5337 research outputs found
Sort by
Turnitin STORY OF EPOS SUTASOMA AS DANCE ORATORIUM IDEA CREATION IN IMPROVING UNITY AND HARMONY OF NATION
PEER Review Analisis Keragaman Hasil Kegiatan Mahasiswa Peserta Kuliah Kerja Nyata Institut Seni Indonesia Denpasar Pada Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2020
Prosiding VIDEO MUSIK BOYBAND BTS SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN TERHADAP TOXIC MASCULINITY
BTS stands for Bangtan Sonyeondan or Bulletproof Boy Scouts is a South Korean
boyband who made their first debut under Big Hit Entertainment. BTS is present in
Indonesia, one of which is through a music video. Music video is a video that is
combine music with visual media. It became a debate when BTS presented new
perspective for male images in their music videos, which tended to show men who
seemed closer to feminine impressions. The Codes and Covention theory states that
music videos can be seen as a form of resistance to something, then the BTS’s music
videos can be seen as a form of resistance to toxic masculinity. How BTS displays
resistance to toxic masculinity through their music videos is studied using qualitative�interpretive methods. One of the forms of resistance is the element of Appearance
Language. BTS consistently presents a “non-binary” identity to Appearance Language
in its music videos. This is done by presenting BTS members who wear make-up,
accessories and clothes that are not limited to certain gender norms. BTS doesn’t
hesitate to show feminine side such as dancing gracefully, showing weakness, crying
scenes and even showing the closeness between members that leads to romance.
Keywords: BTS, toxic masculinity, performance language, resistan
SPIRIT RINDI
Tari Spirit Rindi adalah tari legong dalam bentuk kreasi baru yang ditarikan oleh enam
penari laki – laki yang terinspirasi dari semangat I Wayan Rindi dalam menarikan tari legong
yang berperan sebagai tokoh condong. I Wayan Rindi berasal dari Banjar Lebah, Kelurahan
Sumerta, Kota Denpasar. I Wayan Rindi merupakan penari legong yang melakoni karakter
condong, selain itu beliau juga sebagai guru yang hebat dan mendidik murid – muridnya
dengan sangat baik hingga menjadi seorang penari yang handal. Tujuan dari tari Spirit Rindi
ialah untuk memperkenalkan gaya tari condong I Wayan Rindi ke masyarakat umum dan
melestarikan kesenian klasik khususnya tari legong.
Karya tari Spirit Rindi diciptakan melalui metode penciptaan dari Alma. M. Hawkins
dengan judul buku Creating Through Dance yang diterjemahkan oleh Y. Sumandiyo Hadi
berjudul Mencipta Lewat Tari. Dalam metode ini terdiri dari tiga tahap yaitu, tahap penjajagan
(exploration), tahap percobaan (improvotation), tahap pembentukan (forming). Selain
menggunakan metode juga menggunakan teori penciptaan antara lain, teori estetika, teori
tranformasi, dan teori motivasi.
Tari Spirit Rindi dibagi menjadi lima struktur garapan yaitu, pepeson, pengawak,
pengecet, pengetog, pekaad. Tari Spirit Rindi diiringi dengan gamelan palegongan. Kostum
yang digunakan berwarna merah dan coklat, merah berarti kekuatan semangat dan coklat
sebagai warna pemanis.
Kata Kunci : legong, tari kreasi, Spirit Rind