Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PERUBAHAN FISIK DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA WANITA PREMENOPOUSE DI DUSUN SUMBERAGUNG DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN REJOTANGAN KABUPATEN TULUNGAGUNG
Fase premenopouse merupakan fase terjadinya perubahan kondisi fisiologis
dan psikologis pada ibu saat memasuki proses menua. Perubahan kondisi psikologis
yang sering dialami ibu pada fase premenopouse yaitu rasa cemas yang disebabkan
oleh penurunan hormon esterogen. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui
hubungan perubahan fisik dengan tingkat kecemasan pada wanita Premenopouse
khusunya di Dusun Sumberagung Desa Sumberagung Kecamatan Rejotangan
Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yaitu
penelitian dengan mempelajari objek dalam kurun waktu tertentu. Populasi dalam
penelitian ini yaitu wanita Premenopouse dengan umur 40-45 tahun di Dusun
Sumberagung Desa Sumberagung Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung
sebanyak 82 orang menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa wanita premenopouse mengalami perubahan fisik ringan
sebesar 20 responden (24,4%), perubahan fisik sedang sebesar 40 responden
(48,8%)perubahan fisik berat sebesar 22 responden (26,8%), dan 4 responden (4,
9%) mengalami kecemasan ringan, 13 responden (15, 9%),11 responden (13,4)
mengalami kecemasan berat dan 54 responden (65,5%) megalami kecemasan
sangat berat. Hasil uji Sperman rank didapatkan pvalue 0,03 yang berarti ada
hubungan yang signifikan antara perubahan fisik dengan kcemasan premenopouse
dengan kekuatan korelasi 0,85 adalah sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi perubahan fisik yang terjadi maka semakin tinggi pula tingkat
kecemasan yang dialami. Ibu premenopouse diharapkan dapat mengikuti
penyuluhan dan memanfaatkan informasi dengan baik dan bagi petugas dapat
memberikan edukasi kepada wanita premenopause tentang pentingnya perubahan
fisik yang tejadi dan dapat memberikan kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan
tingkat kecemasan bagi wanita premenopouse
HUBUNGAN ANTARA HIPERTENSI DAN KADAR PROFIL LIPID DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PADA PASIEN STROKE
Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang cukup tinggi
prevalensinya sehingga menjadi masalah dunia. Beberapa faktor pemberat kondisi
pasien stroke adalah hipertensi dan kadar profil lipid seperti kolestrol total, HDL,
LDL, trigliserida. Hipertensi dan kadar profil lipid dapat menyebabkan kerusakan
pada pembuluh darah dan menyebabkan aliran darah tidak stabil yang
mengakibatkan terjadinya aterosklerosis sehingga memudahkan terjadinya stroke.
Stroke mengakibatkan kecatatan namun tergantung pada jenis dan tingkat
keparahan dan bagian otak yang terkena. Derajat keparahan stroke menjadi
prediktor tingkat kondisi pasien stroke dalam menentukan tindakan dalam
pengobatan yang akan diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara hipertensi dan kadar profil lipid dengan derajat keparahan pada
pasien stroke. Desain penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien stroke
dengan jumlah 22 responden, dan sampel menggunakan Teknik accidental
sampling sebanyak 22 responden. Penelitian dilakukan pada 28 November - 28
Desember 2024. NHSS instrument untuk mengukur derajat keparahan stroke.
Tekanan darah, dan kadar profil lipid diperoleh dari lembar observasi. Analisis
menggunakan uji Spearman Rank (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan
adanya hubungan antara hipertensi dengan derajat keparahan stroke dengan nilai
p=0,03 dan terdapat hubungan antara kadar profil lipid (kolestrol total p 0.01,
LDL p 0.04, HDL p 0.01, trigliserida p 0.003) terdapat hubungan dengan derajat
keparahan stroke. Temuan ini mengindikasikan bahwa hipertensi dan kadar profil
lipid mempengaruhi derajat keparahan pada pasien stroke
HUBUNGAN DURASI DAN FREKUENSI PENGGUNAAN GADGET TERHADAP KESEHATAN MENTAL EMOSIONAL ANAK USIA (11-12 TAHUN)
Kesehatan mental emosional pada anak sekolah dasar menjadi isu yang semakin
mendapat perhatian. Gejala gangguan kesehatan mental emosional seperti kecemasan,
depresi, dan gangguan perilaku namun gangguan tersebut dapat mengganggu proses
pendidikan, interaksi sosial, dan kemampuan anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan durasi dan frekuensi penggunaan gadget terhadap kesehatan
mental emosional anak usia (11-12 Tahun) di SDN 1 Sukorejo. Desain penelitian
menggunakan Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah anak usia 11-12 tahun yang
bersekolah di SDN 1 Sukorejo Blitar sebanyak 27 sampel. Pengambilan sampel
menggunakan teknik probability sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner
durasi dan frekuensi penggunaan gadget serta kuesioner kesehatan mental emosional
anak. Hasil penelitian menunjukkan durasi penggunaan gadget berlebih sebanyak 18
responden (66.7%), singkat sebanyak 5 responden (18.5%), dan sedang sebanyak 4
responden (14.8%).Frekuensi penggunaan gadget normal 5 responden (18.5%), lama 22
responden (81.5%).Kesehatan mental emosional anak Hasil analisis stastistik
menggunakan uji Spearman Rank Test didapatkan nilai p = 0,018 < α=0,05 yang berarti
ada hubungan durasi terhadap kesehatan mental emosional dengan nilai korelasi 0,223
kekuatan rendah dan nilai p = 0,010 < α=0,05 frekuensi penggunaan gadget terhadap
kesehatan mental emosional anak usia (11-12 Tahun) dengan nilai koefisien korelasi
sebesar 0,323 yang berarti mempunyai kekuatan rendah antara dua variabel. Penelitian ini
diharapkan menjadi masukkan para orang tua dan guru pendidik untuk memberi
ketegasan anak dalam penggunaan gadget, serta melibatkan anak dalam kegiatan positif
PENGARUH TERAPI MUSIK POP INSTRUMENTAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI
Pembedahan atau tindakan operatif, baik elektif secara terencana maupun
kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan bagi pasien pre
operasi. Tindakan operasi dapat menimbulkan respon fisiologi dan psikologi pada
pasien. Respon paling umum pada pasien pre operasi adalah respon psikologi
(kecemasan). Salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan
terapi musik pop instrumental. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh
terapi musik pop instrumental terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pre
operasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy experiment dengan
rancangan non equivalent group. Populasi pada penelitian ini seluruh pasien pre
operasi elektif dengan umur 18 – 50 di ruang RSUD MardiWaluyo Blitar
berjumlah 34. Sampel sebanyak 32 responden dengan teknik accidental sampling
yang terbagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Instrument pengukuran
kecemasan menggunakan Hamilton Anxiety (HARS). Penelitian ini dilakukan 01 -
15 Desember 2024. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecemasan pasien
kelompok intervensi sebelum diberikan terapi musik didapatkan cemas ringan
sebanyak 56.3%, dan cemas sedang 43.8%. Setelah diberikan intervensi terapi
menjadi tidak cemas sebanyak 50%, cemas ringan 43.8%, cemas sedang 6.3%. Uji
Wilcoxon Signed rank test dengan p-value 0.000, menunjukkan terdapat pengaruh
pemberian terapi musik pop instrumental terhadap tingkat kecemasan pasien pre
operasi. Diharapkan perawat dapat menerapkan terapi pemberian musik pop
instrumental pada pasien dalam menjalani kecemasan pre operasi
HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA DEWASA
Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru disadari bila
telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung atau stroke.
Umumnya, kejadian hipertensi terjadi pada kelompok lanjut usia namun pada
kelompok usia dewasa (26-45 tahun) tidak menutup kemungkinan juga berisiko
mengalami hipertensi salah satunya diakibatkan oleh gaya hidup yang kurang
baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup
dengan kejadian hipertensi pada usia dewasa. Desain penelitian menggunakan
Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah masyarakat RT 01 RW 03 Dusun
Cemandi Desa Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar yang berusia 26-45
tahun sebanyak 45 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner gaya hidup dan
tensimeter. Hasil penelitian menunjukkan gaya hidup baik sebanyak (42,2%),
cukup sebanyak (44,4%), kurang sebanyak (13,3%). Kejadian hipertensi normal
sebanyak (33,3%), prehipertensi sebanyak (42,2%), hipertensi tingkat 1 sebanyak
(13,3%), dan hipertensi tingkat 2 sebanyak (11,1%). Hasil analisis statistik
menggunakan uji Spearman Rank Test didapatkan nilai p value= 0,000 (α ≤ 0,05)
yang berarti ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi pada usia
dewasa. Diharapkan masyarakat dapat mengubah gaya hidup dengan melakukan
olahraga teratur, menghindari makanan asin dan berlemak yang berlebihan, tidak
merokok, dan mengelola stress dengan baik untuk mencegah hipertensi di usia
dewasa
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN GANGGUAN MENTAL EMOSIONAL PADA REMAJA KELAS VII
Gangguan mental emosional pada remaja mendapat perhatian karena
dampaknya mengakibatkan kecemasan, menurunnya kemampuan berpikir,
sulit fokus, sulit bersosialisasi, depresi hingga kasus terburuknya yaitu bunuh
diri. Salah satu faktor penting dalam membentuk mental emosional remaja
adalah pola asuh orang tua. Interaksi yang tidak sehat, seperti pada pola asuh
otoriter dan permisif dapat beresiko pada mental emosionalnya. Pola asuh
demokratis yang responsif dan suportif dapat meminimalisir gangguan
mental emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola
asuh orang tua dengan gangguan mental emosional remaja. Penelitian ini
menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan crosssectional. Populasi penelitian adalah 66 siswa/i kelas VII MTs Miftahul Ulum
Sutojayan, dengan sampel 60 orang yang dipilih melalui purposive sampling
berdasarkan kriteria inklusi tinggal serumah dengan orang tua kandung. Alat
ukur yang digunakan adalah kuesioner Pola Asuh Orang Tua dan Strength
and Difficulties Questionnaire (SDQ), serta analisis menggunakan uji
Spearman-Rank (α≤ 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan pola asuh orang
tua dengan kategori otoriter sebanyak (46,7%) demokratis sebanyak (28,3%)
dan permisif sebanyak (25,0%). Gangguan Mental Emosional dengan
kategori borderline sebanyak (43,4%) normal sebanyak (40,0%) dan
abnormal sebanyak (16,7%). Hasil analisis didapatkan nilai p=0,021 yang
berarti ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan gangguan mental
emosional pada remaja kelas VII. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
referensi bagi orang tua untuk dapat mengetahui bahwa apa yang dilakukan
dari pola asuh mereka dapat berpengaruh terhadap mental emosional remaja
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RAWAT INAP RS WAVA HUSADA KESAMBEN
Kepuasan pasien merupakan tingkat perasaan pasien setelah menerima pelayanan
keperawatan. Kepuasan pasien muncul setelah pasien membandingkan pelayanan
keperawatan yang didapatkan sesuai dengan harapannya. Kepuasan pasien ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya komunikasi terapeutik perawat.
Komunikasi terapeutik merupakan faktor penting dalam melakukan asuhan
keperawatan. Komunikasi antara perawat dan pasien yang tidak terapeutik
berdampak pada kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan dan menimbulkan
ketidakpuasan pada pasien. Hal ini berkaitan dengan keramahan perawat dalam
berkomunikasi kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien di rawat inap RS Wava
Husada Kesamben. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
korelatif. Sampel penelitian sejumlah 70 orang dengan teknik sampling accidental
sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian
menunjukkan komunikasi terapeutik perawat sebesar 95,7% berada pada kategori
sangat baik dan kepuasan pasien sebesar 95,7% berada pada kategori sangat puas.
Hasil analisis menggunakan spearman rho diperoleh nilai p-value= 0,011 (p-value
< 0,05), yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik
perawat dengan kepuasan pasien di rawat inap. Arah korelasi kedua variabel
tersebut positif yang artinya semakin baik komunikasi terapeutik yang dilakukan,
maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Diharapkan perawat di RS Wava
Husada Kesamben dapat mempertahankan kualitas pelayanan terutama sikap dan
ketrampilan perawat dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien
HUBUNGAN POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK USIA DI BAWAH 5 TAHUN DI DESA NGARINGAN WILAYAH GANDUSARI
Status gizi anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan indicator penting Kesehatan
dan pertumbuhan anak. Kondisi gizi, baik yang termasuk dalam malnutrisi masih menjadi
masalah serius diindonesia, dengan prevalensi yang signifikan di berbagai daerah. Salah
satu factor yang sangat mempengaruhi status gizi anak adalah pola asuh orang tua, yang
mencakup asupan nutrisi, kasih sayang, perhatian, dan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dengan status gizi pada
anak usia dibawah lima tahun di Desa Ngaringan, Wilayah Gandusari. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional, jumlah
responden dalam penelitian ini adalah 37 ibu yang memiliki anak usia dibawah lima tahun.
Variabel independent adalah pola asuh demokratis orang tua, sedangkan variable dependen
adalah status gizi anak, populasi penelitian adalah ibu yang aktif membawa anak ke
posyandu dan memiliki KMS. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh demokratis orang tua berada
dalam kategori cukup (40,5%), diikuti oleh kategori kurang (35,1%), dan baik (24,3%),
untuk sttaus gizi anak, Sebagian besar berada dalam kategori gizi kurang (45,9%), diikuti
gizi buruk (29,7%), gizi lebih (13,5%), dan gizi normal (10,8%). Hasil analisa penelitian ini
menggunakan uji statistic Spearman Rank hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p =
0,000dan koefisien korelasi (Rs) = 0,658.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara
pola asuh demokratis orang tua dengan status gizi anak usia di bawah 5 tahun di Desa
Ngaringan, Gandusari Kabupaten Blitar, factor seperti kepribadian orang tua, keyakinan,
pola asuh yang diterima orang tua, Tingkat Pendidikan, lingkungan dan ekonomi juga
mempengaruhi pola asuh yang diterapkan. Oleh karena itu peningkatan pemahaman dan
penerapan pola asuh yang tepat sangat penting untuk memperbaiki status gizi balita dan
diharapkan orang tua lebih memperhatikan kebutuhan nutrisi anak
HUBUNGAN LAMA MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN FUNGSI KOGNITIF PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK (PGK) YANG MENJALANI HEMODIALISIS
Permasalahan psikologis yang dialami pasiem PGK (Penyakit Ginjal Kronik) saat
menjalani hemodialisis adalah perubahan fungsi kognitif. Mekanisme terjadinya
perubahan fungsi kognitif disebabkan oleh penurunan perfusi serebral dan
penurunan kecepatan aliran darah sehingga terjadi penurunan metabolisme oksigen
ke otak dan penurunan tekanan darah intraserebral. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan lama hemodialisis dengan fungsi kognitif pasien PGK
yang menjalani hemodialsis ≤ 60 tahun di Instalasi Hemodialisis RSUD Mardi
Waluyo Kota Blitar. Desain penelitian ini yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu pasien PGK yang menjalani
hemodialisis di Instalasi Hemodialisis RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Sampel
berjumlah 30 responden menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang
digunakan yaitu MMSE (Mini Mental State Examination) untuk mengukur fungsi
kognitif. Instrumen untuk mengukur lama hemodialisis menggunakan data rekam
medis pasien. Analisis statistik yang digunakan adalah Spearman Rank Test p <
0,05. Hasil penelitian menunjukkan pasien PGK yang lama menjalani hemodialisis
>24 bulan sebanyak 63,3%, 12-24 bulan sebanyak 23,3%, dan < 12 bulan sebanyak
13,3%. Fungsi kognitif yang tidak mengalami gangguan 50%, 46,7% gangguan
fungsi kognitif ringan dan 3,3% gangguan fungsi kognitif sedang. Hasil uji analisis
menunjukkan p = 0,03, terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis
dengan fungsi pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Pasien PGK yang
menjalani hemodialisis dengan rentan waktu yang lama akan mengalami penurunan
fungsi kognitif. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk meneliti lebih lanjut
terkait dengan faktor yang mempengaruhi gangguan kognitif pada pasien
hemodialisis dan diharapkan kepada perawat meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan pada pasien hemodialisis yang beresiko gangguan kognitif