Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    ANALISIS FISHING ACTIVITY KAPAL TUNA LONGLINE MENGGUNAKAN VESSEL MONITORING SYSTEM YANG BERBASIS DI BENOA BALI

    Get PDF
    Perikanan tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa telah mengalami perubahan besar sejak tahun 1993 ketika ikan sirip kuning mendominasi hasil tangkapan diikuti tuna mata besar dan tuna jenis lainnya. Kapal yang beroperasi yang berbasis di Benoa Bali untuk menangkap ikan tuna didominasi oleh kapal tuna longline, purse seine, dan pancing tonda, untuk mengawasi kapal yang beroperasi agar sesuai dengan peraturan maka kapal yang beroperasi (>30 GT) diwajibkan memasang Vessel Monitoring System (VMS). Data VMS menyediakan banyak data dalam jumlah besar dari gerakan kapal perikanan, namun permasalahannya adalah belum digunakan secara maksimal dan analisis data tersebut masih dalam perkembangannya, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan data olahan VMS untuk pengawasan dan pengelolaan perikanan tuna longline yang berbasis di Benoa. Metode yang digunakan adalah adalah analisis deskriptif dengan menggunakan aplikasi pengelola data spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data VMS dapat dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas penangkapan seperti posisi kapal, kecepatan kapal, dan arah gerak kapal. Aktivitas penangkapan dengan data VMS dapat mengidentifikasi adanya pelanggaran yang dilakukan oleh kapal tuna longline seperti kapal yang diindikasikan melakukan kegiatan transshipment, pelanggaran daerah penangkapan ikan dan ketidaksesuaian data logbook dan data VMS ketika kapal melakukan pendaratan hasil tangkapan ikan. Cross-matching data VMS dan data logbook menujukkan bahwa kesesuaian data dari tahun 2016-2018 mengalami peningkatan yakni tahun 2016 kesesuaian data mencapai 53%, kemudian tahun 2017 sebesar 94%, dan 2018 sebesar 98%.Tuna fisheries based on Benoa fishing port has undergone major changes since 1993 when yellowfin tuna dominated the catch, followed by big eye tuna and other types of tuna. Fishing vessels to catch tuna in Benoa, Bali, are dominated by tuna longline, purse seine, and troll line vessels. Vessels that are up to 30 GT (>30 GT) must install the Vessels Monitoring System (VMS) to surveillance the fishing vessels that are operating following by the regulations. VMS data provide lot of data from vessel movment, but the problem is not used optimally and the analysis of data VMS still in development, therefore this research aims to identify the utilization VMS data for survilliance dan management of tuna longline based at Benoa. The method used was descriptive analysis using a spatial data management application. The results showed that VMS data can be used to know fishing activity such as vessel position, vessel velocity, and vessel movement. Fishing activity with VMS data can indentfy infraction did by tuna longline vessel that indicated transshipment activity, infraction of fishing area, and can used to validate data between logbook data and VMS data when the vessel landed a fish catch at port. Cross matching data between VMS and logbook data show that data suitability from 2016-2018 increase in 2016 suitability data get 53%, then 2017 get 94%, and 2018 get 98%

    PENGGUNAAN ELEKTRODA TEMBAGA DAN SENG DENGAN ELEKTROLIT AIR LAUT UNTUK SUMBER ENERGI LAMPU LED-DIP

    Get PDF
    Light-emitting diode tipe dual in package (LED-DIP) merupakan lampu hemat energi yang banyak digunakan oleh nelayan untuk menarik dan mengkonsentrasikan ikan. LED-DIP memerlukan tegangan dan arus listrik kecil sehingga dapat menggunakan baterai sebagai sumber energinya. Salah satu alternatif adalah baterai dengan sumber energi air laut. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kinerja baterai air laut, mengukur laju penurunan intensitas cahaya, dan menghitung korosi yang terjadi pada elektroda baterai air laut setelah penggunaan, serta mengukur penyusutan yang terjadi pada busa isolator setelah penggunaan. Metode penelitian yang digunakan adalah uji coba laboratorium. Pengukuran tegangan (V) dan arus (mA) dilakukan bersamaan dengan pengukuran laju penurunan intensitas cahaya sebanyak 3 kali pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan durasi 2 jam dan 12 jam. Tegangan, arus, dan laju penurunan intensitas cahaya dalam durasi 2 jam dicatat setiap 10 menit. Pada durasi 12 jam dicatat dengan interval 60 menit. Korosi elektroda baterai air laut dihitung dengan analisis foto, sedangkan penyusutan busa isolator dihitung berdasarkan ketebalan awal busa dan di akhir penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Flum Tank, IPB. Hasil penelitian menunjukkan baterai air laut menghasilkan energi listrik yang menghidupkan lampu LED-DIP hijau 5 mm selama 12 jam dengan voltase terendah sebesar 2.525 V/130 mA, laju penurunan intensitas cahaya LED-DIP lebih besar dibandingkan laju penurunan tegangan dan arus. Berdasarkan pengukuran, baterai air laut dapat digunakan sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan sebagai sumber energi LED-DIP sebagai lampu pemikat ikan pada perikanan bagan tancap.Dual in package light emitting diode (LED-DIP) is low energy lamp used by fisherman to attract and concentrate fish. LED-DIP requires low voltage and electric current, so it can use battery as energy source. The battery alternative is seawater battery. The objectives of this study were determining the performance of seawater battery, measuring the declining rate of light intensity, counting the corrosion of seawater battery electrode after using, and measuring the shrinkage on the foam insulator after using. The method used was laboratory experiment. The voltage (V) and current (mA) measurement were conducted simultaneously through light intensity measurement for 3 times. It was conducted with 2 hours and 12 hours duration. The voltage and current, and declining rate of light intensity in 2 hours were recorded every 10 minutes, and in 12 hours were recorded every 60 minutes. The corrosion of seawater battery electrode was calculated by photo analysis, while the shrinkage of foam insulator was measured based on the initial thickness of foam and in the last research. This research was conducted at Flum Tank Laboratory, IPB. The results showed the seawater battery generated electric energy turned on the green LED-DIP lamp of 5 mm for 12 hours with low voltage as much as 2.525 V/130 mA, the declining rate of light intensity of LED-DIP was higher than the declining rate of the voltage and current. Based on the measurements, seawater battery could be used as environmentally friendly alternative energy as energy source of LED-DIP as fish attractor lamp in liftnet fishing

    PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TUNA OLEH KAPAL TUNA LONGLINE YANG BERBASIS DI PPN PALABUHANRATU

    Get PDF
    Produktivitas penangkapan tuna dapat dilihat dari produksi penangkapan yang didaratkan di pelabuhan (landing) per upaya penangkapan (effort). Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu menjadi salah satu pelabuhan perikanan yang aktivitas perikanannya tergolong aktif di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa dan menjadi salah satu pusat kegiatan perikanan tangkap di wilayah Propinsi Jawa Barat. Produksi ikan tuna di PPN Palabuhanratu mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2010 sampai tahun 2019. Pada tahun 2014-2018 produksi ikan tuna di PPN Palabuhanratu mengalami penurunan yang cukup drastis. Pada tahun 2019, produksi kembali meningkat menjadi 1,091,612 ton. Landing Per Unit Effort (LPUE) digunakan dalam penelitian perikanan untuk mengindikasikan kelimpahan sumberdaya yang digunakan untuk melakukan stock assessment ketika mengestimasi kelimpahan relatif dari suatu spesies yang dieksploitasi. Komposisi hasil tangkapan tuna oleh kapal tuna longline terdiri atas ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacores), tuna mata besar (Thunnus obesus), ikan tuna albakor (Thunnus alalunga). Produksi tuna yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2010-2019 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2010 produksi ikan tuna sirip kuning sebesar 444,952 ton, ikan tuna mata besar sebesar 979,189 ton, ikan tuna albakor sebesar 122,671 ton. Pada tahun 2019 produksi ikan tuna sirip kuning sebesar 617,992 ton, ikan tuna mata besar sebesar 240,487 ton, ikan tuna albakor sebesar 233,133 ton. Produktivitas tertinggi terjadi pada ikan tuna sirip kuning tahun 2014 dengan nilai LPUE sebesar 6,09 dengan produksi sebesar  2,448,171 ton dengan jumlah effort 402. Produktivitas mengalami fluktuasi setiap tahunnya.Tuna fishing productivity can be seen from the production of landed production per attempt. The archipelago fishing port Palabuhanratu has become one of the active fishing ports in the southern coastal region in Java Island and it’s one of the centers of capture fisheries in the area of West Java Province. Tuna longline is an industrial-scale fishing unit to catch tuna as an export commodity. Tuna production in PPN Palabuhanratu experienced had a significant increase from 2010 to 2014. In 2014-2018 tuna production in PPN Palabuhanratu experienced had a quite drastic decline. In 2019, production will increase to 1,091,612 tons. Landing Per Unit Effort (LPUE) is used in fisheries research to indicate the abundance of resources used to conduct stock assessments when estimating the relative abundance of an exploited species. The composition of tuna catches by longline tuna vessels consists of yellowfin tuna (Thunnus albacores), big eye tuna (Thunnus obesus), and albakor tuna (Thunnus alalunga). Tuna production which was landed at PPN Palabuhanratu from 2010-2019 experienced is fluctuative. In 2010 the production of yellowfin tuna was 444,952 tons, big eye tuna was 979,189 tons, albakor tuna was 122,671 tons. In 2019 the production of yellowfin tuna was 617,992 tons, big eye tuna was 240,487 tons, albakor tuna was 233,133 tons. The highest productivity occurred in yellowfin tuna in 2014 with a LPUE value of 6,09 with a production of 2,448,171 tons with a total effort of 402. Productivity has fluctuated every year

    STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN NIZAM ZACHMAN DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN TUNA

    Get PDF
    The role of fishing ports required in tuna fishing industries. Oceanic Fishing Port Nizam Zachman is a tuna fishing port in Indonesia, which includes the tuna fishing industrty. The increasing role of Nizam Zachman Oceanic Fishing Port is needed by tuna stakeholders to optimize the performance and services provided by the port. The aimed of the research was to formulate the development strategy of tuna industries, which is competitive with used the role of Nizam Zachman Oceanic Fishing Port. The analysis methods that used in this research was SWOT analysis by comparing the internal factors and external factors tuna fisheries development. The results showed that there were 6 tuna fisheries development strategy by optimizing the role of Nizam Zachman Oceanic Fishing Port.Peran dari pelabuhan perikanan diperlukan dalam industri perikanan tuna yang didaratkan di pelabuhan perikanan. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman merupakan pelabuhan perikanan tuna di Indonesia, yang didalamnya terdapat industri perikanan tuna. Peningkatan peran dari PPS Nizam Zachman diperlukan oleh stakeholder tuna untuk mengoptimalkan kinerja serta pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu merumuskan strategi pengembangan industri tuna PPS Nizam Zachman. Metode penelitian dilakukan dengan analisis SWOT dengan membandingkan faktor internal dan faktor eksternal pengembangan industri perikanan tuna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 strategi pengembangan industri perikanan tuna dengan mengoptimasikan peran dari PPS Nizam Zachman

    STUDI PENANGANAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI KM BINA MAJU KOTA SIBOLGA

    Get PDF
    Penanganan hasil tangkapan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesegaran serta kualitas ikan hasil tangkapan. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam menjaga mutu produk perikanan adalah dengan mengeluarkan KEPMEN-KP 52A/2013 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan, dan Distribusi. Keberpihakan pemerintah dengan mengeluarkan KEPMEN-KP 52A/2013 diharapkan dapat menghasilkan produk perikanan yang baik, aman, dan sehat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kegiatan penanganan hasil tangkapan dan mengetahui kesesuaian kegiatan penanganan di KM Bina Maju dengan KEPMEN KP 52A/2013. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Objek atau lokasi kegiatan penanganan ikan di KM Bina Maju yang telah menerapkan prinsip 3C1Q Clean, Carefull, Cold, dan Quick. Kesesuaian kegiatan penanganan di atas KM Bina Maju dengan KEPMEN KP 52A/2013, adalah ketersediaan palka yang digunakan untuk penyimpanan hasil tangkapan yang terpisah dari ruang mesin dan ruang ABK. Hanya saja dalam palka belum dilengkapi dengan mesin pendingin air laut dan pengatur otomatis suhu udara. Kesesuaian SDM dengan KEPMEN KP 52A/2013 adalah kondisi ABK yang sehat, tidak merokok, dan tidak meludah di area penyimpanan. Ketidaksesuaiannya adalah kurangnya kesadaran dalam penggunaan pakaian kerja dan kegiatan mencuci tangan sebelum kegiatan penanganan hasil tangkapan.Catches handling is one of the factors that affect the freshness and quality of fish catches. The effort made by the government in maintaining the quality of fishery products is by issuing KEPMEN-KP 52A/2013 concerning in Quality Assurance and Safety Requirements for Fishery Products in the Production, Processing, and Distribution Process. Government alignments by issuing KEPMEN-KP 52A/2013 are expected to produce good, safe, and healthy fishery products. The purpose of this reseacrh is to determine the activities of catches handling and determine the suitability of handling activities in KM Bina Maju with KEPMEN KP 52A/2013. The research method is a case study. The object or location of fish handling activities in KM Bina Maju that have implemented the 3C1Q Clean, Careful, Cold, and Quick principles. The suitability of handling activities in KM Bina Maju with KEPMEN KP 52A/2013, is the availability of hatch used for storage of catches that are separate from the engine room and ABK room. It\u27s just that the hatch is not yet equipped with a sea water cooling engine and automatic air temperature control. The suitability of the workers with KEPMEN KP 52A/2013 is a condition of ABK that is healthy, does not smoke, and not spits in the storage area. The discrepancy is in the case of lack of awareness in the use of work clothes and hand washing activities before catch handling activities

    DAYA DUKUNG BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA KERAMBA JARING APUNG TELUK AWANG DAN TELUK BUMBANG, NTB

    Get PDF
    Daya dukung perairan merupakan potensi perairan untuk memanfaatkan sumber daya pesisir atau ekosistem tanpa menimbulkan kerusakan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung perairan menampung limbah yang masuk dari kegiatan budidaya ikan kerapu pada keramba jaring apung perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai November 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan pengukuran langsung di perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang. Analisis daya dukung digunakan untuk mengestimasi beban limbah yang masuk ke perairan baik dari antropogenik maupun dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba jaring apung. Hasil perhitungan estimasi daya dukung perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang berdasarkan total limbah N antropogenik sebesar 39,14 kg/hari dengan konsentrasi rata-rata NH3 sebesar 0,0081 mg/l pada Teluk Awang dan 0,0062 mg/l pada Teluk Bumbang. Estimasi jumlah unit keramba jaring yang dapat digunakan di Teluk Awang sebanyak 67 unit dan 248 unit keramba jaring apung yang dapat digunakan di Teluk Bumbang.The carrying capacity is potential of the waters fot utilize coastal or ecosystem resources without cousing damage dan sustainable. This study aims to determine carrying capacity of the water for accommodate the waste from grouper cultivation activities in floating net in Awang Bay and Bumbang Bay. This research was conducted from April until novemver 2015. The research method used is survey method with direct measurements in Awang Bay and Bumbang Bay waters. Carrying capacity analysis used to estimated loading waste the waters from antropogenic and from grouper cultivation activities. The calculation result carrying capacity in Awang Bay and Bumbang Bay waters from N antropogenic waste are 39,14 kg/day, NH3 average concentration is 0,0081 mg/l in Awang Bay and 0,0062 mg/l in Bumbang Bay. The estimated of floating net can be used in Awang Bay are 67 units and 248 units of floating net can be used in Bumbang Bay

    POLA PERGERAKAN BLUE SWIMMING CRAB (Portunus pelagicus) TERHADAP CAHAYA

    Get PDF
    Teknologi lampu sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan telah lama digunakan oleh nelayan Indonesia. Penggunaan lampu terus berkembang bukan hanya untuk spesies pelagis, juga untuk spesies demersal seperti krustasea. Rajungan merupakan salah satu krustasea yang memiliki nilai ekonomis penting. Nelayan menangkap rajungan dengan menggunakan bubu (trap) atau jaring rajungan (bottom gillnet). Kedua alat tangkap tersebut dioperasikan secara pasif sehingga membutuhkan alat bantu untuk memikat rajungan. Pada penelitian ini mencoba untuk mengembangkan teknologi lampu sebagai pemikat rajungan. Respons menjadi bagian penting dalam mengetahui tingkah laku rajungan. Penelitian dilakukan secara experimental laboratory, dimana kondisi lingkungan dikontrol oleh peneliti. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis pola dan laju respons rajungan terhadap cahaya yang berbeda, diantaranya warna ungu, biru, hijau, oranye, merah, dan putih. Pola pergerakan respons rajungan diketahui dari zona yang telah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu zona starting, searching, dan finding. Analisis deskrif komparatif digunakan untuk mengetahui perbedaan pola yang terbentuk. Hasil uji menunjukkan pola rajungan terhadap cahaya berbeda terbagi menjadi dua, yaitu menuju cahaya secara langsung dan tidak langsung. Rajungan menuju cahaya secara langsung selama 0,072 m/s dan tidak langsung selama 0,036 m/s. Laju rajungan tercepat mendekat pada warna biru sebesar 0,081 m/s dan terlama pada warna merah 0,026 m/s. Laju dan pola rajungan mendekat cahaya putih dan biru lebih singkat dan memiliki lintasan pendek dapat disarankan sebagai alat bantu dengan menggunakan bottom gillnet, sedangkan warna merah dan oranye yang memiliki laju rajungan lebih lambat dapat digunakan sebagai alat bantu bubu (trap).Lamp technology as a tool for fishing has long been used by Indonesian fishermen and grow not only for pelagic but also for demersal species such as crustaceans. Rajungan is one of the important crustaceans that have high economic value. Fishermen catch the crab using a trap or bottom gillnet. The two fishing devices are operated passively so that they need a tool to attract the crab. In this study tried to develop lamp technology as a lure of crabs. Responses are an important part of knowing crab behavior. The research was conducted in an experimental laboratory, where environmental conditions were controlled by researchers. The study aimed to analyze the patterns and response rates of crab to different light, including purple, blue, green, orange, red and white. A comparative descriptive analysis is used to determine the differences in patterns formed. The test results showed that the pattern of the crab against different light divided into directly and indirectly. Rajungan was approaching to light direclty for 0,072 m/s and indirectly for 0,036 m/s. The fastest crab rate in blue at 0.081 m/s dan the latest crabs arrive the red light at 0,026 m/s. The rate and pattern of the crab closer to white and blue light are shorter and has a short trajectory that can be suggested as a tool to used bottom gillnet, while the red and orange colors that have a slower rate of crab can be used as a trap

    PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP PANCING ULUR (HAND LINE) PADA RUMPON PORTABLE DI PERAIRAN ACEH UTARA

    No full text
    The rumpon portable is a fishing auxiliary device that functions to collect fish with 11,000-15,000 Hz frequencey by using sound on the atractors of portable FADs that be able to collect small pelagic fish around portable FADs. The small pelagic fish have habit to configurate a schooling group in their lives for migrating, feeding, and spawning. The hand line is one of fishing gear used by small-scale fisherman to catch small pelagic fish. Therefore, it is important to know about productivity of handline on the portable FADs. This study used production data of handline with 15 fishing trips in August-September 2018 located in the waters of North Aceh. The result showed that 8 types,that is selar tetengkek (Megalaspis cordyla), pompano (Caranx ignobilis), grauper (Epinephelus fuscoguttatus), selar (Selaroides leptolepis), squid (Loligo indica), turmeric (Upeneus moluccensis), barred (Scomberomorini), and mackerel (Rastrelliger) with a total weight of 24,25 kg was caught around portable FADs using handline. The average productivity of handline on the portable FADs was 1,61 kg/trip. The catch composition showed that the dominant catch was squid.Rumpon portable merupakan suatu jenis alat bantu yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan dengan frekuensi sebesar 11.000 – 15.000 Hz, dengan metode penggunaan suara pada atraktor yang ada pada rumpon portable sehingga ikan-ikan pelagis kecil berkumpul di sekitar rumpon portable. Ikan pelagis kecil memiliki kebiasaan hidup membentuk gerombolan dalam melangsungkan hidupnya, baik itu bermigrasi, mencari makan, bahkan memijah. Pancing ulur merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan skala kecil untuk aktifitas penangkapan ikan pelagis kecil, oleh karena itu diperlukan penelitian tentang produktivitas pancing ulur pada rumpon portable. Penelitian ini menggunakan data produksi dari alat tangkap pancing ulur, dengan jumlah pengambilan data selama 15 trip penangkapan pada bulan Agustus-September 2018 bertempat di perairan Aceh Utara. Hasil penelitian menunjukkan jenis dan jumlah ikan yang tertangkap disekitar rumpon portable dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur di antaranya ada 8 jenis yaitu ikan selar tetengkek (Megalaspis cordyla), kue (Caranx ignobilis), kerapu (Epinephelus fuscoguttatus), selar (Selaroides leptolepis), cumicumi (Loligo indica), kuniran (Upeneus moluccensis), tenggiri (Scomberomorini), dan kembung (Rastrelliger) dengan total berat 24,25 kg. Rata-rata produktivitas penangkapan ikan dengan alat tangkap pancing ulur pada rumpon portable sebesar 1,61 kg/trip. Komposisi jenis ikan hasil tangkapan menunjukkan cumi cumi dominan tertangkap dengan alat tangkap pancing ulur yang dioperasikan di sekitar rumpon portable

    STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH

    Get PDF
    Perikanan gurita di Kabupaten Banggai Laut termasuk kategori perikanan yang small scale fisheries. Hal ini dikarenakan nelayan Banggai Laut menangkap gurita dengan menggunakan kapal dan alat tangkap yang sederhana. Tren CPUE gurita dalam 3 tahun terakhir (2014-2016) menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Penurunan yang terjadi mengindikasikan bahwa tingkat pemanfaatan daerah penangkapan gurita di daerah tersebut sudah terjadi penangkapan yang berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa gurita di Kabupaten Banggai Laut belum dikelola secara optimal. Pengelolaan hanya melakukan penangkapan terus menerus tanpa mempertimbangkan dampak terhadap sumberdaya gurita. Pengelolaan secara benar perlu dilakukan untuk menjaga potensi sumberdaya gurita agar tetap lestari. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengelolaan daerah penangkapan octopus di Kabupaten Banggai Laut. Pendekatan strategi pengelolaan menggunakan pendekatan strategi Strength, Weakness, Oppurtunity, Threats (SWOT). Strategi pengelolaan perikanan gurita di Kabupaten Banggai Laut dilakukan dengan 1) Strategi SO dengan opsi strategi: Pengembangan kerjasama dengan industri pengolahan ikan dan memanfaatkan potensi perikanan gurita 2) Strategi ST dengan opsi strategi: Menetapkan aturan dan sanksi yang tegas terkait nelayan yang melakukan illegal fishing dan membatasi armada penangkapan ikan. 3) Strategi WO dengan opsi strategi: peningkatan kualitas SDM dan membangun pelabuhan perikanan. 4) Strategi WT dengan opsi strategi: membuat aturan terkait bobot gurita dan pengawasan daerah penangkapan ikan.Octopus fishery in Banggai Laut Regency is a fisheries small scale fisheries category. This is because Banggai Laut fishermen catch the octopus by using simple ships and fishing gear. Trend CPUE octopus in the last 3 years (2014- 2016) shows a drastic decline. The decline that occurred indicates that the level of utilization of octopus fishing areas in the area has occurred over catching. This shows that octopus in Banggai Laut Regency has not been managed optimally. Management only makes continuous arrests without considering the impact on octopus resources. Proper management needs to maintain the potential of octopus resources to be sustainable. This study aims to formulate the management strategy of octopus fishing area in Banggai Laut Regency. Management strategy using strategy approach Strength, Weakness, Oppurtunity, Threats (SWOT). The management strategy of octopus fishery in Banggai Laut Regency were done by 1) SO Strategy with strategic option: Development of cooperation with fish processing industry and utilizing octopus fishery potential 2) ST strategy with strategic option: Setting strict rules and sanctions related to fisherman who do illegal fishing and limiting the fishing fleet. 3) WO strategy with strategic options: improving human resource quality and building a fishery port. 4) WT strategy with strategic options: make rules related to octopus weight and supervision of fishing grounds

    PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (MACROBRACHIUM ROSENBERGII) HASIL PERSILANGAN POPULASI ACEH DAN STRAIN SIRATU

    Get PDF
    Budidaya udang galah sangat diminati dan berkembang pesat karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang timbul yakni pengendalian terhadap kualitas genetik udang galah menjadi turun terutama pada produksi larva tanpa diikuti manajemen induk yang baik, upaya yang dapat dilakukan yaitu perbaikan genetik melalui kegiatan persilangan induk (hibridisasi) untuk menghasilkan larva dengan kualitas unggul. Hibridisasi intraspesifik menggunakan udang galah populasi Aceh (A) dan strain Siratu (R) dilakukan secara resiprokal (RA dan AR) dan galur murni (RR dan AA). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persilangan resiprokal udang galah populasi Aceh dan strain Siratu terhadap laju dan durasi perkembangan larva yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva hasil persilangan dengan metode resiprokal hibrida Siratu x Aceh (RA) dengan nilai laju perkembangan 9,87 dan durasi perkembangan 27 hari lebih baik dibandingkan hibrida Aceh x Siratu (AR) dengan nilai laju perkembangan 9,78 dan durasi perkembangan 30 hari untuk mencapai post larva. Hasil persilangan hibridisasi RA dan AR lebih lama dibandingkan inbrida Siratu x Siratu (RR) tetapi lebih cepat dibandingkan dengan inbrida Aceh x Aceh (AA) sebagai tetua.Giant freshwater shrimp culture were very interested and booming because it has economic values. The problems of control over the genetic qualities giant freshwater shrimp will fall especially on the promotion of production management larvae without followed a good parent, efforts to be carried out is to genetic improvement through the activities of a cross parent (hybridization) in order to produce larvae with a superior quality. Intraspecifik hybridization use giant freshwater shrimp, Aceh population (A) and Siratu strain (R) should be conducted in resiprokal (RA and RA) and pure line (RR and AA). This study aims to assess a cross resiprokal percent Giant freshwater shrimp of the aceh population and siratu strain against the rate and duration of the development larvae of which produced.The result of research show that the larvae of crossbreeding with a method of hybrid resiprokal Siratu x Aceh (RA) with a value of growth rate up 9,87 and duration of the development of 27 day has better effort than hybrid AcehSiratu (AR) with a value of growth rate up 9,78 and duration of the development of 30 day in order to achieve post larvae. The results of a cross hybridization RA and AR longer than inbrida Siratu x Siratu (RR) but faster compared to inbrida Aceh Aceh x (AA) as an elder

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇