5337 research outputs found
Sort by
Lord Siva Saves the Universe
The Supreme Personality of Godhead, appearing in His incarnation as a tortoise, dove deep into the ocean to carry Mandara Mountain on His back. At first the churning of the ocean produced kālakūṭa poison. Everyone feared this poison, but Lord Śiva satisfied them by drinking it. With the understanding that when the nectar was generated from the churning they would share it equally, the demigods and the demons brought Vāsuki to be used as the rope for the churning rod. By the expert arrangement of the Supreme Personality of Godhead, the demons held the snake near the mouth, whereas the demigods held the tail of the great snake. Then, with great endeavor, they began pulling the snake in both directions. Because the churning rod, Mandara Mountain, was very heavy and was not held by any support in the water, it sank into the ocean, and in this way the prowess of both the demons and the demigods was vanquished. The Supreme Personality of Godhead then appeared in the form of a tortoise and supported Mandara Mountain on His back. Then the churning resumed with great force. As a result of the churning, a huge amount of poison was produced. The prajāpatis, seeing no one else to save them, approached Lord Śiva and offered him prayers full of truth. Lord Śiva is called Āśutoṣa because he is very pleased if one is a devotee. Therefore he easily agreed to drink all the poison generated by the churning. The goddess Durgā, Bhavānī, the wife of Lord Śiva, was not at all disturbed when Lord Śiva agreed to drink the poison, for she knew Lord Śiva’s prowess. Indeed, she expressed her pleasure at this agreement. Then Lord Śiva gathered the devastating poison, which was everywhere. He took it in his hand and drank it. After he drank the poison, his neck became bluish. A small quantity of the poison dropped from his hands to the ground, and it is because of this poison that there are poisonous snakes, scorpions, toxic plants and other poisonous things in this world. Didanai oleh DIPA ISI Denpasar No. 023.17.2.677544/2022 tanggal 17 November 2021 @isidenpasar206
“Talam Keladi Neon” “Piring Dekorasi Dream Fantasy” “Jalan Black Velvet” “Vas Keladi Semangka” “Tea Set Keladi Motif Joker” “Guci Kerawang”
Konsep Karya
Adapun tahapan proses berkarya dalam penciptaan ini adalah sebagai berikut :
a. Tahap Eksplorasi adalah menggali lebih banyak lagu bentuk-bentuk dari daun teratai yang
diangkat sebagai objek karya
b. Tahap Eksperimen adalah mencari dan memahami tekstur bahan tanah liat berupa
keplastisan tanah, susut kering dan susut basah memudahkan menentukan pembuatan besar
kecilnya barang. Menyatukan, mengoptimalisasi susunan bentuk daun teratai yang
distilirisasi, dan memilih perpaduan warna warna antara keramik.
c. Tahap Perancangan
Pencipta lebih banyak mengambil bentuk-bentuk guci bulat dengan dekorasi daun teratai
Penerapan ornamen tersebut memberikan inspirasi seniman yang banyak menampilkan
gerak-gerik dari garis lengkung. Garis lengkung menimbulkan kelembutan dengan
penambahan bahan sebagai pendukung artistik sebuah karya.
d. Tahap Perwujudan
Tahap ini adalah mengerjakan dan membuat karya sesuai dengan rancangan desain sampai
pengerjaan tahap akhir atau fhinising
SURAT PENCATATAN CIPTAAN Tari (Sendra Tari): TARI KEBESARAN UNIVERSITAS HINDU INDONESIA “SAWITRI BHUWANA”
TURNITIN Purusadasanta Oratory: Transformation of Epos Sutasoma into Creation of Performing Arts
TURNITIN The meanings of the performance of Rejang Tegak Dance for the people of Busungbiu Village, Buleleng, Bali, Indonesia in the global era
PEER Review Struktur Keseimbangan dan Keselarasan dalam Kain Tenun Gotya di Desa Adat Tenganan Pegringsingan
PEMBELAJARAN TARI PA’GELLU’ DI DESA LEMBANG BUTTU LIMBONG TANA TORAJA SULAWESI SELATAN
Pembelajaran Tari Pa’gellu’ di Desa Lembang Buttu Limbong Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan
tarian sukacita yang biasa dipentaskan pada upacara adat yang sifatnya riang gembira seperti peresmian rumah,
penyambutan tamu, pesta panen, mendiami rumah baru, upacara Rambu Tuka’ (upacara syukuran) dan lain-lain.
Tarian ini sebagai materi pembelajaran bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik gerak tari Pa’gellu’, proses
pembelajaran dan mengkaji faktor pendu-kung serta penghambat pembelajaran tari Pa’gellu’. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan 7 (tujuh) tahapan penelitian dari menentukan rancangan penelitian,
lokasi penelitian, jenis dan sumber data, instrumen penelitian, studi kepustakaan, teknik analis data dan penyajian
hasil penelitian. Dalam teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi (pengamatan), interview
(wawancara), dokumentasi, dan studi kepustakaan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori belajar,
teori pembelajaran, teori estetika, teori motivasi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran Sumber data
penelitian ini diperoleh dari data di lapangan berupa data primer dan data sekunder dari buku-buku atau studi
kepustakaan lainnya.
Proses pembelajaran tari Pa’gellu’ menggunakan 4 (empat) tahap yaitu: tahap persiapan (preparation), tahap
penyampaian (presentation), tahap latihan (practice), dan tahap penampilan (performance). Hambatan-hambatan
yang terjadi dalam pembelajaran tari Pa’gellu' ada dua faktor yakni faktor internal meliputi ..... Faktor eksternal
meliputi ......
Kata Kunci: Tari Pa’gellu’, Karakteristik, Pembelajaran, pendukung dan hambatan