Institut Seni Indonesia Denpasar

ISI Denpasar | Institutional Repository
Not a member yet
    5337 research outputs found

    Turnitin EARLY CHILDHOOD PERSONALITY DEVELOPMENT THROUGH BEBEK PUTIH JAMBUL DANCE

    Get PDF

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Tari (Sendra Tari): TARI DHARMANING PAWESTRI

    Get PDF

    PEER Review Pgelaran Gala Diner G 20

    Get PDF

    TURNITIN Musicality and Functions of Mandolin Gamelans in Pupuan Tabanan Village

    Get PDF

    “Gilak Rerangsangan”

    Get PDF
    Karya kreasi musik baleganjur ini terinspirasi dari gending Rerangsangan pada gamelan Gambuh, sebuah genre musik tua yang sebagian besar instrumennya menggunakan suling panjang (sekitar 1 meter). Gamelan tersebut memiliki fungsi utama untuk mengiringi dramatari Gambuh. Adapun gending Reragsangan adalah semacam pola irama ostinato disertai motif melodi dengan beat yang bervariasi seperti 8,16, dan 32. Karya ini semacam mengornamentasi dan menata gending Rerangsangan pada Gambuh kedalam genre musik baleganjur. Komposisi ini lebih dominan menggunakan patet tembung dengan pengolahan pola-pola ritmis pada cengceng dan kendang yang sederhana yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesan yang megah, berwibawa dan teratur. Karya ini juga menjadi bagian dari Album Kreasi Baleganjur yang direkam oleh perusahaan Bali Record di tahun 2009

    “Telek Sidakarya”

    Get PDF
    Komposisi Musik Telek Sidakarya adalah komposisi musik neo-klasik yang secara khusus diciptakan untuk mengiringi pertunjukan tari Telek Sidakarya. Adapun Telek Sidakarya adalah seni pertunjukan tari sakral yang biasanya dipentaskan pada waktu tertentu disertai dengan upacara khusus. Pertunjukan tersebut terdiri dari 6 penari Telek dan 6 penari Jauk. Penari biasanya menggunakan tapel (topeng) yang berbeda yang menunjukkan karakteristik dari tarian itu sendiri. Telek merepresentasikan kebaikan dengan wajah topeng yang menarik berwarna putih dan berkarakter halus yang disimbolkan sebagai kebijaksanaan. Sedangkan Jauk memiliki wajah yang agak seram dengan warna tapel yang merah kehitaman yang disimbolkan sebagai karakter buruk. Telek, sejak kemunculannya di Desa Sidakarya di tahun 1800an, telah dilakukan rekonstruksi beberapa kali hingga akhirnya diputuskan untuk menciptakan style yang baru di tahun 2012 dengan Penata tabuh (composer) I Made Kartawan dan I Gde Surya Negara sebagai piñata tari. Sejak saat itu style Telek Sidakarya tersebut digunakan hingga sekarang. Di tahun 2022, dengan beberapa penyempurnaan Telek Sidakarya dipentaskan pada rangkain napak pertiwi (Penyalonarangan) Ida Ratu Ayu Pura Dalem Sudha, Desa Adat Sidakarya pada tanggal 1 Oktober 2022. Adapun komposisi musiknya terdiri dari beberapa bagian dimana setiap bagian dimainkan secara berulang-ulang. Struktur musik terdiri dari dua bagian utama yaitu: Gending Telek, Gending Jauk dan Gending Pesiat. Bagian I (Telek Sidakarya)—a. Kawitan, b. Pepeson, c. Pengawak, d. Pengecet; Bagian II (gending Jauk)—a. Lelonggoran, b. Bapang; dan Bagian III (Pesiat)—a. Kale, b. Pekaad

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Musik Karawitan: Maha Aksa

    Get PDF

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Musik Karawitan: DANCING IN THE STORM

    Get PDF

    “Sangku Dewata Nawa Sanga #1” “Sangku Dewata Nawa Sanga #2” “Sangku Dewata Nawa Sanga #3”

    Get PDF
    Konsep Karya a. Bentuk Bentuk adalah manifestasi fisik luar dari suatu objek yang mati. Bentuk merupakan sesuatu yang kita amati, sesuatu yang memiliki makna, dan sesuatu yang berfungsi secara struktural pada objek-objek seni. Berbagai bentuk yang diciptakan seniman memiliki suatu ragam sumber yang luas, berupa gambaran dari alam, atau dunia buatan manusia (SP. Gustami, 1991; 28-29). b. Sangku Sangku merupakan wadah atau tempat tirta (air suci) yang biasa digunakan untuk upacara- upacara di Bali. Sangku bahannya dari berbagai media ada dari perak, tembaga, alluminium dan dari bahan tanah liat yang diolah menjadi keramik dalam bentuk sangku. c. Dewata Nawa Sanga Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin dalam konsep agama Hindu Dharma di Bali. Dalam karya Sangku ini menggunakan konsep Dewata Nawa Sanga dengan penempatan sembilan senjata dewa sesuai arah mata angin, uripnya, warna, sebagai dekorasi pada Sangku Keramik. Dewata Nawa Sanga merupakan 9(sembilan) manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang menjaga sembilan penjuru arah mata angin. Dewata Nawa Sanga terdiri dari Dewa Wisnu, Dewa Shambu, Dewa Iswara, Dewa Maheswara, Dewa Brahmana, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Sangkara, dan paling tengah adalah Dewa Siwa dengan simbol senjata adalah teratai. Sembilan penguasa tersebut merupakan Dewa Siwa yang dikelilingi delapan aspeknya. d. Ide Penciptaan Dilandasi dengan tema, bentuk sangku, dan makna Dewata Nawa Sanga, serta visualisasi karyanya. Dewata Nawa Sanga dengan penampilan dekorasi terpusat pada sembilan senjata dewa yang bersthana sesuai dengan arah mata angin dan pengider-idernya. Karya ini mencoba menampilkan sembilan senjata Dewata sebagai dekorasi pada sangku keramik

    Energi Biru

    Get PDF

    4,402

    full texts

    5,337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ISI Denpasar | Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇