Society
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Industri Pariwisata dan Mobilitas Pekerjaan Perempuan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Kuta Lombok
This study aims to understand and map the tourism industry and women’s employment mobility in the Special Economic Zone (SEZ) of Mandalika Kuta Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. This study was a qualitative study using a case study approach with a group analysis unit. Data were obtained through observation, interviews, and documentation. The informants are an optional or criterion-based selection. Informants in this study were 120 informants. Informants were selected using a purposive sampling technique. The informants in this study are not to represent the population but represent information. Data analysis was processed through three stages. The results of the study found that the tourism industry in the Special Economic Zone of Mandalika Kuta Lombok has encouraged the new job creation and job types that were previously unknown by the community. In the category of self-employment and wage employment, there is an increase in the number due to a decrease in the status of casual work. This is a sign that there are significant job changes and job mobility. This is caused by low wages, inconvenience at work, and family factors. With the creation of various types of new jobs and the pattern of employment mobility, the efforts of self-improvement are needed, especially in terms of education and skills. Provincial and District Governments need to conduct a study of the potential and employment opportunities needed for women in the tourism industry to create links and matches between various employment sectors in the tourism industry.Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan memetakan industri pariwisata dan mobilitas pekerjaan perempuan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Kuta Lombok. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan studi kasus dengan unit analisis kelompok. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan bersifat pilihan atau criterium based selection. Informan dalam penelitian ini sebanyak 120 informan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian tidak untuk mewakili populasi, tetapi mewakili informasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan. Hasil penelitian menemukan bahwa industri pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Kuta Lombok telah mendorong terciptanya lapangan pekerjaan baru dan jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat. Pada kategori status pekerjaan dengan usaha sendiri dan pekerjaan upahan terjadi peningkatan jumlah karena terjadi penurunan pada status pekerjaan lepas. Hal ini sebagai penanda ada perubahan pekerjaan yang signifikan dan terjadinya mobilitas pekerjaan. Ini disebabkan oleh upah yang sedikit, ketidaknyaman dalam bekerja, dan faktor keluarga. Dengan terciptanya berbagai jenis pekerjaan baru dan terjadi pola mobilitas pekerjaan, maka diperlukan peningkatan diri terutama dalam hal pendidikan dan keterampilan. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten perlu melakukan kajian tentang potensi dan peluang pekerjaan yang dibutuhkan bagi perempuan pada industri pariwisata sehingga terjadi link and match antara berbagai sektor pekerjaan pada industri pariwisata
Prosesi Seremonial dan Makna Makan Patita di Negeri Oma - Maluku
Makan Patita is a tradition of communal feasting or eating together among Maluku communities that practiced in festivity the Panas Pela, Panas Gandong, King coronation, building Baileo house, the celebration of city`s anniversary day, and other events in Ambon city. However, for the people of Negeri Oma in Haruku Island, the tradition of Makan Patita differs from others. The differences are attracted to be discussed about the ceremonial procession and its meaning of the tradition of Makan Patita in Negeri Oma. This research aims to describe the ceremonial process and its meaning of the Makan Patita Soa practiced in Negeri Oma, Haruku Island District, Central Maluku Regency, Maluku Province, Indonesia. This is a qualitative research where the data source obtained purposively and the data collection techniques by using observation, interview, and documentation. The results showed that: 1) Makan Patita in Negeri Oma is divided into two types; first, the uncle feeds his nephew/child (Mara/Marei), and also the nephew/child feeds his uncle (ana kas makang om). There are three stages in the practice of Makan Patita tradition; the initial stage, a time-set meeting, and preparation of various things, both food and a long white table and the prayers of struggle in Baileo Kotayasa by the Bapa Lima-Lima. In the second stage, the Makan Patita begins with Cakelele dances and the ceremonial procession takes children to the Patita dining table, then the uncles feed their nephews. In the final stage, each remaining food must be brought back and eaten by all children at home, then covered with a Eucharistic prayer for the Soa and Maradansa. 2) The meaning of Makan Patita tradition for the people in Negeri Oma is kinship ties, respect, and appreciation for elders (uncles) and it contains the symbolic meaning of hope to the children in the Soa will become a good generation and remain in the fellowship of siblings.Makan Patita merupakan salah satu bentuk kebudayaan masyarakat di Maluku. Pada umumnya Makan Patita dilakukan dalam perayaan Panas Pela, Panas Gandong, pelantikan Raja, pembangunan baileo, atau perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kota serta acara-acara penting lainnya di kota Ambon. Namun bagi masyarakat Negeri Oma di Pulau Haruku, tradisi Makan Patita berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut menarik untuk dibahas tentang prosesi upacara adat dan makna tradisi Makan Patita di Negeri Oma. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang proses dan makna pelaksanaan Makan Patita Soa di Negeri Oma Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana sumber datanya diperoleh secara purposive dan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Makan Patita di Negeri Oma terbagi dua jenis yaitu “paman/om memberi makan keponakan/anak yang disebut Mara/Marei dan sebaliknya keponakan/anak memberi makan paman/om atau dikenal dengan istilah ana kas makan om. Adapun pelaksanaan dalam adat Makan Patita ini terdiri dari ada 3 tahap yaitu: tahap awal, dilakukan rapat penentuan waktu dan persiapan berbagai hal, baik makanan maupun meja putih panjang serta doa pergumulan di Baileo Kotayasa oleh Bapa Lima-Lima. Tahap kedua, pelaksanaan Makan Patita yang diawali dengan tarian Cakelele serta arak-arakan mengantarkan setiap anak menuju meja Makan Patita, hingga pelaksaan Makan Patita yang dibuka dengan suapan pertama oleh paman kepada keponakan mereka. Tahap akhir, setiap makanan yang tersisa wajib dibawa pulang dan dimakan oleh setiap anak di rumah, kemudian ditutupi dengan doa syukur pada masing-masing Soa dan Maradansa. 2) Makna adat Makan Patita di Negeri Oma sebagai bentuk ikatan tali persaudaraan, penghormatan, dan penghargaan kepada orang tua (paman) dan mengandung makna simbolik adanya harapan kelak anak-anak dalam Soa akan menjadi generasi yang baik dan tetap ada dalam persekutuan orang bersaudara
Implementasi Manajemen Konflik Pekerjaan-Keluarga, Konflik Keluarga-Pekerjaan, dan Stres Kerja yang Berpengaruh terhadap Kepuasan Karyawan PT Langgang Buana Perkasa
This research aims to analyze the management of work-family conflict, family-work conflict, job stress, and its implementation that affect employee satisfaction of PT Langgang Buana Perkasa. Work and family are two important spheres in an adult’s social life. The need will not be met if unemployed. Today, a profession is also a mirror of self-actualization. Without family, individuals will feel alone and there is no place to give love. PT Langgang Buana Perkasa is a company engaged in ground handling services and transportation services on several airlines, which is located at Sultan Babullah airport, Ternate, North Maluku Province, Indonesia. This research used a qualitative descriptive method. Data were obtained through in-depth interviews and questionnaires. Literature and documentation studies are carried out to collect secondary data related to the object of research, including employees of PT Langgang Buana Perkasa, flight schedules, and PT Langgang Buana Perkasa. The data sources were selected using a purposive sampling technique. The results showed that (1) There are three characteristics of work-family conflict. Based on these three characteristics, it indicates that most employees experience conflict in work-family, but it does not affect job satisfaction; (2) There are five characteristics of family-work conflicts but employees still apply professionalism. This indicates that there is no direct conflict but it can trigger stress due to family demands on religious holidays and public holidays; (3) Physical exhaustion can lead to conflict when faced with family demands regarding that role.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen konflik pekerjaan-keluarga (work-family conflict), konflik keluarga-pekerjaan (family-work conflict), stres kerja dan implementasinya yang berpengaruh terhadap kepuasan karyawan PT Langgang Buana Perkasa. Pekerjaan dan keluarga merupakan dua bidang penting dalam kehidupan sosial orang dewasa. Kebutuhan tidak akan terpenuhi jika menganggur. Saat ini, pekerjaan juga sebagai cermin aktualisasi diri. Tanpa keluarga, individu akan merasa sendiri dan tidak ada tempat untuk memberikan cinta. PT Langgang Buana Perkasa adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa ground handling dan jasa transportasi pada beberapa maskapai penerbangan, yang berlokasi di bandara Sultan Babullah, Ternate, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan kuesioner. Studi literatur dan dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data-data sekunder yang berkaitan dengan objek penelitian antara lain karyawan PT Langgang Buana Perkasa, jadwal penerbangan, dan PT Langgang Buana Perkasa. Sumber data dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada tiga karakteristik konflik pekerjaan-keluarga. Berdasarkan ketiga karakteristik tersebut, menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan mengalami konflik dalam pekerjaan-keluarga, namun tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja; (2) Terdapat lima ciri konflik keluarga-pekerjaan tetapi karyawan tetap menerapkan profesionalisme. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi konflik langsung tetapi dapat memicu stres akibat tuntutan keluarga pada hari raya keagamaan dan hari besar; (3) Kelelahan fisik dapat menimbulkan konflik ketika dihadapkan pada tuntutan keluarga terkait peran tersebut
Democracy and Customary Power: Potential Exclusion of Village Fund Access for East Timorese Ex-Refugees
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap keterkaitan demokrasi dengan kekuasaan adat dalam menangani eks pengungsi Timor-Leste di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, terkait dengan praktik demokrasi. Lebih spesifiknya, demokrasi dibatasi pada konteks potensi eksklusi akses Dana Desa bagi penduduk baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus untuk mengungkap praktik demokrasi terkait implementasi Dana Desa yang terjalin erat dengan budaya lokal. Subjek dalam penelitian ini adalah penduduk baru di Desa Fatuba’a yang secara geografis berdekatan dengan perbatasan antara Indonesia dan Timor-Leste. Hampir separuh dari penduduk Fatuba’a adalah penduduk baru eks pengungsi Timor-Leste. Banyaknya penduduk baru telah menjadi masalah sosial yang kompleks bagi Desa Fatuba’a. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga adat memiliki peran yang signifikan dalam mendistribusikan kekuasaan baik dalam aspek pemerintahan maupun pembangunan desa, termasuk dalam penyaluran penggunaan dana desa. Suku Liudasik merupakan suku dominan yang berhasil mendapatkan legitimasi penduduk baru dengan memberikan tanah ulayat sebagai tempat tinggal dan bercocok tanam atas kontribusi mereka untuk memilih kepala desa dari suku Liudasik. Dalam konteks Dana Desa, penggunaannya juga menunjukkan adanya saling ketergantungan antara penghuni baru dengan suku Liudasik. Dengan demikian, penduduk baru memiliki akses ke dana desa. Tidak ada eksklusi terhadap penduduk baru untuk penggunaan Dana Desa Fatuba’a. Ketergantungan penduduk baru pada lembaga adat telah melanggengkan kekuasaan adat suku Liudasik.This research aims to reveal the relations between democracy and customary power in handling the East Timorese ex-refugees in Belu Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia, related to democratic practices More specifically, democracy is limited to the context of potential exclusion access of the Village Fund for new residents. This research used a qualitative and case studies approach to reveal democratic practices related to the implementation of Village Funds that are intertwined with the local culture. The subjects in this research were new residents in Fatuba’a Village which is geographically close to the cross-border between Indonesia and East Timor. Nearly half of Fatuba’a’s populations are new residents who are East Timorese ex-refugees. A large number of new residents have become a complex social problem for Fatuba’a Village. The data collection techniques consist of observation, in-depth interviews, and focus group discussions. The results showed that customary institutions play a significant role in distributing power both in aspects of government and village development, including the distribution of village funds-use. The Liudasik tribe is a successful dominant tribe obtaining legitimacy of the new residents by granting customary land as a place to live and farming for their contribution to elect the village head from the Liudasik tribe. In the context of the Village Fund, its use also shows the interdependence between new residents and the Liudasik tribe. Consequently, the new residents have an access to village funds. There is no exclusion of new residents for the Fatuba’a’s Village Fund-use. The dependence of new residents on customary institutions has perpetuated the customary power of the Liudasik tribe
Culture Shock, Adaptation, and Self-Concept of Tourism Human Resources in Welcoming the New Normal Era
Sebagai bisnis yang bertumpu pada mobilitas manusia, sektor pariwisata terbukti sangat terpengaruh oleh pandemi Coronavirus disease (COVID-19). Lumpuhnya pariwisata baik nasional maupun global akibat kebijakan lockdown di berbagai negara dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia jelas mempengaruhi operasional bisnis pariwisata. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang tinggi bagi SDM Pariwisata tentang masa depan bisnis pariwisata. Penelitian ini membahas tentang gegar budaya, adaptasi, dan konsep diri SDM Pariwisata dalam menyongsong era new normal dari perspektif komunikasi, baik yang terkait dengan komunikasi antarbudaya, komunikasi interpersonal maupun konsep diri sebagai bagian dari psikologi komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan studi dokumen melalui pesan WhatsApp di beberapa grup asosiasi profesi, webinar, dan media massa. Informan kunci dalam penelitian ini sebanyak 14 orang sebagai data primer dan lebih dari 200 anggota grup WhatsApp “Housekeepers Jabar” sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia Pariwisata mengalami gegar budaya dan mencapai titik terendah pada bulan Maret hingga pertengahan April, namun meningkat secara perlahan dari akhir April hingga Juni. Ada tiga aspek kehidupan yang sangat menekan mereka, yaitu aspek budaya, sosial dan ekonomi. Aspek budaya dan sosial relatif lebih mudah diatasi, tetapi aspek ekonomi paling berdampak karena menyangkut keberlangsungan hidup mereka dan keluarganya. Masa kesadaran dalam proses adaptasi merupakan masa perjuangan, kreativitas, dan tindakan, sehingga banyak dari mereka yang beralih profesi menjalankan bisnis online. Periode ini masih berlangsung dan tidak diketahui berapa lama akan berakhir. Konsep diri yang positif berperan penting dalam keberhasilan seseorang dalam beradaptasi untuk bertahan hidup karena membantu seseorang untuk menjadi tangguh, sabar, berani, dan kreatif dalam mencari solusi dalam menghadapi tantangan sehingga membuka peluang yang lebih besar untuk berhasil menyelesaikan masalah.As a business that relies on human mobility, the tourism sector has proven to be severely affected by the Coronavirus disease (COVID-19) pandemic. The paralysis of tourism both nationally and globally as a result of the lockdown policy in various countries and the Large-Scale Social Restriction (LSSR) policy in Indonesia affects the operations of tourism businesses. This has raised high anxiety for Tourism Human Resources about the future of the tourism business. This research discusses culture shock, adaptation, and self-concept of Tourism Human Resources in welcoming the new normal era from a communication perspective, both related to intercultural communication, interpersonal communication, and self-concept as part of communication psychology. This research used a qualitative research method with a case study approach. Data collection techniques were conducted through interviews, field observations, and document study through WhatsApp messages in several professional association groups, webinars, and mass media. The key informants in the research were 14 people as primary data and more than 200 members of the WhatsApp group “Housekeepers Jabar” as secondary data. The results of this research showed that Tourism Human Resources suffered from a culture shock and reached its lowest point in March to mid-April, but rose slowly from late April to June. There are three very stressful aspects of their life, consisting of cultural, social, and economic aspects. Cultural and social aspects are relatively easier to overcome, but the economic aspects are the most impactful because it concerns the sustainability of their life and their families. The period of awareness in the adaptation process is a period of struggle, creativity, and action so that many of them switch professions to run online businesses. This period is still ongoing and it is not known how long it will end. Positive self-concept plays an important role in a person’s success in adapting to survive because it helps a person to be resilient, patient, courageous, and creative in finding solutions in facing challenges thus opening up greater opportunities to successfully solve the problems
Praktik Konservasi Padi Lokal melalui Ingatan Kolektif dan Foodways Toraja
Many studies on rice landrace (Oryza sativa sbsp. indica) have been conducted by biodiversity, ethnobotany, and agroecology disciplines. The importance of rice landraces as genetic resources and the basics of human civilizations. Conservation landraces in Tumbang Datu and Pongbembe nowadays are affected by the following socio-cultural constraints: a) decline numbers of local varieties after the regional government-imposed funding to local communities to substitute new-high yield varieties, b) rice rites and landrace conservation are on the brink of extinction. This research explores daily behaviors that contribute to rice landrace conservations through the sociological approach of collective memory and symbolic interaction. Today’s generations use new meanings and symbols of rice derived from collective memories and virtues. Various interviewees practice mnemonic devices (what, why, who, where, when, and how) that reflect foodways. According to Blumer, social structures are networks of interdependence among actors that place conditions on their actions. In these networks, people act and produce symbols and meanings of rice to interpret their situations and to have their own set in a localized process of social interpretation. Moreover, the Toraja language is used as a bridge in communicating the past, present, and future to strengthening collective identity. This research uses a qualitative method to explore rice landrace conservation using open-ended questions, in-depth interviews, and Focus Group Discussions. A free-listing method was followed to gather interviewees’ collective memories of rice landraces. Findings show that a combination of methods, tradition-based conservation, and current scientific-technology-based conservation become a practice for promoting, educating, and stimulating the public and researchers to engage in landraces conservation. These findings suggest that the socio-cultural ecosystem and Blumer’s social network support new networks to deliver science in agricultural innovation policy. The results showed that collective memories and foodways create ways that would benefit rice landrace conservation the most.Penelitian-penelitian mengenai padi lokal (Oryza sativa sbsp. indica) telah dilakukan oleh disiplin keragaman hayati, etnobotani, dan agroekologi. Padi lokal penting sebagai sumber daya genetika dan dasar berbagai peradaban manusia. Pada masa kini, konservasi varietas-varietas padi lokal di Tumbang Datu dan Pongmbembe menghadapi beberapa tantangan sosial budaya, antara lain a) penurunan jumlah varietas lokal setelah pemerintah kabupaten menyediakan varietas-varietas baru kepada masyarakat, dan b) konservasi dan ritus-ritus, yang menggunakan padi lokal, terancam punah. Penelitian ini mengeksplorasi perilaku sehari-hari yang dapat berkontribusi pada konservasi padi lokal, melalui pendekatan sosiologis terhadap memori kolektif dan interaksi simbolik. Generasi masa kini menggunakan makna dan simbol baru padi berdasarkan ingatan kolektif. Para informan mempraktikkan perangkat mnemonik yang mencerminkan foodways. Konsep struktur sosial menurut Blumer adalah jaringan saling ketergantungan antar-aktor, yang menempatkan kondisi pada tindakan aktor tersebut. Orang-orang bertindak dan menghasilkan simbol dan makna padi di dalam jaringan ini, untuk menafsirkan situasi mereka sendiri, dan memiliki device (perangkat) sendiri dalam proses interpretasi sosial. Bahasa Toraja juga berfungsi menjembatani dan mengkomunikasikan masa lalu, masa kini, dan masa depan, sekaligus memperkuat identitas kolektif. Bahasa Toraja digunakan sebagai jembatan untuk mengkomunikasikan masa lalu, masa kini, dan masa depan, demi memperkuat identitas kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengeksplorasi konservasi padi lokal, dengan menggunakan pertanyaan terbuka, wawancara mendalam, dan Diskusi Kelompok Terfokus. Metode free-listing digunakan untuk mengumpulkan ingatan kolektif para informan pada padi lokal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode kombinasi, yaitu konservasi berbasis tradisi dan konservasi berbasis teknologi ilmiah saat ini, menjadi praktik untuk mempromosikan, mendidik, dan melibatkan publik dan peneliti di dalam konservasi padi lokal. Selain itu, ekosistem sosio-budaya dan konsep jejaring sosial Blumer mendukung jejaring baru untuk mempromosikan ilmu pengetahuan di dalam kebijakan inovasi pertanian. Kesimpulan, ingatan kolektif dan foodways menciptakan cara yang paling bermanfaat bagi keberhasilan konservasi padi lokal
Perkembangan Kognitif Anak Usia Prasekolah 4-5 Tahun dengan Menggunakan Media Audio-Visual PowerPoint pada Siswa PAUD
This study aims to determine whether using PowerPoint audio-visual media can improve children’s cognitive development in ECE (Early Childhood Education) in North Tomohon Sub-District, North Sulawesi Province, Indonesia. The research method used was collaborative Classroom Action Research (CAR) conducted in ECE in North Tomohon Sub-District, and it was found that 1) Before using the PowerPoint audio-visual media, ECE in North Tomohon Sub-District still had difficulty doing the assigned tasks and answering teachers’ questions because the children cognitive was not stimulated well; 2) The use of PowerPoint audio-visual media can improve the child’s cognitive aspects because the learning activities were designed in an attractive, fun and not boring way. Through the use of PowerPoint audio-visual learning media, children’s cognitive can be stimulated well.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan media audio-visual PowerPoint dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Tomohon Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif yang dilakukan di PAUD Kecamatan Tomohon Utara, Provinsi Sulawesi Utara, dan ditemukan bahwa 1) Sebelum menggunakan media audio-visual PowerPoint, PAUD di Kecamatan Tomohon Utara masih mengalami kesulitan dalam melakukan tugas yang diberikan dan menjawab pertanyaan guru karena kognitif anak tidak terstimulasi dengan baik; 2) Penggunaan media audio-visual PowerPoint dapat meningkatkan aspek kognitif anak karena pembelajaran dirancang dengan menarik, menyenangkan dan tidak membosankan. Melalui penggunaan media pembelajaran audio-visual PowerPoint, kognitif anak dapat distimulasi dengan baik
Media Sosial dan Digitalisasi Partisipasi Politik pada Generasi Muda: Perspektif Indonesia
Digitalization in the modern era has provided opportunities for the youths to participate in this information and social spheres. The concentrated use of social media has contributed to the astonishing factor among the voters where social media has changed the preferences of youths toward the right to vote. The research aims to investigate the contributions and preferences of youths toward political participation in the contemporary discussion in Indonesia. This research was quantitative research using a purposive random sampling technique to give equal opportunity to each respondent. The mode of data collection was an online survey. The majority of the respondents in this research were the student of the universities. Data were collected in April 2019 to examine the interest of youths in general elections in Indonesia. This research found that social media and Social Networking Sites (SNSs) have provided a unique platform to discuss political matters and ‘take apart’ in political discussions. Existing in-depth researches on this phenomenon show that political awareness among youths in Indonesia is an essential part and social media is the leading indicator. This research suggested some recommendations for to usage of social media for the socialization of youths.Digitalisasi di era modern telah memberikan peluang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam bidang informasi dan sosial ini. Penggunaan media sosial yang terkonsentrasi telah berkontribusi pada faktor menakjubkan di antara para pemilih di mana media sosial telah mengubah preferensi kaum muda terhadap hak untuk memilih. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kontribusi dan preferensi generasi muda terhadap partisipasi politik dalam diskusi kontemporer di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive random sampling untuk memberikan peluang yang sama bagi setiap responden. Mode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan survei online. Mayoritas responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa universitas. Data dikumpulkan pada April 2019 untuk menyelidiki minat generasi muda dalam pemilihan umum di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa media sosial dan situs jejaring sosial (Social Networking Sites atau SNS) telah menyediakan platform yang unik untuk mendiskusikan masalah politik dan 'mengambil terpisah' dalam diskusi politik. Penelitian ini menyarankan beberapa rekomendasi untuk penggunaan media sosial untuk sosialisasi generasi muda
The Empowerment Strategy of Newly Irrigated Rice Field Farmers through LEISA
Banyak petani lahan cetak sawah baru di Kabupaten Bangka membiarkan lahan mereka kosong. Petani memilih untuk melakukan kegiatan pertanian lain atau kegiatan penambangan daripada budidaya padi. Luas sawah irigasi baru di Kabupaten Bangka saat ini 2.200 hektar. Pencetakan sawah baru bertujuan untuk meningkatkan produksi beras. Penelitian ini bertujuan: (1) Mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi petani dalam budidaya padi di desa Kimak, (2) Strategi alternatif untuk pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-November 2019. Strategi pemberdayaan masyarakat yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penerapan konsep LEISA. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan eksperimen. Responden yang terlibat adalah 30 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep LEISA menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.974.722 per tiga bulan, di area 1.680m2. Implikasinya, ada peningkatan jumlah petani sebanyak 21 orang yang menanam padi mengacu pada konsep LEISA.Many newly irrigated rice field farmers in Bangka district leave their land empty. Farmers choose to do other farming activities or mining activities rather than rice cultivation. The area of newly irrigated rice fields in Bangka district is currently 2,200 hectares. The development of newly irrigated rice fields aims to increase rice production. The research aims: (1) Knowing the strengths, weaknesses, opportunities, and threats faced by farmers in the cultivation of rice in Kimak village, (2) Alternative strategies for community empowerment to increase farmers' incomes. The research was conducted in July-November 2019. The community empowerment strategy applied in this research is the application of the LEISA concept. The research was conducted using observational methods, interviews, and experiments. The respondents involved were 30 farmers. The research results showed that the application of the LEISA concept generated a profit of Rp 1,974,722 per three months, in an area of 1,680m2. The implication, there is an increase in the number of farmers as many as 21 people who cultivate rice refers to the LEISA concept
Model Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Perkotaan: Studi pada Rumah Tangga Berpenghasilan Rendah di Makassar
Efforts to empower the poor communities in urban areas are still very urgent at this time. Although the number of poor communities in urban areas is decreasing, the rate is not significant. Empowerment needs to place poor urban as the main actors and the government as facilitators and motivators. This research aims to provide a scientific description of the causes of poverty and the empowerment model for the poor urban in Makassar city, South Sulawesi Province, Indonesia. The research method used is qualitative with a narrative strategy. The research participantss were as many as five low-income households in an urban area. The data collection technique used in-depth interviews with participants. Field observations were also made related to participants' social life and literature studies to strengthen the interview and observation data. Data analysis takes three ways: data reduction, data display, and verification/conclusion drawing. The result showed three factors that cause urban poverty: natural, cultural, and structural. The empowerment model was implemented by understanding the problems encountered, developing problem-solving strategies, understanding the importance of making planned changes, and strengthening the urban poor's capacity.Upaya pemberdayaan masyarakat miskin di perkotaan masih sangat mendesak saat ini. Meski jumlah masyarakat miskin di perkotaan menurun, angka tersebut tidak signifikan. Pemberdayaan perlu menempatkan masyarakat miskin perkotaan sebagai aktor utama dan pemerintah sebagai fasilitator dan motivator. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ilmiah tentang penyebab kemiskinan dan model pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan di kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan strategi naratif. Partisipan penelitian adalah sebanyak lima rumah tangga berpenghasilan rendah di wilayah perkotaan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dengan partisipan. Pengamatan lapangan juga dilakukan terkait kehidupan sosial partisipan dan studi literatur untuk memperkuat data wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan dengan tiga cara yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi / penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tiga faktor penyebab kemiskinan perkotaan: alamiah, budaya, dan struktural. Model pemberdayaan dilaksanakan dengan memahami permasalahan yang dihadapi, menyusun strategi pemecahan masalah, memahami pentingnya melakukan perubahan yang terencana, dan memperkuat kapasitas masyarakat miskin perkotaan