Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
Not a member yet
    294 research outputs found

    Ulasan Buku: Sistem Berteologi Seluk Beluk Pengajaran Kristen

    No full text
    Dari sistem-sistem berteologi ini, penulis merumuskan tiga tujuan pembelajaran yaitu: Pertama, untuk melihat logika yang dibangun atas pengajaran keselamatan yang diajarkan dari firman Tuhan. Kedua, mampu melihat keragaman dan memberikan evaluasi atas perbedaan-perbedaan teologi itu. Ketiga, menerima perbedaan itu sebagai anugerah sepanjang tidak menyangkali prinsip dasar kekristenan, yaitu Kristus adalah Tuhan.Dari segi isi buku Sistem Berteologi memuat beragam pemikiran teologi mainstream yang berkembang dan dianut oleh berbagai aliran dan tradisi gereja yang ada dewasa ini termasuk di Indonesia. Pemikiran teologi yang dikemukakan dapat dilihat dalam sistematika berikut: Calvinisme (Teologi Reformed). Teologi Reformed muncul sebagai reaksi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam Gereja Katolik Roma pada abad ke-16. Penekanan Teologi Reformed dapat dilihat dari arti kata Reformed sendiri, yaitu “teologi Alkitab yang ditemukan kembali.” Dengan demikian, teologi Reformed mengembalikan pemahaman pada otoritas Alkitab sebagai firman Tuhan, kedaulatan Allah, dan keselamatan sebagai anugerah melalui Yesus Kristus. Gerakan reformasi oleh Martin Luther dan para reformator lainnya seperti Zwingli dan Calvin berpegang pada prinsip untuk mengembalikan gereja pada ajaran semula berdasarkan Alkitab dan menolak berbagai tradisi yang berakar dalam Gereja Roma Katolik yang dianggap menyimpang, yaitu menempatkan Paus sebagai kekuasaan tertinggi dalam gereja, penjualan karcis (surat) penebusan dosa, ajaran tentang Maria sebagai ratu surga dan ibu Tuhan, serta lain-lain. Martin Luther (1483-1546) merespon ajaran dan tradisi Gereja Katolik Roma dengan 95 dalil atau pernyataan iman, khususnya menyangkut keselamatan berdasarkan asas Sola Fide (hanya karena iman), manusia diselamatkan hanya karena iman yang diberikan berdasarkan anugerah-Nya (Sola Gratia). Ulrich Zwingli (1484-1531) melalui tulisan-tulisan dan khotbah-khotbah yang menekankan pengajaran Alkitab. Namun reaksi yang keras dilancarkan oleh petinggi Gereja Katolik Roma terhadap Zwingli dan pengikutnya yang menyebabkan pertempuran Kappel, di mana ia terbunuh bersama 500 orang Zurich lainnya

    PRINSIP-PRINSIP ETIKA MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BERDASARKAN ALKITAB

    No full text
    Alkitab sebagai sumber bagi dasar dan prinsip hidup Kristiani menjelaskan bahwa di dalam membimbing manusia untuk lebih mengenal Dia, Allah telah berperan sebagai pengajar. Perhatikan perintah-perintah Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya sebelum kenaikan-Nya ke Surga, yaitu “pergilah”, “jadikanlah semua bangsa muridku”, “baptislah”, dan “ajarlah”. Dengan kata lain ada tiga hal yang harus dilakukan murid Kristus, yaitu memberitakan Injil, membaptis, dan mengajar. Pendidikan Agama Kristen berhubungan dengan mengajar

    Fondasi Psikologis

    No full text
    Terdapat tiga bentuk keterlibatan pada kaum miskin. Pertama, kurang lebih terbatas, dalam bentuk kunjungan ke komunitas-komunitas orang miskin, pertemuan-pertemuan, pendampingan terbatas, dukungan terhadap komunitas-komunitas beserta gerakan-gerakan mereka. Kedua, kerja ilmiah, menjalankan penelitian, menyampaikan penalaran profetis, kritis-kreatif, yang didorong oleh keterlibatan praktis berkaitan dengan keprihatinanm komunitas tersebut. Ketiga, hidup di tengah rakyat dan bekerja bersama rakyat miski

    Prosiding Seminar Teologi Kitab Yunus

    Full text link
    Pesan teologis dan kisah nyata nabi Yunus mengajarkan penyertaan sempurna TUHAN dan memberikan anugerah keselamatan kepada bangsa-bangsa lain. Topik-topik yang menarik diangkat dalam seminar ini seperti tema pertobatan, doa, pengangungan, kedaulatan dan panggilan TUHAN bagi semua orang

    Siapakah Dia: Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal Dan Raja Damai? Studi Terhadap Makna Teks Yesaya 8:23-9:6

    No full text
    Panggilan dan pelayanan kenabian Yesaya berada dalam situasi genting seperti yang telah diungkapkan di atas. Akan tetapi penekanan nubuat Yesaya adalah kepada eksistensi dan atribut Tuhan Yang Mahakudus yang dapat dipercaya dan diandalkan. Bergantung kepada manusia sekuat atau sehebat apapun kekuasaannya hanya bersifat sementara dan cenderung membahayakan dalam waktu yang lama. Sedangkan bergantung pada Allah justru membawa damai sejahtera dan pemulihan. Dalam situasi genting, sendiri hadir dan bertindak untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel. Tuhan jugalah yang merupakan “Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai” yang dapat dipercaya dan diandalkan ketimbang raja-raja, kerajaan-kerajaan maupun orang-orang bijaksana. Bangsa Israel sebagai pendengar nubuat Yesaya maupun pembaca mula-mula Kitab Yesaya telah mendengar hal tersebut, sekalipun mereka “tidak mengerti, tidak menanggapi, tidak mendengar, menutup mata dan tidak melihat” (Yesaya 6:9-10). Bagi orang Kristen yang memercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi daging (Yohanes 1:14), disamping memiliki kekayaan yang melimpah dalam terang Perjanjian Baru untuk mengenal dan memahami pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus, juga terdapat Perjanjian Lama dengan kekayaan yang sama yakni sebagai kitab untuk menelusuri akar-akar inkarnasi Sang Juruselamat! Karena itu, sebetulnya pemberitaan firman Tuhan dari Yesaya 8:23-9:6 tidak melulu hanya disampaikan pada “musim perayaan Natal”, namun menjadi pemberitaan sepanjang masa dalam situasi sukacita terlebih dalam situasi genting. Karena Tuhan begitu mengasihi dan mempedulikan setiap situasi manusia dan ciptaan-Nya, bahkan seperti cinta orang muda; dengan “kasih yang cemburu”

    Conflict in the Church: the Uncomfortable Reality

    No full text
    The apostle Paul, writing to Timothy, said “If anyone sets his heart on being an overseer, he desires a noble task” (1 Tim. 3:1, NIV). The work is definitely noble but the task is not always easy. Timothy knew that because he was in the troubled church of Ephesus at the time when Paul wrote to him. Paul also knew that the ministry is difficult. Conflict is all too often a part of Christian ministry. In this brief article, we explore three kinds of conflict that a minister may encounter in the church. Paul was experienced in all of them and so I will focus our attention on his experience.Rasul Paulus menuliskan kepada Timotius, katanya “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (1 Tim. 3:1, ITB). Pekerjaan ini memang sangat mulia namun tugas ini tidak selalu mudah. Timotius mengetahui hal itu karena ia berada dalam gereja yang bermasalah di Efesus pada saat itu Paulus menuliskan surat ini kepadanya. Paulus juga tahu bahwa pelayanan ini tidaklah mudah. Konflik yang terjadi merupakan bagian dari pelayanan orang Kristen. Dalam artikel ini, kita menyelidiki tiga jenis konflik yang mungkin akan dihadapi seorang pelayan di gereja. Saat itu Paulus mengalami semua konflik tersebut dan penulis akan fokus memberikan perhatian pada pengalaman pelayanannya

    Identitas Kristen Dalam Realitas Hidup Berbelaskasihan: Memaknai Kisah Orang Samaria Yang Murah Hati

    No full text
    Pesan teks Lukas 10:25-37 sangat jelas yaitu kehidupan Kristen, bukanlah soal penampilan fisik (sebuah kehidupan yang membangun religiositas tanpa kekuatan spiritualitas). Identitas kehidupan Kristen didirikan pada dataran berbelaskasihan, maka sikap belas kasihan dalam ketulusan dan kerelaan adalah tiang kokohnya. Terciptanya kehidupan berbagi yang semakin menyentuh kedalaman kehidupan spiritualitas yang memulihkan, menghidupkan dan menyelamatkan adalah identitas hidup Kristen. Kekristenan menghadapi berbagai tantangan tidak hanya bergerak pada tataran konsep, tetapi memproklamasikan sikap yang membangun Perubahan hidup. Hal itu menegaskan bahwa kematangan konsep tentang kehidupan dengan sendirinya bermakna memberdayakan kehidupan senada dengan kematangan konsep tersebut. Belas kasihan orang Samaria yang nampak adalah akibat kepenuhan belas kasihan di dalam hatinya, atau melimpah ruah di dalam hatinya. Sangat paradoks apabila menegaskan diri rohani, tetapi sikap hidup jauh dari tabiat atau karakter hidup rohani tersebut.The message of Luke 10: 25-37 is very clear that the Christian life is not about appearances (a life that develops religiosity without spirituality). The identity of the Christian life is founded on the basis of mercy, thus the attitude of compassion accompanied by sincerity and willingness is one of its established pillars. This creation of a shared life which increasingly touches the depths of a spiritual life which restores, revives, and saves is the identity of a Christian life. Christianity faces various challenges that not only operate at the level of concepts, but also at the level of proclaimed attitudes which create life changes. This emphasizes that the maturity of this concept about the Christian life itself means an empowering life that is in line with the maturity of this concept. The mercy of the Samaritan which is visible in this text is due to the fullness of mercy in his heart, or the mercy that flows out from his heart. It is very oxymoronic if someone emphasizes that they are spiritual, but their attitudes are far from the nature and character of the spiritual life they claim to have

    Makna Tujuh Ungkapan Yesus Di Salib Bagi Orang Percaya

    No full text
    Tujuh perkataan Yesus di kayu salib merupakan tujuh ucapan yang mencakup seluruh pengajaran mengenai kasih Allah bagi manusia. Kasih yang sulit untuk dipahami, sulit untuk dimengerti secara tuntas karena ia melebihi kapasitas serta rasio pemikiran manusia yang terbatas. Pernyataan kasih itu disimpulkan sebagai berikut: Pertama, ucapan pengampunan yang diucapkan Yesus mengajarkan bahwa prinsip pengampunan adalah mengasihi musuh. Mendoakan dan mengharapkan dia bertobat serta mengampuni segala dosa-dosanya bukan berarti membiarkan dia berdosa terus menerus. Ucapan pengampunan yang diucapkan oleh Yesus ialah bukan supaya orang-orang yang didoakan diampuni tanpa pertobatan, tetapi supaya mereka diampuni melalui pertobatan. Kedua, dalam perkataan-Nya yang kedua, Yesus menjamin orang berdosa yang bertobat dan percaya kepada-Nya akan bersama-sama dengan Dia di Firdaus. Seruan jaminan kepastian yang diucapkan Yesus merupakan bentuk kasih yang menyelamatkan. Ketiga, Yesus adalah Allah yang peduli terhadap penderitaan umat yang dikasihi-Nya. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan memiliki tanggung jawab untuk melakukan segala perintah Tuhan dan dalam segala hal mengasihi sesama. Keempat, Seruan ini mengajarkan mengenai kuasa dosa yang dahsyat sehingga Allah Bapa merelakan Anak-Nya yang sangat Ia kasihi, memikul beban dosa tanpa pertolongan dan perlindungan. Kelima, ucapan kelima inilah satu-satunya ucapan yang berhubungan dengan kesakitan jasmani yang Ia ucapkan dari atas kayu salib. Rasa haus Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia. Ia adalah sumber air hidup yang rela menderita agar dapat menyelamatkan mereka yang datang kepada-Nya. Keenam, ucapan keenam ini bukanlah teriakan kekalahan, melainkan teriakan kemenangan. Ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa hingga akhir hidup-Nya menandakan kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia. Inilah kasih yang taat sampai mati. Ketujuh, ucapan terakhir Yesus menjelang kematian-Nya adalah sebuah doa. Di dalam doa-Nya itu Ia mengajarkan orang percaya bagaimana menghadapi kematian. Bentuk kasih yang penuh, terkandung di dalam penyerahan total kepada Allah.The seven statements of Jesus on the cross are seven declarations which encompass all the teachings about God's love for people. This love is difficult to comprehend, difficult to completely understand because it is beyond the limited capacity, including the reasoning ability of man. These statements can be summarized as follows: First, the pronunciation of forgiveness which Jesus uttered teaches that a principle of forgiveness is loving one's enemies. Praying and hoping that they repent, as well as forgiving all of their sins, does not mean allowing them to continue to sin. Jesus' statement about forgiveness was not so that people which are prayed for are forgiven without repentance, but that they are forgiven through repentance. Second, Jesus guarantees that the sinner that repents and believes in him will be together with him in Paradise. Jesus' statement of certain assurance shows the nature of saving love. Third, Jesus is the God who cares about the sufferings of his people whom he loves. People which genuinely love the Lord have a responsibility to obey all of the Lord's commands and in everything love their fellow man. Fourth, the fourth appeal teaches about the power of sin which is so devastating that God the Father offered his beloved Son to shoulder the burden of sin without help or support. Fifth, this fifth cry is the only utterance which he makes from the cross which makes reference to his physical pain. Jesus' thirst shows that he really is man. He is the source of living water who is willing to suffer in order to save those who come to him. Sixth, the sixth declaration is not a cry of defeat, but rather a cry of victory. His obedience to the will of his Father until the end of his life shows the greatness of his love toward people. This is love that is obedient until death. Seventh, the final statement of Jesus before his death is a prayer. In his prayer, he teaches believers how to face death. The nature of a love that is comprehensive is contained in complete surrender to God

    Kajian Teologis Tentang Penyembahan Berdasarkan Injil Yohanes 4:24

    No full text
    Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui arti penyembahan berdasarkan Injil Yohanes 4:24, implikasi teologis tentang penyembahan, dan sikap dan cara menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Penyembahan yang sejati menurut Alkitab adalah menyembah Allah yang benar di dalam roh yang diperbarui oleh Roh Kudus dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah yaitu mengenal pribadi Yesus sebagai air hidup. Implikasi teologis biblika adalah Allah adalah Roh maka Allah harus disembah di dalam roh (batiniah yang diperbarui oleh Roh Kudus), dan bukan disembah secara lahiriah saja atau yang tampak secara jasmani. Allah saja yang harus disembah oleh manusia, tidak ada yang lain. Secara praktis orang percaya harus menyembah Allah dengan sikap yang benar dibarui oleh Roh Kudus dan hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. Sikap penyembahan yang benar adalah sikap hati yang memuliakan Tuhan karena pengorbanan-Nya yang menyelamatkan di mana setiap orang percaya menyembah satu-satunya Juruselamat dan memberitakan-Nya dalam kehidupan orang percaya.The purpose of this article is to understand the meaning of worship based on John 4:24, the theological implication concerning worship and the attitudes and the manner of worshipping the Father in spirit and in truth. True worship from a biblical viewpoint is worshipping the true God with a spirit that is renewed by the Holy Spirit and living in accordance with the truth of God, that is, to know Jesus personally as the Living Water. The implication for biblical theology is that God is Spirit, so God is worshiped in spirit (the inner being that is renewed by the Holy Spirit), and not only worshiped outwardly, in a physical manner. It is God alone that should be worshiped by human beings, there is no other. In practice believers should worship God with a right attitude that is renewed by the Holy Spirit and live in concordance with His righteousness. The attitude of true worship is an attitude of the heart that glorifies the Lord because of His sacrifice that saves, where believers worship the one and only Savior and tell the world about Him

    Peran Pembina Remaja Bagi Perkembangan Perilaku Remaja Di Gereja Kemah Injil Indonesia Tanjung Selor Kalimantan Utara

    No full text
    Tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menemukan sejauh mana peranan seorang pembina remaja bagi perkembangan perilaku remaja.Penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis ialah mengadakan kajian pustaka dengan mengumpulkan data melalui buku-buku dan internet, mengadakan observasi langsung di lapangan dan wawancara kepada objek kajian yaitu para pembina remaja beserta orangtua dan gembala serta pekerja setempat.Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah peranan seorang pembina remaja dalam perkembangan perilaku remaja yaitu sebagai konselor, sebagai pemimpin yang memiliki visi, sebagai pemimpin rohani, sebagai sahabat, dan sebagai pendoa syafaat. Dengan demikian pembina remaja dapat menghasilkan: Pertama, remaja yang memiliki kualitas pengetahuan firman Tuhan yang baik dan benar sehingga remaja dapat menjalani kehidupan masa remajanya tanpa adanya Perubahan perilaku yang menuju pada arah yang negatif. Kedua, dapat dijadikan sebagai acuan yang baik bagi pembina remaja selanjutnya dan dapat mendorong orang tua melakukan hal yang sama pada remaja saat berada dirumah. Ketiga, dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak remaja saat mengalami perilaku yang berbeda dan mereka tahu pada siapa dapat mencurahkan masalah yang sedang dihadapinya.Kata Kunci: Peran, Pembina Remaja, Perilaku RemajaThe aim of this article is to explore the extent to which the role of a teen mentor impacts the development of youth behavior. This work uses qualitative methods. The author uses a data collection technique, conducting a literature review through gatheringdata from books and the internet, direct field observations, and interviews with research subjects that are all teen mentors, including parents, pastors and local workers. The conclusion of this article is that the role of a youth mentor in the flourishing of adolescent behavior is as a counselor, visionary leader, spiritual leader, friend, and intercessor. Thus a teen mentor can yield several outcomes: First, teens who possess a good and correct knowledge of the God's Word, so that they are able to live their teen years without a change in behavior that inclines toward the negative. Second, a good example for future youth mentors and encouragement for parents to do the same while the teens are in the home. Third, foster a teen's self-confidence when they experience different behaviors, as the teen knows they have someone with whom they can share the problems which they are facing

    73

    full texts

    294

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇