Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PRODUKTIVITAS RUMPON PORTABLE MENGGUNAKAN PANCING ULUR DI PERAIRAN JEPARA

    Get PDF
    Rumpon portable adalah alat bantu penangkapan yang dapat dioperasikan secara multi-waktu, sebagai alat pengumpulan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan komposisi tangkapan, panjang dan frekuensi tangkapan tangkapan di sekitar portable rumpon, menentukan produktivitas tangkapan handliner pada siang dan malam hari. Komposisi tangkapan terdiri dari tongkol (Euthynnus affinis), kembung (Rastrelliger branchysoma), ikan todak (Xiphias gladius), barakuda (Sphyraena barakuda), dan ikan ekor kuning (Caesio cuning). Total tangkapan dengan handline adalah 160 ekor. Hubungan panjang dan berat untuk jenis ikan dominan adalah b <3 untuk ikan tongkol dan ikan kembung (allometric negative) sedangkan b> 3 untuk ikan todak. Uji Mann Whitney U menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara jam operasi siang dan malam hari.The portable Fish Aggregating Devices (FADs) is an auxiliary fishing gear that can be operated on a multiple-time basis, as a fish-collecting device with an attractor. The purposes of the study are to determine the catch composition, length and weight frequency of the catch around portable FADs, determine the catch productivity of handlinearound FADs at the day and night time. The catch composition were consist of: kawakawa (Euthynnus affinis), short mackerel (Rastrelliger branchysoma), swordfish (Xiphias gladius), great barracuda (Sphyraena barracuda), and redbelly yellowtail fusilier (Caesio cuning). Total catch by handline was 160 individual. The length and weight relationship for dominant fish species was b<3 for Euthynnus affinis and Rastrelliger branchysoma (allometric negative) while b>3 for Xiphias gladius (allometric positive). The Mann Whitney U test shows that there was not significant different catch between day and night time operating hours

    PEMETAAN GEOMORFOLOGI TERUMBU KARANG PULAU TUNDA MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK

    Get PDF
    Pemetaan zona geomorfologi terumbu karang di Pulau Tunda ini belum pernah dilakukan khususnya menggunakan klasifikasi citra berbasis objek. Hasil pemetaan ini dapat digunakan sebagai dasar informasi perencanaan dan pengembangan suatu kawasan menuju pemanfaatan yang optimal seperti contoh pemanfaatan sebagai kawasan ekowisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona geomorfologi terumbu karang Pulau Tunda dengan menggunakan klasifikasi berbasis objek. Bahan analisis menggunakan citra multispektral Worldview-2 dengan akuisisi data tanggal 25 Agustus 2013 dan profil batimetri. Klasifikasi memakai algoritma segmentasi multiresolusi. Klasifikasi dibagi kedalam 2 level klasifikasi. Parameter klasifikasi level 1 menggunakan scale sebesar 200, shape 0.6 dan compactness 0.4. Segmentasi level 2 menggunakan scale 30, shape 0.6 dan compactness 0.4. Klasifikasi segmentasi objek ini mampu menghasilkan peta dengan tingkat akurasi yang tinggi pada setiap level. Akurasi klasifikasi level 1 adalah sebesar 97% dan level 2 sebesar 91%.Mapping of coral reefs geomorphic in Tunda Island has not been done before using an object-based image classification. This mapping can be used as the basic of information to planning and area development towards the optimum utilization such as marine ecotourism area. This study aims to mapping coral reef geomorphic zone of Tunda Island using object base classification. Data analysis using multispectral image Worldview-2 with data acquisition of August 25, 2013 and bathymetric profiles. The classification using of multiresolution segmentation. The classification is divided into two levels of classification. Level 1 segmentation using parameter of scale 200, shape 0.6 and compactness 0.4. Level 2 Segmentation using parameter of scale 30, shape 0.6 and compactness 0.4. The classification object segmentation able to produce a map with high accuracy at every level. The classification accuracy of Level 1 is 97% and level 2 is 91%

    EFEKTIVITAS MODIFIKASI KONSTRUKSI BUBU DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN PULAU LEMUKUTAN KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Exploiting the potential of catching fish in the waters of the island of Lemukutan by using the base to catch fish trap and still are traditional. Technical aspects in this research is to modify the base where trap construction entrance on change into six and eight and the bamboo wood frame in Polyethylene nets agency change (PE) pipe frame of cast concrete picture with. The purpose of this research is Get method model, analyze the effectiveness of basic trap modification construction basic financial analysis and trap. Analysis of the composition of catches against the third type of trap get results of 84.88 kg or of 690 tail at a depth of 9 m and 95.53 kg or 800 tail at a depth of 12 m. The frequency of occurrence of the yellow tail fish (Caesio erythrogaster) had the largest proportion at a depth of 9 m long and 12 m is 86.8 % and 99.5 %. Analysis of the index of Diversity (H ‘) to the waters of the Lemukutan Island of 1.6 by category index of diversity (H ‘ ≤ 2). The results of the analysis of R/C Ratio indicates that modifications to the construction of beam model trap obtaining R/C = 1.035 where economically feasible and viable use developed as a basic fishing effort in the waters of the island of Lemukutan.Pemanfaatan potensi penangkapan ikan di perairan Pulau Lemukutan salah satunya dengan menggunakan bubu untuk menangkap ikan dasar dan masih bersifat tradisional. Aspek teknis dalam penelitian ini adalah memodifikasi konstruksi bubu dasar dimana pintu masuk di ubah menjadi enam dan delapan dan badan bambu kerangka kayu di ubah badan jaring Polyethylene (PE) kerangka pipa paralon cor beton. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode model bubu dasar, menganalisa efektivitas modifikasi konstruksi bubu dasar dan analisis finansial. Analisis komposisi hasil tangkapan terhadap ketiga jenis bubu memperoleh hasil sebesar 84.88 kg atau sebesar 690 ekor pada kedalaman 9 m dan 95.53 kg atau 800 ekor pada kedalaman 12 m. Frekuensi kemunculan ikan ekor kuning (Caesio erythrogaster) memiliki proporsi terbesar pada kedalaman 9 m dan 12 m adalah 86.8 % dan 99.5 %. Analisis Indeks Keanekaragaman (H’) untuk perairan Pulau Lemukutan sebesar 1.6 dengan kategori indeks keanekaragaman kecil (H’ ≤ 2). Hasil Analisis R/C Ratio menunjukan bahwa modifikasi konstruksi bubu model balok memperoleh nilai R/C = 1.035 dimana secara ekonomis layak digunakan dan layak dikembangkan sebagai usaha penangkapan ikan dasar di perairan Pulau Lemukutan

    MODIFIKASI KONSTRUKSI TRAMMEL NET: UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN

    Get PDF
    Penelitian modifikasi konstruksi trammel net dilakukan dengan melakukan uji coba penangkapan di perairan Lontar, Serang. Tiga konstruksi trammel net yang diujicoba, yaitu trammel net kontrol (TK), trammel net perlakuan 1 (TP1) dan trammel net perlakuan (TP2). TK adalah trammel net yang memiliki 2 lembar jaring lapis luar dan kekendurannya menumpuk di bagian bawah. Selanjutnya TP1 adalah trammel net yang memiliki 1 lembar jaring lapis luar dan membentuk 1 kantong di bagian bawah, sedangkan TP2 memiliki 1 lembar jaring lapis luar dan membentuk 2 kantong. Hasil uji coba menunjukkan ketiga konstruksi trammel net menghasilkan 10 jenis organisme yang sama, yaitu Penaeus merguiensis, Harpiosquilla raphidea, Portunus pelagicus, Argyrosomus amoyensis, Pseudorhombus arsius, Platycephalus indicus, Pomadasys maculatus, Himantura uarnak, Leiognathus equulus, Thryssa hamiltonii. TP2 menangkap 1.165 individu, atau lebih banyak 1.29 kali dibandingkan dengan TP1 (897 individu) dan 2.36 kali dibandingkan dengan TK (493 individu). Hasil uji statistik menggunakan ANOVA dan uji BNT juga menunjukkan bahwa modifikasi konstruksi trammel net terbukti dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan (F39.99: α0.05).The research of trammel net construction modification was conducted by doing trial of fishing operation at Lontar, Serang. Three constructions of trammel net which was tested namely trammel net as control (TK), trammel net with treatment 1 (TP1), and trammel net with treatment 2 (TP2). TK is trammel net which has two layers of outer net and all its slackness is only distributed at the bottom of net body. Then TP1 is trammel net which has one layer of outer net and creat 1 pocket. Meanwhile, TP2 is trammel net which has one layer of outer net and creates two pockets. The result of trial showed that three constructions of trammel net caught 10 species of same organisms, there are Penaeus merguiensis, Harpiosquilla raphidea, Portunus pelagicus, Argyrosomus amoyensis, Pseudorhombus arsius, Platycephalus indicus, Pomadasys maculatus, Himantura uarnak, Leiognathus equulus, and Thryssa hamiltonii. TP2 caught 1.168 individuals, or 1.29 times more than TP1 (899 indivisuals) and 2.36 times more than TK (499 individuals). The result of statistic test of using ANOVA an LSD proved that modification of trammel net construction was proven able to increase the number of catches (F39.99: α0.05)

    SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KEDALAMAN TERTANGKAPNYA TUNA OLEH KAPAL PANCING ULUR YANG DILENGKAPI LAMPU

    Get PDF
    Sebaran dan kelimpahan ikan tuna sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman air. Nelayan tuna Bungus menangkap ikan tuna bigeye (BET, Thunnus obesus) dan tuna sirip kuning (YFT, Thunnus albacares) menggunakan pancing ulur yang dioperasikan pada kapal yang dilengkapi lampu sebagai alat abantu. Tujuan penelitian: (1) mengukur suhu permukaan laut (SST) dan kedalaman renang tuna mata besar dan tuna sirip kuning di sekitar Pulau Mentawai, (2) mengidentifikasi pengaruh cahaya terhadap sebaran vertikal tuna, dan (3) menentukan panjang tali pancing terbaik untuk penangkapan tuna. Berdasarkan panjang garis dan konfigurasi garis, berat, kait dan umpan cumi-cumi, kait mereka berada di 45, 53, 60, dan 68 meter di bawah permukaan laut. Sebanyak 8 tuna sirip kuning tertangkap di kedalaman 45, 53 dan 60 m; berat total 354 kg. Satu BET seberat 45 kg tertangkap pada kedalaman 60 m. Penelitian ini memberitahukan bahwa tuna berukuran besar tertangkap di lapisan permukaan dengan kedalaman 15-60 m. Suhu permukaan laut (SST) di daerah penangkapan ikan di sekitar Pulau Mentawai rata-rata 28.97 oC di mana nelayan berhasil menangkap 15 tuna yang terdiri dari 3 ekor tuna mata besar dan 12 ekor tuna sirip kuning. Tuna dewasa kebanyakan tertangkap pada kedalaman 23-60 m sedangkan muda tertangkap di kedalaman 15-45 m. Penelitian ini menunjukkan pengaruh cahaya dapat menaikkan posisi lapisan renang tuna dewasa. Handline dengan panjang tali 53 m adalah panjang tali terbaik untuk menangkap tuna dewasa di daerah tersebut.The movements and abundance of tuna are strongly influenced by the temperature and water depth. Bungus-based fishermen catch bigeye tuna (BET, Thunnus obesus) and yellowfin tuna (YFT, Thunnus albacares) using handlines operated on light-equipped fishing boats. Purpose of the research : (1) to measure the sea surface temperature (SST) and swimming layer bigeye tuna (BET) and yellowfin tuna (YFT) around Mentawai Island, (2) to identification the effect of light on the vertical distribution, and (3) to determine length of hookline the best catch tuna. Based on the length of the line and configuration of line, weight, hooks and live-squid baits, their hooks were at 45, 53, 60, and 68 meters below sea surface. A total of 8 YFT were caught at 45, 53 and 60 m depths; their total weight was 354 kg. One BET of 45 kg was caught at 60 m depth. This study confirmes that these large-sized tunas were caught at a swimming layer of 15-60 m depth. The sea surface temperature (SST) in the fishing ground around Mentawai Island was 28.9 oC in average where fishermen successfuly caught a total of 15 tunas consisting of 3 BETs and 12 YFT. Adult tuna were caught mostly at 23-60 m depth while the juveniles were caught at 15-45 m. This research indicated an effect of light on increasing the position of adult tuna swimming layer. Handline with line of 53 m is the best gear for catching adult tuna in the area

    PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI DAN HABITAT BENTIK DI PULAU KOTOK BESAR MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK

    Get PDF
    Penelitian ini menggunakan citra satelit resolusi tinggi worldview-2 akuisisi 5 Oktober 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kemampuan citra satelit resolusi tinggi worldview-2 dalam memetakan zona geomorfologi dan habitat bentik perairan dangkal di Pulau Kotok Besar. Metode yang digunakan adalah metode klasifikasi Object Based Image Analysis (OBIA). Metode ini mampu mendefinisikan kelas-kelas objek berdasarkan aspek spektral dan spasial. Segmentasi citra menggunakan algoritma multiresolution segmentation dengan parameter skala yang berbeda untuk setiap level, baik level 1, level 2 dan level 3. Shape dan compactness juga disesuaikan untuk setiap level. Penentuan kelas pada level 1 menghasilkan tiga kelas yaitu daratan, perairan dangkal dan perairan dalam. Penentuan kelas pada level 2 untuk zona geomorfologi menghasilkan tiga kelas yaitu reef flat, reef crest, dan reef slope. Klasifikasi habitat bentik pada level 3 menghasilkan 7 kelas dengan akurasi keseluruhan yaitu 66.40 %.This study used high-resolution satellite imagery of worldview-2 acquisition 5 October 2013. The purpose of this study was to explore the capability of high-resolution satellite imagery of worldview-2 to map the geomorphic zones of shallow water in Kotok Besar island. The method used is object-based image analysis. This method is able to define classes of objects based on spectral and spatial aspects. Image segmentation algorithm using multiresolution segmentation with different scala parameters for each level, level 1, level 2 and level 3. Shape and compactness are also customized for each level. Assign class at level 1 generates three classes, namely land, shallow water and deep water. Assign class at level 2 for geomorphic zone generates three class classes of reef flat, reef crest and reef slope. benthic habitat classification at level 3 produces 7 classes with an overall accuracy was 66.40%

    AKUSTIK DIBANDINGKAN DENGAN DENSITAS IKAN: KOMBINASI METODE AKTIF DAN PASIF

    Get PDF
    Fisheries acoustics has two main division namely active and passive acoustics. Various acoustic studies with active methods have been conducted to assess the relationship between acoustics with fish density, but combination both mactive and passive methods has never been done to the same fish aggregation. Combining these two methods is expected to deliver an information related to fish density and its trend with both active and passive methods. This study was conducted on tilapia (Oreochromis niloticus) in controlled condition of 50, 100, and 150 fish individuals with total length range of 10-13 cm. Active and passive acoustic data acquisition carried out for 15 minutes on floating net cage of 2 m × 2 m × 1.8 m in dimension using CruzPro PcFF-80 echosounder 200 kHz (active acoustics) and Dolphin EAR 100 hydrophones (passive acoustics). Active acoustic data is processed using Matlab R2013b to generate value of scattering volume (SV), while passive acoustic data is processed using Wavelab program to obtain the intensity of fish sound in frequency domain, then both are correlated to fish density. The results of SV measurements in fish amounted to 50, 100 and 150 individuals respectively were -45.898 dB, -45,887 dB and -45,888 dB, with the coefficient of determination (R2) reached 0.6583. There is an average decrease in SV in fish totaling 150 individuals suspected to occur due to shadowing effects, also due to small fish used. The highest and lowest intensity of fish sound of 50 fishes in frequency range 0-22 kHz were -28.306 dB and -64.582 dB, 100 fishes were -26.0793 dB and -64.5296 dB, 150 fishes were -28.5246 dB and -64.5679 dB.Akustik perikanan memiliki dua pembagian utama yaitu akustik aktif dan pasif. Berbagai penelitian akustik dengan metode aktif telah dilakukan untuk mengkaji hubungan antara akustik dengan densitas ikan, namun kombinasi metode aktif dengan pasif belum pernah dilakukan sekaligus pada kawanan ikan yang sama. Mengkombinasikan kedua metode ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berhubungan dengan densitas ikan serta kecenderungannya baik dengan metode aktif maupun pasif. Penelitian ini dilakukan pada kawanan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi terkontrol berjumlah 50, 100, dan 150 individu ikan dengan kisaran panjang total 10-13cm. Akuisisi data akustik aktif dan pasif dilakukan secara stasioner selama 15 menit pada keramba jaring apung (KJA) ukuran 2 m×2 m×1.8 m menggunakan echosounder CruzPro PcFF-80 frekuensi 200 kHz (akustik aktif) dan hydrophone Dolphin EAR 100 (akustik pasif). Data akustik aktif diolah menggunakan program Matlab R2013b untuk menghasilkan nilai hambur balik volume (scattering volume, SV), sedangkan data akustik pasif diolah menggunakan program Wavelab untuk memperoleh nilai intensitas suara dalam domain frekuensi, selanjutnya keduanya dihubungkan dengan densitas ikan. Hasil pengukuran SV pada ikan berjumlah 50, 100 dan 150 individu secara berturut-turut adalah -45.898 dB, -45.887 dB dan -45.888 dB, dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 0.6583. Terdapat penurunan rata-rata SV pada ikan berjumlah 150 individu yang diduga terjadi karena adanya efek shadowing, juga akibat ikan yang digunakan berukuran kecil. Intensitas suara tertinggi dan terendah ikan berjumlah 50 individu pada rentang frekuensi 0-22 kHz berturut-turut sebesar -28.306 dB dan -64.582 dB, pada ikan berjumlah 100 individu, sebesar -26.0793 dB dan -64.5296 dB, pada ikan berjumlah 150 individu sebesar -28.5246 dB dan -64.5679 dB

    DETEKSI PERUBAHAN LUASAN MANGROVE MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT BERDASARKAN METODE OBIA DI TELUK VALENTINE PULAU BUANO

    Get PDF
    Kurangnya informasi dan perhatian terhadap kawasan mangrove di Teluk Valentine menjadikan penelitian ini penting dilakukan. Seri Landsat 7 ETM + tahun 2003, dan 2015 digunakan sebagai data perekaman untuk memetakan mangrove dan melihat perubahan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan ekosistem mangrove antara tahun 2003 dan 2015, dengan menggunakan citra Landsat berdasarkan metode OBIA dan membandingkan keakuratan metode OBIA dan piksel. Metode analis basis objek atau sering disebut klasifikasi berbasis objek digunakan untuk menganalisis sejauh mana perubahan tutupan mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan klasifikasi berbasis objek, tutupan hutan bakau sangat baik terdeteksi dengan akurasi 85-88%. Penerapan analisis ini relatif stabil pada periode pengamatan, kawasan ini telah mengalami perubahan dari tahun 2003 ke 2015 sebesar 1.2%, namun perubahan tersebut dimaksudkan penambahan mangrove alami. Perhatian pemerintah daerah diperlukan untuk melestarikan kawasan sebagai kawasan konservasi atau laboratorium alam mengingat kawasannya masih sangat bagus dan tidak dieksploitasi secara berlebihan oleh masyarakat sekitar kawasan Teluk Valentine.Limited information and attention to the mangrove areas in the Valentine Bay makes this research is very important. Series Landsat 7 ETM + in 2003, and 2015 are used as recording data to map the mangrove and to see the changes in the region. This study aims to determine changes in mangrove ecosystem between 2003 and 2015, using Landsat imagery based on the OBIA method and to compare the accuracy between OBIA and pixel method. Object base analyst method or often called object-based classification is used to analyze the extent of mangrove cover changes. The results showed that by using an object-based classification, the mangrove forest cover very well detected at the level of 85-88% accuracy. The application of this analysis is were relatively stable in the period of observation, this region has changed from 2003 to 2015 by 1.2%, but the change is meant the addition of natural mangrove. Local government attention is needed to conserve the area and as an conservation area or a natural laboratory considering that the region is still very good and not overdone exploited by people around the region of Valentine

    POTENSI KECELAKAAN KERJA PADA PERIKANAN BAGAN APUNG DI PPN PALABUHANRATU, JAWA BARAT

    Get PDF
    This study focused on lift net fishery activity on its boat carrier. The activity on this transports is the most dangerous potential risk. The limited work area on the boat, with a large number of passengers and added weight of the quantity of goods transported can cause a high chance of accidents. The condition is also exacerbated by the situation on transports that no passenger uses safety equipment or personal protective equipment (PPE), and also the unavailability of these equipment in the boat. The study were aimed to identify the potential hazard or risk during operating of the bagan apung, and to identify the fishermen knowledge in working safety. The method used in this study is a case study method on the potential for work accident in boat carrier and lift net in Palabuhanratu. Primary data were obtained by interview through questionnaire. Secondary data were obtained through literature study concerning fishermen safety occupational. Job Safety Analysis (JSA) was used to examine the working method and the potential hazard at every step of the boat carrier and the bagan apung fishery activity. The result showed that, (1) based on Job Safety Analysis the risk arising were categorized into 3 of accident which were not severe (88%), severe (12%) and very severe (0%); (2) The fishermen having knowledge were categorized as good enough regarding occupational safety and procedures work on a boat. However, lack of awareness of the relevant agencies and fishermen in the management and implementation of work safety procedures in PPN Palabuhanratu had not been implemented properly.Fokus perhatian pada penelitian ini adalah aktivitas perikanan bagan di atas kapal angkutnya. Aktivitas pada kapal angkut inilah yang paling banyak memiliki potensi risiko berbahaya. Kecilnya area pada kapal angkut, dengan jumlah penumpang yang banyak dan ditambah dengan berat jumlah barang yang diangkut tersebut dapat menyebabkan peluang kecelakaan yang tinggi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan situasi di atas kapal angkut yang tidak terdapat seorang penumpang pun yang menggunakan alat keselamatan dan APD (Alat Perlindungan Diri), dan juga tidak tersedianya alatalat tersebut di dalam kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kerja pada kegiatan perikanan bagan apung, dan mengidentifikasi pengetahuan nelayan bagan apung terhadap keselamatan kerja.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada potensi kecelakaan kerja di kapal angkut dan bagan apung di Palabuhanratu. Data primer didapatkan dari hasil pengamatan langsung dan wawancara terhadap beberapa pihak terkait dengan keselamatan kerja nelayan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti literatur, dokumen serta arsip yang ada pada instansi terkait. Pengolahan data dilakukan dengan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis/JSA). Hasil penelitian ini menunjukkan, (1) berdasarkan JSA diperoleh bahwa risiko yang timbul terbagi dalam 3 kategori yakni kategori tidak parah (88%), parah (12%) dan sangat parah (0%); (2) nelayan bagan memiliki pengetahuan yang dikategorikan cukup baik mengenai keselamatan kerja dan prosedur kerja di kapal

    PENGUKURAN KOEFISIEN DIFFUSE ATENUASI (Kd) DI PERAIRAN DANGKAL SEKITAR KARANG LEBAR, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

    Get PDF
    Nilai koefisien diffuse atenuasi Kd(λ) yang berasal dari pengukuran downwelling irradiance Ed(λ) merupakan salah satu parameter penting dalam oceanografi yang memberikan informasi mengenai ketersediaan cahaya dan tingkat penetrasi cahaya di dalam kolom air yang memberikan gambaran mengenai tingkat kecerahan, fotosintesis dan proses biologi lainnya. Informasi mengenai koefisien diffuse atenuasi memegang peranan penting dalam pengembangan algoritma Bio-Optik pada data satelit Ocean Color. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan variabilitas dari koefisien diffuse atenuasi di perairan dangkal Karang Lebar, pulau Air dan Panggang dengan menggunakan sensor irradiace hyperspectral radiometer TriOS-RAMSES dengan cakupan rentang panjang gelombang 320 hingga 950 nm dengan resolusi spektral 3.3 nm. Pengukuran in situ dilakukan dengan menurunkan sensor irradiance di setiap kedalaman secara vertikal pada kolom air. Secara keseluruhan hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai Kd(λ) memiliki pola dimana pada region panjang gelombang 380-480 nm akan menurun dan akan meningkat kembali hingga pada region panjang gelombang merah 560-760 nm. Nilai Kd(λ) di bagian dalam gobah ditemukan lebih tinggi dibandingkan di bagian luar gobah dengan perbedaan yang signifikan terjadi di region panjang gelombang merah, perbedaan signifikan nilai Kd(λ) juga terjadi di ketiga wilayah (F = 5.581 > F critical = 5.554) dimana masing-masing area memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Secara dominan, nilai Kd(λ) dipengaruhi oleh serapan klorofil-a dengan R2 = 0.808 dibandingkan dengan hamburan dari muatan padatan terlarut dibuktikan dengan R2 = 0.043. Nilai Kd(λ) pada rentang panjang gelombang sinar tampak (400-700 nm) dapat memberikan gambaran mengenai jangkauan penetrasi cahaya sinar tampak yang bisa dideteksi oleh satelit dengan satuan satu kedalaman optik. Hubungan nilai Kd(λ) dengan satu kedalaman optik dijelaskan secara eksponensial dengan persamaan Kd(400-700 nm) = 0.375*exp(-0.095*1ζ) dengan koefisien determinasi R2 = 0.97.Diffuse attenuation coefficient from downwelling irradiance measurement is one of the important oceanography parameter that provide information on light availability and the light penetration through waters column that represent the waters clarity, photosynthesis and other biological processes. Information about diffuse attenuation coefficient play an important role on the development of bio-optical algorithm on Ocean Color satellite data. The aim of this research is to know the variability of diffuse attenuation coefficient in the shallow water of Karang Lebar, Air and Panggang island using irradiance sensor from hyperspectral radiometer TriOS-RAMSES covering a wavelength range from 320 to 950 nm with 3.3 nm spectral resolution. In situ measurments performed by pull down the irradiance sensor on each depth vertically in waters column up to just before the sea floor. Overall, the measurement result showed that values of Kd(λ) had patterns tends to be decreased on blue-green region wavelength (380-480 nm) and increased again on green-red region (560-760 nm). We found that values of Kd(λ) inside of gobah area had greater values than the outside gobah, significantly the difference significantly occured on all regions that Kd(λ) values measured (F = 5.581 > F critical = 5.554), where each regions has different characteristics to each others. Kd(λ) values dominantly affected by absorbtion of chlorophyll-a with determination cofficient R2 = 0.808 compared with backscattering by suspended solid with determination coefficient R2 = 0.043. Kd(λ) values on visible wavelength regions (400-700 nm) can describe information about how far light can be detected by Ocean Color satellite from water column represented by one optical depth. Relationship of Kd(λ) values with one optical depth can be describe as exponential equation Kd(400-700 nm) = 0.6747*exp(-0.231*1ζ) with the determination coefficient R2 = 0.97

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇