5337 research outputs found
Sort by
BEAUTIFUL BALI
PRAKATA
Berbanggalah Anda membaca buku Beautiful Bali yang
menyuguhkan beraneka ragam tulisan untuk penggemarnya yang haus
akan cerita tentang pulau Dewata. Memang sudah banyak buku yang
ditulis oleh orang Indonesia maupun orang asing dan sudah beredar di
took-toko buku, namun tidaklah lengkap kalau tidak membaca buku yang
satu ini. Di dalam buku ini banyak penulis berbakat, berpengalaman dan
menguasai teori maupun praktek di lapangan khususnya tentang Industri
Pariwisata, sehingga apa yang diulas benar-benar berdasarkan fakta di
lapangan.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pulau Bali menjadi primadona dan
objek wisata nomer satu di dunia. Lalu apa sebenarnya keunggulan Bali
dan mengapa bisa mempertahankan status tersebut di mata dunia? Nah,
buku ini mengungkapkan alasan- alasannya. Perlu diketahui bahwa setiap
daerah pasti mempunyai keunggulan masing- masing yang dianugerahkan
Tuhan Yang Maha Esa. Kalimantan, misalnya memiliki pertambangan
batu bara dan berlian, Pulau Jawa sebagai pusat perdagangan, industri dan
teknologi, Pulau Lombok dengan wisata kuliner dan wisata spiritualnya,
dan masih banyak lagi pulau-pulau lain yang memiliki keunikan
tersendiri. Untuk mendukung kesuksesan promosi obyek wisatanya,
maka diperlukan pengetahuan literasi yang cukup disertai master plan
yang bersinergi antara institusi di negeri ini agar obyek wisata yang akan
dikunjungi menjadi lebih menarik dan memberi kesan indah diingatan
para wisatawan dalam maupun manca negara. Menjadikan Bali sebagai unforgotten memory.
Buku ini berisikan ulasan tentang manusia Bali yang bersahabat
dengan alam, didukung oleh tulisan aroma rempah untuk obat tradisional,
kecantikan dan bumbu masakan Bali. Pula ada tulisan kehidupan
masyarakat Bali yang berpegang teguh dengan kalender Bali yang biasa
digunakan sebagai acuan untuk menentukan hari baik upacara adat dan
keagamaan, menjalankan bisnis, dan lain-lain.
Buku ini banyak menyinggung obyek-obyek wisata vital di
Bali yang sudah menjadi main stream wisata bagi wisnu dan wisman.
Pembaca disuguhkan budaya Bali dan latar belakang wayang Bali yang
juga manarik untuk disimak.
Terakhir, buku ini pastinya belumlah sempurna dan masih banyak
kekurangan di sana sini. Orang bijak mengatakan, “Lebih baik berbuat
sesuatu yang positif walaupun kecil tapi bermakna bagi orang banyak
daripada tidak berbuat sesuatu.” Harapan para penulis, kiranya buku ini
dapat diterima masyarakat dan menjadi kebangkitan Bali pada pandemi
Covid-19. Diharapkan juga, para kaum milenial mulai gemar akan
literasi guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya di
bidang Industri Pariwisata, agar nantinya dapat meningkatkan hospitality
dan sumber daya manusia yang berkualitas. Saran dan masukan yang
konstruktif sangat kami butuhkan demi sempurnanya buku ini.
Satupena Bali
I Nengah Suardhana, dk
TABUH TELU PEGONGAN Dalam Karawitan Bali
Kata Pengantar
Puji syukur dipanjatkan kehadapan Ida Sanghyang
Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena atas Asung
Kertha Waranugraha-NYA, penyusunan buku berjudul
“Tabuh Telu Pegongan Dalam Karawitan Bali” ini berhasil kami
lakukan.
Buku ini merupakan hasil dari penelitian yang
dilakukan mulai tahun 1982 ketika penulis masih menjadi
mahasiswa Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bali.
Penelitian ini sempat tertunda cukup lama karena adanya
tugas dan beberapa kesibukan lainnya. Akhirnya penelitian ini
baru dapat dilanjutkan secara intensif sejak akhir tahun 2020.
Secara umum, buku ini bertujuan untuk
mendeskripsikan hasil kajian tentang gending-gending pegongan
dalam Karawitan Bali dengan fokus pada gending Tabuh Telu.
Gending pegongan adalah repertoar dari gamelan Gong Gede
yaitu salah satu barungan (ensambel) dalam Karawitan Bali
yang menggunakan laras pelog atut lima (lima nada). Gending
pegongan juga disebut gending lelambatan klasik karena
gending pegongan/lelambatan itu berasal dari masa lampau
dan merupakan warisan budaya yang adiluhung.
Pembahasan dalam buku ini dibagi menjadi delapan
(8) bab. Bab I berisi pendahuluan yang meliputi: latar belakang
permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, dan metode
penelitian. Pada Bab II dibahas tentang: Kajian Pustaka,
konsep, landasan teori, dan model penelitian.
Selanjutnya, pada Bab III dibahas tentang gamelan
Gong Gede yang merupakan barungan (ensambel) dari
gending-gending pegongan. Pembahasannya meliputi: latar belakang, instrumentasi, teknik permainannya, repertoar,
unsur musikal dan ekstra musikal, dan hakekat berkesenian.
Pada Bab IV dibahas secara spesifik tentang Tabuh
Telu Pegongan/Lelambatan dengan pokok bahasan meliputi:
sumber pokok Tabuh Telu, Uger-uger Tabuh Telu, Struktur
Tabuh Telu, dan jenis-jenis Tabuh Telu. Bab V, VI, dan VII
merupakan analisis dari ketiga jenis Tabuh Telu, yaitu Tabuh
Telu Pemungkah, Tabuh Telu Pekaad, dan Tabuh Telu
Sekatian. Selanjutnya Bab VIII merupakan bab penutup,
diuraikan simpulan dan saran umum dari seluruh materi yang
dibahas dalam buku ini.
Tersusunnya buku ini, tentu berkat adanya dukungan
dan bantuan yang luar biasa dari berbagai pihak, mulai dari
proses penggalian data di lapangan, sampai proses
penyusunan dan penerbitan buku ini. Untuk itu ijinkan kami
mengucapkan terimakasih kepada para Mpu Karawitan Bali,
diantaranya : bapak I Gusti Putu Made Geria (alm), bapak I
Nyoman Rembang (alm), bapak I Wayan Beratha (alm), bapak
I Wayan Sinti, MA. (alm), dan bapak Drs. I Wayan Madera
Aryasa, MA. Beliau-beliau ini adalah guru Karawitan sewaktu
penulis masih belajar di KOKAR Bali. Dalam konteks
penelitian ini para sesepuh Karawitan Bali tersebut merupakan
informan kunci dan informan ahli. Ucapan terimakasih juga
disampaikan kepada bapak I Wayan Suweca, S.Skar., M.Si. dan
Ni Ketut Suryatini, S.Sn. M.Sn., dari Kayumas Kaja, Denpasar,
bapak Anak Agung Raka Cameng (alm) dari Ubud, Gianyar;
bapak I Wayan Jebeg dari Batubulan, Gianyar, atas informasi
penting yang diberikan terkait gending pegongan/lelambatan.
Khusus mengenai masalah gamelan Gong Gede, penulis
mengucapkan terimakasih kepada bapak Drs. I Ketut Warsa,
seorang pande gong dan teman seperjuangan sewaktu belajar
di KOKAR Bali. Ucapan terimakasih disampaikan juga kepada
nanda tercinta, I Gde Agus Jaya Sadguna, SST.Par., M.Par., dan
I Gde Made Indra Sadguna, SSn., MSn., Ph.D., atas cambukan berupa pertanyaan “sumbangan apa yang bisa bapak berikan
kepada kampus?”. Selentingan singkat dan bermakna sangat
dalam itu telah membangkitkan semangat penulis untuk terus
belajar- belajar- belajar – berbuat, dan mengabdi sesuai
kemampuan. Thank you son.
Selanjutnya, penghargaan dan ucapan terimakasih
penulis sampaikan kepada I Putu Agus Eka Sattvika, S.Sn.,
M.Sn. yang telah banyak meluangkan waktunya untuk
membantu penulis dalam menotasi gending-gending pegongan
yang dipakai dalam penelitian ini. Bantuan yang luar biasa
juga datangnya dari Ni Putu Indah Sri Lestari, S.IKom., dan
Arya Pageh Wibawa, S.T., M.Ds. khususnya dalam hal teknis
penyusunan buku ini. Kepada Prof. Dr. Ni Made Ruastiti,
SST., MSi., disampaikan ucapan terimakasih atas masukan dan
editing tulisan ini.
Di Institut Seni Indonesia Denpasar kami
menyampaikan ucapan terimaksih kepada Bapak Rektor,
Bapak Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Korprodi Karawitan,
Korprodi Magister Seni, Kepala LP2MPP, UPT Penerbitan,
teman-teman dosen dan mahasiswa Karawitan, serta semua
pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Last, but not least, ucapan terimaksih disampaikan
kepada keluarga tercinta, the Sadguna’s (Nini Ceyi, Degus,
Dikla, Komang, Dekyu, Satya, Ajus, Ayu Dyah, dan Ayu Sri)
atas motivasi yang diberikan sekala-niskala. Semoga hasil
penelitian ini dan menjadi “setitik embun di tengah teriknya
panas matahari ilmu pengetahuan”.
Denpasar, September 202
"Now and Then"
Now and Then bicara tentang hidup dan kehidupan semua entitas di muka bumi. Bermula dari benih,
tanah, panas, udara, dan air. Bumi memberi ruang semua unsur untuk saling menjamah dalam aliran
energi. Air merupakan entitas yang posisinya sangat mulia, karena keberadaannya melahirkan kehidupan
- kehidupan yang saling terhubung dalam ikatan - ikatan yang terjalin penuh pola. Diperlakukan dengan
baik atau tidak ia tetap berusaha mengalir meski dalam ketidakpastian. Siklusnya tak pernah berubah dari
masa ke masa. Saat ini dan nanti air akan selalu memberi energi bagi semua makhluk hidup untuk bercinta
dan melahirkan jiwa ke dunia. Perjalanan Setiawan Sabana bagi saya adalah seperti sebuah kisah seperti
air yang terus mengalir dan membagikan zat - zat ke seluruh rongga yang dialiri. Menjadikan tumbuh
benih - benih ilmu pengetahuan saling menyebar dan berbagi ke seluruh penjuru.
Now and Then talk about life and the lives of all entities on earth. Starting from seed, soil, heat, air, and
water. Earth gives space for all elements to touch each other in the flow of energy. Water is an entity
whose position is very noble, because its existence gives birth to life which is connected to each other in
bonds that are entwined with full of patterns. Treated well or not, it still tries to flow even in uncertainty.
The cycle never changes from time to time. Now and the , water will always provide energy for all living
things to make love and give birth to souls into the world. Setiawan Sabana's journey for me is like a story
of water that keeps flowing and distributes substances to all the cavities it flows through. Making the seeds
of knowledge grow and spread to all corners