Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
HISTAMIN DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PEMBENTUK HISTAMIN PADA TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus)
Pelayanan adalah suatu bentuk pemberian jasa guna memenuhi kebutuhan pengguna. Pelabuhan perikanan harus memperhatikan berbagai aspek yang dapat meningkatkan kualitas pelayanannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelayanan apa saja yang belum memenuhi harapan/kebutuhan nelayan Kuala Tungkal terhadap pelayanan operasional dan fasilitas yang telah diberikan oleh pengelola PPP Kuala Tungkal. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis Importance Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil analisis diketahui atribut-atribut yang berada pada kuadran I yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan dan diperbaiki pelayanannya sesuai dengan harapan nelayan yakni (4) Kondisi kolam pelabuhan, (6) Pelayanan aktivitas pelelangan ikan, (8) Pelayanan fasilitas perbaikan kapal (docking kapal), (11) Ketercukupan jumlah es yang di perlukan nelayan, (14) Ketercukupan jumlah BBM yang diperlukan nelayan, (15) Pelayanan air bersih dan (7) Ketercukupan jumlah air yang diperlukan nelayan.The service is a form of service delivery to satisfy user needs. The Fishing port must pay attention to various aspects that can improve the quality of its services. The purpose of this study is to find out what services that have not met the expectations / needs of Kuala Tungkal fishermen to the operational services and facilities provided by the Kuala Tungkal manager. In this research, the writer uses case study method with Importance Performance Analysis (IPA). Based on the results of the analysis, it is known that the attributes in 1st quadrant become the priority of their services to be improved and repaired, according to the expectations of fishermen which are (4) Condition of port ponds, (6) Services of fish auction activities, (8) Service of ship repair facilities (ship docking), (11) Adequacy of the amount of ice needed by fishermen, (14) Adequate amount of fuel needed by fishermen, (15) Clean water services, and (7) Adequate amount of water needed by fishermen
UJI COBA LAMPU CELUP LED PADA JARING INSANG SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN
Jaring insang merupakan alat penangkap ikan berupa lembaran jaring yang berbentuk persegi panjang. Prinsip utama pengoperasiannya adalah menghadang pergerakan ikan. Keberhasilan operasi penangkapannya sangat tergantung pada ada atau tidaknya ikan yang melintas melewati jaring. Perbaikan teknik penangkapan ikan pada jaring insang perlu dilakukan untuk meningkatkan berat tangkapannya. Solusinya adalah inovasi penggunaan atraktor berupa lampu untuk menarik perhatian ikan agar datang menuju alat tangkap, sehingga jaring insang yang bersifat pasif tidak hanya menunggu ruaya ikan yang melewatinya. Salah satu sumber cahaya yang bisa digunakan adalah lampu LED. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing menggunakan dua unit alat tangkap jaring insang yang dioperasikan secara bersamaan, masing-masing menggunakan lampu dan tanpa lampu. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui komposisi hasil tangkapan, membuktikan bahwa penggunaan alat bantu lampu pada jaring insang akan meningkatkan berat hasil tangkapan dan menentukan posisi jaring dari lampu yang menghasilkan berat tangkapan tertinggi. Hasilnya adalah: (1) Ikan hasil tangkapan jaring insang dengan lampu (JDL) terdiri atas 10 jenis, atau 2 jenis lebih banyak dibandingkan dengan jaring insang tanpa lampu (JTL). Delapan jenis ikan yang sama adalah tongkol, tenggiri, talang-talang, alu-alu, kembung, semar, galang sadap, dan kwee. Adapun 2 jenis ikan yang hanya tertangkap oleh JDL adalah tentengkek dan bawal hitam; (2) Penggunaan alat bantu lampu pada jaring insang terbukti meningkatkan hasil tangkapan dengan berat hasil tangkapan JDL 189.765 g, dan (3) Lembar jaring yang menghasilkan berat tangkapan tertinggi berada pada posisi pertama, yaitu lembar 1, 6, 7, dan 12 dengan hasil tangkapan sebesar 108.308 g.Gillnets is a rectangular fishing gear. The main principle of the methods is blocking movement of the fish. The success of its operation depends on the fish presence in passing the net. The improvements of fishing technique on gillnets need to be done to increase the catch weight. The solution is to innovate the use of attractors in the form of lights to attract fish to come to the fishing gear, so that the passive gillnets do not just wait for the fish through it. The study used experimental fishing method with two units of gillnets simultaneously, which each units with lamp and the other without lamp. The objectives of the studies are to get information on the catch composition, to prove the use of a lamp on the gillnets will increase the catch weight and to determine the net position from the lamp that resulted the highest weight. The result showed that (1) the catch in gillnets with LED underwater lamps (JDL) consist of 10 types, or 2 types more than the gillnets without light emitting diode (LED) lamp (JTL). The eight catch composition consists of mackerel, spanish mackerel, barred queenfish, indian mackerel, great barracuda, moonfish, bigbelly pomfret, and giant trevally. The catch composition from JDL were the amberjack and the black pomfret; (2) The use of lamp on the gillnet proven to increase the catch with JDL total weight of fish was 189.765 g; (3) from position of the net shows that the highest weight was at the first position, such as net number 1, 6, 7, and 12 as much as 108.308 g
IDENTIFIKASI PLANKTON DI KAWASAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT KABUPATEN BANTAENG, SULAWESI SELATAN DENGAN METODE DNA BARCODING
DNA barcoding merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi plankton dengan melihat materi genetiknya. DNA barcoding dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu ekstraksi, amplifikasi, purifikasi, dan sekuensing. Sampel yang digunakan adalah diambil pada bulan Juli 2017 dan Desember 2017 dari kawasan budidaya rumput laut Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi plankton dari kawasan budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dengan metode DNA barcoding menggunakan primer 18S rDNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plankton yang teridentifikasi adalah zooplankton, yaitu Pegurus bernhardus, Canthocalanus pauper, Calanus finmarchicus, dan Copepoda pada stasiun B, Acartia longiremis dan Subeucalanus pileatus pada stasiun C, dan Oithona sp. pada stasiun D dan E.DNA barcoding is a method that can be used to identify the plankton by looking at their genetic material. DNA barcoding performed with several stages, i.e. extraction, amplification, purification, and sequencing. The sample used was taken in July 2017 and December 2017 from the area of cultivation of seaweed Bantaeng District, South Sulawesi. This study aims to identify the plankton of the area of seaweed farming in Bantaeng District, South Sulawesi with the method of DNA barcoding using the primer 18S rDNA. The results showed that the plankton identified is the zooplankton, Pegurus bernhardus, Canthocalanus pauper, Calanus finmarchicus, dan Copepoda at station B, Acartia longiremis and Subeucalanus pileatus at stations C, and Oithona sp. at stations D and E
SPEKTRUM SUARA GULAMAH SEBAGAI KAJIAN AWAL PEMBUATAN RUMPON: KASUS DI PERAIRAN TUBAN, JAWA TIMUR
Salah satu komoditas unggulan di Pantai Utara Jawa Timur yang memiliki produksi cukup besar adalah ikan gulamah (Sciaenidae). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang mempunyai potensi tinggi. Sebelumnya pemanfaatan ikan gulamah hanya sebatas dalam bentuk ikan segar dan ikan asing/kering. Belakangan ini organ dalam ikan ini (gelembung renang) juga banyak dimanfaatkan dan justru mempunyai nilai ekonomis jauh lebih tinggi. Tingginya nilai ekonomis pada komoditas ini berimplikasi meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap ikan ini semakin meningkat. Bahkan terkadang upaya penangkapan yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah penangkapan yang bertanggungjawab. Gulamah merupakan salah satu jenis ikan yang sering mengeluarkan suara “croak” dalam aktivitas tingkah lakunya. Kajian tentang spektrum suara schooling ikan gulamah/tigawaja sebagai kajian awal pembuatan alat pendeteksi dan pengumpul ikan berbasis suara yang efektif dan ramah lingkungan sebagai salah satu instrumen ketahanan pangan produk perikanan laut. Sehingga diharapkan dengan adanya introduksi teknologi baru yang efisien, efektif, murah, sederhana dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi nelayan. Metode penelitian deskriptif analitik dan experimental fishing, data yang dikumpulkan adalah data spektrum suara schooling ikan gulamah (Scieanidae), dimana pengambilan data dilakukan di Perairan Tombokboyo, Tuban, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan gulamah di Perairan Tombokboyo mengeluarkan suara dengan rata-rata amplitude berkisar -54,97 dB, rata-rata frekuensi 732,129 Hz, dengan durasi suara 130 miliseconds.One of the leading commodities in the North Coast of East Java which has a large production is gulamah (Sciaenidae). This fish is one of the marine fisheries commodities that have high potential. Previously the use of gulamah was limited to fresh fish and dried fish. Lately these organs in fish (swimming bladders) have also been widely used and actually have much higher economic value. The high economic value of these commodities has implications for the increasing pressure on exploitation of these fish. In fact, sometimes arrests are made without regard to responsible fishing rules. Gulamah is one type of fish that often makes a “croak” sound in its behavioral activities. Study of the schooling sound spectrum of gulamah (Sciaenidae) as a preliminary study for the manufacture of effective and environmentally friendly Sound-Fish Aggreagating Device as one of the food security instruments for marine fisheries products. So it isexpected that with the introduction of new technologies that are efficient, effective, simple and can provide economic added value for fishermen. Analytical descriptive research method and experimental fishing, the data collected is the sound spectrum data schooling gulamah (Sciaenidae), where data collection is carried out at Tombokboyo Waters, Tuban, East Java. The results showed that gulamah in Tombokboyo waters issued a sound with an average amplitude of around -54,97 dB, an average frequency of 732,129 Hz, with a sound duration of 130 milisecond
EVALUASI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) SUB GOLONGAN PENANGKAPAN IKAN DI LAUT
SKKNI bidang perikanan tangkap golongan penangkapan ikan di laut sudah diterapkan sejak 2013, meskipun masih banyak kekurangannya. Beberapa kekurangan dari SKKNI diantaranya ketidaksesuaian standar dengan kondisi yang sebenarnya dan ada sejumlah kompetensi yang belum terakomodir dalam standar tersebut (Nurani et al. 2017). Permasalahan ini harus dicari solusinya, maka perlu dilakukan kajian untuk mengevaluasi proses pengembangan dan pembentukan standar ini. Penelitian telah dilakukan pada Mei-Juli 2018 melalui studi literatur, wawancara, serta analisis. Analisis mnggunakan pendekatan kualitatif (deskriptif) dan kuantitatif (skoring). Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan dan pembentukan SKKNI golongan penangkapan ikan di laut sudah sesuai aturan. Beberapa hal yang harus ditingkatkan/diperbaiki adalah meliputi (1) aseptebel serta kesesuaian dengan kondisi sesungguhnya, (2) terukur dan bahasa jelas, (3) tidak adanya Rancangan Induk Pengembangan (RIP) SKKNI, (4) komposisi praktisi pada tim perumus, dan (5) kepemilikan lisensi sertifikasi untuk seluruh tim verifikasi. Peningkatan kualitas SKKNI golongan perikanan laut kedepan ada 2 prioritas yaitu penyusunan RIP dan peningkatan keterlibatan pihak praktisi.Competency standard for capture fisheries was esablished in 2013, this standard is supposed to be used as a reference in developing training program and competency assessment. After more than 5 year implementation, it was revealed that the application of the standard had some shortages. These are issue on its relevance to the actual working condition and some needed competencies were not accommodated in the standard (Nurani et al. 2017). To solve this problem, review should be carried out to the process of development and establishment of the standar. Research wascarried out in May-July 2018 with literature review, interviews, both qualitative and quantitative analysis in general. The results show the development and formation process of the standard was performed in accordance with the existing rules. Some issues identified from this process included: (1) acceptability and conformity to the actual working condition, (2) measurability and clarity of the texts, (3) the absence of master plan of competency standard development. (4) engagement of practicioners in standard development team, and (5) certification licences for all member of verification team. There are two priority actions needed to improve the quality of SKKNI development and forming process in the next, i.e. development of RIP SKKNI and increase engagement of practicioners in the process of standard development
HISTAMIN DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PEMBENTUK HISTAMIN PADA TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus)
Big eyes tuna (Thunnus obesus) is a species that potentially valuable as a source of protein and commercial aspect. In the perspective of quality and safety, inappropriate care during catching and processing leading to microorganism contamination and can cause health problems when the meat is consumed. Histamine content, total Histamine Forming Bacteria (HFB), and Total Plate Count (TPC) are the indicator in food safety and quality standard for tuna’s products. This research aims to measured histamine content, total HFB, TPC score and to identify the histamineforming bacteria in big eyes tuna observed during chilling temperature for nine days. There are three stages, sample preparation, storage, chemical and microbiology analysis. The During the observation period, histamine content, total HFB dan TPC score are increased in all part of the sample. Highest TPC sore is observed at day 9 which is 5,4 x 105 CFU/g in belly part, 5,1 x 105 CFU/g in dorsal part and 1,0 x 104 CFU/g in tail part respectively. For total HFB, 2,7 x 105 CFU/g in belly part, 1,4 x 105 CFU/g in dorsal part and 2,3 x 103 SFU/g in tail part respectively. For histamine content, all parts experienced increasing histamine measured 59,73 ppm, 131,10 ppm, and 96,04 ppm respectively. In this research, Bacillus subtilis is identified 99% as histamine forming bacteria in big eyes tuna.Tuna mata besar (Thunnus obesus) merupakan spesies memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam dunia perdagangan. Dalam perspektif fish quality dan safety, tuna dapat menyebabkan permasalahan kesehatan disebabkan adanya kontaminasi mikroorganisme selama proses penangkapan, penanganan maupun pengolahan. Kadar histamin dijadikan indikator mutu dan keamanan pangan produk tuna, karena histamin yang tinggi menyebabkan efek keracunan pada manusia. Penelitian bertujuan menentukan kadar histamin, total bakteri, total Bakteri Pembentuk Histamin (BPH), serta mengidentifikasi bakteri penghasil histamin selama penyimpanan chilling selama sembilan hari. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu preparasi sampel, penyimpanan sampel, analisis kimia dan mikrobiologi. Selama proses penyimpanan terjadi peningkatan jumlah Total Place Count (TPC), BPH dan kadar histamin secara nyata, baik pada bagian perut, punggung maupun ekor. Jumlah TPC tertinggi terjadi pada hari ke 9 yaitu bagian perut 5,4 x 105 cfu/g, punggung 5,1 x 105 cfu/g, dan ekor 1,0 x 104 cfu/g. Sedangkan jumlah BPH hari ke-9 perut 2,7 x 105 cfu/g, punggung 1,4 x 105 cfu/g, dan ekor 2,3 x 103 cfu/g. Kadar histamin setelah penyimpanan hari ke-9 mengalami peningkatan menjadi 59,73 ppm untuk daging bagian perut, 131,10 ppm daging bagian punggung, dan 96,04 ppm daging bagian ekor. Hasil identifikasi bakteri pembentuk histamin menunjukkan bahwa Bacillus subtilis dengan persentase identifikasi sebesar 99% merupakan bakteri pembentuk histamin pada tuna mata besar
PENGUKURAN KOEFISIEN ATENUASI DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS AIR DI PERAIRAN KELURAHAN PULAU PANGGANG
Attenuation coefficient is a description of how much light comes down or disappears compared to the light energy on the surface. Reduction of light energy due to absorption and scattering by the water column and the material contained such as phytoplankton, suspended solids and colored dissolved organic matter. The quantity of light that attenuated is equivalent to the amount of light absorbed and scattered. This study aims to analyze the relationship between attenuation coefficients and water quality, as well as to examine the optical characteristics of Kelurahan Pulau Panggang waters. Spectral measurements using TriOS-Ramses which have irradiance sensors with wavelengths between 320 nm to 950 nm and a channel range of 3,3 nm. Calculation of attenuation coefficient (Kd) based on changes in downwelling irradiance at two different depths. To determine the relationship between Kd and water quality, Pearson correlation was used. Based on the wavelength range, Kd is divided into 4 namely Kd PAR, Kd blue, Kd green and Kd red. Kd blue and Kd green have the closest relationship with brightness of 0,5406 and 0,3990 and are negative, while Kd PAR and Kd red are most closely related to suspended solid of 0,4015 and 0,4073 and are positive. The waters of Kelurahan Pulau Panggang are turbid with a Kd PAR value > 0,115 m-1.Koefisien atenuasi merupakan gambaran seberapa besar cahaya datang berkurang atau hilang dibandingkan dengan energi cahaya datang di permukaan. Pengurangan energi cahaya dikarenakan adanya proses absorpsi dan hamburan oleh kolom air dan materi yang terkandung di dalamnya seperti fitoplankton, padatan tersuspensi dan colored dissolved organic matter. Kuantitas cahaya yang mengalami atenuasi setara dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi dan dihamburkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara koefisien atenuasi dengan kualitas air, serta mengkaji karakteristik optik perairan Kelurahan Pulau Panggang. Pengukuran spektral menggunakan TriOSRamses yang memiliki sensor irradiance dengan panjang gelombang antara 320 nm sampai 950 nm dan rentang kanal 3,3 nm. Perhitungan koefisien atenuasi (Kd) berdasarkan perubahan downwelling irradiance pada dua kedalaman berbeda. Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara Kd dengan kualitas air. Berdasarkan rentang panjang gelombang, Kd dibagi menjadi 4 yaitu Kd PAR, Kd biru, Kd hijau dan Kd merah. Kd biru dan Kd hijau memiliki hubungan paling erat dengan kecerahan sebesar 0,5406 dan 0,3990 serta bersifat negatif, sedangkan Kd PAR dan Kd merah paling erat hubungannya dengan muatan padatan tersuspensi sebesar 0,4015 dan 0,4073 dan bersifat positif. Perairan Kelurahan Pulau Panggang merupakan perairan turbid dengan nilai Kd PAR > 0,115 m-1
HUBUNGAN PANJANG-BERAT DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN KAKATUA (Chlorurus strongycephalus) DI TAMAN NASIONAL WAKATOBI
Ikan kakatua merupakan sumber daya penting di Kabupaten Wakatobi dan ikan kakatua ditangkap dengan alat tangkap jaring, bubu, dan muroami. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Wakatobi pada bulan Desember 2014 sampai Maret 2015. Tujuan penelitian adalah melihat pola pertumbuhan dan ukuran pertama kali tangkap untuk ikan kakatua (Chlorurus strongycephalus). Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dimana pengambilan sampel dilakukan secara purposif (purposive sampling) dan data yang digunakan adalah panjang dan berat ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan allometrik negatif dan faktor kondisi yaitu sebesar 1,07 yang berarti bahwa ketersedian makanan masih cukup sedangkan ukuran minimal ikan yang tertangkap adalah 31,82 cm. Hasil ini memperlihatkan perlunya regulasi untuk penangkapan ikan kakatua (Chlorurus strongycephalus) di Kabupaten Wakatobi dan modifikasi alat tangkap seperti celah pelolosan untuk bubu
SEBARAN DAERAH TANGKAP IKAN TONGKOL (Euthynnus sp.) DI PERAIRAN SELATAN JAWA
Tingginya pemanfaatan masyarakat terhadap ikan tongkol kontradiksi dengan mayoritas armada kapal yang dimiliki nelayan di Selatan Jawa berupa gill net dan long line yang spesifikasi untuk menangkap tuna dan pelagis besar lainya. Peta daerah penangkapan ikan tongkol sangat dibutuhkan oleh nelayan, terutama ketika musim paceklik ikan berlangsung menjadi tulang punggung hasil tangkap nelayan. Raw data penangkapan diperoleh dari logbook penangkapan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPS Cilacap) sepanjang tahun 2017. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis sebaran daerah penangkapan ikan tongkol (Euthynnus sp.) untuk alat tangkap gill net dan long line di perairan selatan Jawa dan (2) menganalisis sebaran menegak lapisan rata-rata bulanan suhu dan salinitas perairan yang optimum untuk ikan tongkol. Hasil penelitian ini menunjukkan sebaran daerah penangkapan ikan tongkol (Euthynnus sp.) untuk alat tangkap gill net adalah 105,56⁰-110,78⁰ BT dan 7,48⁰-11,57⁰ LS serta untuk alat tangkap long line adalah 106,69⁰-109,46⁰ BT dan 7,84⁰-9,37⁰ LS. Sebaran daerah penangkapan ikan tongkol menggunakan gill net tertinggi pada bulan Agustus dengan perolehan hasil tangkap 76.634 kg, sedangkan menggunakan long line pada bulan Juli dengan perolehan hasil tangkap 18.741 kg. Sebaran menegak lapisan rata-rata bulanan suhu perairan untuk ikan tongkol optimum pada bulan Juli, Agustus, September untuk gill net dan bulan Juli serta November untuk long line yaitu 26-27⁰ C. Sebaran menegak rata-rata bulanan salinitas perairan untuk ikan tongkol juga optimum bulan Juli, Agustus, September untuk gill net dan long line sepanjang tahun kecuali bulan Januari merupakan kisaran optimum yaitu berkisar 34,0-43,3 %o.The high utilization of the community towards mackerel is contradicted by the majority of the fleet owned by fishermen in South Java in the form of gill net and long line which are the specifications for capturing other large tuna and pelagic. Maps of mackerel fishing areas are needed by fishermen, especially when the fish famine season takes place as the backbone of the fishermen’s catch. Raw data of the catch is obtained from the log book of Cilacap Oceanic Fishing Port catch throughout 2017. This research aimed to (1) analyze the distribution of mackerel fishing for gill net and long line fishing gear in the coastal of South Java and (2) analyze the distribution of the average layer thickness of the optimum water temperature and salinity for mackerel. The result of this study shows that the number of mackerel fishing areas (Euthynnus sp.) for gill net fishing equipment is 105,56⁰-110,78⁰ E and 7,48⁰-11,57⁰ S and for long line fishing gear is 106,69⁰-109,46⁰ E and 7,84⁰-9,37⁰ S. The distribution of mackerel fishing areas using the highest gill net in August with the acquisition of 76.634 kg of catch, while using the long line in July with the acquisition of catch results of 18.741 kg. The upright distribution of the average water temperature for mackerel is optimal in July, August, September for gill net and July and November for the long line, 26-27⁰ C. The upright distribution of monthly average water salinity for mackerel is also optimum in July, August, September for gill net and long line throughout the year except January is the optimum range which ranges from 34,0 to 43,3 %o
PENENTUAN FISHING GROUND DAN ALAT TANGKAP UNGGULAN IKAN PELAGIS DI KOTA BENGKULU
The fisherman of Bengkulu city to hunt the fishing ground for pelagic was still conventionally. Pelagic fish was catched by many types of fishing gear. For optimalizing sustainable pelagic fisheries was required the information about fishing ground distribution and selecting superior fishing gear for pelagic fish. The purpose of this study was to find out the fishing ground distribution and selecting superior fishing gear for pelagic fish. The method was used to find out the fishing ground distribution by mapping and selecting superior fishing ground by scoring the result showed that the fishing ground of pelagic was around Tikus island, Mega island, and Enggano island. Based on the standardization result of technic, biology, social, and economic aspect showed that selected fishing gear as superior fishing gears for pelagic were purse seine, boat lift net, and troll line. The selected fishing gear for pelagic fish was superior fishing gear of all alternative fishing gear for pelagic fish.Nelayan Kota Bengkulu dalam pencarian fishing ground (daerah penangkapan ikan) ikan pelagis masih secara konvensional. Ikan pelagis ditangkap oleh beberapa jenis alat tangkap. Untuk mengoptimalkan perikanan pelagis secara berkelanjutan maka dibutuhkan informasi sebaran daerah penangkapan ikan dan pemilihan alat tangkap unggulan untuk ikan pelagis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran daerah penangkapan ikan dan menentukan alat tangkap unggulan ikan pelagis. Metode yang digunakan untuk mengetahui sebaran daerah penangkapan ikan menggunakan pemetaan dan menentukan alat tangkap unggulan menggunakan metode skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penangkapan ikan tersebar di sekitar Pulau Tikus, Pulau Mega, dan Pulau Enggano. Berdasarkan hasil standarisasi gabungan dari aspek teknik, biologi, sosial, dan ekonomi terpilih alat tangkap unggulan untuk ikan pelagis yaitu purse seine, bagan perahu, dan pancing tonda. Alat tangkap yang terpilih menjadi alat tangkap unggulan ikan pelagis merupakan alat tangkap yang unggul dari semua alternatif alat tangkap ikan pelagis