBT (L50%) adalah berukuran 145 cm FL sehingga bisa dikategorikan sudah layak tangkap karena telah melalui fase ikan melakukan pemijahan atau recruitment.As the member of Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Indonesia shall follow the quota measure of SBT fishing that has determined. Therefore, good management and rules were needed for SBT exploitation in Indonesia in order to align with measures and international regulation that has agreed by Indonesia as part of CCSBT. The objectives of this research wereto determine catch composition, productivity of Indonesia tuna longline fisheries especially that doing SBT fishing activity; to estimatesfishing season; and to determine mean size at capture of SBT in Indonesia. Theresult showedthat catch composition of tuna longline has the smallest percentage value for the type of SBT. Trend of SBT production percentage was increase every year in 19 years period. Fishing season of SBT in Indonesia was in August to March that assumed same with nursery season of SBT. Mean size at capture of SBT (L50%)was 145 cm FL. This size that assumed has feasible to be caught or has beyond spawning period

    EKSPLORASI KARANG LUNAK SEBAGAI ANTIOKSIDAN DI PULAU PONGOK, BANGKA SELATAN

    Get PDF
    Karang lunak adalah bagian dari ekosistem terumbu karang yang dapat menghasilkan senyawa metabolik sekunder, yang merupakan respon terhadap lingkungan untuk bertahan hidup. Metabolik sekunderini salah satunya adalah sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk melihat senyawa-senyawa yang terkandung dalam karang lunak Sinularia sp dan Lobophytum sp di perairan Pulau Pongok, Bangka Selatan sebagai anti Antioksidan pada kedalaman 3 meter dan 9 meter. Hasil penelitian analisis fitokimia menunjukkan bahwa karang lunak Sinularia sp dan Lobophytum sp mengandung senyawa Alkaloid, Flavonoid, Phenol Hidroquinon, Steroid, Triterpenoid, Tanin, dan Saponin.Soft coral was a part of reef ecosystem that can produce secondary metabolic compounds, as a response to the environment to survive. The metabolic secundaris one of antioxidant. The purpose of this study to look at the compounds contained in the soft coral Sinularia sp and Lobophytum sp at Pongok Island, South Bangka as antioxidant at a depth of 3 meters and 9 meters. Phytochemical analysis of the study results showed that the soft coral Sinularia sp and Lobophytum sp containing compounds Alkaloids, Flavonoids, Phenols Hydroquinone, Steroids, Triterpenoids, Tannins, and saponin

    PENERAPAN TEKNOLOGI PENGGUNAAN RUMPUT LAUT SEBAGAI BIOFILTER ALAMI AIR TAMBAK UNTUK MENGURANGI TINGKAT SERANGAN PENYAKIT PADA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei)

    Get PDF
    Fish farmers in the Tuban district mainly vannamei shrimp farmers face tough environmental conditions for shrimp growth, this is caused because of the large industrial district of factories such as Tuban PT Semen Gresik, TPPI plant located in the north sea of Tuban where waste can affect the quality pond water either directly or indirectly. Including shrimp farmers in the village Kenanti, Tambakboyo district and almost all farmers are along the northern coast of Tuban is predicted to feel the effects of contamination originating from the sea, not to mention emanating from the pond itself (waste internal), so natural that the current level of success in aquaculture, especially shrimp vannamei shrimp is very low. The success rate in vannamei shrimp culture, especially in intensive shrimp culture is largely determined by the quality of water used in cultivation and also the technology that has been used. Use of seaweed as a natural biofilter in vannamei shrimp culture is a simple technology that is easy to be implemented. Seaweed is a plant that absorbs water degradation of organic material for growth, thereby reducing the risk of rising water of organic material that would be required to maintain shrimp. And brightness temperature greatly affect the success of a biofilter Iaut grass because the two components will be the rate of photosynthesis of algae and the rate of absorption of organic materials. From the approach used in the implementation of this program is to disseminate the application of technology use seaweed as a natural biofilter at a group of farmers in sub distric of Tambakboyo through training, then held a pilot pond so fish farmers in adopting this technology can be more easily understood.Pembudidaya tambak di Kabupaten Tuban terutama  pembudidaya udang vannamei menghadapi kondisi lingkungan yang cukup berat bagi pertumbuhan udang, hal ini disebabkan karena banyaknya industri di Kabupaten Tuban misalnya pabrik PT. Semen Gresik Tuban, pabrik TPPI yang berlokasi di tepi pantai utara laut Tuban dimana limbahnya dapat mempengaruhi kualitas air tambak baik secara langsung maupun tidak. Termasuk pembudidaya udang yang ada di desa Kenanti, Kecamatan Tambakboyo dan hampir semua petambak yang ada di sepanjang pantai utara Tuban diprediksikan ikut merasakan pengaruh adanya cemaran yang berasal dari laut (belum terdapat penelitian yang memastikan hal ini), belum lagi yang berasal dari tambak itu sendiri (limbah internal) sehingga wajar apabila saat ini tingkat keberhasilan dalam budidaya udang terutama udang vannamei sangat rendah. Tingkat keberhasilan dalam budidaya udang vannamei terutama pada budidaya udang secara intensif sangat ditentukan oleh kualitas air yang digunakan dalam budidaya dan juga pada teknologi yang telah digunakan.  Pemanfaatan rumput laut sebagai biofilter dalam budidaya udang vannamei merupakan teknologi sederhana yang mudah dilaksanakan. biofilter alami. Rumput laut sebagai tumbuhan air yang menyerap degradasi bahan organik untuk pertumbuhan, sehingga mengurangi resiko meningkatnya bahan organik air yang akan diperlukan untuk memelihara udang windu. Suhu dan kecerahan sangat mempengaruhi keberhasilan rumput Iaut sebagai biofilter karena kedua komponen ini akan laju fotosintesis rumput laut dan laju penyerapan bahan-bahan organik. Metode pendekatan yang dipakai pada pelaksanaan program ini adalah dengan melakukan sosialisasi penerapan teknologi penggunaan rumput laut sebagai biofilter alami ini pada kelompok petani yang ada di Kecamatan Tambakboyo melalui pelatihan, kemudian diadakan tambak percontohan sehingga petani tambak dalam mengadopsi teknologi ini dapat lebih mudah memahami

    ANALISIS LOGIT KEPUTUSAN PERILAKU ILLEGAL FISHING NELAYAN PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG JAWA TIMUR

    Get PDF
    Illegal fishing activities are basically not just done by foreign fisherman but also carried out by fisherman of Indonesia but they are using the size are smaller that is under 30 gross tonage. Due to the size a small fishing vessels are often allowed by the law enforcement officers due to the influence that is relatively small, whereas in the number of ships that are much smaller of course though its capacity would provide a major problem for the management of fish resources in Indonesia. Fishermen who settled in Brondong East Java is an example of illegal fishing activities as offeriders by loweinr the size of the ship that is lowering the gross tonage. These activities were carried out because the cost of maintaining a very troublesome permission and expensive.Kegiatan illegal fishing pada dasarnya tidak saja dilakukan oleh nelayan asing tetapi juga dilakukan oleh nelayan-nelayan Indonesia dengan ukuran kapal yang relatif kecil yaitu dibawah 30 Gross Tone (GT).  Ukuran kapal yang kecil lepas dari analisis kegiatan ilegal, padahal dalam jumlah kapal yang banyak dengan kapasitas yang kecil tentu akan memberikan masalah besar bagi pengelolaan sumber daya ikan di Indonesia. Nelayan yang bermukim di Brondong Jawa Timur merupakan salah satu contoh yang lebih memiliki untuk melakukan kegiatan illegal fishing dengan menurunkan ukuran kapal yaitu menurunkan GT.  Kegiatan penangkapan ikan secara ilegal dilakukan karena beban ekonomi untuk pengurusan yang cukup tinggi dan tata cara pemgurusan perijinan yang sangat merepotkan merupakan alasan utama nelayan Brondong

    POLA DISTRIBUSI DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN PELABUHAN PERIKANAN DI WILAYAH PANTURA JAWA

    Get PDF
    Distribusi hasil tangkapan pelabuhan perikanan adalah penting karena hasil tangkapan perikanan adalah suatu bahan makanan yang sangat mudah menjadi rusak dan kemudian membusuk (Clusa dan Ward 1996), sehingga dibutuhkan upaya pendistribusian agar penjualan produk hasil tangkapan bisa sampai ke lokasi konsumen untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola distribusi hasil tangkapan pada pelabuhan perikanan di wilayah pantura Jawa. Metode penelitian adalah metode survei terhadap pola distribusi hasil tangkapan. Analisis dilakukan secara deskriptif komparatif berdasarkan pasar, konektivitas dan pelaku pemasaran melalui penyajian peta, bagan dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola distribusi hasil tangkapan di pantura Jawa berdasarkan pasar mencakup distribusi pasar lokal, regional, luar Jawa dan ekspor. Distribusi hasil tangkapan pada pelabuhan perikanan pantura Jawa sebagian besar didistribusikan untuk pasar lokal dan regional. Pasokan ikan untuk pasar domestik di pelabuhan perikanan Pantura Jawa sudah cukup terpenuhi sebanyak 91,32% dan sisanya 8,68% untuk ekspor. Pola distribusi hasil tangkapan berdasarkan konektivitas pelabuhan perikanan didapatkan bahwa pelabuhan perikanan sebagai pemasar adalah PPS Nizam Zachman Jakarta, sedangkan pelabuhan perikanan sebagai pemasok adalah PPS Nizam Zachman Jakarta dan PPN Pekalongan. Pola distribusi hasil tangkapan pelabuhan perikanan berdasarkan pelaku pemasaran didapatkan 7 pola yakni 5 pola berdasarkan produksi ikan dari dalam pelabuhan dan 2 pola berdasarkan produksi ikan dari luar pelabuhan. Pelaku pendistribusian hasil tangkapan secara lokal, regional, dan luar Jawa meliputi nelayan, pedagang pengumpul, pedagang grosir dan pedagang eceran. Sementara pendistribusian ekspor adalah nelayan, pedagang grosir, dan agen perusahaan industri perikanan untuk dikirim ke negara tujuan.Distribution of catch fishing port is important because if the catch is distributed, the product sales will catch up to the location of the consumer. This study aimed to obtain the distribution pattern of the catch at the fishing port in the north coast of Java. Conducted a comparative descriptive analysis based on the market, connectivity and marketing offender through the presentation of maps, charts and tables. The results showed that the distribution pattern of the catch on the north coast of Java based market include market distribution locally, regionally, outside Java and export. Distribution of catches in the fishing port north coast of Java are distributed to local and regional markets. The supply of fish to the domestic market in the fishing port of the northern coast of Java has been adequately met as much as 91.32% and the remaining 8.68% for export. The pattern of distribution of catches by fishing port connectivity was found that the fishing port as a marketer is PPS Nizam Zachman Jakarta, while the fishing port as a supplier is PPS Nizam Zachman Jakarta and PPN Pekalongan. The distribution pattern of the catch of fishing ports based marketing perpetrator obtained 7.5 patterns based on the pattern of production of fish from the fishing port and 2 pattern based on the production of fish from outside the port. Perpetrators distribution of catches locally, regionally, and the Outer include fishermen, traders, wholesalers and retailers. While the distribution of exports were fishermen, wholesalers and agents the fishing industry to be sent to the country of destination

    REKONSTRUKSI PINTU MASUK BUBU LIPAT LOBSTER DAN PENGARUH PENGGUNAAN TUTUPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan konstruksi bubu lipat yang memberikan jumlah tangkapan lobster terbanyak dan membuktikan bahwa tutupan dapat meningkatkan jumlah tangkapan lobster. Penelitian dilakukan di laboratorium menggunakan metode percobaan.  Satu bubu lipat nelayan atau bubu lipat standar (BS) dan 2 konstruksi bubu yang dimodifikasi dibandingkan. Bubu modifikasi terdiri atas bubu lipat modifikasi 1 (BM-1) dan bubu lipat modifikasi 2 (BM-2). Ketiga bubu berbentuk balok dengan dimensi 50 × 33 × 18 (p × l × t) (cm). Celah masuk BS berbentuk celah sempit, sedangkan BM-1 dan BM-2 adalah 4 persegi panjang dengan ukuran 33 × 6 (p × t) (cm) yang dilengkapi dengan deretan jeruji besi. Dalam penelitian ini, ketiga bubu dan 20 lobster dimasukkan ke dalam tangki air. Bubu diangkat setelah direndam selama 30 menit. Aktivitas lobster diamati dan jumlah lobster yang terperangkap dihitung. Ujicoba penangkapan lobster dilakukan sebanyak 20 ulangan. Pengaruh tutupan pada bubu yang menghasilkan tangkapan terbanyak juga diujicoba. Hasilnya menunjukkan bahwa BM-2 menangkap 470 individu, atau lebih banyak dibandingkan dengan BM-1 (221 individu), dan BS (109 individu). Penggunaan tutupan menghasilkan jumlah tangkapan sebanyak 227 individu, sedangkan  tanpa tutupan hanya 123 individu.To purpose of this study is to construct folding trap that give the highest captures and to prove cover is able to increases lobster catches. This research is carried out in the laboratorium using experimental design. One folding or standar folding trap (BS) and 2 modified construction trap are modified. Modified traps consist of modified folding trap 1 (BM-1) and modified folding trap 2 (BM-2) which take a cubical shape with dimention of 50×33×18 (l×w×h) (cm). BS entrance take a narrow slit-shaped while BM-1 and BM-2 is four rectangle with 33×6 (l×h) (cm) equipped with row of bars. Three traps and 20 lobsters are put in a water tank. Traps are lifted after immersed for 30 minutes. The activities of the lobster are observed and the numbers of lobster are counted. The catch experiments are carried out as much as 20 repeatation. The influences that produce the higest catch are also tasted. The result show that BM-2 capture 470 individuals more than BM-1 (221 individuals) and BS (109 individuals). The use of the cover will produce 227 individuals and without cover only 123 individuals

    STABILITAS SAMPAN TERBUAT DARI EMBER CAT BEKAS DENGAN BILGE KEEL PADA SUDUT 30 DAN 45 DERAJAT

    Get PDF
    Ember cat bekas dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti kayu yang semakin sulit diperoleh dan pengganti bahan serat fiber yang tidak murah dalam pembuatan sampan. Namun sampan ini memiliki kekurangan, yakni stabilitasnya yang rendah. Bobotnya yang ringan membuat sampan mudah oleng meskipun hanya beroperasi di perairan yang relatif tenang. Oleh karenanya instalasi sirip peredam oleng (bilge keel) diharapkan dapat meningkatkan stablitas sampan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai stabililitas sampan dengan instalasi bilge keel pada sudut yang berbeda dalam rangka mendapatkan stabilitas sampan yang baik. Ukuran sampan yang dijadikan obyek dalam penelitian ini adalah panjang (LOA) 3,15m; lebar (B) 0,64m; dalam (D) 0,30m. Metode simulasi numerik untuk mendapatkan nilai stabilitas serta beberapa parameter seakeeping (pitching, roling dan heaving) digunakan dalam penelitian ini dengan bantuan perangkat lunak yang sesuai. Untuk faktor gelombang, spektrum gelombang JONSWAP digunakan sebagai inputan dalam simulasi numerik. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan stabilitas yang ditunjukkan oleh nilai lengan GZ (righting arm) pada sampan yang dipasangi bilge keel dengan sudut 30 dan 45 derajat sebesar 0,001 m. Bilge keel dengan sudut 30 derajat memberikan nilai stabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan sudut 45 derajat. Dari analisis response amplitude operator (RAO) menunjukkan bahwa dengan inputan spektrum gelombang JONSWAP, gerakan rolling, pithcing dan heaving sampan masih berada pada rentang normalUsed-paint-buckets can be used as an alternative material instead of wood or fibreglass in contructing a canoe. Its light weight and easy to roll, even in relatively calm water, showing of the low stability. In order to increase its stability, bilge keels were applied in this canoe. The purpose of this study is to obtain the impact of bilge keels application at different angles in order to increase stability. The dimension of the canoe was: the length (LOA) 3.15 m; width (B) 0.64 m; and depth (D) 0.30 m. Numerical simulation method to obtain the value of some stability parameter and seakeeping (pitching, heaving, and rolling) was used in this study. For the wave factor, JONSWAP wave spectrum was used as an input in this numerical simulation. The analysis result showed that there were differences in the stability, indicated by the value of righting arm on the bilge keel with 30 and 45 degree as much as 0.001 m. Bilge keel with an angle of 30 degrees give better stability value compare to 45 degrees. From the analysis of the response amplitude operator (RAO) showed that the rolling, pithcing and heaving motion of the canoe was remain in the normal

    ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PANTAI BARAT DAYA PULAU TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA

    Get PDF
    Research is a Shoreline Change Analisis along the South West Coast Ternate Island, North Molucas Province. This study aims to assess the shoreline changes from 2001 to 2011. The research was motivated by the reality on the Southwest Coast Ternate Island, accured abrasion and sedeimentasi to residential areas. There has been no comprehensive study on the extent of shoreline change is happening, and what are the factors that cause these changes. The purpose of this study was to analyze shoreline changes that occur in the Southwest Coast Ternaet island. Shoreline change analysis is done using two approaches that use DHI MIKE LITPACK models and digitized images using Landsat 7 ETM+. The results of image analysis used as a benchmark to validate the model output DHI MIKE LITPACK. Mixed model analysis results collated with the results of image analysis showed patterns of changes in the contour of the same coastline. Based on the analysis model, showed the highest abrasion occurs distasiun C (Sasa Coast) as far as 83.67 m and sedimentation occurred at station B as far as 45.69 m, based on the results of image analysis the highest abrasion occurred at station C of 27.14 m and sedimentation occurred at station E of 24.09 m . The amount of abrasion and sedimentation is affected by wave action that occurs and sand mining activities by the community in Southwest coast of the island of Ternate.Penelitian ini tentang analisis perubahan garis pantai di pantai Barat Daya Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kajian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan garis (abrasi dan sedimentasi) selama 11 tahun dari tahun 2001-2011. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas di Pantai Barat  Daya Pulau Ternate yang telah mengalami abrasi dan sedimentasi sampai ke  pemukiman warga. Belum ada kajian yang komperhensif mengenai seberapa besar tingkat perubahan garis pantai yang terjadi, dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk transformasi gelombang dan perubahan garis pantai yang terjadi di Pantai Barat Daya Pulau Ternate. Analisis perubahan garis pantai dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yakni menggunakan model LITPACK MIKE DHI dan digitasi citra menggunakan citra landsat 7 ETM+.  Hasil analisis citra dijadikan sebagai pembanding untuk memvalidasi hasil keluaran model LITPACK MIKE DHI. Tumpang susun hasil analisis model dengan hasil analisis citra menunjukan pola kontur perubahan garis pantai yang sama. Berdasarkan hasil analisis model, menunjukan abrasi tertinggi terjadi di stasiun C (Pantai Sasa) sejauh 83.67 m dan sedimentasi terjadi di stasiun B sejauh 45.69 m, berdasarkan hasil analisis citra abrasi tertinggi terjadi di stasiun C sebesar 27.14 m dan sedimentasi terjadi di stasiun E sebesar 24.09 m. Besarnya abrasi dan sedimentasi dipengaruhi oleh aksi gelombang yang terjadi dan aktivitas penambangan pasir oleh masyarakat di pantai Barat Daya Pulau Ternate

    PEMETAAN DAN KLASIFIKASI SEDIMEN DENGAN INSTRUMEN SIDE SCAN SONAR DI PERAIRAN BALONGAN, INDRAMAYU-JAWA BARAT

    Get PDF
    Berdasarkan hasil deteksi dasar laut menggunakan side scan sonar dalam pencitraan benda-benda di dasar laut dapat menghasilkan berbagai variasi gambar yang digunakan untuk pencitraan objek-objek dasar laut, selain itu dapat memberikan informasi dalam pengembangan wilayah pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah visualisasi atau pemetaan dasar perairan dan klasifikasi sedimen atau objek di dasar laut secara kualitatif, sehingga dapat diketahui keadaan dasar laut. Interpretasi dan klasifikasi data akustik side scan sonar dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan software Sonar Pro untuk melihat bentuk geometris dan keunikan dari suatu objek. Pengambilan contoh sedimen dilakukan pada 6 jalur transek dengan jarak antar transek 0.5 km. Setiap transek terdapat 3 buah stasiun sampel sedimen dan jumlah total adalah 18 sampel sedimen. Berdasarkan hasil pemetaan dasar laut daerah Balongan terdapat buangan sedimen, paritan dan kerukan sedimen, selain itu terdapat objek seperti box, mooring, potongan pipa, tali, pole.Based on the detection results of seafloor using side scan sonar in imaging objects of seafloor is able to create many image variants which is used for objects of seafloor imaging, beside it is able to give any information of seashore development. The purposes of this research are visualization or seafloor mapping and sediment classification or object of seabed qualitatively, So its possible to know the condition of seafloor. Interpretation and side scan sonar acoustic data classification is done qualitatively using Sonar Pro software to see the geometric form and unique of an object. Sampling of sediment is done at six track of transect which is space among transects 0.5 km. Every transects has three sediment sample stations and total amount is eighteen samples of sediment. Based on the results of seafloor mapping at Balongan there are sediment disposal, trenching and sediment dredge, beside there are objects such as box, mooring, piece of pipe, rope, pole

    PENERAPAN METODE MOVING AVERAGE DAN DIGITAL TERRAIN MODEL (DTM) UNTUK VISUALISASI BATIMETRI 3 DIMENSI DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER

    No full text
    Data dan informasi mengenai bentuk topografi dasar laut sangat penting, antara lain untuk kepentingan kemanan pelayaran dan juga penting untuk kajian strategis lainnya. Makalah ini menjelaskan tentang kombinasi data multibeam echosoder dan metode Digital Terrain Model (DTM) untuk melihat kenampakan dasar laut. Metode moving average dipilih karena sangat cocok untuk diterapkan pada data multibeam yang berjumlah banyak. Hasil akhir dari kombinasi dua metode tersebut adalah visualisasi 3 dimensi. Metode ini menggunakan data multibeam echosounder yang telah dikoreksi dan diawali proses pembentukan gridding yang mewakili nilai-nilai yang ada disepanjang lajur survei. Nilai dari masing-masing gridding akan membentuk sebaran nilai seluruh data sounding. shadding relief dan visualisasi wireframe sheet menjadi kunci untuk membangun sebuah  DTM. Proses penggabungan layer yang ada digunakan untuk melihat kenampakan secara halus melalui penerapan pengaturan pencahayaan sehingga akan menghasilkan citra yang lebih halus. Analisis sederhana mengenai kemiringan (slope) dapat terlihat dengan adanya hasil DTM ini.Data and information about seabed topography is very important, among others for safety navigation and strategic planning other. This paper describes a combination of multibeam echosoder data and Digital Terrain Model (DTM) methode to seen the appearance of the seabed. Moving average method chosen because it is very suitable to be applied in large number of data multibeam. The end result of the combination of the two methods were the three-dimensional visualization. This method used multibeam echosounder data that has been corrected and begins of formation of gridding that represent values that exist along the lines survey. The value of each gridding will be form distribution value of all sounding data. Shadding relief and wireframe visualization sheet is the key to building a DTM. The process of merging the existing layer is used to saw smooth appearance through the implementation of lighting settings that will produce a better image. A simple analysis slope can be seen by the results of this DTM

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇