193 research outputs found

    Hubungan Kepemimpinan dan Motivasi Kerja Pegawai di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa

    Get PDF
    The major problem facing by the Regional Secretariat of Minahasa Regency is the lack of leaders’ attention to employees’ motivation and passion at work. This study aims to measure the relationship between leadership and employees’ work motivation in the Regional Secretariat Office of Minahasa Regency, North Sulawesi Province, Indonesia. It occupies a central role in advancing employees’ work motivation and passion. This study uses a quantitative method to measure leadership’s effect on employees’ motivation and work passion. Questionnaires were used as the main instrument to obtain the data. These questionnaires were distributed to all respondents in this study. This study’s population was predominantly made up of twenty-four employees in the Regional Secretariat Office of Minahasa Regency. Due to the limited population (24 employees), this study used all of the population as the samples. The results of this study showed a significant relationship between leadership and employees’ motivation. Since leadership is directing and influencing employees’ activity process, leaders should diligently extend it to their organizations utmost.Permasalahan utama yang dihadapi oleh Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa adalah kurangnya perhatian pimpinan terhadap motivasi dan semangat pegawai dalam bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan kepemimpinan dengan motivasi kerja pegawai di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Ini menempati peran sentral dalam memajukan motivasi dan semangat kerja pegawai. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi dan semangat kerja pegawai. Kuesioner digunakan sebagai instrumen utama untuk memperoleh data. Kuesioner tersebut dibagikan kepada seluruh responden dalam penelitian ini. Populasi penelitian ini sebagian besar terdiri dari dua puluh empat pegawai di Kantor Sekretariat Daerah. Karena keterbatasan populasi (24 karyawan), maka penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kepemimpinan dengan motivasi pegawai. Karena kepemimpinan mengarahkan dan memengaruhi proses aktivitas pegawai, para pemimpin harus dengan tekun memperluasnya ke organisasi mereka dengan sepenuhnya

    CSR Partnership Model for Sustainable MSMEs Development: A Case Study of the Partnership Program at PT Jasa Marga (Persero) Tbk

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang Program Kemitraan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menemukan model kemitraan yang optimal dan berkelanjutan antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memajukan sektor ekonomi rakyat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mandalam. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 3 informan yang dipilih sebagai perwakilan PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan 6 Informan diambil sebagai peserta perbincangan kelompok fokus mewakili masyarakat mitra binaan UMKM di wilayah jaringan Tol  Jagorawi – Cikampek. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kemitraan CSR antara BUMN dengan UMKM dilandasi saling menghormati, transparansi, komunikasi yang baik, dan amanah, manfaat bersama kepada yang terlibat, dan memiliki komitmen secara konsistensi dari kedua belah pihak.This research aims to examine Corporate Social Responsibility (CSR) Partnership Program to find an optimal and sustainable partnership model between State-owned Enterprises (SOEs) and Micro Small and Medium Enterprises (MSMEs) to advance the people's economic sector. This research was qualitative research with a case study approach. Data collection techniques used in this research were in-depth interviews, observation, and literature studies. In-depth interviews were conducted with 3 informants chosen as representatives of PT Jasa Marga (Persero) Tbk and 6 informants were taken as participants in Focus Group Discussions representing MSMEs fostered partners in the Jagorawi - Cikampek Toll network area. Informants were selected using a purposive sampling technique. The results showed that the CSR partnership model between SOEs and MSMEs is based on mutual respect, transparency, good communication and trust, mutual benefit to those involved, and has a consistent commitment from both parties

    Keterlekatan Sosial UMKM Sarung Tenun Goyor di Desa Sambirembe, Kalijambe, Sragen

    Get PDF
    Goyor woven sarong craft is one of the Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Wonosari Hamlet, Sambirembe Village, Kalijambe Sub-District, Sragen Regency, Central Java Province, Indonesia. The woven sarong craft is a cultural heritage passed down from generation to generation. The woven sarong craft business has survived even though the industrial-scale businesses have spread widely. In economic practice, economic actions among business actors of the woven sarong craft are based on cultural values. This research aims to analyze (1) the embeddedness of cultural values in economic practices of Goyor woven sarong; (2) the relational embeddedness between middlemen, collectors, and craftswomen; (3) the economic strategy of the Goyor woven sarong business. This research was qualitative research with a case study approach. The research analysis used the concept of economic actors’ embeddedness in the social networks approach by Granovetter. Research data was collected through in-depth interviews and direct observation. Informants were selected using a purposive sampling technique. The result shows that: 1) there is the embeddedness of cultural values on the woven sarong craft business sustainability. Woven sarong craft is a cultural heritage and work ethic has become the main foundation for business sustainability; 2) the relational embeddedness was manifested through mutual trust between the collectors, middlemen, and craftswomen through a sense of “ewuh pekewuh” (feeling bad, embarrassment, feeling uncomfortable), and through mutual need between the collectors, middlemen, and craftswomen; 3) the economic strategy of the Goyor woven sarong business actors follows the flow of community culture.Kerajinan Sarung Tenun Goyor merupakan salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Dusun Wonosari, Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kerajinan sarung tenun merupakan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Usaha kerajinan sarung tenun tetap bertahan meski usaha skala industri semakin menyebar luas dan berkembang. Dalam praktik ekonomi, tindakan ekonomi para pelaku usaha kerajinan sarung tenun dilandasi oleh nilai-nilai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) keterlekatan nilai-nilai budaya dalam praktik ekonomi sarung tenun Goyor; (2) keterlekatan relasional antara perantara, kolektor, dan penenun perempuan; (3) strategi ekonomi bisnis sarung tenun Goyor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis penelitian menggunakan pendekatan konsep keterlekatan pelaku ekonomi dalam jejaring sosial oleh Granovetter. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada keterlekatan nilai-nilai budaya pada keberlangsungan usaha kerajinan sarung tenun. Kerajinan sarung tenun merupakan warisan budaya dan etos kerja menjadi tumpuan utama keberlangsungan usaha; 2) keterlekatan relasional tersebut diwujudkan melalui rasa saling percaya antara kolektor, perantara dan penenun perempuan melalui rasa “ewuh pekewuh” (perasaan tidak enak, malu, tidak nyaman), dan saling membutuhkan antara kolektor, perantara, dan penenun perempuan; 3) strategi ekonomi pelaku usaha sarung tenun Goyor mengikuti arus budaya masyarakat

    Portrait of Maulana's Life: A Wealthy, Independent, and Outstanding Student

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan habitus seorang siswa kaya yang kurang mendapat perhatian dari orang tua namun dapat meraih prestasi di sekolah. Peran orang tua menjadi vital dalam proses perkembangan belajar anak di sekolah dan menjadi suatu dorongan yang dapat meningkatkan semangat belajar anak. Dalam hal ini, siswa kaya berprestasi sering dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Namun, siswa kelas atas yang kurang mendapat cukup perhatian dari orang tua karena kesibukan dalam pekerjaan namun dapat meraih prestasi menjadi hal menarik untuk dikaji, terutama untuk melihat habitus yang membentuknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan life history. Informan tunggal dalam penelitian ini yaitu Maulana, seorang siswa Sekolah Menengah Atas di kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pemilihan informan menggunakan teknik sampel purposif. Hasil studi menunjukkan bahwa latar belakang kondisi tempat tinggal yang terpisah membentuk habitus Maulana sebagai siswa yang mandiri. Mandiri dalam hal ini bermakna bahwa ia memiliki inisiatif untuk belajar tanpa paksaan. Prestasi yang ia capai merupakan bentuk strategi untuk menarik perhatian orang tuanya. Capaian prestasi yang selalu dibandingkan dengan kakaknya menjadi pemacu semangat Maulana untuk meningkatkan prestasinya. Dalam hal ini, hasil penelitian menyatakan bahwa habitus terbentuk atas modal (sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik) yang dimiliki individu. Kesibukan orang tua bukan menjadi persoalan dalam memperoleh prestasinya di sekolah.This study aims to describe a wealthy student’s habitus who does not get enough attention from parents but can make school achievements. Parents’ role is vital in children’s learning development process and becomes an encouragement to increase children’s enthusiasm for learning. In this case, wealthy students with achievements are often seen as something normal. However, upper-class students who do not get enough attention from their parents because of being busy at work but can make achievements are exciting things to study, especially to observe the habitus that shapes them. This study uses a qualitative method with a life history approach. This study’s single informant is Maulana, a high school student in Cilacap city, Central Java Province, Indonesia. Selection of informant using a purposive sampling technique. The study results indicate that a separate living house forms the habitus of Maulana as an independent student. Independent, in this case, means that he has the initiative to learn without coercion. The achievements he made were a form of strategy to attract the attention of his parents. The achievements that are always compared to his older siblings have boosted Maulana’s enthusiasm to improve his achievements. In this case, the study results stated that the habitus is formed from the capital (social, economic, cultural, and symbolic) of the individual. Parents’ busyness is not a problem in getting their performance at school

    Primordialisme dan Perilaku Memilih Etnis Melayu pada Pemilihan Gubernur Kepulauan Riau 2005-2015

    Get PDF
    This research aims to examine primordialism and voting behavior of Malay ethnic during the 2005-2015 Riau Islands governor election (Pemilihan Gubernur or Pilgub). The political phenomenon in Riau Islands seems to be different from other areas where other Malays dominate since non-Malay ethnic candidates won the governor election. This research used a qualitative method with a descriptive technique. The data were collected using in-depth interviews and direct observation. Informants were selected using a purposive sampling technique. The result found that people of Malay ethnic are open-minded. The candidates elected also can prove qualified personal and successfully leading the Malay ethnic people in moving ahead. Non-Malay ethnic won the Riau Islands (known as Kepri (Kepulauan Riau)) governor election determined by 1) The political identity of Malay ethnic people is open-minded, coexisting Islamic identity, speaking Malay language, practicing Malay culture, and committing to build and develop Malay ethnic people, so the candidates identified as part of Malay ethnic people and considered by the Malay ethnic people as a candidate for leader of the Malay people in a broadening sense; 2) the figure of candidates can socialize with people of Malay ethnic; 3) other minority ethnics and political parties supported the candidates. Native Malay candidates were failed due to the lack of contribution to the people of Malay ethnic in particular and the Riau Islands in general.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui primordialisme dan perilaku memilih etnis Melayu pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kepulauan Riau 2005-2015. Fenomena politik di Kepulauan Riau tampak berbeda dengan daerah lain yang didominasi etnis Melayu sejak kandidat dari etnis non-Melayu memenangkan pemilihan gubernur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat etnis melayu berpikiran terbuka. Kandidat yang terpilih juga dapat membuktikan personal yang berkualitas dan berhasil memimpin etnis melayu untuk maju. Etnis non-Melayu memenangkan Pemilihan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) ditentukan oleh 1) Politik indentitas masyarakat etnis melayu adalah berpikiran terbuka, berdampingan dengan identitas Islam, berbicara bahasa Melayu, mengamalkan budaya Melayu, dan berkomitmen untuk membangun dan mengembangkan masyarakat Melayu, sehingga kandidat teridentifikasi sebagai bagian dari etnik Melayu dan dianggap oleh masyarakat Melayu sebagai kandidat pemimpin masyarakat Melayu dalam arti yang luas; 2) figur kandidat mampu bersosialisasi dengan masyarakat etnis Melayu; 3) etnis minoritas lainnya dan partai politik mendukung kandidat. Kandidat dari etnis Melayu gagal karena minimnya kontribusinya kepada masyarakat Melayu pada khususnya dan Kepulauan Riau pada umumnya

    Reduksi Kemiskinan pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

    Get PDF
    Local Government expenditure is budgeting for all government needs and activities and managed under the authority of provinces, regencies, and municipalities through their respective regional heads. Well-targeted Local Government expenditure optimization has a significant impact on the regional economy. This research aims to determine poverty reduction in regencies/municipalities in South Sumatra Province, Indonesia, by examining the variable’s impact of social assistance expenditure, capital expenditure, and local revenue on poverty. The data used are primary and secondary data obtained from 15 regencies/municipalities in South Sumatra Province during the 2010-2018 periods. The analysis technique uses in this research were Poverty Mapping with Klassen Typology and Multiple Linear Regression (MLR). Using the Klassen typology for poverty mapping in South Sumatra Province obtained four regional classifications (quadrant) based on poverty and economic growth: quadrant I (developed and fast-growing region), quadrant II (developed but depressed region), quadrant III (developing region), and quadrant IV (less developed region). The Klassen typology classification results: quadrant I include Palembang City, quadrant II includes Musi Banyuasin Regency, Muara Enim Regency, Ogan Komering Ilir Regency, and Banyuasin Regency. Quadrant III includes Ogan Komering Ulu Regency, Prabumulih City, and Lubuk Linggau City. Also, quadrant IV includes Lahat Regency, Musi Rawas Regency, Ogan Ilir Regency, Ogan Komering Ulu Timur Regency, Ogan Komering Ulu Selatan Regency, Empat Lawang Regency, and Pagar Alam City. The t-test regression results showed that Social assistance expenditure and local revenue affect poverty reduction, while capital expenditure does not significantly affect poverty reduction. The F-test regression results showed that poverty reduction was affected simultaneously by social assistance expenditure, capital expenditure, and local revenue. Policies in social assistance expenditure and capital expenditure were not well-targeted. The policies expected to reduce poverty are to provide well-targeted social assistance expenditure and capital expenditure.Belanja Daerah adalah penganggaran untuk semua kebutuhan dan kegiatan pemerintahan dan dikelola di bawah kewenangan provinsi, kabupaten, dan kota melalui kepala daerahnya masing-masing. Optimalisasi Belanja Daerah yang tepat sasaran berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reduksi kemiskinan di kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, dengan menguji pengaruh variabel Belanja Bantuan Sosial, Belanja Modal, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap kemiskinan. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dari 15 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan selama periode 2010-2018. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pemetaan Kemiskinan (Poverty Mapping) dengan Tipologi Klassen dan Regresi Linier Berganda. Dengan menggunakan Tipologi Klassen untuk pemetaan kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan diperoleh empat klasifikasi wilayah (kuadran) berdasarkan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi: kuadran I (daerah maju dan bertumbuh cepat), kuadran II (daerah maju tetapi tertekan), kuadran III (daerah sedang bertumbuh), dan kuadran IV (daerah relatif tertinggal). Hasil klasifikasi Tipologi Klassen: kuadran I meliputi Kota Palembang, kuadran II meliputi Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Banyuasin. Kuadran III meliputi Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kota Prabumulih, dan Kota Lubuk Linggau. Sedangkan kuadran IV meliputi Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Empat Lawang, dan Kota Pagar Alam. Hasil regresi uji-t menunjukkan bahwa Belanja Bantuan Sosial dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap reduksi kemiskinan, sedangkan Belanja Modal tidak berpengaruh signifikan terhadap reduksi kemiskinan. Hasil regresi uji-F menunjukkan bahwa reduksi kemiskinan dipengaruhi secara simultan oleh Belanja Bantuan Sosial, Belanja Modal, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kebijakan Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Modal kurang tepat sasaran. Kebijakan yang diharapkan dapat mereduksi kemiskinan adalah dengan memberikan Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Modal yang tepat sasaran

    Sociology Teachers’ Opportunities and Challenges in Facing “Merdeka Belajar” Curriculum in the Fourth Industrial Revolution (Industry 4.0)

    Get PDF
    Kajian ini bertujuan untuk menganalisis peluang dan tantangan Merdeka Belajar sebagai program pendidikan nasional bagi para guru Sekolah Menengah Atas (SMA) secara nasional. Permasalahan yang dihadapi para guru dalam mengimplementasikan kurikulum Merdeka Belajar adalah kurangnya pemahaman mengenai tentang prosedur. Hal ini terjadi karena tidak adanya penjelasan secara struktural mengenai perbedaan antara kurikulum mereka jalankan yang selama ini dengan kurikulum Merdeka Belajar. Banyak masalah yang muncul ketika mengimplementasikan kurikulum tersebut bahwa pendidikan yang selama ini mereka jalankan telah membuat telah membuat siswa menjadi ketergantungan. Dalam konteks tersebut, kajian ini mempertanyakan bagaimana peluang dan tantangan guru Sosiologi SMA dalam menghadapi kurikulum Merdeka Belajar di era revolusi industri 4.0? Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan strategi para guru dalam menghadapi paradigma baru Merdeka Belajar. Analisis dalam kajian ini berdasarkan sejumlah teori seperti dari Neill, Rogers, Freire, Boal, Giroux, dan Knowles untuk menganalisis secara kritis paradigma pedagogi pendidikan nasional yang selama ini digunakan para guru. Kajian ini menggunakan teori Knowles mengenai andragogi untuk mengupas pengertian Merdeka Belajar. Metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam kajian ini meliputi observasi hubungan guru-murid dan wawancara dengan sejumlah guru SMA di Karanganyar, Jawa Tengah. Selain itu kajian dokumen yang terkait dengan program Merdeka Belajar juga digunakan untuk memahami konteks kebijakan. Kajian ini menemukan bahwa para guru tidak menyadari bahwa mereka telah menggunakan paradigma pedagogi (pendidikan untuk anak-anak) untuk anak jenjang SMA yang telah dewasa. Ketika beralih ke kurikulum Merdeka Belajar mereka juga tidak mengetahui bahwa paradigma yang seharusnya mereka gunakan adalah andragogi (pendidikan untuk orang dewasa). Di dalam situasi ini, mereka berimprovisasi sebaik mungkin untuk menjalankan Merdeka Belajar. Para guru hanya menjalankan perintah dari sekolah untuk mencoba. Namun, sekolah juga masih berusaha memahami cara mengimplementasikannya berdasarkan tatanan struktural tanpa kejelasan. Ketergantungan siswa kepada guru telah menjadi penyebab sulitnya para guru keluar dari paradigma pedagogi menuju ke andragogi. Dalam situasi tersebut, para guru kemudian berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan program Merdeka Belajar di tengah pandemi Covid-19. Para guru dan sekolah juga harus menghadapi semua hambatan infrastruktur dan kondisi sosial ekonomi siswa dengan akses pembelajaran daring yang terbatas.This study aims to analyze the opportunities and challenges of Merdeka Belajar as a national education program for high school teachers nationally. Teachers’ problem in implementing Merdeka Belajar (Freedom of Learning) curriculum lacks understanding of the procedures. This happened because there was no structural explanation regarding the differences between the curriculum they had been running so far and Merdeka Belajar curriculum. Many problems arise when implementing the curriculum that the education they have been running has made students dependent. In this context, this study questions how high school sociology teachers’ opportunities and challenges in facing Merdeka Belajar curriculum in the fourth industrial revolution (industry 4.0)? This study aims to identify problems and strategies for teachers in facing the new paradigm of Merdeka Belajar. This study’s analysis is based on theories such as those from Neill, Rogers, Freire, Boal, Giroux, and Knowles to critically analyze the pedagogical paradigm of national education that teachers have used. This study uses Knowles’s theory of andragogy to explore the notion of Merdeka Belajar. This study’s qualitative research method includes observation of the teacher-student relationship and interviews with several high school teachers in Karanganyar, Central Java. Besides, document studies related to Merdeka Belajar program are also used to understand the policy context. This study found that teachers did not realize that they had been using a pedagogical paradigm (education for children) for high school-level children who had grown up. When they switched to Merdeka Belajar curriculum, they also did not know that the paradigm they should be using is andragogy (education for adults). In this situation, they improvised as best they could to implement Merdeka Belajar. The teachers only carry out orders from the school. However, the school is still trying to understand how it works based on structural orders without clarity. Students’ dependence on teachers has become the cause of teachers’ difficulty to move out of the pedagogical paradigm into andragogy. In this situation, the teachers tried to do their best to implement Merdeka Belajar program during the Covid-19 pandemic. Teachers and schools must also face all infrastructural barriers and socioeconomic conditions with limited online learning access

    Strategi Pengembangan Industri Kecil di Kota Bitung dengan Menggunakan Analisis SWOT dan Strategi TOWS

    No full text
    -This study aims to analyze industrial groups’ position based on developing and business success and strategies that can be used in developing small-scale industrial enterprises in the Bitung City, North Sulawesi Province. The research took place in Bitung City, North Sulawesi Province. The research sample was 185 small business owners in Bitung City. The sampling method used was random. Data were collected using a questionnaire with a Likert scale and strategy analysis using SWOT analysis and TOWS strategy. The results of this study found that: (1) based on the SWOT analysis results, each industry group is advised to implement a survival strategy and future integration that is offered according to internal factors and external factors that affect the success of micro-businesses in Bitung City. (2) the small-scale industries in Bitung City have excellent development capabilities and a high business success level.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi kelompok industri berdasarkan kemampuan berkembang dan keberhasilan usaha serta strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan usaha industri kecil di kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian mengambil lokasi di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Sampel penelitian adalah para pemilik usaha kecil di Kota Bitung sebanyak 185 pengusaha. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah metode random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner dengan skala likert. Analisis strategi menggunakan analisis SWOT dan strategi TOWS. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: (1) berdasarkan hasil analisis SWOT setiap kelompok industri disarankan untuk menerapkan strategi bertahan dan integrase kedepan yang ditawarkan menyesuaikan pada faktor-faktor internal serta faktor-faktor external yang mempengaruhi keberhasilan usaha mikro di Kota Bitung; (2) industri kecil di Kota Bitung memiliki kemampuan berkembang yang sangat baik dan tingkat keberhasilan usaha yang juga tinggi

    Internal Conflict Resolution between Government of Indonesia and Separatist Movement in Papua using Horse-Trading Mechanism

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penyelesaian konflik internal antara Pemerintah Indonesia dan gerakan separatisme di Papua (Organisasi Papua Merdeka (OPM)) menggunakan mekanisme horse-trading. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengkaji latar belakang OPM dan konflik, kemudian membahas proses konflik dengan alat bantu analisis timeline untuk memahami perkembangan gerakan separatisme dari OPM berdasarkan urutan kronologis, dan membahas resolusi konflik yang pernah dilakukan dengan alat bantu analisis pemetaan konflik untuk memahami aktor-aktor yang terlibat dan tujuannya. Konflik ini merupakan hasil dari kompleksitas antara latar belakang historis, ideologis, dan rasa ketidakadilan di Papua, di sisi lain, Papua semakin didukung oleh dunia internasional. Upaya penyelesaian konflik Pemerintah Indonesia dengan OPM dengan mekanisme horse-trading sudah mulai dilakukan, namun belum mencapai resolusi yang baru. Mekanisme horse-trading dapat efektif menyelesaikan konflik ini bilamana didukung oleh kepercayaan antara kedua pihak untuk melakukan dialog dimana kedua pihak dapat menyampaikan tujuannya secara terbuka.The study aims to analyze the process of internal conflict resolution between the Government of Indonesia and the separatist movement in Papua (Free Papua Movement (Indonesian: Organisasi Papua Merdeka or OPM)) using a horse-trading mechanism. This study was qualitative method by discussing the Free Papua Movement background and the conflict, then discussing the conflict process of timeline analysis tool to understand the development of its movement based on chronological order, and discussing the conflict resolutions that have been carried out with conflict mapping analysis tool to understand the actors that involved and their objectives. The conflict is the result of complexity among historical backgrounds, ideology, and a sense of injustice in Papua, on the other hand, the international community has increasingly supported Papua. Horse-trading has been used to resolve the conflict of Free Papua Movement and the Government of Indonesia, yet it has not yet reached a new resolution. The horse-trading mechanism effectively resolves the conflict when trust has been achieved between them to communicate both of them where they can deliver their objectives openly

    Proses Migrasi dan Peran Teknologi Komunikasi di antara Pekerja Migran di Batam - Indonesia

    Get PDF
    This research explains the roles of communication technology on the migration process of labor migrants in Batam, Indonesia. Differences between places are strong reasons for people to migrate. The advances in communication technology have freed up opportunities for people to migrate. Technology has made it more accessible for migrants to raise links to their next destination through the internet. Interactions within communication technology make migration easier by decreasing the expenses and risks of moving. The explanations in this study are to understand the communication technology for the migrating process and calculate the social networks of migrants. This research applied mixed methods to explore the migration process with data collected included quantitative data from a survey with 500 respondents and supported by qualitative data from in-depth interviews. The results: 1) Communication technology helps migrants in the migration process, especially for searching for information about the destination area. 2) The migrant who uses communication technology has a strong social network and less risk of migration. The role of communication technology in the migration's processes is as a tool to maintain social ties of migrants, migrant uses their social media to make contact and gain information about their destination. This study related to SDGs' target number 10.7 which facilitates orderly, safe, regular and responsible migration and mobility of people, including through the implementation of planned and well-managed migration policies, communications technology facilitate safe and well-managed migration.Penelitian ini menjelaskan peran teknologi komunikasi pada proses migrasi pekerja migran di Batam, Indonesia. Perbedaan antara daerah adalah alasan kuat bagi orang untuk bermigrasi. Kemajuan dalam teknologi komunikasi telah memberikan peluang bagi orang untuk bermigrasi. Teknologi telah membuatnya lebih mudah diakses bagi migran untuk meningkatkan hubungan ke daerah tujuan melalui internet. Interaksi dalam teknologi komunikasi membuat migrasi lebih mudah dengan mengurangi biaya dan risiko migrasi. Penjelasan dalam penelitian ini adalah untuk memahami teknologi komunikasi dalam proses migrasi dan memperincikan jejaring sosial para migran. Penelitian ini menerapkan metode mixed methods untuk mengeksplorasi proses migrasi dengan data yang dikumpulkan termasuk data kuantitatif dari survei dengan 500 responden dan didukung oleh data kualitatif dari wawancara mendalam. Hasilnya: 1) Teknologi komunikasi membantu migran dalam proses migrasi, terutama untuk mencari informasi tentang daerah tujuan. 2) Migran yang menggunakan teknologi komunikasi memiliki jaringan sosial yang kuat dan mengurangi risiko migrasi. Peran teknologi komunikasi dalam proses migrasi adalah sebagai alat untuk menjaga ikatan sosial para migran, migran menggunakan media sosial mereka untuk melakukan kontak dan mendapatkan informasi tentang tujuan mereka. penelitian ini berhubungan dengan Sustainable Development Goals (SDG) target nomor 10.7 yang memfasilitasi migrasi yang tertib, aman, teratur dan bertanggung jawab serta mobilitas orang, termasuk melalui implementasi kebijakan migrasi yang terencana dan terkelola dengan baik

    156

    full texts

    193

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Society
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇