Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    INSTALASI PERMESINAN PADA KAPAL PSP 01

    Get PDF
    Kapal PSP 01 merupakan kapal latih sekaligus kapal penangkap ikan yang dimiliki oleh Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB.  Kapal ini menggunakan tenaga penggerak inboard engine berjenis diesel empat langkah yang berasal dari truk Mitsubishi Canter dengan tipe 4D30-C.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan modifikasi instalasi permesinan di Kapal PSP 01 dan mendeskripsikan kesesuaian instalasi permesinannya mengacu pada pedoman FAO tahun 2009 tentang Safety Guide for Small Fishing Boats.  Pendekatan dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus dimana dilakukan pengamatan dan pengumpulan data yang meliputi modifikasi pada instalasi permesinan Kapal PSP 01 serta kesesuaiannya terhadap pedoman FAO tentang safety guide for small fishing boats.  Hasil penelitian didapat bahwa mesin kapal PSP 01 dimodifikasi pada bagian sistem penyalaan, sistem bahan bakar, sistem pelumasan, sistem transmisi, dan sistem pendingin mesin.  Berdasarkan pedoman FAO tahun 2009 tentang Safety Guide for Small Fishing boats, instalasi permesinan Kapal PSP 01 dalam hal sistem pompa lambung terpenuhi 58,33%, sistem bahan bakar terpenuhi 52,63%, sistem pembuangan gas pembakaran terpenuhi 33.33%, ventilasi kamar mesin terpenuhi 0%, rangkaian instalasi kelistrikan terpenuhi 85,71%, instalasi baterai terpenuhi 100%, pemeriksaan harian sebelum menyalakan mesin terpenuhi 75%, pemeriksaan harian setelah menyalakan mesin terpenuhi 100%, pemeriksaan tiap empat belas hari terpenuhi sebesar 20%, dan pemeriksaan tiap 100-150 jam setelah mesin beroperasi terpenuhi sebesar 0%.PSP 01 boat is an accustomed boat and also fishing vessels that owned by the Department of Fisheries Resource Utilization (PSP), Faculty of Fisheries and Marine Sciences (FPIK), IPB. These ships use an inboard propulsion four stroke diesel engine from Mitsubishi Canter truck with type 4D30-C. This study aims to describe the modifications to the installation of ship machinery at the PSP 01 boat and describe the suitability of its machinery installation guidelines refer to the FAO in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing Boats. These study approach by using case study method in which observation and data collection that includes modifications to the installation of ship machinery PSP 01 and compliance with the FAO guidelines on Safety Guide for Small Fishing Boats. The results obtained that the PSP 01 engine already modified on the ignition system, fuel system, lubrication system, transmission system, and engine cooling system. Based on FAO guidelines in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing boats, installation of machinery on PSP 01 boat in bilge pump fullfilled 58.33%, fuel system fulfilled 52.63%, the combustion gas exhaust system met 33.33%, the engine room vents are met 0%, range 85.71% met the electrical installation, battery installation are met 100%, daily checks before turning on the engine are met 75%, daily checks after turning on the engine are met 100%, the examination of every fourteen days are met 20%, and the examination of every 100 -150 hours of engine operation are fulfilled 0%. Based on FAO guidelines in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing Boats, installation of Machinery on PSP 01 Boat on a whole scale are fulfilled 47,65%

    KAJIAN BIO-TEKNIK PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN TENGGIRI DAN DISTRIBUSI PEMASARANNYA DI KABUPATEN BANGKA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi bangun, daerah, musim penangkapan ikan, produktivitas alat penangkapan ikan tenggiri, pemasaran hasil tangkapan serta menentukan pola pemanfaatan sumberdaya ikan ekor kuning yang berkelanjutan di Kabupaten Bangka.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif  survei yang bersifat studi kasus (case study) dan pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Analisis data yang dilakukan mencakup analisis teknik dan bio-teknik. Analisis bio-teknik menggunakan pendekatan model CYP. Ikan tenggiri di perairan Kabupaten Bangka ditangkap dengan menggunakan alat tangkap gillnet dan pacing ulur.  Jaring insang di Kabupaten Bangka termasuk dalam jaringi insang hanyut (drift gillnet) dan nelayan menyebut jaring ini dengan istilah jaring tenggiri. Kontruksi alat tangkap ini terdiri atas tali selambar, jaring, pelampung dan tali ris atas.  Pancing ulur untuk penangkapan ikan tenggiri memiliki konstruksi yang terdiri atas reel (rooler), kili-kili (swivel), senar (line), pemberat (sinker) dan mata pancing (hook).  Musim penangkapan ikan yang ada di Perairan Bangka pada bulan-bulan dimana terjadi musim ikan yaitu pada Bulan Maret, Mei dan Juni serta Agustus dan Oktober dengan IMP lebih dari 100%. Daerah penangkapan pemanfaatan fishing ground ikan tenggiri di Perairan Kabupaten Bangka yaitu pada jalur penangkapan 1 (pada perairan dari pantai sampai 6 mil).  Pemanfaatan sumberdaya ikan tenggiri secara sustainable dapat dilakukan dengan mengetahui rejim pengelolaan sumberdaya ikan tenggiri secara optimal dimana secara biologi diduga telah terjadi biological overfishing dengan effort aktual sebesar 798 trip lebih besar dari  pengelolaan sumberdaya ikan tenggiri secara optimal sebesar 379 trip. Pemasaran lokal ikan tenggiri dilakukan oleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dan selanjutnya dijual ke konsumen, sedangkan pemasaran ekspor dilakukan oleh perusahaan. Harga jual, margin pemasaran dan keuntungan yang diperoleh dengan saluran makin pendek dengan fisherman share yang sama akan memberikan share bagi pedagang dan perusahaan perikanan lebih besarThis study aims to identify up to, local, seasonal fishing, fishing equipment productivity tenggiri, marketing of the catch and determine patterns of utilization of resources yellow tail fish in a sustainable Kabupaten Bangka. Research method used was the descriptive survey method of case study (case study) and the sampling is done purposively. Data analysis includes the analysis and bio-engineering techniques. Analysis of bio-engineering approach using model CYP. Tenggiri fish in the waters of Bangka Regency arrested with using gillnet catch and pacing overextend. Gill nets in Kabupaten Bangka included in jaringi gill away (drift gillnet) and his fishing nets with the net tenggiri term. Kontruksi catching equipment consists of selambar ropes, nets, rope and buoy up ris. Overextend rod for fishing tenggiri have construction that consists of the Reel (rooler), swivel (swivel), string (line), ballast (sinker) and the rod (hook). Fishing season in the month at The Bangka-month fishing season which occurs on the March, May and June and August and October with the IMP more than 100%. Regional utilization of fishing ground catching fish tenggiri at The Regency Bangka is catching on line 1 (in the coastal waters of up to 6 miles). Utilization of fish resources in sustainable tenggiri can be done with the regime to know the management of fish resources optimally tenggiri where the alleged biological biological overfishing has occurred with the actual effort is 798 more than the trip management of fish resources optimally tenggiri trip of 379. Tenggiri local marketing of fish is done by traders and merchants and retailers sold to consumers, while the export is done by marketing companies. Selling price, marketing margins and profits earned with the short channel with Fisherman share the same akan provide for share traders and the larger fishing companie

    INDIKATOR KINERJA KUNCI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP TUNA TERPADU DI SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Indikator Kinerja Kunci (IKK) adalah indikator yang digunakan untuk melaporkan kemajuan yang diidentifikasi sebagai faktor penting untuk keberhasilan suatu organisasi yang di lihat dari tujuan dan sasaran.  IKK juga dapat berfungsi sebagai alat untuk mengubah, memberikan masukan ke dalam proses manajemen yang akan membantu pembangunan yang mengakibatkan peningkatan kinerja dalam sebuah lingkungan progresif.   IKK yang dipilih harus mencerminkan tujuan organisasi, menjadi kunci untuk keberhasilan dan dapat diukur. Indikator kinerja kunci dipakai dalam pertimbangan jangka panjang untuk sebuah organisasi. Secara umum, penelitian ini dilakukan untuk menentukan indikator kinerja kunci dalam mengembangkan penangkapan ikan tuna di Sulawesi Utara dan untuk mendapatkan pengukuran yang jelas serta memberikan informasi bagi pemerintah dalam membuat peraturan. Penelitian ini didasarkan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan metode pendekatan kualitatif.  Indikator kinerja kunci (IKK) terdiri dari indikator ekonomi, keuangan sosial, ekologis dan dimensi pemerintah, baik di tingkat nasional atau di sektor perikanan. IKK di tingkat perusahaan terdiri dari masukan, keluaran, dampak dan proses.Key performance indicators (KPIs) are indicators used to report progress towards delivery on factors identified as critical to the success of an organization’s goals and objectives. In a progressive environment, KPIs can also serve as tools for change, providing input into management process that will assist in bringing about sustainable performance improvements. The KPIs selected must reflect the organization\u27s goals, they must be key to its success, and they must be measurable. Key performance indicators usually are long-term considerations for an organization.In general, this research was done to reveal the key performance indicators for developing of integrated tuna fishing in North Sulawesi and especially to get the clear measurement and also to give the information for government to make regulation. This research is based on focus group discussion (FGD) method with qualitative approach. The focus group is the group that discussed the specifically and structure case and has procedure and time frame. The indicators consist of economic, financial social, ecological and government dimensions, both in national level and in fishery sector. In enterprises level consist of input, output, outcome and proces

    ANALISIS EFISIENSI UNIT PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LAMPULO BANDA ACEH

    Get PDF
    Pengukuran produktivitas, efisiensi secara teknis dan ekonomi merupakan indikator utama dalam menilai kemampuan usaha dari unit penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah menghitung produktivitas unit penangkapan pukat cincin, memformulasikan faktor-faktor produksi yang berperan terhadap hasil tangkapan dan hubungannya terhadap hasil tangkapan unit penangkapan pukat cincin, serta menghitung efisiensi dari penggunaan faktor produksi unit penangkapan pukat cincin yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo. Faktor produksi yang menunjang hasil tangkapan unit penangkapan pukat cincin seperti ukuran kapal, daya mesin kapal, panjang jaring, tinggi jaring, jumlah awak kapal, BBM, jumlah lampu, jumlah es, jumlah air tawar dan biaya perbekalan dianalisis menggunakan pendekatan Cobb-Douglas. Perhitungan produktivitas dilakukan dengan pendekatan rata-rata hasil tangkapan pukat cincin selama setahun dibagi dengan besarnya Gross Tonage dan trip penangkapan. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas per trip tertinggi yaitu 1.86 ton/trip pada tahun 2012 dan produktivitas per GT tertinggi yaitu 9.97 ton/GT pada tahun 2011. Persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas unit penangkapan pukat cincin di PPP Lampulo yaitu LnY = -18.875 - 0.432 LnX2 + 0.467 LnX4 - 1.116 LnX5 - 0.184 LnX7 + 2.181 LnX10, dengan nilai R2 = 0.727. Analisis efisiensi teknis pada 54 kapal menunjukkan penggunaan faktor produksi daya mesin kapal (-0.432), jumlah awak kapal (-1.116), dan jumlah lampu (-0.184) nilai elastisitas produksinya sudah negatif (Ep<0) yang menunjukkan penggunaan faktor produksi sudah tidak efisien, sedangkan faktor produksi  dari tinggi jaring (0.467) berada pada tahap produksi rasional karena berada antara 0<Ep<1 dan faktor produksi biaya perbekalan (2.181)  nilai Ep>1 yang artinya penggunaan faktor produksi belum efisien. Efisiensi ekonomis penggunaan variabel faktor produksi tersebut tidak efisien karena nilai NPMxi/BKMxi<1.Measurement of productivity, technical and economic efficiency are the key indicators in assessing the ability of purse seine fishing unit based in Fishing Port Lampulo, Banda Aceh. The objectives of this study are to analyse of productivity and effeciency of purse seine units. There were some factors that support the production catches of purse seine fishing unit such as the size of the vessel, engine power, length of nets, net height, number of crew, fuel, number of light, the amount of ice, freshwater and supply costs were analyzed using the Cobb-Douglas approach. Productivitiy calculation had done by using the approach of purse seine catches for the year divided by amount of Gross Tonnage and catching trip. The results showed the highest productivity per trip was 1.86 tons/trip in 2012 and the highest productivity per GT was 9.97 tons/GT in 2011. Production factors which significantly affect to catch of purse seine were engine power, net height, number of crew, number of lights and supply cost. Analysis of the technical efficiency towards 54 vessel showed that the vessel engines power production factors (-0.432), the number of crew (-1.116), and number of lights (-0.148) the value of its production elasticity were inefficient (Ep <0), whereas purse seine net height (0.467) was at the rational production stage (0<Ep<1) and factor costs of production supplies (2.181) was efficient (Ep>1) which means inefficient use of production factor. Economic efficiency for the use of production factor wass inefficient because the value of NPMxi/PXI<1

    ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS MAKROALGA EKONOMIS PENTING DI PERAIRAN INTERTIDAL MANOKWARI, PAPUA BARAT

    Get PDF
    Makroalga di daerah Manokwari memiliki keanekaragaman spesis yang tinggi, namun organisme ini sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan baik alami maupun tekanan antropogenik. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji komposisi spesies makroalga (klasifikasi dan identifikasi) dan menganalisis struktur komunitas makroalga di perairan intertidal Manokwari Papua Barat. Penelitian pengambilan data di lapangan pada bulan Juni 2014 sampai September 2014 (periode musim timur) pada 2 daerah penelitian yaitu mainland dan outland. Komposisi spesies makroalga ditemukan 28 spesies yang diklasifikasikan ke dalam 3 divisi, 3 kelas, 11 ordo, 16 famili, dan 19 genus. Spesies alga yang di temukan tersebut dikelompokkan dalam 3 divisi utama yaitu alga hijau (Chlorophyta) 14 spesies, alga merah (Rhodophyta) 8 spesies dan alga coklat (Phaeophyta) 6 spesies. Total rata-rata kepadatan jenis makroalga daerah outland lebih tinggi dibandingkan dengan mainland. Analisis struktur komunitas makroalga daerah outland lokasi Mansinam dan Lemon memiliki indeks keanekaragaman lebih tinggi di bandingkan dengan daerah mainland lokasi Rendani, Pasir Putih dan Arfai. Indeks keseragaman pada 5 lokasi penelitian daerah mainland dan outland mendekati 1 dimana populasi individu makroalga tiap jenis menyebar merata dan tidak ada makroalga yang dominan, sedangkan indeks dominansi mendekati nol dimana komunitas makroalga penyusunnya berada dalam keadaan stabil.Macroalga in Manokwari area has higher species biodiversity, however this organism is very risk to environmentkondition change either nature or anthropogenic pressure. This study aimed to composition species of algae (clasification and identification) and community assemblage analysis of macroalgae species surrounding Manokwari coastal area. Collecting data was done during east season period (from June 2014 to September 2014) from two different main coastal areas, mainland and outland coastal area. Twenty eight macroalga species were identified and consisted taxonomically of three divisions, three classes, eleven orders, sixteen families, and nineteen genus. Three divisions of macroalga species were green alga (Chlorophyta), red alga (Rhodophyta), and brown alga (Phaeophyta), which each division comprised with 14 species, 8 species, and 6 species respectively. Total of density average of macroalga species in outland was higher than that of in mainland. Structure analysis of macroalga community in outland areas (Mansinam and Lemon) had higher biodiversity index than that of in mainland areas (Rendani, Pasir Putih, and Arfai). Evenness index in both mainland and outland areas were closed to 1, which meant individual of macroalga from each species distributed uniformly and there was no dominant macroalga species. While dominancy index in either mainland or outland reached closely to zero, which meant macroalga community were stable

    KERAGAAN ASPEK TEKNIS UNIT TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN KURAU DI PAMBANG PESISIR KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU

    Get PDF
    Ikan kurau (Eleutheronema tetradactylum) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting di Pambang pesisir Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek teknis dan ekonomi (finansial) dari setiap unit teknologi penangkapan ikan kurau di Pambang pesisir. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2016 di Pambang pesisir Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau dengan metode survei. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan finansial dengan menghitung nilai NPV, IRR, PP dan BCR. Hasil analisis aspek teknis menunjukkan karakteristik unit teknologi penangkapan ikan kurau di Pambang Pesisir untuk jaring kurau dan jaring tangsi menggunakan webbing berbahan PA (Polyamide) dan tangsi, mesh size yang digunakan berukuran 2.5 sampai 7 inci dan ukuran kapal berkisar 6 sampai 12m. Sedangkan rawai dan pancing menggunakan tali utama berbahan nilon 110, mata pancing bernomor 6 dan 7, dengan umpan ikan parang-parang, tenggiri, layur, udang dan lomek. Ukuran kapal yang digunakan berkisar 6 sampai 8m. Sedangkan hasil analisis ekonomi (finansial) menunjukkan bahwa seluruh unit teknologi penangkapan ikan kurau di Pambang Pesisir layak untuk dikembangkan dengan nilai NPV yang positif, nilai IRR melebihi bunga suku bank yang ditetapkan dan BCR >1.Kurau fish (Eleutheronema tetradactylum) is one type of fish that has economic value and importance in the Coastal Pambang Bengkalis District. This study aimed to analyze the technical aspects and economy aspects (financial) of each unit of fishing technology kurau in Coastal Pambang. Data collection was carried out from July to September 2016 in the Coastal Pambang Bengkalis district Riau Province by using the survey method. The analytical method used is descriptive and financial analysis by calculating the NPV, IRR, PP and BCR. Results of research show that characteristics fishing technology unit of kurau in Pambang Coastal for drift bottom gill net and bottom gill net use webbing made of PA (Polyamide) and nylon the mesh size used measuring 2.5 to 7 inches and boat sizes ranging from 6 to 12 m. while mini longline and fishing line using the main strap nylon 110, hook numbered 6 and 7, with fish bait Chirocentrus dorab, mackerel, Trichiurus lepturus, shrimp and Harpodon neherous. The size of the boat used ranges from 6 to 8 m. While Results of research show analysis economy ( financial) that all unit fishing kurau technology in Pambang Coastal to be developed with a positive NPV, IRR exceeds the interest rate specified bank and BCR>1

    KERAGAAN TEKNIS DAN ASPEK BIOLOGI PENANGKAPAN MADIDIHANG MENGGUNAKAN RUMPON DI PERAIRAN KAUR, BENGKULU

    Get PDF
    Pengembangan suatu perikanan tangkap di suatu daerah terdiri dari berbagai aspek, salah satunya dilihat dari aspek biologi. Adanya aspek biologi memiliki arti penting sebagai upaya untuk pengembangan perikanan suatu daerah. Dalam penelitian ini aspek biologi berguna untuk mengetahui komposisi isi lambung ikan tuna sirip kuning  yang didaratkan di Pasar Lama. Sebanyak 30 ekor sampel lambung ikan tuna sirip kuning yang diambil pada bulan September 2015 – Januari 2016 dari pengepul tuna di pasar lama untuk selanjutnya dilakukan pengukuran panjang total, berat tubuh, analisis hubungan panjang berat, serta analisis isi lambung dengan metode frekuensi kejadian, metode volumetrik, dan index prepoderance. Data yang telah dihitung antara hubungan panjang total ikan dengan berat tubuh semua ikan tuna sirip kuning bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 4,227. Hasil yang didapatkan dari dari semua perhitungan indeks preponderance organisme cumi-cumi sebesar 81,77%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan, cumi-cumi merupakan makanan utama bagi ikan tuna sirip kuning di wilayah Pasar Lama Kaur dan berdasarkan hubungan panjang berat didapatkan hasil bersifat allometrik positif dimana pertumbuhan bobot ikan tuna sirip kuning lebih cepat dibanding pertumbuhan panjang.The development of fisheries in the consisting area from various aspects, one of them from the biological aspect. The biological aspects has important effort for fisheries development in the area. Biological aspects for this research is useful to know composition of gastric yellowfin tuna that landed on Pasar Lama. A total of 30 sampled gastric yellowfin tuna taken on September 2015 to January 2016 from a fisherman at the Pasar Lama for the measurement of the total-length, total-weight, length-weight correlation analysis, and analysis of the gastric with frequency of occurrence method, volume organism method and preponderance index. The data has been calculated between correlation from total-length and total-weight of yellow fin tuna was positive allometric with b values is 4.22. The result from preponderance index calculation of squid is 81.77%. Based on the conclusion, squid is main food for yellow fin tuna in Pasar Lama Kaur and based on the length-weight correlation analysis is allometric positive results obtained in which the growth of yellow fin tuna weight faster than the growth of length

    STATUS TEKNOLOGI PENANGKAPAN TOGO DI SUNGAI DAN TAMBAK DALAM PERSPEKTIF PERIKANAN BERTANGGUNG JAWAB DI DESA CEMARA LABAT

    No full text
    Kegiatan perikanan togo di Desa Cemara Labat terdiri dari penangkapan di sungai dan tambak. Penilaian status teknologi penangkapan ikan merupakan salah upaya untuk mendukung pengelolaan perikanan togo yang lebih baik. Penilaian tentang tingkat tanggung jawab dua jenis togo dilakukan dengan menerapkan multi criteria analysis yang menggunakan 13 kriteria unit penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan menentukan status teknologi penangkapan togo dan menentukan strategi perbaikan perikanan tangkap di Desa Cemara Labat. Berdasarkan status teknologi penangkapan ikan, kedua jenis togo tergolong baik dengan memiliki skor yang sama yaitu 33 dengan masing-masing satu indikator bernilai buruk (skor 1) dan empat indikator bernilai cukup baik (skor 2). Kedua togo tergolong buruk (skor 1) pada indikator menjamin survival dari ikan dan biota perairan yang dikembalikan di sungai (X10) dan cukup baik (skor 2) pada indikator kompetensi nelayan (X1). Indikator yang berstatus cukup baik (skor 2) lainnya pada unit penangkapan togo yang dioperasikan di sungai yaitu keselamatan di sungai (X2), kepatuhan terhadap peraturan (X3) dan konsumsi bahan bakar kapal (X4), sedangkan untuk togo yang dioperasikan di tambak yaitu indikator proporsi hasil tangkapan yang dimanfaatkan(X9), potensi terjadi kerusakan lingkungan perairan dan habitat (X12) dan kejadian atau potensi konflik (X13). Strategi perbaikan perikanan tangkap antara lain melalui penekanan pada karakteristik dan perilaku sosial ekonomi nelayan melalui sosialisasi dan pengembangan silvofishery pada perikanan tangkap togo di tambak.Togo fishery in Cemara Labat Village covers fishing activities in river and ponds. Assessment on the status of fishing responsibility is one of initial steps in determining a strategy to develop sustainable fisheries. This study applied an assessment on two types of togo were analyzed by applying multi criteria analysis using the 13 criteria of responsible fishing. This study aims to determine the status of togo fishing technology and strategies to develop sustainable fisheries at the Cemara Labat Village. Based on status of fishing technology, both togo were considered good with same score 33, one indicator with bad category (score 1) and four indicators with good category (score 2). Both gear had the lowest score (score 1) on indicator of ensure the survival of fish and aquatic biota are returned to the waters (X10) and score 2 for fishermen competence indicator (X1). Other indicators in river with good category (score 2) were safety on the water (X2), regulatory compliance (X3) and fuel consumption of ships (X4) while for togo operated in ponds were the proportion of the catch (X9), potential damage to aquatic environments and habitats (X12) and potential conflicts (X13). Strategies to developed sustainable fisheries were emphasized the socio-economic characteristics and behavior of fishermen through socialization and silvofisheries development on togo fisheries in ponds

    PENERAPAN DEKONVOLUSI SPIKING DAN DEKONVOLUSI PREDIKTIF PADA DATA SEISMIK MULTICHANNEL 2D DI LAUT FLORES

    Get PDF
    Tujuan dasar dari pengolahan data seismik yaitu untuk mengkonversikan informasi yang terekam dari lapang menjadi data yang dapat diinterpretasikan. Salah satu tujuan prosesing data seismik adalah untuk menghilangkan atau mengurangi noise dari reverberasi dan multiples serta mempertinggi rasio sinyal terhadap noise. Penelitian ini menggunakan data lintasan 16 di Laut Flores yang berekstensi SEG-Y. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2015 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekonvolusi spiking dan dekonvolusi prediktif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan penampang seismik hasil poststack migration dengan menggunakan dekonvolusi prediktif dan dekonvolusi spiking. Hasil yang didapat yaitu kedua dekonvolusi dapat meningkatkan rasio sinyal terhadap noise pada data namun dekonvolusi prediktif dapat memberikan hasil lebih baik dalam meningkatkan rasio sinyal terhadap noise. Penampang migrasi dengan menggunakan dekonvolusi baik spiking maupun prediktif memberikan hasil yang tidak jauh berbeda, namun multiple tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan dekonvolusi prediktif disebabkan karena pengaruh ekor signature yang tidak teratur akibat sinkronisasi airgun kurang efektif.The use of seismic reflection in ocean has become an activity that is often performed with a variety of purposes,to map the subsurface. The basic objective of seismic data processing is to convert the recorded information from the field into data that can be interpreted. One goal of seismic data processing is to eliminate or reduce the noise of reverberation and multiples as well as enhance the signal to noise ratio. This study uses data line 16 in the Flores Sea extension SEG-Y. The research was conducted in February- March 2015, in marine geology research and development, Bandung. The method used in this study is spiking deconvolution and predictive deconvolution. This study was conducted to analyze the differences in seismic migration poststack results using predictive deconvolution and spiking deconvolution. The results obtained are both deconvolution can increase the signal to noise ratio in the data. Migration using both spiking and predictive deconvolution results are not much different due to the influence of irregular signature tail because of synchronization airgun less effective

    INTENSITAS KERJA PENGAWAS PERIKANAN PADA AKTIVITAS PATROLI LAUT PENGAWASAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN DI JAKARTA

    Get PDF
    FAO (2010) menyebutkan bahwa penangkapan ikan merupakan salah satu pekerjaan yang paling berbahaya di dunia. Pengawasan terhadap kegiatan penangkapan ikan di laut merupakan bagian dari pengelolaan perikanan yang juga merupakan satu pekerjaan yang memiliki potensi bahaya tinggi. Jumlah kecelakaan yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia antara tahun 2011-2014 yaitu sebanyak 80 kejadian yang terdiri dari kecelakaan darat, laut dan udara. Dari 80 kejadian kecelakaan, sebanyak 55 kejadian merupakan kecelakaan di laut yang melibatkan kapal-kapal dari berbagai jenis yang meliputi kapal niaga, kapal kargo, kapal/perahu nelayan, kapal patroli/kapal milik pemerintah dan kapal lainnya. Penting untuk mempelajari keselamatan awak kapal untuk mengetahui bahaya dan risiko dalam setiap elemen yang terlibat dalam patroli pengawasan SDKP di laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas dan mengetahui intensitas kerja pengawas perikanan dalam patroli pengawasan sumber daya kelautan dan perianan di laut menggunakan speedboat pengawasan yang berpotensi untuk menimbulkan terjadinya kecelakaan kerja di laut. Metode penelitian ini adalah deskriptif numeric. Data dianalisis dengan mengidentifikasi aktivitas dengan Hierarchical Task Analysis (HTA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas patroli pengawasan SDKP di laut adalah 5 tahap dengan jumlah 84 aktivitas. Jumlah awak kapal patroli sebanyak 12 orang dengan porsi tanggungjawab terbesar adalah Pengawas Perikanan. Intensitas kerja total pada patroli laut pengawasan SDKP yaitu 244 OA, yang artinya bahwa dalam melaksanakan patroli pengawasan SDKP dari tahap awal sampai dengan akhir membutuhkan usaha kerja atau keterlibatan awak speedboat pengawasan setara 244 orang. Tahap 3 berupa aktivitas pelayaran dan pengawasan di laut merupakan sub goal dari patroli laut pengawasan SDKP yang memiliki potensi terjadinya risiko kecelakaan kerja terbesar akibat intensitas kerja yang tinggi.FAO (2010) mentioned that fishing is one of the most dangerous jobs in the world. Surveillance against fishing in the sea is part of the management of fisheries is also the one job that has the potential of high danger. The number of accidents was compiled by the National Disaster Mitigation Agency (BNPB) of Indonesia between the years 2011- 2014 i.e. 80 events that comprise the crash land, sea and air. Than 80 accidents, as many as 55 events is an accident at sea involving ship of various types which include commerce ship, cargo ship, fishing boats, ship/boat belonging to the government and other vessels. It is important to study the safety of the ship’s crew to know the hazard and risk in each element involved in the surveillance patrol SDKP at sea. The purpose of this research is to identify activities and know the intensity of the fisheries inspector work on marine and fisheries patrols by using speedboat which can potentially cause the occurrence of accidents at sea. The method of this research is a descriptive numeric. Data analyzed by identifying the activity with the Hierarchical Task Analysis (HTA). The result showed that the sea surveillance patrol SDKP activity at sea is 5 stages with a total of 84 activities. The number of the crew of the patrol ship as many as 12 people with the biggest responsibility is fisheries surveillance. The intensity of the total work on sea surveillance patrol SDKP namely 244 OA (people activity), which mean that in carrying out supervisory patrol SDKP from the early stages up to the end of the work requires effort of cruise activity and surveillance at sea is a sea patrol sub goal of the SDKP supervision has the potential risk of an accident the greatest work due to the high work intensity

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇