Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PENGARUH CAHAYA TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN KARANG LUNAK LOBOPHYTUM STRICTUM (OCTOCORALIA: ALCYONACEA) HASIL TRANSPLANTASI PADA SISTEM RESIRKULASI

    Get PDF
    Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan karang lunak Lobophytum strictum hasil transplantasi dilakukan dengan pemeliharaan karang lunak pada dua buah kolam, yaitu kolam terbuka (cahaya) dan kolam tertutup (tanpa cahaya). Pada masing-masing kolam ditempatkan 16 fragmen karang lunak yang sudah ditransplantasikan. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang lunak berbeda signifikan antar perlakuan cahaya (P<0,05). Karang lunak yang dipelihara di kolam terbuka mampu bertahan hidup 100% (12 minggu), dengan disertai peningkatan panjang (5,95-10,04 cm)  dan lebar (5,27-6,84 cm) fragmen karang. Hal yang berbeda ditunjukkan karang lunak yang dipelihara di kolam tertutup, hanya mampu bertahan hidup hingga minggu ke-8 (62,5%). Hal ini disertai dengan penurunan panjang (8,25-5,25 cm) dan lebar (9,14-4,86 cm) fragmen setiap minggunya.The current research was conducted to investigate the effect of light on growth of soft coral Lobophytum strictum. This species was transplanted and reared in two different ponds, uncovered pond (with light penetration) and covered pond (no light penetration. A total of 16 coral fragments was placed on each pond. Both, the survival rate and the growth rate were significantly different on the effect of light (P<0.05). The soft coral on the uncovered pond was survive up to 12 weeks (100%), followed with increased length (from 5,95 to 10,04 cm) and width (from 5,27 to 6,84 cm) of the transplanted coral fragments. Conversely, the soft coral in the covered ponds showed survival rate of 62,5% (up to 8th week), with decreased length (from 8,25 to 5,25 cm) and width (from 9,14 to 4,86 cm) of each fragments during the period of study

    TINGKAT KETERGANTUNGAN NELAYAN GILLNETDI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU TERHADAP SUMBERDAYA IKAN

    Get PDF
    Ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya ikan pada umumnya memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan adanya diversifikasi pekerjaan sebagai sumber pendapatan alternatif saat ikan susah didapatkan. Namun untuk melakukan diversifikasi pekerjaan tersebut, maka perlu dilihat terlebih dahulu tingkat ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan perikanan gillnet di PPI Karangsong, (2) menganalisis tingkat ketergantungan nelayan gillnet di PPI Karangsong terhadap sumberdaya ikan. Perhitungan tingkat ketergantungan menggunakan Multi Cryteria Analysis dengan kriteria yang digunakan yaitu jumlah keluarga, alokasi waktu, pendapatan, dan pengeluaran. Perikanan gillnet di PPI Karangsong didominasi oleh kelompok gillnet 0-10 GT. Kapal gillnet < 25 GT masih menggunakan es, sedangkan kapal ≥ 25 GT menggunakan freezer. Tingkat ketergantungan nelayan gillnet 0-20 GT terhadap sumberdaya ikan lebih tinggi dibandingkan dengan nelayan gillnet > 20 GT.Fishermen have a high level dependency on fish resources. Therefore, it is necessary to make a job diversification as an alternative income. However, to diversify the job, it is necessary to analyze the dependency level of fishermen on fish resources. The purpose of this research are (1) to describe gillnet fisheries in PPI Karangsong, (2) to analyze the dependency level of fishermen in PPI Karangsong on fish resources. Using cryterias of number of families, time allocation, income, and expenses dependency level of fishermen were calculated using Multi Cryteria Analysis (MCA). The result of this stydy showed that gillnet fishermen in Karangsong coastal fishing port is dominated by gillnet 0-10 GT group. Gillnet ship which less than 25 GT is still using ice to preserve the fish, while the bigger ship (≥ 25 GT) already using freezer. Dependency level of fishermen who operated gillnet < 20 GT is higher than gillnet > 20 GT

    KEBIJAKAN PENGELOLAAN PULAU KECIL PERBATASAN BERBASIS GEOPOLITIK, DAYA DUKUNG EKONOMI DAN LINGKUNGAN (Kasus Pulau Pulau Kecil Perbatasan Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara)

    Get PDF
    Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai bagian dari kedaulatan Malaysia ditetapkan oleh Mahkamah Internasional berdasarkan keberadaannya, telah mendorong Indonesia untuk lebih sadar dan peduli untuk mengembangkan pulau-pulau kecil perbatasan. Terdapat lembaga-lembaga nasional dan regional telah mengembangkan program dan kegiatan untuk pulau kecil perbatasan tapi program masih berorientasi sektoral dan parsial, sedangkan tidak ada kebijakan nasional mengenai manajemen pulau kecil perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan yang komprehensif untuk pengelolaan pulau-pulau kecil kepulauan Sangihe berdasarkan geo-politik, ekonomi dan daya dukung lingkungan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Data primer dikumpulkan di Tahuna, Pulau Marore, Pulau Matutuang, Pulau Tinakareng, dan Pulau Kawio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor potensial untuk dikembangkan di Kepulauan Sangihe adalah perikanan tangkap dan komoditas perkebunan. Penelitian ini melakukan analisis untuk mengembangkan perikanan tangkap pada ikan layang (Decapterus sp.), trvevallies (Selar spp.), tuna kecil (Euthynus sp.), Skipjack tuna (Katsuwomus pelamis), hiu (Charcarias sp.) dan tuna (Thunnus albacares). Produksi berkelanjutan rata-rata pada 20 tahun (1988-2007) ikan layang adalah 1746,3 ton/tahun, bobara adalah 194,1 ton/tahun, hiu adalah 148,4 ton/tahun, ikan tuna cakalang adalah 315,6 ton/tahun, tuna adalah 152 ton/tahun, dan tuna kecil adalah 1073,2 ton/tahun pada periode yang sama. Prioritas kebijakan pulau kecil perbatasan adalah: (1) pengembangan perikanan tangkap, kelapa dan pala real, (2) demarkasi dan delimitasi batas negara, (3) mengembangkan sistem pertahanan dan keamanan di pulau-pulau kecil, (4 ) perubahan perjanjian dasar perdagangan terhadap perbatasan nilai ekonomi; dan (5) pemanfaatan optimal dan berkelanjutan sumber daya alam.Execution of Sipadan and Ligitan islands by International Court of Justice as the part of sovereignity of Malaysia based on effective occupation, have encouraged Indonesia to be more aware and care for developing the neighboring state small islands. There are many national and regional institutions have developed programs and activities for the neighboring state small island but the programs still sector and partial oriented, whereas no national policy yet concerning the neighboring state small islands management. This research was to formulate comprehensive policy for the management of neighboring state small islands of Sangihe archipelago based on geo-politic, economic and environment carrying capacity. Specific objective were: (1) to evaluate and formulate of management policy for neighboring small islands of Sangihe archipelgo based on geo-politic, and (2) to evaluate economic and environment carrying capacity for formulate input of neighboring small islands management policy in Sangihe Archipelagic. The research was conducted Archipelagic in Regency of Sangihe, North Sulawesi Province. Primary data collected at Tahuna, Marore Island, Matutuang Island, Tinakareng Island, and Kawio Island. Secondary data collected since proposal developing until data analysis. Results of the study show that the potential sectors to be developed for Sangihe are capture fisheries and estate commodities. This research to develop of capture fisheries on analysis, basically the scads fish (Decapterus sp.), trvevallies (Selar spp.), eastern little tuna (Euthynus sp.), skipjack tuna (Katsuwomus pelamis), shark (Charcarias sp.) and tuna (Thunnus albacares). The average sustainable production of the scad fish 20 years (1988-2007) observation 1s 1746,3 tons/year, trevallies is 194,1 tons/year, sharks is 148,4 tons/year, skipjack tuna is 315,6 tons/year, tuna is 152 tons/year, and estern little tuna is 1073,2 tons/year on the same period. The priorities of neighboring small island policies are: (1) development of capture fisheries, coconut and nutmeg estate; (2) demarcation and delimitation of boundary state; (3) develop system of defence and security in the neighboring state small islands; (4) the change of agreement of border trade base on economic value; and (5) optimal and sustainable utilization of natural resource

    PENANGKAPAN IKAN KAKAP (Lutjanus sp.) DI SEKITAR PULAU TIMOR

    Get PDF
    Informasi tentang perikanan tangkap secara menyeluruh masih sangat minim karena terbatas pada statistik perikanan yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah seperti di pulau Timor. Kegiatan penangkapan ikan di Pulau Timor masih menerapkan sistem yang sederhana, terutama jika dilihat dari spesifikasi unit penangkapan ikan yang belum menggunakan peralatan yang rumit dalam pengoperasiannya dan kemampuan nelayan. Secara umum, kegiatan penangkapan ikan tidak hanya ditentukan oleh unit penangkapan ikan saja, akan tetapi sangat dipengaruhi juga oleh faktor alam yang bersifat musiman. Perubahan pada kondisi oseanografi menyebabkan perubahan terhadap kelimpahan ikan di suatu tempat akibat migrasi ikan, tingkah laku ikan dan sebagainya. Hal ini selanjutnya menyebabkan terjadinya perubahan daerah penangkapan ikan karena aktivitas nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi laut dan angin sehingga daerah penangkapan ikan tidak selalu tetap sepanjang tahun. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah: 1). Mengetahui spesifikasi unit penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan kakap di Kabupaten Kupang, 2). Mengetahui daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) di Kabupaten Kupang, dan 3) Menganalisis hasil tangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) dari jenis alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kakap di Kabupaten. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2010. Pengumpulan data lapangan dilakukan selama bulan Februari 2010 dengan mengambil lokasi di Pelabuhan Perikanan Pantai Tenau-Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Data mengenai daerah penangkapan ikan dan unit penangkapan yang diperoleh, diklasifikasi dan dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan tabulasi dan gambar peta, sedangkan uji analisis ragam (ANOVA) klasifikasi satu arah digunakan untuk mengetahui produktivitas bulanan ikan kakap dari alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kakap. Jenis alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan kakap (Lutjanus sp.) di perairan Kabupaten Kupang adalah rawai dasar, pancing ulur, dan bubu. Nelayan penangkap ikan kakap (Lutjanus sp.) yang berpangkalan di PPP Tenau, Kabupaten Kupang umumnya beroperasi di perairan yang berterumbu-karang. Lokasi tersebut adalah kawasan yang tidak jauh dari pangkalan, yaitu kota Kupang (1 mil) dan sekitar Pulau Kera (4 mil), serta kawasan yang cukup dari 52 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 2. No. 1. November 2011: 51-59 pangkalan, yaitu di sekitar Pulau Semau (12 mil), Kecamatan Papela (25 mil), Kecamatan Landu (40 mil) dan Kecamatan Lole (60 mil).Ukuran ikan kakap yang ditangkap oleh rawai dasar lebih besar dari ikan kakap yang tertangkap dengan pancing ulur dan bubu. Hasil tangkapan bulanan ikan kakap terbanyak diperoleh dari operasi rawai dasar, yaitu 57% dari seluruh ikan kakap yang diperoleh selama 14 bulan; pancing ulur dan bubu masing-masing memproduksi ikan kakap sebanyak 37% dan 6%Information about fishing as a whole is still very minimal due to limited fisheries statistics issued by the Regional Government as on the island of Timor. Fishing activities on the island of Timor is still implementing a simple system, especially when seen from the specifications of fishing units that have not been using equipment that is complex in its operation and ability of fishermen. In general, fishing activities are not only determined by the fishing units, but also is influenced also by natural factors is seasonal. Changes in oceanographic conditions causing changes to the abundance of fish in one place due to the migration of fish, fish behavior and so forth. This, in turn result in changes in the fishing ground for fishermen activity is strongly influenced by sea and wind conditions so that the fishing areas are not fixed throughout the year. The purpose of this research activity are: 1). Knowing the specifications of fishing units used to catch snapper in Kupang district, 2). Knowing snapper fishing area (Lutjanus sp.) In Kupang district, and 3). Analyzing catch snapper (Lutjanus sp.) from the type of fishing gear used to catch snapper in the district. The study was conducted in January-April 2010. Field data collection was done during the month of February 2010 to take a place at Harbor Beach Fishing Tenau-Kupang, East Nusa Tenggara Province. Data on fishing areas and fishing units are acquired, classified and analyzed descriptively by tabulation and display map images, whereas analysis of variance test (ANOVA) one-way classification is used to determine the monthly productivity of snapper fishing gear that is used to catch snapper. The main types of fishing gear used to catch snapper (Lutjanus sp.) in waters off Kupang district is the basic tow, fishing yield, and bubu. Fishermen fishing snapper (Lutjanus sp.) based in the PPP Tenau, Kupang district generally operate in waters that coral reefs.That location is an area not far from the base, the city of Kupang (1 mile) and about Kera Island (4 miles), and enough of the base area, ie around Semau Island (12 miles), District Papela (25 miles), Sub Landu (40 miles) and the District of Lole (60 miles). The size of snapper caught by tow basis greater than snapper caught with rod stretching and bubu. Monthly catches snapper ever obtained from the basic tow operation, ie 57% of all snapper obtained during 14 months; fishing yield and bubu each producing snapper as much as 37% and 6%

    RANCANG BANGUN MESIN PENCUCI RUMPUT LAUT BERBASIS TEKNOLOGI HYBRID

    Get PDF
    Potensi rumput laut yang sangat besar dan kebutuhan pasar yang amat tinggi, maka perlu adanya pengembangan mesin pengolah rumput laut yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah yang berlipat ganda dari produk tersebut. Adapun penelitian yang dilakukan adalah sebatas proses pencucian rumput laut dari proses pengolahan secara keseluruhan, dengan membuat rancang bangun mesin pencuci rumput laut berbasis teknologi hybrid, yaitu menggunakan penggabungan sumber energi yang dihasilkan dari sistem pedal dan sistem tenaga matahari. Analisis dilakukan secara deskriptif setelah dilakukan identifikasi terhadap fasilitas dan aktivitas yang ada dan penghitungan kembali kapasitas tempat pelelangan ikan, dermaga dan kolam pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tiga belas jenis aktivitas kepelabuhanan perikanan yang tercantum dalam UU RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, maka PPI Cituis telah melaksanakannya 9. Permasalahan kurangnya kapasitas dermaga (154,18 m) dan kedalaman kolam pelabuhan (70 cm) mengakibatkan terhambatnya aktivitas di PPI Cituis khususnya pendaratan kapal dan pembongkaran hasil tangkapan.Seaweed has a high economic value in terms of its considerable use in various industries of sweets, cosmetics, ice cream, flavourings, bakery, sauce, silk, meat/fishery canning, medicine and iron-rod welding. In 2005, Indonesia has declared that seaweed as one of the leading commodities to be prioritized and revitalized. To produce quality of industrial-scale seaweed has necessary a serious handling, start from harvesting process, uploading, washing, drying, up to manufacturing caraggenan.This study has tried to produce a seaweed washing machine that capable to improve the quality of the seaweed in the washing process. This washing machine is based on hybrid technology that can be operated using energy from pedal-powered and electrical-powered generated from solar panels.The washing machine resemble three-wheeled transport vehicle using pedal-powered for mobility. Activity of seaweed washing process using plastic drum that rotated. There are two different size of plastic drum used in washing machine, the bigger size for static water storage containers and the little one for dynamic (rotation) using pedal-powered or electrical motor.The rolled chain transmission that connected with integrated toothed gear is used to ratate a dynamic drum. The different between pedal-powered and electrical-motor powered lies in process to rotated dynamic drum. Pedal-powered use manpower to rotated dynamic drum but electrical motor powered from electrical that generated from solar panel. Washing machine with pedal-powered similar like pedal powered that contained in bicycle. Solar panel systems which is the source energy for generated electrical motor consists of solar panel itself, controller, battery and DC to AC converter. Overall the machine has works well butt need improvement in terms of manueverability

    PERSEPSI PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGELOLAAN WISATA BAHARI DI KEPULAUAN KAPOPOSAN KABUPATEN PANGKEP

    Get PDF
    Kepulauan Kapoposan di Kabupaten Pangkep terdiri dari enam pulau kecil yaitu Pulau Kapoposan, Gondongbali, Papandangan, Suranti , Tambakulu, dan Pamanggangan. Berdasarkan Keputusan Bupati Pangkajene dan Kepulauan Nomor 180 Tahun 2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep, keenam pulau kecil di kawasan Kepulauan Kapoposan pengembangannya diarahkan bagi kegiatan wisata bahari yang berkelanjutan. Pengambilan data dilakukan melalui survei, wawancara dengan key person, dan wawancara kelompok terfokus, yang dilanjutkan dengan pengolahan data menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan expert choice. Persepsi pemangku kepentingan terhadap pengelolaan wisata bahari di kawasan Kepulauan Kapoposan berdasarkan AHP, sesuai urutan prioritas pemangku kepentingan yang paling memiliki peran adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia usaha dan institusi non birokrasi.Kapoposan islands in Pangkep Regency consist of six small islands named are Kapoposan, Gondongbali, Papandangan, Suranti, Tambakulu and Pamanggangan. Those six islands with the area, will be developing on marine tourism activities. The primary data was collected by survey, deep interview and focus group discussion activities, which being process with Analytical Hierarchy Process (AHP) with helping by expert choice. Based on AHP result, the priority of stakeholders perceptions on marine tourism management of Kapoposan Islands in Pangkep Regency as like this follow: the Central Goverment, the Regency Goverment, the private sector, and non bureaucracy institusio

    ANALISIS FAKTOR INTERNAL - EKSTERNAL DAN STATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI TELUK JAKARTA

    Get PDF
    Perikanan tangkap di Teluk Jakarta sangat berperan dalam mengangkat perekonomian dan kehidupan masyarakat di lokasi, namun selain produksi perikanan yang cenderung menurun dan tingkat pencemaran yang tinggi di perairannya, terkadang aktifitas perikanan tangkap berbenturan dengan fungsi konservasi di Kepulauan Seribu. Penelitian ini bertujuan menentukan faktor internal dan eksternal pengelolaan, identifikasi status keberlanjutan kebijakan pengelolaan perikanan tangkap di Teluk Jakarta dan strategi pengembangan pengelolaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah analisis matriks IFAS, EFAS dan SFAS, analisis matriks IE, dan analisis matriks SWOT. Hasil analisis menunjukkan terdapat 17 (tujuh belas) faktor yang mempengaruhi kegiatan perikanan tangkap di Teluk Jakarta baik dari dimensi ekologi, biologi, ekonomi, sosial maupun teknologi. Hasil skor matriks IFAS,EFAS dan SFAS seluruhnya termasuk kategori ”kurang baik” dengan total skor berturut-turut 2,529 untuk faktor internal, 2,747 untuk faktor eksternal dan 2.152 untuk SFAS. Status keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di Teluk Jakarta ditunjukkan dalam matriks IE berada pada sel V, dikategorikan dalam tahap pertumbuhan yang memerlukan strategi konsentrasi secara horizontal. Beberapa strategi yang penting mendukung keberlanjutan pengelolaan tersebut adalah pemberdayaan SDM, peningkatan kualitas produk, peningkatan kemampuan nelayan mandiri, peningkatan pengawasan melekat, penyuluhan kepada nelayan, manajemen terpadu untuk mempertahankan fungsi ekosistem perairan, standarisasi terhadap perikanan skala kecil, dan pengaturan hari operasi dengan penerapan closed-open season.The capture fishery at Jakarta Bay has a big role in increasing the economy and community life at the site, but its not only faced the decreasing fishery production and high poluted water teritory, its sometime confronted with the conservation function located in Kepulauan Seribu. The objectives of this reasearch were to determine internal and external factors that effects to capture fishery activity, to identify sustainable status of capture fishery management in Jakarta Bay and its development management strategy. The study used the methods of IFAS, EFAS and SFAS matrix analysis, IE matrix analysis and SWOT matrix analysis. The result revealed that there are 17 (seventeen) factors affecting the capture fishery activities in Teluk Jakarta at the point of view dimensions of ecological, biological, economic, social and technological. The scores output from matrix IFAS, EFAS and SFAS were all categorized as “kurang baik” with total score 2,529 for internal factors and 2.747 for external factor, and 2.152 for SFAS, respectively. The sustainable status for capture fishery management in Teluk Jakarta pointed out by IE matrix in the cell V categorized as developing status that need horizontally concentration strategy. The study identified that there are several important strategies to support the management sustainability of capture fishery : human resources empowerment, quality product improvement, increasing fishermen capability, increasing capture fishery activities supervision, extension for fishermen, integrated management to preserve the functions of water ecosystem, small scale fishery standardization and fishing days opreration management by implementing closed – open season

    PEMETAAN PERUBAHAN EKOSISTEM WILAYAH PESISIR KECAMATAN DULLAH UTARA KOTA TUAL

    Get PDF
    Tingginya aktivitas pemanfaatan serta kurangnya informasi dan data tentang ekosistem sebagai acuan dasar pengelolaan di wilayah pesisir Kecamatan Dullah Utara. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi dan sebaran ekosistem terumbu karang dan lamun serta menganalisis laju perubahannya dalam periode waktu tertentu berdasarkan hasil interpretasi citra. Berdasarkan hasil analisis citra akan diketahui luasan dan sebaran ekosistem, kemudian dibandingkan dengan beberapa citra pada periode waktu lampau untuk menganalisis laju perubahannya. Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir Kecamatan Dullah Laut Kota Tual. Metode analisis citra yang digunakan adalah teknik transformasi depth invariant indeks dan klasifikasi terbimbing. Hasil interpretasi citra Landsat 8 tahun 2014 menunjukkan luasan terumbu karang sebesar 1.934,82 ha sedangkan luasan lamun sebesar 614.43 ha. Pada tahun 2004 ke 2009 terjadi peningkatan luas ekosistem terumbu karang sebesar 133.56 Ha (4.78%), sedangkan ekosistem lamun terjadi peningkatan luas sebesar 84.69 ha (14.58%). Pada tahun 2009 ke 2014 ekosistem terumbu karang mengalami penurunan luas sebesar 992.16 ha (33.89%) sedangkan untuk ekosistem lamun mengalami penurunan luas sebesar 51.21 ha (7.69%).The high-use activities, the lack of information and data on the ecosystem as a basic reference for management of coastal areas of the Subdistrict North Dullah. This study aims to determine the potential and distribution of major ecosystems and analyze the rate of change in a certain period of time based on image interpretation. Based on the results of image analysis will be known the extent and distribution of major ecosystems, are then compared with some of the imagery in the past period of time to analyze the rate of change. This research was conducted in the coastal region of North Dullah Subdistrict Tual City. The imagery analysis used the transformation of depth invariant index and supervised classification. Landsat 8 year 2014 image interpretation shows coral reef extents are 1934.82 hectares while for sea grass extents are 614.43 hectares. In 2004 to 2009 there was a increase in coral reef ecosystems extents to 133.56 hectares (4.78%), while for the seagrass ecosystem extents increase to 84.69 ha (14.58%). In 2009 to 2014 coral reefs extent decrease to 992.16 hectares (33.89%) while for seagrass extents decrease to 51.21 hectares (7.69%)

    MODEL KONSEPTUAL PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BUNGUS SEBAGAI PUSAT PENDARATAN IKAN TUNA

    Get PDF
    Model konseptual pengembangan pelabuhan perikanan samudera Bungus sebagai pusat pendaratan ikan tuna adalah sebuah sistem yang melibatkan berbagai aktor dalam pembangunan. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah evaluasi kinerja pelabuhan perikanan samudera Bungus dan menciptakan model konseptual sebagai pusat pendaratan ikan tuna. Pengembangan pelabuhan perikanan samudera Bungus dengan soft system methodology (SSM), yang melihat masalah secara keseluruhan di pelabuhan perikanan. Hasil penelitian ini adalah empat model konseptual untuk memperbaiki masalah yang terjadi di masa sekarang. Model konseptual dibangun oleh tiga aspek, aspek tentang sumber daya manusia dan aspek kelembagaan, aspek pelayanan, dan aspek fasilitas. Implementasi model konseptual yang dapat dilakukan dengan berbagai strategi, yang melibatkan seluruh pelaku seperti pemerintah, nelayan dan industri pengolahan.Development conceptual model of oceanic fishing port Bungus as landing tuna fish center was a system that involves various actors in development. The research objective had done were evaluation the performance of oceanic fishing port Bungus and create a conceptual models as tuna fish landing centers. Development of oceanic fishing port Bungus with soft system methodology (SSM), which saw the overall problems in fishing ports. The results of this study were four conceptual models to repair problems that occur in the present. The conceptual model was built by three aspects, the study of human resources and institutional aspects, service aspects, and facilities aspects. Implementation the conceptual models that can be done with a variety strategies, involving the entire actors such as government, fishermen and the processing industry

    PRODUKTIVITAS UMPAN TIRUAN DARI KAYU BERLAPIS ALUMUNIUM FOIL PADA PANCING ULUR

    Get PDF
    Salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesuksesan operasi penangkapan pancing ulur adalah umpan. Nelayan biasanya menggunakan umpan alami, tembang dan kembung, untuk menangkap layur. Namun, ikan tersebut memiliki harga yang cukup tinggi dan ketersediaannya tidak kontinyu. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis komposisi hasil tangkapan pancing ulur, 2) menganalisis sebaran panjang-berat, 3) mengukur produktivitas hasil tangkapan pancing ulur berdasarkan jenis umpan yang digunakan. Penelitian dilakukan dengan metode experimental fishing di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan Desember 2015 – Januari 2016. Hasil tangkapan yang diperoleh adalah layur sirip kuning (Lepturacanthus savala) sebanyak 1.148 ekor, dengan berat 235,58 kg. Persamaan hubungan panjang – berat layur (Lepturacanthus savala) adalah y=0.0008x3.0113 yang berarti allometrik positif. Produktivitas pancing ulur menggunakan umpan alami sebesar 5,95 kg/trip, lebih besar dibandingkan produktivitas umpan tiruan sebesar 5.26 kg/trip, namun umpan tiruan dapat digunakan sebagai alternatif substitusi umpan alami untuk menangkap layur ketika umpan alami sedang tidak tersedia atau saat musim paceklik.One of the important factor which determine the success of handline fishing operation is bait. Normally, fishermen use natural bait, goldstripe sardinella and Indian mackerel, to catch hairtail. However, those fish has a high price and not always availabe. This study aims 1) to analyze the composition of the catch, 2) to analyse the weight-length distribution of the catch 3) to measure the productivity of catch based on bait type. The research was conducted by using experimental fishing. The obtained catch was small-head hairtail (Lepturacanthus savala) with a total of 1.148 individuals, weighing of 235.58 kg. Length-weight relationship of small-head hairtail (Lepturacanthus savala) is y=0.0008x3.0113, which is positive allometric. The productivity of handline using natural bait was 5.95 kg per trip while the productivity of handline with artificial bait was 5.26 kg per trip. However, artificial bait can be used as an alternative to substitude natural bait for catching small-head hairtail when natural bait is not available or in a season when hairtail is hard to catch

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇