University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
8735 research outputs found
Sort by
Pengaruh Content Marketing, Electronic Word of Mouth, dan Endorsement Terhadap Keputusan Pembelian Pada E-Commerce TikTok Shop dengan Brand Awareness Sebagai Variabel Intervening (Studi Kasus Mahasiswa Aktif Universitas Bangka Belitung)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh content marketing, electronic word of mouth, dan endorsement terhadap keputusan pembelian, dengan brand awareness sebagai variabel intervening pada platform e-commerce TikTok
Shop. Objek penelitian adalah mahasiswa aktif Universitas Bangka Belitung, yang merupakan representasi generasi digital native dengan intensitas tinggi dalam
penggunaan media sosial. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan kausal. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 200 responden. Teknik analisis yang digunakan adalah Partial
Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa content marketing, electronic word of mouth, dan endorsement berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Namun, hanya endorsement yang berpengaruh signifikan terhadap brand awareness. Sementara itu, brand awareness tidak berperan sebagai variabel intervening dalam hubungan antara content marketing, electronic word of mouth, dan endorsement terhadap keputusan pembelian. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital dapat secara langsung memengaruhi keputusan konsumen tanpa selalu harus
membentuk brand awareness terlebih dahulu. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan teori pemasaran digital dan implikasi praktis bagi pelaku social commerce dalam merancang konten dan kolaborasi yang efektif di platform TikTok Sho
An Analysis of Flouting Maxims in Spider-Man: Across the Spider-Verse
In communication, everyone will try to make the information well received by the listener. Therefore, Grice encourages people not to ignore maxim to avoid misunderstanding in conversation. In fact, there is a lot of maxim flouting happening in the characters' speech in Spider-Man: Across the Spider-Verse. However, the characters who are flouting maxim can communicate without any misunderstanding happening. Sperber and Wilson argue that flouting maxim will not cause misunderstanding because the utterance produced by a person will always be the most relevant and appropriate to the ability and preference of the listener. Therefore, this study aims to identify the types of flouting maxim used by the characters in the movie "Spider-Man: Across the Spider-Verse" and find out how flouting maxim does not cause misunderstanding based on Relevance Theory. A qualitative-descriptive method was applied in this study to achieve a detailed and in-depth research. The data of this study was collected from the transcript of the movie "Spider-Man: Across the Spider-Verse" movie transcripts and focused not only on the main character, but all characters. The results show that there are 58 maxim-violating utterances (including flouting maxim of quality, quantity, relation, and, manner). There are 20 data analyzed. Furthermore, the maxim violations that occur in the utterances are not communication failures, but strategic choices of the characters to achieve high cognitive effect and minimize the listeners' cognitive effort to understand the meaning. Thus, the speech that violates the maxim is in line with relevance theory and does not cause misunderstanding between the characters in the conversation
Video art sebagai gerakan lingkungan (studi gerakan teater potlot Palembang Sumatera Selatan)
Video art adalah bentuk seni yang memanfaatkan video dan audio sebagai media utama dalam berkarya. Berbeda dengan film, video art tidak bergantung pada aturan sinema. Seni ini tidak harus menggunakan aktor, dialog, plot, atau narasi yang jelas. Tujuan utama video art bukan sekadar untuk menghibur, melainkan lebih menitikberatkan pada eksplorasi medium dan makna. Penelitian ini mengkaji sebelas karya video art yang diproduksi oleh Teater Potlot dengan menggunakan kerangka teori Gerakan Sosial Baru (New Social Movements) yang dikemukakan oleh Rajendra Singh. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis respons Teater Potlot terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Lahan Basah Sungai Musi, serta memahami strategi mobilisasi sumber daya gerakan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelamatan lingkungan. Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, dengan memanfaatkan sumber data primer maupun sekunder. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Gerakan Sosial Baru mampu melampaui berbagai batasan struktural seperti ras, kewarganegaraan, maupun profesi. Teater Potlot, sebagai aktor dari gerakan ini, membuktikan bahwa video art dapat berfungsi sebagai medium yang efektif dalam merespons krisis ekologis, khususnya kerusakan Lahan Basah Sungai Musi, sekaligus sebagai alat untuk memobilisasi sumber daya sosial dan kultural, strategi tersebut antara lain; 1) Media dan Komunikasi Alternatif, 2) Penggunaan Simbol, Budaya, dan Bahasa, 3) Mobilisasi melalui Isu-isu Non-material, 4) Konstruksi Identitas Kolektif (Collective Identity), 5) Desentralisasi dan Non-hirarkis. Lebih jauh, karya-karya video art tersebut juga berhasil membentuk ruang partisipasi publik yang transformatif, serta membuka kemungkinan lahirnya bentuk-bentuk baru gerakan sosial di tengah masyarakat kontemporer
Analisis modal orang tua dalam memberikan dukungan sosial pada anak tunagrahita di Sekolah Luar Biasa Negeri Koba, Bangka Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dukungan sosial orang tua kepada anak tunagrahita dan menganalisis bagaimana modal ekonomi, budaya, dan sosial memengaruhi bentuk dukungan tersebut. Penelitian dilaksanakan di SLB Negeri Koba, Kabupaten Bangka Tengah, dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 12 orang tua/wali, 1 guru pendamping, 1 kepala sekolah, dan jumlah seluruh anak tunagrahita ringan di SLB Negeri Koba berjumlah 48 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diberikan orang tua terdiri dari empat bentuk, yaitu dukungan emosional, instrumental, penghargaan, dan informatif. Dukungan emosional ditunjukkan melalui empati, perhatian, terhadap anak. Dukungan instrumental diwujudkan dalam bentuk bantuan nyata seperti membiayai terapi, mengantar anak ke sekolah, dan menyediakan alat bantu belajar. Dukungan penghargaan diberikan melalui pujian dan motivasi atas usaha anak, sementara dukungan informatif ditunjukkan dengan memberikan arahan untuk membantu anak. Keempat bentuk dukungan ini tidak lepas dari pengaruh struktur modal yang dimiliki orang tua. Modal ekonomi memungkinkan dukungan material dan akses terhadap layanan pendidikan atau terapi tambahan. Modal budaya memengaruhi kualitas pola asuh dan pemahaman terhadap kebutuhan anak, sedangkan modal sosial memberikan akses terhadap jaringan bantuan, komunitas, dan pertukaran informasi yang mendukung peran pengasuhan. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial orang tua merupakan praktik yang tidak terlepas dari posisi sosial mereka dalam struktur masyarakat. Dengan menggunakan teori modal Pierre Bourdieu, dapat disimpulkan bahwa modal yng dimiliki orang tua berpengaruh terhadap kapasitas orang tua dalam memberikan dukungan kepada anak tunagrahita ringan. Semakin tinggi akumulasi modal yang dimiliki orang tua, semakin besar peluang mereka memberikan dukungan yang konsisten, dan tepat sasaran kepada anak tunagrahita
Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (Pdam) Tirta Bangka Tengah Tahun 2020-2024
PDAM sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) memiliki peran ganda dalam menyediakan layanan air bersih sekaligus mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan PDAM Tirta Bangka Tengah tahun 2020–2024 untuk menilai efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan PDAM. Analisis dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu rasio keuangan, analisis Dupont dan Balanced Scorecard perspektif keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan PDAM Tirta Bangka Tengah mengalami perbaikan selama periode penelitian. Nilai rasio likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas menunjukkan tren membaik. Selain itu, indikator Dupont dan Balanced Scorecard menunjukkan peningkatan efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Berasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PDAM Tirta Bangka Tengah pada tahun 2020-2024 yaitu semakin sehat dan dapat mendukung keberlanjutan operasional serta kontribusi terhadap pembangunan daerah
Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Anak Dermatitis Atopik Melalui Intervensi Gel Lidah Buaya Dengan Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Kulit
Dermatitis atopik merupakan kondisi inflamasi kronis pada kulit yang sering terjadi pada anak-anak dan ditandai dengan kulit kering, gatal, dan gangguan integritas kulit. Salah satu bentuk terapi non-farmakologis yang efektif dan aman adalah penggunaan gel lidah buaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan keluarga pada anak dengan dermatitis atopik melalui intervensi gel lidah buaya dengan masalah keperawatan gangguan integritas kulit. Rancangan studi yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada pasien anak yang mengalami dermatitis atopik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, serta studi dokumentasi yang dianalisis secara naratif. Intervensi keperawatan diberikan dengan pengolesan gel lidah buaya pada area kulit yang mengalami lesi selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan kondisi kulit, berkurangnya gejala gatal, dan peningkatan hidrasi kulit. Kesadaran orang tua dalam merawat anak juga meningkat. Gel lidah buaya terbukti efektif sebagai alternatif intervensi keperawatan komplementer dalam menangani gangguan integritas kulit pada anak dengan dermatitis atopik
The Semiotics of Extractive Legality: Symbolic Law and Tin Mining Governance in Indonesia
What if the law does not fail by absence, but by design? This study interrogates the juridical paradox at the heart of Indonesia’s tin mining sector, where a dense environmental and extractive regulation architecture coexists with rampant illegality and impunity. Focusing on Bangka Belitung, a key tin-producing region, this research challenges the assumption that legal breakdown results from weak institutions or enforcement gaps. Instead, it reveals how law is strategically hollowed out, retaining its formal shell while losing its regulatory substance. Employing a critical socio-legal research design, the study combines normative legal analysis with interpretive document-based inquiry. It draws on statutory texts, court rulings, investigative journalism, NGO reports, and environmental audits to trace how legality is reconfigured through political patronage, shadow governance, and selective enforcement. Analytically, it integrates genealogical contextualization, discourse deconstruction, and theoretical synthesis rooted in Critical Legal Theory, Legal Realism, and Legal Pluralism. The findings show that the law in Bangka Belitung functions performatively: permits are issued, audits are conducted, and awards are granted, even as illegal mining thrives. Regulatory enforcement targets intermediaries while shielding institutional actors such as PT Timah. Systems like SIMBARA, introduced to enhance transparency, operate more as state optics than governance tools. A regime of extractive legality emerges, a juridical mutation characterized by symbolic compliance, fragmented authority, and the instrumentalization of law to legitimize disorder. Drawing from legal semiotics, this study conceptualizes legality as a performative and symbolic order, where law operates as spectacle rather than substance. It advances the notion of the death of law in resource frontiers, arguing that legal failure is not a malfunction but a mode of rule. Ultimately, the paper calls for a radical rethinking of legal accountability, not as institutional repair, but as a political struggle to dismantle juridical impunity’s architecture in the Global South
Kajian Toponimi Penamaan Kelurahan/Desa di Kabupaten Bangka Selatan Berbasis Flora, Fauna, dan Bentang Alam
Penamaan kelurahan/desa berperan dalam memberikan identitas pada suatu wilayah agar mudah dikenali. Bidang studi ini dikenal sebagai toponimi. Dasar penamaan kelurahan/desa di Kabupaten Bangka Selatan bervariasi, seperti nama yang berasal dari flora, fauna, dan bentang alam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi terkait jenis flora, fauna, dan bentang alam yang digunakan sebagai nama kelurahan/desa. Penentuan lokasi dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling, yang berfokus pada kelurahan/desa yang menggunakan nama flora, fauna, atau bentang alam. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi. Sebanyak 63 informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Penelitian ini menemukan bahwa sebanyak 17 jenis flora, 2 jenis fauna, dan 4 jenis bentang alam digunakan sebagai nama kelurahan/desa di Kabupaten Bangka Selatan. Status konservasi menunjukkan bahwa 4 spesies flora berstatus LC, 7 spesies flora dan 1 spesies fauna berstatus DD, serta 1 spesies fauna berstatus NT, yaitu burung pergam (Ducula aenea) yang menunjukkan perlunya upaya konservasi untuk mencegah kepunahan spesies tersebut. Masyarakat lokal memanfaatkan flora dan fauna ini terutama untuk bahan bangunan dan sumber pangan
Kajian Toponimi Penamaan Kelurahan/Desa di Kabupaten Bangka Barat Berbasis Flora, Fauna, dan Bentang Alam
Penamaan tempat berfungsi sebagai bentuk identitas yang membantu masyarakat mengenali dan membedakan suatu daerah. Nama-nama kelurahan/desa di Kabupaten Bangka Barat memiliki makna dan sejarah penamaan berdasarkan flora, fauna, dan bentang alam yang mencerminkan interaksi manusia dengan lingkungan alamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi flora, fauna, dan bentang alam yang digunakan dalam penamaan kelurahan/desa di Kabupaten Bangka Barat, memastikan status konservasinya, dan mengetahui pemanfaatannya oleh masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Lokasi penelitian ditentukan dengan purposive sampling. Metode pengumpulan data adalah wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan 87 informan yang ditentukan melalui purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 25 jenis flora, 1 jenis fauna, dan 6 bentuk bentang alam yang digunakan sebagai nama kelurahan di Kabupaten Bangka Barat. Sebagian besar nama flora digunakan karena umumnya ditemukan di daerah tersebut dan memiliki manfaat bagi masyarakat setempat. Salah satu flora ini, Eusideroxylon zwageri, perlu segera dikonservasi karena memiliki status Vulnerable (VU) menurut IUCN. Spesies flora yang dijadikan sebagai nama kelurahan/desa di Bangka Barat paling banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan bangunan
Analisis Perbandingan Rekrutmen Karang Keras pada Transplantasi Karang di Pulau Putri dan Pulau Panjang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Terumbu karang sebagai bagian dari ekosistem pesisir dan laut rentan terhadap gangguan. Kerusakan terumbu karang secara garis besar disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor alam dan faktor antropogenik. Pentingnya ekosistem terumbu karang bagi organisme disekitarnya, maka perlu dilakukan kegiatan pemulihan atau program rehabilitasi pada terumbu karang. PT TIMAH Tbk selaku perusahaan tambang timah telah melakukan program pemulihan kondisi lingkungan yang rusak salah satu program tersebut yaitu penenggelaman transplantasi karang di Pulau Putri dan Pulau Panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis rekrutmen karang dan Tingkat keanekaragaman, keseragaman dan dominasi rekrutmen karang pada transplantasi karang di Pulau Putri dan Pulau Panjang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Agustus 2024 dengan menggunakan metode underwater fotografi dan visual untuk kelimpahan rekrutmen karang dan keanekaragaman rekrutmen karang. Jenis genus rekrutmen karang yang teridentifikasi pada Pulau Putri sebanyak 74 individu, sedangkan pada Pulau Panjang sebanyak 43 individu rekrutmen karang. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada Pulau Putri dengan nilai rata-rata 1,459 dan Pulau Panjang dengan nilai rata-rata 1,594 sama-sama dikategorikan sedang. Nilai indeks keseragaman (E) pada Pulau Putri dengan nilai rata-rata 0,664 dan Pulau Panjang dengan nilai rata-rata 0,766 sama-sama dalam kategori stabil. Nilai indeks dominasi (C) pada Pulau Putri dengan nilai rata-rata 0,318 dikategorikan sedang yang menunjukkan ada beberapa genus yang mendominasi seperti genus Favia dan Goniastrea, sedangkan pada Pulau Panjang dengan nilai rata-rata 0,252 dikategorikan rendah yang berarti tidak ada genus yang mendominasi dikawasan tersebut