5337 research outputs found
Sort by
SURAT PENCATATAN CIPTAAN Musik Karawitan: Komposisi Karawitan, Iringan Tari Murdha Nata Tirtasari
“Kanda Pat”
Komposisi ini terinspirasi dari bebonangan atau baleganjur, sebuah ensembel prosesi,
yang sebagian besar terdiri dari instrument perkusi seperti dua buah gong, kempur, delapan
pasang ceng-ceng kopyak, reong dan ponggang yang memainkan jalinan, sepasang kendang
dank ajar serta kempli. Kanda Pat hanya menggunakan instrument reong (4 buah) dan
ponggang (dua buah) dan dimainkan oleh tiga orang musisi. Pemain pertama memainkan
melodi pokok (ponggang) dan dua lainnya mengelaborasi melodi pokok (reong). Komposisi ini
menggabarkan sebuah eksplorasi dari empat (pat) dari 5 nada pada laras pelog dan
mengeksplorasi kerumitan teknik jalinan (kotekan) dengan perubahan dinamika yang spontan
dan penggunaan berbagai teknik untuk menghasilkan bunyi yang berbeda dari masing-masing
instrument.
Komposisi ini pertama kali dipentaskan di gedung The Piano Centre of Music and the
Arts, Christchurch, New Zealand pada tahun 201
SERTIFIKAT KARYA SENI MONUMENTAL Tingkat Nasional Judul: Candet Ding dan Nama Dosen: I Gede Mawan, S.Sn., M.Si
“Sangku Dewata Nawa Sanga #1”
Konsep Karya
a. Bentuk
Bentuk adalah manifestasi fisik luar dari suatu objek yang mati. Bentuk merupakan sesuatu
yang kita amati, sesuatu yang memiliki makna, dan sesuatu yang berfungsi secara struktural pada
objek-objek seni. Berbagai bentuk yang diciptakan seniman memiliki suatu ragam sumber yang
luas, berupa gambaran dari alam, atau dunia buatan manusia (SP. Gustami, 1991; 28-29).
b. Sangku
Sangku merupakan wadah atau tempat tirta (air suci) yang biasa digunakan untuk upacara-
upacara di Bali. Sangku bahannya dari berbagai media ada dari perak, tembaga, alluminium dan
dari bahan tanah liat yang diolah menjadi keramik dalam bentuk sangku.
c. Dewata Nawa Sanga
Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin dalam
konsep agama Hindu Dharma di Bali. Dalam karya Sangku ini menggunakan konsep Dewata
Nawa Sanga dengan penempatan sembilan senjata dewa sesuai arah mata angin, uripnya,
warna, sebagai dekorasi pada Sangku Keramik. Dewata Nawa Sanga merupakan 9(sembilan)
manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang menjaga sembilan penjuru arah mata angin. Dewata
Nawa Sanga terdiri dari Dewa Wisnu, Dewa Shambu, Dewa Iswara, Dewa Maheswara, Dewa
Brahmana, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Sangkara, dan paling tengah adalah Dewa
Siwa dengan simbol senjata adalah teratai. Sembilan penguasa tersebut merupakan Dewa Siwa
yang dikelilingi delapan aspeknya.
Berikut adalah nama sembilan dewa dalam Dewata Nawa Sanga beserta kedudukannya ;
Dewa Iswara
Iswara merupakan dewa penguasa arah Timur. Dewa ini memiliki senjata yang
dinamakan bajra dan memiliki tunggangan gajah putih. Ia disimbolkan dengan warna putih
dan memiliki urip atau lima nyawa. Dalam implementasinya, Dewa Iswara dipuja di
sebuah tempat suci yang terletak di puncak Gunung Lempuyang, Kabupaten
Karangasem, menghadap ke Laut Bali di sebelah timur.
Dewa Maheswara
Maheswara adalah dewa yang berkedudukan di Tenggara dengan simbol warna merah
muda, memiliki senjata dupa dan urip delapan. Sakti dari Dewa Maheswara adalah Dewi
Laksmi. Sedangkan implementasinya, Dewa Maheswara dipuja di pura suci yang dikenal
dengan nama Goa Lawah di Kabupaten Klungkung
Dewa Brahma
Dewa Brahma memiliki kekuasaan di Selatan. Ia disimbolkan dengan warna merah dan
dipercayai memiliki senjata gada dan tunggangan angsa. Sementara itu, sakti dari Dewa
Brahma ialah Dewi Saraswati. Dalam implementasinya di Bali, Dewa Brahma dipuja di
Pura Andakasa yang letaknya di puncak Gunung Andakasa, Kabupaten Karangasem.
Dewa Rudra
Ia adalah dewa yang berkududukan di arah Barat Daya dan disimbolkan dengan warna
jingga. Dewa Rudra memiliki senjata bernama moksala dengan tunggangannya seekor
kerbau putih. Sedangkan sakti dewa Rudra adalah Dewi Samodhi. Dalam
Implementasinya, Dewa Rudra memiliki tiga urip. Ia dipuja di Pura Uluwatu Kabupaten
Badung, yang terletak di sebuah bukit yang menghadap ke Samudra Hindia.
Dewa Mahadewa
Dewa ini berkedudukan di arah Barat dengan simbol warna kuning. Mahadewa memiliki
senjata nagapasa dengan tunggangannya seekor naga. Ia memiliki urip tujuh dan saktinya
adalah Dewi Santi. Dalam implementasinya, Mahadewa dipuja di Pura Batukaru
menghadap ke Danau Beratan yang terletak di lereng Gunung Batukaru, Kabupaten
Tabanan.
Dewa Sangkara
Sangkara adalah dewa yang berkedudukan di arah Barat Laut dengan simbol warna hijau.
Ia dipercaya memiliki senjata bernama angkus dengan tunggangannya seekor singa.
Sakti dari Dewa Sangkara adalah Dewi Rodri dan memiliki urip satu. Dalam
implementasinya, masyarakat Hindu Bali memuja Dewa Sangkara di tempat suci yang
terletak di puncak Gunung Beratan, Kabupaten Badung.
Dewa Sambhu
Dewa ini merupakan penguasa arah Timur Laut. Ia memiliki senjata Trisula dengan
kendaraannya yang bernama Wilmana. Sakti dari Dewa Sambhu ialah Dewi Mahadewi.
Dalam implementasinya, Dewa Sambhu dipuja di Pura Besakih yang terletak di lereng
Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.
Dewa Siwa
Dewa Siwa adalah penguasa di arah tengah dan memiliki senjata bernama Padma.
Tunggangannya bernama Lembu Nandini dan sakti Dewa Siwa adalah Dewi Durga.
Dalam implementasinya, ia dipuja di Pura Pusat Besakih di lereng Gunung Agung,
Kabupaten Karangasem. Oleh masyarakat Hindu Bali, Dewa Siwa dikenal dengan nama
Tri Purusa Parama Siwa, Sada Siwa, atau Siwa Guru.
Dewa Wisnu
Dewa ini berkedudukan di arah Utara dan memilki senjata Cakra Sudarsana. Wisnu
memiliki kendaraan bernama Garuda dengan saktinya adalah Dewi Sri. Dalam
implementasinya, Dewa Wisnu dipuja di Pura Batur yang terletak di tepi kawah Gunung
Batur, Kabupaten Bangli, yang menghadap ke Danau Batur.
d. Ide Penciptaan
Dilandasi dengan tema, bentuk sangku, dan makna Dewata Nawa Sanga, serta visualisasi
karyanya. Dewata Nawa Sanga dengan penampilan dekorasi terpusat pada sembilan senjata
dewa yang bersthana sesuai dengan arah mata angin dan pengider-idernya. Karya ini mencoba
menampilkan sembilan senjata Dewata sebagai dekorasi pada sangku keramik