FKIP UNS Journal Systems
Not a member yet
    7978 research outputs found

    Analisis Usahatani Purwaceng (Pimpinella pruatjan Molk.) di Dataran Tinggi Dieng

    Full text link
    Purwaceng grows endemically in highland areas, and until now most of it only remains in the  Dieng Plateau, Central Java. The researcher aims to determine the cost, profit level and efficiency of purwaceng farming in the Dieng Plateau. Data were collected by interview, observation, and documentation. The results showed that the total revenue of purwaceng farming per Ha in one planting period was obtained at Rp 439,089,881.00 and the total costs incurred were Rp 35,847,805.00. So that a profit of Rp 403,242,077.00 / ha is obtained for one planting period. The value              of the R/C ratio of purwaceng farming in Dieng Plateau per hectare per planting period is 12.25. Purwaceng farming in the Dieng Plateau is efficient and feasible to cultivate.Purwaceng merupakan tanaman endemik dataran tinggi yang masih dibudidayakan di Dataran Tinggi Dieng, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian untuk mengetahui biaya, tingkat keuntungan dan efisiensi usahatani purwaceng di Dataran Tinggi Dieng. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan total penerimaan usahatani purwaceng dalam satu musim tanam yaitu Rp 439.089.881,00/Ha, dan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 35.847.805,00/Ha. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 403.242.077,00/Ha per musim tanam. Nilai R/C ratio usahatani purwaceng sebesar 12,25. Usahatani purwaceng di Dataran Tinggi Dieng efisien dan layak untuk diusahakan

    Strategi Penguatan Kapasitas Kelembagaan Jejaring Pemasaran Petani Kentang (Solanum Tuberosum) di Kecamatan Ngablak

    Full text link
    The marketing of agricultural products, especially potatoes, by farmers in Indonesia is usually done through middlemen. This situation puts farmers in a weak bargaining position because the middlemen will benefit more from the network they have. Institutionalisation is a solution to improve farmers' bargaining power. One of the agricultural economic institutions in Ngablak sub-district is PT Agro Lestari Merbabu, which also has a partnership with potato farmers. This study aims to analyse the institutional condition of the potato commodity marketing network in Ngablak sub-district and analyse the strategy of strengthening the Potato (Solanum Tuberosum) commodity marketing network in Ngablak sub-district. This research uses descriptive qualitative method and SWOT analysis to determine the strategy in strengthening the institutional marketing network. The results showed that the marketing network of potato commodities in Ngablak sub-district is managed by PT Agro Lestari Merbabu which works in partnership with local farmers and obtained four SO (Strength - Opportunity) strategies, three ST (Strength - Threat) strategies, three WO (Weakness - Opportunity) strategies, three WT (Weakness - Threat) strategies.Praktik pemasaran hasil pertanian, utamanya komoditas kentang yang dilakukan oleh petani di Indonesia biasanya masih melalui tengkulak. Keadaan ini menempatkan petani dalam bargaining position (posisi tawar) yang lemah karena keuntungan akan lebih banyak didapatkan oleh tengkulak dengan jaringan yang mereka milik. Pembentukan kelembagaan menjadi solusi meningkatkan daya tawar petani. Salah satu kelembagaan ekonomi pertanian yang terdapat di Kecamatan Ngablak adalah PT. Agro Lestari Merbabu yang juga melakukan kemitraan dengan petani kentang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kelembagaan jejaring pemasaran komoditas kentang di Kecamatan Ngablak dan menganalisis strategi penguatan kelembagaan jejaring pemasaran komoditas Kentang (Solanum Tuberosum) di kecamatan Ngablak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  deskriptif dan analisis SWOT untuk menentukan strategi dalam penguatan kelembagaan jaringan pemasaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa jejaring pemasaran komoditas kentang di Kecamatan Ngablak dikelola PT Agro Lestari Merbabu yang bekerja sama sistem kemitraan dengan petani setempat dan diperoleh empat strategi SO (Strength – Opportunity), tiga Strategi ST (Strength – Threat), tiga strategi WO (Weakness – Opportunity), tiga strategi WT (Weakness – Threat)

    Analisis Nilai Tambah Agroindustri Kelor (Studi Kasus Di CV Tri Utami Jaya Kota Mataram)

    Full text link
    Moringa plants contain active chemicals and complete nutrition so that Moringa plants are one of the most versatile vegetable plants. Moringa leaves are an extraordinary nutritional source of Vitamins A and C, especially beta-carotene. The aim of the research is to find out how much added value the processing of Moringa leaves into Moringa leaf agro-industrial products is. The research area was taken using purposive sampling, namely CV. Tri Utami Jaya Mataram City. This company was used as a research location because it is the largest moringa industry in West Nusa Tenggara Province. Data collection was carried out in November-December 2023. The processed leaf products studied included KIDOM moringa tea bags and morika coffee easy. The analysis method uses hayami value added analysis. The research results show that the added value of the moringa agroindustry into KIDOM moringa tea bag products is IDR. 225,115/kg, with a value ratio of 90.5%. The added value of the morikai coffee easy product is IDR. 229,9400/kg with a value added ratio of 95.81%, so the more raw materials needed in each production process, the more capital is spent to meet raw material needs in fulfilling the production process to become finished product materials.Tanaman kelor mempunyai kandungan bahan kimia aktif dan nutrisi lengkap sehinga tanaman kelor sebagai salah satu tanaman sayuran yang serbaguna. Daun kelor adalah sumber nutrisi Vitamin A dan C yang sangat luar biasa, terutama betakaroten. Tujuan dari peneltian adalah untuk mengetahui seberapa besar nilai tambah (added value) pengolahan daun kelor menjadi produk agroindustri daun kelor. Pengambilan daerah penelitian secara purposive sampling yaitu CV. Tri Utami Jaya Kota Mataram. Perusahaan ini dijadikan lokasi penelitian karena satu-satunya industri kelor terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengambilan data dilaksanaan pada Bulan Nopember-Desember 2023. Produk olahan daun yang diteliti meliputi teh celup moringa KIDOM dan morika coffe easy. Metode analisis menggunakan analisis nilai tambah hayami. Hasil penelitian menunjukan nilai tambah dari agroindustri kelor menjadi produk teh celup moringa KIDOM sebesar Rp. 225.115/kg, dengan rasio nilai sebesar 90,5%. Nilai tambah pada produk morikai coffe easy sebesar Rp. 229.9400/kg dengan rasio nilai tambah sebesar 95,81%, jadi semakin banyak bahan baku yang dibutuhkan dalam setiap proses produksi, semakin banyak modal yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam memenuhi proses produksi menjadi bahan produk jadi

    Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata

    Full text link
    In community empowerment, such as the Tirtayasa Embung tourist village, there is no entry fee and you only have to pay what you can and parking fees, so what about maintaining the Tirtayasa Embung management if there is no fee to enter the tourist attraction but there are many new places to use as photo spots. People who manage the Tirtayasa and Gastrak reservoirs receive a salary for management if they are not charged a fee. Tourists will feel comfortable and at home if the tourist attraction has complete facilities and infrastructure. This is contrary to what exists in the Jatimulyo Tourism Village where facilities and infrastructure are not yet available optimally. So far, the development of existing tourism potential has come from community self-funding. According to the description, researchers are interested in conducting research with the title "Community Empowerment through the development of Tourism Villages (Case study in Geger Village, Kedungadem District, Bojonegoro Regency)"Dalam pemberdayaan masyarakat sepertidesa wisata embung tirtayasa tidak dikenakan biaya masuk dan hanyammbayar seiklasnya saja dan uang parkir, lalu bagaimana untuk perawatanpengelolaan embung tirtayasa jika untuk masuk tempat wisata tidakdikenakan biaya tetapi banyak tempat tempat baru untuk dijadikan spotfoto. Untuk masyarakat yang mengelola embung tirtayasa dan gastrakmendapatkan gaji dalam pengelolaan jika tidak dikenakan biaya.Wisatawan akan merasa nyaman dan betah apabila di obyek wisataterdapat sarana dan prasarana yang lengkap. Hal ini bertentangan denganapa yang ada di Desa Wisata Jatimulyo dimana sarana dan prasaranabelum tersedia secara maksimal. Selama ini pengembangan potensi wisatayang ada berasal dari dana swadaya masyarakat. Menurut penjabaran maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitiandengan judul “ Pemberdayaan Masyarakat Melalui pengembangan DesaWisata (Studi kasus di Desa Geger Kecamatan KedungademKabupaten Bojonegoro)

    Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pemberdayaan Masyarakat Desa Kaliboto oleh Kaliboto Green Institute Melalui Program Integrated Farming System dalam Pencapaian Sdg’s

    Full text link
    Various agricultural problems in Indonesia include land conversion, an increase in population which has hampered the achievement of SDG's. Efforts that can be made are community empowerment with the application of integrated farming systems. The purpose of this research is to analyze the concept, supporting factors, and inhibiting factors of community empowerment in Kaliboto Village by Kaliboto Green Institute through integrated farming system program in achieving SDGs. The research method is descriptive qualitative. The method of determining the location is purposive, namely in Kaliboto Village. The method of determining informants is purposive and snowball sampling. Data collection methods were observation, in-depth interviews, note-taking, documentation. The data analysis method is done by collecting, reducing data, presenting data, drawing conclusions. Data validity using source triangulation. The results showed that the concept of integrated farming system in Kaliboto Village integrates agriculture, livestock, and fisheries. Empowerment stages such as problem assessment, awareness, counseling, discussion. Supporting factors consist of motivation, hobbies, communication technology, village government support, community conditions and needs. The inhibiting factors consist of non-biological natural resources, human resources, budget, participation. The conclusion of the research is that community empowerment in Kaliboto Village has supporting and inhibiting factors that affect the achievement of SDG's.Berbagai permasalahan pertanian di Indonesia antara lain alih fungsi lahan, peningkatan jumlah penduduk yang mengakibatkan terhambatnya ketercapaian Sustainable Development Goals (SDG’s). Upaya yang dapat dilakukan yaitu pemberdayaan masyarakat dengan penerapan integrated farming system. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep, faktor pendukung, faktor penghambat pemberdayaan masyarakat Desa Kaliboto oleh Kaliboto Green Institute melalui program integrated farming system  dalam pencapaian SDG’s. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif. Metode penentuan lokasi secara purposive yaitu di Desa Kaliboto. Metode penentuan informan yaitu purposive dan snowball sampling. Metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam, pencatatan, dan dokumentasi. Metode analisis data dilakukan dengan pengumpulan, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep integrated farming system di Desa Kaliboto dengan mengintegrasikan bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Tahapan pemberdayaan adalah pengkajian masalah, penyadaran, penyuluhan, dan diskusi. Faktor pendukung pemberdayaan  terdiri dari motivasi, hobi, teknologi komunikasi, dukungan pemerintah desa, serta kondisi dan kebutuhan masyarakat. Faktor penghambat pemberdayaan terdiri dari Sumber Daya Alam non hayati, Sumber Daya Manusia, anggaran dana, serta partisipasi

    Faktor - Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Umkm Gula Jawa di Kecamatan Paranggupito Kabupaten Wonogiri

    Full text link
    The high competition in the palm sugar industry leads to unstable revenue figures. Palm sugar production increases During the rainy season, resulting in lower sales prices than in the dry season. This study explores the impact of various factors on the revenue of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) engaged in palm sugar production in Paranggupito District, Wonogiri Regency. Using a descriptive method and purposive location selection, the study involved 30 MSMEs as respondents. Cost and revenue analysis and multiple linear regression analysis were conducted using IBM SPSS Statistics software version 22. The results of this study indicate that factors such as capital, business duration, number of employees, and online promotion significantly affect the revenue of palm sugar MSMEs. The study also shows that comparing lower-income receipts and higher revenues significantly influences MSME revenue. The most influential factor was capital alone, affecting the revenue of palm sugar MSMEs.Tingginya pesaing industri gula jawa membuat angka pendapatan yang tidak stabil. Pada musim penghujan, produksi gula jawa meningkat hal ini menyebabkan penurunan harga jual dibandingkan dengan musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pengaruh beberapa faktor terhadap pendapatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang produksi gula jawa di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pemilihan lokasi yang bersifat purposive, penelitian ini melibatkan 30 UMKM sebagai responden. Analisis biaya dan pendapatan dilakukan, bersama dengan analisis regresi linear berganda menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistic versi 22. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti modal, lama usaha, jumlah tenaga kerja, dan promosi online secara signifikan memengaruhi pendapatan UMKM gula jawa. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendapatan UMKM terpengaruh secara signifikan oleh perbandingan antara hasil penerimaan yang lebih rendah dan pendapatan yang lebih tinggi.Terdapat faktor yang paling memengaruhi yaitu faktor modal saja yang berpengaruh terhadap pendapatan UMKM gula jawa

    Analisis Pendapatan Usahatani Tembakau Study Kasus di Desa Pacing Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro

    Full text link
    Tobacco is a one-season plantation crop with high economic value and potential to be developed. Tobacco can drive the economy at the local and national levels, besides that tobacco is also a commodity that is used as a source of livelihood and provides welfare for tobacco farmers. The research was conducted in Pacing Village, Sukosewu District, Bojonegoro Regency. The research design used in this study is descriptive quantitative. In taking the Respondents, the Slovin formula was used, from the calculation of the formula there was a sample of 30 tobacco farmers selected to represent the population. The results of the study showed that the average production of tobacco in the form of bachelors produced by farmers was 1,583 kg / ha. For the price of bachelor tobacco per 1 kg on average costs Rp 35,000. The amount of income received by tobacco farmers in Pacing Village, Sukosewu District, is Rp 31,909,410,- / Ha. The efficiency of tobacco farming in Pacing Village, Sukosewu District, Bojonegoro Regency is RC 2.35, which means feasible and profitable.Tembakau merupakan tanaman perkebunan satu musim dengan nilai ekonomi yang tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan. Tembakau dapat menggerakkan perekonomian di tingkat lokal dan nasional, selain itu tembakau juga termasuk komoditas yang dijadikan sumber penghidupan serta memberikan kesejahteraan petani tembakau. Penelitian dilakukan di Desa Pacing Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Dalam penentuan jumlah responden digunakan rumus Slovin, dari perhitungan rumus terdapat sampel sebanyak 30 orang petani tembakau yang dipilih dalam mewakili populasi. Hasil dari penelitian menunjukkan, jumlah produksi rata-rata tembakau dalam bentuk rajangan yang di hasilkan petani yaitu 1.583 Kg/Ha. Untuk harga tembakau rajangan per 1 kg rata-rata seharga Rp 35.000. Jumlah pendapatan yang diterima oleh petani tembakau di Desa Pacing Kecamatan Sukosewu yaitu sebesar Rp 31.909.410,- /Ha. Efisiensi usahatani tembakau di Desa Pacing Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro yaitu RC 2.35 yang berarti layak dan menguntungkan

    Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Produk Oleh-Oleh Khas Bojonegoro “Ledre Asli”

    Full text link
    In the era of globalization filled with intense business competition, corporate organizations or businesses have a strong drive to survive. Factors influencing consumer satisfaction, including assessments of product quality, become crucial in efforts to maintain consumer loyalty. An example is "Ledre Asli," a typical Bojonegoro culinary product from micro, small, and medium enterprises (MSMEs) facing the challenge of insufficient promotion. This study aims to identify factors influencing consumer satisfaction with the product, with emphasis on the relationship between consumer satisfaction and repeat purchase intention. The research method employed is associative, aiming to reveal the relationship between two relevant variables in this context.Dalam era globalisasi yang penuh dengan persaingan bisnis yang ketat, organisasi perusahaan atau bisnis memiliki dorongan yang kuat untuk bertahan. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen, termasuk penilaian terhadap kualitas produk, menjadi sangat penting dalam usaha untuk mempertahankan loyalitas konsumen. Salah satu contoh adalah "Ledre Asli," sebuah produk UMKM makanan khas Bojonegoro yang dihadapkan pada tantangan kurangnya promosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap produk tersebut, dengan penekanan pada hubungan antara kepuasan konsumen dan minat beli ulang. Metode penelitian yang digunakan adalah asosiatif, yang bertujuan untuk mengungkap hubungan antara dua variabel yang relevan dalam konteks tersebut

    Simulasi Pemberian Air Embung Buntung Desa Tanjungharjo Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro Untuk Irigasi Pertanian

    Full text link
    Tanjungharjo Tanjungharjo Village, Kapas District, Bojonegoro Regency, has approximately 240 Ha of rice fields divided into 2 planting seasons. In the rainy season, farmers use rainwater to irrigate rice fields because the land is not classified as a rice field and is far from Bengawan Solo. Currently, the reservoir is experiencing shallowing so that it is unable to meet the water needs of 240 hectares of rice fields during the dry season. Rain data was taken from the Bojonegoro PU SDA Service. The approach used to test this consistency was the RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) method. Water availability is predicted from the area of the reservoir multiplied by the effective rainfall (Re). With the planting pattern for paddy, paddy and secondary crops, irrigation water can be provided. The method used to calculate evapotranspiration is the Blaney-Criddle method, this method only requires data on average temperature and day length or length of sunlight.Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, terdapat lahan persawahan kurang lebih 240 Ha yang terbagi dalam 2 musim tanam. Pada musim hujan, petani memanfaatkan air hujan untuk mengairi sawah karena lahan tersebut tidak tergolong sawah areal dan jauh dari Bengawan Solo. Saat ini embung mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk sawah seluas 240 Ha pada musim kemarau. Data hujan diambil dari Dinas PU SDA Bojonegoro, Pendekatan yang digunakan dalam menguji konsistensi tersebut adalah metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums). Ketersediaan air diprediksikan dari luas Embung di kalikan dengan curah hujan efektif (Re). Dengan Pola tanam padi, padi, palawija dapat  dilakukan pola pemberian air irigasi.  Metode yang di gunakan untuk menghitung Evapotranspirasi adalah metode Blaney-Criddle, metode ini hanya membutuhkan data suhu rata-rata dan Panjang hari atau lama waktu penyinaran matahari

    Analisis Dampak Jumlah Pengunjung Wahana Kampoeng Drenges Terhadap Perkembangan UMKM di Desa Drenges Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro

    Full text link
    In Bojonegoro, there is one educational tour, namely "Wahana Kampoeng Drenges" or WKD. As a tourist attraction, Wahana Kampoeng Drenges has several programs that can attract visitors. In the education sector, Wahana Kampoeng Drenges has a Study Tour and Outbound program. Study Tour is an educational program that targets children such as preschool, kindergarten and elementary school. Meanwhile, outbound is an educational program that targets adults. In the Culinary Sector, Wahana Kampoeng Drenges has a Cafetadira with special food, namely oyster mushroom satay and various souvenirs. This research aims to analyze the impact of the number of visitors to Wahana Kampoeng Drenges on the development of local MSMEs in Drenges Village. This research uses a case study approach with qualitative research methods. A specific case study approach through interviews with sources. The data sources in this research are recorded interviews with relevant informants, documents, archives and field notes. The data collection mechanism is through determining informants based on objectives (purposive sampling). Research findings show that there is a positive relationship between the number of visitors to Wahana Kampoeng Drenges and the growth of MSMEs in Drenges Village. The increase in the number of visitors, especially from 2020 to 2023, is correlated with increased production and diversification of MSME products. The research results provide an in-depth understanding of the mutually reinforcing relationship between local tourism and MSME development. The practical implications can be used as a basis for designing more focused tourism policies and sustainable MSME development programs at the local level, making a positive contribution to economic growth and welfare of the Drenges Village community.Di Bojonegoro, terdapat salah satu wisata edukasi yaitu “Wahana Kampoeng Drenges” atau WKD. Sebagai tempat wisata, Wahana Kampoeng Drenges memiliki beberapa program yang bisa menarik pengunjung. Pada sektor pendidikan, Wahana Kampoeng Drenges memiliki program Study Tour dan Outbond. Study Tour merupakan program edukasi yang menyasar anak-anak seperti Paud, TK, dan SD. Sedangkan outbond merupakan program edukasi yang menyasar orang dewasa. Pada Sektor Kuliner, Wahana Kampoeng Drenges memiliki Cafetadira dengan makanan khas yaitu sate jamur tiram dan berbagai oleh-oleh. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis dampak jumlah pengunjung Wahana Kampoeng Drenges terhadap perkembangan UMKM lokal di Desa Drenges. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode penelitian kualitatif. Pendekatan studi kasus secara spesifik melalui wawancara kepada sumber. Sumber data dalam penelitian ini ialah rekaman wawancara dengan informan terkait, dokumen, arsip, serta catatan lapangan. Mekanisme pengambil data melalui penentuan informan yang berdasarkan tujuan (purposive sampling). Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara jumlah pengunjung Wahana Kampoeng Drenges dan pertumbuhan UMKM di Desa Drenges. Lonjakan jumlah pengunjung, terutama pada tahun 2020 hingga 2023, berkorelasi dengan peningkatan produksi dan diversifikasi produk UMKM. Hasil penelitian memberikan pemahaman yang mendalam tentang hubungan yang saling memperkuat antara pariwisata lokal dan pengembangan UMKM. Implikasi praktisnya dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kebijakan pariwisata yang lebih terfokus dan program pembinaan UMKM yang berkelanjutan di tingkat lokal, memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Desa Drenges

    7,121

    full texts

    7,978

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    FKIP UNS Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇