Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PENGARUH FASE BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN GLASS EEL DI MUARA SUNGAI CIBUNI TEUGAL BULEUD, KABUPATEN SUKABUMI

    Get PDF
    Muara Sungai Cibuni, Tegal Buleud, Sukabumi terletak di perairan pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki potensi besar dalam penyediaan glass eel (benih sidat) akan tetapi belum dilakukan penelitian. Penangkapan glass eel dilakukan pada malam hari ketika air pasang sehingga fase bulan akan mempengaruhi operasi penangkapan glass eel , oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fase bulan menangkap glass eel. Data yang dikumpulkan dari data hasil tangkapan glass eel harian nelayan dikumpulkan selama 12 bulan pada tahun 2015 dan kemudian data dianalisis dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan mengelompokkan menjadi 4 fase bulan (semi terang, terang bulan, bulan gelap dan semi gelap). Dari hasil analisis menunjukkan bahwa hasil tangkapan pada fase bulan terang berbeda nyata terhadap fase bulan gelap dengan rata-rata hasil tangkapan glass eel di fase bulan terang 6.2 kg dan fase gelap 18.3 kg dan hasil tangkapan pada fase bulan semi terang tidak berbeda nyata dengan  fase bulan terang, sedangkan fase semi terang berbeda nyata terhadap fase bulan gelap.Cibuni River estuary , Tegal Buleud , Sukabumi the waters of the south coast of Java Island which has great potential in the supply of glass eel but have not done the research as well as in the mouth of the River Cimandiri Pelabuhanratu . Catching eels seeds done at night when the tide thus the phase of the moon will affect the fishing operation , therefore, this study aims to determine the age of moon phases to catch glass eel. Data collected from daily data glass eels catches of fishermen collecting for 12 months in 2015 and then the data were analyzed using a completely randomized design (CRD) by classifying into 4 phases of the moon (medium bright , bright moon , medium dark and dark moon) . From the results of analysis show that catches the light in different phases of the real against the dark phase of the moon with everage catches glass eel in light phase 6.2 kg and dark phase 18.3 kg and catches of phases the moon the medium bright differ significantly on phases of the moon light of the while catches in the phase of medium bright with the dark moon no significant difference

    INTEGRASI DATA MULTIBEAM BATIMETRI DAN MOSAIK BACKSCATTER UNTUK KLASIFIKASI TIPE SEDIMEN

    Get PDF
    Sistem multibeam echosounder tidak hanya memperoleh presisi tinggi dalam pengolahan data batimetri saja, tetapi juga mendapatkan resolusi tinggi dalam data backscatter strenght (BS) dasar perairan. Sejumlah penelitian telah menerapkan metode akustik untuk mengklasifikasikan tipe sedimen dasar perairan dengan menggunakan data backscatter, dan hasil klasifikasi yang diperoleh lebih baik daripada sampling sedimen secara tradisional. Tujuan penelitian ini untuk mengintegrasikan hasil data multibeam echosounder dalam penentuan batimetri dan pengklasifikasian tipe sedimen dasar perairan.Penelitian menggunakan data survei batimetri multibeam echosounder Kongsbergs EM 2040C di Sungai Kapuas Pontianak, Kalimantan Barat. Penentuan batimetri menggunakan metode Combined Uncertainty and Bathymetry Estimator (CUBE), sedangkan klasifikasi tipe sedimen menggunakan metode Angular Response (ARA) dan Sediment Analysis (SAT) yang semuanya tertanam dalam software Caris Hips and Ships versi 9.0. Hasil klasifikasi tipe sedimen secara unsupervised terdapat empat tipe sedimen. Nilai intensitas tipe sedimen kerikil (gravel) berkisar antara -16 dB hingga -13 dB, pasir (sand) berkisar antara -22 dB hingga -17 dB, lumpur (silt) antara -26 dB hingga -23 dB dan lempung (clay) berkisar antara -34 dB hingga -29 dB.The multibeam echo sounder system not only obtained high precision in bathymetry data processing, but also obtaned a high resolution in seabed backscatter strenght data (BS). A number of studies have applied acoustic remote sensing method to classify seabed sediment type with multi-beam backscatter strength data, and obtained better classification results than the traditional sediment sampling method. The objective of this study was to integrating data obtaned from the multibeam echosounder which determined the bathymetry and seabed sediment type classification. This research using bathymetry data survey from multibeam echo sounder Kongsberg EM 2030C in the waters of the Kapuas River, Pontianak, West Borneo. The determination of the bathymetry was done by using the Combined Uncertainty and Bathymetry Estimator (CUBE) method, while determining the sediment type was done by using the Angular Response (ARA) and Sediment Analysis (SAT) method, installed on CARIS Hips and Sips software version 9.0. Results of unsupervised classification there are four types of sediments. The intensity sediment type of gravel between -16 dB to -13 dB, sand -22 dB to -17 dB, silt -26 dB to -23 dB and clay -34 dB to -29 dB

    UJI COBA PENANGKAPAN PADA RUMPON PORTABLE DI PERAIRAN PALABUHANRATU

    Get PDF
    Rumpon yang biasa digunakan oleh nelayan dan pengusaha di seluruh Indonesia adalah rumpon yang dipasang menetap di suatu perairan, sehingga tidak dapat dipindah-pindah ke perairan lain.  Sejauh ini di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian tentang efektivitas dan efisiensi rumpon yang dapat dibawa kemana-mana dan mudah dipindahkan (portable) untuk menangkap ikan tuna dan cakalang.  Oleh karena itu diperlukan penelitian tentang rumpon portable untuk menangkap ikan tuna dan cakalang.  Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat Sistem Inovasi Nasional dengan adanya rumpon portable yang memudahkan nelayan dalam operasi penangkapan ikan.Uji coba penangkapan di rumpon portable dilakukan dengan experimental fishing menggunakan alat tangkap pancing tonda dan pancing gajrut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi dan jumlah ikan yang berkumpul di rumpon portable serta mengetahui isi perut ikan dan plankton yang terdapat di perairan.Fish Aggregating Device (FAD) usually used by small scale and large scale fishermen in Indonesia are FAD shallow and deep sea water which fix in the water. Efectivities and eficiency research activity about portable FAD in the water to catch thunnus spp. and skipjack have never been done in Indonesia. Need the research about portable FAD to catch thunnus spp. and skipjack in the water. This research can strong National Inovation System with portable FAD to help the fishermen in fishing operation methods. Catching trial around portable FAD by using experimental fishing used troll lines and hand lines. The purpose of this research are to know the number and composition of fish around portable FAD and to know stomacthcontent and plankton in the water

    PEMANFAATAN SILASE KERING AMPAS TAHU UNTUK PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Upaya pemanfaatan pakan agar efisien dalam penggunaannya pada usaha budidaya adalah dengan menyediakan pakan berkualitas dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan yang dipelihara. Jumlah pemberian pakan yang optimum adalah jumlah pemberian pakan yang paling efisien untuk meningkatkan pertumbuhan ikan dan paling efisien rasio konversi pakan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pertumbuhan ikan Nila merah yang diberi pakan dengan jumlah yang berbeda, dan (2) mengetahui jumlah pemberian pakan yang optimum untuk ikan Nila merah (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan jumlah pemberian pakan yang berbeda yaitu : A = 3% dari biomassa/hari; B = 5% dari biomassa/hari; C = 7% dari biomassa/hari; dan D = 9% dari biomassa/hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 ulangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jumlah pemberian pakan yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan pesat ikan Nila merah dan konversi pakan. Jumlah pakan yang memberikan laju pertumbuhan optimum dan konversi pakan yang terbaik adalah 4,47% dari biomassa/hari (44,7g/1 kg ikan/hari), (Perlakuan B).The advantage of diet is the most efficient of the number of diet towards fish growth and Feeding Conversion Ratio (FCR) in aquaculture. This research was done in order to discover the effect of different diet dosage towards fish growth and the water and 20 peaces of small fish (4,13 ± 0,08 gr/peaces). This research used experimantal method in Radomized Complete Design (RCD). Tdiet dosage was: A = 3%; B = 5%; C = 7%; D = 9% Biomass weight/day and the replicated 3 times. Results show that the different diet dosage gave significant effect (P < 0,01) on fish specific growth rates and feeding conversion ratio. The best groeth rate and feeding conversion ratio was 4,47% biomass weight/day (4,47 gr/1 kg fish/day)

    ALGORITMA UNTUK DETEKSI TUMPAHAN MINYAK DI LAUT TIMOR MENGGUNAKAN CITRA MODIS

    Get PDF
    Tumpahan minyak di Laut Timor yang terjadi pada tahun 2009 telah menyebarkan minyak seluas 10.842.81 km2. Tumpahan minyak ini berhasil dideteksi oleh satelit Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS). Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan hasil deteksi tumpahan minyak dari beberapa algoritma dengan citra menggunakan citra MODIS dan melihat perbedaan visual yang dihasilkan. Algoritma yang digunakan adalah Oil Spill Index, Fluorescence Index, Principal Component Analysis (PCA), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Visualisasi tumpahan minyak yang terlihat pada citra MODIS dengan algoritma oil spill indeks dan fluorescence index lebih cerah dibandingkan dengan badan air disekitarnya dan juga memiliki nilai piksel lebih tinggi, sedangkan visualisasi minyak menggunakan algoritma PCA dan NDVI lebih gelap dibandingkan dengan badan air disekitarnya dan juga memiliki nilai piksel yang lebih rendah. Hasil uji akurasi yang dilakukan terhadap algoritma oil splill index, fluorescence index, PCA, NDVI berturut-turut sebagai berikut 41%, 46%, 41%, dan 60%The Oil spill in Timor Sea in 2009 has spread the oil to the area of 10.842.81 km2. It was successfully detected by MODIS. The main purposes of this research were to compare the detection result of spill from several algorithms with image by using MODIS image and see the visual difference generated. There were four algorithm used in this research, namely: Oil Spill Index, Fluorescence Index, Principal Component Analysis (PCA), and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). These five algorithms resulted in the following comparisons: the appearance of visualization of oil spill seen on MODIS image with oil spill index and fluorescence index algorithm was brighter than the surrounding water bodies and they had higher pixel value. Mean while, oil visualization using PCA and NDVI algorithm was darker than the surrounding of water bodies and they had lower pixel value. The result of the test accuracy of oil spill index, fluorescence index, PCA, NDVI algorithm were 41%, 46%, 41%, and 60% respectivety

    KONDISI KESEHATAN KARANG FUNGIIDAE DI PERAIRAN PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan pada 5 stasiun (yaitu Barat Daya Pramuka, Area Perlindungan Laut, Timur Laut Pramuka, Timur Pramuka, dan Dermaga 1) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta. Pengambilan data menggunakan metode Belt Transect, yaitu membentangkan roll meter sepanjang 60 meter dengan lebar jarak pandang 2 meter pada kedalaman 5 meter. Karang yang didata adalah karang dari Suku Fungiidae. Marga dari karang Fungiidae yang ditemukan di Pulau Pramuka ada lima, yaitu Heliofungia, Herpolitha, Fungia, Ctenactis, dan Sandalolitha. Dari total 106 individu karang Fungiidae yang ditemukan di 5 stasiun pengamatan di Pulau Pramuka, sebanyak 38,68% (41 individu) dalam kondisi sehat dan 61,32% (65 individu) terserang penyakit karang. Fungia merupakan marga karang dari Fungiidae yang paling banyak terkena penyakit karang. 19 dari 61 individu karang Fungia (31,15%) masih dalam kondisi sehat dan 42 individu (68,85%) terkena penyakit karang. Pada 24 individu karang Ctenactis yang ditemukan di seluruh stasiun, 70,83% di antaranya terkena penyakit karang. 13 individu Herpolitha, 38,46% terkena penyakit karang dan 61,54% dalam kondisi sehat. 6 individu Sandalolitha, sebanyak 50% didata dalam kondisi terkena penyakit karang dan 50% dalam kondisi sehat. Heliofungia merupakan satu-satunya marga karang dari Fungiidae di semua stasiun pengamatan di Pulau Pramuka yang tidak ditemukan terjangkit penyakit karang. Penyakit karang yang teridentifikasi menyerang Fungiidae pada kelima stasiun yaitu Yellow Band Disease, pemutihan karang / bleaching (stripes, spots, patches dan menyeluruh), sedimentasi, gabungan antara sedimentasi dan Yellow Band Disease, dan Enlarge Structure. Yellow Band Disease merupakan penyakit karang yang paling banyak muncul, yaitu sebesar 67,69% dari total penyakit karang yang ditemukan pada Fungiidae dengan nilai kelimpahannya sebesar 0,37 individu/m2.This research was done on five sites (that are Southwestward, Marine Protected Area, Northeastward, and pier 1) on Pramuka Island, Seribu Islands, Jakarta. The data was taken by using Belt Transect Method which is unfold type for 60 meters parallels with shoreline, 2 meters in width of visibility, and 5 meters in depth. Kinds of coral that was collected are those from Family of Fungiidae. There are five genera from Family of Fungiidae found in Pramuka Island, that are Heliofungia, Herpolitha, Fungia, Ctenactis, and Sandalolitha. From 106 of total coral’s individu of Fungiidae in all sites of Pramuka Island, as much as 38.68% (41 individuals) of Fungiidae are healthy and as much as 61.32% (65 individuals) is got disease. Fungia is the most affected by coral disease. 19 of 61 individuals of Fungia (31.15%) are still healthy and 42 individuals (68.85%) affected by coral disease. On 24 individuals of Ctenactis that has found in all station, 70.83% of them affected by coral disease. From 13 individuals of Herpolitha, 38,46% of them affected by coral disease and 61,54% is healthy. From 6 individuals of Sandalolitha, as much as 50% recorded is affected by coral disease and 50% is healthy. Heliofungia is the only genera of Fungiidae that is not affected by coral disease in all observation stations on Pramuka Island. Coral disease that identified has attack the Fungiidae are Yellow Band Disease, bleaching (stripes, spots, patches dan full), Sediment Damage, combination between Sediment Damage and Yellow Band Disease, and Enlarge Structure. Yellow Band Disease are the one that most appear, which is represent 67,69% of the total coral disease in the Fungiidae with the value of disease abundance is 0,37 individu/m2

    HUBUNGAN TIPE DASAR PERAIRAN DENGAN DISTRIBUSI IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN PANGKAJENE SULAWESI SELATAN 2011

    Get PDF
    Tipe substrat dasar perairan berpengaruh terhadap sebaran jenis ikan demersal. Tipe substrat di Perairan Pangkajene Sulawesi Selatan didominasi oleh pasir berlumpur. Distribusi ikan demersal tertinggi berada di kedalaman 10.45 m sampai 15.25 m menyukai substrat pasir berlumpur, ikan demersal tersebut merupakan famili dari kapan atau jenaha (Lutjanidae). Ikan demersal di Perairan Pangkajene lebih dipengaruhi oleh kedalaman perairan dibandingkan oleh tipe substrat pada perairan tersebut.The bottom on benthic substrate type of waters affect the distribution of demersal fish species. Type of the substrate in waters Pangkajene South Sulawesi dominated by muddy sand. The highest distribution of demersal fish was found in the depth of 10.45 m until 15.25 m with substrate muddy sand, demersal fish was the family of kakap or jenaha (Lutjanidae). Fish demersal in waters Pangkajene more influenced by the depth of waters than type of the substrate on the waters

    MODEL MICRO-MACRO LINK PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN BELITUNG

    Get PDF
    Perairan Laut Cina Selatan dengan potensi lestari 1,06 juta ton/tahun dan masih belum menjadikan sektor perikanan sebagai kontributor ekonomi utama di kawasan termasuk di Kabupaten Belitung. Penelitian ini bertujuan merumuskan kebijakan pembangunan perikanan tangkap sehingga menjadi basis ekonomi Kabupaten Belitung. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif dan analisis micro-macro link yang dikembangkan dengan metode structural equation modelling (SEM). Hasil analisis menunjukkan pengaruh signifikan terjadi pada usaha perikanan Belitung terhadap wilayah basis (P=0,008), kondisi fiskal terhadap pertumbuhan market output (P = 0,002) dan wilayah basis (P=0,005), kebijakan nasional terhadap moneter (P=0,002) dan trade (P=0,007), trade terhadap ekonomi regional (P=0,003), dan ekonomi regional terhadap sektor penunjang (P=0,000). Terkait dengan ini, maka kebijakan pembangunan perikanan dapat diarahkan pada pengembangan usaha perikanan tangkap yang berbasis potensi dan prospek kewilayahan, serta penyelamatan pemasaran produk perikanan daerah dan usaha perikanan unggulan terutama bila kondisi ekonomi dan keuangan global tidak stabil. Hal ini untuk antisipasi terhadap kondisi yang tidak mendukung bila suatu kebijakan nasional diberlakukan di kawasan yang tidak sesuai dengan kondisi kedaerahan. Dan perlu pengembangan jalur-jalur perdagangan produk perikanan yang permanen dan jangka panjang serta jaminan kondusifitas kegiatan pelayanan jasa yang mendukung pembangunan perikananBordered with the South China Sea, which has potential sustainable fishery resource equal to 1.06 million tones/year, Belitung still not employed fishery as income generating sectors for the regency. The aim of this research is to formulate strategic policies on the development of capture fisheries, thus fishery sector may serve as one economic basis for Belitung. Analysis used for this research was descriptive analysis and macro-micro linkage developed through structural equation modelling (SEM). Research results showed a significant influence between fisheries effort with fishing ground area (P = 0.008), between fiscal condition with market growth (P = 0,002) and fishing ground area (P = 0,005), between national policy with monetary tendency (P = 0,002) and fishing trade (P = 0,007), between fishing trade with regional economy (P = 0,003), and between regional economy with supporting sectors (P = 0,000). Therefore, the development policy for fishery sector should employ existing resource potential and spatial reference. Other viewpoint related with the security of local fishery market product and premium fishery basis whenever there is global economic and financial fault. Such condition applies to anticipate challenging economic situation and whenever applied national policy unsuitable for the local condition. Development of permanent trade routes is expected, as well as ensuring the continuation of services that support fishery developmen

    HUBUNGAN ANTARA KONSENTRASI KLOROFIL-A DENGAN TINGKAT PRODUKTIVITAS PRIMER MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT-8

    Get PDF
    Chlorophyll-a is a phytoplankton pigment involved in photosynthesis. Chlorophyll-a concentration detection through satellite orbiting can only be infered the concentration of chlorophyll-a at sea surface and could not estimate the sea primary productivity. Sea Primary productivity may last up to a depth of compensation or the depth at which the intensity of light stayed at least 1% of sea surface light intensity. However, the aim of this study is tofind out the relationships between the concentration of chlorophyll-a and primary productivity so that the concentration of chlorophyll-a could be used to predict primary productivity. The linear regression equation have been applied to construct model explaing relationship between the chlorophyll-a concentration and sea primary productivity. The equation explaing on chlorophyll-a concentrations with primary productivity is PP = 22.746 + 95.536Keu (R²) = 0.66 where PP is the sea primary productivity, Keu is the average of chlorophyll-a concentration throughout the water column. The results of these equations can be applied to satellite imagery so that it can assist in monitoring water quality conditions.Klorofil-a merupakan pigmen fitoplankton yang berperan dalam proses fotosintesis. Deteksi konsentrasi klorofil-a melalui satelit hanya dapat menduga konsentrasi klorofil-a permukaan dan bukan produktivitas primer. Produktivitas primer dapat berlangsung sampai kedalaman kompensasi atau kedalaman dimana intensitas cahaya tinggal 1% dari intensitas cahaya permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara konsentrasi klorofil-a dengan produktivitas primer sehingga konsentrasi klorofil-a dapat digunakan untuk menduga produktivitas primer. Analisis regresi linier dilakukan terhadap model hubungan antara konsentrasi klorofil-a dengan produktivitas primer. Persamaan hubugan antara konsentrasi klorofil dengan produktivitas primer adalah PP = 22.746 + 95.536Keu dengan (R²) = 0.66 dimana PP adalah produktivitas primer dan Keu adalah konsentrasi klorofil-a rata-rata di seluruh kolom perairan. Hasil persamaan tersebut dapat diaplikasikan untuk citra satelit sehingga dapat membantu dalam memonitoring kondisi kualitas perairan

    KARAKTERISTIK BIOAKUSTIK DAN TINGKAH LAKU LUMBA-LUMBA JANTAN HIDUNG BOTOL (Tursiops aduncus)

    Get PDF
    Bioacoustic is the science that combines biology and acoustics are usually refers to research on sound production, dispersion through elastic media, and reception in animals, including humans .This study observed the behavior male dolphins by doing science approach bioakustik who viewed the characteristics of these dolphins. Male dolphins (Tursiops aduncus) that maintained at Taman Safari Indonesia, Cisarua Bogor has the lowest intensity value amounting to 28.03 dB and the highest amounted to 32.01 dB. Average parameters is measurable salinity of 30 ppm and a temperature of 23 °C with the depth of the pool is 4.5 meter. Range frequency clicking sound with the highest intensity value that is equal to 32 dB with a clicking sound 3 after dinner on day 2 contained in the frequency range ie 1400-1600 Hz. Click sound frequency range of male dolphins (Tursiop aduncus) in Taman Safari have frequency 1400- 1500 Hz.Bioakustik  adalah  ilmu yang menggabungkan biologi dan akustik yang biasanya merujuk pada penelitian mengenai produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan pada hewan, termasuk manusia. Penelitian ini mengamati tingkah laku lumba-lumba jantan dengan melakukan pendekatan ilmu bioakustik yang melihat karakteristik dari lumba-lumba tersebut. Lumba-lumba jantan (Tursiops aduncus) yang dipelihara di Taman Safari Indonesia, Cisarua Bogor memiliki nilai intensitas  terendah sebesar 28.03 dB dan tertinggi adalah sebesar 32.01 dB. Rata-rata parameter yang terukur yaitu salinitas sebesar 30 ppm dan suhu  23 °C dengan kedalaman kolam 4,5 meter. Range frekuensi suara klik dengan nilai intensitas tertinggi yaitu sebesar 32 dB dengan suara klik 3 sesudah makan pada hari ke 2 yang terdapat pada range frekuensi yaitu 1400-1600 Hz. Range frekuensi suara klik lumba-lumba jantan (Tursiop aduncus) di Taman Safari yaitu pada frekuensi 1400- 1500 Hz

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇