Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
DAMPAK PENANGKAPAN TERHADAP STRUKTUR DAN TINGKAT TROFIK HASIL TANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN MALUKU TENGGARA
Fishing has adirect and indirect impacton coastal and marine ecosystems. The fishing activity has been intensively conducted in the Southeast Maluku district and potentially impact the fish resources negatively. Fishermen generally catch fish using gill nets, lift net and hook line. This study aims to analyze the impact of fishing on ecosystem structure and trophic level of the catch by each fishing gear. An experimental fishing was conducted for the sampling strategy by means of fishing operations using gill net, lift net and hook line. Data were analyses for parameters of feeding habits, length-weight relationships, and trophic level of the catch. The results showed that trophic level of fish taken by lift net and gill netranged from 2.9 to 3.7 which grouped as TL3, dominated by species of omnivorous feeding habit (zooplankton). The gill net has dominantly caught the group of fish at trophic level 5 (4.0–4.5). The average total length of the dominant fish targets were D. Russeli (18.2±12.5cm), Sardinella longiceps (19.8 ± 13.3cm), S.crumenopthalmus (21.9 ± 14.2cm), Lethrinus lentjan (20.1 ± 13.3 cm) and Upeneus mulocensis (21.9 ± 14.2 cm). For the average weight of the main catches were D. Russeli (90 ±35 g), Sardinella longiceps (81±28g), S.crumenopthalmus (89 ± 40g), Lethrinus lentjan (92 ± 28g) and Upeneus mulocensis (90 ± 30g). The catch by lift net, gillnet and hook line indicates unbalance exploitation of the natural food chain. TL groups 3 and 5 was more dominantly exploited. It is theoretically potentially impacting the ecological balance of fish resources in these habitats. Furthermore, the lift net and gill net have greater impact on sustainability of fish resources than hook line due to both the earlier dominantly exploited unallowable catch sizes (juvenile) of the fish target.Penangkapan ikan memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap ekosistem perairan. Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan di perairan Maluku Tenggara terhadap ikan cukup intensif. Nelayan umumnya menangkap ikan menggunakan jaring insang (gillnet), bagan dan pancing. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penangkapan terhadap ekosistem, yakni struktur komunitas dan tingkat trofik hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap. Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan metode experimental fishing, yaitu berupa operasi penangkapan ikan menggunakan alat tangkap jaring insang (gillnet), bagan dan pancing di lokasi studi. Analisis data meliputi parameter kebiasaan makan hubungan panjang berat ikan, dan tingkat trofik hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukan tingkat trofik ikan pada alat tangkap bagan dan jaring berkisar 2,9 – 3,7 dan berada pada pengelompokan tingkat trofik (TL3) yakni didominasi oleh jenis omnivora yang cenderung pemakan hewan (zooplankton). Alat tangkap pancing berkisar 4,0 – 4,5 berada pada TL5 dan didominasi oleh jenis karnivora yang cenderung pemakan ikan dan cephalopoda. Ukuran rata-rata panjang total jenis ikan hasil tangkapan yang dominan menurut alat tangkap adalah ikan layang (18,2±12,5 cm), ikan lemuru (19,8±13,3 cm), ikan selar (21,9±14,2 cm), ikan lencam (20,1±13,3cm) dan ikan biji nangka (21,9±14,2 cm). Berat rata-rata hasil tangkapan utama adalah ikan layang (90 ±35gr), ikan lemuru (81 ± 28 gr), ikan selar (89 ± 40 gr), ikan lencam (92±28 gr) dan ikan biji nangka (90±30 gr). Hasil tangkapan oleh bagan, jaring insang dan pancing mengindikasikan bahwa terjadi eksploitasi yang tidak seimbang pada rantai makanan. Kelompok TL 3 dan 5 lebih dominan dieksploitasi. Hal ini secara teoritis berpotensi merusak keseimbangan ekologis sumberdaya ikan di habitat tersebut. Alat tangkap bagan dan jaring mempunyai dampak lebih besar terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan dibandingkan dengan alat tangkap pancing (TL5), karena kedua alat tangkap tersebut cenderung lebih eksploitatif pada ukuran ikan yang belum layak tangkap
PENGELOLAAN PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON MELALUI PENDEKATAN SOFT SYSTEM METHODOLOGY (SSM) DI PPP PONDOKDADAP SENDANG BIRU, MALANG
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan permasalahan perikanan tonda di Sendang Biru dari aspek teknis, ekologi, dan kelembagaan, sehingga dapat ditemukan model konseptual sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2013 di PPP Pondokdadap, dengan menggunakan metode Soft System Methodology (SSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat permasalahan secara teknis, ekologi, dan kelembagaan, yaitu adanya persaingan wilayah penangkapan unit perikanan tonda, semakin kecilnya ukuran ikan tuna yang diperoleh, dan masih lemahnya peran kelembagaan dalam pengawasan dan perizinan perikanan. Oleh karena itu, terdapat 3 model konseptual yang direkomendasikan sebagai solusi awal yang dapat dilakukan oleh seluruh pihak terkait, yaitu (1) pembuatan peraturan operasional penangkapan bagi unit perikanan tonda dengan rumpon di PPP Pondokdadap, (2) pembuatan dan pelaksanaan peraturan lokal pengawasan perairan, dan (3) pembuatan dan penggunaan SOP perizinan oleh pemerintah daerah.The aims of this study to formulate the problems of troll fisheries in Sendang Biru from the technical, ecological, and institutional aspects, in order to discover the conceptual model as a solution to the problems. Research was conducted in February 2013 in PPP Pondokdadap, using Soft Systems Methodology (SSM). The results showed that problems were the existence of competition for troll fisheries unit area, smaller size tuna were obtained, and weak institutional role in the monitoring and licensing of fishing. Therefore, there are 3 conceptual models into the initial solution that can be done by all parties concerned, namely (1) formulating the fishing operation of troll fisheries with FAD unit in PPP Pondokdadap, (2) developing and implementating of local regulation for monitoring, controlling, and survaillance of fishing ground in Southern water of Malang Regency, and (3) manufacturing and using of SOP licensing by local government
ASPEK BIOTEKNIK DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA RAJUNGAN DI PERAIRAN TELUK BANTEN
Perikanan Indonesia mempunyai potensi sumberdaya ikan laut yang besar. Salah satu potensi perikanan laut tersebut adalah rajungan (Portunus pelagicus). Rajungan merupakan salah satu jenis Crustracea yang populer di masyarakat dan keberadaannya hampir tersebar di seluruh Perairan Indonesia. Permasalahan yang biasa terjadi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan adalah permasalahan biologi yaitu dapat menyebabkan penurunan stok sumberdaya ikan dan penurunan penerimaan nelayan. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan salah satu cara yang digunakan oleh para ahli biologi perikanan, yaitu melakukan pengendalian intensitas dalam mengeksploitasi sumberdaya rajungan, sehingga dapat dicapai produksi maksimum lestari. Pengusahaan tersebut harus memberikan manfaat ekonomi yang maksimum bagi nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mendeskripsikan unit penangkapan jaring rajungan yang terdiri atas konstruksi alat tangkap, metode pengoperasian, dan produktivitas alat tangkap jaring rajungan; 2) Menentukan pengaruh aktivitas pemanfaatan sumberdaya rajungan terhadap tingkat biomass, tingkat produksi dan sustainable di Perairan Teluk Banten. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung oleh peneliti dengan melakukan wawancara langsung kepada nelayan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya dan melakukan pengamatan mengenai unit penangkapan rajungan di Perairan Teluk Banten. Data sekunder diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu dan Dinas Perikanan Provinsi Banten yang berupa data time series dari Tahun 2000-2008. Penelitian menggunakan data time series Tahun 2000-2008 diolah menggunakan Microsoft Office Excel. Konstruksi jaring rajungan terdiri atas badan jaring, tali ris, pelampung, tali pelampung, pemberat timah, tali pemberat, pelampung tanda, tali pelampung tanda, pemberat batu, dan tali pemberat batu. Produktivitas alat tangkap jaring rajungan pada Tahun 2008 sebesar 209,37 kg per unit, sedangkan Tahun 2010 sebesar 320 kg per unit. Produktivitas alat tangkap jaring rajungan pada Tahun 2008 sebesar 10,72 kg per trip dan Tahun 2010 sebesar 5,33 kg per trip. Produktivitas alat tangkap jaring rajungan per biaya operasional Tahun 2010 sebesar 0,0000676 kg per rupiah. Jumlah unit penangkapan jaring rajungan yang optimum untuk beroperasi di Perairan Teluk Banten adalah sebanyak 178 unit.Indonesia has the potential fishery resources of large marine fish. One of the potential of marine fisheries is small crab (Portunus pelagicus). Small crab is one Crustracea and its existence almost spread all over the waters of Indonesia. This study aimed to: 1) Describe the swimming crab net consists of construction of fishing gear, methods of operation, and productivity of swimming crab net, 2) Determining the influence of resource utilization activities of small crab on the level of biomass, production and sustainable levels in Banten Bay waters. Data collected in this study consisted of primary data and secondary data. Primary data was obtained directly by researchers with direct interviews using a questionnaire to fishermen in Banten Bay. Secondary data obtained from Fishery Port Beach (PPP) and the Marine Fisheries Department in Karangantu. Research using time series data of 2000-2008 are processed using Microsoft Office Excel. Swimming crab net construction consists of corporate nets, rope line, float, float line, lead sinker, sinker line, float marking, float marking line, stone sinker, and stone sinker line. Productivity of swimming crab net in 2008 was 209.37 kg per unit, while in 2010 was 320 kg per unit. Productivity of swimming crab net in 2008 of 10.72 kg per trip and in 2010 of 5.33 kg per trip. Productivity swimming crab net operating costs in 2010 with 0.0000676 kg/rupiah. The number of optimum swimming crab net to operate in Banten Bay waters is 178 units
POLA PEMANFAATAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN KABUPATEN CIAMIS
Kegiatan perikanan tangkap berupa area fishing ground pada kawasan konservasi perairan di Kabupaten Ciamis dapat menimbulkan konflik multi sektor dalam pengelolaan perikanan. Integrasi zonasi kawasan konservasi dengan daerah fishing ground belum pernah dilakukan karena batas zonasi kawasan konservasi belum diberikan secara definitif, sehingga perlu dilakukan kajian. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa pola pemanfaatan sumber daya ikan oleh kegiatan perikanan tangkap pada kawasan konservasi perairan Kabupaten Ciamis dengan menggunakan pendekatan analisis spasial. Hasilnya menunjukkan area fishing ground, aturan-aturan mengenai jalur penangkapan pada zonasi yang ada pada kawasan konservasi perairan Kabupaten Ciamis secara spasial. Pola pemanfaatan sumber daya ikan telah sesuai pada zona pemanfaatan dan zona perikanan berkelanjutan, namun masih terdapat alat penangkapan ikan yang belum sesuai dengan mekanisme pemanfaatan berkelanjutan. Kegiatan penangkapan ikan dominan berada pada daerah pantai sehingga perlu dikembangkan dengan mendorong nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan di luar wilayah pantai.Utilization of fishing area in marine protected area in Ciamis waters by various activities may cause multi sectors conflict related to management of the Ciamis waters. The integrated zone system in that area has not been established yet, therefore it is needed to be studied. This paper aimed to analyze resources use of capture fisheries on Marine Protected Area in Ciamis waters. This research used spatial analysis approach for overlaying fishing ground area and other use. The result showed the rules of fishing lines and placement of fishing gear, fishing grounds and the existing zonation. Utilization of fish resources was appropriate in the zone, but fishing gears that still could triger social conflict and its operations did not fit with the sustainable utilization mechanisms. Fishing areas predominantly in coastal areas that need to be developed to encourage the fishermen fishing outside the coastal region
PERBEDAAN BAHAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS DENGAN MENGGUNAKAN PAYANG BUGIS DI PERAIRAN PASAURAN, PROVINSI BANTEN
Rumpon laut dangkal sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan di perairan sekitar Pasauran, Selat Sunda telah lama dan semakin banyak digunakan di Indonesia untuk menangkap ikan pelagis. Karakteristik komposisi jenis, ukuran dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) ikan pelagis yang tertangkap di sekitar rumpon dengan menggunakan tiga bahan atraktor yang berbeda yaitu daun kelapa (Cocos nucifera), daun pinang (Nypa fructican) dan daun nipah (Areca catechu) akan menentukan apakah pengaruh bahan atraktor yang digunakan akan membahayakan kelestarian ikan pelagis yang berasosiasi. Identifikasi dan komposisi panjang, berat dan TKG ikan pelagis dilakukan dengan menggunakan bahan atraktor yang berbeda pada setiap musim dalam penelitian ini. Experimental fishing dilakukan dengan menggunakan alat tangkap payang Bugis. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa atraktor daun kelapa merupakan bahan atraktor yang terbaik yang dapat digunakan sebagai atraktor pada rumpon dilihat dari hasil tangkapan serta daya tahan di suatu perairan pada setiap musim. TKG ikan pelagis kecil yang tertangkap di sekitar rumpon memiliki TKG I 4%, TKG II 33%, TKG III 35%, TKG IV 25% dan TKG V 3%. Ikan hasil tangkapan di sekitar rumpon dengan bahan atraktor yang berbeda memiliki TKG I-III sebesar 72% sehingga dapat dipastikan bahwa ikan-ikan yang berkumpul dan tertangkap di sekitar rumpon adalah ikan yang belum memijah atau belum dewasa, sehingga ikan tersebut tidak sempat melakukan reproduksiRumpon (Fish Aggregating Device) as an auxiliary gear operated in Pasauran waters, Sunda strait was longer and more widely used in Indonesia to catch pelagic fish. The characteristic species composition, size and Gonado Somato Index (GSI) pelagic fish around 3 kinds of rumpon attractor materials, i.e. Cocos nucifera, Nypa fructican and Areca catechu leaves will determine the effects of attractor materials will endanger the sustainability of pelagic fish associated. Identification and composition length, weight and GSI pelagic fish were identified in this research with different attractor material in all seasons. Experimental fishing carried out by using payang Bugis. The result show that the Cocos nucifera leaves are the best attractor material based on the number of fish species and durability in all seasons. Further, the GSI of small pelagic fish were caught around rumpon are GSI I 4 %, GSI II 33%, GSI III 35 %, GSI IV 25% and GSI V 3 %. Pelagic fish around attractor materials have GSI I-III 72%. This result indicated that the small pelagic fish caught around rumpon are ‘immature fish”
PELUANG PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI SUMATERA SELATAN
Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2000 mulai mengelola sumberdaya perikanan secara terpisah dengan Provinsi Bangka Belitung. Kontribusi Bangka Belitung di sektor perikanan terhadap Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 1999 sebesar 72%. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian terhadap peluang pengembangan perikanan di sekitar perairan Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2006 sampai Juli 2006 di dua kabupaten yaitu Kabupaten Ogan Komiring Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditi unggulan di provinsi Sumatera Selatan adalah udang, kepiting, manyung dan golok-golok. Komoditi unggulan ini masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan karena tingkat pemanfaatannya masih berkisar antara 58,42% – 66,77%. Jenis alat tangkap trammelnet, jarring insang hanyut dan bagan tancap merupakan alat tangkap prioritas terbaik untuk dikembangkan berdasarkan analisis dengan metode scoring dengan mempertimbangkan aspek biologi, teknis, sosial dan ekonomiSouth Sumatera province since 2000, began managing the fishery resources separately with the Province of Bangka Belitung. Bangka Belitung contribution in the fisheries sector of the South Sumatera province in 1999 by 72 %. Based on these conditions, then do research on fisheries development opportunities in the surrounding waters of South Sumatera. This research was conducted in February 2006 until July 2006 in two Regency namely Komiring Ogan Ilir and Banyuasin Regency. The results showed that the leading commodities in the province of South Sumatera is shrimp, crab, marine catfish (Arius thalassinus), and wolf herring (Chirosentrus dorab). This leading commodities still have a great opportunity to be developed for their utilization rates still ranged between 58,42% – 66,77% Fishing gear priority based on the analysis of MCA (multy Critical Analysis) with considering the biological aspects, technical, social and economic is trammelnet, drift gillnet and Stationary-bamboo lift net
KUANTIFIKASI KAPAL KARAM BERMATERIAL LOGAM MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER
Penggunaan peralatan Multibeam Echosounder (MBES) untuk mendeteksi dasar perairan sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, yang menghasilkan nilai intensitas dari objek penelitian. Objek yang berupa kapal karam merupakan benda yang berbahaya bagi pelayaran maka akan sangat penting untuk mengkuantifikasinya. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Selat Sunda dengan target kapal karam bermaterial logam. MBES Kongsberg EM 2040 digunakan bersama peralatan pendukungnya dan digunakan software SIS sebagai perekam data. Hasil akuisisi MBES kemudian diolah dengan menggunakan software CARIS. Tampilan dari hasil penelitian ini menggunakan software CARIS dan Surfer. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa pendeteksian kapal karam dengan MBES Kongsberg EM 2040 hasilnya sangat baik serta menghasilkan bentuk objek 3 dimensi dari kapal karam. Hasil backscattering dari kapal karam diperoleh rentang nilai intensitas antara -3 sampai +6.99 dB.The use of Multibeam echosounder (MBES) equipment for seabed detection has been done by several researchers, which provided intensity values of each research object. However, artificial targets (such as shipwreck) was very dangerous object for ship navigation hence its very important to quantify it. This research was conducted in the Sunda Strait to detect the target of metal shipwreck. The Kongsberg EM 2040 MBES was used along with supporting equipment and SIS software as a data recorder. MBES acquisition results then processed using software CARIS. Display of the results were presented using the software CARIS and Surfer. The results of this study showed that the detection of the shipwreck with MBES Kongsberg EM 2040 is very clear with 3-dimensional shape of the shipwreck. The shipwreck backscattering intensity values have range from -3 to +6.99 dB
RANCANG BANGUN ALGORITMA DAN APLIKASINYA PADA AKUSTIK SINGLE BEAM UNTUK PENDETEKSIAN BAWAH AIR
Aplikasi teknologi akustik untuk deteksi bawah laut dapat dibedakan menjadi empat tipe, yaitu singlebeam, dualbeam, splitbeam, dan multibeam. Semakin banyak beam yang digunakan pada instrumen, maka semakin mahal harganya dan detail serta akurasi yang didapat semakin tinggi. Meskipun demikian, singlebeam merupakan alat yang lebih banyak digunakan di negara berkembang. Kehadiran Cruzpro fishfinder digunakan sebagai alternatif pemakaian multibeam. Kedua instrumen akustik tersebut dapat memberikan hasil yang hampir sama baiknya. Penyimpanan data internal Cruzpro fishfinder cenderung mudah dilakukan, tetapi ketiadaan untuk pengolahan data mentah ini menjadi hal penting untuk selanjutnya dikembangkan. Penelitian ini mengembangkan algoritma untuk pengolahan sinyal akustik yang dibuat dalam bentuk package Matlab. Didapatkan akurasi dan presisi yang baik dari pengukuran terhadap bola sphere. Beberapa rumusan seperti beam width, koefisien absorbsi, dan kecepatan suara, digunakan selama pengembangan dan dalam pendeteksian bola sphere. Pengembangan algoritma ini telah terbukti efisien dan berguna untuk pengolahan data mentah singlebeam Cruzpro, dengan standar deviasi 0,13 dengan selang kepercayaan 95%.Application of acoustic technology for underwater detection can be differentiated into four types, namely singlebeam, dualbeam, splitbeam and multibeam. The more acoustic beam constructed within the instrument, more expensive it gets and the higher details of detection and accuracy resulted. Thus, singlebeam acoustic remain as the most widely applied acoustics particularly in developing country. The presence of Cruzpro Fishfinder, as alternative multibeam. Acoustic instrument provide promixing as well as unfavoring consequences. Its capacity for internal data storage becomes handy, while unavailability for raw data signal processing requires important breakthrough. This study is developing algorithm for acoustic signal processing embedded in Matlab package. From this study obtain good accuracy and precision measurement to sphere ball. Several functions were applied, beam width, absorption coefficient and sound velocity; during development and sphere detection. Algorithm developed was proven efficient and useful for raw data processing of Cruzpro singlebeam acoustic, as revealed by low standard deviation of 0,13 with 95% confidence interval
TEKNOLOGI PENANGKAPAN BARONANG RAMAH LINGKUNGAN DI KEPULAUAN SERIBU
Pemanfaatan sumber daya perikanan baronang di Kepulauan Seribu menjadi salah satu potensi perikanan tangkap yang cukup besar. Penangkapan baronang di Kepulauan Seribu mengalami peningkatan, hal ini dipengaruhi harga baronang yang meningkat akibat dari permintaan pasar akan baronang meningkat. Kegiatan eksplorasi penangkapan baronang secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan habitat penangkapan. Tujuan penelitian inventarisasi jenis alat tangkap baronang serta menentukan tingkat keramahan lingkungan unit penangkapan ikan baronang. Metode penelitian yaitu survey. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2015 dan November-Desember 2015. Analisis data yang digunakan yaitu deskriptif untuk menginventarisasi jenil alat tangkap ikan baronang di Kepulauan Seribu; Analisis tingkat keramahan lingkungan berdasarkan sembilan kriteria FAO. Hasil penelitian menunjukkan Jenis alat tangkap ikan yang menangkap baronang di Kepulauan Seribu adalah alat tangkap muroami, bubu tambun, bubu kawat, bubu jaring, jaring lingkar, dan speargun. Dari tingkat keramah lingkungan jenis alat tangkap bubu tambun merupakan alat tangkap yang paling ramah lingkungan dengan nilai skor 25,75.Fisheries utilization of rabbitfish is one of the big potential resource in Seribu Island. Catch production of rabbitfish in the Thousand Islands has increased, it was influenced by market demand. The impact of continuously rabbitfish exploration is habitat destruction. The aim of research were an inventory fishing gear types for rabbitfish and determine sustainable level of rabbitfish fishing unit. The research method was survey. It was conducted in February-March 2015 and November-December, 2015. Analysis data which used to inventory fishing gear types of rabbitfish in Seribu Islands was descriptive analysis; Sustainable level was analyzed by nine criteria of FAO. The results showed that fishing gear which caught rabbitfish in Seribu Islands were muroami, bamboo traps, wire traps, net traps, surrounding nets, and speargun. Bamboo traps was the most sustainable fishing gear with a score 25.75, based on sustainability levels
KAJIAN STOK IKAN PEPEREK (Leiognathus equulus) BERDASARKAN ALAT TANGKAP JARING RAMPUS DI PERAIRAN SELAT SUNDA
Ikan peperek (Leiognathus equulus) merupakan salah satu ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan salah satu tangkapan dominan di perairan Selat Sunda yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Ikan peperek ditangkap dengan beberapa alat tangkap, yaitu payang, dogol, pukat pantai, purse seine, jaring rampus, bagan tancap, dan bagan rakit. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji dinamika populasi ikan peperek (Leiognathus equulus) di perairan Selat Sunda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2015 di PPP Labuan, Banten. Data yang diambil pada penelitian ini berupa data biologi seperti pengukuran panjang total dan tinggi ikan, bobot basah, dan jenis kelamin. Total ikan yang diambil selama penelitan ini mencapai 1895 ekor. Hasil menunjukkan bahwa nilai koefisien pertumbuhan (K) ikan betina dan jantan berturut-turut 0.47 per tahun-1 dan 0.79 per tahun-1 dengan panjang asimptotik (L∞) sebesar 258 mm untuk betina dan 210 mm untuk jantan. Nilai panjang pertama kali tertangkap (Lc) ikan peperek betina (147.57 mm) maupun jantan (142.92 mm) lebih besar dibandingkan dengan nilai pertama kali matang gonad (Lm), yaitu untuk betina dan jantan berturut-turut 116.54 mm dan 146.162 mm. Tingkat eksploitasi mencapai tingkat optimal antara 0.53-0.74. Laju eksploitasi ikan peperek telah melebihi laju eksploitasi optimum, sehingga diduga ikan peperek di perairan Selat Sunda telah tangkap lebih.Common Ponyfish is one of demersal fish have an important economic value and is one of dominant catch in SundaStrait landed at Costal Fishing Port (PPP) Labuan, Banten. Common ponyfish fish caught with boat seine, danish seine, beach net, purse seine, rampus net, and bamboo platform liftnet. The purpose of this study was to analyze dynamic of common ponyyfish (Leiognathus equulus) in Sunda Strait. The research was conducted from April to August 2015 in PPP Labuan, Banten. Data taken in this study of biological data such as measurements of total length and height of the fish, weight, and gender. Total fish taken during this research reaching 1895 tail. The results showed that the growth coefficient (K) females and males respectively 0.47/year-1 and 0.79/year-1 with asymptotic length (L∞) of 258 mm for females and 210 mm for male. Values were first captured length (Lc) female (145.57 mm) and male (142.92 mm) is greater than value of the first mature gonads (Lm), which is for female and males respectively 116.54 mm and 146.162 mm. The rate of exploitation reached the optimal level between 0.53-0.74. The rate of exploitation of common ponyfish has exceeded the optimum exploitation rate, thus might common pony fish in Sunda Strait has overexploited