University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
8735 research outputs found
Sort by
Pengaruh variasi posisi sudut mata pisau terhadap kapasitas produksi pada mesin perajang singkong untuk keripik
Singkong merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia, dengan berbagai produk olahan seperti getuk, keripik, singkong goreng, dan tepung singkong. Salah satu produk yang populer adalah keripik singkong, yang memiliki potensi besar sebagai peluang usaha. Untuk mempermudah para pengusaha dalam lingkup rumah tangga, maka dibuatkan mesin perajang singkong. Proses pembuatan keripik singkong umumnya melalui beberapa tahap, yaitu pengupasan, pemotongan, perendaman, penggorengan, dan penambahan bumbu. Faktor seperti ketebalan irisan sangat mempengaruhi kualitas akhir dari keripik, baik dalam hal tekstur maupun cita rasa. Untuk mendapatkan irisan yang seragam yaitu 1-3 mm, mesin perajang singkong dikembangkan dengan desain khusus. Mesin perajang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kecepatan pisau perajang, kualitas singkong, jumlah mata pisau, jenis mata pisau, sudut dari mata pisau dan posisi sudut mata pisau. Penelitian ini mengkaji peletakkan mata pisau terhadap piringan mata pisau pada mesin perajang singkong, dengan menggunakan bantalan agar terbentuk variasi posisi sudut mata pisau terhadap piringan mata pisau perajang yaitu 20°, 30°, dan 40°, dengan sudut potong mata pisau 14° dengan jumlah 4 mata pisau.Pengujian ini menggunakan metode eksperimen, untuk melihat perbandingan data-data pada setiap posisi sudut mata pisau untuk memperoleh keripik singkong yang berkualitas. Kapasitas produksi yang dihasilkan pada sudut 20°, 30°, dan 40° berturut-turut adalah 206 kg/jam, 252 kg/jam, dan 342 kg/jam. Sedangkan persentase keberhasilan yang didapat dari sudut 20°, 30°, dan 40° berturut-turut adalah 85,5%; 77,5% dan 71,62 %
Analisis Daya Dukung Subgrade Jalan Akibat Penambahan Abu Sekam Padi dan Serbuk Cangkang Darah
Kualitas tanah dasar (subgrade) sangat berpengaruh terhadap kekuatan dan ketahanan konstruksi jalan. Salah satu permasalahan umum pada pembangunan infrastruktur adalah rendahnya daya dukung tanah lempung yang bersifat plastis
dan memiliki perubahan volume tinggi akibat kadar air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan abu sekam padi (ASP) dan serbuk cangkang kerang darah (SCKD) terhadap daya dukung tanah lempung ditinjau dari nilai California Bearing Ratio (CBR). Sampel tanah lempung diambil dari Air Itam, Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung dengan variasi campuran SCKD tetap sebesar 27% dan ASP sebesar 0%, 8%, 12%, dan 16%. Pengujian laboratorium meliputi kadar air, analisis saringan, batas Atterberg, berat jenis, pemadatan, dan CBR sesuai standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai CBR seiring dengan penambahan kombinasi bahan stabilisasi, dengan nilai CBR tertinggi dicapai pada campuran tanah lempung + 27% SCKD + 12% ASP. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi tersebut mampu memperbaiki karakteristik tanah lempung secara signifikan. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan limbah pertanian dan perikanan sebagai bahan stabilisasi tanah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan
Pemilihan Rute Perjalanan Menuju Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung
Universitas Bangka Belitung merupakan satu-satunya Universitas Negeri yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Kampus ini berada kurang lebih 11 KM dari titik 0 kilometer dari Pusat Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakni Kota Pangkalpinang. Ini membuktikan bahwasnya letak kampus terpadu Universitas Bangka Belitung memiliki jarak yang lumayan jauh dari pusat kota dan fasilitas-fasilitas lainnya. Hal ini berpengaruh dengan aktivitas perjalan dari Kota Pangkalpinang ke Kampus Universitas Bangka Belitung. Dalam perjalanan dari Kota Pangkalpinang terdapat rute atau jalan yang berbeda-beda, yakni melewati rute Pangkalpinang (Selindung)-Univeristas Bangka Belitung, Pangkalpinang (Kerabut)-Univeristas Bangka Belitung dan Pangkalpinang (Tuatunu Indah)-Univeristas Bangka Belitung. Banyakknya pilihan jenis rute atau jalur lalu lintas yang akan ditempuh dari Kota Pangkalpinang menuju kampus Terpadu Univeritas Bangka Belitung, menuntut adanya penelitian mengenai Kriteria yang menjadi pertimbangan penting serta rute perjalanan terbaik menuju Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung menggunakan metode Analisa AHP (Analitycal hierarchy process) dengan pengolahan data yang menggunakan bantuan perangkat lunak (software) Expert Choice v.11. Hasil penelitian menunjukan kriteria yang paling berpengaruh adalah kriteria kenyamanan jalan dengan bobot sebesar (0,476) atau 47,6%, diikuti kriteria keamanan jalan dengan bobot sebesar (0,313) atau 31,3%, kriteria waktu perjalan dengan bobot sebesar (0,126) atau 12,6%, dan kriteria terendah adalah kriteria biaya perjalanan sebesar (0,085) atau 8,5%. Dan Rute perjalanan terbaik menuju kampus terpadu Universitas Bangka Belitung adalah Rute 2, yakni Rute Kelurahan Kerabut - Kampus Terpadu UBB dengan bobot sebesar (0,652) atau jika dipersentasekan sebesar 65,2 %
Pemanfaatan Abu Ampas Tebu dan Bottom Ash pada Tanah Lempung terhadap Gradasi dan Nilai CBR
Tanah lempung merupakan jenis tanah yang memiliki daya dukung rendah, plastisitas tinggi, dan permeabilitas rendah sehingga tidak memenuhi syarat sebagai material subgrade dalam konstruksi jalan. Stabilisasi tanah merupakan suatu proses mencampurkan tanah dengan tanah lainnya untuk memperoleh gradasi yang akan digunakan, atau mencampurkan tanah dengan bahan tambahan hasil buatan pabrik, sehingga sifat-sifat teknis tanah menjadi akan lebih baik. Pada penelitian ini digunakan stabilisasi kimiawi, dengan penambahan campuran bottom ash sebanyak 10%, 15%, 20% dengan abu ampas tebu sebanyak 12% terhadap berat tanah kering. Tanah lempung yang digunakan dari Jalan Air Mawar, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang. Parameter yang diuji meliputi kadar air, analisis saringan, batas Atterberg, berat jenis, pemadatan, dan nilai California Bearing Ratio (CBR Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu ampas tebu (AAT) dan bottom ash (BA) terhadap gradasi dan nilai CBR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan bottom ash dapat mempengaruhi gradasi karena dapat menurunkan persentase lolos saringan No.200, tetapi penurunan masih diatas 50% berdasarkan klasifikasi USCS termasuk butiran halus dan mampu meningkatkan nilai CBR tanah lempung secara signifikan. Nilai CBR tertinggi sebesar 11,811% yang diperoleh dari campuran 12% AAT dan 15% BA. Selain itu, terjadi perbaikan pada gradasi dan konsistensi tanah. Dengan demikian, penggunaan abu ampas tebu dan bottom ash dapat digunakan sebagai bahan stabilisasi alternatif yang efektif untuk meningkatkan nilai CBR tanah
Valuasi Ekonomi Manfaat Langsung Perikanan Tangkap dan Kontribusi Mangrove Bagi Nelayan Desa Batu Itam, Belitung
Pesisir Desa Batu Itam memiliki potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan serta memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di wilayah pesisirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat ekonomi langsung perikanan tangkap di ekosistem mangrove, mengetahui kontribusi nilai ekonomi langsung ekosistem mangrove terhadap pendapatan rumah tangga di Desa Batu Itam. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling dan sensus. Responden dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu nelayan mangrove yang berjumlah 27 responden yang ditentukan dengan metode sensus dan nelayan umum yang berjumlah 20 responden yang ditentukan dengan rumus slovin. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer (wawancara responden) dan data sekunder (studi pustaka). Pengukuran luasan mangrove dalam penelitian ini berbasis spasial dengan menggunakan data satelit sentinel-2A. Hasil yang diperoleh yaitu nilai ekonomi langsung perikanan tangkap di ekosistem mangrove Desa Batu Itam sebesar Rp. 1.376.670.000/tahun dengan rata-rata Rp. 275.334.000/tahun, hal ini dapat terbentuk karena didukung oleh luas ekosistem mangrove sebesar 205,13 Ha. Nilai manfaat langsung dari ikan memberikan nilai manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan nilai manfaat langsung dari cumi-cumi, kepiting, udang, dan kerang. Hal ini terjadi karena ikan yang didapatkan nelayan Desa Batu Itam memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan komoditi lainnya. Kontribusi ekosistem mangrove terhadap pendapatan rumah tangga nelayan di Desa Batu Itam sebesar 74%, yang berarti masyarakat yang tinggal disekitar ekosistem mangrove memiliki ketergantunggan yang tinggi terhadap keberadaan mangrove
Implementasi kebijakan non penal terhadap pelanggaran lalu lintas pengguna sepeda listrik di jalan raya di Kota Pangkalpinang
Kebijakan non penal pelanggaran lalu lintas pengguna sepeda listrik adalah upaya yang digunakan dalam mengatasi terjadinya pelanggaran lalu lintas oleh pengguna sepeda listrik tanpa menggunakan hukuman pidana dengan berfokus pada pencegahan dan pembinaan terhadap masyarakat. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebijakan non penal apa yang diterapkan oleh Dinas Perhubungan Kota Pangkalpinang dan Kepolisian Resor Kota Pangkalpinang dalam mencegah terjadinya pelanggaran lalu lintas pengguna sepeda listrik sekaligus untuk mengetahui upaya apa yang diterapkan dalam mengatasi kendala yang terjadi. Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum. Hasil dari penelitian ini pertama kebijakan non penal yang diterapkan berupa himbauan, teguran, sosialisasi hukum, pemasangan spanduk serta pelaksanaan razia. Kedua ada upaya yang dilaksanakan dalam mengatasi kendala yang terjadi yaitu pelaksanaan pengawasan dan keamanan, bekerja sama dengan pihak sekolah, berkoordinasi dengan masyarakat, serta peningkatan sosialisasi
Analisis Kinerja Pelayanan Operasional Pelabuhan Sungai Selan Bangka Tengah
Pelabuhan Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah merupakan salah satu pintu masuk pergerakan barang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan sarana angkutan laut berupa kapal. Aktivitas utama di pelabuhan ini adalah bongkar muat barang. Oleh karena itu di Pelabuhan Sungai Selan perlu dilakukan penilitian terkait kinerja pelayanan operasional pelabuhan yang berguna untuk mengetahui kinerja pelayanan operasionalnya,dari penelitian tersebut didapatkanlah hasil kinerja pelayanan operasional sebagai berikut antara lain Waiting Time (WT ) 0.65 Jam, Postpone Time (PT) 6,5 Jam, Approach Time(AT) 2,65 Jam, Not Operating Time (NOT) 59,2 Jam, Idle Time (IT) 2,4 Jam, BerthingTime (BT) 88,5 Jam, , Effective Time (ET) 29,42 Jam, Berth Working Time (BWT) 26,8 Jam Turn Round Time (TRT) 99,3 Jam, Ton/Gang/Hour (T/G/H) 13,1 T/G/H, Berth Ocupancy Rasio Susun Sirih (BOR SS) 26,66 %, dan nilai Berth Througput (BT) sebesar 15,3 Ton/meter. Setelah didapatkan hasil nilai kinerja pelayanan operasional tersebut lalu dimasukkan ke tabel indikator berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Nomor HK.103/2/18/DJPL-16 diketahui bahwa banyak indikator yang belum terisi atau terpenuhi maka dapat disimpulkan bahwa Pelabuhan Sungai Selan belum memenuhi standar kinerja pelayanan operasional pelabuhan yang berlaku yaitu keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Nomor HK.103/2/18/DJPL-16
Five Stages of Grief Analysis of Main Character Otto in A Man Called Otto (2023) Movie
Grief constitutes an inescapable phenomenon prevalent among all human beings. The research used the theoretical framework posited by Elisabeth Kübler-Ross (2014),
which delineates the stages of grief into five distinct. Each individual will experience grief in the aftermath of losing significant relationships or the death of a cherished individual. The occurrence of death invariably elicits deep-seated feelings of grief among those affected. This study seeks to identify the expressions and manifestations of grief as portrayed by the main character in Marc Forster's 2023 cinematic phases: anger, denial, depression, bargaining, and acceptance. Moreover, the investigation incorporated Corless's (2014) construct of modes of expression, which is classified into four segments: verbal
response, nonverbal response, physical response, and physical activity. A qualitative descriptive methodology was employed to scrutinize data extracted from the film's script
and visual elements to ascertain the protagonist's journey through the stages of grief and his corresponding modes of expression. The results encompassed 20 discerned instances,
categorized as follows: five instances of denial, four of anger, two of bargaining, five of depression, and four of acceptance. In terms of modes of expression, the analysis revealed three instances of verbal response, sixteen of non-verbal response, and one of physical response. The study concludes that the protagonist in A Man Called Otto experiences all five stages of grief, with denial and depression emerging as the most prominent phases
Indikator ketimpangan gender yang mempengaruhi tingkat partisipasi angkatan kerja di provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggunakan spatial sutoregressive Model (Sar)
Ketimpangan gender dapat diartikan sebagai kondisi dimana perempuan dan laki-laki berada dalam posisi yang tidak seimbang atau tidak setara dalam mewujudkan hak-haknya. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung termasuk dalam kelompok 20 provinsi yang memiliki Indeks Ketimpangan Gender (IKG) lebih tinggi. Ketimpangan gender, khususnya dalam sektor ketenagakerjaan dapat terlihat dari terbatasnya akses perempuan terhadap peluang kerja dibandingkan laki-laki. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah rasio jumlah angkatan kerja terhadap penduduk pada usia kerja. Perbedaan tingkat partisipasi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, termasuk indikator ketimpangan gender seperti angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran perkapita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh indikator ketimpangan gender, yaitu rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup, dan pengeluaran perkapita terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan pendekatan Spatial Autoregressive Model (SAR) untuk menangkap ketergantungan spasial antar wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu indikator ketimpangan gender, yaitu pengeluaran perkapita laki-laki, memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengaruh tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi pengeluaran perkapita laki-laki di suatu wilayah, maka tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki cenderung menurun. Selain itu, terdapat ketergantungan spasial dalam distribusi TPAK laki-laki, sehingga model Spatial Autoregressive (SAR) dipilih sebagai model yang paling tepat untuk merepresentasikan fenomena tersebut
Penerapan metode artificial neural network ackpropagation dalam memprediksi harga beras dan cabai merah di provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Beras dan cabai merah adalah komoditas yang berperan penting terhadap laju inflasi nasional maupun laju inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Keduanya memengaruhi konsumsi dan daya beli masyarakat. Penyebab utama inflasi nasional tahun 2023 yaitu komoditas beras sebesar 0,53 persen dan komoditas cabai merah sebesar 0,24 persen. Tingkat inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2023 sebesar 2,65 persen. Komoditas beras berkontribusi sebesar 0,85 persen dan cabai merah sebesar 0,50 persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai error dan memprediksi harga beras dan cabai merah menggunakan Metode Artificial Neural Network (ANN) Backpropagation. Data yang digunakan adalah data time series harian harga beras dan cabai merah periode 1 Januari 2019 sampai 30 April 2025. Pada penelitian ini, diperoleh model terbaik harga beras adalah model 6-20-1 pada pembagian data 90% training dan 10% testing dengan MSE training sebesar 0,0000323062 dan MSE testing sebesar 0,0000016901. Sedangkan model terbaik harga cabai merah adalah model 6-10-1 pada pembagian data 70% training dan 30% testing dengan MSE training sebesar 0,00024016 dan MSE testing sebesar 0,000841472. Berdasarkan nilai error yang diperoleh, model Backpropagation menunjukan kemampuan generalisasi yang baik. Sehingga, dilakukan prediksi harga beras dan cabai merah periode harian dari tanggal 1 Mei 2025 sampai tanggal 31 Desember 2025