Institut Seni Indonesia Denpasar

ISI Denpasar | Institutional Repository
Not a member yet
    5337 research outputs found

    Kajian Bentuk-Bentuk Geometris Lukisan I Nyoman Tusan

    No full text
    Tulisan ini mengkaji tentang bentuk-bentuk geomertris lukisan I Nyoman Tusan. Ia adalah tipe pelukis dengan corak geometris (kubistis) yang pernah dikembangkan di Barat sebagai corak lukisannya namun tidak menggunakannya berdasarkan basis teorinya. Dalam lukisannya fenomenafenomena tradisi Bali I hadirkan dalam kanvasnya dengan teknik dan pewarnaan yang luar biasa. Bentuk-bentuk segitiga hasil pecahanpecahan cili tidak begitu penting sebagai suatu bidang geometris menurut basis ilmiahnya, untuk menjelaskan apa yang tak terhingga di Barat di dalam tahuntahun 1920-an, melainkan lebih bersifat sebagai bentuk historis untuk menjelaskan prinsip Tri Hita Karana berdasarkan kepercayaan sebagai seorang Bali. Begitu juga dipakainya obyek cili secara konstan selama lebih dari pada 30 (tiga puluh) tahun, menunjukkan bukan hanya kemungkinan-kemungkinan tak terhingga dari suatu obyek cili, melainkan kekuatan yang inheren dari yang tak terhingga dari obyek tersebut. Di dalam merepresentasikan realitas yang dibentuk menjadi konsep atau realitas kreatif, I Nyoman Tusan dapat memberikan efek tiga dimensi. I memakai bentuk kubis sampai pada suatu taraf tertentu. Akan tetapi bukan dengan menyampaikan realitas sebagai yang terlihat, kecuali kalau dia memuaskan hati didalam bentuk-bentuk historis dan prinsip-prinsip seni lukis deskriptik, yang dengan demikian mengubah kualitas dari bentuk-bentuk yang dibuat atau diciptakan. Keywords: Lukisan, bentuk geometris dan cil

    Similarity Check_THE DISCOURSE ANALYSIS OF BALI TV

    Full text link

    Kuliner Bali

    No full text

    PERANCANGAN COFFE TABLEE BOOK FASHION DI KOJAY PHOTO

    Full text link
    Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan diri mahasiswa dalam menemukan pengetahuan melalui kenyataan di lapangan. Dalam rangka memenuhi amanah tersebut, Program Studi DKV ISI Denpasar wajib memfasilitasi dalam pelaksanaan program MBKM yang salah satunya adalah Studi/Proyek Independen berdasarkan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM Dalam hal ini, penulis berkesempatan untuk melaksanakan Program Studi Independen di Kojay Photo. Pada kesempatan ini penulis berkolaborasi dengan Kojay Pohoto untuk merancang sebuah coffee table book fashion yang dimana bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi Kojay Photo serta menjadi referensi akademik yang bermanfaat ke depannya. Proses perancangan buku ini dimulai dengan analisis masalah dan pengumpulan data melalui berbagai metode, termasuk observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, di mana penulis mengidentifikasi kebutuhan dan preferensi audiens buku ini. Data yang dikumpulkan meliputi audience research, minat konsumen, pemilihan gaya visual, hingga penentuan palet warna yang mencerminkan tema summer. Hasil dari proses perancangan ini adalah sebuah coffee table book fashion yang mengusung tema summer, yang berfungsi sebagai media promosi kreatif yang efektif, sekaligus menjadi referensi akademik bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual dalam mempelajari integrasi desain dan fotografi fashion. Proyek ini membuktikan bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan industri dapat menghasilkan karya inovatif yang relevan serta aplikatif. Kata Kunci: Perancangan, Buku, Dokumentasi, Fahion, Kojay Photo

    Dialog Ruang

    Full text link
    Acrylic on Canvas,120 x 140 c

    WETU TELU SEBAGAI IDENTITAS ETNIS SASAK DALAM TEKANAN UNIVERSALISME DI LOMBOK

    Full text link
    Dalam proses perubahan sosial kita menyaksikan perhelatan tradisi budaya yang diwarisi secara turun temurun oleh etnis Sasak di Lombok, roboh berjatuhan tak sanggup menyangga tekanan universalisme. Homoginitas budaya menjadi trend agama Islam baik dalam bentuk bangunan maupun tata cara berpakian yang berpola pada budaya Arab. Kondisi itu telah melanda etnis Sasak untuk menerima universalisme sebagai identitas Islam Sasak, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi etnis Sasak akan kehilangan identitas. Kekhawatiran itu telah memicu bangkitnya kearifan lokal sebagai identitas Sasak yang tersimpan dalam tradisi wetu telu. Sangat dapat dipahami bahwa berbicara identitas Lombok, tidak akan bisa lepas dari tradisi wetu telu, karena tradisi wetu telu hanya ada di Lombok. Ada pandangan kuat di Lombok yang didukung oleh kekuasaan, bahwa tradisi wetu telu bertentangan dengan ajaran agama Islam, sehingga tradisi wetu telu harus di hapuskan. Dipihak lain ada pandangan bahwa wetu telu harus dipertahankan sebagai sebuah identitas yang menunjukan eksistensi etnis Sasak di Lombok. Kedua pandangan itu merupakan pergulatan antara kepentingan untuk menunjukan identitas agama Islam yang universal, dengan kepentingan untuk mempertahankan identitas lokal. Pandangan universalisme berdasarkan agama Islam, akan mengaburkan budaya lokal yang memberikan identitas pada etnis Sasak. Untuk memahami identitas Sasak, dipandang perlu untuk mengenali tradisi wetu telu sebagai ciri khas lokal Sasak yang tidak dikenal oleh etnis lainnya di Indonesia. Untuk mengenali tradisi wetu telu harus dimulai dengan mempertanyakan, apa yang disebut dengan wetu telu apakah ajaran agama atau budaya, bagaimana mengenalinya, dan bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan masyarakat Lombok. Oleh karena itu wetu telu akan dapat dijelaskan melalui pendekatan sejarah, teori multikultural dan teori hegemoni. Tulisan ini bertujuan untuk mengenali ajaran wetu telu, sebagai identitas etnis Sasak, di tengah-tengah gempuran budaya global yang bertujuan untuk menciptakan homogenitas budaya yang berorientasi pada prinsip-prinsip Islam secara universal. Berdasarkan pendekatan sejarah wetu telu merupakan ajaran agama yang bersumber dari tiga ajaran yaitu ajaran agama Hindu, ajaran agama Asli dan ajaran agama Islam. Ketiga ajaran itu berakulturasi menjadi satu ajaran yang disebut dengan wetu telu, kemudian membetuk kepercayaan dan prilaku orang Sasak, sehingga berkembang sampai sekarang sebagai identitas. Dikatakan sebagai identitas karena wetu telu yang membedakan antara etnis Sasak dengan etnis lainnya di Indonesia

    4,402

    full texts

    5,337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ISI Denpasar | Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇