Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) BERDASARKAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN SEBARAN KLOROFIL-A DI PERAIRAN PROVINSI ACEH

    Get PDF
    Ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) merupakan sumberdaya ikan unggulan yang tersebar di wilayah perairan Provinsi Aceh. Sejauh ini, para nelayan ikan tuna madidihang mengalami kendala dalam menentukan titik operasional daerah penangkapan ikan. Penentuan daerah penangkapan ikan dapat diduga dari kondisi perairan yang merupakan habitat dari suatu spesies dan biasanya digambarkan dengan parameter oseanografi. Suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a merupakan parameter oseanografi yang penting untuk mengetahui keberadaan ikan tuna madidihang dan mempermudah dalam menganalisis daerah penangkapan ikan yang potensial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan  mengkaji dan menganalisis daerah penangkapan ikan tuna madidihang berdasarkan parameter SPL dan sebaran klorofil-a, di perairan Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain pengambilan data hasil tangkapan ikan tuna madidihang di lapangan secara purposive sampling di perairan Provinsi Aceh, serta analisis SPL dan klorofil-a menggunakan data citra satelit Aqua Modis yang diolah dengan software ArCGIS. Hasil penelitian menunjukkan sebaran SPL di perairan Provinsi Aceh berkisar antara 26.19- 32.8 °C. Nilai kisaran SPL tertinggi mencapai 32.87 °C terjadi pada bulan Maret, serta SPL terendah 26.19 °C terjadi pada bulan April. Analisis sebaran klorofil-a di perairan Provinsi Aceh berkisar antara 0.02- 3.47 mg/m3. Nilai klorofil-a tertinggi 3.47 mg/m3 terjadi pada bulan Mei, sedangkan nilai klorofil-a terendah 0.02 mg/m3 terjadi pada bulan Mei. Produktivitas hasil tangkapan ikan tuna madidihang tertinggi (435 kg) dicapai pada nilai SPL 28 °C dan klorofil 0.44 mg/m3. Berdasarkan analisis regresi linier berganda, sebaran SPL dan klorofil-a tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan tuna madidihang di perairan Provinsi Aceh.Yellowfin tuna (Thunnus albacares) is a superior fish resources are distributed in an area of the waters of the Aceh province. So far, yellowfin tuna fishermens have a problem in determining operational point of fish fishing ground. Determination of fish fishing ground can be estimated from water condition that is species habitat and usually described with oceanographic parameters. Sea surface temperature (SPL) and chlorophyll-a are an important oceanography to know the existence of yellowfin tuna and to analyze a potential fishing ground easier. Therefore, this research aimed to examine and analyze fish fishing ground of yellowfin tuna based on SPL parameter and chlorophyll-a distributions in the waters of Aceh province. The methods used in this study include data of yellowfin tuna catches in the waters of Aceh Province with purposive sampling, and the SPL and chlorophyll-a analyses using the Modis Aqua satellite image data that are processed with AcrGIS software. The results showed the SPL distributions in the waters of Ace province were range from 26-34 °C. The highest SPL was reached 34.74 °C, occurs in February and the lowest SPL 26.19 °C, occurs in April. Analysis of chlorophyll-a distributions in the waters of Aceh province were range 0.01-3.7 mg/m3. The highest of chlorophyll-a was 3.75 mg/m3 occur in August, while the lowest chlorophyll-a was 0.0120 mg/m3 occur in July. Based on regression analysis, the relationship between the distributions of SPL and chlorophyll-a not significantly to the catch yellowfin tuna in the waters of Aceh province

    KOREKSI KEKENDURAN TRAMMEL NET

    Get PDF
    Trammel net has ability to catch demersal organisms which is dominated at the bottom of its net body. It is caused the slackness of trammel net is only found at that section. This study tried to increase the slackness of the nets at the different positions. The aims are to determine the catchs composition and to prove whether the increasing of the slackness will affect the number of catchs. This research was conducted by using 3 trammel nets as control (TK) with one slackness and 3 treated trammel nets (TP) with 3 slackness. The whole trammel net were operated with total of 35 settings at Lontar waters. The results showed that the increasing of slackness did not affect the catchs composition. Each trammel net resulted the same composition of catchs, namely four species of shrimps, ten species of demersal fishes, two species of crabs and one species of non demersal fishes. Trammel net TP resulted 581 individuals (20,10 kg) which is higher than trammel net TK with 277 individuals (7,38 kg).Kemampuan trammel net menangkap organisme demersal terpusat pada bagian bawahnya. Ini disebabkan oleh kekenduran jaring hanya terdapat pada bagian tersebut. Desain trammel net dalam penelitian ini memiliki 3 kekenduran pada posisi ketinggian yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah penambahan kekenduran akan merubah komposisi jenis hasil tangkapan dan membuktikan bahwa penambahan kekenduran dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan. Penelitian menggunakan 3 trammel net kontrol (TK) yang memiliki 1 kekenduran dan 3 trammel net perlakuan (TP) dengan 3 kekenduran. Kedua konstruksi trammel net disusun berselang-seling dan dioperasikan secara bersamaan sebanyak 35 setting. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan kekenduran tidak mempengaruhi komposisi jenis hasil tangkapan. Masing-masing trammel net menghasilkan jenis tangkapan yang sama, yaitu 4 jenis udang, 10 jenis ikan demersal, 2 jenis kepiting dan 1 jenis ikan non demersal. Trammel net TP menangkap 581 individu (20,10 kg), atau lebih tinggi dibandingkan dengan trammel net TK 277 individu (7,38 kg)

    PERAN APPROACHING TIME DALAM PENINGKATAN PELAYANAN JASA PEMANDUAN KAPAL DI PELABUHAN UTAMA TANJUNG PRIOK

    Get PDF
    Approaching time merupakan salah satu indikator yang dipergunakan untuk mengukur keberhasilan kinerja pelayanan jasa pemanduan kapal di Indonesia. Saat ini di pelabuhan-pelabuhan besar dunia approaching time tidak dijadikan sebagai indikator untuk mengukur kinerja jasa pemanduan kapal mereka. Penelitian ini bertujuan mengetahui sudah tepatkah penerapan approaching time sebagai salah satu ukuran standar kinerja pelayanan jasa pemanduan di Indonesia. Penelitian telah dilakukan di Pelabuhan Utama Tanjung Priok dengan responden yang meliputi para personel pandu, awak kapal tunda (nakhoda, KKM, juru mudi) dan pensiunan pandu yang pernah bekerja di Pelabuhan Utama Tanjung Priok. Metode analisis yang diterapkan untuk pengolahan data adalah AHP (Analytical Hierarchy Process), karena AHP akan menguraikan masalah multi faktor yang kompleks menjadi terstruktur dan sistematis sehingga mudah untuk dipahami. Hasil penelitian menunjukkan 56,59% responden berpendapat approaching time dapat tetap dipertahankan sebagai tolak ukur kinerja jasa pemanduan; sisa responden (43,41%) menganggap perlunya mengkaji ulang penerapan approaching time sebagai tolak ukur kinerja jasa pemanduan. Approaching time menjadi penting diperhatikan, karena merupakan hasil kerja terukur yang telah tercapai pada suatu pelabuhan dalam melaksanakan jasa pelayanan pemanduan kapal. Hal ini disebabkan, pandu sebagai personil yang menjalankan proses pemanduan kapal masih sangat tergantung pada fasilitas sarana dan prasarana alat bantu pemanduan kapal seperti kapal tunda, yang jumlah serta kapasitas dayanya masih harus ditingkatkan lagi.Approaching time is usually used as one of indicator on evaluating the successful of piloting’sservice level of ship in main port in Indonesia. However, in many main ports in some countries, this method is no longer used. This study is aimed to determine the significancy of approaching time as a standard in evaluating the piloting’s service in Indonesia.The research has been conducted in the Port of Tanjung Priok, where involved the respondents of pilotage personnels, ship captains, helmsman, and also some retired pilotage personnels which formerly have worked as pilotage. The data were analized using AHP (Analytical Hierarchy Process), AHP will describe the problem as multi-factor complex into a structured and systematic so easy to understand. The results showedthat 56.59% of respondences agree the approaching time is still important as an indicator on evaluating the service of pilotage, while 43.41% of them thought that it needs more considerations to use the approaching time as an evaluation indicator. It is important to note approaching time since it is a measurable workface in a shipping port in conducting the piloting service. This is caused that the pilotages still depend on the availabilities of all tools such astug boat in which the quantity and its capacity must still be raised again

    KERAGAMAN LAMUN DI TELUK BANTEN, PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    Seagrass ecosystem is one distinguish component, which has an important role in tropical ecology. Seagrass also known as a potential organisms that contain bioactive compounds as raw material for medicine, so its distribution is important to be analyzed. The aim of this study were to provided information about distribution, diversity, density, and percent cover of seagrass in Banten Bay. This study was conducted by Line Intercept Transect (LIT) method at three station. There are five species of seagrass that were found in Banten Bay, namely: Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, dan Thalassia hemprichii. The highest density of seagras found at Tunda Island (193 individu/m2), and the lowest found at Panjang Island (44 individu/m2). The highest percent cover of seagrass found at Kalih Island (90%), while the lowest found at Panjang Island (62.5%). Enhalus acoroides is the most dominant species of seagrass that found on Banten Bay. The percent cover of seagrass inform that seagrass ecosystem in Banten Bay relatively healthy/wealthy.Ekosistem lamun merupakan salah satu penyusun pantai tropis yang memiliki peranan penting dalam struktur ekologi wilayah pesisir, selain itu lamun juga diketahui memiliki potensi dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi, sehingga keberadaan lamun di suatu wilayah sangat penting untuk diketahui dan dianalisis.  Penelitian ini dilakukan dengan metode transek garis pada tiga stasiun, dan bertujuan untuk memberikan informasi keragaman, kerapatan, dan penutupan jenis lamun di Teluk Banten.  Padang lamun di Teluk Banten terdiri dari lima jenis, yaitu: Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, dan Thalassia hemprichii.  Kerapatan lamun tertinggi ditemukan di Pulau Tunda (193 individu/m2), dan terendah di Pulau Panjang (44 individu/m2).  Penutupan lamun terendah ditemukan pada Pulau Panjang (62.5%), sedangkan tertinggi pada Pulau Kalih (90%), dan didominasi oleh jenis Enhalus acoroides.  Nilai penutupan lamun ini menunjukan ekosistem lamun di Teluk Banten tergolong sehat/kaya

    KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DI SELAT BALI

    Get PDF
    Usaha perikanan tangkap menjadi tumpuan dominan (sekitar 80 %) dari ekonomi nelayan dan masyarakat di kawasan Selat Bali. Namun hal ini tidak akan bertahan lama bila usaha perikanan tangkap tersebut tidak dikelola dengan baik dan tidak ada perimbangan dalam hal finansial. Penelitian ini akan mengkaji kondisi investasi, operasional, dan kelayakan finansial dari usaha perikanan tangkap tersebut terutama. Metode yang digunakan terdiri analisis investasi, NPV, IRR, ROI dan BCR. Hasil analisis menunjukkan kebutuhan investasi purse seine OBS, purse seine TBS, gill net dan payang berturut-turut adalah Rp 287,750.000, Rp 476.250.000, Rp 313.250.000, dan Rp 261.150.000. Kebutuhan operasional tahunan purse seine OBS, purse seine TBS, gill net dan payang berturut-turut adalah Rp 261.965.000, Rp 408.870.000, Rp 234.550.000, dan Rp 188.717.500. Sedangkan penerimaan tahunan purse seine OBS, purse seine TBS, gill net dan payang berturut-turut adalahRp 992.928.000, Rp 1.998.132.000, Rp 673.292.000, dan Rp 636.290.000. Keempat usaha perikanan tersebut termasuk ‘sangat layak’ dikembangkan di kawasan Selat Bali, karena mempunyai nilai NPV, IRR, ROI, maupun B/C Ratio yang lebih baik dari yang dipersyaratkan. Purse seine OBS mempunyai NPV sekitar Rp 1.755.080.046,41, IRR sekitar 102,55 %, ROI sekitar 21,22, dan R/C ratio sekitar 1,40. Purse seine TBS mempunyai NPV sekitar Rp 4.070.067.018,54, IRR sekitar 140,15 %, ROI sekitar 25,80, dan R/C ratio sekitar 1,50. Gill net mempunyai NPV sekitar Rp 918.548.267,25, IRR sekitar 53,08 %, ROI sekitar 13,66, dan R/C ratio sekitar 1,27, dan payang mempunyai NPV sekitar Rp 982.670.737,88, IRR sekitar 66,25 %, ROI sekitar 14,98, dan R/C ratio sekitar 1,34Fishing effort become the dominant (about 80%) of the fishing economy and society in the Bali Strait. This situation quiet long when fishing effort is not well managed and there is no balance in financial terms. This study will assess the condition of investment, operational, and financial feasibility of the fishing effort. The method used consisted of investment analysis, NPV, IRR, ROI and BCR. The analysis showed that investment needs purse seine OBS, purse seine TBS, gill nets and payang is 287,750.000,Rp476.25million,Rp313,250,000andRp261,150,000.TheannualoperationalneedsOBSpurseseine,purseseineTBS,gillnetsandsuccessivepayangis 287,750.000, Rp 476.25 million, Rp 313,250,000 and Rp 261,150,000. The annual operational needs OBS purse seine, purse seine TBS, gill nets and successive payang is 261,965,000, USD 408.87 million, Rp 234,550,000 and Rp 188,717,500. While the annual revenue purse seine OBS, purse seine TBS, gill nets and payang is Rp 992,928,000, Rp 1,998,132,000, Rp 673,292,000 and Rp 636,290,000. These four fishing gear are \u27very feasible\u27 developed in Bali strait, because it has the value of NPV, IRR, ROI, and B/C ratio is better than required. Purse seine OBS have Rp 1,755,080,046.41 NPV, IRR of approximately 102.55%, ROI around 21.22, and R/C ratio of about 1.40. Purse seine TBS has NPV around Rp 4,070,067,018.54, IRR around 140.15%, ROI around 25.80, and R/C ratio about 1.50. Gill net has a NPV about Rp 918,548,267.25, IRR about 53.08%, ROI around 13.66, and R/C ratio about 1.27, and payang have NPV around Rp 982,670,737.88, IRR of approximately 66,25%, ROI around 14.98, and R/C ratio about 1.34

    RANCANG BANGUN PEREKAM DATA KELEMBABAN RELATIF DAN SUHU UDARA BERBASIS MIKROKONTROLER

    Get PDF
    Kelembaban relatif (RH) dan suhu udara merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran meteorologi. Pengukuran kedua parameter secara kontinyu diperlukan dalam bidang perikanan dan kelautan. Sebuah perekam data untuk keperluan ini perlu dikembangkan. Perekam data disusun atas mikrokontroler ATmega32 dengan clock 8Mhz, Real-time clock (RTC) DS1307, Sensor kelembaban relatif dan suhu udara Sensirion SHT11, soket SD card, Low-dropout (LDO) Linear Regulator LP2950 dan AIC1734. Selain itu dibutuhkan LED dan beberapa komponen pasif seperti resistor serta kapasitor. Perangkat lunak atau biasa disebut firmware pada alat perekam data ini ditulis dengan menggunakan bahasa BASIC. Program yang digunakan adalah BASCOM-AVR versi 1.11.9.0. Hasil uji coba skala lapangan menunjukan selisih terbesar RH sebesar -20,4% dan suhu udara sebesar 7,3ºC yang disebabkan oleh masuknya kontaminan dan desain PCB dan casing yang tidak melepas panas dengan baikRelative humidity (RH) and air temperature are important parameter in meteorological measurement. These two parameters should be measured continuously for fisheries and marine environmental monitoring. A data logger for this purpose need to be developed. The data logger consist of ATmega32 microcontroller run at 8Mhz clock, DS1307 Real-time Clock, Sensirion SHT11 sensor, SD card socket, Low-dropout Linear Regulator LP2950 and AIC1734. Light emitting diode and several passive components such as resistor and capacitor also needed. Data logger firmware was written in BASIC language using BASCOM-AVR version 1.11.9.0. The field test showed the greatest error in measure RH is -20,4% and air temperature is 7,3ºC. Measurement error is caused by contamination in sensor probe and lack of PCB design in releasing heat

    PENGKAJIAN INVESTASI UNIT PENANGKAPAN DALAM UPAYA PEMANFAATAN SUMBERDAYA UDANG PENAEID SECARA BERKELANJUTAN DI PERAIRAN CIREBON UTARA, JAWA BARAT

    Get PDF
    The results of the research before are mentioned that an increasing of shrimp catching unit on the Cirebon coastal area could be done. So investment of shrimp catching unit could be given. But, before the investment of shrimp catching unit are realized, the feasibility and capacity of those investment have to be evaluated in order to make the condition for sustainability of shrimp resource management. The research objectives are : (i),to analyze the optimal condition of shrimp resource management on the dynamic optimization regime, (ii) to analyze an increasing investment of shrimp catching unit on these region, and (iii) to analyze the financial feasibility of shrimp catching unit activity it self. This research using time series data of fisheries (1983 – 2006) while primary data are collected from interview activities among 90 fishers of shrimp catching unit. The outcomes of the research indicate that with using bio-economics modeling approach : (i) the actual exploitation of penaeid shrimp i.e. Harvest = 4 851 278 kg and Effort = 1 137 unit are still lower than the dynamic optimization regime which are Harvest = 7 995 410,45 kg and Effort = 4 642,51 unit , (ii) an increasing investment on shrimp catching unit are able to be done up to Rp 40 097 024 651,07 (± 40 billion rupiahs) equivalent to motorize of shrimp catching unit toward 3 506 units, and (iii) a financial analysis activities of shrimp catching unit are still feasible with criteria of net present value (NPV) is Rp 36 093 761,19 and net benefit cost ratio(Net B/C) is 6.5. An increasing of shrimp catching unit are able to be strictly done if the services of fishing port infrastructure on hand well.Hasil penelitian sebelumnya perihal optimalisasi pengelolaan perikanan tangkap jaring udang di perairan sekitar Cirebon utara Jawa Barat menunjukkan bahwa kuantitas unit penangkapan jaring udang di wilayah perairan Kabupaten Cirebon masih dapat dikembangkan, sehingga iklim investasi pada unit penangkapan jaring udang  di wilayah tersebut dapat memberikan harapan yang baik.  Namun sebelum investasi terhadap pengembangan kuantitas unit penangkapan jaring udang direalisasikan, perlu kiranya dikaji secara mendalam terhadap kelayakannya dan kapasitasnya tanpa mengganggu aspek  kelestarian sumberdaya udangnya.  Penelitian bertujuan : (i) menganalisis kondisi optimal tingkat pemanfaatan sumberdaya udang penaeid dengan didasarkan pada pengelolaan sumberdaya perikanan dibawah rezim optimasi dinamik, (ii) menganalisis peluang pengembangan investasi pada unit penangkapan jaring udang, dan (iii) menganalisis kelayakan finansial investasi tersebut.  Penelitian ini menggunakan data runtut waktu (time series) perikanan pada periode 1983 – 2006.  Sementara data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 90 nelayan Jaring Udang.  Hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan model bioekonomi menunjukkan bahwa : (i) tingkat pemanfaatan sumberdaya udang penaeid pada kondisi aktual dengan tingkat harvest sebesar 4 851 278 kg dan effort sebesar 1 137 unit armada penangkapan jaring udang ternyata  masih lebih kecil daripada kondisi optimal pengelolaan sumberdaya perikanan rezim optimasi dinamik yang memiliki tingkat harvest sebesar 7 995 410,45 kg dengan effort 4 642,51 unit armada penangkapannya, (ii)  peluang pengembangan investasi pada unit penangkapan jaring udang masih dapat dilakukan hingga senilai Rp 40 097 024 651,07 (± 40 milyar rupiah) setara dengan motorisasi 3 506 unit armada penangkapan jaring udang, dan (iii) hasil analisis finansial dari kegiatan usaha penangkapan jaring udang masih layak diusahakan dengan kriteria nilai  NPV sebesar Rp 36 093 761,19 dan net B/C sebesar 6,5.   Upaya pengembangan investasi terhadap armada unit penangkapan jaring udang mensyaratkan agar pelayanan jasa pelabuhan perikanannya ada dalam kondisi yang baik

    FAKTOR PERSEPSI INDIVIDU DALAM PENGEMBANGAN PERIKANAN LINTAS BATAS

    Get PDF
    Mengelola sumber daya perikanan di wilayah perbatasan akan tergantung pada perilaku dan persepsi masyarakat untuk memberi reaksi terhadap masalah mereka. Makalah ini akan menganalisis tentang faktor persepsi individu untuk pengembangan perikanan lintas batas seperti pemasangan sejarah, alat penangkapan ikan, produksi, dan lokasi pemasaran, sumber pengetahuan tentang wilayah pemilik dan model parsial persepsi nelayan di Lirang, Wetar dan Kepulauan Kisar. Model parsial persepsi individu TCIF (Transboundary Commuters for Illegal Fishing) adalah e-1,372 + 0,846 SPKW + 1,029 PAN-TL atau P (TCIF_ individual perception) = f (SPKW, PAN-TL).Manage of fisheries resource in border area would dependent about as long as behaviour and perception of community to response their problems. This paper would analyses about factor of individual perception to development fisheries transboundary such as fitting of historical, fishing gears, production, and marketing location; knowledge source about owner region and partial model of fishermen perception in Lirang, Wetar and Kisar Islands. Partial model of individual perception TCIF (Transboundary Commuters for Illegal Fishing) are e -1,372 + 0,846 SPKW + 1,029 PAN-TL or P (TCIF_ individual perception) = f (SPKW, PAN-TL

    ANALISIS KERENTANAN PANTAI TIMUR PULAU BINTAN, PROVINSI KEPULAUAN RIAU MENGGUNAKAN DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM DAN METODE COASTAL VULNERABILITY INDEX

    No full text
    Kerentanan pantai merupakan kondisi dimana terdapat peningkatan proses kerusakan di wilayah pantai yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti aktivitas manusia dan faktor alami seperti pengaruh kenaikan muka laut, gelombang laut serta arus menyusur pantai yang mengakibatkan terjadinya proses abrasi maupun sedimentasi yang merupakan salah satu indikator adanya tekanan terhadap suatu kawasan pantai walaupun bukan berarti sebagai degradasi kondisi kawasan pantai. Analisis kerentanan pantai sangat penting untuk dilakukan, dengan melakukan kajian kondisi suatu kawasan pantai khususnya kajian mengenai kerentanan suatu kawasan pantai akan memudahkan dalam menyoroti bagian-bagian mana saja dari suatu pantai yang dinilai memiliki tingkat kerentanan yang tinggi dan faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan kerentanan kawasan pantai tersebut. Penelitian mengenai kerentanan pantai timur Pulau Bintan dilaksanakan pada Bulan September-Oktober 2015 dengan mengamati variabel fisik dan variabel oseanografi yang terdiri dari geomorfologi pantai, kemiringan pantai, perubahan garis pantai dan rata-rata tinggi gelombang laut serta rata-rata kisaran pasang surut per tahun. Analisis kerentanan pantai menggunakan metode coastal vulnerability index (CVI) dengan memberikan skor terhadap masing-masing variabel yang digunakan sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan oleh United States Geological Survey (USGS). Hasil analisis kerentanan pantai menunjukan geomorfologi pantai dan kemiringan pantai merupakan variabel tingkat kerentanan tinggi hingga sangat tinggi dengan skor kerentanan masing-masing variabel adalah 4.75 dan 5 (rentang skala skor berkisar antara 1-5). Indeks kerentanan pantai timur Pulau Bintan berkisar antara 3.16-3.54 dengan rata-rata 3.33 yang menunjukan bahwa tingkat kerentanan pantai timur Pulau Bintan berada dalam kategori rendah.Coastal vulnerability is a condition where there is an increased processes of damage in the coastal areas caused by a variety of factors such as human activity and natural factors such as impact of sea level rise, sea waves and longshore current which cause abrasion and sedimentation processes which is once indicator of pressure on coastal areas even though not always interpreted as the degradation of coastal areas. Coastal vulnerability analysis is very important to be done, by doing a study of the coastal areas condition in particular the study of the vulnerability of a coastal areas will ease in highlighted any sections of a coastal areas which judged having high level of vulnerability and what are the factors that result in the vulnerability of the coastal areas. The research of coastal vulnerability of east coast of Bintan Island was conducted in September-October 2015 with observing physical and oceanographic variables consisting of coastal geomorphology, beach slope, shoreline changes and annual average of sea wave height and tidal range. Coastal vulnerability analysis using coastal vulnerability index (CVI) method by giving a score to each of the variables used in accordance with the categories set by United States Geological Survey (USGS). The results of coastal vulnerability analysis showed coastal geomorphology and beach slope are a variables with a high to very high degree of vulnerability with the vulnerability score of each variables is 4.75 and 5 (score scale range from 1-5). Coastal vulnerability index of east coast of Bintan Island ranged from 3.16-3.54 with an average 3.33 which showed the level of vulnerability of east coast of Bintan Island is in low category

    PENGARUH AKLIMATISASI KADAR GARAM TERHADAP NILAI KEMATIAN DAN TINGKAH LAKU IKAN GUPPY (POECILIA RETICULATA) SEBAGAI PENGGANTI UMPAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis)

    Get PDF
    Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya.  Penelitian ini mengamati proses aklimatisasi kadar garam pada ikan guppy (Poecilia reticulata). Proses aklimatisasi kadar garam pada ikan Guppy yang dilakukan selama 14 hari dengan menaikkan 720 gram per hari. Kadar garam terukur adalah 30%. Ikan Guppy (Poecilia reticulata) memiliki ukuran tubuh ± 5 cm, corak warna tubuh dan sirip yang sangat cemerlang dan memiliki harga yang sangat ekonomis sehingga dapat menarik perhatian Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis). Awal proses aklimatisasi ikan Guppy berjumlah 65 ekor dengan berat rata-rata 1,1 gram dan panjang total yaitu 2,5 cm. Selama 8 hari pengamatan (18%), ikan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, namun setelah hari ke 8 ikan ada yang mengalami kematian  0,02 % - 0,05%, namun secara total sampai akhir pengamatan, kematian ikan relatif  lebih kecil yaitu 0,13 % (9 ekor). Hasil uji coba ikan yang dilakukan pada perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu menunjukkan ikan dapat berenang dengan baik dan selalu berada di permukaan air tanpa perubahan yang terlihat yang sangat signifikan.Acclimatization is physiological adaptation way or a way from a species to adjust itself with new environment. The purpose of this research is to observe the process of salt level acclimatization in Guppy fish (Poecilia reticulate). Salt level about 2 g/mol was added in the water or environment until the salinity is 30 ‰. Guppy fish males have a body size 5 cm, colour schemes the body and fins are very bright and has a very economical price so as to attract the attention of Tuna (Katsuwonus pelamis).That process was done by adding 720 g of salt level each day during 14 days. In the first day, 65 Guppy fishes with average of weight is 1,1 gram and total length is 2,5 cm was added in the water. During 8 days (salinity 18 ‰), Guppy fish can adjust itself with the environmental, however after 8 days mortality rate of the fish is 0,02% - 0,05%. Until the end of the research, the mortality rate is 0,13% (9 fishes). Fish test results conducted in the waters of Pramuka Island, thousand islands, showed fish can swim well and always be in the surface waters without sight change very significant

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇