Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
Not a member yet
294 research outputs found
Sort by
Peran Orang Tua Sebagai Keluarga Cyber Smart Dalam Mengajarkan Pendidikan Kristen Pada Remaja GKII Ebenhaezer Sentani Jayapura Papua
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui peran orangtua dalam mengajarkan Pendidikan Agama Kristen kepada remaja. Penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kajian pustaka, penyebaran angket tertutup kepada orang tua dan remaja serta melakukan wawancara terhadap objek kajian. Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah peran orangtua dalam mengajarkan Pendidikan Agama Kristen kepada remaja yaitu mengajarkan firman Tuhan, menjadi pendidik, menjalankan disiplin, menjadi teladan bagi remaja dan menciptakan keluarga cyber smart. Peran orang tua menjadi penentu kehidupan masa remaja anak. Orang tua yang dapat mengerti dan memahami perannya dengan baik akan menuntun remaja kepada jalan yang benar seperti yang dikehendaki oleh Tuhan sebaliknya, orang tua yang tidak memahami perannya dengan baik di dalam keluarga akan kehilangan anak remajanya di era globalisasi ini
Pengaruh Low Self-Esteem Terhadap Keintiman SuamiIstri: Suatu Studi Kasus Suami Istri
Studi kasus konseling Kristen untuk mengetahui pengaruh Low Self-Esteem terhadap keintiman suami istri pada beberapa kasus. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah: Pertama, masalah suami-istri ini tidaklah sederhana. Apalagi krisis ini telah berlangsung selama lebih 8 tahun. Namun bagaimanapun keluarga Kristen selalu memiliki hope di dalam Kristus. Salah satu tugas penting bagi BS dan pasangannya adalah membangun self-esteem, dari low self-esteem ke self-esteem yang lebih sehat (healthy self-esteem). Kedua, BS dan istrinya perlu belajar untuk lebih terbuka satu dengan lainnya. Selama pengalaman konseling dengan keluarga ini, saya memperhatikan hanya istrinya yang terbuka. BS sangat tertutup, dan segan mengungkapkan isi hatinya. Dalam hal ini BS memang masih memerlukan bantuan, terutama dari pasangannya, untuk lebih dapat terbuka. Ketiga, alangkah baiknya jika mereka terus mengikuti bimbingan dalam marriage enrichment. Gereja seharusnya menciptakan atau mengkondisikan gereja sebagai the healing community; salah satu wujudnya adalah dengan menciptakan kelompok kecil yang teraupetik bagi keluarga-keluarga yang ada dalam jemaat tersebut
Hubungan Kompetensi Sosial Guru Kristen Terhadap Perkembangan Karakter Siswa: Tantangan Pendidikan Kristen Dalam Mencerdaskan Youth Generation
Tulisan ini bertujuan melihat hubungan kompetensi sosial guru Kristen dan karakter siswa melalui penelitian yang dapat menjawab tantangan pendidikan Kristen dalam mencerdaskan generasi muda yang dikenal juga sebagai Youth Generation (Generasi Y). Pengaruh kompetensi sosial guru yang mencakup kemampuan berkomunikasi, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengetahuan umum yang dapat memengaruhi karakter siswa yang berdampak pada kecerdasan siswa. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru Kristen untuk penguasaan teknologi informasi dan komunikasi perlu ditingkatkan supaya guru dapat memberi pengaruh positif terhadap perkembangan siswa dan pergaulan yang efektif guru-siswa melalui komunikasi, teknologi informasi dapat mencapai tujuan pendidikan Kristen
“John a. MacMillan: Pioneer Missionary of Spiritual Warfare and the Believer's Authority”
Many people associate teaching on spiritual warfare and the authority of the believer from charismatic or Word of Faith sources, especially like Kenneth Hagin. However, the original source of teaching on this doctrine comes from classic holiness roots in the Higher Life and Keswick movements, especially from John A. MacMillan, a missionary, writer, editor, and professor with the Christian and Missionary Alliance. In 1932 he wrote a series of articles entitled “The Authority of the Believer,” eventually published in book form, distributed widely and republished in other periodicals. MacMillan had a remarkable and extensive ministry in the exercise of the authority of the believer and spiritual warfare spanning more than thirty years. His experiences include divine protection, healing, divine intervention, power encounters with demonic forces, and teaching on territorial spirits and generational bondages. Numerous evangelical and charismatic leaders have quoted or referred to his teachings and principles.Banyak orang mengasosiasikan pengajaran peperangan rohani dan otoritas orang percaya dari karismatik atau sumber Firman Iman, terutama seperti Kenneth Hagin. Namun, sumber asli dari pengajaran doktrin ini berasal dari akar kekudusan klasik dalam gerakan Higher Life dan Keswick, terutama dari John A. MacMillan, seorang misionaris, penulis, editor, dan profesor dengan Christian and Missionary Alliance. Pada tahun 1932 ia menulis serangkaian artikel yang berjudul “Otoritas orang percaya,” akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku, didistribusikan secara luas dan diterbitkan di majalah lainnya. MacMillan memiliki pelayanan yang luar biasa dan luas dalam pelaksanaan otoritas orang percaya dan peperangan rohani yang lebih dari tiga puluh tahun. Pengalamannya termasuk perlindungan ilahi, penyembuhan, campur tangan ilahi, pertemuan kuasa dengan kekuatan jahat, dan pengajaran tentang roh teritorial dan perbudakan generasi. Banyak pemimpin injili dan karismatik telah mengutip atau memakai ajaran dan prinsip-prinsipnya. Kata
Pandangan Teologi Reformed Mengenai Doktrin Pengudusan Dan Relevansinya Pada Masa Kini
Artikel ini membahas mengenai pandangan teologi Reformed mengenai Doktrin Pengudusan (Sanctification) dan relevansinya pada masa kini. Teologi Reformed memandang konsep pengudusan sebagai bagian integral dari doktrin keselamatan (soteriologi) yang merupakan karya anugerah Allah yang menjadikan orang pilihan yang kemudian memercayai Yesus Kristus sebagai “orang kudus” (pengudusan definitif) serta berkesinambungan dalam proses kehidupan orang percaya tersebut untuk menghidupi kekudusan dalam kehidupan setiap hari melalui pertumbuhan iman dalam Kristus yang akan berlangsung seumur hidup (pengudusan progresif). Hal ini juga yang menjadi paradoks dalam soteriologi Reformed bahwa pengudusan bersifat monergis (pengudusan definitif) sekaligus sinergis (pengudusan progresif). Dengan demikian, soteriologi Reformed tidak sekedar konsep yang ideal dan filosofis seperti yang tersirat dalam slogan Sola Christo, Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, namun juga bersifat praktis yang melibatkan pengalaman hidup setiap orang percaya dengan Tuhan (Sola Expierientia)
Analisis Kata Menō Berdasarkan Surat 1 Yohanes
Tujuan penulisan ini adalah mengetahui makna kata menō dalam surat 1 Yohanes melalui pendekatan studi eksegesis yaitu analisis leksikal, analisis grammatikal, analisis konteks dan analisis historis. Perjanjian Baru menggunakan kata menō digunakan dalam hubungan dengan Allah, berarti menekankan sifatnya, sementara dalam hubungan dengan doktrin Kristen, kata ini digunakan secara kiasan menunjuk kepada ketetapan hidup sebagai umat yang diselamatkan. Secara grammatikal, bentuk yang menyatakan bahwa suatu tindakan (peristiwa) sedang terjadi, subjeknya melakukannya secara aktif dan tindakan/peristiwa itu merupakan suatu realitas. Penulis surat ini, Yohanes menyatakan dengan serius bahwa hal yang paling mungkin bagi seseorang untuk tinggal dalam Anak dan Bapa adalah harus tetap tinggal di dalam firman yang “telah kamu dengar dari mulanya.” Sedangkan pendekatan analisis konteks arti menō adalah orang yang lahir dari Allah dan berada di dalam Dia memiliki potensi untuk menjauhkan diri dari dosa karena benih ilahi tinggal tetap di dalamnya dan karena mereka mengenal Dia. Dalam konteks historis penggunaan kata menō yang di dalamnya terkandung pengajaran dan nasihat yang mendasar mengenai doktrin dan praktika hidup Kristen jelas menunjukkan bahwa secara historis teologis kata ini merupakan kata yang penting dalam pergumulan iman dan perkembangan doktrin dalam komunitas Kristen mula-mula
Pemimpin Dan Media: Misi Pemimpin Membawa Injil Melalui Dunia Digital
Pemimpin di dunia digital berbicara tentang kesiapan memasuki media yang baru dengan pesan yang sama yaitu membawa nilai-nilai kekekalan firman Tuhan kepada manusia. Dunia tidak bisa lagi dipisahkan antara dunia nyata dan dunia digital. Itu sebabnya seharusnya pemimpin tidak lagi menyebut dunia digital sebagai dunia maya karena itu berarti sesuatu yang tidak nyata lagi. Revolusi komunikasi seperti ini mewajibkan pemimpin untuk mengambil tindakan drastis dalam melaksanakan pelayanan gereja dan mulai memberikan perhatian dan tenaga yang serius di dunia digital. Pelayanan di dunia digital sama nyatanya dengan pelayanan di dunia sehari-hari maka gunakan semua bentuk media untuk menyebarkan nilai-nilai kekekalan
Prosiding Seminar Kitab Rut
Tema-tema dalam kitab Rut memberikan keunikan tersendiri dengan alur cerita kematian anak-anak Naomi yang mengisahkan Rut
memilih Allah Naomi dan akhirnya menikah dengan “penebus” Boas yang yang pada akhirnya terjalin cerita dalam silsilah Daud hingga kepada Yesus Kristus yang adalah Penebus dosa umat manusia. Pesan teologis yang terjalin dalam sejarah penebusan dalam kitab Rut tentang kasih setia Allah dan pemeliharaan-Nya sepanjang sejarah kepada bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain yang memercayai Allah terungkap secara mendalam dalam kisah kitab Rut
Pengenaan Manusia Baru Di Dalam Kristus: Natur, Proses, Dan Fakta Serta Implikasi Teologis Dan Praktisnya
Natur orang percaya menjadi manusia baru adalah sekali untuk selama-lamanya, namun proses untuk menjadi manusia baru adalah peristiwa yang terus-menerus diperbarui untuk serupa dengan gambar-Nya yang sesuai dengan kehendak-Nya. Faktanya orang percaya memiliki status manusia baru yang menjalani kehidupan manusia baru. Implikasi teologis pengenaan manusia baru dalam Kristus adalah orang percaya terus-menerus diperbarui oleh Roh Kudus untuk menjadi ciptaan yang baru yang serupa dengan gambar-Nya.Roh Kudus memeteraikan orang percaya dan mengerjakan keselamatan orang percaya menjadi manusia baru. Implikasi praktis pengenaan manusia baru dalam Kristus adalah tanggung jawab orang percaya yang memahami status baru di dalam Kristus untuk menyatakan kebenaran, menjadi berkat bagi orang lain, menyenangkan Roh Kudus dan mengenakan kasih di dalam Kristus
Pengaruh Cyberbullying Di Media Sosial Terhadap Perilaku Reaktif Sebagai Pelaku Maupun Sebagai Korban Cyberbullying Pada Siswa Kristen SMP Nasional Makassar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cyberbullying terhadap perilaku reaktif sebagai pelaku sekaligus sebagai korban cyberbullying pada siswa. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei dengan mengambil sampel sebanyak 40 orang dari SMP Nasional Kota Makassar. Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa SMP kelas VII sampai kelas IX karena tanggap terhadap teknologi dan pada masa ini terjadi Perubahan secara fisik dan psikis yang membawa siswa pada suatu fase yang disebut masa transisi, labil, mencari identitas dan mencari public figure. Hasil dari penelitian ini adalah terbuktinya hipotesis bahwa ada pengaruh antara perilaku pelaku cyberbullying dengan perilaku reaktif siswa Kristen korban cyberbullying dengan signifikansi 0,037<0,05. Dengan demikian jelas bahwa bila makin tinggi perilaku reaktif pelaku maka makin tinggi pula perilaku reaktif korban. Semakin rendah perilaku reaktif pelaku maka makin rendah pula perilaku reaktif korban cyberbullying