Society
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Manajemen Strategis Penanganan Tahanan Teroris di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Batu Nusakambangan
Terrorism crimes are an extraordinary crime where treatment and method require special strategic management. Strategic management for treatment the terrorist prisoners is one of the programs of the Directorate General of Correctional Affairs, Ministry of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia, namely the management of human resources through the efforts of deradicalization for terrorist prisoners, especially in the Super Maximum Security of Correctional Institution. This research aims to provide strategic management for treatment the terrorist prisoners and the implementation of correctional institution' deradicalization programs for terrorist prisoners. This research was qualitative descriptive research. Data collection techniques using direct observation techniques in Focus Group Discussions, as well as in-depth interviews with the Head of Class 1 Correctional Institution of Batu Nusakambangan and terrorist prisoners as research objects. The results of this research indicate that the strategic management for treatment the terrorist prisoners was not completely relevant to the Regulation of the Minister of Law and Human Rights Number 35 of 2018 and the implementation for treatment the terrorist prisoners in Class 1 Correctional Institution of Batu Nusakambangan are still very limited. There were still constraints to implementing guidelines for special prisoners of terrorist in terms of socializing regulations, human resources, and infrastructure for special treatment for terrorist prisoners.Kejahatan terorisme adalah kejahatan luar biasa di mana penanganan dan metode memerlukan manajemen strategis khusus. Manajemen strategis untuk menangani narapidana teroris adalah salah satu program Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yaitu pengelolaan sumber daya manusia melalui upaya deradikalisasi bagi napi teroris, terutama di Lembaga Pemasyarakatan dengan keamanan super maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan manajemen strategis untuk penanganan narapidana teroris dan implementasi program deradikalisasi lembaga pemasyarakatan untuk narapidana teroris. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi langsung dalam Focus Group Discussion, serta wawancara mendalam dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Batu Nusakambangan dan narapidana teroris sebagai objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen strategis untuk penanganan narapidana teroris tidak sepenuhnya relevan dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 35 tahun 2018 dan implementasi untuk penanganan narapidana teroris di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Batu Nusakambangan masih sangat terbatas
Konstruksi Pendidikan Karakter dalam Budaya Mandailing dan Angkola di Provinsi Sumatera Utara
This research aims to describe the construction and character education model in Mandailing and Angkola tribes in North Sumatra Province. This research uses a qualitative method with a case study approach, a research method on individuals, groups, organizations, and specific institutions. Instruments or data collection tools used in this research are (1) observation; (2) in-depth interview; (3) document study. This research uses a method known as ethnography or participant observation. The result shows that Mandailing and Angkola tribes’ characters building through 1) Socialization, 2) Enculturation, and 3) Internalization. Socialization including education, clarification, and motivation. Meanwhile, enculturation including imitation, habituation, and evaluation. Construction of education in Mandailing and Angkola tribes through habits, traditions, culture, and Islamic values. Character building in children is an effort to encourage self-awareness and concern for tradition, culture, and preserve local wisdom to sustain from generation to generation. Also, several efforts to preserve culture have been made by collaborating with schools, traditional and religious leaders to combine local wisdom and culture into schools’ curriculum and extracurricular activities.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi dan model pendidikan karakter pada Suku Mandailing dan Angkola di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yaitu metode penelitian terhadap individu, kelompok, organisasi, dan institusi tertentu. Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Observasi; (2) Wawancara Mendalam; (3) Studi Dokumen. Penelitian ini menggunakan metode yang disebut etnografi atau observasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan karakter Suku Mandailing dan Angkola melalui 1) Sosialisasi, 2) Enkulturasi, dan 3) Internalisasi. Sosialisasi meliputi pendidikan, klarifikasi, dan motivasi. Sedangkan enkulturasi meliputi peniruan, habituasi, dan evaluasi. Konstruksi pendidikan pada suku Mandailing dan Angkola melalui kebiasaan, tradisi, budaya, dan nilai-nilai Islam. Membangun karakter pada anak merupakan upaya mendorong kesadaran diri dan kepedulian terhadap tradisi, budaya, serta melestarikan kearifan lokal agar berkelanjutan secara turun-temurun. Selain itu, berbagai upaya pelestarian budaya telah dilakukan bekerja sama dengan sekolah, tokoh adat dan tokoh agama untuk memadukan kearifan dan budaya lokal ke dalam kurikulum sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler
Lembaga Wali Nanggroe: Peran, Fungsi dan Strategi Resolusi Konflik Aceh Pasca Perdamaian
Wali Nanggroe Institution is an institution of cultural authority as the unifier of the people that is independent, authoritative, and has the authority to develop and oversee the implementation of the life, adat (custom), language, the award of titles and honors, and adat rites. This research was conducted in Banda Aceh city using a qualitative method. The concept used was Wali Nanggroe, the theories of strategy, conflict resolution, and political communication theories to resolve local conflicts and analyze Wali Nanggroe neutrality in resolving conflicts in Aceh. The data were obtained by observation technique and interview (questionnaires and voice records). The results found that the Wali Nanggroe Institution does not implement a strategy in resolving conflicts both local conflicts and other conflicts in local institutions. Also, Wali Nanggroe does not hold political communication to resolve the conflicts. Besides, as a mediator, Wali Nanggroe is unfair to resolve the conflicts among local institutions due to some causes; emotional attachment between Wali Nanggroe and Members of Parliament at Aceh Provincial House of Representatives (DPRA) from Aceh Party Faction, tend to maintain the reign of Wali Nanggroe, and procedural problems in Wali Nanggroe election.Lembaga Wali Nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat yang independen, berwibawa, dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, bahasa dan pemberian gelar/derajat, dan upacara-upacara adat lainnya. Penelitian ini dilakukan di kota Banda Aceh dengan menggunakan metode kualitatif. Konsep yang digunakan adalah Wali Nanggroe, teori strategi, resolusi konflik, dan teori komunikasi politik untuk menyelesaikan konflik lokal dan menganalisis netralitas Wali Nanggroe dalam menyelesaikan konflik di Aceh. Data diperoleh dengan teknik observasi dan wawancara (kuesioner dan rekaman suara). Hasil penelitian menemukan bahwa Lembaga Wali Nanggroe tidak menerapkan strategi resolusi konflik baik konflik lokal maupun konflik lain di kelembagaan lokal. Selain itu, Wali Nanggroe tidak melakukan komunikasi politik untuk menyelesaikan konflik. Selain itu, sebagai mediator, Wali Nanggroe kurang adil dalam menyelesaikan konflik antar lembaga lokal karena beberapa sebab; keterikatan emosional antara Wali Nanggroe dengan anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, cenderung mempertahankan kekuasaan Wali Nanggroe, dan masalah prosedural dalam pemilihan Wali Nanggroe
Praktik Sosial antara Orang dengan Masalah Kejiwaan dengan Relawan Griya Schizofren di Griya PMI (Palang Merah Indonesia) Peduli Surakarta
This research discusses the social practices carried out by Griya Schizofren to address individuals with mental illness who are often disadvantaged due to the negative stigma of their illness. This research uses a phenomenological approach. Data were collected from observations, interviews, and documentation. The results show that Griya Schizofren, to reduce the stigma against individuals with mental illness, established social, economic, cultural, and symbolic relations with those who lived in Griya PMI Peduli (Indonesian Red Cross) Surakarta through voluntary activities for individuals with mental illness. Social welfare activities in individuals with mental illness had shifted to business activity that opened a new field. The habitus of individuals with mental illness positively developed. Griya Schizofren restructured individuals with mental illness in a new layer of the community by promoting it as a society that can work within its limitations and produce products demanded by the community in the form of wedding souvenirs. Field of Griya PMI Peduli became a more humane environment as the shelter for abandoned individuals with mental illness. It also proved that total institution is no longer a frightening but collaborative field for capital exchange. Hence, using the theory of Piere Bourdieu, this research can answer how the stigma can be unfolded through works and capital exchange.Penelitian ini membahas tentang praktik sosial yang dilakukan Griya Schizofren dalam menyikapi orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) yang seringkali dirugikan akibat stigma negatif terhadap penyakitnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Griya Schizofren, untuk mengurangi stigma terhadap ODMK, menjalin hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik dengan mereka yang tinggal di Griya PMI (Palang Merah Indonesia) Peduli Surakarta melalui kegiatan sukarela untuk ODMK. Kegiatan kesejahteraan sosial pada individu dengan gangguan jiwa telah bergeser ke kegiatan usaha yang mengakibatkan terbukanya lapangan pekerjaan baru. Habitus ODMK berkembang positif. Griya Schizofren menata kembali ODMK di lapisan baru masyarakat dengan mempromosikannya sebagai masyarakat yang dapat bekerja dalam keterbatasan dan menghasilkan produk yang diminati masyarakat berupa souvenir pernikahan. Griya PMI Peduli Surakarta menjadi lingkungan yang lebih manusiawi sebagai tempat bernaung bagi ODMK yang terlantar. Hal ini juga membuktikan bahwa institusi total bukan lagi medan yang menakutkan tetapi kolaboratif untuk pertukaran modal. Oleh karena itu, dengan menggunakan teori Piere Bourdieu, penelitian ini dapat menjawab bagaimana stigma tersebut dapat diungkap melalui karya dan pertukaran modal
Analisis Indikator Makroekonomi dan Pengaruhnya terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
This research aims to determine the effect of inflation, per capita income. The method used is a quantitative method with a descriptive approach. The data analysis technique uses multiple linear regression models, which are continued by the classical assumption test. This research uses secondary data, precisely ten years of time-series data from 2010-2019 obtained from the Central Bureau of Statistics, books, literature, the internet, records, and other sources related. The research sample consisted of 40 data taken per quarter, from 2010-2019. The analytical method used in this research is multiple linear regressions. The results showed that inflation had a negative and insignificant effect on Human Development Index (HDI). In contrast, per capita income and unemployment had a negative and significant effect on Human Development Index (HDI). Inflation, per capita income, and unemployment significantly affected the Human Development Index (HDI) in Ternate City. The independent variable’s determination (R Square) on the dependent variable is 0.836 or 83.6%. It means inflation, per capita income, and unemployment can affect the Human Development Index (HDI) in Ternate City at 83.6%, remaining 16.4% by other factors.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap pendapatan per kapita. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik analisis data menggunakan model regresi linier berganda yang dilanjutkan dengan uji asumsi klasik. Penelitian ini menggunakan data sekunder, tepatnya data time series sepuluh tahun dari tahun 2010-2019 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, buku-buku, literatur, internet, arsip, dan sumber lain. Sampel penelitian terdiri dari 40 data yang diambil per triwulan, dari tahun 2010-2019. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sebaliknya, pendapatan perkapita dan pengangguran berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Inflasi, pendapatan per kapita, dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Ternate. Penentuan variabel independen (R Square) terhadap variabel dependen sebesar 0,836 atau 83,6%. Artinya, inflasi, pendapatan perkapita, dan pengangguran dapat mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Ternate sebesar 83,6%, sisanya 16,4% oleh faktor-faktor lain
Kinerja Manajerial di Universitas Negeri Manado Dalam Hal Implementasi Sistem Pengendalian Intern dan Komitmen Organisasi
This research examines the internal control system implementation and organizational commitment effects on managerial performance at Universitas Negeri Manado empirically. This research uses the descriptive quantitative method, while the analysis method uses descriptive analysis. This research uses primary data by collecting research instruments in questionnaires, observation, and interviews. The target population is the management and staff of Universitas Negeri Manado. The sampling method using simple random sampling and the number of questionnaires that meet the processed requirements is 75 questionnaires. This research uses IBM SPSS Statistics software to test the collected data. Hypothesis testing uses the path analysis method. This research shows that internal control system implementation has a significant positive effect on managerial performance. Likewise, organizational commitment partially has a positive effect on managerial performance. Overall, internal control system implementation and organizational commitment positively and significantly affect managerial performance at Universitas Negeri Manado.Penelitian ini menguji pengaruh implementasi sistem pengendalian intern dan komitmen organisasi terhadap kinerja manajerial di Universitas Negeri Manado secara empiris. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, sedangkan metode analisisnya menggunakan analisis deskriptif. Penelitian ini menggunakan data primer dengan mengumpulkan instrumen penelitian berupa kuesioner, observasi, dan wawancara. Populasi sasaran adalah pimpinan dan pegawai Universitas Negeri Manado. Metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dan jumlah kuesioner yang memenuhi persyaratan yang diolah sebanyak 75 kuesioner. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics untuk menguji data yang dikumpulkan. Pengujian hipotesis menggunakan metode analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi sistem pengendalian intern berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial. Demikian pula komitmen organisasi secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Secara keseluruhan implementasi sistem pengendalian intern dan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial di Universitas Negeri Manado
Partisipasi Masyarakat dalam Ketentraman dan Ketertiban Umum di Desa Imandi, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow
This study aims to analyze and describe the public participation level and the factors supporting and inhibiting public participation in maintaining peace and order in Imandi Village. This research uses a descriptive qualitative research method. This research was located in Imandi Village, East Dumoga Subdistrict, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Province, Indonesia. The results showed that: 1) The Imandi Village community’s participation is still not well implemented. Therefore, it will be better to maintain public peace and order in the village if it starts from individuals as small community units. It allows the realization of solidarity, which will significantly affect group members or community members in public peace and order implementation. 2) Efforts to motivate people to participate through Mapalus (mutual assistance activities) need leaders who can be role models. Village community leaders can be the key motivator in mutual assistance activities, but the government’s participation is required. (3) The village government and its apparatus must continue to managing and fostering community members, especially in multicultural communities, to prevent the disruption of public peace and order.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan tingkat partisipasi masyarakat serta faktor-faktor pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat dalam menjaga ketentraman dan ketertiban di Desa Imandi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini berlokasi di Desa Imandi, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Peran serta masyarakat Desa Imandi masih belum terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk menjaga ketentraman dan ketertiban umum di desa jika dimulai dari individu-individu sebagai kesatuan masyarakat kecil. Hal ini memungkinkan terwujudnya solidaritas, yang secara signifikan akan mempengaruhi anggota kelompok atau anggota masyarakat dalam pelaksanaan ketentraman dan ketertiban umum. 2) Upaya memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi melalui Mapalus (kegiatan gotong royong) membutuhkan pemimpin yang dapat menjadi panutan. Tokoh masyarakat desa dapat menjadi motivator dalam kegiatan gotong royong, namun diperlukan peran serta pemerintah. (3) Pemerintah desa dan perangkatnya harus terus membina dan memberdayakan masyarakat, khususnya dalam masyarakat multikultural, untuk mencegah terganggunya ketentraman dan ketertiban umum
Stres Akulturatif pada Mahasiswa Internasional di Universitas Airlangga - Indonesia
Globalization and the development of modern education systems make foreign students more important in higher education. In Indonesia, in recent years the number of international students has increased. International students, supervisors, and institutions are trying to identify possible ways that can help foreign students adapt to the Indonesian environment, which has its uniqueness. This research aims to investigate the level of acculturative stress experienced by international students of Airlangga University, Indonesia. Specifically, it focused on international students of master programs originating from countries on the African continent. This research was quantitative research. Participants in this research were 40 students. Participants were selected using a purposive sampling technique. The questionnaire was used to collect data and the results were analyzed using SPSS software. Acculturative Stress Scale for International Students (ASSIS) was used to determine the homesickness experienced by the participants. This research found that significant positive acculturative stress among international students (SD=23.87333), (mean=3.00) on homesickness. The result shows that international students experience homesickness because of not having experience living in a different culture and country. The results showed that African students are experiencing high homesickness.Globalisasi dan perkembangan sistem pendidikan yang modern menjadikan mahasiswa asing menjadi lebih penting dalam pendidikan tinggi. Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir jumlah mahasiswa internasional mengalami peningkatan. Mahasiswa internasional, supervisor/promotor, dan institusi sedang mencoba mengidentifikasi cara-cara yang memungkinkan dapat membantu mahasiswa asing menyesuaikan diri dengan lingkungan Indonesia, yang memiliki keunikan tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki tingkat stres akulturatif yang dialami oleh mahasiswa internasional Universitas Airlangga, Indonesia. Secara khusus, fokus penelitian ini adalah mahasiswa internasional program magister yang berasal dari negara-negara di benua Afrika. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 40 mahasiswa. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Acculturative Stress Scale for International Students (ASSIS) digunakan untuk menentukan homesickness yang dialami partisipan. Penelitian ini menemukan bahwa stres akulturatif positif yang signifikan di antara mahasiswa internasional (SD = 23,87333), (mean = 3,00) pada homesickness. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa internasional mengalami homesickness karena tidak memiliki pengalaman hidup dalam budaya dan negara yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Afrika mengalami homesickness yang tinggi
Towards Social Entrepreneurship in the Village through Village-Owned Enterprises
Kewirausahaan sosial adalah konsep penting untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Konsep ini mengacu pada adanya dedikasi individu, yang memiliki karakter pemimpin, yang bekerjasama dengan masyarakatnya secara aktif, untuk mewujudkan kesejahteraan kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui kewirausahaan sosial. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Hasil observasi kemudian dianalisis, digabungkan dan diperkaya dengan data sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa BUMDes merupakan sebuah lembaga di daerah pedesaan, yang memiliki peran yang penting dalam mendorong dan mendukung prinsip-prinsip kewirausahaan sosial di masyarakat pedesaan. Namun, berbagai kegiatan dan inovasi BUMDes belum memberikan perubahan signifikan bagi desa seperti peluang kerja bagi pemuda desa serta bermacam-macam kegiatan ekonomi di daerah pedesaan untuk meningkatkan perekonomian lokal. Penguatan sistem sosial di desa diperlukan untuk mewujudkan kewirausahaan sosial secara komprehensif melalui kolaborasi aktif para pemimpin desa dan masyarakat. Pengelolaan dana desa oleh BUMDes perlu dilanjutkan dan dievaluasi dalam pelaksanaannya.Social entrepreneurship is an important concept for realizing the welfare of rural communities. This concept refers to the dedication of individuals, who have the character of a leader, who collaborates actively with their communities, to realize collective welfare. This research aims to analyze the role of Village-Owned Enterprises (BUMDes) in improving the welfare of rural communities through social entrepreneurship. This research was qualitative. The data collection technique used in this research was the observation. The results of observations are then analyzed, combined, and enriched with secondary data. The results showed that BUMDes is an institution in rural areas, which has an important role in encouraging and supporting the principles of social entrepreneurship in rural communities. However, the various BUMDes activities and innovations have not yet provided significant changes for the village such as job opportunities for rural youth and various economic activities in rural areas to improve the local economy. Strengthening the social system in the village is needed to realize social entrepreneurship comprehensively through the active collaboration of village leaders and the community. Village fund management by BUMDes needs to be continued and evaluated in its implementation
Praktik Sosial Sahabat Kapas dalam Pendampingan Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan di Surakarta
Vulnerable Children and Children with Special Condition (Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan or AKKR) are children who must receive assistance and motivation to achieve their rights. In practice in real life, they are temporarily forced to be in correctional institutions/detention centers/Institute for Special Development Children (LPKA) as a result of violating the law. It should not make them shunned, but instead, they must be assisted. Vulnerable Children and Children with Special Condition need enforcement of the fulfillment of their rights. The existence of Sahabat Kapas as a nonprofit non-governmental organization (NGO) located in Karanganyar, Central Java, Indonesia, provides concerns and solicitudes for Vulnerable Children and Children with Special Condition. This research aims to analyze and describe the forms of social practice based on habitus in Sahabat Kapas organization. This research used a qualitative research method with Bourdieu’s genetic structuralism approach. Informants were determined using purposive sampling techniques. Data collection was performed using participant observation techniques in the field, in-depth interviews, and documentation studies. Data were analyzed in three stages, including data reduction, data presentation, and ended with concluding. Data were verified by source triangulation. The results showed that Sahabat Kapas became an alternative to assist Vulnerable Children and Children with Special Condition conducted in correctional institutions/detention centers/Institute for Special Development Children (LPKA). The social practices conducted by Sahabat Kapas in assisting Vulnerable Children and Children with Special Condition are following the capital they have and the history of the habitus they conduct. Relational social capital is at stake by assistants with prison officers and how to build relationships with children. Economic capital refers to the efforts made by Sahabat Kapas to get funds to support assistance through entrepreneurship and opening donations. Cultural capital includes the whole intellectual/knowledge gained by assistance through training that is useful to assist children in correctional institutions/detention centers/Institute for Special Development Children (LPKA). Symbolic capital is manifested in the form of awards from the government for Sahabat Kapas and assistance awards for children in the form of gifts.Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan (AKKR) adalah anak yang harus mendapat bantuan dan motivasi untuk mendapatkan haknya. Pada praktiknya dalam kehidupan nyata, mereka untuk sementara waktu terpaksa berada di Lapas/Rutan/Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) akibat melanggar hukum. Seharusnya hal itu tidak membuat mereka dijauhi, tapi malah harus dibantu. Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan membutuhkan penegakan hukum dalam pemenuhan haknya. Keberadaan Sahabat Kapas sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) nirlaba yang berlokasi di Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia, memberikan perhatian dan kepedulian bagi Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bentuk-bentuk praktik sosial berbasis habitus di organisasi Sahabat Kapas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan strukturalisme genetik Bourdieu. Informan ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi informan di lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Data diverifikasi dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sahabat Kapas menjadi alternatif pendampingan Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan yang dilaksanakan di Lapas/Rutan/Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Praktik sosial yang dilakukan Sahabat Kapas dalam mendampingi Anak-Anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan mengikuti modal yang mereka miliki dan riwayat habitus yang mereka lakukan. Modal sosial relasional dipertaruhkan oleh pendamping dengan petugas lapas dan bagaimana membangun hubungan dengan anak. Modal ekonomi mengacu pada upaya Sahabat Kapas untuk mendapatkan dana bantuan melalui wirausaha dan membuka donasi. Modal budaya mencakup seluruh intelektual/pengetahuan yang diperoleh dengan bantuan melalui pelatihan yang berguna untuk mendampingi anak di Lapas/Rutan/Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Modal simbolik diwujudkan dalam bentuk penghargaan dari pemerintah kepada Sahabat Kapas dan penghargaan pendampingan kepada anak-anak berupa hadiah