Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PENGARUH FAKTOR PRODUKSI TERHADAP PENGEMBANGAN PERIKANAN TUNA DI KOTA AMBON

    Get PDF
    Tujuan penelitian yaitu menganalisis tingkat pengaruh faktor produksi terhadap pengembangan industri perikanan tuna di Kota Ambon. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan yaitu ukuran kapal, ukuran alat tangkap, lama trip, pegggunaan BBM, pengunaan es, air tawar dan jumlah ABK. Data berasal dari nelayan tuna Kota Ambon. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda tentang hubungan produksi ikan tuna mendapat nilai signifikansi (sig) 0,000. Nilai sig berada dalam range kepercayaan < 0,005 berarti model regersi ini dapat memprediksi produksi perikanan tuna. Koefisien determinan (R2) sekitar 0,719 menunjukan pengaruh bersama-sama faktor produksi dapat menjelaskan 71,9% naik turun produksi tuna. Bila melihat nilai signifikansi setiap faktor produksi terhadap produksi, maka hanya penggunaan BBM (X4) dan penggunaan es balok (X5) yang mempunyai nilai signifikansi < 0,05 (0,000). Penggunaan BBM memang berpengaruh tetapi tidak berpengaruh mendukung perkembangan tuna di Kota Ambon. Kesimpulan yang di ambil dari penelitian ini adalah faktor produksi yang sangat mempengaruhi produksi perikanan tuna di Kota Ambon adalah penggunaan BBM dan penggunaan es balok  yang mempunyai nilai signifikansi < 0,05 yaitu 0,000.The purpose of the study is to analyze the influence level of the production factors to development of the tuna fishing industry in Ambon City. The data collected are the vessel size, gear size, long trip, fuel use, ice use, fresh water and the number of crew. The data comes from Ambon tuna fishermen. Data collected are primary and secondary data. The analysis used is multiple regression analysis. Multiple regression analysis of the relationship of tuna production gets the value of significance (sig) 0,000. Sig be in the range of beliefs <0.005 means that the regression model can predict the tuna fishery production. Determinant coefficient (R2) of about 0.719 shows the influence of production factors together could explain 71.9% up and down the production of tuna. Base on the significance value of each production factor to production, only the use BBM (X4) and the use of ice cubes (X5) which has a significance value <0.05 (0.000). Use of X5 is influential but has no effect supports the development of tuna in Ambon City. Conclusions taken from this study is the production of factors that influence the production of tuna fisheries in Ambon is the use BBM and the use of ice cubes (X5) which has a significance value <0.05 is 0.000

    DINAMIKA DAN KARAKTERISTIK UNIT PENANGKAPAN IKAN DI KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR

    Get PDF
    Unit penangkapan ikan dan pengoperasiannya di Pacitan sangat beragam. Keragamannya menyulitkan pengelolaan perikanan. Memahami dinamika dan karakteristik unit penangkapan ikan, dan pengoperasiannya diperlukan untuk keberhasilan pengelolaan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kapal atau perahu penangkap ikan, alat penangkap ikan, nelayan, daerah penangkapan ikan, dinamika pengoperasian alat penangkap ikan, dan menentukan pengelompokkan unit penangkapan ikan.Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari, April dan Mei 2013 di Pacitan Kabupaten, Provinsi Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara pribadi dan observasi. Data dianalisis secara deskriptif dengan tabel, grafik, gambar, dan analisis cluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan ikan tersebar di sepanjang pesisir Pacitan. Alat penangkap ikan yang dioperasikan adalah kapal motor, perahu motor tempel, dan perahu tanpa mesin. Perahu motor tempel mencapai 84 persen dari populasi perahu di Pacitan. Di sisi lain, alat penangkap ikan yang beroperasi di Pacitan adalah perangkap, pancing, jaring insang, pukat tarik, purse seine, dan jaring angkat. Menggunakan empat parameter (panjang kapal, tenaga mesin, kru, dan alat penangkap ikan) diperoleh setidaknya 6 pola jenis operasi penangkapan ikan. Variasi pola penangkapan ikan disebabkan oleh kemampuan modal dan keterampilan nelayan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa unit penangkapan ikan di Pacitan bervariasi dan didominasi oleh perahu motor tempel yang memiliki 6 pola operasi penangkapan ikan.Unit fishing and operation in Pacitan very varied, these variations complicated the management of fisheries. Understanding on fishing unit dynamic and characteritic is very important in fisheries management. The purpose of this research is to analyze characteristic of fishing unit, fishermen, fishing ground, and also to classify the fishing operational patterns. This research was conducted in February, April and May 2013 in Pacitan District, East Java Province. The data collection were conducted by personal interview and observation. The data were analysed by descriptive table and cluster analysis. The results showed that fishing activities scattered along the Pacitan coastal area. Fishing gear were operated inboard, outboard, and without engine. Outboard engine reach 84 percent from population. On the other hand, fishing gear which operated in Pacitan are traps, hooks, gillnet, seine net, purse seine, and liftnet. Using four parameters (length of ship, engine power, crews, and fishing gear) the cluster analysis resumed 6 patterns of fishing operation type. Variation of fishing patterns caused by capital ability and fishermen’s skills. This research concluded that the fishing unit in Pacitan is varied and dominated by outboard engine that has 6 fishing operation patterns

    MODEL PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP BERBASIS MINAPOLITAN DI KABUPATEN GORONTALO UTARA

    Get PDF
    Sumberdaya Perikanan di Gorontalo Utara sangat besar. Potensi Manajemen Perikanan Daerah dari Laut Sulawesi ke Samudera Pasifik mencakup sekitar 590,970 ton ikan pelagis, termasuk 175.260 ton pelagis besar, 384,750 ton pelagis kecil dan jenis ikan lainnya sekitar 30,960 ton. Di sisi lain, pemanfaatan sumberdaya perikanan masih minimum hanya 46%. Pemerintah Gorontalo Utara menetapkan perikanan tangkap sebagai program utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat untuk meminimalkan kurangnya pemanfaatan sumberdaya perikanan. Pemerintah harus menyadari situasi ini untuk merumuskan dan memutuskan setiap kebijakan. Kebijakan yang telah diterapkan di tahun terakhir di Gorontalo Utara adalah Minapolitan yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia bergabung dengan Pemerintah Daerah. Jadi, penelitian pengembangan penangkapan perikanan berdasarkan Model minapolitan diperlukan untuk merancang model kebijakan sebagai panduan untuk memutuskan kebijakan perikanan tangkap. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis produksi surplus untuk menganalisis sumber daya ikan yang tepat untuk menangkap ikan, dan analisis SEM (Struktur Equation Modeling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya perikanan masih kurang di bawah MSY (Maximum Sustainable Yield). Beberapa program yang harus dikembangkan adalah purse seine, tuna hand line, bagan, garis tangan, dan payang. Tujuan dari kebijakan minapolitan adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan produksi perikanan penangkapan dan menjamin kualitas perikanan tangkap.Fishery resources at NorhGorontalo disrict was huge. The potential of Fishery Management Area from Laut Sulawesi to Pasicific Ocean includes around 590.970 ton of pelagicdivided into175.260 ton large pelagic, 384.750 ton small pelagic and the other kind of fish around 30.960 ton. On the other hand, the utilization of fishery resources still minimun that was only 46%. Government at North Gorontalo made capture fisheris as a main program to improve society welfare to minimize the lack of fishery resources utilization. The government should be aware of this situation to formulate and decide each policy. Policy that has been applied in this recent year in NorthGorontalo district was Minapolitan and it was held by the Indonesia Ministry of Marine and Fishery joined with Local Government. So, research of development fishery capture based minapolitan model was needed to designed a policy model as a guide to decide a capture fisheries policy. Methodology that using in this research was surplus production analysis to analyze the fish resource, proper tools to capture fish analysis, and SEM (Structure Equation Modeling) analysis. The result of this research showed that the utilization of fishery resources still lack under MSY (Maximum Sustainable Yield). Some of programs that should be developed were purse seine, hand line tuna,liftnet, hand line, and payang. The objective of minapolitan policy was creating local economic growth and increasing capture fisheries production and guarantee the quality of capture fisheries

    ZONASI GEOMORFOLOGI DAN KOREKSI KOLOM AIR UNTUK PEMETAAN SUBSTRAT DASAR MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD

    Get PDF
    Salah satu kelemahan metode koreksi kolom air adalah dapat memunculkan bias dalam estimasi rasio koefisien atenuasi.  Bias ini berkontribusi pada nilai akurasi tematik peta substrat dasar. Studi ini menggunakan pendekatan zonasi geomorfologi untuk meningkatkan akurasi tematik peta substrat yang dihasilkan dari metode koreksi kolom air.  Nilai piksel citra Quickbird dikonversi ke radiansi dan dilanjutkan dengan koreksi kolom air untuk menghasilkan peta substrat dasar dengan tiga tema: substrat dominan pasir, lamun dan karang.  Data lapangan dikelompokkan menggunakan metode Bray curtis dan menjadi dasar bagi reklasifikasi.  Profil geomorfologi dicitra disadap dari gabungan kanal hijau dan merah, mengacu pada hasil survei batimetri.  Akurasi tematik metode kombinasi ini dapat mencapai lebih dari 80%.Bias may occur on attenuation coefficient ratio estimated from water column correction method. This bias then contribute to thematic accuracy of bottom substrate images. This study used geomorphologic spatial zonation to improve thematic accuracy of bottom substrate maps that produced from water column correction method. Quickbird pixel values were converted to the top of atmosphere radiance and followed by water column correction to make bottom substrate map with three themes i.e. sand, seagrass and coral reef. Field data were grouped using Bray Curtis method and become basis of image reclassification. Geomorphological profile was extracted from green and red composite images, refer to a bathymetric survey. This combined method was significantly reach the thematic accuracy up to more than 80%

    PROFIL BATIMETRI HABITAT PEMIJAHAN IKAN TERUMBU HASIL INTEGRASI DATA INDERAJA SATELIT DAN AKUSTIK: Studi Kasus Perairan Sekitar Pulau Panggang, Kepulauan Seribu

    Get PDF
    Teknologi penginderaan jauh, optik maupun akustik, berperan sebagai perangkat utama dalam memetakan kondisi batimetri secara sinoptik dan efisien. Di perairan Kepulauan Seribu yang kompleks, profil batimetri dapat berubah akibat proses alami seperti akresi/erosi terumbu oleh biota karang/ikan dan badai, maupun akibat kegiatan manusia seperti eksploitasi pasir/karang dan penangkapan ikan (menggunakan muroami dan bom). Dalam tulisan ini, elaborasi profil batimetri di perairan sekitar Pulau Panggang akan didasari oleh kombinasi set data inderaja optik-akustik untuk mengeksplorasi habitat pemijahan ikan terumbu. Sebanyak 17 stasiun telah disurvei untuk mengamati tanda pemijahan dan ikan terumbu yang terkait (misalnya: ikan betina gravid, perubahan warna pada ikan jantan, agregasi, dll) selama periode Oktober 2010-Maret 2012. Citra Quickbird 2008 dan data akustik bim tunggal dikonversi dalam format raster berukuran grid 1 m menggunakan teknik interpolasi Inverse Distance to Power untuk menghasilkan peta batimetri 2-dimensi dan 3-dimensi yang menggambarkan kondisi dasar perairan laut dangkal. Profil terrain (kemiringan lereng) menggambarkan kondisi lateral batimetri untuk setiap lokasi yang menunjukkan tanda pemijahan ikan terumbu.Remote sensing technology, both optic and acoustic, serves as major tool for mapping bathymetry synoptically and efficiently. In complex coral cays as Kepulauan Seribu, bathymetric profile may change gradually due to naturally controlled reef accretion/erotion, sand/coral exploitation activities, storms, and mostly several types of fishing techniques (muroami and blast fishing). In this paper, elaboration on bathymetric profiles originated from coupled optic-acoustic dataset will be applied in account for understanding reef fish spawning habitats. A total of 17 reef sites were surveyed in situ to record reef fish with spawning cues (eg: female gravid, male change color, aggregation, etc) in between October 2010-March 2012. A 2008 Quickbird imagery and single beam acoustic data were gridded at 1 m by interpolation using Inverse Distance to Power method resulted in 2-dimension and 3-dimension bathymetric maps thus revealing complex detail of seabed at shallow and deeper depths. Terrain profiles depicting lateral view of bathymetric profile for each reef site were used to describe geomorpological features supporting its role as spawning habitat

    HUBUNGAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS UTAMA DI PERAIRAN LAUT JAWA DARI CITRA SATELIT MODIS

    Get PDF
    This research aims to study spatial and temporal variation of chlorophyll-a concentration and sea surface temperature as well as his relationship with pelagic fish catches in Java Sea. The results showed in 2006th-2010th sea surface temperaturerice occurs by 1°C which monthly average range between 27,9°C – 31,4°C. Sea surface temperature are relatively higher in transitional seasons compared to west season and east season. Chlorophyll-a concentration in area of research ranging from 0,22 mg/m³- 1,15 mg/m³. Chlorophyll-a concentration value each month fluctuates follow wind of progress. Maximum value of chlorophyll-a concentration happening in wesh season and minimum value occurs in transitional season 2. Layang scad, banyar fish and eastern little tuna has a negative response to sea surface temperature especially in east season. As for sardine fish and fringescalle sardine show absence of a direct relationshop between sea surface temperature with CPUE value catches. Sardine fish and fringescalle sardine show any positive response to rising chlorophyll-a concentration, while for layang scad, banyar fish and eastern little tuna an increase value of chlorophyll-a concentration does not have a direct impact on rising CPUE value of third type of this fish.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variasi spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut serta hubungannya dengan hasil tangkapan ikan pelagis di Laut Jawa. Hasil penelitian menunjukkan dalam tahun 2006-2010 terjadi kenaikan suhu permukan laut sebesar 1°C dimana suhu permukan laut rata-rata bulanan berkisar antara 27,9°C ­– 31,4°C. Suhu permukaan laut relatif lebih tinggi pada saat musim peralihan dibandingkan dengan musim barat dan musim timur. Konsentrasi klorofil-a pada wilayah penelitian berkisar antara 0,22 mg/m³- 1,15 mg/m³. Nilai konsentrasi klorofil-a setiap bulannya berfluktuasi mengikuti musim angin yang sedang berlangsung. Nilai maksimum konsentrasi klorofil-a terjadi pada musim Barat dan nilai minimumnya terjadi pada musim peralihan 2. Ikan layang, banyar dan tembang memiliki respon yang negatif terhadap suhu permukaan laut terutama pada musim timur. Sedangkan untuk ikan lemuru dan ikan tembang menunjukkan tidak adanya hubungan langsung antara suhu permukaan laut dengan nilai CPUE hasil tangkapan. Ikan lemuru dan ikan tembang menunjukkan adanya respon positif terhadap naiknya konsentrasi klorofil-a, sedangkan untuk ikan layang, banyar dan tongkol kenaikan nilai konsentrasi klorofil tidak berdampak langsung pada naiknya nilai CPUE ketiga jenis ikan ini

    PENGARUH LAMA MELAUT DAN JUMLAH HAULING TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN GILLNET SKALA KECIL DI PEKALONGAN JAWA TENGAH

    Get PDF
    Tingginya kompetisi antar nelayan mengakibatkan hasil tangkapan nelayan semakin menurun.  Untuk menjamin kelangsungan kegiatan penangkapannya, nelayan melakukan berbagai macam strategi diantaranya adalah menambah lama trip penangkapan ikan di laut dan menambah jumlah hauling.  Untuk mengkaji dampak kedua faktor tersebut telah dilakukan penelitian perikanan gillnet skala kecil (<10GT) di PPN Pekalongan.  Hasil kajian ini menunjukkan bahwa lama trip penangkapan ikan sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan baik secara total maupun per species.  Meskipun berlayar menangkap ikan lebih lama, ternyata berdasarkan penelitian ini tidak mempengaruhi harga ikan.  Disisi yang lain hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah atau frekuensi hauling ternyata tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan baik secara total atau per species.The high competition among fishermen have resulted decreasing fish catches. To ensure the continuity of his activity, fishermen perform a variety of fishing strategies such as adding a length time of fishing trip at the sea and increasing the number of hauling. To assess the impact of both factors have been conducted research on gillnet small-scale fisheries (<10GT) in Pekalongan fishing port. Results of this study indicate that length of fishing trip have influence on both total and per species fish catches. Although length of fishing time more longer, result of this study showed that length of fishing trips do not affect to the fish price. On the other hand the results of this study indicate that the number or frequency of hauling apparently had no effect on either total catch or per species

    PERUBAHAN STRATEGI OPERASI PENANGKAPAN IKAN NELAYAN KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH

    Get PDF
    Perikanan karang merupakan salah satu pusat kegiatan penangkapan ikan nelayan kecil di daerah tropis.  Seiring dengan perubahan ekonomi dan ekologi, telah mengakibatkan berubahnya pendapatan dan strategi operasi penangkapan ikan.  Nelayan telah menggunakan berbagai macam strategi untuk mempertahankan usahanya.  Untuk mengkaji hal tersebut, telah dilakukan penelitian di Karimunjawa.  Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa komposisi ikan hasil tangkapan, produktivitas alat tangkap dan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan telah mengalami perubahan dalam periode 2003 – 2005 dan 2009 – 2011.  Bila pada periode 2003 – 2005 operasi penangkapan ikan didominasi oleh muroami, maka pada periode 2009 – 2011 trip penangkapan ikan didominasi oleh speargun (panah).  Perubahan tersebut, diduga disebabkan oleh berubahnya permintaan pasar khususnya ekor kuning (Caesio sp), biaya operasi penangkapan dan hasil tangkapan baik dalam jumlah maupun komposisi ikan.Reef fishery is one of the main activities of fishermen in the tropic area. Changing of economy and ecology has resulted in changes in revenue and operating strategies of fishing. Fishermen have used a variety of strategies to maintain their activity. To examine this problem, we conducted the reseach in Karimunjawa, Central Java. The results of this study suggest that fish composition, fishing gear productivity and fishing gear which used by fishermen have changed over the period 2003 - 2005 and from 2009 to 2011. When during period of 2003 - 2005 fising trip of gear was dominated by muroami, then in the period 2009 - 2011 fishing trip dominated by speargun (arrows). These changes, thought to be caused by changes in market demand especially yellow tail (Caesio sp), the fishing operations cost and catches both in number and composition of fish

    EKSPLORASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PENANGKAPAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) DI KABUPATEN MIMIKA

    Get PDF
    Tingkat pemanfaatan ikan kakap putih di peraian Kabupaten Mimika cenderung meningkat setiap tahun, karena jenis ikan ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kondisi ini biasanya menjadi pemicu untuk menggunakan teknologi penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dalam meningkatkan hasil tangkapan. Pengembangan teknologi penangkapan ikan tepat guna di perairan Mimika harus mempertimbangkan potensi lestari ikan kakap putih, aspek sosial dan ekonomi nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi potensi lestari SDI kakap putih, menentukan peluang pengembangan perikanan kakap putih, mengeksplorasi teknologi penangkapan ikan kakap putih yang tepat guna, dan menentukan strategi pengembangan dalam usaha penangkapan kakap putih di perairan Kabupaten Mimika. Metode penelitian yang digunakan adalah survei melalui kegiatan experimental fishing. Data dianalisis dengan pendekatan model bio-ekonomi, multicriteria analysis dan analitycal hierarchy process. Dugaan potensi lestari ikan kakap putih di perairan Mimika adalah 8.348 ton/tahun, dan upaya penangkapan optimum 970.122 trip/tahun. Peluang pengembangan pada kondisi pengelolaan MSY adalah 6,807 ton/tahun, sedangkan pada kondisi pengelolaan MEY 6.553 ton/tahun. Teknologi tepat guna dalam penangkapan kakap putih di perairan Mimika adalah jaring insang dan pancing ulur, tetapi jaring insang lebih menguntungkan dibandingkan pancing ulur. Jaring insang menjadi prioritas pertama untuk dikembangkan dengan melakukan strategi pembinaan nelayan, dan kerjasama antar pelaku untuk meningkatkan hasil tangkapan dan kesejahteraan nelayan.Utilization level of barramundi in Mimika Regency waters tend to increase every years, because the kind of fish had the high economical value. This condition usually could be trigger to use the environmental unfriendly fishing technology for increasing the catches. Development of the appropriate fishing technology in Mimika waters must consider the maximum sustainable yield (MSY) of barramundi resources, social, and economic aspects of fisherman. The objectives of this research were to explore the MSY of barramundi resources, to determine the development opportunity of barramundi fisheries, to explore the appropriate fishing technology of barramundi, and to determine the development strategy of barramundi fishing technology in Mimika Regency waters. The research method used was survey through experimental fishing activitiy. Data were analyzed with bioeconomic model, multicriteria analysis, and analitical hierarchy process approaches. The estimated MSY of barramundi in Mimika waters was 8,348 tons/year, and fishing effort was 970,122 trips/year. Development opportunity at MSY condition was 6,807 tons/year while at MEY management was 6,553 tons/year. The appropriate fishing technology for Barramundi fisheries in Mimika Regency was gillnet and handlne, but gillnet was more adventage than handline. The gillnet becomes main priority for developing with a strategy of fisherman empowerment, and cooperative among stakeholders for improving catch and fishermen incom

    ANALISIS KESESUAIAN PENGEMBANGAN PERIKANAN PANCING (HOOaK AND LINE) DENGAN KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DAN SOSIAL DI PERAIRAN TELUK TIWORO, SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    Setelah perairan Teluk Tiworo ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui SK Bupati Kabupaten Muna No.157 tahun 2004, pemanfaatan sumberdaya ikan oleh nelayan lokal sedikit terganggu. Penelitian ini akan mencoba menganalisis kesesuaian perikanan pancing dan strategi pengembangannya sebagai alternatif pemanfaatan di lokasi. Metode yang digunakan dalam penelitian terdiri dari analisis karakteristik lingkungan, analisis kesesuaian, dan analisis hireraki. Hasil penelitian menunjukkan suhu permukaan perairan Teluk Tiworo berkisar 26,5oC – 29oC, salinitas air berkisar 29‰ - 33‰, logam Hg berkisar 0,00045 – 0,0008 ppm, dan arus cukup tenang. Nilai pH-nya berada pada kisaran pH optimal (7,0 - 8,5) untuk pertumbahan ikan, sehingga sangat cocok dijadikan daerah penangkapan ikan. NKgab pancing dengan fungsi kawasan, potensi kawasan, kebutuhan masyarakat, dan perangkat hukum berturut-turut 3,64, 3,25, 3,24, dan 3,33 pada skala 1-4, sehingga mempunyai kesesuaian tinggi untuk dikembangkan di perairan Teluk Tiworo. Pengembangan perikanan pancing berbasis zonasi (rasio kepentingan = 0,278 pada inconsistency 0,04) merupakan strategi prioritas untuk pengembangan pancing secara berkelanjutan di perairan Teluk TiworoAfter territorial water of Tiworo Bay is specified as conservation area with SK of Head of Muna Regency No. 157 Year 2004, utilization of fisheries resources by local fishermen have a few trouble. This research aim to analysing of compatibility for hook and line fisheries and analysing of it’s development strategic as utilization alternative in location. Research method about analysis of environmental characteristic, compatibility analysis, and hierarchy analysis. Result of the research show that temperature of surface of territorial water of Tiworo Bay are 26,5oC – 29oC, salinitas are 29‰ - 33‰, Hg metal are 0,00045 – 0,0008 ppm, and current is calm enough. Assess of pH is in optimal range (7,0 – 8,5) to fisheris growth, so that very compatible as fishing ground. NKgab of hook and line with area function, area potency, socialize requirement and punish peripheral are each 3,64, 3,25, 3,24, dan 3,3 at scale 1-4, so that it’s compatibility is very good to developed in territorial water of Tiworo Bay. The development of hook and line fisheries with zonasi as bases (importance ratio = 0,278 for inconsistency 0,04) is representing of priority strategy for sustainable development of hook and line fisheries in territorial water of Tiworo Bay

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇