Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    KESELAMATAN KAPAL PENANGKAP IKAN, TINJAUAN DARI ASPEK REGULASI NASIONAL DAN INTERNASIONAL

    Get PDF
    Pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang tergolong membahayakan dibanding pekerjaan lain, maka profesi pelaut kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan “3d” yaitu: membahayakan (dangerous), kotor (dirty) dan sulit (difficult) dengan ketiga sifat pekerjaan tersebut ditambah faktor ukuran kapal yang didominasi kapal-kapal berukuran relatif kecil, berlayar pada perairan gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan. Keselamatan kapal penangkap ikan merupakan interaksi faktor-faktor yang kompleks, yakni human factor (nakhoda dan anak buah kapal), machines (kapal dan peralatan keselamatan) dan enviromental (cuaca dan skim pengelolaan sumberdaya perikanan). Permasalahan keselamatan atau kecelakaan akan timbul apabila salah satu elemen dari human factor, machines atau enviromental factor tersebut tidak berfungsi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi peraturan keselamatan kapal penangkap ikan pada tingkat nasional dan internasional serta keterkaitan kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan dan kapal niaga. Penelitian dilaksanakan Mei 2008 – Maret 2009. Data primer diperoleh dari berbagai sumber, seperti Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegal Sari Kota Tegal, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap dan Kementerian Perhubungan. Kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan pada dasarnya mencakup kebijakan kelaikan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, dan pencegahan polusi laut dari kegiatan kapal penangkap ikan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Pengaturan kelaikan dan dinas jaga kapal/pengawakan kapal penangkap ikan merupakan pengawasan atau kontrol dari pemerintah terhadap pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan untuk meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda dan lingkungan laut. Mengingat karakteristik pekerjaan pada kapal penangkap ikan membahayakan awak kapal dan lingkungan sosial lebih kompleks, serta jumlah nelayan yang begitu banyak, maka di Indonesia, pengaturan tentang kelaiklautan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, pendidikan, pelatihan dan sertifikasi awak kapal, kepelautan kapal perikanan dan pelabuhan perikanan sebaiknya diatur tersendiri, sebagaimana pengaturan pada tataran internasional telah diatur terpisah dari pengaturan kapal niagaFishing is a high risk occupation compared to other occupations. Charachteristics of the occupational in fishing vessel are dangerous, dirty and difficult, known as “3d”. Generally, fishing vessels size is relatively small size, majority under 24 m length, sailing and fishing in bad weather with rough sea with unskilled crews, so that those factors can increase the fatality rate of the fishing vessel crews. Fishing vessel safety is a complex interactions among human factor (skipper and crew’s members), machines (fishing vessel and safety equipment) and environmental (weather and fisheries management). Fishing safety problems emerge when minimum one of those elements of human factor, machines or environment is misfucntion. The objectives of this research is to identify national and international safety regulations for fishing vessel and also relationship between fishing vessel and merchant vessel safety policies in Indonesia. Research was carried out from May 2008 – March 2009. Data was collected from any kind of source, such as Agency for Marine and Human Resource Development, Directorate General of Capture Fisheries, Tegal Coastal Fishing Port, Pekalongan Archipelago Fishing Port, Cilacap Ocean Fishing Port and Ministry of Communication. Fishing vessel safety policy basically is based on fishing vessel’s seaworthiness, watchkeeping/ship manning, safety equipment, and pollution prevention from the ship activities in national level as well as international level. Fishing vessel seaworthiness and watchkeeping/ship manning policies as a control function from the goverment to the parties involved in fishing activities to increase safety of crews, fishing vessel and sea environment from fishing vessel activities. Due to the characteristics of the working conditions on fishing vessel, more complex social environment of the fishermen and great number of fishermen in Indonesia, regulations on fishing vessel safety; watchkeeping/ship manning; works in fishing; education, training and certification of fishing vessel personnel; and fishing port, should be separated from the merchant ship safety regulations as international organizations did

    PENGARUH EKSTRAK KIMIA PADA UMPAN PANCING DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN-IKAN KARANG DI SELAT BANGKA, MINAHASA UTARA

    Get PDF
    Bottom hand lines have been used widely by coastal communities in North Sulawesi to catch coral fishes, since it simple in design, cheaper and easy to manage with a small boat. Although the gear’s design has evolved over centuries, there is still potential for improving its catching efficiency and selectivity. An attempt to understand the hooking process of bottom hand lining should therefore be focused on bait and how its chemical composition, visual and physical properties may stimulate target species to attack the bait and captured. Addition of chemical extracts to the bait could increase the fishing power of bottom hand line gear. But scientific information’s about its applications are not available yet. Therefore, the objective of this research was to study the effect of addition chemical extracts to bottom hand line baits toward the capture of coral fishes. Three kinds of chemical extracts were used to the slices of scad mackerel baits, they were power bait oil, squid liver oil, shrimp extract, and one bait without extract as a control. Catch data were collected using four unit of bottom hand lines, which operated in waters near coral reefs at the depth around 30 to 50 m; and analysis data were done based on randomized block design. The catch was 205 fish in total consist of 20 families and 29 species. Analysis of variance show that addition of chemical extracts to bottom hand line baits caused high significant effect in catch. Least significant differences test declared that the addition of three kinds of extract to the baits are not significant in catch; but power bait dan squid liver oil have high significant to the bait without extract; and no significant between shrimp extract and bait without extractPancing dasar telah digunakan secara luas oleh masyarakat pantai di Sulawesi Utara untuk menangkap ikan-ikan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal atau perahu ukuran kecil. Walaupun alat tangkap ini telah berkembang sejak lama, tetapi masih memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penangkapan dan selektivitasnya. Suatu upaya untuk memahami proses tertangkapnya ikan dengan pancing dasar adalah tertuju pada umpan dan bagaimana komposisi kimia dan sifat-sifat fisiknya yang merangsang ikan untuk memakan umpan dan tertangkap. Penambahan ekstrak kimia pada umpan dapat meningkatkan fishing power dari alat tangkap pancing dasar. Tetapi informasi ilmiah tentang aplikasinya belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian ekstrak kimia pada umpan pancing dasar terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang. Tiga jenis ekstrak kimia yang diberikan pada umpan potongan daging ikan malalugis segar, adalah power bait, squid liver oil, ekstrak udang dan umpan ikan segar tanpa ekstrak sebagai kontrol. Data tangkapan dikumpulkan dengan mengoperasikan 4 unit alat tangkap pancing dasar di perairan dekat karang pada kedalaman antara 30 sampai 50 m; dan analisis data dikerjakan berdasarkan rancangan acak kelompok. Hasil tangkapan total berjumlah 205 ekor, terdiri dari 20 famili dan 29 spesies ikan. Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian ekstrak kimia pada umpan pancing dasar, memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukan bahwa pemberian ketiga jenis ekstrak pada umpan tidak ada perbedaan terhadap hasil tangkapan; tetapi pemberian ekstrak power bait dan squid liver oil sangat berbeda nyata terhadap umpan segar tanpa ekstrak; sedangkan pemberian ekstrak udang tidak berbeda nyata dengan umpan tanpa ekstrak

    INTRODUKSI HIGH POWER LED PADA PERIKANAN BAGAN TANCAP

    Get PDF
    Penggunaan lampu TL (tubular lamp) sebagai alat bantu untuk mengumpulkan ikan pada bagan tancap memiliki kekurangan yaitu pancaran cahaya yang terlalu menyebar dan mahalnya harga bahan bakar. Penggunaan lampu HPL (high power led) sebagai lampu hemat energi diharapkan mampu mensubtitusi lampu TL untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan penggunaan lampu HPL pada bagan tancap mampu menghasilkan komposisi jenis dan berat hasil tangkapan lebih tinggi dibandingkan dengan lampu TL. Pengujian menggunakan dua bagan tancap, masing-masing menggunakan lampu HPL dengan tudung bereflektor kertas perak dan lampu TL dengan tudung seng. Hasilnya menunjukan bahwa lampu HPL 90o menghasilkan area sebaran cahaya sebesar 120o sedangkan lampu TL mencapai 300o Odengan nilai iluminasi tertinggi masing-masing 1.358 lux (180o) dan 299 lux (50o). Komposisi jenis dan berat hasil tangkapan bagan tancap dengan menggunakan lampu HPL menghasilkan 14 jenis organisme dengan berat total 97.363 g (78.39%), lebih tinggi dibandingkan dengan lampu TL yang menghasilkan 9 jenis organisme dengan berat 26.829 g (21.61%).The use of TL lamp (tubular lamp) as a tool for collecting fish on the lift net has the lacks namely the light-emission which is too distributed widely and the high price of fuel. The use of HPL lamp (high power led) as energy efficient lamp is expected to substitute TL lamp to solve the issue. The aim of this study is to prove the use of HPL lamp on lift net is able to produce species composition and weight of the catch higher than TL lamp. The tests used two lift net, each of it used HPL lamp with silver plate cone as its reflector and TL lamp with zinc paper as its reflector. The results showed that the HPL lamp 90o generated light distribution area with 120o while TL lamp was up to 300o with the highest value of each illumination 1,358 lux (180o) and 299 lux (50o). Composition of species and weight of the catch lift net which use HPL lamps 90o produced 14 species organisms with the number of total weight 97.363 g (78.39%), higher than the TL lamp which produced 9 species organisms with the number of total weight 26.829 g (21.61%)

    PENGKAYAAN SUMBERDAYA IKAN DENGAN FISH APARTMENT DI PERAIRAN BANGSRING, BANYUWANGI

    Get PDF
    The use of fishing gear which is not enviromentally can involve aquatic ecosystems damage where is, mainly for fish habitats damage such as coral reefs. Damaged coral reefs resulting in captures reduced, fish captures decrease, and the loss of some fish species on that water region, especially reef fishes. This fish apartment development and determine the direct impact to the Bangsring fisherman. Determining teh abudance and diversity of fish species as an indicator in the Bangsring waters. Analyze the success level of fish apartment in enrichment of fish stoks and improve fish babitats in Bangsring, Banyuwangi. Fish apartment cultivation on Bangsring waters could restore the enrichment of fish resources, seen from the accretion of fish species, the increasing of fish captured up to 100%, capture distance that near, and efficient at the time of capturing. Fish apartment could restore aquatic ecosystems damaged, especially on Bangsring waters.Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem perairan, terutama kerusakan habitat ikan seperti terumbu karang. Terumbu karang yang rusak mengakibatkan hasil tangkapan berkurang, ikan hasil tangkapan semakin mengecil, dan hilangnya beberapa jenis ikan di perairan tersebut, khususnya ikan karang. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang perkembangan fish apartment dan mengetahui dampak langsung terhadap nelayan di daerah Bangsring, Banyuwangi. Menentukan kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan sebagai indikator diperairan di Bangsring. Menganalisis tingkat keberhasilan fish apartment dalam pengkayaan stok ikan dan memperbaiki habitat ikan pada perairan Bangsring. Penanaman fish apartment pada perairan Bangsring, Banyuwangi dapat mengembalikan kekayaan sumber daya ikan, dilihat dari keberhasilan pertambahan jenis ikan, meningkatnya hasil tangkapan hingga 100%, dan jarak penangkapan yang dekat dan efisien dalam waktu penangkapan. Fish apartment dapat mengembalikan ekosistem perairan yang rusak, khususnya di perairan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur

    PENGARUH FASE BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus homarus) di TELUK PELABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI

    Get PDF
    Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah potensial penghasil  lobster di Indonesia, khususnya di wilayah Teluk Palabuhanratu,  lobster yang banyak tertangkap di daerahh ini adalah jenis lobster panulirus homarus dikenal dengan nama lobster Hijau pasir dalam bahasa Indonesia,  banyak penelitian yang di lakukan ditempat lain menyatakan bahwa fase bulan memberikan pengaruh dan tidak pengaruh terhadap hasil tangkapan lobster. Maka  penelitian  ini mengamati pengaruh fase bulan terhadap hasil tangkapan lobster dan  pengaruh fase bulan terhadap ukuran, yang berada di wilayah teluk Palabuhanratu. Data yang di kumpulkan merupakan data dari hasil tangkapan yang di kumpulkan pada pengumpul lobster dari mulai bulan Agustus sampai bulan Desember 2015. Fase bulan di bagi kedalam 4 kwadran, fase bulan semi terang (Kwadran I), fase bulan purnama (Kwadran II), fase bulan semi gelap (Kwadran III) dan fase bulan gelap (Kwadran IV) data fase bulan di ambil dari daftar almanak  nautika.  Ukran lobster yang tertangkap di bagi kedalam 3 ukuran  yaitu KK (0.30-0.99 gram/ekor), SPK (100-200 gram/ekor) dan SPB ( 200-up gram/ekor). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil tangkapan lobster P. homarus di teluk Palabuhanratu tidak memberikan pengaruh yang berbeda secara signifikan terhadap fase bulan, ini  berdasarkan  hasil  uji  statistik dimana nilai  P = 0.8917 (P > 0.05).  Lobster tertangkap di semua fase bulan dan terbanyak di fase  bulan semi terang (kwadran I) sebesar 41.90±11.7 (SE) kg. dimana lobster tersebut banyak tertangkap pada ukuran KK (0.30-0.99 gram/ekor) dan SPK (100-200 gram/ekor), berdasarkan trand hasil tangkapan selama setahun  menggambarkan  terjadi peningkatan produksi hasil tangkapan lobster pada bulan September sampai bulan Desember, hal ini  bersamaan pula dengan di mulainya musim penghujan/musim barat.Sukabumi distric is one of the potensial areas lobster producer in Indonesia, particulary in the gulf region Palabuhanratu, one species of lobster is Panulirus homarus usually called in bahasa Indonesia is Lobster Hijau Pasir. So many research on the another places is the moon phases give influence to catch of lobster. This study is want to observe, the influence of the moon phase to the lobster catches especially for P. homarus species in the Pelabuhanratu district. And also the influence the moon phase to the size of P. homarus lobster. Data is collected from the collecting lobster catches from August to December 2015. The moon phase are divides in 4 phases, as the semi-bright moon phase (phase 1), full moon (phase 2), semi dark (phase 3), and full dark (phase 4), the phases of moon is take from List of Nautical Almanac. The size of lobster is divided in to 3 sizes, as KK (0.30-0.99 grs/pc), SPK (100-200 grs/pc), and SPB (200 grs Up/pc). The results of this study is showed the catch of Panulirus homarus lobster in Pelabuhanratu district, the moon phase was not give different influence significantly, it’s shown from calculations of the statistic P= 0.8917 (P>0.05). The Lobster caught in all the phases of the moon, and the biggest one in the semi-bright moon phase (phase 1) as big as 41.90±11.7 (SE) kilograms. If base on the sizes, that many Lobster caught in KK (0.30-0.99 grs/pc) and SPK (100-200 grs/pc). If the accordance of calculation of catch trend, has started an increase of catches in September. This conditions is in conjunction with the start of the rainy season/west season. The conclusions of this study, that the moon phase is not give influence to the total catches of lobster P. homarus, but it is predicted there are other factors is influence it is a local environmental factors that have a major influence on the total catches of lobster P. homarus

    EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA TEKNOLOGI PENDEDERAN IKAN LELE (Clarias sp) SANGKURIANG

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi baik secara simultan maupun secara parsial dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada teknologi pendederan ikan lele Sangkuriang. Variabel terikat (Y) adalah Hasil produksi benih ikan lele Sangkuriang dan variabel bebas adalah kolam (X1), benih (X2), pakan (X3) dan tenaga kerja (X4). Variabel lain tidak dilakukan pengujian tetapi dianalisis secara deskriptif yaitu terhadap harga produksi (Py) dan harga faktor produksi. Penelitian menggunakan metode studi kasus dan responden ditentukan secara sengaja dari kelompok usaha teknik pendederan ikan lele Sangkuriang di Desa Sukaratu Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Waktu Penelitian mulai bulan Juni 2013 sampai dengan October 2013. Data dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas dan rasio NPM dengan Px dihitung untuk memperoleh tingkat efisiensi masing-masing faktor produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis faktor-faktor produksi secara simultan berpengaruh nyata terhadap hasil produksi pendederan ikan lele Sangkuriang. Sedangkan pada analisis secara parsial faktor produksi kolam dan tenaga kerja tidak berpengaruh tetapi faktor produksi benih dan pakan berpengaruh nyata terhadap produksi pendederan ikan lele Sangkuriang. Elastisitas produksi kurang dari satu, termasuk dalam skala usaha yang menurun (Decreasing Return to Skill). Hasil analisis efisiensi faktor-faktor produksi menunjukkan bahwa faktor produksi kolam dan benih belum efisien. Maka perlu menambah faktor produksi tersebut. Sedangkan faktor produksi pakan dan tenaga kerja tidak efisien. Maka perlu menurunkan jumlah faktor produksi tersebut.Catfish is now the rising favorite fish to consumpt. This research was conducted to know the influence of application of production factors either simultaneously or partially and also their efficiency hatchery maintenance of Catfish varr Sangkuriang (Clarias sp). The dependent variable was product of benih (Y) and the independent variable were the area of pool (X1), benih (X2), feed (X3) and labour (X4). The other variables descriptively tested were the price of baby catfish (Py) and production factors (Px). The method of research used case study and data gathered purposively from the group of hatchery maintence of catfish varr. Sangkuriang at Sukaratu Village, Sukaratu – Tasikmalaya. The Data were analyzed by using Cobb Douglas production function whereas MPV and Px ratio was counted to find out the level of efficiency within each production factors. The result showed that the analysis of production factors was significant simultaneously. Whereas the analysis of each production factor indicated that either area or labour production factors were non significant partially. But the production factors of benih and feed partially were significant toward production of baby catfish on the hatchery maintenance catfish varr Sangkuriang. The value of Production Elasticity was less than one. It showed that hatchery is in decreasing return to scale. The result of analysis of production factors’s efficiency indicated that area and benih have not already been efficient. So, they were necessary to increase the amount of those production factors. Whereas, production factors of feed and labour were not efficient. So, reducing the amount of application of production factors was necessary to reduce the amount

    PRODUKTIVITAS HASIL TANGKAPAN BUBU PADA TERUMBU KARANG BUATAN DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

    Get PDF
    Terumbu karang buatan yang terbuat dari tempurung kelapa merupakan habitat buatan yang menyerupai karakteristik terumbu karang alami yang dapat menjadi alternatif untuk memperbaiki degradasi terumbu karang alami. Peluang pemanfaatan terumbu karang buatan diteliti melalui penelitian lapang dan penelitian laboratorium. Penelitian lapang digunakan untuk melakukan proses penangkapan ikan di sekitar terumbu karang buatan. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2013. Penelitian laboratorium dilakukan pada bulan September 2013 dengan meneliti sampel usus ikan untuk mendapatkan data kelimpahan plankton yang ada dalam perut ikan. Hasil penelitian lapang menunjukkan Ikan yang tertangkap dengan bubu selama penelitian di terumbu karang buatan sebanyak 64 ekor dengan 12 spesies. Spesies yang paling mendominasi adalah ikan Nori Merah (Cheilinus fasciatus) dari famili Labridae. Komposisi plankton yang terdapat pada isi perut ikan hasil tangkapan di tiga terumbu didominasi oleh Genus Rhizosolenia dan Leptocylindricus yang merupakan indikasi baik dari suatu kondisi perairan. Nilai indeks keanekaragaman (H’), nilai keseragaman (E) dan indeks dominansi (C) pada hasil tangkapan terumbu karang buatan secara berturut adalah 0,52-0,66, 0,17-0,21 dan 0,27-0,45.Artificial reef made of coconut shell is an artificial habitat which is created to resemble the characteristics of natural reefs and become the alternative to improve the natural coral reefs that have been damaged. The opportunity of artificial reef utilization was researched by using experimental fishing and laboratory observe methods. The use of experimental fishing is to do the catching proses around the artificial reefs. The research was done in August 2013. Laboratory observe was done in September 2013 by observe the sample of fish intestines to get the data of abundance plankton from the inside of fish stomach. The results showed that 64 fishes was catches by bubu consist of 12 species. Red Breast Wrasse (Cheilinus fasciatus) from family Labridae is the dominant species. The plankton composition from the laboratory observe showed that Rhizosolenia and Leptocylindricus are the dominant plankton which indicate that the water is on good condition. Artificial diversity index ranged between 0,52-0,66; the uniformity index ranged between 0,17-0,21 and dominance index-0,45

    ANALISIS MULTIDIMENSIONAL UNTUK PENGELOLAAN PERIZINAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN : STUDI KASUS WPP LAUT ARAFURA

    Get PDF
    Perizinan penangkapan, sebagai alat pengelolaan perikanan, merupakan salah satu instrumen yang populer untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya ikan. Tujuan perizinan penangkapan ikan bagi pemerintah adalah: (1) untuk optimalisasi keberlanjutan sumberdaya ikan, (2) untuk mempertahankan keberlanjutan sumber daya ikan, dan (3) untuk mendapatkan manfaat ekonomi sebagai pendapatan pemerintah. Sebagai bagian dari manajemen perikanan, perizinan penangkapan mempengaruhi banyak aspek perikanan sebagai ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Perizinan penangkapan untuk perikanan skala besar di Laut Arafura memainkan peran penting dalam perikanan Indonesia dimana Pemerintah mengeluarkan 1.072 perizinan penangkapan atau hampir 25% dari total modal ditempatkan perizinan untuk semua perairan Indonesia. Sayangnya, Laut Arafura menghadapi banyak masalah dan isu-isu seperti penangkapan berlebih, perikanan IUU, merusak habitat ikan dan lingkungan yang mengancam keberlanjutan perikanan. Jadi penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura di masa sekarang untuk menentukan kebijakan perizinan penangkapan terbaik. Analisis RAPFISH untuk keberlanjutan perikanan (termasuk Leverage dan analisis Monte Carlo) menurut jenis utama perikanan memberikan beberapa hasil yaitu: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah berkelanjutan cukup dengan skor 53,86, (2) squid jigging, rawai dasar, jaring insang dan perikanan yang berkelanjutan cukup, tetapi jaring ikan dan udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi berkelanjutan baik dengan skor 72,43, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk masing-masing dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) menggunakan selektivitas FAD (perangkat menarik ikan), (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) manajemen pada dimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Arafura Laut untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti squid jigging, rawai dasar, dan perikanan jaring insang.Fishing license, as a tool of fisheries management, is one of the popular instrument to control fish resources utilization. The purposes of fishing license for government are : (1) to optimalization of fish resources utilitization; (2) to maintain fish resources sustainability; and (3) to gain the economic benefit as government revenue. As part of fisheries management, fishing license affect to many aspects of fisheries as ecology, economic, technology, social, and ethic. Fishing license for large fisheries scale in Arafura Sea play an important role in Indonesian fisheries as Goverment issued 1072 fishing license or almost 25% of total license issued for all Indonesian waters. Unfortunatelly, Arafura Sea faces many problem and issues like overfishing, IUU fishing, destructive of fish habitat and environment that threaten the sustainability of fisheries. So it’s important to know the sustainability state of Arafura Sea in present to determine the best fishing license policy. The analysis of RAPFISH for sustainability of fisheries (including Leverage and Monte Carlo analysis) by major type of fisheries give some results as : (1) the fisheries of Arafura Sea is sustainable enough with score 53,86; (2) squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries are sustainable enough; but fish net and shrimp net are less sustainable; (3) the ecological dimension is good sustainable with score 72,43; but the ethic dimension is less sustainable with score 37,26. The leverage analysis shows the attributes which give the highest influence to each dimensions as: (1) size of fish on ecology dimension; (2) sector employment on economic dimension; (3) FAD (fish attracting devices) using and gear selectivity on technology dimension; (4) education level on social dimension; and (5) just management on ethic dimension. It’s recommended for Arafura Sea fisheries development to promote the sustainability fishing gears like squid jigging, bottom longline, and gillnet fisheries

    PENGARUH TURBULENSI TERUMBU BUATAN SILINDER BERONGGA BAGI KESUBURAN PERAIRAN

    Get PDF
    Plankton sebagai indikator kesuburan perairan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dan tingkat sebaran nutriennya. Pola sebaran dan ketersediaan unsur di sekitar habitat struktur juga dipengaruhi oleh adanya turbulensi di sekitar terumbu buatan yang terjadi. Sehingga salah satu cara meningkatkan kesuburan perairan yaitu dengan cara meningkatkan tingkat turbulensinya. Dalam makalah ini akan dikaji model pola aliran di sekitar terumbu buatan berbentuk silinder, diharapkan bentuk terumbu yang diusulkan dapat meningkatkan turbulensi dan jumlah plankton yang tertahan di sekitar terumbu buatan ditempatkan. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan intensitas turbulen di sekitar perairan yang terjadi diantara rongga-rongga terumbu dan diukur pada saat kondisi tanpa terumbu (eksisting) sebesar 1.022 dan terdapat terumbu sebesar 0.655. Diharapkan keberadaan terumbu buatan ini dapat meningkatkan kesuburan perairan dengan menahan aliran plankton agar bergerak ke dalam terumbu sehingga bisa berlindung dan tidak bergerak melewati terumbu menuju pantai. Dengan demikian nantinya di dalam terumbu bisa melakukan pemijahan, perkembangbiakan serta pertumbuhan didalamnya.Plankton sebagai indikator kesuburan perairan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dan tingkat sebaran nutriennya. Pola sebaran dan ketersediaan unsur di sekitar habitat struktur juga dipengaruhi oleh adanya turbulensi di sekitar terumbu buatan yang terjadi. Sehingga salah satu cara meningkatkan kesuburan perairan yaitu dengan cara meningkatkan tingkat turbulensinya. Dalam makalah ini akan dikaji model pola aliran di sekitar terumbu buatan berbentuk silinder, diharapkan bentuk terumbu yang diusulkan dapat meningkatkan turbulensi dan jumlah plankton yang tertahan di sekitar terumbu buatan ditempatkan. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan intensitas turbulen di sekitar perairan yang terjadi diantara rongga-rongga terumbu dan diukur pada saat kondisi tanpa terumbu (eksisting) sebesar 1.022 dan terdapat terumbu sebesar 0.655. Diharapkan keberadaan terumbu buatan ini dapat meningkatkan kesuburan perairan dengan menahan aliran plankton agar bergerak ke dalam terumbu sehingga bisa berlindung dan tidak bergerak melewati terumbu menuju pantai. Dengan demikian nantinya di dalam terumbu bisa melakukan pemijahan, perkembangbiakan serta pertumbuhan didalamnya

    EVALUASI PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Produksi ikan merupakan salah satu indikator kinerja armada penangkapan.  Ukuran upaya penangkapan akan menentukan produksi tersebut.  Dinamika perikanan tangkap dapat digambarkan dari fluktuasi upaya penangkapan ikan, produksi dan produktivitas penangkapan ikan.  Perikanan di pantai barat Sulawesi Selatan dibedakan menjadi  3 perikanan menurut perairan di hadapan provinsi tersebut, yaitu zona A (perairan Kepulauan Spermonde), zona B (Teluk Mandar), dan zona C (perairan Kabupaten Majene dan Mamuju).  Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja perikanan tangkap pada ketiga zona perikanan setelah melakukan standarisasi upaya penangkapan dari 8 delapan jenis unit penangkapan ikan, serta mempertimbangkan kebijakan pembangunan perikanan dalam kurun waktu 30 tahun (1977-2006).  Armada penangkapan ikan dari ketiga zona perikanan menunjukkan tren signifikan menurun hubungan antara upaya penangkapan dan CPUE (catch perunit effort) untuk kurun waktu tersebut. Kinerja perikanan tangkap sesuai periode kebijakan pembangunan perikanan di ketiga zona perikanan menunjukkan zona A dan B telah optimum dibandingkan zona C.  Pengelolaan perikanan tangkap disetiap zona perikanan harus memperhatikan karakteristik dari masing-masing zona perikananFish production is one of indicators to measure performance of a fisheries. Level of fishing effort will determine the amount of fish production. Dynamics of capture fisheries can be described from fluctuations in fish production, fishing effort and fishing productivity. The capture fisheries in the the western coast of Sulawesi can be distinguished into three fisheries, i.e. The marine area adjacent to the studied coast is divided into three zones, zone A (waters around Kepulauan Spermonde), zone B (Bay of Mandar), and zone C (waters of Majene dan Mamuju Districts). The objective of this research is to compare dynamics of fisheries performance among the three zones. To calculate total fishing effort performed by the entire fishing fleets, standardization of 8 fishing gear was done. This research utilized fisheries data sets covering a period of 30 years (1977-2006). Fishing fleets in each zone showed a negative relationship between fishing effort and the CPUE, i.e higher fishing effort lower CPUE, over the time period. Fisheries performance in each zone was affected by development policy, the fisheries in zones A and B have reached their optimum level earlier than the fisheries in zone C. Fisheries management for each zone should consider local characteristics of fishing fleets and fish resources

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇