FKIP UNS Journal Systems
Not a member yet
7978 research outputs found
Sort by
Identifikasi Aktor dalam Pengembangan Agrowisata di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Agrotourism is one of the natural potentials that several villages have. One of the sub-districts that has experienced rapid agrotourism development is Ngargoyoso District. The success of developing agrotourism in Ngargoyoso District, especially in Jatirejo Village and Kemuning Village, cannot be separated from the actors involved and their respective roles. The many successes in developing agrotourism certainly cannot be separated from the imbalances that occur in the running process, especially related to the roles of the actors involved. Therefore, it is necessary to identify actors and their roles in agrotourism development in order to find out the actors involved and analyze the actors' roles. This research uses a qualitative description method with informant sampling techniques using purposive sampling and snowball sampling. Data analysis used Miles and Huberman interactive analysis. The data collection process was obtained from direct interviews with informants, observation, and documentation. The results of the research show that the actors who play a role in agrotourism include local governments, tourism managers (agrotourism owners, jeep managers, and homestay managers), the micro small and medium enterprises owners , farmers, local communities, Agricultural Extension Center, and tourism offices. The actor’s role as facilitator consists of the village government, farmers, and the Agricultural Extension Center; the implementor’s role consists of tourism managers, the micro small and medium enterprises owners, and local communities; and policy creators consisting of the tourism department. Agrowisata menjadi salah satu potensi alam yang dimiliki beberapa desa. Salah satu kecamatan yang memiliki perkembangan agrowisata yang pesat adalah Kecamatan Ngargoyoso. Keberhasilan pengembangan agrowisata di Kecamatan Ngargoyoso, khususnya Desa Jatirejo dan Desa Kemuning tidak lepas dari aktor yang terlibat dan perannya masing-masing. Banyaknya keberhasilan pengembangan agrowisata tentunya juga tidak lepas dari ketimpangan yang terjadi dalam proses keberjalanannya utamanya terkait peran aktor yang terlibat. Oleh karena itu diperlukan identifikasi aktor dan peranannya dalam pengembangan agrowisata guna mengetahui aktor yang terlibat serta analisis peran aktor. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif dengan teknik pengambilan sampel informan secara purposive sampling dan snowball sampling. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis interaktif Miles and Huberman. Proses pengumpulan data diperoleh dari wawancara langsung dengan informan, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktor yang berperan dalam agrowisata meliputi pemerintah daerah, pengelola wisata (pemilik agrowisata, pengelola jeep, dan pengelola homestay), pemilik UMKM, petani, masyarakat lokal, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan dinas pariwisata. Peran aktor sebagai fasilitator terdiri dari pemerintah desa, petani, dan Balai Penyuluhan Pertanian; peran implementor terdiri dari pengelola wisata, pemilik UMKM, dan masyarakat lokal; serta policy creator terdiri dari dinas pariwisata
Kemitraan Pemerintah Desa Dan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Edukasi Gerabah Di Desa Rendeng Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro
Rendeng Village is one of the villages in Indonesia that has great potential in developing a pottery educational tourism village. However, to achieve this goal, there needs to be support from the village government in terms of infrastructure, training, promotion and facilities, as well as collaboration with the community. The aim of this research is to analyze the partnership that exists between the government and the community in developing the Pottery Educational Tourism Village in Rendeng Village, Malo District, Bojonegoro Regency. This type of research is qualitative - inductive research. Data collection techniques include interviews, observation, documentation studies, sampling techniques, and making field notes. The informants in this research were the Head of Rendeng Village, Chairman of BUMDes, Karang Taruna Management, and the local community of Rendeng Village, Malo District, Bojonegoro Regency. The research results show that the village government plays a key role as a catalyst in designing and implementing development programs, creating a supportive environment for the growth of the tourism sector and the pottery industry. The most striking impact is an increase in people's income. The Pottery Educational Tourism Village development program, initiated by the village government, directly influences local economic growth by creating new sources of income through tourism and the pottery industry.Desa Rendeng merupakan salah satu desa di Indonesia yang memiliki potensi besar dalam pengembangan desa wisata edukasi gerabah. Namun, untuk mencapai tujuan ini, perlu adanya dukungan dari pemerintah desa dalam hal infrastruktur, pelatihan, promosi, dan fasilitas, serta kerjasama dengan masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis tentang kemitraan yang terjalin antara pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan Desa Wisata Edukasi Gerabah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif – induktif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, teknik cuplikan, dan pembuatan catatan lapangan. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Desa Rendeng, Ketua BUMDes, Pengurus Karang Taruna, dan Masyarakat lokal Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa memainkan peran kunci sebagai katalisator dalam merancang serta melaksanakan program pengembangan, menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pertumbuhan sektor pariwisata dan industri gerabah. Dampak yang paling mencolok adalah peningkatan pendapatan masyarakat. Program pengembangan Desa Wisata Edukasi Gerabah, yang digagas oleh pemerintah desa, secara langsung memengaruhi pertumbuhan ekonomi lokal dengan menciptakan sumber pendapatan baru melalui pariwisata dan industri gerabah.
Analisis Kondisi Perkerasan Jalan Desa Menggunakan Metode Pci (Pavement Condition Index) Di Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro
Kapas District has quite a large population density in the Bojonegoro area. The increase in population has implications for increasing traffic volume, which in turn affects the strength and lifespan of the pavement structure. Therefore, effective maintenance and repair is required to prevent serious damage. The Pavement Conditions Index (PCI) method provides a detailed evaluation of the condition of pavement damage, allowing more detailed measurements for each type of damage that occurs. The results of the village road survey in Cotton District showed that the condition of Jalan Sukowati had a PCI score of 60, the condition of Jalan Mojodeso had a PCI score of 56, the condition of Jalan Klampok had a PCI score of 58, the condition of Jalan Wedi had a PCI score of 54, while the condition of Jalan Kalianyar had a PCI score of 58. Although the overall PCI score Klampok Village shows very good conditions with a score of 58, however there are several sample units that show less than satisfactory conditions. Sample unit 3 at STA 200–300 shows moderate conditions, while sample unit 4 at STA 300–400 shows poor conditions. Therefore, treatment is needed such as re-paving to improve this condition and the planned budget required is IDR 70,130,000.Kecamatan Kapas memiliki kepadatan penduduk cukup banyak di wilayah Bojonegoro. Kenaikan jumlah penduduk memiliki implikasi pada peningkatan volume lalu lintas, yang pada saatnya mempengaruhi kemampuan dan umur perkerasan. Oleh karena itu, diperlukan pemeliharaan dan perbaikan yang efektif untuk mencegah kerusakan yang parah. Metode Pavement Conditions Index (PCI) memberikan evaluasi mendetail terhadap kondisi kerusakan perkerasan, memungkinkan perhitungan yang lebih detail untuk setiap jenis kerusakan. Hasil survei jalan desa di Kecamatan kapas mendapatkan hasil Jalan Sukowati nilai PCI 60, kondisi Jalan Mojodeso nilai PCI 56, kondisi Jalan Klampok nilai PCI 58, kondisi Jalan Wedi nilai PCI 54, sedangkan kondisi Jalan Kalianyar nilai PCI 58. Meskipun secara keseluruhan nilai PCI Desa Klampok menunjukkan kondisi yang sangat baik dengan skor 58, namun terdapat beberapa unit sampel yang menunjukkan kondisi yang kurang memuaskan. Unit sampel 3 pada STA 200–300 menunjukkan kondisi sedang, sementara unit sampel 4 pada STA 300–400 menunjukkan kondisi yang buruk. Oleh karena itu, diperlukan penanganan seperti pengaspalan kembali untuk memperbaiki kondisi tersebut dan rencana anggaran biaya yang diperlukan adalah Rp.70.130.000
Penilaian Kinerja Embung Desa Sidomukti Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro
Reservoirs act as reservoirs that store excess water for use when needed, thus enabling effective water management for irrigation needs. The water that is managed generally comes from rainwater or river water stored in reservoirs, ensuring water availability at the right time and needs. This study was conducted to evaluate the performance of various components of the reservoir. Primary data collection was carried out through the use of drones and direct surveys at the location. Evaluation of embung performance is carried out based on PK-AKNOP technical guidelines. The results of the analysis show that the performance of the embung is not satisfactory.Embung berperan sebagai reservoir yang menyimpan air berlebih untuk digunakan ketika diperlukan, sehingga memungkinkan pengelolaan air yang efektif untuk kebutuhan irigasi. Air yang dikelola umumnya bersumber dari air hujan atau air sungai yang ditampung dalam embung, memastikan ketersediaan air sesuai dengan waktu dan kebutuhan yang tepat. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja berbagai komponen dari embung. Pengumpulan data primer dilakukan melalui penggunaan drone serta survei langsung di lokasi. Evaluasi kinerja embung dilaksanakan berdasarkan pedoman teknis PK-AKNOP. Hasil analisis menunjukkan bahwa kinerja embung tidak memuaskan
Peningkatan Aksesbilitas Air Bersih Masyarakat Desa Sukowati Melalui Sumur Bor Dengan Sistem Perpipaan
The need for clean water is very basic for living things in the world. Especially for humans, water is needed every day, both for their bodies and their daily activities. Providing clean water for the community is closely related to the level of public health, it is also one of the causes of poor nutrition or stunting and indirectly has an impact on economic growth. However, the current obstacle is less than optimal management of water resources which results in unequal distribution of water. Sukowati Village is one of the villages that manages clean water supplied from drilled wells with a submersible pump system. Two units were built in 2018 in the southern and northern regions. And connected to the homes of 380 families out of 910 families (data from Bumdesa Sukowati administrators). However, at certain times the water flow decreases and even dies. Drilled wells are one of the tools used to distribute clean water from the ground to the community. Through reservoirs and pipe networks, it is hoped that the clean water needs of the people of Sukowati Village can be met.The current infrastructure for Pamsimas is a drilled well, a water reservoir with a height of 6 m and a reservoir capacity of 64 m3/64,000 liters for the Southern region (Glagah and Ngelo Hamlets). The role of the community is very important to increase the availability of clean water. It is hoped that the community will take part in planning and maintaining Pamsimas infrastructure, so that its existence can achieve sustainability [8]. Looking at data from customers, the role of the community is still not optimal. In this case, researchers will focus on the ability of drilled wells to distribute the maximum number of families. And it is hoped that later a policy will be obtained to increase the accessibility of providing clean water for the people of Sukowati Village.Kebutuhan Air bersih sangat mendasar bagi makluk hidup di dunia. Terutama bagi manusia air sangatlah dibutuhkan setiap hari, baik untuk tubuhnya maupun kegiatannya sehari hari. Penyediaan air bersih bagi masyarakat erat kaitannya dengan tingkat kesehatan masyarakat, diantaranya juga salah satu penyebab dari gisi buruk atau stunting serta secara tidak langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Namun yang menjadi kendala sekarang adalah pengelolaan sumber daya air yang kurang optimal yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran air. Desa Sukowati salah satu desa yang mengelola air bersih dengan disuplai dari sumur bor sistem pompa Submersible di bangun pada tahun 2018 sebanyak 2 unit di wilayah selatan dan wilayah utara. Dan tersambungan ke rumah sebanyak 380 keluarga dari 910 Keluarga ( data dari pengurus Bumdesa Sukowati ). Akan tetapi pada saat tertentu debit air mengecil bahkan mati. Sumur bor ialah salah satu alat yang di pakai untuk mendistribusikan air bersih dari dalam tanah kemasyarakat. Melalui Tandon dan jaringan perpipaan di harapkan kebutuhan air bersih masyarakat Desa Sukowati dapat tercukupi. Sarana prasarana pamsimas saat ini adalah sumur bor, tandon Air dengan ketinggian 6 m dan kapasitas tandon sebesar 64 m3/64000 liter untuk wilayah Selatan ( Dusun Glagah dan Ngelo ). Peran masyarakat sangatlah penting untuk peningkatan ketersediaan air bersih. Di harapkan masyarakat ikut andil dalam perencanaan dan perawatan sarana prasarana pamsimas, agar keberadaannya dapat mencapai keberlanjutan [8]. Melihat data dari pelanggan, peran masyarakat masih belum maksimal. Dalam hal ini peneliti akan focus pada kemampuan sumur bor dapat mendistribusikan batas maksimal berapa keluarga. Dan harapannya nanti di peroleh kebijakan untuk peningkatan aksesbilitas penyediaan air bersih untuk masyarakat Desa Sukowati.
Membangun Desa Tangguh: Meningkatkan Keberhasilan Program Pompanisasi Melalui Pemahaman Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat
The pompanisation program, a government initiative to boost agricultural productivity and rural community welfare, faces challenges in achieving success due to insufficient understanding of the socio-economic dynamics in beneficiary communities. This study examines how a deeper grasp of these dynamics can enhance the program's outcomes, focusing on Karangdayu Village, Bojonegoro. Using a qualitative approach with a case study design, data was gathered through interviews, observations, and document analysis. Results indicate that a nuanced understanding of the community's socio-economic characteristics can improve program effectiveness in several ways. Understanding the social structure enables targeted planning, while knowledge of economic conditions allows for tailored assistance. Active community involvement fosters ownership and sustainability. Thus, recognizing and incorporating these characteristics in program planning and implementation is vital for the pompanisation program's success.Program pompanisasi adalah inisiatif pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun, keberhasilan program sering terhambat oleh pemahaman yang kurang mendalam tentang karakteristik sosial ekonomi masyarakat penerima. Penelitian ini menganalisis bagaimana pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik sosial ekonomi masyarakat dapat meningkatkan keberhasilan program pompanisasi, dengan fokus pada Desa Karangdayu, Bojonegoro. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen terkait program pompanisasi di Desa Karangdayu. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik sosial ekonomi masyarakat dapat meningkatkan efektivitas program pompanisasi. Hal ini terlihat dari peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program, penyesuaian program bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan peningkatan rasa memiliki masyarakat terhadap program. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah lebih memperhatikan karakteristik masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program pompanisasi di masa mendatang
Local Economic Development sebagai Upaya Pengurangan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Campurejo
This research takes the theme of local economic development as a medium to reduce poverty and improve community welfare. This topic is taken as a reference to see the opportunities of SDG's in reducing poverty. This study uses qualitative research methods with a descriptive approach in data description and uses the LED theory from Steven-Meyer. The results of this study show that local economic development by utilizing village cash land is able to create a participatory economic climate for the community, is able to provide economic improvement for the community, and is able to create synergy of organizational elements and various multilevel parties. Synergy built from various levels and the private sector is able to create economic sustainability of the community so as to reduce the poverty rate in Campurejo Village. Penelitian ini mengambil tema pengembangan ekonomi lokak sebagai media untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Topik ini diambil sebagai acuan untuk melihat peluang dari SDGS dalam mengurangi kemiskinan. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif dalam medsekripikan data serta menggungakan teori PEL dari steven-meyer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi local dengan memanfaatkan tanah kas desa mampu menciptkan iklim ekonomi partisipatif masyarakat, mampu memberikan penigkatan ekonomi bagi masyarakat, serta mampu menciptkan sinergitas elemen organisasi dan berbagai pihak multilevel. Sinergitas yang terbagun dari berbagai level maupun pihak swasta mampu menciptakan keberlanjutan ekonomi masyarakat sehingga mengurangi tingkat kemiskinan di Desa Campurejo
Sosial Phubbing Di Kalangan Siswa Mts Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro
The aim of this research is to determine: 1) Factors that cause social violations among MT Muhammadiyah 7 Kanor Bojonegoro Regency students. 2) Social violations among MT Muhammadiyah 7 Kanor Bojonegoro Regency students. The influence of targeted violations. This research is qualitative research with a descriptive approach. Informants were identified using the snowball sampling method. The informants were eight students. The data collection methods used were observation, interviews and documentation. Qualitative descriptive data was analyzed using three methods: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The data validity technique uses time triangulation. The results of this research show that: 1) The factors causing social phubbing at MTs Muhammadiyah 7 Kanor, Bojonegoro Regency are the variety of smartphone applications they like, chatting too much, and enjoying games too much. 2) The negative impact of social violations at MTs Muhammadiyah 7 Kanor Bojonegoro Regency is, first, the destruction of harmonious relationships within the family; Second, friendships are destroyed. Third, it turns out to be individualistic. Fourth: Becoming antisocial. And the positive impact of social phubbing at MTs Muhammadiyah 7 Kanor Bojonegoro Regency is to avoid bad conversations and conversation activities.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) Faktor penyebab terjadinya pelanggaran sosial pada siswa MT Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro 2) Pelanggaran sosial pada siswa MT Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro Pengaruh pelanggaran yang ditargetkan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan diidentifikasi menggunakan metode snowball sampling. Informannya berjumlah delapan orang siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data deskriptif kualitatif dianalisis dengan menggunakan tiga metode: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Faktor penyebab social phubbing di MTs Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro adalah keragaman aplikasi smartphone yang disukai, terlalu banyak chatting, dan terlalu menikmati permainan. 2) Dampak negatif pelanggaran sosial di MTs Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro adalah, pertama, rusaknya hubungan harmonis dalam keluarga; Kedua, persahabatan hancur. Ketiga, ternyata bersifat individualistis. Keempat: Menjadi antisosial. Dan dampak positif dari social phubbing di MTs Muhammadiyah 7 Kanor Kabupaten Bojonegoro adalah terhindar dari percakapan dan aktivitas percakapan yang tidak baik
Transformasi Kelompok Tani Organik Menjadi Kelompok Sadar Wisata Pertanian Organik
The fragility of the national economy can be traced to the fragility of the people's economy in rural areas due to the fragility of its supporting institutions. One of the institutions at the village level is farmer groups. Minister of Agriculture Regulation No. 273/2007 concerning Guidelines for Farmer Institutional Development states that farmer institutional development is directed at increasing capacity and strengthening farmer institutions to become strong and independent organizations. This is the basis for farmer groups to transform in a better direction. This research aims to analyze the process and strategy of transforming farmer groups into tourism conscious groups. This research method is descriptive qualitative with a method of determining informants purposively and snowballing 10 people. Data collection techniques using in-depth interviews, observation, and documentation as well as using Miles and Huberman data analysis techniques. The research results show that the transformation process that has been carried out also has a background and a series of actions to achieve a goal. The series and actions taken include the roles of farmer group members, community involvement, Pokdarwis programs/activities and strategies in the transformation process. The impacts arising from the transformation process are new institutions, impacts on economic, social and cultural aspects.Kondisi ekonomi nasional yang rapuh bisa diketahui melalui kondisi ekonomi masyarakat pedesaan akibat lemahnya lembaga yang mendukungnya. Salah satu lembaga yang ada di tingkat pedesaan adalah kelompok tani. Permentan No.273/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani bahwa pengembangan kelembagaan petani diarahkan pada peningkatan kemampuan dan penguatan kelembagaan petani menjadi organisasi yang kuat dan mandiri. Hal tersebut menjadi dasar kelompok tani untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik lagi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses dan strategi transformasi kelompok tani menjadi kelompok sadar wisata. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode penentuan informan secara purposive dan snowball sejumlah 10 orang. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi serta menggunakan teknis analisis data Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses transformasi yang telah dijalankan juga memiliki latar belakang dan rangkaian tindakan untuk mencapai sebuah tujuan. Rangkaian dan tindakan yang dilakukan diantaranya adalah peran-peran dari anggota kelompok tani, keterlibatan masyarakat, program/kegiatan pokdarwis dan strategi dalam proses transformasi. Dampak yang ditimbulkan dari proses transformasi yaitu kelembagaan baru, dampak pada aspek ekonomi, sosial dan buday
Sistem Pengembangan Agribisnis Petani Bawang Merah (Studi Kasus Desa Pajeng Kecamatan Gondang Kabupaten Bojonegoro)
This research in Pajeng Village, Gondang Sub-district, Bojonegoro District aims to look at the involvement of various parties, examine the process of improving shallot agribusiness, and develop a strategic plan for shallot agribusiness development. Pajeng village, known for its significant agricultural capacity, primarily emphasizes shallot cultivation. Onion cultivation not only serves as an important source of income for the local community, but also contributes significantly to agricultural output.The objective of employing a qualitative research approach is to meticulously depict the community empowerment methods practiced by shallot farmers in Pajeng Village, Gondang District, Bojonegoro Regency, aiming to gather extensive and precise data. Utilizing this qualitative methodology is geared towards ensuring that the data gathered is thorough, detailed, dependable, and meaningful, thereby facilitating the achievement of the research objectives.Based on the research that has been carried out, in order to support the development of shallot agribusiness in Pajeng Village, a strategy is needed which includes: providing farmers with education and training in order to improve farmers' skills and introduce them to the best agricultural industry practices, providing assistance to farmers to form cooperatives or business groups together to purchase agricultural inputs, promote joint harvests, assistance in diversifying agricultural products to increase the added value of products and open new market opportunities, providing easy access to capital for farmers, microcredit, subsidy programs, or partnerships with financial institutions, as well as collaboration between farmers, government, universities, research institutions and the private sector to facilitate mutually beneficial exchange of knowledge, technology and business opportunities.Penelitian di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro ini bertujuan untuk melihat keterlibatan berbagai pihak, mencermati proses peningkatan agribisnis bawang merah, dan menyusun rencana strategis pengembangan agribisnis bawang merah. Desa Pajeng, yang dikenal dengan kapasitas pertaniannya yang signifikan, terutama menekankan pada budidaya bawang merah. Budidaya bawang merah tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap hasil pertanian Tujuan dari penggunaan pendekatan penelitian kualitatif adalah untuk menggambarkan secara cermat metode pemberdayaan masyarakat yang dipraktikkan oleh petani bawang merah di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, yang bertujuan untuk mengumpulkan data yang luas dan tepat. Penggunaan metodologi kualitatif ini diarahkan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan bersifat menyeluruh, rinci, dapat diandalkan, dan bermakna, sehingga memudahkan pencapaian tujuan penelitian.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, guna mendukung pengembangan agribisnis bawang merah di Desa Pajeng maka diperlukan strategi yakni meliputi: memberikan petani pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan keterampilan petani dan memperkenalkan mereka pada praktik industri pertanian terbaik, memberikan pendampingan kepada petani untuk membentuk koperasi atau kelompok usaha bersama untuk membeli input pertanian, mempromosikan hasil panen bersama, pendampingan dalam diversifikasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah produk dan membuka peluang pasar baru, memberikan akses yang mudah untuk mendapatkan modal bagi para petani, kredit mikro, program subsidi, atau kemitraan dengan lembaga keuangan, serta kolaborasi antara petani, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor swasta untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, teknologi, dan peluang bisnis yang saling menguntungkan