Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA DRIFTER BUOY
Penggunaan drifter untuk penelitian di bidang oseanografi telah cukup lama dilakukan, namun perancangan, dan pengembangan dari instrumen ini masih terus dilakukan. Rancangan yang murah, ringan dan stabil merupakan beberapa syarat yang dituju oleh para perancang drifter. Di Indonesia penggunaan drifter sebagai alat penelitian oseanografi masih jarang dilakukan dan drifter yang dilepas oleh ARGOS pun hampir tidak ada yang memasuki perairan Indonesia, sehingga penelitian dan analisis data berbasis data drifter inipun masih jarang dilakukan di Indonesia. Ohlman, (2007) mengembangkan drifter yang dirancang untuk perairan pesisir. Beberapa syarat yang ditemukan yaitu drifter pesisir harus memiliki resolusi spasial beberapa meter dan sampel posisi dilakukan setiap beberapa menit. Pengukuran near-real-time data telemetri diperlukan sehingga drifter dapat dilacak dan dipulihkan. Dalam makalah ini diuraikan hasil desain dan konstruksi sistem drifter, serta hasil ujicoba lapang. Diharapkan dari data pengamatan drifter dapat dikembangkan lebih lanjut drifter yang handal dan berkualitas.The modern drifter buoy is a high-tech version of the "message in a bottle". It consists of a surface buoy and a subsurface drogue, attached by a long, thin tether. The buoy measures temperature and other sea/air properties, and has a transmitter to send the data to passing satellites. Drifters buoy for oceanographic research in the field had long been developed, but the design and construction of this instrument is still on going process. The major goal of the drifter intended by the designers of the drifter are cheap, lightweight and stable on several conditions. This study attempted to produce a drifter system capable of measuring position, speed and direction of surface current using a microcontroller, GPS and GSM technology as the data transmitter and receiver. There are 3 main parts of the drifter. They are the electronic systems, software and vehicles. Electronic systems are built from the microcontroller ATmega32, storage SD / MMC cards, transmission using GSM modem, GPS as a sensor position and velocity, and DALLAS DS18B20 as temperature sensors. The software is divided into 2 parts: software that is embedded into vehicle and software to control and receiving data in ground segment. Vehicle is divided into 2 main parts, first is float to house electronics system and drogue to maintain a position of drifter from the influence of surface wind. GPS used has a precision of 10 m, therefore the determination of position requires a certain time interval, this interval is very dependent on the speed of surface currents in the area. The results of performance test systems in the field showed that the design is able to record 95% -99% of the data successfully at 64 bps transfer speed. Field trial results also showed 85% and 93% successful data transmission using the GSM network with the power used in these systems totaling approximately 541-544 mW. The value of drag area ratio is 53.38, greater than 40 indicates that the drifter is produced has a pretty good ability to follow the movement of the water
ANALISIS UPAYA PENANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI SELAT MAKASSAR, PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN
Upaya penangkapan ikan adalah seluruh kemampuan yang dikerahkan oleh berbagai jenis unit penangkapan ikan yang tergabung sebagai suatu armada penangkapan ikan untuk memperoleh hasil tangkapan. Delapan jenis alat penangkap yang signifikan di Selat Makassar, perairan barat Provinsi Sulawesi Selatan adalah payang, pukat pantai, pukat cincin, jaring insang hanyut, jaring lingkar, jaring insang tetap, bagan perahu dan bagan tancap. Total upaya penangkapan ikan tahunan dari kedelapan jenis unit penangkapan ikan tersebut dihitung untuk kurun waktu selama 30 tahun (1977-2006) dengan menerapkan standarisasi berdasarkan kemampuan setiap jenis unit penangkapan ikan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi dinamika upaya penangkapan ikan di tiga zona kawasan perairan pantai, yaitu perairan di sekitar Kepulauan Spermonde (zona A), di sekitar Teluk Mandar (zona B) dan di sekitar Majene dan Mamuju (zona C), khususnya dengan mempertimbangkan kondisi perikanan pada empat periode pembangunannya, yaitu: (1) motorisasi (1977-1982), (2) penyaluran kredit (1983-1990), (3) pemberdayaan masyarakat nelayan (1991-1997), dan (4) desentralisasi pengelolaan (1998-2006). Upaya penangkapan meningkat dan produktivitas setiap unit penangkapan menurun dalam kurun waktu 30 tahunFishing effort can be regarded as a total mobilized capability made by fishing fleet to produce catch. There are 8 types of significant fishing units operated in Makassar Strait, off west coast of South Sulawesi Province; these are boat seines, beach seines, purse seines, drift gillnets , encircling gillnets, set gillnets, boat liftnets and fixed liftnets. Annual total fishing effort made by the 8 types of fishing units over a period of 30 years (1977-2006) were calculated after standardization considering variability in capture capacity among them. An analysis was carried out to identify fishing effort dynamics in three predefined fishing sub-areas: around Spermonde Islands (zone A), off Polmas and Pinrang District (zone B) and off Majene and Mamuju District (zone C), especially to concidering capture fisheries condition within four predefined development periods: (1) motorization program (1977-1982), (2) credit loan program (1983-1990), (3) coastal community empowerment program (1991-1997), and (4) desentralized fisheries management (1998-2006). Fishing effort increases and fishing units productivity decrease over a period of thirty years perio
ASPEK BIOTEKNIK DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN TERI DI PERAIRAN PALABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI
The research objective to lay open aspects of technique and bio-technique in optimal anchovy resources utilization in Palabuhanratu water in order to anchovy resources can be exploited on the responsible fisheries condition. Its calculation is done to use approach Clark, Yoshimoto and Pooley (CYP), Walter-Hiborn (W-H) and Fox Algorithm models. This research use time series data from 1997 until 2007. The result show that the construction of bagan rakit in Palabuhanratu water consisted of the bagan house, bagan net, anjang-anjang and roller. In its operational, they use 6 units of carrosene lamps. During period 1997 to 2007, amount of unit and effort of bagan rakit to tend to increase, while production of anchovy tend to decrease and increasing to productivity of bagan rakit. Mean of actual production of anchovy resources 30.48 tons per year and actual effort is 26,816 trips per year. Estimation model of anchovy resources management in Palabuhanratu water appropriate Fox Algorithm model, with of static optimal production of equal to 38.51 tons per year and optimal effort of equal to 32,049 trips per year. Result of calculation at period 1997 to 2007 indicating that anchovy resources utilization in Palabuhanratu water can be categorized not yet degraded and biological over fishing.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan aspek teknik dan aspek bioteknik dalam pemanfaatan optimal sumberdaya ikan teri di Perairan Palabuhanratu agar sumberdaya ikan teri dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Perhitungan dilakukan menggunakan pendekatan model Clark, Yoshimoto dan Pooley (CYP), Walter-Hiborn (W-H) dan Algoritma Fox. Penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 1997-2007. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi bagan rakit di Perairan Palabuhanratu terdiri atas rumah bagan, jaring bagan, anjang-anjang dan penggulung. Dalam operasionalnya alat tangkap ini dilengkapi dengan 6 buah lampu petromaks. Selama periode 1997-2007, jumlah unit dan effort bagan rakit cenderung meningkat, sedangkan produksi ikan teri cenderung menurun dan produktivitas bagan rakit cenderung meningkat. Produksi aktual rata-rata sumberdaya ikan teri sebesar 30,48 ton per tahun dengan tingkat upaya aktual mencapai 26.816 trip per tahun. Model estimasi pengelolaan sumberdaya ikan teri di Perairan Palabuhanratu yang lebih sesuai adalah model Algoritma Fox, dengan tingkat produksi optimal statik sebesar 38,51 ton per tahun dan tingkat upaya sebesar 32.049 trip per tahun. Hasil perhitungan pada periode 1997-2007 menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu dapat dikategorikan belum terdegradasi dan belum mengalami biological overfishing
KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA TUAL
Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual (PPN Tual) terletak dekat dengan Laut Banda (WPP-NRI 714) dan Laut Arafura (WPP-NRI 718) yang juga merupakan daerah penangkapannya. Dengan potensi daerah penangkapannya, seharusnya kinerja operasional di PPN Tual dapat berjalan dengan baik dan berkembang. Kenyataannya PPN Tual belum beroperasi secara optimal berdasarkan standar pelabuhan perikanan tipe B. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Nilai Kinerja operasional PPN Tual. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode studi kasus terhadap kinerja operasional PPN Tual yang dianalisis dengan menggunakan scoring method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Kinerja operasional PPN Tual adalah 21,61% dan dikatakan buruk.Tual Archipelagic Fishing Port (PPN Tual) is located near the Banda Sea (WPP-NRI 714) and the Arafura Sea(WPP-NRI 718) which is also an area of fishing ground. The potential of fishing ground, it should be operational performance in PPN Tual can well and growing. In fact PPN Tual has not been operating optimally based on the standards of the fishing port type B. The purpose of the research are to get the value of performance and strategy to increase of operational performance PPN Tual. The research was conducted using the case study method of operational performance in PPN Tual that analyzed using is scoring method. The results showed that the value operational performance of PPN Tual is 21.61% and it was said that the PPN Tual operational performance is bad
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TAMBAK UDANG DI KECAMATAN CIJULANG DAN PARIGI, CIAMIS, JAWA BARAT
Pemilihan lokasi tambak yang salah akan menimbulkan masalah, diantaranya adalah meningkatkan biaya konstruksi, operasional, dan dapat menimbulkan masalah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kesesuaian lahan tambak udang dengan mempertimbangkan perencanaan sempadan pantai dan sempadan sungai di Kecamatan Cijulang dan Parigi. Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam menentukan tingkat kesesuaian lahan tambak yang ada di lokasi tersebut. Parameter yang diperhitungkan dan dianalisis adalah: penggunaan lahan; tekstur tanah; jenis tanah; kelerengan lahan; jarak dari sungai; jarak dari pantai; pH air; dan salinitas. Hasil analisis spasial tersebut kemudian ditambahkan faktor pembatas sempadan sungai dan pantai sehingga luas tambak udang seluruhnya yang sebesar 23,8 ha terbagi menjadi tiga kelas kesesuaian, yaitu sangat sesuai sebesar 11,7 ha (49,0%); sesuai sebesar 1,0 ha (4,3%); dan tidak sesuai sebesar 11,1 ha (46,6%). Tidak terdapat tambak di area sesuai bersyarat. Tambak yang eksis di wilayah ini hampir seluruhnya berada pada wilayah yang seharusnya menjadi sempadan sungai. Agar tercipta pengelolaan tambak yang lestari, perlu adanya kerjasama yang baik antara pengelola tambak dengan pemerintah.Selection of wrong location fishponds will cause the problems, such as increasing the cost of construction, operational, and may cause environmental degradation. The purpose of this study was to evaluate the land suitability for shrimp farms considering the coastal and river border planning maps in Kecamatan Cijulang and Parigi. This study uses the Geographic Information Systems (GIS) to determine the level of compliance of existing shrimp farms in the area. The parameters taken into calculated are: land use; soil texture; soil type; land slope; distance from the river; distance from the shore; water pH, and salinity. The result of the spatial analysis was added by limiting factor coastal and river border, so the extensive shrimp farms area is 23.8 ha divided into three classes of suitability, namely very accordance (11.7 ha or 49.0%); accordance (1.0 ha or 4.3%), and not in accordance (11.1 ha or 46.6%). There are no shrimp farms in the area of conditional suitability. The existing farm in this region is almost entirely located in the area that should be a river border. In order to keep a sustainable shrimp farms management, it is needed a good cooperation between the management of the shrimp farms and the government
DESAIN PROTOTIPE KAPAL PENANGKAP DI PERAIRAN MALUKU
Desain prototipe teknologi yang akan dikembangkan mempunyai keunggulan yang lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi kapal penangkap saat ini. Keunggulan-keunggulannya dapat berpengaruh terhadap pengoperasian kapal serta sumberdaya perikanan di perairan Maluku. Pengembangan desain joran pancing dengan menggunakan fiber glass mempunyai kelebihan lebih ringan, kuat, dan tahan lama walaupun harganya mahal tapi dapat diimbangi dengan hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap ini. Disamping itu juga penggunaan styro foam sangat berpengaruh terhadap desain kapal huhate yang diusulkan untuk dikembangkan serta mempunyai beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan kapal yang dipakai nelayan saat ini. Pada kapal dengan inboard engine, desain palka hanya menghasilkan produk untuk pasaran lokal dan belum dimodifikasi untuk menghasilkan produk skipjack loin yang merupakan suatu bentuk produk ekspor, yang belakangan ini permintaan akan produk tersebut sangat tinggi.Design prototype teknology which will be developed has better excellence if compared to condition of the existing fishing vessel. Its the excellences can have an effect on to operation of ship and sumberdaya fishery in water territory of Maluku sea. Expansion of design joran fishing by using fiber glass has lighter excess, strong, and durable although the price expensive but can be made balance to with haul obtained by means of catch. Side that also usage of styro foam hardly having an effect on to ship design huhate proposed to be developed and has some excellences of if compared to ship used by the existing fisherman. At ship with inboard engine, fish hold design only yield product for local marketing and has not been modified to yield product skipjack loin which is a form of export product, this latter the product request would very height
PEMILIHAN MODEL CO-MANAGEMENT PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP
Pemilihan model co-management pengelolaan perikanan tangkap di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sangat ditentukan oleh kriteria/aspek pengelolaan yang ingin dicapai, kondisi pengelolaan yang ada saat ini, dan alternatif model co-management yang ditawarkan dalam pengelolaan perikanan tangkap. Pemilihan model co-management pengelolaan perikanan tangkap di lokasi studi ini juga dipengaruhi berbagai kendala/pembatas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pemilihan model comanagement perikanan tangkap di Pelabuhanratu. Penelitian ini menggunakan metode AHP. Beberapa komponen pengelolaan berinteraksi signifikan adalah (a) aspek biologi urutan pertama yaitu dengan rasio kepentingan RK = 0,346 pada IR = 0,07. (b) aspek ekonomi urutan ke dua yaitu dengan rasio kepentingan RK = 0,286 pada IR = 0,07. (c) aspek sosial urutan ketiga terkait yaitu dengan RK= 0,205 pada IR = 0,07.Option of Co-management model of fisheries management in pelabuhanratu, sukabumi regency, west java is largely determined by the criteria / management aspect to be achieved, the management of conditions that exist today, and alternative co-management model is offered in the management of capture fisheries. Election of co-management model of fisheries management in study area is also influenced by a variety of obstacles / barries. This study aims to formulate a model selections Fisheries co-management in pelabuhanratu catch. This study uses the AHP method. Several significant interaction management components are (a) The biological aspects of the firts order of the ratio of interest RK = 0.346 to IR =0.07. (b) The economic aspects of the sequence in two, namely the ratio of interest RK = 0.286 to IR= 0.07 (c) Social aspects that is associated whit a third order RK = 0.25 at IR = 0.07
MODEL PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN YANG BERSINERGI DENGAN FUNGSI KONSERVASI KAWASAN (STATUS KASUS PENGELOLAAN SERO BERKANTONG DI PERAIRAN TELUK TIWORO, PROVINSI SULAWESI TENGGARA)
Pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan Teluk Tiworo cenderung destruktif dan hanya mengejar manfaat ekonomis, meskipun perairan tersebut telah dinyatakan sebagai kawasan konservasi laut berdasarkan SK Bupati Kabupaten Muna No. 157 Tahun 2004. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian sero berkantong dengan karakteristik perairan, pola dinamis optimasi penggunaannya, dan kelayakan pengusahaan sero berkantong di Teluk Tiworo. Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis kesesuaian (Jusuf, 1999 dan Mustaruddin, 2005), analisis sistem dinamis (Muhammadi, et. al, 2001), dan analisis usaha (Gaspersz, 1992). Hasil penelitian menunjukkan sero berkantong sesuai dengan sifat alat tangkap ramah lingkungan (NK=3,4), potensi sumberdaya ikan kawasan (NK=3,0), kebutuhan masyarakat (NK=3,3), perangkat hukum terkait (NK=3,2). Jumlah optimal sero berkantong yang dapat dioperasikan secara dinamis di perairan Teluk Tiworo sekitar 15 unit. Pengusahaan sero berkantong dapat mendatangkan keuntungan bersih (π) yang positif, yaitu sekitar Rp 70.716.800 per bulan. Bila nelayan anggota pengelola sero berkantong berjumlah 15 orang, maka setiap anggota akan mendapat bagi hasil sekitar Rp 4.714.453 per bulanUtilization of fisheries resources in territorial water of Tiworo Bay have tendency to destructive and pursuing only economic benefit, though the territorial water have been expressed by as area of sea conservation pursuant to SK of Head of Muna Regency No. 157 Year 2004. This research aim to knowing compatibility of sero have bag with characteristic territorial water, dynamic pattern of optimation its use, and elegibility of sero have bag effort in Tiworo Bay. Reseach method are analysis of according to (Jusuf, 1999 and Mustaruddin, 2005), analysis of dynamic systems (Muhammadi, et. al, 2001), and effort analysis (Gaspersz, 1992). Result of the research show sero have bag as compatible with environmental friendliness character of catch appliance (NK=3,4), potency of fisheries resources (NK=3,0), requirement of socialize (NK=3,3), law peripheral (NK=3,2). Optimal amount of sero have bag which can be operated dynamicly in territorial water of Tiworo Bay about 15 unit. Effort of sero have bag can conducive to clean advantage (π) which are positive, that are about Rp 70.716.800 per month. If member of fisherman sero organizer amount to 15 people, hence each people will get holder about Rp 4.714.453 per month
PERIKANAN TANGKAP KEMBUNG (RASTRELLIGER SP.) DI PERAIRAN SEKITAR TELUK BUYAT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelajahi indian makarel perikanan di Teluk Buyat oleh waktu penampilan dan lokasi memancing. Data harian makarel India penangkapan dikumpulkan selama periode Agustus 2004 sampai Mei 2009. Mereka ditangkap oleh nelayan menggunakan handline, drift gillnet dan pukat pantai. Makarel India tertangkap di Teluk Buyat terdiri dari Rastrelliger neglectus dan R. kanagurta memasuki lokasi memancing dalam jumlah besar dengan tiga bulan di setiap tahun. Musim nelayan terjadi dalam setiap enam bulan. Lokasi nelayan sekitar Teluk Buyat untuk Racun pulauThe purpose of this research are to explore the indian mackerel fisheries on Buyat Bay by the appearance time and the fishing locations. Daily data of Indian mackerel catching was collected during period August 2004 to May 2009. They were caught by fishermen using handline, drift gillnet and beach seine. The Indian mackerel were caught in Buyat Bay consist of Rastrelliger neglectus and R. kanagurta entered the fishing location in enourmous numbers by three months in every year. The fishing season was occurred in every six months. The fishing location was around Buyat Bay to Racun isle
KAJIAN TINGKAT KECELAKAAN FATAL, PENCEGAHAN DAN MITIGASI KECELAKAAN KAPAL-KAPAL PENANGKAP IKAN YANG BERBASIS OPERASI DI PPP TEGALSARI, PPN PEKALONGAN DAN PPS CILACAP
Kinerja keselamatan armada kapal-kapal penangkap ikan ditunjukkan dengan tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan dan posisi risiko kecelakaan armada kapal penangkap apakah berada pada posisi yang unacceptable risk, intermediate risk atau acceptable risk. Tingkat Kecelakaan Fatal armada kapal di PPP Tegalsari, PPN Pekalongan dan PPS Cilacap menunjukkan angka 115 orang meninggal per 100.000 awak kapal pertahun dan masih lebih tinggi bila dibanding tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan tingkat dunia, yakni 80 orang meninggal/100.000 awak kapal. Posisi risiko kecelakaan berada pada posisi yang unacceptable risk artinya perlu upaya penurunan risiko kecelakaan dalam kurun waktu satu tahun. Diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi untuk menurunkan risiko kecelakaan melalui berbagai hal, yaklni: (1) pelatihan kompetensi keselamatan dan pelayaran bagi para nakhoda dan ABK, (2) peningkatan safety awareness bagi pemilik kapal, Syahbandar pelabuhan perikanan, pengawas kapal perikanan, penyuluh perikanan tangkap, pengajar pada lembaga pendidikan dan pelatihan perikanan, pemuka masyarakat nelayan dan keluarga nelayan, penegakan hukum atas keselamatan kapal perikanan, (3) asuransi awak kapal, (4) membangun standar pendidikan dan pelatihan dan sertifikasi pelaut perikanan, standar kapal penangkap ikan, standar pengawakan dan membangun sistem ketenagakerjaan pada kapal penangkap ikanSafety performance of a fishing vessels fleet is indicated by the Fatality Accident Rate (FAR) of fishing vessels and the position of risk on F-N Curve, wether the risk position at unacceptable risk, intermediate risk or acceptable risk. The FAR of the fishing vessles, from fishing based at Tegalsari Coastal Fishing Port, Pekalongan Archipelagic Fishing Port and Cilacap Oceanic Fishing Port are 115 persons death/missing at sea per 100.000 fishermen per year and if it is compared with the FAR of the world fishing fleet, is still consider higher. Therefore, a necessary measures to reduce accident risk of fishing vessels accident with prevention and mitigation are needed. Some of the measures that we suggest to encompass the problem related to the fatal accident are: (1) training of navigation and safety competences for skippers and crew members;(2) increasing safety awareness for the fishing vessel owners, Fishing Port harbour master, fishing vessel inpectors, fisheries extension workers, instructors of fisheries education and training, community local leaders and fishermen families, (3) crews insurance, and (4) providing fishing vessel standard, ship manning standard and works in fishing standard, education, training and certification standar and standar of works in fishing