193 research outputs found

    Ada Apa di Balik Mosi Tidak Percaya pada Media Sosial Indonesia?

    No full text
    Social media is currently taking on a role as a mobilizing, organizing, and communication tool for social protest movements. Social media platforms facilitate content creation, an emotional and motivational exchange to support and oppose protest activities. Social media can increase protest participation, such as hashtags through Twitter. A negative emotional sentiment triggers the hashtag to become a trending topic in Indonesia. It started with the Environment and Forestry minister’s tweet about development and deforestation, making the public react by raising the hashtag #mositidakpercaya. This study explores the vote of no confidence and the correlation of narrative in the hashtag using a qualitative research method with Q-DAS NVivo 12 Plus analysis. The research data source was obtained from Twitter by capturing the hashtag #mositidakpercaya with supporting data from online media, journal literature, and books. The findings showed that miscommunication and the failure to understand the discussed context were conveyed.Media sosial saat ini mengambil peran sebagai alat mobilisasi, pengorganisasian, dan komunikasi bagi gerakan protes sosial. Platform media sosial memfasilitasi pembuatan konten, pertukaran emosional dan motivasi untuk mendukung dan menentang kegiatan protes. Media sosial dapat meningkatkan partisipasi protes, seperti hashtag melalui Twitter. Sentimen emosional yang negatif memicu hashtag tersebut menjadi trending topic di Indonesia. Berawal dari kicauan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang pembangunan dan deforestasi, membuat publik bereaksi dengan menaikkan tagar #mositidakpercaya. Penelitian ini mengeksplorasi mosi tidak percaya dan korelasi narasi dalam hashtag menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis Q-DAS NVivo 12 Plus. Sumber data penelitian diperoleh dari Twitter dengan menangkap tagar #mositidakpercaya dengan data pendukung dari media online, literatur jurnal, dan buku. Temuan menunjukkan bahwa miskomunikasi dan kegagalan untuk memahami konteks yang sedang dibahas disampaikan

    Primary Habitus in Children in Conflict with the Law

    No full text
    Anak-anak dianggap sebagai entitas yang polos dan belum memiliki banyak pengalaman. Namun, munculnya fenomena anak sebagai pelaku tindak kejahatan (anak yang berkonflik dengan hukum/ABH) justru kontradiktif dengan asumsi tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi dan mengkaji salah satu aspek kehidupan anak pelaku tindak kejahatan ini, yaitu aspek keluarga sebagai habitus primer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mewawancarai ABH di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak Palembang dan Lembaga Pemasyarakatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir serta beberapa tokoh terkait. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sementara itu, analisis data dibangun dari bawah ke atas, secara linier dan hierarkis. Sejalan dengan fokus kajian, konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah habitus primer, yang merupakan bagian dari konsep habitus Bourdieu. Habitus primer adalah habitus yang dimiliki agen sejak kecil, yang menjadi dasar pembentukan habitus lainnya (sekunder). Hasil penelitian terkait habitus primer pada ABH menunjukkan bahwa keluarga tidak hadir secara utuh dalam proses tumbuh kembang ABH dan penerapan pola asuh (parenting) yang tidak efektif. Ketidakhadiran keluarga secara utuh, ditunjukkan kepada keluarga dengan adanya, 1). ABH dengan orang tua yang berpisah, 2). ABH dengan salah satu atau kedua orang tuanya meninggal, 3). ABH memiliki keluarga yang utuh namun tidak sepenuhnya hadir dalam proses tumbuh kembang anak. Sedangkan pola asuh yang buruk ditunjukkan melalui 1). Pola asuh dengan kekerasan, 2). Orang tua dan orang terdekat ABH belum menjadi panutan yang positif, dan 3). Orang tua tidak/kurang komprehensif memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang perbuatan baik dan buruk. Oleh karena itu, perlu penguatan institusi keluarga sebagai institusi primer dan institusi pewarisan nilai melalui sosialisasi dan pendidikan antar generasi. Keluarga dapat menjadi basis utama untuk mewariskan nilai-nilai anti kekerasan dan kejahatan dalam mendukung upaya meminimalisir habitus kejahatan.Children are assumed to be innocent entities and have not much experience. However, the emergence of the phenomenon of children as perpetrators of crimes (children in conflict with the law/CICL) is contradictory to this assumption. This study explores and examines one aspect of the life of the child perpetrator of this crime, namely the family aspect as the primary habitus. This study used qualitative research methods by interviewing CICL at the Palembang Special Children’s Correctional Institution and Correctional Institution of Kayuagung, Ogan Komering Ilir Regency, as well as several related figures. Data were collected by observation, in-depth interviews, and documentation. Meanwhile, data analysis is built from the ground up, linearly and hierarchically. In line with the focus of the study, the concept used in this study is the primary habitus, which is part of the habitus concept of Bourdieu. The primary habitus is the habitus that the agent has since childhood, which is the basis for forming other (secondary) habitus. The research results related to primary habitus in CICL show that the family is not present as a whole in the process of CICL growth and development and the application of ineffective parenting. Complete absence of the family, shown to the family by the presence of, 1). CICL with separated parents, 2). CICL with one or both parents died, 3). CICL has an intact family but is not fully present in the child’s growth and development process. Meanwhile, poor parenting is shown through 1). Parenting with violence, 2). CICL’s parents and close people have not become positive role models, and 3). Parents do not/less comprehensively provide knowledge and understanding regarding good and bad deeds. Therefore, it is necessary to strengthen the family institution as a primary institution and an institution of value inheritance through socialization and education between generations. The family can be the main basis for passing down the values ​​of anti-violence and crime in supporting efforts to minimize crime habitus

    Cinta, “Perjuangan Kelas”, dan Kekerasan: Analisis Framing Ideologi di Balik Film Televisi (FTv) di Indonesia

    No full text
    This research examines what ideologies Film Television (FTv) offered during the COVID-19 pandemic and how these ideologies developed in the FTv using framing analysis and a gender perspective approach. Results indicate that there are two hidden ideologies as follows. First, the FTv production house carries a patriarchal ideology by raising themes that discriminate against women through stereotypes against women that appear in the story. Second, the FTv production house carries the ideology of feminism, with themes that position women as superordinate. Women occupy a higher social class than men. Women determine their own lives; even women have power over men. Academically, these findings are expected to add to the theoretical study in the sociology of communication and media research on how the power of knowledge in FTv affects the audience and contributes information, and enriches the development of research on gender relations and violence.Penelitian ini mengkaji tentang ideologi apa yang ditawarkan Film Television (FTv) selama pandemi COVID-19 dan bagaimana ideologi tersebut berkembang dalam FTvi menggunakan analisis framing dan pendekatan perspektif gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua ideologi tersembunyi sebagai berikut. Pertama, rumah produksi FTV mengusung ideologi patriarki dengan mengangkat tema-tema yang mendiskriminasi perempuan melalui stereotip terhadap perempuan yang muncul dalam cerita. Kedua, rumah produksi FTV mengusung ideologi feminisme, dengan tema yang memposisikan perempuan sebagai superordinat. Perempuan menempati kelas sosial yang lebih tinggi daripada laki-laki. Perempuan menentukan hidup mereka sendiri; bahkan perempuan memiliki kekuasaan atas laki-laki. Secara akademis, temuan ini diharapkan dapat menambah kajian teoritis dalam sosiologi komunikasi dan penelitian media tentang bagaimana kekuatan pengetahuan dalam FTV mempengaruhi penonton dan memberikan kontribusi informasi, serta memperkaya pengembangan penelitian tentang relasi gender dan kekerasan

    Relevansi Kurikulum Perguruan Tinggi dalam Perkembangan Dunia Kerja dan Sektor Industri: Kasus Universitas Islam Syekh-Yusuf

    No full text
    This research is driven by developments in the world of work and industry in Indonesia, which absorb fewer university graduates than they need because the graduates do not learn a lot of vocational skill competencies. Developing a higher education curriculum that suits the needs of the industry could address this issue. The gap between higher education and industry manpower needs could be attributed to 1) the absence of a framework that creates an understanding between industry and higher education to develop manpower relevant to industry optimally; 2) the main resource persons are only invited to universities to explain material for a limited period; 3) the facilities and infrastructure in universities do not represent the needs of companies or industries; and 4) the working climate has not yet fully occurred in universities, which are different from what is in the company. This research is an exploratory study that tries to collect and formulate an analysis based on the information collected. The research uses a qualitative approach using case studies and documentation studies. The results of this study indicate that the implementation of the Universitas Islam Syekh-Yusuf curriculum has been going well, following the applicable curriculum preparation regulations. In general, there are several stages in preparing the study program curriculum. These stages are divided into three important stages: the curriculum design stage, the learning design stage, and the learning program evaluation stage. The university has also established partnerships with other companies/organizations in fieldwork practice activities. This supports the development of student experience competencies compared to classroom learning alone. After analyzing the findings in the field with related theories, this research provides suggestions that are expected to be useful for several parties. Universities must find other learning resources for students to be relevant to the company’s needs. Universities need to establish many more partnerships with companies/institutions/organizations to become a place for fieldwork practices for their students so that student competencies will be more developed with a picture of the real job. Education and training are needed for lecturers to develop a curriculum based on applicable regulations that are relevant to global demands. There is a need for further studies to examine the effectiveness of implementing a curriculum based on the business world and the industrial world.Penelitian ini didorong oleh perkembangan dunia kerja dan industri di Indonesia yang menyerap lulusan perguruan tinggi lebih sedikit dari yang dibutuhkan karena lulusan tersebut tidak banyak mempelajari kompetensi keterampilan vokasional. Mengembangkan kurikulum pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan industri dapat mengatasi masalah ini. Kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan tenaga kerja industri dapat dikaitkan dengan 1) tidak adanya kerangka kerja yang menciptakan pemahaman antara industri dan pendidikan tinggi untuk mengembangkan tenaga kerja yang relevan dengan industri secara optimal; 2) nara sumber utama hanya diundang ke perguruan tinggi untuk menjelaskan materi dalam jangka waktu terbatas; 3) sarana dan prasarana di perguruan tinggi belum mewakili kebutuhan perusahaan atau industri; dan 4) iklim kerja yang belum sepenuhnya terjadi di perguruan tinggi, berbeda dengan yang ada di perusahaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang mencoba mengumpulkan dan merumuskan analisis berdasarkan informasi yang dikumpulkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kasus dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kurikulum Universitas Islam Syekh-Yusuf sudah berjalan dengan baik, mengikuti peraturan penyusunan kurikulum yang berlaku. Secara umum, ada beberapa tahapan dalam penyusunan kurikulum program studi. Tahapan tersebut dibagi menjadi tiga tahapan penting yaitu tahap desain kurikulum, tahap desain pembelajaran, dan tahap evaluasi program pembelajaran. Universitas juga menjalin kemitraan dengan perusahaan/organisasi lain dalam kegiatan praktik kerja lapangan. Hal ini mendukung pengembangan kompetensi pengalaman siswa dibandingkan dengan pembelajaran di kelas saja. Setelah menganalisis temuan-temuan di lapangan dengan teori-teori terkait, penelitian ini memberikan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak. Perguruan tinggi harus mencari sumber belajar lain bagi mahasiswa agar relevan dengan kebutuhan perusahaan. Perguruan tinggi perlu lebih banyak menjalin kemitraan dengan perusahaan/lembaga/organisasi untuk menjadi wadah praktik kerja lapangan bagi mahasiswanya sehingga kompetensi mahasiswa akan lebih berkembang dengan gambaran dunia kerja yang sebenarnya. Pendidikan dan pelatihan diperlukan bagi dosen untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan peraturan yang berlaku yang relevan dengan tuntutan global. Perlu adanya kajian lebih lanjut untuk mengkaji efektivitas penerapan kurikulum berbasis dunia usaha dan dunia industri

    Modal Manusia, Sosial, Upah, dan Kesejahteraan: Kasus Pekerja Usaha Kecil dan Menengah

    No full text
    Capital consists of human capital, social capital, natural capital, physical capital, and financial capital, but this study will only discuss human and social capital. This study aimed to analyze the relationship between human and social capital in achieving prosperity through the level of wages and income, especially for workers in the Small and Medium Enterprises sector in Palembang City. Respondents in this research were 400 workers in the Small and Medium Enterprises sector in Palembang, in the Sub-districts of Sukarami, Ilir Barat I, Kalidoni, Seberang Ulu I and Seberang Ulu II. The method used is descriptive qualitative in path analysis, with primary data in interview questionnaires. The results showed that workers’ drinking and maximum income ranged from Rp500,000 to Rp7,500,000, with an average of Rp1,903,041. The results of the path analysis found that human capital through wages affected the income of 76.4 percent, with a beta value of 0.137 indicating that if the length of schooling were increased by 10 percent, wages would increase by 1.4 times and income by 23.6 percent. In contrast, the relationship of social capital through wages to income is very small because other factors influence, such as the work environment, place of residence, and others.Modal terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal alam, modal fisik, dan modal keuangan, namun penelitian ini hanya akan membahas modal manusia dan modal sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara modal manusia dan modal sosial dalam mencapai kesejahteraan melalui tingkat upah dan pendapatan, khususnya bagi pekerja di sektor Usaha Kecil Menengah di Kota Palembang. Responden dalam penelitian ini adalah 400 pekerja di sektor Usaha Kecil Menengah di Palembang, di Kecamatan Sukarami, Ilir Barat I, Kalidoni, Seberang Ulu I dan Seberang Ulu II. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dalam analisis jalur (path analysis), dengan data primer berupa kuesioner wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman dan penghasilan maksimum pekerja berkisar antara Rp500.000 hingga Rp7.500.000, dengan rata-rata Rp1.903.041. Hasil analisis jalur menemukan bahwa modal manusia melalui upah mempengaruhi pendapatan sebesar 76,4 persen, dengan nilai beta 0,137 menunjukkan bahwa jika lama sekolah ditingkatkan 10 persen, upah akan meningkat 1,4 kali dan pendapatan sebesar 23,6 persen. Sebaliknya, hubungan modal sosial melalui upah terhadap pendapatan sangat kecil karena pengaruh faktor lain, seperti lingkungan kerja, tempat tinggal, dan lain-lain

    CSR di Era Pandemi Berbasis Nilai-Nilai Bela Negara: Analisis Konten pada Situs Website Resmi Lima Badan Usaha Milik Negara

    Full text link
    The urgency of the COVID-19 pandemic in Indonesia continues to increase. Companies in Indonesia are now focusing on CSR programs to assist the government in accelerating the handling of COVID-19. This study aims to examine the form of social support by implementing CSR on the official website pages of 5 State-Owned Enterprises. The type of research used in this research is qualitative using a qualitative content analysis approach. Sampling used non-probability sampling method. The technique used was purposive sampling by taking samples of news content and various CSR activities on the website pages of 5 State-Owned Enterprises. The data analysis technique uses data coding using a deductive approach. The value analysis of CSR activities is implemented and implementing CSR based on the value state of defense. Otherwise, three CSR pillars, namely People, Profit, and Planet, are implemented in various CSR activities covering education, health, environment, infrastructure, community empowerment, disaster management, and special assistance to affected communities. The Result of the seven categories, the three most frequently encountered are community economic empowerment support through Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) and health support and educational support.Urgensi pandemi COVID-19 di Indonesia terus meningkat, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini fokus pada program CSR untuk membantu pemerintah dalam percepatan penanganan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dukungan sosial melalui penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada laman resmi 5 Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis isi kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode non probability sampling, sedangkan teknik yang digunakan adalah purposive sampling dengan mengambil sampel konten berita dan berbagai kegiatan CSR pada halaman website 5 BUMN, Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan koding data menggunakan deduktif. pendekatan. Analisis nilai bagaimana pelaksanaan kegiatan CSR dan kemampuan melaksanakan CSR berdasarkan nilai bela negara. Selain itu, terdapat tiga pilar CSR yaitu Profit, People, dan Planet yang diimplementasikan dalam berbagai kegiatan CSR yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana, dan bantuan khusus kepada masyarakat terdampak. Hasil dari ketujuh kategori tersebut, tiga yang paling banyak dijumpai adalah dukungan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan dukungan kesehatan dan pendidikan

    Ketidakpercayaan terhadap Layanan Kesehatan: Kurangnya Kesediaan Ibu Hamil Menggunakan Layanan Rumah Tunggu Kelahiran di Kabupaten Wonogiri

    Full text link
    To reduce the maternal mortality rate, a health service program that ensures the good health of pregnant women is needed. Maternity Waiting Home (MWH) is a program to reduce maternal mortality. This program is implemented in various regions in Indonesia, and the one is in Wonogiri Regency. In its implementation, it is not uncommon to find obstacles that come from various parties. This study uses a qualitative descriptive method to explain the Maternity Waiting Home (MWH) service and its distrust. This study seeks to explain the trust of various stakeholders, especially pregnant women, in the Maternity Waiting Home (MWH) service in Wonogiri Regency. Focus Group Discussions (FGD) and interviews were conducted to collect data by generating samples from various stakeholders. In reality, the Maternity Waiting Home (MWH) service in Wonogiri Regency experiences obstacles, especially from the trust of its users. Many pregnant women are unwilling to use the Maternity Waiting Home (MWH) service for several reasons. There is distrust in the service because of many factors. This study concludes that Maternity Waiting Home (MWH) service stakeholders in Wonogiri Regency should address and fix this important problem by intensifying socialization about the urgent of Maternity Waiting Home (MWH) service.Untuk menurunkan angka kematian ibu diperlukan program pelayanan kesehatan yang menjamin kesehatan ibu hamil yang baik. Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) merupakan program untuk menurunkan angka kematian ibu. Program ini dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Wonogiri. Dalam pelaksanaannya tidak jarang menemukan kendala yang datang dari berbagai pihak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan pelayanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) dan ketidakpercayaannya. Penelitian ini berusaha menjelaskan kepercayaan berbagai pemangku kepentingan khususnya ibu hamil terhadap pelayanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di Kabupaten Wonogiri. Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data dengan mengambil sampel dari berbagai pemangku kepentingan. Kenyataannya, pelayanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di Kabupaten Wonogiri mengalami kendala terutama dari kepercayaan penggunanya. Banyak ibu hamil yang enggan menggunakan layanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) karena beberapa alasan. Ada ketidakpercayaan dalam layanan karena banyak faktor. Studi ini menyimpulkan bahwa pemangku kepentingan layanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di Kabupaten Wonogiri harus mengatasi dan memperbaiki masalah penting ini dengan mengintensifkan sosialisasi tentang urgensi layanan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK)

    City Branding Kota Ternate

    Full text link
    City branding has become a massive effort by many cities as tourist destinations to promote the city nationally and internationally. Ambon City, the Capital of Maluku Province, known as the “City of Music,” and the City of Solo with “Solo the Spirit of Java,” are examples of city branding. In North Maluku Province, Ternate City has a long history of colonialism, international trade, and a developing city. Unfortunately, inconsistencies still exist in how the city should be known. This study aims to identify and define city branding by using the constructivist grounded theory method. The themes identified were quality tourism, economic value, community engagement, stakeholder consensus, legendary ancient leadership, and historic and renowned commodity. Six main themes are theoretically based on how to branding Ternate city and involving seven important participants. These themes are then used to define the branding of Ternate City. Current research offers a testable model to brand a place or city based on the identified subjects. At the same time, potential future studies are also suggested regarding the weaknesses of the current study.City branding telah menjadi upaya besar-besaran oleh banyak kota sebagai tujuan wisata untuk mempromosikan kota secara nasional dan internasional. Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku yang dikenal sebagai “Kota Musik”, dan Kota Solo dengan “Solo the Spirit of Java” adalah contoh dari city branding. Di Provinsi Maluku Utara, Kota Ternate memiliki sejarah panjang kolonialisme, perdagangan internasional, dan kota berkembang. Sayangnya, masih ada inkonsistensi dalam bagaimana kota itu seharusnya dikenal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan city branding dengan menggunakan metode konstruktivis grounded theory. Tema yang diidentifikasi adalah pariwisata berkualitas, nilai ekonomi, keterlibatan masyarakat, konsensus pemangku kepentingan, kepemimpinan kuno yang legendaris, dan komoditas bersejarah dan terkenal. Enam tema utama tersebut secara teoritis didasarkan pada bagaimana branding kota Ternate dan melibatkan tujuh partisipan penting. Tema-tema tersebut kemudian digunakan untuk mendefinisikan branding Kota Ternate. Penelitian saat ini menawarkan model yang dapat diuji untuk branding suatu tempat atau kota berdasarkan tema yang diidentifikasi. Pada saat yang sama, studi masa depan yang potensial juga disarankan mengenai kelemahan dari studi saat ini

    Upaya Peningkatan Loyalitas melalui Brand Image, Brand Trust, dan Kepuasan sebagai Variabel Intervening

    Full text link
    Polytechnic is a university focusing on vocational education. Politeknik Unggul LP3M is to provide an appropriate vocational education in supporting industrial demand. This study focuses on maximizing students’ loyalty influenced by brand image and trust, where students’ satisfaction is an intervening variable. Path analysis was chosen for this study. As many as 125 people were chosen as respondents, and the technique sampling used purposive random sampling. The study showed that brand image and trust significantly impact students’ loyalty and satisfaction in Politeknik Unggul LP3M. Students’ satisfaction has a crucial role in mediating brand image and brand trust on students’ loyalty.Politeknik adalah universitas yang berfokus pada pendidikan vokasi. Politeknik Unggul LP3M akan menyelenggarakan pendidikan vokasi yang tepat guna mendukung tuntutan industri. Penelitian ini berfokus pada pemaksimalan loyalitas mahasiswa yang dipengaruhi oleh brand image (citra merek) dan brand trust (kepercayaan merek), dimana kepuasan mahasiswa merupakan variabel intervening. Analisis jalur dipilih untuk penelitian ini. Sebanyak 125 orang dipilih sebagai responden, dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra merek dan kepercayaan merek berpengaruh signifikan terhadap loyalitas dan kepuasan mahasiswa di Politeknik Unggul LP3M. Kepuasan mahasiswa memiliki peran penting dalam memediasi citra merek dan kepercayaan merek terhadap loyalitas mahasiswa

    Strategi Gerakan Pariwisata Mangrove dalam Mewujudkan Perilaku Ekosentrisme

    Full text link
    The ecological damage to the coast of Bangka has forced the community to carry out environmental conservation movements to improve their marine ecology. The environmental movement carried out by the HKm Gempa 01 Group in Kurau Barat Village is an ecocentrism activity that is the antithesis of anthropocentrism behavior that has damaged the environment in the Bangka Belitung Islands. On that basis, this research was conducted to analyze and know the Ecocentrism-based Mangrove Tourism Movement Strategy. This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques using observation, interviews with purposive sampling techniques, and documents, while the analysis technique uses data triangulation. The results showed that the HKm Gempa 01 Group mobilized three stakeholders, namely the government, the community, and tourists, to manage the Mangrove area based on ecocentrism behavior. The success of the management of the area forms a movement strategy that can pressure three stakeholders to transform anthropocentrism behavior towards ecocentrism behavior in the management of the Munjang Kurau Mangrove area.Kerusakan ekologi pantai Bangka memaksa masyarakat untuk melakukan gerakan pelestarian lingkungan untuk memperbaiki ekologi lautnya. Gerakan lingkungan yang dilakukan oleh Kelompok HKm Gempa 01 di Desa Kurau Barat merupakan kegiatan ekosentrisme yang merupakan antitesis dari perilaku antroposentrisme yang telah merusak lingkungan di Kepulauan Bangka Belitung. Atas dasar itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengetahui Strategi Gerakan Wisata Mangrove Berbasis Ekosentrisme. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dengan teknik purposive sampling, dan dokumen, sedangkan teknik analisis menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grup HKm Gempa 01 mengerahkan tiga pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, masyarakat, dan wisatawan, untuk mengelola kawasan Mangrove berdasarkan perilaku ekosentrisme. Keberhasilan pengelolaan kawasan membentuk strategi gerakan yang dapat menekan tiga pemangku kepentingan untuk mengubah perilaku antroposentrisme menuju perilaku ekosentrisme dalam pengelolaan kawasan Mangrove Munjang Kurau

    156

    full texts

    193

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Society
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇