Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kadar Gula Darah Pada Lansia
Kecemasan adalah perasaan ketakutan, itu adalah tanggapan terhadap rangsangan eksternal
atau internal yang dapat memiliki gejala perilaku, fisik, emosional dan kognitif. Meningkatnya
pelepasan hormone kortisol dan epinefrin pada seseorang yang mengalami cemas dapat
mempengaruhi peningkatan glukoneogenesis dan glikogenolisis yang mengakibatkan peningkatan
kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan
kadar gula darah pada lansia. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dan
menggunakan uji statistik pearson correlations. Teknik sampling menggunakan purposive
sampling, populasi penelitian ini sejumlah 111 responden. Sampel yang digunakan sebanyak 87
responden. Hasil uji pearson correlations menu darah pada lansia dengan nilai p value = 0,000
(<0,05). Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan kadar gula
darah pada lansia
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TINGKAT STRESS PADA REMAJA
Perubahan yang terjadi pada remaja dapat mengakibatkan suatu tekanan tersendiri. Perubahan yang terjadi pada masa ini dapat menjadi sebuah stresor yang menyebabkan remaja menjadi rawan terhadap stres. Remaja seiring dengan berbagai kebebasan dan pilihan yang dimiliki, mereka memiliki sebuah tanggung jawab, kewajiban dan tuntutan yang harus dipenuhi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat stress remaja. Jenis yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif. Dengan metode cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan terlihat bahwa pola asuh orang tua otoriter sebanyak 117 responden (54,9 %), pola asuh demokratis sebanyak 75 responden (35,2%), sedangkan pola asuh orang tua permisif sebanyak 21 responden (9,9 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat tress berat sebanyak 101 responden (74,6%) sedangkan tingkat stress ringan sebanyak 26 responden (12,2%). Hasil analisis hubungan pola asuh orang tua terhadap tingkat stress remaja menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (berarti) antara variabel pola asuh orang tua terhadap tingkat stress remaja dengan nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05
HUBUNGAN LAMA HOSPITALISASI ANAK DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU DI RUMAH SAKIT ISLAM AMINAH BLITAR
Lama hari rawat menjadi kecemasan terbesar bagi orangtua karena berhubungan dengan pengobatan, keadaan di rumah, dan pembiayaan rumah sakit selama masa perawatan. Hal ini akan nampak saat orangtua melakukan perannya dalam mendampingi anak menjalani hospitalisasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan lama hospitalisasi anak dengan tingkat kecemasan Ibu di Rumah Sakit Islam Aminah Blitar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yaitu menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu anak yang menjalani perawatan di ruang Asy-Syfa sebanyak 210 orang, tehnik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dan ditemukan sampel sebanyak 130 responden. Uji statistik yang digunaka adalah Spearman Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 91 anak responden (65,9%) memiliki lama hospitalisasi yang tergolong lama (> 3 hari), dan sebanyak 47 anak responden (34,1%) memiliki lama hospitalisasi yang tergolong singkat (≤ 3 hari). Sebanyak 102 responden (73,9%) memiliki kecemasan berat, dan sebanyak 36 responden (26,1%) memiliki kecemasan sedang. Didapatkan nilai signifikansi (ρ) sebesar 0,000 yaitu < 0,05. Maka hasil menunjukkan bahwa ada hubungan yang signfikan (berarti) antara variabel lama hospitalisasi dengan tingkat kecemasan.. Rumah sakit harus memperhatikan status kesehatan anak, bukan saja masalah fisik namun adaptasi psikologisnya dalam menjalani hospitalisasi di rumah sakit
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI BALITA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WONODADI BLITAR
Permasalahan gizi pada balita saat ini yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih, gizi kurang
disebabkan oleh kemisikinan, ketersedian pangan dan pengetahuan, sedangkan gizi lebih di
sebabkan oleh kemajuan disertai kurangnya pengetahuan tentang gizi,menu seimbang dan
kesehatan,status gizi kurang menyebabkan menurunya kecerdasan akademik,berat badan
kurang,daya tahan tubuh lemah sehingga meningkatkan resiko stunting dan penyakit lainnya. Salah
satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita yaitu pengetahuan ibu yang mempengaruhi
perilaku pola asuh dalam pemberian makanan dan status gizi balita. Tujuan penelitian untuk
mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang gizi balita dengan status gizi balita di posyandu
Desa Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, dengan jumlah populasi 44 ibu yang
mempunyai balita di desa kunir dan sample responden 39 ibu balita, diambil secara purposive
Sampling, instrumen mengukur pengetahuan ibu tentang status gizi adalah kuesioner. Desain
penelitian analitik korelasional dengan pendekatan Cross Sectional. Analisa data dengan Uji
Spearman Rank ɑ 0,05. Hasil penelitian diketahui pengetahuan baik 14 responden 36 % dengan
status gizi baik, pengetahuan cukup 9 responden 23 % dengan status gizi baik, pengetahuan kurang
15 reponden 38 % dengan status gizi balita kurang, pengetahuan cukup 1 responden 3% dengan
status gizi kurang. Penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu
tentang gizi balita dengan status gizi balita di posyandu Desa Kunir Kecamatan Wonodadi
Kabupaten Blitar, dimana nilai p value < 0,05 dengan nilai r =0,886 artinya kekuatan hubungan
sangat kuat. Dengan demikian diharapkan petugas kesehatan dan kader posyandu diharapkan rutin
memberikan edukasi gizi balita di masyarakat dan menganjurkan para ibu memantau status gizi
balita berkala di pelayanan kesehatan
PENGARUH EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN SKIZOFRENIA TERHADAP KEPATUHAN KONTROL BEROBAT
Kepatuhan kontrol berobat dapat diberikan kepada keluarga pasien skizofrenia dengan cara edukasi tentang kepatuhan kontrol berobat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Edukasi Kepada Keluarga Pasien Skizofrenia Terhadap Kepatuhan Kontrol Berobat. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design, dengan rancangan one-group pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah 83 keluarga pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Udanawu Kabupaten Blitar. Dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 68 keluarga pasien skizofrenia. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi untuk mengetahui kepatuhan kontrol berobat sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Hasil Pre-Edukasi 61,8% mempunyai kepatuhan kontrol berobat dalam kategori tidak patuh. Hasil Post-Edukasi, 88,2% mempunyai kepatuhan kontrol berobat dalam kategori patuh. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian edukasi kepada keluarga pasien skizofrenia terhadap kepatuhan kontrol berobat yang ditunjukkan dengan nilai P Value = 0,000 lebih kecil dari nilai = 0,05 (0,002 < 0,05)
PERSEPSI PENDERITA HIV/AIDS DENGAN TB PARU TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA DALAM MINUM OBAT ARV OAT
Dukungan keluarga dalam mengingatkan minum obat arv oat pada penderita
dapat mempengaruhi kepatuhan minum obatnya. Penderita bisa putus asa bila
tidak ada dukungan keluarga dan dapat berakibat buruk. Tujuan penelitian untuk
mengeksplorasi persepsi penderita hiv/aids dengan tb paru terhadap dukungan
keluarga dalam minum obat arv oat. Desain penelitian adalah kualitatif
menggunakan studi fenomenologi. Sampel berdasarkan kriteria dalam pengobatan,
tinggal bersama keluarga dan bersedia dijadikan responden. Sampel penelitian
menggunakan total populasi sebanyak 3 responden. Hasil wawancara
menunjukkan dukungan penilaian, semua responden merasa dirinya diterima
keluarga dengan baik dan keluarga mempunyai peran penting untuk sembuh
sehingga memotivasi dalam keteraturan berobat. Dukungan instrumental semua
responden mengatakan jika kebutuhan biaya pengobatan dipenuhi keluarga dan
juga tidak jarang penderita diajak untuk rekreasi. Dukungan informasional,
beberapa keluarga kurang mengetahui dalam memberikan informasi kesehatan
dan keluarga sudah menjelaskan pentingnya minum obat. Dukungan emosional,
responden mengatakan merasa kecewa dan menjadi beban ketika keluarga
mengerti tentang sakit yang bisa menular. Dukungan keluarga dalam penilaian,
instrumental, informasional, dan emosional secara keseluruhan sudah baik tetapi
dapat ditingkatkan tentang memberikan informasi kesehatan dan tetap memotivasi
minum obat
THE RELATIONSHIP BETWEEN SMARTPHONE USE AND SLEEP QUALITY IN ADOLESCENTS IN TAMAN KARTINI KESAMBEN DORMARY
Smartphone usage can have a negative impact on the quality of sleep of adolescents which can lead to reduced sleep time and quality, this study aims to determine the relationship between smartphone usage and sleep quality of adolescents at the Taman Kartini Kesamben Dormitory. The population in this study were adolescents at the Taman Kartini Kesamben Dormitory totaling 25 adolescents. This study uses a correlational method with a cross-sectional design, with a chi-square statistical test, the data collection technique in this study used a total sampling technique with 25 respondents. The instruments used in this study were a smartphone usage questionnaire sheet and a pittsburg sleep quality index (PSQI) questionnaire sheet. The results of this study found that 17 respondents experienced sleep quality disorders, 10 of the 17 respondents who experienced sleep disorders used smartphones poorly. The results of the chi-square statistical test obtained p calue = 0.031, indicating that h0 and h1 were accepted so that there was a relationship between smartphone usage and sleep quality. The use of smartphones among teenagers at the Taman Kartini Kesamben Dormitory is mostly high, 60% of respondents have poor smartphone use. The majority of teenagers at the Taman Kartini Kesamben Dormitory have sleep quality disorders of 68%. Researchers hope that respondents can use smartphones wisely in their daily lives in order to improve the quality of respondents' sleep. It is hoped that further researchers will add other factors that can affect the quality of adolescent sleep. Researchers hope that the results of this study can be used as a basis for improving the health of adolescent sleep qualit
GAMBARAN PERAN DAN TUGAS PERAWAT DALAM TAHAPAN PENETAPAN LEVEL TRIAGE DI ISTANSI GAWAT DARAURAT (IGD ) RDUD NGUDI WALUYO WLINGI BLITAR
Triase adalah proses pengumpulan informasi dari pasien, mengkategorikan dan memprioritaskan kondisi pasien dan merupakan bagian dari upaya manajemen keselamatan pasien di rumah sakit khususnya di Instalasi gawat darurat. Model triase yang banyak di gunakan di Dunia termasuk di Indonesia adalah triase lima level yang menempatkan pasien pada lima prioritas yaitu Resucitation, Emergent, Urgent, Nonurgent, Referred. Triase secara otonomi dilakukan oleh perawat yang teregistrasi dan telah mengikuti pelatihan khusus triase. di Indonesia, triase lima level telah digunakan di Rumah sakit umum dan evaluasi terkait pelaksanaannya masih belum banyak terpublikasi, terutama peran perawat dalam proses triase. Tujuan dari penlitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman perawat dalam penetapan keputusan triase. Penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif dengan tehnik wawancara mendalam pada enam perawat instalasi gawat darurat yang bekerja di ruang Triase. Hasil penelitian dianalisis menggunakan metode Miles and Huberman, didapatkan tiga tema besar yaitu level triase berdasarkan pengkajian primer, perawat belum mandiri, kolaborasi dokter dan perawat. Pelaksanaan triase belum menjadi tindakan mandiri perawat dan bagian dari tim triase dimana keputusan triase masih bergantung pada dokter Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait efisiensi dan efektifitas pelaksanaan triase oleh perawat di intalasi gawat darurat
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PADA PASIEN ODGJ (SKIZOFRENIA) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WONODADI KABUPATEN BLITAR
Seseorang yang terdiagnosis skizofrenia biasanya mengalami kesulitan untuk pulih. Jika ingin pulih, dibutuhkan waktu yang sangat lama (bertahun-tahun) dan tidak bisa kembali seperti semula. Bila tidak berhati-hati dan mengalami stress yang berlebihan kemungkinan kambuh menjadi lebih berat. Sekitar 25% pasien skizofrenia tidak pernah pulih dan perjalanan penyakit cenderung memburuk. Sekitar 50% diantaranya mengalami kekambuhan berkala dan tidak dapat berfungsi secara efektif kecuali dalam jangka waktu yang singkat. 50 – 80% pasien skizofrenia yang pernah di rawat di Rumah sakit kambuh kembali (Prsityantama & Ranimpi, 2018). Kekambuhan pasien skizofrenia dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain karakteristik pasien skizofrenia, kepatuhan minum obat, dukungan social dan dukungan keluarga (Bratha et al., 2020)
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KECEMASAN ORANG TUA TERHADAP PROSES PEMERIKSAAN SWAB ANTIGEN COVID-19 PADA ANAK
Pemerintah menetapkan Swab Antigen Covid -19 sebagai salah satu metode dalam
pemeriksaan Covid-19 untuk pelacakan kontak, penegakan diagnosis, dan skrining Covid-19
dalam kondisi tertentu. Dengan adanya pemeriksan swab Antigen untuk skrining Awal
beberapa orang tua merasa cemas. Yang dimana kecemasan orang tua ini disebabkan oleh
sikap maupun tingkat pengetahuan orang tua terhadap proses pengambilan sample swab
antigen covid-19 . maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap dengan kecemasan orang tua terhadap pemeriksaan swab antigen
Covid-19 pada anak.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan
pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 98 orang tua dari pasien anak
yang datang ke UGD RSU Aminah Blitar yang akan Rawat Inap dengan teknik sampling
accidental sampling diambil 46 responden. Tingkat pengetahuan dan sikap diukur
menggunakan kuisioner yang telah dibuat oleh peneliti tingkat kecemasan diukur
menggunakan kuesioner STAI. Hasil dari pengetahuan yang baik berjumlah 45,7% dan sikap
untuk baik sebesar 50% maupun kecemasan yang baik sebanyak 56,5% dan Dari hasil analisis
statistik menggunakan uji spearman rank menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara variabel tingkat pengetahuan, sikap (ρ =0,000) dengan kecemasan (ρ =0,000) dengan
nilai koefisien korelasinya masing-masing r = 0,537 dan r = -0,789.Pengetahuan memegang
peranan penting dalam penentuan perilaku yang utuh karena pengetahuan akan membentuk
kepercayaan yang selanjutnya dalam mempersepsikan kenyataan, memberikan dasar bagi
pengambilan keputusan dan menentukan perilaku terhadap objek tertentu. Masyarakat yang
memiliki pengetahuan kurang terkait covid-19 akan menyebabkan kecemasan pada
masyarakat itu sendiri. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk melakukan tugas
perawat sebagai pendidik dengan memberikan penyuluhan terkait swab antigen untuk
meningkatkan tingkat pengetahuan pasien maupun keluarga yang bertujuan untuk mengurangi
tingkat kecemasan pasien dan keluarga dan memperbaiki sikap pasien dan keluarga