5337 research outputs found
Sort by
TURNITIN The Forms of Membranophone Musical Instruments in Literary Manuscripts of the Early Ancient Javanese Culture
BUKU: Kosarupa Bali Kumpulan Istilah, Artefak, Gerakan, dan Tokoh
Puja dan puji syukur, dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan segala rahmatNya sehingga buku Kosarupa Bali: Kumpulan Istilah, Artefak,
Gerakan, dan Tokoh, bisa terselesaikan sesuai harapan. Buku ini dimaksudkan sebagai upaya
menginventarisasikan beragam kosakata kosarupa yang terdapat dalam konsep, estetika,
makna, alat, bahan, proses pembuatan, artefak, tokoh, dan regenerasi seni rupa Bali.
Seni rupa yang merupakan perkembangan pikiran kreatif melahirkan peran-peran baik
dalam bentuk artefak seni (rupa) maupun berupa pemikiran-pemikiran yang dapat
mempunyai kaitan-kaitan tertentu dengan unsur-unsur kebudayaan lain, ia bisa berkait erat
dengan agama, mata pencaharian, tata masyarakat, dan seterusnya. Kekayaan seni rupa Bali
juga dapat dibentangkan berdasarkan keragaman gendre dua dimensi hingga tiga dimensi,
dari fungsional hingga nonfungsional, sakral hingga profan, dari pernyataan kolektif hingga
pernyataan pribadi, dari material tradisional hingga material modern. Adapun sebagai
sub-sistem, seni rupa mengandung berbagai unsur yang saling berkait yakni ada konsep
keindahan yang menjadi arahan, ada teknik yang dicari, disebarkan dan dikembangkan
untuk memberi bentuk kepada konsep-konsep keindahan, ada seniman/undangi/sangging
yang mengelola pembuatan karya-karya seni, ada sistem penularan keahlian, teknik, fungsi,
dan kosarupa-kosakata. Masing-masing unsur tersebut dapat menjadi bahan tulisan buku
Kosarupa Bali.
Buku ini merupakan kumpulan istilah-istilah (leksikon) seni rupa Bali yang dihimpun dari
berbagai sumber dengan metode kajian pustaka dan lawatan sejarah dengan mengunjungi
situs (a trip to historical sites) ke tempat-tempat bersejarah (pura, puri/keraton, geria, cagar
budaya, museum, monumen, sangging, dan sentra-sentra kerajianan) di seluruh Bali. Ada
tiga hal terkait seni rupa yang menjadi fokus penulisan. Hal kesatu, mengenai istilah-istilah
bahasa yang beragam, istilah teknik dalam proses berkarya, konsep/aliran ideologi, ruangruang
presentasi, dan peristiwa-peristiwa
seni rupa Bali. Semisal istilah teknis berkarya
seni
rupa tradisional Bali terdapat istilah-istilah sangat beragam yang
berbentuk 1)
kata
dasar,
dapat
diklasifikasikan
menjadi
istilah
berkelas
kata
nomina,
berkelas
kata
adjektiva,
berkelas
kata verba.
Berdasarkan banyaknya
suku kata yang
membangun kata dasar
ditemukan
juga kata dasar bersuku satu, bersuku dua, bersuku tiga, dan bersuku empat.
2)
Istilah berbentuk kata turunan yang terdiri atas istilah berafiks yakni istilah berprefiks,
istilah berinfiks, istilah bersufiks, istilah berkelas kata nomina, istilah berkelas kata verba,
istilah berkonfiks, istilah berklofiks, berbentuk kata ulang dan kata majemuk, berbentuk
frasa, serta istilah berbentuk klausa.
Hal kedua, mengenai artefak-artefak seni rupa dari zaman ke zaman yang masih menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya baik pada bangunan suci pura, puri, geria, relief, arca, perlengkapan dan sarana
upacara merupakan warisan intangible yang bersifat tangible. Begitu juga kebanyakan karya
seni mempunyai pakem yang sering kali berdasarkan atas hal-hal yang suci atau keramat. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat Bali bersifat religius. Oleh sebab itu menjadikan
jelas bahwa karya seni rupa Bali tidaklah sekadar bentuk semata, tetapi benar-benar sebagai
sebuah hasil karya seni yang penuh makna dan perlambang, serta sekaligus merupakan
bagian yang menyatu dengan hidup dan kehidupan manusia. Kehadirannya tidak pernah
sebagai unsur yang lepas berdiri sendiri, melainkan selalu bersatu dengan lingkungan dalam
arti yang luas. Menurut alam pikiran Bali, yang dimaksud dengan keindahan yaitu rasa
dan sikap seseorang (masyarakat) yang serasi, seimbang, selaras dan harmonis terhadap
sesuatu barang. Misalnya, dalam teknik menghias bangunan tradisional Bali bukan hanya
keindahan pola, komposisi, tata warna, ornamen, pepalihan yang diperhatikan, tetapi yang
lebih penting adalah filosofi penempatan yang mengandung pengertian dalam kejiwaan
yang mencerminkan balance cosmology, yaitu keharmonisan dan keseimbangan manusia
dengan alam dan Tuhannya. Seni idealnya secara seimbang mencerminkan nilai satyam
(kebenaran), shiwam (kesucian), sundharam (keindahan). Suatu karya seni, seyogyanya tidak
hanya mengedepankan nilai-nilai keindahan, apa pun batasannya, melainkan juga harus
tetap memperhatikan nilai-nilai kebenaran dan kesucian. Dengan demikian, khususnya
karya seni rupa tradisional pada dasarnya merupakan bentuk yang mempunyai ikatanikatan,
pola-pola, yang
sebelumnya
digariskan terlebih dahulu
oleh generasi sebelumnya,
yang
diwariskan
secara turun-temurun.
Jadi semacam
benang
emas yang
menjulur terus
dari
zaman yang
satu ke zaman yang
lain yang
tidak pernah putus-putusnya,
bahkan terus
memanjang
tumbuh menembusi ruang waktu
yang
akan datang.
Hal ketiga, perkembangan seni rupa di Bali tidak bisa lepas dari peran dan jasa-jasa para
tokoh yang telah banyak berkontribusi demi keberlangsungan hidup seni dan budaya di
Pulau Dewata. Di antara beberapa hal penting yang menjadi fokus sajian terhadap para
tokoh ini adalah identitas dan latar belakang, pendidikan, kiprahnya di masyarakat,
sumbangan karya dan atau pemikiran mereka, serta penghargaan yang pernah diterima.
Terselesaikannya buku ini yang berisikan lebih dari 891 entri ini adalah berkat adanya
dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini,
saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu terlaksananya
penerbitan buku ini. Kepada pimpinan museum, gallery, pustakawan, seniman, sangging,
undagi, pengerajian, pengelisir pura dan puri yang telah memberikan informasi-informasi
kunci. Kepada pihak-pihak lainnya, yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu, yang
juga telah memberikan dukungan sepanjang proses penulisan dan penerbitan buku ini.
Disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu kritik dan saran para
pengguna dan pembaca buku ini sangat diharapkan. Akhirnya, dengan segala kekurangan
dan keterbatasannya, besar harapan saya semoga buku ini dapat dipetik manfaatnya sebagai
referensi bagi seluruh stakeholder, khususnya akademisi seni, praktisi seni, dan pengamat
seni.
Denpasar, Mei 2021
I Wayan Sete
TARI BARIS SESANDARAN
Tari Baris Sesandaran adalah sebuah karya cipta baru yang terinspirasi
dari kesenian Barong Landung yang ada di Banjar Kaliungu Kelod Denpasar yang
sudah tersimpan selama 17 tahun. Penciptaan ini diharapkan mampu membangun
memory kolektif masyarakat, sehingga nantinya kesenian ini bisa diwariskan ke
generasi berikutnya. Tarian ini bertemakan religius, lebih mengedepankan
ekspresi kehendak, dibawakan oleh 8 orang penari laki membawa property dupa,
menari sambil diselingi dengan melantunkan tembang secara bersama dan saling
bersahutan sebagai identitas pada kesenian Barong Landung. Tembang saling
bersahutan ini disebut Sesandaran. Kedelapan penari pada bagian pengecet dibagi
menjadi dua karakter, yaitu 4 orang sebagai tokoh laki yang memerankan Jro
Gede dan 4 penari lainnya memerankan tokoh wanita sebagai Katrung/Jero Luh.
Kostum masih berpola pada tata busana tradisi Bali yang dominan
mengambil warna hitam putih/poleng untuk menguatkan nuansa ritual dan
identitas Barong Landung. Tarian ini diiringi dengan gamelan Bebonangan dan
Batel yang berdurasi 10 menit. Struktur garapan terdiri dari: Pepeson, Pengawit,
Pengawak, Pengecet dan Pekaad.
Proses penciptaan dilalui dengan 4 tahapan yaitu: tahap penjajagan
(exploration), tahap percobaan (improvisation) dan tahap pembentukan (forming)
dengan tetap berpijak pada unsur-unsur pokok dalam tari Bali seperti agem (sikap
pokok), tandang (perpindahan gerak), tangkis (gerakan tangan) dan tangkep
(ekspresi wajah).
Kata Kunci: Tari Baris Sesandaran, Bentuk