Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI SIFAT FUNGSIONAL KONSENTRAT PROTEIN IKAN SUNGLIR (Elagatis bipinnulatus)
Konsentrat protein ikan (KPI) adalah bentuk protein kering yang diekstrak dari daging ikan menggunakan pelarut etanol. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi konsentrat protein ikan sunglir yang diekstrak menggunakan pelarut etanol. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ikan sunglir dan pelarut etanol teknis. Tahapan penelitian meliputi (1) ekstraksi KPI menggunakan pelarut etanol 90% dengan perbandingan 1 : 3 selama 3 jam, (2) menentukan standar mutu KPI ikan sunglir dan analisis asam amino. Data yang diperoleh dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata rendemen KPI berkisar 20%. Karakteristik sesuai standar FAO 1976 meliputi kadar protein (85,34%), kadar lemak (3,28%), bau (2,11 : bau ikan kuat) dan derajat putih (53,54%) sehingga tergolong KPI tipe B. Analisis kadar air (6,34%), kadar abu (7,47%), sifat fungsional: daya serap minyak (2,48 g/g) dan daya serap air (2,02 ml/g). KPI mengandung 9 asam amino esensial dan 6 asam amino non esensial.Fish protein Concentrat (FPC) is a form of dry protein wich is extracted from fish meet using ethanol solvent. The aims of this research is to characterization of fish protein concentrate wich extraction using ethanol 90%. There are some steps that we established to achieve the aims such as (1) FPC exctraction using etanol 90% with ratio 1 : 3 during 3 hours, (2) to determine of characterization of FPC. All data are given descriptively. Result show the mean of FPC rendement between 20%. Characteristic base on FAO 1976 showed protein (85%), fat (3,28%), odor (2,11: strong fishy odor) and whiteness degree (53,54%) based on the information this product chategorized as type B. water contain analysis (6, 34%), asses (7,47%), functional properties: oil absorbant capacity (2,48 g/g) and water absorbant capacity (2,02 ml/g). This product contained 9 essential amino acids and 6 non essential amino acids
MODEL KONSEPTUAL PENGEMBANGAN PERIKANAN TONGKOL DAN CAKALANG YANG DIDARATKAN DI KOTA BENGKULU
Bengkulu City is one of the coastal cities that located in the western part of Sumatra island. This city borders directly with the Indian Ocean and had the potential of fisheries, especially for auxis and skipjack. As many as 5.818 tons of auxis fish and 2.031 tons of skipjack fish have been landed every year in PPP Pulau Baai Kota Bengkulu. Despite having abundant fish potency but fisherman can only utilize it equal to 48%. The purpose of this research were to identify the problems that occur in auxis and skipjack fisheries landed in Bengkulu City and create a conceptual model to provide solution related problems in auxis and skipjack fisheries that landed in Bengkulu city. The analysis has been done using Soft System Methodology (SSM). The problems that discovered in auxis and skipjack fisheries are the facilities of PPP Pulau Baai not good enough, DKP can’t give free aid to the right fisherman, Syahbandar can’t do monitoring very well toward fisherman and there isn’t any exist industry of auxis and skipjack in the city. The solution of this research was to improve the facilities of PPP Pulau Baai, the more appropriate target of DKP aid, to activate the processing industry of auxis and skipjack as well as to increase the performance of syahbandar related to the active period of fishing permit.Kota Bengkulu merupakan salah satu kota pantai yang berada di bagian barat pulau Sumatera. Kota ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki potensi perikanan terutama untuk ikan tongkol dan cakalang. Sebanyak 5.818 ton ikan tongkol dan 2.031 ton ikan cakalang telah mendarat setiap tahun di PPP Pulau Baai Kota Bengkulu. Meski memiliki potensi ikan yang melimpah namun nelayan hanya bisa memanfaatkannya sebesar 48%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di Kota Bengkulu dan menciptakan model konseptual untuk memberikan solusi terkait permasalahan pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di kota Bengkulu. Analisis tersebut telah dilakukan dengan menggunakan Soft System Methodologi (SSM). Permasalahan yang ditemukan pada perikanan tongkol dan cakalang adalah fasilitas PPP Pulau Baai yang tidak cukup baik, DKP tidak dapat memberikan bantuan gratis kepada nelayan yang tepat, Syahbandar tidak dapat melakukan memantau dengan baik terhadap nelayan dan tidak ada industri tongkol dan cakalang di kota ini. Solusi dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki fasilitas PPP Pulau Baai, target bantuan DKP yang lebih tepat, untuk mengaktifkan industri pengolahan auxis dan cakalang serta untuk meningkatkan kinerja syahbandar terkait dengan masa aktif izin penangkapan ikan
PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN LAYANG DENGAN CITRA SATELIT DI PERAIRAN ACEH SEKITAR PIDIE JAYA
Daerah penangkapan ikan layang selalu dalam keadaan berubah dan berpindah tempat dengan cara mengikuti perubahan kondisi lingkungan yang secara alamiah ikan akan memilih habitat yang lebih sesuai. Nelayan Pidie Jaya dalam menentukan daerah penangkapan ikan hanya dengan cara melihat tanda-tanda alam yang dipelajari secara turun temurun, sehingga dengan cara tersebut kurang efektif dalam usaha penangkapan ikan. Penggunaan satelit remote sensing telah terbukti memainkan peran kunci dalam pengkajian oseanografi perikanan untuk memprediksi daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah hasil tangkapan dan ukuran panjang ikan layang, menentukan penyebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut. Membuat peta pendugaan daerah penangkapan ikan layang potensial di perairan Aceh sekitar Pidie Jaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan cara mengikuti langsung ke daerah penangkapan ikan dan wawancara terhadap nahkoda kapal mini purse seine. Konsentrasi kandungan klorofil-a di lokasi penangkapan ikan selama penelitian berkisar antara 0,13-0,85 mg/m3 dan rata-rata 0,35 mg/m3, sedangkan suhu permukaan laut dengan nilai rata-rata 29,25°C. Ukuran panjang ikan layang yang tertangkap selama bulan September sampai November berkisar antara 17,9-21,9 cm dengan panjang rata-rata yaitu 19,7 cm. Daerah penangkapan ikan layang potensial berada pada laut lepas pantai yang berjarak dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) ke daerah penangkapan ikan > 6 mil laut.The fishing ground of fish Scads always in a state of change and move in a way following the changes in environmental conditions that naturally fish would choose a more suitable habitat. Fishermen in Pidie Jaya determine fishing grounds only by looking at natural signs, learned from generation to generation, so this method is less effective in fishing ground. The use of satellite remote sensing have been shown to play a key role in the study of Oceanography fisheries for predicting the fishing area. This research aimed to determine the amount of the catch and to measure fish length, to specify the spread of chlorophyll-a and SST. The fishing ground map was created to prediction potential distribution around Pidie Jaya. The method used in this study is survey was following directly into the fishing area and interviewing the mini purse seine ship captain. The concentration of chlorophyll-a in the location of fisheries during the study ranged from 0,13-0,85 mg/m3 and an average 0,35 mg/m3, while the temperature of the sea surface with an average value of 29,25°C. Scads fish length caught during the months of September through November ranged from 17,9-21,9 cm long with an average that is 19,7 cm. The potensial of Scad fishing ground off the coast of a fish landing base (PPI) to the fisheries is > 6 nautical miles offshore
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI PULAU WANCI, KABUPATEN WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA
Lamun merupakan tumbuhan laut yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan ekosistem pesisir lainnya seperti terumbu karang dan mangrove baik dari segi fisik, ekologi, dan ekonomi. Indonesia memiliki 12 jenis lamun dari 58 jenis lamun di dunia. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki jumlah jenis yang sama karena perbedaan kondisi lingkungan atau tekanan antropogenik, sehingga perlu ada kajian keragaman jenis lamun di wilayah perairan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur komunitas lamun dan keterkaitan antara kerapatan lamun dan parameter lingkungan di perairan Pulau Wanci, Sulawesi Tenggara. Stasiun pengamatan berada pada daerah padang lamun yang dibagi menjadi 4 stasiun. Metode sampling yang digunakan mengacu pada McKenzie et al. (2001) menggunakan transek kuadrat 50 cm x 50 cm. Selanjutnya menghitung jumlah tegakan lamun dan mencatat jenis lamun yang ditemukan pada tiap transek kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 7 jenis lamun di perairan Pulau Wanci yaitu Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, Thalasodendron ciliatum, dan Syringodium isoetifolium dengan kerapatan tertinggi didominasi oleh T. hemprichii, H. uninervis, dan C. rotundata dengan pola sebaran keseluruhan adalah mengelompok. Terdapat keterkaitan antara kerapatan lamun dengan parameter lingkungan, substrat berpasir memiliki korelasi positif yang tinggi terhadap kerapatan lamun sedangkan substrat liat, kecepatan arus, salinitas, dan suhu memiliki korelasi negatif yang rendah sampai tinggi terhadap kerapatan lamun di perairan Pulau Wanci.Seagrass is sea plant that is no less important to other coastal ecosystems such as coral reefs and mangroves in terms of physical, ecological, and economic. Indonesia has 12 species of seagrasses from 58 species of seagrasses in the world. Not all regions in Indonesia has the same species seagrasses due to differences in environmental conditions or anthropogenic pressures, a study of seagrass species diversity in Indonesian waters need to be done. This research was conducted to indentify seagrass community structure in intertidal area of Wanci waters, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi Province. Stations of observation was located in seagrass bed area that divided in to four stations. Sampling methods was conducted refers to McKenzie et al. (2001) by using quadratic transect 50 cm x 50 cm. In each the quadratic transect, there was recorded of species, and total of the plant. The result of research showed that there were 7 species of segrasses found in Wanci island waters namely Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, Thalasodendron, and Syringodium isoetifolium. The highest density of seagrass species was dominated by Thalassia hemprichii, Halodule uninervis, and Cymodocea rotundata. The overall distribution pattern of seagrass species were cluster. There is correlation between environmental parameters and seagrass density. Sand substrate has a high positive correlation to the density of seagrass whereas clay substrate, current velocity, salinity, and temperature had a negative correlation (low to high) to the density of seagrass in Wanci Island waters
TINGKAT KERAMAH LINGKUNGAN ALAT TANGKAP GILL NET DI KECAMATAN NIPAH PANJANG, JAMBI
Kompetisi antar alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya over fishing. Oleh sebab itu, alat tangkap ramah lingkungan merupakan acuan dalam penggunaan teknologi dan alat tangkap ikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat keramah lingkungan dari masing-masing alat tangkap nelayan gill net yang ada di Kelurahan Nipah Panjang 1 pada bulan Februari 2018, berdasarkan kriteria FAO (1995). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan responden nelayan yang telah melaut minimal 5 tahun dan kapal yang digunakan minimal berukuran 3 GT. Sampel diambil sebanyak 50% dari masing-masing populasi alat tangkap untuk dianalisis tingkat keramah lingkungannya. Hasil analisis tingkat keramah lingkungan alat tangkap nelayan gill net di Kelurahan Nipah Panjang 1 menunjukkan bahwa gill net kurau termasuk dalam kategori alat tangkap sangat ramah lingkungan dengan nilai sebesar 28. Sedangkan untuk alat tangkap gill net 7 inci, gill net millennium, dan gill net 4 inci termasuk dalam kriteria alat tangkap ramah lingkungan dengan nilai berturut-turut adalah 25.2, 23.8, dan 23.5.Competition between fishing gear to get the maximum catch, raises fears of over fishing. Therefore, environmentally friendly fishing gear is a reference in the use of technology and fishing gear. This study aims to determine the level of environmental friendliness of each gill net fishing gear in Nipah Panjang 1 Village, based on FAO (1995) criteria. The research was held on February 2018. The method used in this study is a survey. The sampling technique was purposive sampling with fishermen respondents who had sailed for at least 5 years and the ship used was at least 3 GT. Samples were taken as much as 50% of each fishing gear population to analyze the level of environmental friendliness. The results of the analysis of the environmental friendliness of the fishing gear gill net in Nipah Panjang 1 Village indicate that the net kurau gill is included in the category of very environmentally friendly fishing gear with a value of 28. While for gill net 7 inch fishing gear, millennium net gill, and net gill 4 inches are included in the criteria for environmentally friendly fishing gear with values of 25.2, 23.8 and 23.5 respectively
EKSTRAKSI KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN PADA LAMA DAN PENGULANGAN PERENDAMAN YANG BERBEDA
Penelitian mengenai pembuatan kitosan dari cangkang rajungan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu dan pengulangan perendaman dalam larutan NaOH terhadap kenaikan nilai derajat deasetilasi kitosan. Sebelumnya dilakukan ekstraksi kitin dari cangkang rajungan melalui dua tahap, yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Proses deasetilasi terhadap kitin dilakukan dengan variasi waktu perendaman dalam larutan NaOH (2, 3, dan 4) jam serta dilakukan pengulangan perendaman 3, 4, dan 5 kali. Proses deasetilasi menggunakan larutan NaOH 50% (b/v) dengan perbandingan kitin terhadap larutan NaOH sebesar 1:20 (b/v) pada suhu 120°C. Kitosan yang diperoleh kemudian dianalisis gugus fungsi menggunakan FTIR dan dianalisis Derajat Deasetilasi (DD) dengan metode titrasi. Kitin yang diperoleh sebanyak 12,4% dari tepung cangkang rajungan. Derajat Deasetilasi kitosan terbesar (terbaik) didapatkan pada waktu proses deasetilasi selama 4 jam dan jumlah pengulangan deasetilasi sebanyak 5 kali dengan DD sebesar 44,26% dan rendemen kitosan 83%. Lamanya waktu perendaman dalam larutan NaOH merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan yang dihasilkan.Research on making chitosan from small crab shells has been done by several researchers before. This study aims to determine the time priority and repetition of immersion in NaOH solution to increase the value of the degree of deacetylation of chitosan. Previously, chitin extracted from crab shells through two cups, namely deproteination and demineralization. The process of deacetylation of chitin was done by varying the immersion time in the NaOH solution (2, 3, and 4) hours also repeated soaking 3, 4, and 5 times. The deacetylation process used 50% (w/v) NaOH solution involving chitin against 1:20 (w/v) NaOH solution at 120°C. The chitosan obtained was analyzed a functional group using FTIR and analyzed the degree of deacetylation (DD) using the titration method. Chitin obtained as much as 12,4% from small crab shell flour. The greatest (best) deacetylation degree of chitosan was obtained during the 4 hours deacetylation process and the number of deacetylation repetitions 5 times with DD of 44,26% and the yield of chitosan 83%. The length of soaking time in NaOH solution was the most determining factor for the value of the deacetylation degree of chitosan produced
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIS PADA IKAN ASAP PINEKUHE
Ikan asap Pinekuhe merupakan produk perikanan yang diolah secara tradisional oleh nelayan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Staphylococcus epidermis merupakan bakteri patogen yang bersifat oportunistik yaitu menyebabkan infeksi pada manusia yang imunitasnya lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri S. epidermis yang diisolasi dari ikan asap Pinekuhe. Empat puluh isolat sampel dibiakan pada media Manitol salt Agar, dan terduga diuji terhadap pewarnaan Gram, Katalase, Motility dan Koagulase. Terdapat 13 isolat yang teridentifikasi sebagai S. epidermis, yang memiliki karakteristik sebagai Gram positif, berbentuk bulat, bergerombol, berdiameter 0,5μm-1μm, non motil, katalase positif dan tidak memfermentasi Manitol. Dengan demikian, terdapat 32,5% S. epidermis yang mengkontaminasi produk ikan asap Pinekuhe.Pinekuhe smoked fish is a fishery product traditionally processed by fishermen of Sangihe Island Regency. Staphylococcus epidermis is an opportunistic phatogen that causes infection to humans of weak immunity. This study aims to identify S. epidermis isolated from the Pinekuhe smoked fish. Fourty isolate samples were grown on Mannitol salt Agar medium and suspect colonies were tested for Gram staining, Catalase, Motility and Coagulase test There were 13 isolates identified as S. epidermis which characteristics as gram-positive, round shapes, clustering, 0,5μm-1μm in diameter, non-motilepositive catalase, and not ferment Mannitol. So, there were 32.5% S. epidermis that contaminated Pinekuhe smoked fish
PERTUMBUHAN DAN PEMATANGAN GONAD IKAN GIRU Amphiprion clarkii YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG HORMON OODEV
Somatic growth and gonadal maturation play a crucial role in fish farming. To obtain high quality fries, broodstocks should be at the maturity stage of gonadal development and have precise body size. Widely used in fish farming, Oodev induces gonadal maturation as it contains pregnant mare serum gonadotropin and anti-dopamine that together actively affect gonadal maturation. Despite its popularity in fish farming, the effect of this hormone on the somatic growth and gonadal maturation of Amphiprion clarkii is not well understood. This research aims to determine the effect of Oodev mixed in fish feed on somatic growth and gonadal maturation of clownfish A. clarkii. The fish were treated for 30 days with three different levels of Oodev with a dose of 0 mL/kg, 0,5 mL/kg, and 1 mL/kg added in fish feed, designed in triplicate for each treatment. The results showed that treatment with 1 mL/kg Oodev had a more significant effect than control, increasing both length (0,9 cm in male and 0,7 in female) and weight (1,32 gram in male and 3,05 gram in female) of the treated fish. Similarly, the same dose had higher Gonadosomatic Index score than control with GSI of 0,47% (male) and 0,58% (female) higher than control respectively. In conclusion, the treatment with 1 mL/kg Oodev formulated ini fish feed showed the best effect on both somatic growth and GSI of A. clarkii.Pertumbuhan dan pematangan gonad memainkan peranan penting dalam budidaya ikan. Untuk memperoleh benih yang berkualitas, induk harus benar-benar matang gonad dan memiliki ukuran tubuh yang sesuai. Umum digunakan dalam kegiatan budidaya ikan, hormon Oodev dapat merangsang pematangan gonad karena hormon Oodev ini mengandung pregnant mare serum gonadotropin dan antidopamin yang sama-sama berperan dalam pematangan gonad. Sekalipun hormon ini begitu populer di bidang budidaya ikan, pengaruh hormon ini terhadap pertumbuhan tubuh dan pematangan gonad terhadap ikan giru (Amphiprion clarkii) belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dan menentukan dosis pemberian hormon Oodev dalam pakan terhadap pertumbuhan panjang dan bobot serta pematangan gonad ikan giru. Ikan giru diberi perlakuan dengan tiga dosis hormon Oodev berbeda yaitu 0 mL/kg, 0,5 mL/kg, dan 1 mL/kg dengan tiga pengulangan selama 30 hari pemeliharaan. Hasil menunjukkan dosis 1 mL/kg meningkatkan pertumbuhan panjang tubuh pada jantan (0,9 cm) maupun betina (0,7 cm) dan pertumbuhan bobot pada jantan (1,32 gram) maupun betina (3,05 gram) lebih tinggi dengan kontrol. Sejalan dengan pertumbuhan panjang dan bobot, dosis 1 mL/kg meningkatkan nilai gonadosomatic index jantan dan betina yaitu 0,47% dan 0,58% lebih tinggi dengan kontrol. Dari hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa hormon Oodev dengan dosis 1 mL/kg dapat meningkatkan pertumbuhan dan nilai GSI A. clarkii
TINGKAT PEMANFAATAN DAN STATUS KONSERVASI PERIKANAN HIU DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) CILACAP
Hiu merupakan sumber daya perikanan sangat rentan terhadap usaha penangkapan yang berlebihan (over-eksploitasi). Eksploitasi hiu di Indonesia masih berlanjut hingga hari ini tanpa diimbangi dengan tata kelola dan manajemen yang mengarah pada perikanan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan hiu dan mengidentifikasi jenis hiu yang didaratkan di PPS Cilacap berdasarkan status konservasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2015 di PPS Cilacap, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif survey. Tingkat pemanfaatan dihitung dengan cara menghitung jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu terhadap nilai TAC (Total Allowable Catch) atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestari (MSY). Pendugaan nilai MSY dianalisis menggunakan model surplus produksi Fox. Status konservasi hiu dianalisis berdasarkan hasil tangkapan hiu yang didaratkan di PPS Cilacap dibandingkan dengan daftar kategori konservasi International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiu tertangkap dan didaratkan di PPS Cilacap pada bulan Februari-Mei 2015 terdiri dari 11 famili atau 30 spesies. Hasil tangkapan terdiri dari famili Alopiidae, Carcharhinidae, Squalidae, Hexanchidae, Lamnidae, Triakidae, Sphyrnidae, Squatinidae, Rhinidae, Centrophoridae, dan Chimaeridae. Hasil tangkapan tertinggi berasal dari famili Alopiidae (2.028 hiu) dan hasil tangkapan terendah berasal dari famili Chimaeridae (2 hiu). Tingkat pemanfaatan hiu yang didaratkan di PPS Cilacap pada tahun 2010-2014 berdasarkan model surplus produksi Fox adalah 24-81%. Sebagian besar dari jumlah tangkapan hiu mendarat di PPS Cilacap pada bulan Februari-Mei 2015 yang mencakup dalam kategori dari rentan (46,44%) dan hampir terancam (39,65%). Jenis hiu yang didaratkan di PPS Cilacap termasuk dalam kategori rawan adalah A. pelagicus, A. superciliosus, I. paucus, C. plumbeus, R. ancylostoma, I. oxyrinchus, N. acutidens, C. squamosus, C. longimanus, sedangkan jenis hiu yang termasuk dalam kategori hampir terancam adalah C. sorrah, C. falciformis, H. perlo, P. glauca, C. brevivina, C. amblyrhynchoides, G. cuvieri, C. leucas, H. griceus, C. albimarginatus
ADAPTASI RETINA IKAN SELAR (SELAROIDES LEPTOLEPSIS) TERHADAP INTENSITAS CAHAYA LAMPU
Potensi ikan selar merupakan salah satu potensi ikan pelagis yang cukup besar di Indonesia. Nelayan banyak menangkap ikan selar melalui light fishing yang hingga saat ini masih terus dikembangkan teknologinya. Penggunaan cahaya tidak dapat terlepas dari sifat fototaksis positif yang dimiliki ikan. Peranan retina pada mata ikan menjadi penting dalam melihat kemampuan adaptasi ikan, sehingga diperlukan penelitian yang lebih banyak mengenai adaptasi retina ikan pada ikan hasil tangkapan light fishing guna menunjang pengembangan teknologi penangkapan. Penelitian ikan selar ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perikanan, IPB untuk pengamatan retina ikan melalui metode histologi sehingga dapat dilihat rasio penjuluran sel kon mata ikan pada setiap intensitas cahaya, yaitu 10 lux, 20 lux, 35 lux dan 50 lux dengan dua warna cahaya, yaitu putih dan biru. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pergerakan sel kon tetap terjadi seiring dengan peningkatan intensitas cahaya yang dipaparkan. Akan tetapi peningkatan pergerakan sel kon menuju membran pembatas luar untuk tiap warna cahaya berbeda. Pengaruh warna cahaya pada intensitas yang berbeda didapatkan bahwa ikan selar ini sensitif terhadap warna cahaya putih dan biru pada hampir semua intensitas yang diujicoba dengan kisaran penjuluran antara 79%-90%. Ikan selar lebih cepat bereaksi pada cahaya dengan iluminasi rendah karena penjuluran ikan lebih maksimal terjadi pada pemaparan 10 lux hingga 35 lux. Hal ini dapat disebabkan oleh tempat hidup ikan selar yang tergolong pelagik sehingga ikan selar tidak memerlukan iluminasi dan cahaya dengan panjang gelombang yang tinggi