Majapahit Islamic University Institutional Repository
Not a member yet
2454 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING UNTUK MEMFASILITASI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 BALONGBENDO PADA MATERI VOLUME KUBUS DAN BALOK
Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan pembelajaran, mengetahui aktivitas siswa, dan mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa secara tertulis pada siswa kelas VIII-A SMPN 2 Balongbendo pada materi volume kubus dan balok. Model Pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) mempunyai tujuan pembelajaran, (2) dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran di kelas, (3) memiliki urutan langkah-langkah pembelajaran (sintaks). Model Pembelajaran Quantum Learning adalah model pembelajaran dengan menumbuhkan semangat dan menyenangkan sehingga memberikan sikap positif terhadap pembelajaran, pemberian nama yakni memaknai suatu konsep matematika, mendemonstrasikan hasil penemuan konsep, mengulangi materi yang telah dipelajari sehingga adanya keyakinan pada siswa bahwa “Aku tahu bahwa aku memang tahu” selanjutnya merayakan suatu keberhasilan dalam belajar melalui reward. Kemampuan Komunikasi matematis siswa adalah kecakapan siswa untuk menyampaikan ide-ide matematis baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan komunikasi yang akan diteliti adalah komunikasi matematis secara tulisan. Pada penelitian ini menggunakan rancangan One Shot Case Study yang berarti penelitian yang dilakukan dengan menggunakan satu kali pengumpulan data dan satu saat, yaitu dengan perlakuan tertentu yang peneliti lakukan. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning dapat disimpulkan bahwa pengelolaan pembelajaran yang dilakukan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran mendapatkan hasil dalam kategori sangat baik sehingga kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dikatakan efektif, dengan nilai 3,82. Sedangkan dari aktivitas siswa mendapatkan hasil dalam kategori aktif dengan nilai 82,5%. Pada kemampuan komunikasi siswa VIII-A SMP Negeri 2 Balongbendo secara tertulis dapat dikatakan baik karena dari 36 orang siswa terdapat hasil persentase 58,3% dalam kategori sangat tinggi dan 33,3% dalam kategori tinggi.
Kata Kunci: Quantum Learning, Komunikasi Matematis , Kubus dan Balok
¬PENGEMBANGAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA MATERI BARISAN DAN DERET BILANGAN DI SMA NEGERI 1 PURI
preliminary dan formative evaluation. Tahap formative evaluation meliputi self evaluation, expert review, one-to-one, small group dan field test. Untuk mengetahui kevalidan perangkat soal HOTS dilihat dari hasil analisis lembar validasi pada tahap expert review. Kepraktisan soal diketahui dari hasil analisis angket respon siswa pada tahap small group. Sedangkan efek potensial soal berdasarkan hasil analisis kemampuan berpikir tingkat tiggi siswa pada tahap field test. Hasil pengembangan soal HOTS ini berupa perangkat soal yang terdiri dari kisi-kisi dan soal HOTS dengan 5 soal berbentuk uraian yang memenuhi kriteria valid dan praktis. Perangkat soal dinyatakan valid dengan rata-rata kriteria skor sebesar 89% dalam kategori sangat valid, dan dinyatakan praktis dengan kriteria skor sebesar 83% dalam kategori sangat praktis. Soal HOTS yang dikembangkan juga memiliki efek potensial yang baik terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan skor rata-rata 15,6875 yang menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam kategori baik
Dampak Peraturan Daerah No 16 Tahun 2013 Terhadap Keberadaan Gelandangan dan Pengemis
Kesenjangan perekonomian di perkotaan dan pedesaan menyebabkan terjadi urbanisasi. Pendapat yang beredar di masyarakat tentang mudahnya mencari pekerjaan di perkotaan turut berkontribusi atas perpindahan masyarakat desa ke kota-kota. Namun sayangnya, keberadaan mereka di kota-kota tanpa dibekali pendidikan dan keterampilan
yang cukup menimbulkan masalah baru diperkotaan. Sebagian besar dari mereka ini menjadi gelandangan dan pengemis sehingga mengganggu ketertiban umum. Pemerintah Kota Mojokerto kemudian mengelurkan Perda Nomer 16 tahun 2013 untuk menanggulangi masalah ini. Atas latar belakang tersebut dan kesesuai dengan bidang ilmu yang peneliti tekuni selama ini, maka peneliti mengambil penelitian tentang dampak dari diberlakukannya Perda tersebut. Berdasarkan teori yang digunakan oleh peneliti tentang analisis kebijakan publik ada tiga indikator utama yang digunakan untuk melihat dampak perda tersebut yaitu program yang dibuat, target capaian program dan aksireaksi atas perda tersebut. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa berdasarkan indikator program ditemukan bahwa perda ini
berdampak positif. Begitu juga dengan indikator target capaian juga menunjukkan bahwa perda ini berdampak positif. Meski berdampak positif berdasarkan dua indikator tersebut namun berdasarkan indikator aksi-reaksi terdapat dampak negatif dari kelompok sasaran. Sehingg dapat disimpulkan bahwa Perda Nomer 16 tahun 2013 berdampak positif pada program penanggulangan gelandangan dan pengemis. Meski demikian masih dibutuhkan pendampingan serta pembinaan yang terus menerus dari
Dinas Sosial Kota Mojokerto serta adanya program-program yang lebih banyak melibatkan masyarakoat sebagai partner uitam a Dinas Sosial kedepannyua
MISKONSEPSI SISWA SMA PADA MATERI PERSAMAAN LOGARITMA DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan miskonsepsi siswa, penyebab miskonsepsi siswa, dan alternatif dalam menanggulangi miskonsepsi siswa SMA pada materi logaritma dengan menggunakan tes diagnostik. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA-3. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 13 orang. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data adalah berupa angket, tes diagnostik, dan pedoman wawancara. Angket digunakan untuk mengetahui penyebab miskonsepsi siswa. Data tes diagnostik dikumpulkan menggunakan two-tier multiple choice dan three-tier multiple choice untuk mengidentifikasi siswa kedalam paham konsep, miskonsepsi, menebak, pengetahuan lemah, dan tidak paham konsep. Pedoman wawancara digunakan untuk melakukan wawancara hasil tes dan mengetahui sebab miskonsepsi tiap subkonsep materi persamaan logaritma. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari tes diagnostik two-tier multiple choice terhadap siswa kelas X MIPA 3 bahwa miskonsepsi teridentifikasi pada pada nomor 4, 7, dan 10 dengan subkonsep berturut-turut yaitu pada grafik persamaan logaritma, persamaan logaritma berbentuk h(x)log f(x) = h(x)log g(x), dan aplikasi logaritma dalam kehidupan. Penyebab miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada materi persamaan logaritma menggunakan tes diagnostik Two-Tier dan Three Tier Multiple Choice yaitu miskonsepsi pada nomor 4, 7, dan 10 yaitu karena siswa dan cara mengajar. Alternatif penyelesaian menanggulangi miskonsepsi siswa SMA pada materi logaritma terdapat 2 sebab yakni karena siswa dan karena cara mengajar guru.
Kata Kunci: Miskonsepsi, Persamaan Logaritma, Tes Diagnosti
Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Menggunakan Pendekatan RME Berbantu Media Kemasan Bekas terhadap Pemahaman Konsep Kubus dan Balok Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pungging
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran kooperatif menggunakan pendekatan RME berbantu media kemasan bekas terhadap Pemahaman Konsep Kubus dan Balok Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pungging. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMPN 2 Pungging sebanyak 23 siswa. Keefektifan pada penelitian ini ditinjau dari 4 hal yaitu, 1) pemahaman konsep siswa, 2) pengelolaan pembelajaran guru, 3) aktivitas siswa selama pembelajaran, 4) respon siswa terhadap pembelajaran. Pemahaman konsep siswa diperoleh dari tes yang diberikan setelah pembelajaran, soal tes tersebut mencakup 4 indikator pemahaman konsep yaitu 1) Menyatakan ulang sebuah konsep,2) Mengklasifikasikan objek–objek, 3) Memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, 4) Mampu menerapkan konsep secara algoritma atau mengaplikasikan konsep pada pemecahan masalah, dari tes pemahaman konsep tersebut diperoleh 65,22% siswa lulus dan 34,78% siswa tidak lulus secara klasikal. Pada pengelolaan pembelajaran guru di kelas diperoleh RSP 3,84 dalam kategori sangat baik. Selama proses pembelajaran keaktifan siswa kelas VIII D SMPN 2 Pungging Mojokerto mendapat RSP 3 termasuk dalam kategori aktif.Sedangkan Respon siswa kelas VIII D SMPN 2 Pungging Mojokerto setelah diterapkan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Realistic Mathematic Education berbantu media kemasan bekas memperoleh nilai R 83,62% masuk dalam rentang 75% < x ≤ 100% dengan kategori sangat baik. Karena pemahaman konsep siswa diperoleh 65,22% yang lulus sedangkan kriteria ketuntasan di SMPN 2 Pungging adalah 75% maka pembelajaran kooperatif menggunakan pendekatan RME berbantu media kemasan bekas terhadap pemahaman konsep kubus dan balok siswa kelas VIII SMPN 2 Pungging dinyatakan tidak efektif
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY (DISCOVERY LEARNING) PADA SISWA MTS TSUNAN AMPEL KELAS VII PADA POKOK BAHASAN KELILING DAN LUAS SEGI EMPAT TAHUN AJARAN 2017/2018
Penelitian ini bertujuan untuk mendikripsikan keterlaksanaan pembelajaran, aktifitas siswa dan hasil belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran discovery pada siswa MTs Tsunan Ampel pada pokok bahasan keliling dan luas segi empat. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kela VII MTs Tsunan Ampel semester II tahun ajaran 2017/2018 berjumlah 21 orang. Pada penelitian ini menggunakan rancangan One Shot Case Study yang berarti penelitian yang dilakukan dengan menggunakan satu kali pengumpulan data dan satu saat, yaitu dengan suatu perlakuan tertentu yang peneliti lakukan. Penerapan model pembalajaran discovery pada pokok bahasan keliling dan luas segi empat dapat disimpulkan bahwa guru mampu menyelesaikan semua tahapan pembelajaran dengan baik dengan rata-rata skor 3, 67. Aktivitas siswa tergolong aktif dalam mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran dengan model pembalajaran discovery hal tersebut dapat ditujukan dengan siswa terlibat aktif dalam melakukan berdiskusi kelompok yitu dengan presentase nilai rata-rata yaitu 77,48%. Hasil belajar siswa setelah penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery pada pokok bahasan keliling dan luas segi empat dapat dinyatakan tuntas secara klasikal dengan ketuntasan klasikal yaitu 85%
KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH BLACK WATER DI DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN JATIREJO KABUPATEN MOJOKERTO
Terkait dengan aktivitas manusia terhadap lingkungan sangat penting menjaga kualitas air, termasuk usaha dalam pencegahan terhadap bahan-bahan pencemaran. Salah satu diantara bahan pencemar tersebut yaitu limbah black water. Dampak yang cukup signifikan dari limbah black water yaitu dapat mencemari air, bahkan membahayakan manusia secara langsung serta dikhawatirkan tanpa adanya sarana sanitasi pengolahan air limbah domestik, kesehatan masyarakat akan menurun dan mempengaruhi produktivitas masyarakat. Salah satu daerah yang 20% masyarakatnya masih melakukan BABS adalah masyarakat Desa Sumberagung Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan pengelolan limbah black water yang ada di Desa Sumberagung. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui data sekunder yang meliputi data penduduk, luas area terbangun dan jumlah kepemilikan jamban yang kemudian dianalisa untuk mendapatkan sistem pengelolaan limbah black water yang tepat dan efisien pada setiap dusunnya.
Setelah dilakukan analisa data penduduk untuk menentukan tipikal sistem, maka didapatkan dua sistem pengelolaan limbah black water yaitu terpusat dan setempat. Sistem pengelolaan air limbah domestik setempat, diberlakukan pada Dusun Bagen 6 unit, Dusun Segunung 5 unit dan Dusun Semambungan 7 unit sedangkan untuk sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat disarankan untuk Dusun Jetis 4 unit dan Dusun Pangi 2 unit. Dari hasil perhitungan rencana anggaran biaya didapatkan sistem pengelolaan terpusat lebih efektif dan efisien digunakan karena jumlah KK yang dilayani lebih banyak sehingga biaya yang dikeluarkan bisa diminimalisir.
Kata Kunci : Limbah Black Water, Pengelolaan Terpusat, Pengelolaan Setempa
KEEFEKEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN JUCAMA UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP KELAS VII PADA MATERI SEGIEMPAT
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan model pembelajaran JUCAMA untuk melatih kemampuan berpikir kreatif siswa SMP kelas VII pada materi segiempat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriprif dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan di kelas VII B SMP Negeri 2 Pungging. Subjek penelitian ini yaitu satu kelas VII B yang terdiri dari 30 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari lembar observasi kemampuan guru, lembar observasi aktivitas siswa, tes kemampuan berpikir kreatif, dan angket respons siswa.
Pada penelitian ini, data diperoleh dari pengisian lembar observasi kemampuan guru dan aktivitas siswa, lembar tes kemampuan berpikir kreatif siswa, dan respons siswa pada lembar angket respons. Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran JUCAMA efektif untuk melatih kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dikategorikan “sangat baik” dengan nilai rata-rata 3,63, aktivitas siswa selama proses pembelajaran dikategorikan “sangat aktif” dengan nilai rata-rata 3,565, kemampuan berpikir kreatif siswa secara individu terlatih dengan menggunakan model pembelajaran JUCAMA pada materi segiempat. Hal ini diketahui dari tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa dari hasil tes yang telah diberikan. Terdapat 16 siswa memilik tingkat kemampuan berpikir kreatif tingkat 3 (kreatif), 9 siswa memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif tingkat 2 (cukup kreatif), 2 siswa memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif tingkat 1 (kurang kreatif), dan 3 siswa memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif tingkat 0 (tidak kreatif). Secara klasikal, kemampuan berpikir kreatif siswa juga dikatakan tuntas dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 80%, dan respons siswa terhadap model pembelajaran JUCAMA ini adalah “positif”.
Kata-Kata Kunci: Model Pembelajaran JUCAMA, Kemampuan Berpikir Kreati
Inovasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dalam Mengelola dan Melestarikan Cagar Budaya Majapahit
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah dan budaya. Sebelum indonesia merdeka, banyak kerajaan yang bediri di Indonesia. Salah satunya adalah kerajaan majapahit. Kerajaan yang cerdas secara politik dan santun secara sosial. Menghasilkan peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan khususnya di Trowulan Kabupaten Mojokerto. Masyarakat menyebutnya dengan bermacam-macam sebutan, antara lain benda kuno, benda antik, benda purbakala, monumen, peninggalan arkeologi atau peninggalan sejarah. Balai pelestarian Cagar Budaya adalah Instansi yang mengelola dan melestarikan cagar budaya. untuk itulah peneliti melakukan penelitian mengenai inovasi Balai Pelestarian Cagar Budaya dalam mengelola dan melestarikan cagar budaya Majapahit. Penelitian ini menggunakan teori inovasi yang dikemukakan oleh Everett M. Rogers untuk menganalisis inovasi Balai Pelestarian Cagar Budaya dalam mengelola dan melestarikan cagar budaya Majapahit. Untuk memperdalam pelaksanaan penelitian di lapangan dengan teori tersebut peneliti menggunakan jenis penelititan deskriptif kualitatif dan menggunakan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sebagai objek penelitian dan budayawan Trowulan sebagai subjek penelitian yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pengelolaan dan pelestarian cagar budaya Majapahit dengan cara perlindungan terhadap cagar budaya. Perlindungan meliputi dari penyelamatan dan pengamanan, pemeliharaan, pemugaran, pengembangan dan pemanfaatan, dokumentasi dan publikasi, dan pengelolaan informasi Majapahit. Sosialisasi cagar budaya terus dilakukan untuk dapat mengenalkan cagar budaya kepada masyarakat pada umumnya