University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
8735 research outputs found
Sort by
Perbuatan melawan hukum atas pelanggaran hak eksklusif dalam modifikasi aplikasi android menurut hukum perdata dan hak cipta
Penelitian ini mengkaji aspek hukum terkait modifikasi aplikasi Android dalam perspektif hukum perdata dan Hak Cipta di Indonesia, khususnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan perbuatan melawan hukum. Kurangnya kejelasan dan ketegasan pengaturan dalam Pasal 52 menimbulkan kekaburan norma dalam mengklasifikasi tindakan modifikasi aplikasi Android sebagai pelanggaran terhadap sarana kontrol teknologi dan perbuatan melawan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbuatan melawan hukum dalam modifikasi aplikasi Android menurut Hukum Perdata dan Hak Cipta Sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 serta mengidentifikasi upaya hukum yang dapat dilakukan apabila terjadi sengketa modifikasi aplikasi Android. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, serta menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier dengan metode pengumpulan data library research dan bibliography study. Hasil penelitian menunjukan bahwa kekaburan norma dalam Pasal 52 menyulitkan penerapan unsur-unsur perbuatan melawan hukum yang tercantum dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, karena tidak semua modifikasi dikategorikan melanggar ketentuan Pasal 52. Modifikasi aplikasi Android tanpa izin dan lisensi dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum dan melanggar Hak Cipta berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, khususnya terhadap hak ekonomi dan hak moral pencipta. Upaya hukum yang dapat ditempuh meliputi jalur litigasi dan non litigasi. Jalur litigasi melalui pengadilan sedangkan non litigasi melalui alternatif penyelesaian sengketa seperti arbitrase, mediasi, konsiliasi, dan negosiasi
Penerapan Algoritma Backpropagation Dalam Memprediksi Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang Dan Nonbintang Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Sektor pariwisata terbukti mampu meningkatkan penerimaan devisa, pendapatan daerah, serta penyerapan investasi dan tenaga kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Keberhasilan hotel dalam mempertahankan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang tinggi dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan hotel, ekonomi lokal dan industri pariwisata secara keseluruhan. Namun, ketidakpastian TPK hotel di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat mempengaruhi kebijakan instansi pemerintah atau swasta maupun pengusaha hotel dan akomodasi serta investor dalam industri perhotelan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memprediksi TPK hotel bintang dan nonbintang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Metode yang digunakan adalah algoritma backpropagation. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arsitektur jaringan backpropagation terbaik untuk memprediksi TPK hotel bintang adalah 60-32-1 dengan MAPE pada fase pelatihan 13,96 persen dan MAPE pada fase pengujian 13,74 persen. Sedangkan arsitektur jaringan terbaik untuk memprediksi TPK hotel nonbintang adalah 60-41-1 dengan MAPE pada fase pelatihan 12,89 persen dan MAPE pada fase pengujian 9,96 persen. Berdasarkan hasil prediksi, dapat disimpulkan bahwa TPK hotel bintang dan nonbintang mengalami pola fluktuasi yang cenderung turun tetapi TPK hotel bintang memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan TPK hotel nonbintang. Hal ini mengindikasikan bahwa hotel bintang masih memegang peranan dominan dalam industri perhotelan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penegakan hukum terhadap pemasangan reklame tidak sah di Kota Pangkalpinang berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang nomor 16 tahun 2012 tentang penyelenggaraan reklame
Penegakan hukum merupakan seluruh proses dan upaya yang dilakukan oleh aparat atau lembaga berwenang untuk menjamin bahwa hukum yang berlaku benar-benar ditaati dan dijalankan secara adil, konsisten, dan tegas. Tindakan pemasangan reklame tidak sah yang melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di suatu wilayah ini dapat dikatakan sebagai tindak pidana, karena dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian materiil dan membahayakan keselamatan public yang dilakukan oleh orang atau badan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penegakan hukum terhadap pemasangan reklame tidak sah di Kota Pangkalpinang berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Reklame dan untuk mengetahui apa faktor-faktor penghambat yang dihadapi dalam penegakan hukum terhadap pemasangan reklame tidak sah di Kota Pangkalpinang. Adapun Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian Yuridis- Empiris, dengan metode pendekatan Identifikasi Hukm. Hasil penelitian yang telah dilakukan upaya penegakan yang dilakukan adanya upaya preventif seperti pemberian surat peringatan dan penyegelan dan upaya represif berupa pembongkaran reklame tidak sah yang dimana dianggap kurang optimal dalam memberi efek jera bagi pelaku pemasangan reklame tidak sah, mengingat jumlah reklame tidak sah yang berdiri tidak jauh berbeda setiap bulannya dan dalam perdanya sendiri adanya upaya represif lain seperti pidana kurungan dan pidana denda
Analisis TPAK dan IPM terhadap PDRB pada Wilayah Provinsi Kepulauan (studi kasus pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau di Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji, menganalisis serta mengetahui Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada wilayah Provinsi Kepulauan Tahun 2014 hingga 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan data sekunder. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel dengan model pendekatan Random Effect Model (REM). Hasil penelitian ini secara parsial menunjukkan bahwa TPAK memiliki pengaruh negatif dan signifkan terhadap PDRB pada wilayah Provinsi Kepulauan. Sedangkan IPM memiliki pengaruh positif dan signifikan Terhadap PDRB pada wilayah Provinsi Kepulauan
Analisis wacana kritis program revitalisasi lada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana revitalisasi lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/ CDA) dengan menggunakan teori populisme dari Ernesto Laclau (2005) sebagai pisau analisis. Fokus penelitian adalah untuk mengidentifikasi apakah wacana revitalisasi lada yang digaungkan oleh pemerintah selama tiga era kepemimpinan (Eko Maulana Ali, Rustam Efendi, dan Erzaldi Rosman) lebih bersifat sebagai komodifikasi politik atau upaya nyata untuk mengembalikan kejayaan lada sebagai komoditas unggulan. Data penelitian diperoleh melalui analisis teks media, wawancara dengan petani, serta dokumen kebijakan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana revitalisasi lada cenderung digunakan sebagai alat politik untuk memperoleh dukungan publik, terutama dalam konteks pemilihan umum. Meskipun berbagai program seperti pembagian bibit gratis, pelatihan teknis, dan pembentukan Badan Pengelola, Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) telah diluncurkan, implementasinya belum menunjukkan hasil yang signifikan. Produksi dan luas lahan lada terus menurun, sementara tantangan seperti fluktuasi harga, serangan hama, dan alih fungsi lahan masih menjadi masalah utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana revitalisasi lada lebih banyak bersifat retorika populis daripada upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mengembalikan kejayaan lada. Rekomendasi yang diajukan meliputi peningkatan koordinasi antarlembaga, penguatan kapasitas petani, perbaikan infrastruktur, dan pengembangan pasar ekspor. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan program revitalisasi lada dapat memberikan dampak nyata bagi petani dan perekonomian daerah
Fenomena komodifikasi artis sebagai vote getter calon legislatif DPW PAN Jawa Barat
Penelitian ini mengkaji tentang fenomena komodifikasi artis sebagai vote getter dalam pemilihan umum di Indonesia, dengan fokus khusus pada Partai Amanat Nasional (PAN) di Jawa Barat. Dalam konteks perubahan sistem pemilu dari proporsional tertutup menjadi proporsional terbuka, artis diidentifikasi sebagai calon legislatif yang memanfaatkan popularitasnya untuk meraih dukungan suara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemaknaan artis dalam proses komodifikasi politik serta faktor-faktor yang mempengaruhi PAN dalam mengkomodifikasikan artis sebagai vote getter. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi Vincent Mosco. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif analisis konten dengan analisis data primer dan sekunder dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi artis terjadi melalui tiga mekanisme utama: pengalihan profesi artis menjadi politisi, peran partai politik sebagai produsen yang mengemas artis sebagai produk politik, dan pemilih yang bertindak sebagai konsumen dalam sistem politik berbasis popularitas. Faktor utama yang mendorong PAN merekrut artis adalah daya tarik elektoral mereka di kalangan pemilih muda, efektivitas media sosial dalam kampanye politik, serta citra positif yang dimiliki artis di masyarakat. Namun, ada kekhawatiran bahwa pemilih mungkin lebih terfokus pada citra dan popularitas ketimbang substansi kebijakan, yang berpotensi mengurangi kualitas demokrasi. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa popularitas artis berfungsi sebagai aset strategis bagi partai politik dalam menarik perhatian pemilih, sementara tantangan terkait kompetensi dan integritas artis perlu diwaspadai
Kajian kelayakan ekonomi kegiatan produksi Di PT Lotus Esge Sejahtera Desa Jeruk Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah
Penelitian ini dilakukan di PT Lotus Esge Sejahtera Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. PT Lotus Esge Sejahtera memiliki cadangan granit dan terdapat perencanaan pembukaan lahan sehingga perlu dilakukan perencanaan tambang secara ekonomis agar dapat diketahui kelayakan dari investasi tambang batu granit. Penelitian ini dilaksanakan selama 1,5 bulan dengan pengambilan data berupa biaya kepemilikan peralatan peledakan dan biaya maintenance peralatan peledakan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif yaitu menghitung keekonomian tambang seperti cash flow, Break Even Point (BEP), Payback Period (PBP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Analisis Sensitivitas. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, total biaya tetap yang dikeluarkan per tahun sebesar Rp 21.167.164.771 dan total biaya tidak tetap yang dikeluarkan per tahun sebesar Rp 69.393.083.034. Untuk nilai Break Even Point (BEP) diketahui sebesar 286.772,25 ton/tahun dan total Break Even Point dalam rupiah sebesar Rp 43.775.783.502. Cash in Flow tambang granit PT. Lotus Esge Sejahtera sebesar Rp 687.419.996.548 dan cash out flow sebesar Rp 458.991.200.499 selama 5 tahun umur tambang. Net Present Value (NPV) dengan interest rate 16,61% sebesar Rp 47.776.925.411, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 50,01%, Payback Period (PBP) sebesar 1,7 tahun setelah tambang berjalan, dan untuk analisis sensitivitas dengan perubahan 5% dan 10% nilai NPV positif dan IRR > WACC. Dari beberapa parameter kelayakan ekonomi tambang granit tersebut maka penambangan granit PT Lotus Esge Sejahtera Laya
Respon pertumbuhan bibit anggrek dendrobium lineale pada saat aklimatisasi terhadap beragam konsentrasi dan waktu pemberian pupuk daun
Anggrek Dendrobium merupakan jenis anggrek yang digemari masyarakat karena tampilannya yang cantik. Bibit tanaman anggrek Dendrobium lineale membutuhkan pupuk daun agar pertumbuhan dan produktivitas tanaman dapat optimal. Salah satu pupuk yang dapat digunakan untuk aklimatisasi tanaman anggrek adalah Grow Quick Leaf Booster. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan menentukan konsentrasi, waktu dan kombinasi yang terbaik terhadap pertumbuhan bibit tanaman anggrek Dendrobium lineale. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor pertama adalah K (Konsentrasi Pupuk Daun) yang terdiri dari 4 taraf yaitu (2,5 ml, 3 ml, 3,5 ml, 4 ml). Faktor kedua adalah W (Waktu Penyemprotan) yang terdiri dari 3 taraf yaitu (3 hari sekali, 6 hari sekali, 9 hari sekali) sampai dengan 10 kali penyemprotan. Terdapat 12 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Setiap unit terdiri dari 8 planlet sehingga jumlah populasinya adalah 288 planlet dan 5 planlet sebagai sampel pada setiap unit. Hasil penelitian diuji menggunakan uji analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang dan berat kering, dan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap yang lainnya. Pengaruh waktu dan kombinasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua variabel yang diamati. Konsentrasi terbaik yang dihasilkan adalah 3 ml, rerata frekuensi tertinggi adalah 3 hari sekali dan rerata kombinasi tertinggi adalah 3 ml + 3 hari sekali
Inventarisasi penyakit tanaman kopi di Kabupaten Bangka Tengah
Infeksi penyakit menjadi faktor pembatas dalam budidaya tanaman kopi. Beberapa penyakit utama yang menginfeksi tanaman kopi diantaranya adalah penyakit karat daun, penyakit bercak daun dan penyakit jamur upas. Penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi jenis penyakit yang menginfeksi perkebunan kopi di Kabupaten Bangka Tengah, sebagai dasar informasi awal untuk menentukan langkah-langkah pengendalian. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Agustus- November 2024, di Desa Celuak, Desa Puput, Desa Lampur, Desa Munggu, Desa Melabun, Desa Jelutung serta Desa Lubuk Pabrik. Penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria umur tanaman kopi ≥ 3 tahun yang bersumber dari key informan (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Kabupaten Bangka Tengah. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu, ditentukan titik plot (unit sampel) menggunakan metode Simple random sampling, dalam satu kebun diambil sebanyak 50 tanaman. Hasil penelitian ditemukan terdapat penyakit karat daun, penyakit bercak daun, bercak alga dan penyakit embun jelaga yang menginfeksi tanaman kopi di Kabupaten Bangka Tengah. Rata-rata kejadian penyakit yang menyerang tanaman kopi di Kabupaten Bangka Tengah yaitu penyakit karat daun 53,14%; penyakit bercak daun 43,71%; bercak alga 48,57%; dan penyakit embun jelaga 30,71%. Kejadian dan keparahan penyakit paling tinggi terdapat di Desa Celuak dan Desa Jelutung yaitu sebesar 84% dan 82% untuk kejadian penyakit serta 39% dan 31,35% untuk keparahan penyakit secara berturut- turut. Penyakit karat daun dan bercak daun termasuk dalam penyakit utama pada tanaman kopi sedangkan bercak alga dan penyakit embun jelaga tidak termasuk dalam penyakit utama yang menyerang tanaman kopi
Heroism Of The Main Character In The Movie Puss In Boots: The Last Wish (2022).
Heroism is a recurring theme in children's films, particularly in the adventure genre, where protagonists often confront challenges in pursuit ofnoble goals. While many characters in such narratives follow the classical Hero's Journey model, Puss in Boots: The Last Wish presents a different interpretation of heroism. The protagonist, Puss, is not only non-human but also characterized by complex motivations and internal conflicts that diverge from conventional heroic archetypes. This study aims to examine whether Puss qualifies as a hero by analyzing his character development and comparing his journey to Joseph Campbell's Hero's Journey framework. Utilizing a qualitative descriptive approach, the study investigates monologues, dialogues, and key scenes to identify Puss' s character development and align it with the stages of the Hero's Journey. The results reveal that Puss's complex and evolving characterization throughout the story, making his character relatable to both younger and older viewers. His journey successfully encompasses the three core stages of the Hero's Journey: Departure, Initiation, and Return. He completes 12 out of the 17 stages, such as: Refusal of the Call, Supernatural Aid, and The Crossing ofthe First Threshold in the Departure stage; The Road of Trials, The Meeting with the Goddess, Woman as Temptress, Atonement with the Father, Apotheosis, and The Ultimate Boon in the Initiation stage; and The Magic Flight, Rescue from Without, and Freedom to Live in the Return stage. Although not every stage is fulfilled, the findings demonstrate that Puss's narrative arc aligns closely with the Hero's Journey, and his personal growth ultimately affirms his role as a heroic figure in the film