5337 research outputs found
Sort by
Arjuna Tapa: a new creation dance
Arjuna Tapa New Creation Dance is a new creation inspired by Arjuna Tapa's story. It is
about the sending of Arjuna by Yudhisthira to meditate to Mount Indrakila in the hope of obtaining a
powerful weapon, which can be used in the face of a major war against the Kauravas. In the
hermitage Arjuna received many temptations such as the temptation of a number of angels from
heaven, the temptation of the big pig incarnate Momosimuka, and the temptation of the hunter
Kirata. But all the temptations can be overcome properly and finally because of Arjuna's
determination, Lord Shiva gave Pasupati's Arrow as a gift that would later be able to destroy his
enemies. This dance is performed by seven male dancers, carrying arrows. These seven dancers in
certain scenes will be divided into two characters, namely five male characters who play the five
pandavas, namely Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, and Sahadewa. While the other two dancers play
female characters as Dewi Kunti and Dewi Drupadi. The creation process went through the stages of
exploration, experimentation, and formation. The structure of the work consists of four parts,
namely pepeson, pengawak, pengecet, and pekaad. The dance moves refer to the line dance
movements. This dance is accompanied by a gamelan gong that lasts 12 minutes. The message
conveyed in Arjuna Tapa New Creative Dance is that a true warrior will succeed in doing his job well
and smoothly if he can overcome all the obstacles and temptations he faces in achieving his goals.
Keywords: Arjuna Tapa, dance, new creation danc
TARI KREASI BARIS NADEWA
Tari kreasi Baris Nadewa merupakan tarian kreasi baru yang dalam penyajiannya dibawakan oleh
dua orang penari pria membawa properti tombak yang kedua ujungnya berbentuk pedang dan
diiringi instrumen gamelan Gong Kebyar. Tarian ini merepresentasikan kegagahan dan jiwa
patriotisme Nakula dan Sahadewa bertempur di medan laga. Terciptanya tarian ini terinspirasi dari
tokoh Nakula dan Sahadewa dalam cerita Mahabharata dan ide gerakannya berasal dari
pengembangan gerak tari bebarisan yang sudah ada sebelumnya. Terciptanya tarian ini tiada lain
karena merespon adanya paham-paham radikalisme yang mulai meracuni nilai-nilai patriotisme
dan nasionalisme para generasi muda pada khususnya, karena dapat memecah persatuan bangsa.
Dengan disajikan melalui gerak yang dinamis dan tegas, secara tidak langsung penciptaan karya
tarian ini ingin menyampaikan pesan pentingnya menumbuhkan sikap patriotisme, seperti
pemberani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna mengetahui elemen estetis dan makna
dari bentuk penyajian tari kreasi Baris Nadewa
Kata kunci: tari kreasi Baris Nadewa, estetika, makn
PEMAHAMAN DAN STRATEGI PEMBINAAN KIDUNG KEAGAMAAN HINDU DI KOTA DENPASAR Suatu Kajian Teo-Estetika
KATA PENGANTAR PENULIS
Sebagai hamba Tuhan yang selalu sujud akan ke-Maha
agungan-Nya, tiada hentinya penulis memanjatkan puja dan pu-
ji syukur ke hadapan kemurahan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
(Tuhan Yang Maha Pengasih). Berkat asung kerta waranugraha-
Nya, buku dengan Judul Pemahaman dan Strategi Pembinaan Ki-
dung Keagamaan Hindu di Kota Denpasar: Suatu Kajian Teo-Estetika
dapat penulis terbitkan. Terlahirnya buku ini mengalami proses
panjang dari luasnya obyek diskrusus tentang kidung yang aku-
mulasinya kemudian lebih mengkerucut kepada pemahaman
dan strategi pembinaan kidung dari kajian teo-estetikanya. Kar-
ya ini pada awalnya merupakan karya ilmiah dalam bentuk
disertasi dalam pemenuhan persyaratan menempuh pendidikan
pada jenjang S3. Karya ilmiah ini telah dipertanggungjawaban
secara akademik dihadapan dewan penguji dan terbuka untuk
umum sebagai bentuk pertanggungjawaban menyelesaikan pro-
gram dotoral Pascasarjana di Universitas Hindu Indonesia Den-
pasar tahun 2019.
Bermaksud untuk mendesiminasikan hasil penelitian ini le-
bih luas yang diharapkan dapat dijadikan referensi kidung baik
oleh kalangan akademis, praktisi kidung ataupun khalayak luas
yang bersentuhan dengan nyanyian keagamaan, kidung. Dikuat-
kan adanya desakan dari rekan penggiat kidung keagamaan ter-
utamanya di kebanyakan Kabupaten/Kota di Bali bahkan lebih
luas oleh mereka para pembina dari berbagai daerah secara na-
sional, menguatkan keyakinan penulis bahwa disadari referensi
tertulis diskursus tentang kidung dirasa masih minim adanya.
Inilah yang mendorong dan meyakinkan hasil penelitian ini
penulis terbitkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Ki-
dung merupakan bagian tak terpisahkan dalam praktik tata cara beragama dalam budaya Hindu di Bali khususnya termasuk di
belahan Nusantara pada umumnya. Kehadirannya menjadi bagi-
an tak terpisahkan manakala upacara Panca Yadnya dalam ber-
bagai domain, pun dalam berbagai tingkatan, peran dan keha-
diran kidung selalu dikumandangkan menguatkan pelaksanaan
upacara yang digelar. Kidung salah satu unsur pelengkap mele-
kat dengan Yadnya dan menjadi esensial dalam varian fungsi-
nya.
Besar harapan penulis bagi para pakar dan cendikiawan se-
moga buku ini memberi pengayaan akan referensi tentang ki-
dung. Bagi para pembina, pelatih, praktisi penulis juga berharap
buku ini dapat dijadikan tuntunan di dalama melaksanakan
pembinaan dan pelatihan regenerasi. Bagi para generasi pemula
yang menaruh minat dan kepedulian akan keberlanjutan seni
olah vocal kidung, besar harapan penulis buku ini dapat mem-
berikan cakrawala pandang tentang pemahaman dan keberada-
an kidung sebagai modal dasar dalam menyelami lebih dalam
akan kekayaan dan keberagaman jenis kidung yang patut untuk
tetap dilestarikan. Oleh karenanya, dengan segala kerendahan
hati buku ini penulis persembahkan kehadapan khalayak de-
ngan harapan bermanfaat adanya.
Denpasar, Maret 2022
Penulis,
Desak Made Suarti Laksm
GENDER WAYANG : FROM RITUAL INTO SECULER
Gender Wayang is one of the most important set of ensemble in Bali. It is not only aimed
for accompanying a certain Shadow Puppet performance, but also it remain possesses a portion
and function in almost every religiously ritual activity as a complement of spiritual needs. The
presentation of Gender Wayang is a prominent key element which is conditioned into social
activities, and it is considered to be able to support the necessity of the society for both morraly
and spiritually.
Gender Wayang from ritual into seculer is an expression of the artists to express their
creative idea which posses a meaningful significance for the arts world and positively responsed
by the peoples all over the world. This key analysis is a dinamic idealization of the peoples of Bali
for the sake of aesthetical values appreciation and developement. The concerned problem to be
analized is the developement of Gender Wayang’s function and creativity,, it is one of the various
fenomenons of karawitan in the framework of developement of Balinese performing arts.
The dessemination of Gender Wayang’s roles from ritual into seculer is caused by the
demand and the nessesaty of it peoples, in order to anticipate the developement of time/era and
value assesment. Gender Wayang is a masterpiece of the arts of which endeavors to enhance and
dinamize the traditional values with the demand capasity developemnt. Gender Wayang becomes
a seculer performance because of its art creativities those are fibrating an artistic dimenssion of
which can still be recognized and appreciated by the peoples of Bali.
Keywords :
gender wayang, creativity, seculer
Banteng Indonesia Melesat
Banteng memperlihatkan sebuah realitas visual tentang kedekatan sapi jantan
asli Indonesia ini dengan kehidupan masyarakat. Ia bukan hanya membantu kegiatan
di sawah, tetapi juga sebagai alat angkut dan ternak yang memiliki nilai komersial.
Kedekatan rakyat dengan banteng secara budaya dan historis menjadi alasan
sejumlah partai politik menjadikannya sebagai lambang organisasi