FKIP UNS Journal Systems
Not a member yet
7978 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DENGAN MEDIA LKS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI DAN PRESTASI BELAJAR PADA MATERI KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 NGEMPLAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi berprestasi dan prestasi belajar pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri Ngemplak Boyolali Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus.setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, ombervasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri Ngemplak Boyolali Tahun Pelajaran 2015/2016. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, tes, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions) dapat meningkatkan motivasi berprestasi dan prestasi belajar siswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali. Peningkatan motivasi berprestasi siswa pada siklus I diperoleh 75% siswa kategori tinggi. Sedangkan pada peningkatan prestasi belajar meliputi aspek pengetahuan, sikap, keterampilan. Pada aspek pengetahuan, ketuntasan belajar siswa dari 56% pada siklus I meningkat menjadi 96% pada siklus II. Ketercapaian dari aspek sikap pada siklus I diperoleh 81,25%. Sedangkan ketercapaian dari aspek keterampilan pada siklus I adalah 100%
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA MATERIPERSAMAAN LINGKARAN DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XII IPS 4 SMA NEGERI 6 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman konsep siswa pada masing-masing kelompok motivasi belajar terhadap materi persamaan lingkaran.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode observasi, angket, dan wawancara berbasis tugas. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 6 Surakarta yang berjumlah 6 siswa. Identifikasi tingkat pemahaman konsep siswa sesuai yang dikemukakan Kolomuҫ & Tekin, yaitu: memahami konsep, memahami konsep sebagian, memahami konsep sebagian dengan miskonsepsi, miskonsepsi, dan tidak memahami. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pada konsep titik pusat lingkaran, jari-jari lingkaran, dan garis singgung lingkaran, siswa pada kelompok motivasi belajar tinggi mencapai tingkat pemahaman memahami,sedangkan pada konsep persamaan lingkaran dan diskriminan siswa mencapai tingkat pemahaman memahami sebagian; (2) pada konsep jari-jari lingkaran siswa pada kelompok motivasi sedang mencapai tingkat pemahaman memahami konsep, pada konsep titik pusat lingkaran dan diskriminan, siswa mencapai tingkat pemahaman memahami sebagian,sedangkan pada konsep persamaan lingkaran dan persamaan garis singgung lingkaran siswa mencapai tingkat pemahaman memahami sebagian dengan miskonsepsi;(3) pada konsep titik pusat lingkaran siswa pada kelompok motivasi belajar rendah mencapai tingkat pemahaman memahami,sedangkan pada konsep jari-jari, persamaan lingkaran, persamaan garis singgung lingkaran, dan diskriminan siswa mencapai tingkat pemahaman memahami sebagian dengan miskonsepsi
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII D SMP NEGERI 1 KARTASURA TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray (TSTS) yang dapat meningkatkan keaktifan siswa, mengetahui peningkatan keaktifan siswa setelah dilakukan model pembelajaran kooperatif teknik TSTS dan mengetahui dampak penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TSTS terhadap ketuntasan hasil belajar siswa. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan tes. Validitas isi dari instrumen dilakukan sebelum validitas data dari hasil belajar siswa. Sedangkan untuk keaktifan siswa digunakan triangulasi penyidik. Indikator keberhasilan penelitian ini setidaknya rata-rata persentase keaktifan siswa dari observasi mencapai 75%. langkah pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif teknik TSTS yang dapat meningkatkan keaktifan siswa adalah:1) pendahuluan: guru menyampaikan apersepsi, tujuan pembelajaran dan motivasi serta gambaran pembelajaran. 2) inti: guru menjelaskan sedikit materi, membagi kelompok (4 siswa) untuk berdiskusi, siswa membagi tugas untuk menjadi tuan rumah dan tamu selanjutnya melakukan diskusi kunjungan kemudian apabila telah selesai melaksanakan diskusi kunjungan, siswa kembali dan membahas hasil pekerjaan kelompok asal serta beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi. 3) penutup: guru bersama-sama siswa menyimpulkan pelajaran. Dari hasil observasi pada siklus I diperoleh rata-rata persentase keaktifan siswa mencapai 63,72% dengan persentase kegiatan visual sebesar 71,19%, kegiatan lisan 46,61%, kegiatan menulis 68,02%, kegiatan mendengarkan 63,18% dan kegiatan mental 69,58%. Pada siklus II mengalami peningkatan rata-rata persentase keaktifan siswa sebesar 15,16% menjadi 78,88% dengan persentase kegiatan visual sebesar 82,02%, kegiatan lisan 67,86%, kegiatan menulis 83,09%, kegiatan mendengarkan 80,24% dan kegiatan mental 81,19%. Sedangkan dari hasil tes pada siklus I, persentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 43,75% dan pada siklus II persentase ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 78,12%
PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS DISCOVERY LEARNING (PART OF INQUIRY SPECTRUM LEARNING-WENNING) PADA MATERI BIOTEKNOLOGI KELAS XII IPA DI SMA NEGERI 1 MAGELANG TAHUN AJARAN 2014/2015
Penelitian dan pengembangan modul dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik, kelayakan prototype dan keefektifan modul biologi berbasis Discovery Learning (part of Inquiry spectrum learning-Wenning) pada materi bioteknologi terhadap hasil belajar siswa kelas XII IPA di SMA Negeri 1 Magelang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (R&D) Borg dan Gall (1983) yang dimodifikasi. Model pengembangan modul mengadaptasi model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement dan Evaluate). Instrumen yang digunakan berupa: angket, observasi, penilaian diri sendiri, penilaian antar teman, dan tes. Uji lapangan operasional menggunakan Post-test only design Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan menggunakan uji Independent Sample T-test. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa; karakteristik modul hasil pengembangan adalah modul dilengkapi dengan basis model Discovery Learning, menekankan pada kerja sama kelompok dalam penemuan konsep bukan individu dan modul sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013; kelayakan modul biologi berbasis Discovery Learning diperoleh skor rata-rata 86.42 dengan berkategori “sangat baik”; dan modul biologi berbasis Discovery Learning efektif untuk memberdayakan hasil belajar dari aspek sosial, aspek keterampilan dan aspek pengetahuan. Simpulan dari penelitian ini adalah modul biologi hasil pengembangan memiliki karakteristik dilengkapi basis model Discovery Learning yang menekankan pada kerja sama kelompok layak digunakan dan dapat memberdayakan aspek sosial, aspek keterampilan dan aspek pengetahuan
PENGEMBANGAN MODUL KIMIA BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH PADA MATERI IKATAN KIMIA KELAS X SMA/MA SEMESTER 1
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) hasil pengembangan modul kimia berbasis scientific approach, 2) kelayakan modul kimia berbasis scientific approach berdasarkan validasi ahli, penilaian praktisi pembelajaran dan respon siswa, 3) efektivitas modul kimia berbasis scientific approach pada materi ikatan kimia untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian menggunakan prosedur Borg & Gall yang telah direduksi menjadi 9 tahapan, yakni: 1) tahap pendahuluan, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan rancangan awal produk, 4) tahap uji coba awal, 5) tahap revisi produk tahap uji coba awal, 6) tahap uji lapangan, 7) tahap revisi produk uji coba lapangan, 8) tahap uji operasional, 9) tahap revisi produk akhir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode angket, observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) hasil setiap tahapan pengembangan modul kimia berbasis scientific approach adalah modul kimia yang telah di validasi dan telah direvisi berdasarkan saran dari para ahli modul dan telah diuji cobakan kepada guru dan siswa sebagai pengguna di lapangan, (2) Kelayakan modul kimia berbasis scientific approach berdasarkan para ahli dan praktisi pembelajaran diperoleh nilai Aiken V ≥ 0,79 yang menunjukkan bahwa modul valid secara isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafisan dengan rata-rata hasil angket respon guru dan siswa terhadap kelayakan modul kimia pada uji coba diperoleh penilaian dengan kategori “Sangat Baik”. (3) Modul kimia berbasis scientific approach efektif meningkatkan prestasi belajar siswa dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik modul berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan KPS.Selain memiliki karakteristik seperti modul pada umumnya, modul siswa yang dikembangkan memiliki karakteristik yang berbeda dengan modul yang ada, modul ini bisa digunakan untuk pembelajaran kelompok yang dilengkapi dengan sintak- sintak inkuiri terbimbing.Modul guru dilengkapi dengan rubrik penilaian kognitif, psikomotor dan afektif yang disertai pedoman penskoran (2) mengetahui kelayakan modul berbasis inkuiri termbibing untuk meningkatkan KPS ,kelayakan modul siswa dan guru diukur dengan hasil validasi ahli materi, media, bahasa dan perangkat pembelajaran (3) mengetahui efektivitas modul berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan KPS. Efektivitas modul siswa dapat dilihat dari kenaikan nilai KPS setelah pembelajaran dengan mengguakan modul. Prosedur pengembangan yang dilakukan merujuk pada model pengembangan 4- D yang dikembangkan oleh Thiagarajan yang meliputi 4 tahap, yaitu defin, design, develop, dan dessiminate. Instrumen yang digunakan meliputi: lembar observasi, lembar penilaian, angket dan tes pilihan ganda. Analisis data yang digunakan selama penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, uji independen sample t-tes Hasil penelitian ini adalah (1) karakteristik modul berbasis inkuiri terbimbing ini adalah modul ini tidak hanya digunakan untuk pembelajaran mandiri tetapi dapat juga untuk pembelajaran kelompok, modul ini dapat melatihkan kemampuan KPS peserta didik. (2) berdasarkan hasil validasi ahli terhadap modul berbasis inkuiri terbimbing ini adalah sangat layak digunakan dalam pembelajaran biologi khususnya pada materi sistem pencernaan makanan. (3) kemampuan KPS siswa mengalami kenaikan sebelum dan sesudah pembelajaran dengan modul inkuiri terbimbing. Nilai rerata kemampuan KPS sebelum pembelajaran menggunakan modul sebesar 70,69 sedangkan nilai rerata kemampuan KPS sesudah pembelajaran dengan modul sebesar 84,66. Keterlasanaan sintak oleh guru terjadi peningkatan pada setiap pertemuan, pada pertemuan pertama dengan rerata 71,88, pertemuan kedua 75, dan pertemuan ke tiga 81,2
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS INKUIRI TERBIMBING DISERTAI INTERRELATIONSHIP DIAGRAM PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN UNTUK MEMBERDAYAKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KEMAMPUAN BERPIKIR INTERPRETASI SISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) karakteristik modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai interrelationship diagram (ID) pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan keterampilan proses sains (KPS) dan kemampuan berpikir interpretasi (KBI) siswa; 2) kelayakan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan KPS dan KBI siswa; 3) keefektivan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan KPS; dan 4) keefektivan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan KBI siswa. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R & D) mengacu pada model Borg &Gall yang telah dimodifikasi (Emzir, 2012) yaitu 10 tahap. Sampel pengembangan meliputi sampel uji coba lapangan awal sejumlah 4 validator, sampel uji coba lapangan utama sejumlah 10 siswa dan sampel uji coba lapangan operasional sejumlah 32 siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket, lembar observasi, wawancara, dan tes. Uji coba lapangan operasional menggunakan one group pretest-posttest design. Data KPS dan KBI dianalisis dengan uji Wilcoxon dan dihitung dengan gain ternormalisasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) karaktristik modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan KPS dan KI dengan sintaks: menyajikan pertanyaan atau masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, mengumpulkan dan menganalisis data dan membuat kesimpulan dengan mengidentifikasi hubungan sebab akibat melalui ID; 2) Kelayakan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan untuk memberdayakan KPS dan KBI siswa berdasarkan penilaian dari ahli, praktisi, dan respon siswa yang secara keseluruhan memberikan kategori sangat baik pada produk pengembangan dan layak digunakan di SMA Kota Madiun; 3) keefektivan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam memberdayakan KPS; dan 4) keefektivan modul pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing disertai ID pada materi Pencemaran Lingkungan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam memberdayakan KBI siswa
PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS INQUIRY LESSON PADA MATERI BIOTEKNOLOGI KELAS XII SMA NEGERI 1 MAGELANG
Penelitian dan pengembangan modul ini bertujuan untuk mengetahui: 1) karakteristik produk modul biologi berbasis inquiry lesson pada materi bioteknologi, 2) kelayakan prototipe modul biologi berbasis inquiry lesson pada materi bioteknologi, 3) keefektifan modul biologi berbasis inquiry lesson pada materi bioteknologi. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode Borg & Gall yang telah dimodifikasi menjadi sembilan tahapan: 1) tahap penelitian pendahuluan, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan rancangan awal produk, 4) tahap uji coba lapangan permulaan, 5) tahap revisi produk tahap pertama, 6) tahap uji lapangan terbatas, 7) tahap revisi produk tahap kedua, 8) tahap uji lapangan operasional, 9) tahap revisi produk akhir. Model pengembangan modul menggunakan desains ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluations). Instrumen yang digunakan meliputi: angket, observasi, wawancara dan tes. Analisis data yang digunakan selama penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, teknik persentase dan uji independen sample t test. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: 1) karakteristik modul berbasis inquiry lesson dikembangkan berdasarkan sintaks inquiry lesson, meliputi: observation, manipulation, generalitation,verifikation dan aplication, 2) kelayakan prototipe modul berbasis inquiry lesson menurut para ahli berkualifikasi “sangat baik”, praktisi pendidikan berkualifikasi “sangat baik” sedangkan menurut siswa berkualifikasi “baik”, 3) modul biologi berbasis inquiry lesson efektif meningkatkan hasil belajar aspek spritual dengan skor rata-rata sebesar 79,43, aspek sikap sosial dengan skor rata-rata sebesar 85,72, aspek keterampilan dengan skor rata-rata sebesar 82,32, aspek pengetahuan siswa dengan skor rata-rata sebesar 85,00, berdasarkan hasil uji independent sample t test menunjukkan adanya perbedaan postest hasil belajar aspek pengetahuan antara kelas modul dengan existing class pada materi biotenologi dengan signifikan T Hitung 0,013 < T Tabel (0.05)
Eksplorasi Nilai Falsafah Hidup Orang Banjar pada Pembelajaran Sejarah sebagai Landasan Moral dan Karakter Siswa di Kalimantan Selatan
AbstrakOrang Banjar dikenal memiliki falsafah hidup kuat yang kemudian menjadi pembentuk karakternya, hal ini kemudian dapat ditemukan dari kebiasaan, adat-istiadat, semboyan, serta petuah yang selalu diajarkan para tetua pada anaknya. Falsafah hidup orang Banjar jika dieksplorasi lebih dalam menyajikan nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan teladan dan prinsip hidup bagi generasi muda. Jika diamati lebih dalam maka secara tersirat falsafah hidup orang banjar menempatkan suatu tata nilai moral yang sangat tinggi dan tak lepas dari ajaran Islam sebagai landasannya. Akan tetapi realitanya adalah bahwa ditengah derasnya gempuran globalisasi yang membawa kehedonisan dan kepraktisan keluhuran nilai yang terkandung dalam falsafah hidup orang banjar sudah mengalami suatu degradasi yang cukup mengkhawatirkan, hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai luhur pembentuk moral dan karakter sudah mulai ditinggalkan terutama oleh generasi muda yang idealnya sebagai agen pelestari budaya Banjar. Kemerosotan moral yang terjadi khususnya di Kalimantan Selatan dapat dilihat dari meningkatnya kasus kriminalitas dan kekerasan yang melibatkan remaja usia sekolah. Pendidikan sejarah berperan sangat penting sesuai khithahnya sebagai pendidikan berbasiskan pada penananaman nilai yang bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik. Oleh sebab itu maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengungkapkan suatu rancangan strategi penanaman nilai falsafah hidup Orang Banjar dalam pembelajaran sejarah guna meningkatkan kesadaran moral peserta didik. Adapun metode kualitatif melalui studi pustaka dengan cara mengumpulkan dokumen atau literature terkait dengan judul penulisan.Kata kunci: Falsafah hidup; Karakter; Moral; Orang Banja
Pengembangan Multimedia Berbasis Game Based Learning pada Pokok Bahasan Materi Grammar Bahasa Inggris dalam Kurikulum 2013 Kelas X SMA Negeri 3 Sragen
AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan guru dan siswa tentang multimedia pembelajaran pokok bahasan materi grammar bahasa inggris. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 3 Sragen dengan subyek siswa kelas X jurusan IPS sejumlah 32 siswa. Penelitian ini menggunakan Desain Penelitian Research and Development yang terdiri dari 10 tahap yang telah dimodifikasi dengan menggunakan ADDIE sebagai model pembelajarannya untuk mengukur kemampuan siswa terhadap penguasaan materi grammar. Terdapat 4 kelas berbeda yang dipakai dalam penelitian yang diantaranya; kelas X IPS 1 sebagai kelas control, kelas X IPS 2 sebagai kelas ekperimen, kelas X IPS 3 sebagai kelas uji validitas soal dan kelas X IPS 4 sebagai kelas uji coba produk. Perubahan kurikulum dari KTSP menjadi K-13 memberikan dampak yang tidak sedikit baik dari segi materi ajar, pendekatan pembelajaran maupun system evaluasinya.Kebanyakan dari peserta didik tidak terbiasa dan memiliki kemampuan untuk belajar mandiri sesuai yang diamanatkan dalam kurikulum baru tersebut. Kegiatan belajar mengajar yang ditampilkan oleh guru masih cenderung bersifat ceramah dan tekstual yang tak jarang pula membebaskan siswa untuk menggali informasi dari dunia maya dengan peran serta guru sebagai fasilitator dan filter informasi yang masih minim didalamnya. Berdasarkan hasil tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan multimedia sebagai media yang mampu mengomptimalkan keterampilan penguasaan grammar bahasa inggris oleh siswa secara mandiri. Kata kunci: multimedia pembelajaran; model pembelajaran; grammar; research and developmen