FKIP UNS Journal Systems
Not a member yet
7978 research outputs found
Sort by
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA GANTOLE (Studi Kasus Desa Sendang Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri)
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA GANTOLE (Studi Kasus Desa Sendang Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri)
Ayu Indri Setyorini, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiakn Universitas Sebalas Maret
[email protected]
ABSTRAK
Obyek Wisata Gantole merupakan obyek wisata yang dijadikan tujuan wisata karena memiliki cikal bakal sebagai obyek wisata dikarenakan menjadi lokasi penerbangan paralayang dengan standar nasional.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji partisipasi masyarakat dalam pengembangan Obyek Wisata Gantole melalui berbagai elemen masyarakat Desa Sendang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan strategi penelitian bersifat studi kasus. Teknik pengambilan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Data dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan.
Hasil temuan dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Sendang yang ikut berpartisipasi dalam pengembangan Obyek Wisata Gantole tergabung dalam pengurus BUMDes, karang taruna, dan masyarakat sekitar lokasi wisata. Manajemen pengelolaan Obyek Wisata Gantole dipegang oleh BUMDes. Untuk pengelolaan teknis lapangan di lokasi obyek wisata dipegang oleh karang taruna. Menurut konsep Comunnity Based Tourism pengembangan yang dilakukan sudah terlaksana karena pengembangan dikerjakan oleh masyarakat lokal dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Partisipasi pengembangan ini menurut Ife terjadi karena adanya demokrasi partisipasif dan demokrasi deliberatif.
Kata kunci : Partisipasi, Masyarakat, Pengembangan Obyek Wisata, Demokras
PRINSIP KESANTUNAN BERDASARKAN MAKSIM LEECH DALAM KUMPULAN NASKAH DRAMA GENG TOILET KARYA SOSIAWAN LEAK DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR TEKS DRAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur dalam dialog kumpulan naskah drama Geng Toilet; (2)prinsip kesantunan dalam dialog kumpulan naskah drama Geng Toilet; (3) relevansi kumpulan naskah drama Geng Toilet sebagai bahan ajar pembelajaran teks drama di Sekolah Menengah Atas. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa, tindak tutur dalam dialog kumpulan naskah drama Geng Toilet berdasarkan ujaran yang mengandung tindakan meliputi tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Adapun tindak tutur berdasarkan modus kalimatnya meliputi tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Selanjutnya, prinsip kesantunan dalam dialog kumpulan naskah drama Geng Toilet meliputi maksim kecocokan atau permufakatan, maksim kemurahan atau kedermawanan, maksim penerimaan atau pujian atau penghargaan, maksim kerendahan hati atau kesederhanaan, dan maksim kesimpatisan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kumpulan naskah drama Geng Toilet dapat dijadikan sebagai bahan ajar di Sekolah Menengah Atas.
Kata Kunci: naskah drama, tindak tutur, prinsip kesantunan.
Abstract:The research aims to explain and describe (1) speech acts in the dialogue collection of drama text Geng Toilet; (2) the principle of politeness in the dialogue collection of drama text Geng Toilet; (3) the relevance collection of drama text Geng Toilet as a teaching material for drama text in High School. The method use in this research is descriptive qualitative. The result of the research indicates the result of the research indicates the speech act in the collection of the drama text Geng Toilet based on speech that contains action include locution,illocution, and perlocution. While, speech acts based on the sentence mode include direct speech acts and indirect speech acts.Next, the principle of politeness in the dialogue collection of drama text Geng Toilet includes maxim of agreement or consent, maxim of generosity, maxim acceptance or praise or appreciation, maxim of humility or simplicity, and maxim of sympathy. the collection of drama text Geng Toilet can be used as a teaching materials for drama text in High School.
Keywords: drama text, specch acts, the principle of politeness
ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVELET KETIKA MAS GAGAH PERGI KARYA HELVY TIANA ROSA SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
Abstrak: Bentuk penelitian ini berupa penelitian deskripstif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel dan informan. Teknik pengambilan subjek penelitian adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca, catat dan wawancara. Uji validitas data menggunakan triangulasi sumber data dan teori. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis mengalir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tema yang diangkat dalam novelet adalah ketuhanan, tokohnya protagonis, alurnya merupakan alur maju, cerita berlatar di Jakarta pada tahun 1994, sudut pandang orang pertama pelaku utama, amanatnya adalah jadilah agen kebaikan yang baik; (2) tokoh Gagah dan Yudi memiliki unsur id, ego, dan superego, tokoh Gita memiliki id dan ego yang tinggi serta mengalami konflik batin paling kuat; (3) nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novelet meliputi Religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab; dan (4) novelet Ketika Mas Gagah Pergi relevan untuk dijadikan bahan ajar jika dilihat dari keterkaitannya dengan tujuan instruksional yang harus dicapai, juga dari aspek isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikaan.
Kata kunci: penokohan, konflik batin, novelet Ketika Mas Gagah Pergi, nilai pendidikan karakter, relevansi dengan bahan ajar
Abstract: This form of research is descriptive qualitative research. The data sources of this research are novel and informants. Technique of taking research subject is purposive sampling. Data collection techniques used is technique read dan write dan interviews. Test the validity of data using triangulation of data sources and theory. Data analysis technique used is flow analysis technique. The result show that: (1) the theme raised in the novelet is the deity, the protagonist, the plot is a forward flow, the story set in Jakarta in 1994, the point of view of the first person the main character, his message is to be a good agent of Goodness; (2) Gagah and Yudi characters have elements id, ego, and superego, Gita character has high id and ego and experiencing the most powerful inner conflicts; (3) the value of character education contained in the novelet includes religious, honest, tolerant, disciplined, creative, independent, democratic, curiosity, friendly/communicative, peace loving, reading, caring, caring, responsible; and (4) the novelet Ketika Mas Gagah Pergi is relevant to be used as a teaching material when viewed from its relation with instructional objectives to be achieved, also from the aspect of content, presentation, language, and graph.
Keyword: characterization, internal conflict, novelet Ketika Mas Gagah Pergi, character education value, relevance to teaching materia
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 EDISI REVISI DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI (STUDI KASUS DI KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 1 KARANGANYAR)
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Karanganyar. Sampel penelitian yaitu siswa kelas X IPS 1 dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sumber data meliputi peristiwa, informan, dan dokumen. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Uji validitas data terdiri dari triangulasi sumber data, triangulasi metode, dan review informan. Teknik analisis data yaitu model analisis interaktif (interactive model of analysis). Hasil penelitian ini meliputi: (1) persepsi guru terhadap implementasi Kurikulum 2013 Edisi Revisi pada pembelajaran membaca puisi sudah baik; (2) perencanaan pembelajaran disusun sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016; (3) pelaksanaan pembelajaran membaca puisi berjalan dengan cukup baik; (4) penilaian pembelajaran belum dilakukan secara efektif; (5) hambatan berupa: (a) waktu tatap muka pembelajaran di semester 2 yang terbatas; (b) pelaksanaan penilaian pembelajaran yang kurang efektif; (c) tidak semua siswa memiliki bakat membaca puisi dan siswa sulit menemukan suasana puisi; (d) subjektivitas dalam menilai pembelajaran sastra; (6) upaya berupa: (a) pemberian tugas secara terstruktur maupun tak terstruktur; (b) penggunaan tugas secara diskusi kelompok agar penilaian membaca puisi tetap bisa dilaksanakan secara keseluruhan; (c) siswa diharuskan untuk sering melihat referensi penampilan membaca puisi dari youtube; d) pembuatan kriteria penilaian.
Kata Kunci: implementasi kurikulum, Kurikulum 2013 Edisi Revisi, pembelajaran membaca
puisi
Abstract: This research is a qualitative research with case study approach. The population in this study were class X students of SMA Negeri 1 Karanganyar. The research sample was students of class X IPS 1 with purposive sampling sampling technique. Data sources include events, informants, and documents. Data collection techniques such as observation, interview, and document analysis. The data validity test consists of triangulation of data sources, method triangulation, and informant review. Data analysis technique is interactive model of analysis. The results of this study include: (1) teachers' perceptions of the implementation of the Curriculum 2013 Revised Edition on learning to read poetry is good; (2) instructional planning is prepared in accordance with Permendikbud Number 22 Year 2016; (3) the implementation of reading poetry learning works well; (4) assessment of learning has not been done effectively; (5) obstacles in the form of: (a) limited face-to-face learning time in semester 2; (b) the implementation of a less effective learning assessment; (c) not all students have the talent to read poetry and students find it difficult to find the atmosphere of poetry; (d) subjectivity in assessing literary learning; (6) efforts in the form of: (a) providing structured and unstructured tasks; (b) the use of tasks in group discussion so that the assessment of poetry reading can still be carried out in its entirety; (c) students are required to frequently see references to reading poetry from youtube; d) making assessment criteria.
Keywords: curriculum implementation, Curriculum 2013 Revised Edition, reading poetry learnin
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TOPIK KLASIFIKASI MATERI DAN PERUBAHANNYA SISWA SMP NEGERI DI KABUPATEN MAGETAN
Berpikir kritis termasuk salah satu kemampuan yang diperlukan di abad 21. Pada aspek pendidikan, berpikir kritis menjadi bagian penting dalam proses berpikir karena berpikir kritis mengintegrasikan setiap pembelajaran agar konsep suatu materi dapat tercapai sesuai tujuan. Berpikir kritis saat ini dibutuhkan dalam menghadapi perubahan dan tantangan di masa depan. Seseorang yang mampu berpikir kritis akan mampu mengendalikan diri, berpikir logis, menyelasaikan permasalahan, dan menemukan solusi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan siswa berpikir kritis siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di kabupaten Magetan. Sampel penelitian yaitu siswa SMP Negeri di sekolah A (kategori tinggi) dan sekolah B (kategori rendah) sebanyak 128 siswa kelas VIII. Jenis tes yaitu tes uraian berjumlah 6 soal. Soal berpikir kritis menggunakan indikator dari Facione. Indikator tersebut yaitu interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, penjelasan, dan regulasi diri. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sekolah A 44,58% kategori cukup dan sekolah B 39,58% kategori kurang. Indikator terendah di sekolah A yaitu inferensi sebesar 37,18% kategori rendah dan indikator tertinggi adalah analisis 53,28% kategori cukup. Hasil analisis di sekolah B, indikator terendah adalah inferensi 33,90% kategori rendah dan indikator tertinggi yaitu analisis 43,12% kategori cukup. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa SMP Negeri di Kabupaten Magetan di sekolah A tergolong cukup dan sekolah B tergolong kurang. Adanya hasil ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kemampuan siswa berpikir kritis sehingga guru memiliki strategi untuk berinovasi dan membimbing siswa dalam proses pembelajaran agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING MENGGUNAKAN MEDIA SPREADSHEET PADA MATERI HUKUM OHM UNTUK MENINGKATKAN HOTS PADA PESERTA DIDIK
Tuntutan Kurikulum 2013 memiliki 3 aspek yaitu inquiry, literasi, dan High Order Thinking Skills (HOTS). Untuk mencapai tuntutan dalam aspek inquiry dalam suatu pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Model pembelajaran Discovery Learning didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar idak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan untuk mengorganisasi(membangun/menemukan) sendiri. Selain itu di era digital ini diharapkan seorang pendidik dapat menggunakan media berbasis teknologi, salah satunya dengan menggunakan media Spreadsheet pada Microsoft Excel. Dalam menggunakan media Spreadsheet diharapkan dapat membantu peserta didik untuk mengorganisasi data-data yang didapatkan menjadi sebuah grafik, dan dapat membaca grafik yang ditampilkan pada Spreadsheet serta menilai hasil dari grafik yang ditampilkan.Kegiatan menganalisis tersebut merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membalajarkan cara berfikir tingkat tinggi mengenai materi Hukum Ohm dengan perilaku sesuai dengan ranah kognitif Bloom pada level analisis. Sebab menurut Taksonomi Bloom untuk membelajarkan HOTS dapat diukur dengan perilaku pada level C4 (Analisis), C5 (Evaluasi) serta C6 (Mengkreasi). Serta dalam kegitan pembelajaran ini dapat melatih peserta didik untuk Creative dan Critical Thingking. Dengan demikian pembelajaran yang bersifat High Order Thinking Skills (HOTS) dapat tercapai melalui kegiatan ini. Selain itu kegitan membaca grafik dan data ini merupakan salah satu kegitran untuk memenuhi tuntutan kurikulum 2013 dalam aspek literasi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI PADA MATA KULIAH KIMIA DASAR
Mata kuliah kimia dasar merupakan salah satu mata kuliah dasar yang harus dipelajari oleh mahasiswa biologi maupun pendidikan biologi. Mata kuliah kimia dasar menjadi dasar dalam mempelajari materi kimiawi kehidupan dalam pembelajaran biologi. Indikasi adanya kesulitan belajar mahasiswa pendidikan biologi dapat diketahui dari banyaknya mahasiswa yang mengulang dan mendapatkan nilai rendah (<B). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji adanya kesulitan belajar kimia dasar dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan campuran pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Biologi yang mengambil matakuliah kimia dasar TA 2018/2019 sebanyak 157 mahasiswa . Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner dan lembar pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan 74,1% mahasiswa pendidikan biologi mengalami kesulitan belajar kimia dasar. Faktor yang mempengaruhi adalah faktor internal yaitu keengganan mahasiswa untuk mengulang belajar materi kimia dasar dan kurangnya latihan mengerjakan soal, serta faktor eksternal yaitu waktu perkuliahan yang kurang efektif
PENGEMBANGAN LKPD IPA MODEL PBL TERINTEGRASI STEM MATERI SUHU DAN PERUBAHANNYA
Pendidikan abad 21 memerlukan individu kreatif yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pembelajaran yang terintegrasi dengan perkembangan zaman perlu diterapkan salah satunya melalui pembelajaran STEM. Pembelajaran memerlukan bahan ajar yang mampu memaksimalkan STEM misalnya LKPD. Sayangnya, kurang tersedianya LKPD yang terintegrasi STEM. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKPD IPA model PBL terintegrasi STEM pada materi suhu dan perubahannya serta mengetahui respon guru dan peserta didik pada uji coba terbatas penggunaan produk yang dikembangkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah research and development model 4D yakni define, design and development. Validasi dilakukan oleh ahli pembelajaran, ahli materi, ahli media serta praktisi pendidikan. Hasil yang diperoleh dinyatakan bahwa 1) LKPD mendapat penilaian ahli materi sebesar 83% dengan kriteria baik, 2) LKPD mendapat penilaian ahli media sebesar 83.5% dengan kriteria baik, 3) LKPD mendapat penilaian ahli pembelajaran sebesar 81.7% dengan kriteria baik 4) LKPD mendapat penilaian dari praktisi pendidikan sebesar 83.6% dengan kriteria baik, serta 5) uji coba terbatas oleh guru sebesar 88.85% dan siswa sebesar 91.53%. Hasil tersebut menyatakan bahwa produk yang dikembangkan dinyatakan valid dan layak untuk digunakan
PELATIHAN PENGELOLAAN DAN INTEGRASI LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS) DALAM PEMBELAJARAN IPA BAGI GURU SMP KABUPATEN KARANGANYAR
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Guru IPA dalam mengelola dan mengintegrasikan Learning Management System (LMS) dalam pembelajaran. Kegiatan pelatihan melibatkan sebanyak 28 Guru IPA di Kabupaten Karanganyar. Pengabdian masyarakat dilakukan dengan memberikan materi dengan ceramah sekaligus praktik secara langsung di Aula SMP N 2 Karanganyar. Hasil kegiatan pelatihan menunjukan adanya peningkatan pemahaman dan kemampuan guru untuk mengelola dan mengintegrasikan LMS dalam pembelajaran IPA. Hal tersebut berdasarkan dari produk kegiatan kelas daring berbasis LMS yang telah berhasil dibuat oleh seluruh peserta Guru IPA selama mengikuti kegiatan pelatihan. Pelatihan pengelolaan dan integrasi LMS merupakan kegiatan mengenalkan teknologi yang dapat menunjang pembelajaran khususnya IPA yang sesuai pembelajaran abad 21. Keberlanjutan kemampuan guru untuk mengelola dan mengintegrasikan LMS dalam pembelajaran memerlukan kesadaran Guru untuk sering menggunakan teknlogi tersebut dan dukungan oleh pihak sekolah serta pemerintah
PROFIL AWAL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS IPA PESERTA DIDIK KELAS VIII-A MTs PSM TANEN - REJOTANGAN
Keterampilan berpikir kritis belakangan ini gencar untuk ditingkatkan pada peserta didik di semua tingkatan pendidikan. Peserta didik diharapkan memiliki keterampilan berpikir kritis yang baik agar dapat menghadapi persaingan dalam dunia kerja. Penelitian yang dilakukan merupakan deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mengklasifikasikan keterampilan berpikir kritis dari peserta didik. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII A MTs PSM Tanen - Rejotangan Kabupaten Tulungagung tahun pelajaran 2019/2020 sebanyak 25 peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan tes keterampilan berpikir kritis. Instrumen tes keterampilan berpikir kritis mencakup 6 indikator yang terdiri atas 10 butir tes uraian. Instrumen tes yang digunakan telah divalidasi dosen ahli, diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran serta daya beda. Analisis dilakukan terhadap hasil tes peserta didik pada tiap indikator dan dikategorikan ke dalam lima kategori berpikir kritis yang terdiri dari sangat baik (SB), baik (B), sedang (S), kurang (K), dan sangat kurang (SK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor indikator berpikir kritis tertinggi diperoleh pada indikator menjelaskan yakni sebesar 33 dengan kategori kurang (K). Indikator menganalisis dan pengaturan diri memiliki rata-rata skor terendah yakni sebesar 12 dengan kategori sangat kurang (SK). Berdasarkan hasil tersebut, terbukti bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik masih perlu dilatihkan agar dapat ditingkatkan. Sehingga, guru perlu menerapkan pembelajaran IPA yang bermakna agar dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik