FKIP UNS Journal Systems
Not a member yet
7978 research outputs found
Sort by
PERAN BUKU AJAR MATERI SASTRA UNTUK MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
The purpose of this study is to describe the role of teaching textbooks for students of elementary school teacher education study programs. This research uses library research methods. The data collection method used is the registration method. The data sources are books and journals. The data analysis technique used is content analysis. To allow accuracy of the assessment and prevent misinformation in data analysis, checking is done between libraries and rereading the libraries. The results of the analysis of some literature that regulates the role of textbooks is very important for effective learning, textbooks on popular literature. Literature learning is very important to be known by elementary teacher candidates. That is because literary learning is very good to do early on because there is a positive value in literature so students need textbooks on literary material. Literature textbooks can help students to study. Student books are easier to accept textbooks. With textbooks, students also find it easier to learn independently
BAHASA DAN GENDER; BIAS KOMUNIKASI SEKSIS “BAHASA ASING” MASYARAKAT PESANTREN
The purpose of this study is to represent the sexuality of foreign languages (Arabic and English) spoken by the pesantren community as L2 speech community. This research uses descriptive-qualitative method. Language differences between men and women are caused by the separation among them at important stages in their lives (Shan Wareing; 1999). Sexist language is a language that represents men and women unequally where members of one sex group are considered to be inferior to humanity, simpler, and have fewer rights than another group. This language usually presents stereotypes about men and women which sometimes hurt both but more often harm women. The results of this study are that the pesantren community that communicates with L2 appears to experience differences, especially in language sexism. The differentiation and sexism of the language of the pesantren speech community enters various dimensions; 1). Dimension of discourse. The pesantren speech community which dominates L2 in language learning and language community especially when studying the religious book (kitab kuning). 2). Dimension of accents. The pesantren community requires foreign-speaking speeches to communicate. In this case, it appears when the pesantren community speaks in Arabic. Arabic has hierarchies of masculinity-femininity in its various variants. 3). Mitigated form. In this locus, the sexism of the pesantren language community when attending extracurricular activities (muhadarah). 4). Aggravated form. L2 sexism in pesantren communities is encountered when there is punishment for language violations. 5). Iconicity. Language sexism in the iconic model appears in the form of icons installed in places and public facilities in boarding schools
BAHASA, SASTRA, LITERASI, DAN PENGAJARANNYA: UPAYA MENDINAMISASI PERBUKUAN NASIONAL
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memiliki peluang bagi terciptanya perubahanmasyarakat ke arah peningkatan kesejahteraan, keadilan, kemanusiaan, dan spiritual keagamaanmasyarakatnya. Peluang ini juga sekaligus akan menjadi bagian terpenting bagi masa depangenerasi muda yang penuh harapan. Generasi muda yang tangguh menjadi tumpuan untuk memilikikompetensi berpikir dan mencari konsep-konsep baru bagi bangsa, negeri, dan masyarakatnyasehingga nilai-nilai masyarakat tetap terjaga seperti yang digariskan di dalam Pancasila dan UUD1945, yakni berperi kemanusiaan, mencintai kemerdekaan, dan terus membangun masyarakatyang adil dan beradab serta menghormati hak-hak dan kebebasan manusia
LITERASI SASTRA FOLKLOR PADA ANAK SEKOLAH DASAR
Literasi sastra perlu dikembangkan di sekolah. Hal ini beralasan karena sastra memiliki peranan penting dalam pembinaan karakter anak. Literasi sastra memiliki cakupan pemberdayaan anak sekolah dasar dalam mencintai sastra, salah satunya folklor. Folklor merupakan kenderaan untuk mencapai tujuan dalam memahami berbagai aspek kehidupan, berperan sebagai salah satu langkah dalam melestarikan budaya lokal yang ada. Hal ini dirasakan perlu pada saat sekarang ini karena banyak dari generasi muda yang sudah melupakan budaya yang merupakan warisan leluhur nenek moyangnya dan kebanggaan identitasnya. Anak lebih suka menonton televisi atau main game di hanphone. Pengetahuan guru tentang sastra sangat rendah, sastra diajarkan oleh guru-guru yang tidak profesional, guru tidak memahami cara mengajar sastra dengan baik, guru belum mengajar dengan strategi yang tepat dalam literasi sastra. Sekolah dasar merupakan sarana utama untuk mengembangkan literasi sastra. Sekolah dasar merupakan sarana penting untuk penyeimbang perkembangan pendidikan karakter dengan tetap mengajarkan segala hal berkaitan dengan nilai-nilai kebaikan. Salah satu proses yang include dengan pembelajaran adalah literasi sastra. Kreativitas guru dalam pembelajaran literasi sastra perlu ditingkatkan karena dengan adanya guru sastra yang kreatif diharapkan pembelajaran sastra yang terjadi benar-benar disenangi oleh anak. Demikian juga dengan perhatian pemerintah lokal secara politis harus mengapresiasi dan mengakomodasi literasi sastra di sekolah, kelompok belajar, perpustakaan dan rumah baca
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA LOKAL DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA
Pendidikan karakter harus menanamkan nilai-nilai luhur baik kepada guru atau peserta didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter, semua komponen sekolah harus dilibatkan, seperti isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah. Dalam menanamkan pendidikan karakter, segala sesuatu yang dilakukan oleh guru harus mampu mempengaruhi karakter siswa serta dapat menunjukkan keteladanan. Guru bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter. Melalui kearifan lokal, guru dapat memberi contoh tata cara berbicara yang baik, sopan, santun, dan berbudi luhur. Di Indonesia beragam budaya sehingga dapat dijadikan sebagai contoh dalam proses pembelajaran. Budaya yang ada di wilayah Jawa berbeda dengan Sumatera ataupun yang lainnya sehingga penanaman pendidikan karakter melalui kearifan lokal juga akan berbeda -beda antara wilayah yang satu dengan yang lainnya
PEMBELAJARAN SEJARAH PADA SEKOLAH FULL DAY SCHOOL: (STUDI KASUS DI SMA N 1 KARANGDOWO KABUPATEN KLATEN)
The purpose of this study was : 1) to describe the Full Day School learning system in SMA N 1 Karangdowo Klaten; 2) to describe the historical curriculum in Full Day School learning; 3) to describe the implementation of historical learning in a Full Day School system.
This study used a qualitative method with an embedded case study strategy. Data sources used in this study through informants, documents, and places, events or activities. Data collection techniques use observation, interview, and data analysis techniques. The sampling technique used in this study was purposive sampling technique. The purposive sampling technique considers the subject to be studied to have knowledge of what the researcher expects, so that it will make it easier to examine the object to be studied. The data analysis technique used is the interactive model technique, by doing data reduction, data presentation, and drawing conclusions.
The conclusions in this study are: 1) The Full Day School learning system in SMA N 1 Karangdowo consists of intracurricular, kokurikuler, and extracurricular activities. These activities aim to develop the cognitive, affective, and psychomotor domains of students. 2) The curriculum used in historical history learning in a Full Day School system in SMA N 1 Karangdowo is Curriculum 2013 in class X and XI and KTSP in class XII. Historical learning is done by using contextual learning strategies. So the learning process will bring together concepts between learning material and the real world in developing the character of students. 3) The implementation of historical learning in SMA N 1 Karangdowo consists of three activities, namely preliminary activities, activities, core, and closing. In the process of implementing historical learning in a Full Day School system there are two obstacles faced, namely the learning process that is too time consuming and the teacher's preparation in teaching
Pengaruh Pembelajaran Sekolah Lima Hari, Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa XII Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Ajaran 2018/2019
This study aims to determine whether or not there is (1) the influence of the five day school learning system and learning independence together on the learning achievement of the XII Marketing class students of SMK Negeri 1 Surakarta in the Academic Year 2018/2019; (2) the influence of the five day school learning system on student achievement in Marketing XII class of SMK Negeri 1 Surakarta Academic Year 2018/2019; (3) the effect of learning independence on students' achievement in Marketing Class XII of SMK Negeri 1 Surakarta in Academic Year 2018/2019.The population in this study were Marketing XII grade students of SMK Negeri 1 Surakarta Academic Year 2018/2019 with a total of 57 students. This study uses a samling saturated type Non Probability Sampling technique, so that the number of samples is equal to the number of population, there are 57 students who are sampled. The research method used is a quantitative method. Data collection is done using questionnaires / questionnaires, interviews and documentation for five day school learning system data, learning independence and learning achievement. This study uses data analysis namely multiple regression with a significance level of 0.05, then processing data that has been obtained with the help of the SPSS data program (Statistical Product and Service Solution) version 22.The results showed that: first, there was a positive and significant influence between the five day school learning system on the learning achievement of Marketing XII students at SMK Negeri 1 Surakarta in the Academic Year 2018/2019, as indicated by the tcount = 2.440> t table = 2.003. Second, there is a significant positive effect between learning independence on the learning achievement of Marketing XII students at SMK Negeri 1 Surakarta in the Academic Year 2018/2019, as indicated by the value of tcount = 6.424> t table = 2.003. Third, there is a significant effect of the five day school learning system and learning independence together on the learning achievement of the XII Marketing class of SMK Negeri 1 Surakarta in the Academic Year 2018/2019, as shown by Fcount = 21,153> Ftable = 3,168
ANALISIS TEORI OTORITAS MAX WEBER DALAM KEPEMIMPINAN DUKUN ADAT DI MASYARAKAT SUKU TENGGER (Studi Kasus tentang Kepemimpinan Lokal Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur)
ANALISIS TEORI OTORITAS MAX WEBER DALAM KEPEMIMPINAN DUKUN ADAT DI MASYARAKAT SUKU TENGGER
(Studi Kasus tentang Kepemimpinan Lokal Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur)
Faqih Muhdyanto , Sigit Pranawa , Okta Hadi Nurcahyono
Program Studi Pendidikan Sosiologi & Antropologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji analisis teori Max Weber dalam, kepemimpinan dukun adat di masyarakat Suku Tengger , khususnya di Desa Ngadiwono. Bagaimana seorang Dukun Adat Suku Tengger Desa Ngadiwono memiliki otoritas yang membuatnya dipatuhi dan ditaati oleh masyarakat Suku Tengger. Otoritas apa saja yang dimiliki oleh seorang Dukun Adat dan bagaimana itu semua dianalisis dengan teori Otoritas Max Weber.
Peneliti menggunakan jenis kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Informan adalah dukun adat, kepala desa dan masyarakat setempat. Teknik pengambilan informan menggunakan Purposive Sampling dan Random Sampling, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan uji validitas data yakni triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah data reduction, data display dan conclusion drawing.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah: dengan menggunakan analisis teori Ototitas Max weber, Dukun Adat Dukun Tengger Desa Ngadiwono memiliki Otoritas Tradisional dan Otoritas Kharismatik, namun dukun adat tidak termasuk ke dalam otoritas Legal-Rasional. Temuan dalam penelitian ini adalah Dukun Adat Suku Tengger Desa Ngadiwono tidak memiliki Otoritas Legal-Rasional, dukun adat memiliki otoritas yang tidak dijelaskan Max Weber, atau berlawanan dengan Otoritas Legal-Rasional.
Kata kunci : Kepemimpinan, Dukun Adat, Suku Tengge
PROSES KONSTRUKSI SOSIAL MAHASISWA PENGGEMAR K-POP (STUDI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET)
PROSES KONSTRUKSI SOSIAL MAHASISWA PENGGEMAR K-POP (STUDI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET)
Nena Puji Astuti, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
[email protected]
ABSTRAK
Korean Pop Music atau K-Pop merupakan salah satu produk budaya Korea Selatan yang digunakan dalam menyebarkan budaya Korea Selatan kepada masyarakat internasional. Di Indonesia, kepopuleran K-Pop cukup tinggi dalam berbagai kalangan, salah satunya di kalangan mahasiswa FKIP UNS. Setiap mahasiswa penggemar K-Pop memiliki beberapa proses yang berbeda dalam menikmati K-Pop. Sehingga, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji proses konstruksi sosial mahasiswa penggemar K-Pop di FKIP UNS dalam mengkonsumsi budaya Korea. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan data informan yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer (melalui wawancara) dan data sekunder (melalui dokumentasi). Hasil penelitian ini adalah mahasiswa penggemar K-Pop mengalami tiga tahap proses konstruksi sosial, yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Pertama, eksternalisasi terjadi melalui persebaran K-Pop dan dukungan pemerintah dalam promosi budaya Korea Selatan melalui musik. Kedua, obyektivasi terjadi ketika penggemar secara terus-menerus menikmati K- Pop, berinteraksi dengan sesama teman penggemar K-Pop, dan mengakses informasi di internet tentang K-Pop dan budaya Korea Selatan. Ketiga, penggemar menginternalisasikan budaya Korea Selatan yang sudah mereka ketahui ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggemar lebih menginternalisasikan makna karya musik dan kehidupan idolanya daripada budaya Korea Selatan.
Kata Kunci: budaya Korea Selatan, K-Pop, penggemar K-Pop, proses konstruksi sosial
Fenomena Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Muda, Studi di Desa Pugeran, Karangdowo, Klaten
Fenomena Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Muda, Studi di Desa Pugeran, Karangdowo, Klaten
(Penelitian Fenomenologi Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Desa Karangdowo )
Fathan Syuhada Kuniawan, Sigit Pranawa2, Yuhastina Naina Sinaro3
Program Studi Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang fenomena mengenai berkurangnya tenaga kerja petani muda diDesa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, terkait ketidak mauan pemuda untuk bekerja disektor pertanian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yakni fenomenologi dengan pengumpulan data dan wawancara mendalam terhadap responden yang merupakan pemuda, petani, tokoh masyarakat, dan perangkat desa, disertai dengan observasi lapangan diDesa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Hasil dari penelitian ini adalah penghasilan disektor pertanian tidak pasti tergantung pada alam maupun hama, semakin banyak hama semakin banyak juga pengeluaran, sehingga hasilnya juga masih belum jelas, selain itu harga jual beras maupun gabah juga tidak stabil, apalagi pas panen raya. Kemudian teknologi disektor pertanian juga sudah maju dengan menggunakan mesin sehingga memerlukan tenaga manusia yang lebih sedikit. Pemuda diberi kebebasan dalam memilih pekerjaan dikarenakan selain hasil yang tidak pasti, teknologi juga menjadi faktor yang menyebabkan pemuda enggan untuk bekerja disektor pertanian karena dengan adanya teknologi mesin pemuda tinggal menuyuruh atau istilahnya memburuhkan kepada tenaga buruh untuk tanam, pemberantasan hama dan gulma maupun panen yang sekarang sudah menggunakan mesin.
Kata kunci: Pemuda, Penghasilan, Tenaga kerja, Petani, Petani Muda