Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
9773 research outputs found
Sort by
GAMBARAN ASUPAN MAKRONUTRIEN (ENERGI, PROTEIN, LEMAK, DAN KARBOHIDRAT) DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI DESA DONOTIRTO
Latar Belakang: Status gizi pada masa remaja, khususnya pada remaja putri, merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang. Masa remaja merupakan periode pertumbuhan pesat yang membutuhkan asupan zat gizi makro seperti energi, protein, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah yang memadai. Namun, ketidaksesuaian antara kebutuhan dan asupan zat gizi tersebut dapat menyebabkan masalah gizi seperti kekurangan gizi atau kelebihan berat badan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan makronutrien (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) berdasarkan status gizi pada remaja putri usia 13–18 tahun di Desa Donotirto, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 30 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data asupan makanan dikumpulkan melalui metode recall 1x24 jam yang mencakup hari kerja, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) menurut umur menggunakan standar WHO. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan rata-rata asupan makronutrien terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki status gizi baik (86,7%), namun ditemukan pula remaja dengan status gizi kurus (13,3%). Rata-rata asupan energi remaja putri sebesar 1.515,2 kkal (73,1% AKG), protein 60,1 g (92,4% AKG), lemak 57,4 g (82,3% AKG), dan karbohidrat 186,6 g (62,2% AKG). Ketidakseimbangan asupan makronutrien, terutama defisit energi dan karbohidrat, ditemukan pada sebagian besar responden menunjukkan kurangnya asupanmakan yang cukup dalam sehari.
Kesimpulan : Mayoritas remaja putri memiliki status gizi yang normal walaupun asupan makronutriennya kurang.
Kata kunci: Asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, status gizi, remaja putr
GAMBARAN KEJADIAN ANEMIA DAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH PADA REMAJA PUTRI KELAS X DI SMA ALI MAKSUM TAHUN 2025
Latar Belakang : Masa remaja merupakan transisi anak menjadi dewasa. Salah satu masalah yang terjadi pada remaja khususnya remaja putri yaitu anemia. Remaja putri merupakan calon ibu dimasa depan oleh karena itu, di usia remaja merupakan waktu yang tepat untuk melakukan intervensi dalam mengatasi anemia agar dapat mencegah terjadinya permasalahan gizi lain ya di kemudian hari.
Tujuan : Mengetahui Gambaran Kejadian Anemia melalui kadar Hb dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri Kelas X di SMA Ali Maksum Tahun 2025.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada 19 April 2025. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas X di SMA Ali Maksum Bantul yang berjumlah 34 orang remaja putri dengan metode pengambilan sampel secara total sampling. Data analisis univariat dalam bentuk persentase.
Hasil penelitian : Hasil penelitian ini menujukkan bahwa sebagian besar memiliki kadar Hb <12 gr/dl yaitu sebanyak 19 responden (56%). Tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah menunjukan bahwa sebagian besar memiliki perilaku dengan kategori tidak patuh sebanyak 24 responden (70%).
Kesimpulan : Kesimpulan dalam penelitan ini adalah Sebagian besar responden mengalami anemia dan sebagian besar remaja putri memiliki perilaku tidak patuh daam mengkonsumsi tablet tambah darah.
Kata Kunci : Anemia, remaja, siswi, tablet tambah darah
PENGELOLAAN SAMPAH DI SEKOLAH ADIWIYATA SMA NEGERI 1 LENDAH KABUPATEN KULON PROGO
PENGELOLAAN SAMPAH DI SEKOLAH ADIWIYATA
SMA NEGERI 1 LENDAH KABUPATEN KULON PROGO
Masayu Galuh Ananta1, Adib Suyanto2, Sri Puji ganefati3, Siti Hani Istiqomah4
123Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Titibumi No.3 Banyuraden, Gamping, Sleman
email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Pengelolaan sampah yang baik di lingkungan sekolah mendukung tercapainya tujuan program Adiwiyata. SMA Negeri 1 Lendah telah menerapkan program Adiwiyata, namun pengelolaan sampah di sekolah belum optimal. Sampah masih dibakar, TPS belum tersedia, dan kerja sama dengan pengelola sampah eksternal belum terjalin. Menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem pengelolaan lingkungan sekolah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum optimalnya sistem pemilahan dan pengolahan sampah.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan sampah di SMA Negeri 1 Lendah, mencakup timbulan sampah, pemilahan, pewadahan, dan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Metode: Metode yang digunakan adalah observasi langsung, dan pengukuran timbulan sampah selama delapan hari, serta dokumentasi dan wawancara untuk memperoleh data kualitatif.
Hasil: penelitian menunjukkan rata-rata timbulan sampah harian sebesar 77,69 kg, terdiri dari 30,2% sampah organik dan 69,8% sampah anorganik. Tempat sampah terpilah telah tersedia, sementara Tempat Penampungan Sementara (TPS) belum memadai dari segi struktur dan akses. Sekolah telah menerapkan prinsip 3R melalui kegiatan seperti membawa botol minum pribadi dan mendaur ulang sampah. Kesimpulannya: Pengelolaan sampah di SMA Negeri 1 Lendah sudah memiliki dasar yang baik, namun masih perlu perbaikan dalam aspek teknis dalam pengelolaan sampah, masih ditemukan pembakaran sampah dan konsistensi implementasi untuk mendukung sekolah Adiwiyata.
Kata kunci: Pengelolaan sampah, timbulan, 3R, Adiwiyata
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS MINGGIR KABUPATEN SLEMAN
Latar Belakang: Stunting pada balita berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif dan produktivitas. Indonesia merupakan negara keempat penyumbang stunting terbanyak, identifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting diperlukan sebagai upaya pecegahan dan penanganan stunting.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Minggir, Kabupaten Sleman.
Metode: Penelitian analitik observasional, desain case control pada balita usia 24-59 bulan, di bulan Oktober 2024 hingga Mei 2025. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling sebanyak 120. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data balita stunting program gizi. Analisa data meliputi univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik.
Hasil: Kecukupan asupan makanan (p=0,000) dan pola makan (p=0,000) berhubungan signifikan dengan kejadian stunting, sebaliknya pola asuh (p = 0,180), riwayat BBLR (p=0,161), riwayat ASI eksklusif (p=0,190) tidak menunjukan hubungan signifikan. Kecukupan asupan makanan merupakan faktor paling dominan berhubungan dengan kejadian stunting dengan odd ratio (OR) sebesar 81 (95% CI: 34,849-188,271).
Kesimpulan: Kecukupan asupan makanan merupakan faktor paling dominan kejadian stunting (OR=81). Intervensi gizi yang memprioritaskan perbaikan asupan makanan terutama sumber energi menjadi kunci pencegahan stunting di wilayah Puskesmas Minggir.
Kata Kunci: Stunting, Balita, Faktor risiko, Puskesmas Minggir
Penerapan Terapi Rendam Kaki Dengan Larutan Garam Hangat Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sleman
Lanjut usia (lansia) merupakan fase yang ditandai dengan mulainya kelemahan pada tubuh ditandai dengan rentannya terkena penyakit, menurunnya mobilitas serta perubahan secara fisiologis. Masalah kesehatan yang banyak muncul dalam proses penuaan adalah pola penyakit pada lansia, salah satunya yaitu masalah hipertensi. Hipertensi merupakan suatu kondisi tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Prevalensi penderita hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di atas 30%, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/obat prevalensinya sebesar 10,68% sehingga dari data tersebut menjadikan hipertensi menjadi salah satu masalah utama kesehatan penduduk di DIY. Penatalaksanan penyakit hipertensi dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara terapi rendam kaki dengan larutan garam hangat. Terapi rendam kaki dengan larutan garam hangat merupakan terapi yang dapat memberikan efek relaksasi yang dapat menurunkan tekanan darah.
Tujuan : Menerapkan terapi rendam kaki dengan larutan garam hangat untuk menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sleman dengan pendekatan asuhan keperawatan.
Metode : Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini berupa penelitian deskriptif studi kasus dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Subyek studi ini meliputi dua klien lansia dengan masalah hipertensi. Penelitian dilakukan selama tujuh hari berturut-turut.
Hasil : Pada klien 1, rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg, dan penurunan diastolik sebesar 2,14 mmHg. Sementara itu, klien 2 menunjukkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 12,29 mmHg, dan penurunan tekanan darah diastolik sebesar 5,43 mmHg.
Kesimpulan : Penerapan terapi rendam kaki dengan larutan garam hangat efektif dapat menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERNIKAHAN DINI DI MADRASAH ALIYAH AL-IKHLAS TAHUN 2025
Latar Belakang: Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dan pertama di ASEAN dalam kasus pernikahan dini, dengan dampak negatif pada kesehatan, ekonomi, dan pendidikan remaja. Penyebab utama adalah rendahnya pendidikan, faktor ekonomi, budaya, dan kurangnya pemahaman tentang risiko pernikahan dini. Studi di Sleman menunjukkan kasus masih tinggi meski menurun setiap tahun. Pendidikan dan pemahaman yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk mencegah pernikahan dini.
Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang pernikahan dini pada santri putri Madrasah Aliyah Al-Ikhlas.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain studi cross-sectional dan menggunakan instrumen kuesioner. Variabel penelitian ini adalah usia, sumber informasi, pendidikan terakhir dan pekerjaan orang tua. Penelitian ini dilaksanakan pada rentang waktu bulan Mei hingga Juni 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh remaja putri Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Berbah, Sleman, Yogyakarta. Jumlah Responden 36 siswa. Analisis data menggunakan teknik univariat.
Hasil: Berdasarkan pendidikan terakhir ayah hampir setengahnya berpendidikan akhir menengah sebanyak 9 responden (41%). Sedangkan pada pendidikan ibu setengahnya berpendidikan akhir menengah (50%). Pada remaja putri berpengetahuan baik dengan pekerjaan ayah sebagai wirausaha dan buruh setengahnya masing-masing sebanyak 6 responden (27,3). Sedangkan pada pekerjaan ibu hampir setengahnya bekerja sebagai ibu rumah tangga (41%). Berdasarkan sumber informasi responden dengan tingkat pengetahuan baik seluruhnya mendapatkan informasi bersumber dari internet. Tingkat Pengetahuan remaja putri pada pengetahuan baik dengan 22 responden (64,7%).
Kesimpulan: Tingkat pengetahuan remaja putri di Madrasah Aliyah Al-Ikhlas sebagian besar berpengetahuan baik sebanyak 22 responden (64,7%).
Kata Kunci: pernikahan dini, pengetahuan remaja putri, cross-sectional, deskripti
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SLEMAN TAHUN 2025
ABSTRAK
Latar Belakang : Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Anemia dapat berdampak buruk pada ibu dan janin, seperti meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Berbagai faktor seperti usia, status gizi, paritas, pekerjaan, pendidikan, dan pengetahuan ibu hamil diduga berkontribusi terhadap kejadian anemia.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Sleman tahun 2025.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Sleman tahun 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui distribusi karakteristik responden, tingkat pengetahuan, dan kejadian anemia.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil di Puskesmas Sleman berada pada kelompok usia tidak berisiko (20-35 tahun), dengan status gizi normal, paritas nulipara dan primipara, serta tingkat pendidikan menengah. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia sebagian besar berada pada kategori baik dan cukup. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Puskesmas Sleman sebagian besar dengan pengetahuan kurang. Terdapat kecenderungan bahwa ibu hamil dengan tingkat pengetahuan yang lebih rendah memiliki risiko anemia yang lebih tinggi.
Kesimpulan : Tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Sleman separuh ibu hamil memiliki tingkat pengetahuan dengan kategori baik.
Kata kunci : Anemia, Ibu Hamil, Tingkat Pengetahuan, Karakteristi
PENGOLAHAN AIR PAMSIMAS DI DUSUN GANCAHAN VII MENGGUNAKAN CHLORINE FILTER
Latar Belakang : Air bersih adalah kebutuhan dasar yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Program PAMSIMAS bertujuan meningkatkan akses air bersih berbasis masyarakat, namun kualitas air di Dusun Gancahan VII masih mengandung bakteri Coliform dan E. coli melebihi batas aman. Berdasarkan data pemeriksaan kualitas air bersih dari Puskesmas Godean 1 menunjukkan bahwa sampel dari air PAMSIMAS di Dusun Gancahan VII mengandung total Coliform sebanyak 116 CFU dan E. coli sebanyak 64 CFU.
Tujuan : Mengetahui Efektivitas Chlorine Filter dalam menurunkan Kadar Coliform Air PAMSIMAS di Dusun Gancahan VII
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, di mana dilakukan pengujian langsung terhadap variabel bebas, yaitu alat Chlorine Filter dengan susunan media pasir dan kaporit, ketebalan masing – masing media 5 cm. untuk melihat pengaruhnya terhadap penurunan kadar Coliform dalam air bersih. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre-test – Post-test Only Design.
Hasil : Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan berulang dengan interval 5 menit berhasil menghilangkan kontaminasi bakteri secara total pada tiga titik pengambilan sampel, yaitu dari 1800 CFU/100 ml di reservoir, 100 CFU/100 ml di rumah Pak Dukuh, dan 200 CFU/100 ml di kran dekat Embung Gagak Suro menjadi 0 CFU/100 ml setelah pengolahan
Kesimpulan : Kualitas mikrobiologi air PAMSIMAS setelah intervensi penggunaan Chlorine Filter sudah memenuhi standar Permenkes No. 2 Tahun 2023 di tiga titik pengambilan sampel, yaitu reservoir, kran rumah warga, dan kran dekat embung Gagak Suro.
Kata Kunci : pengolahan air bersih, coliform, chlorine filte
GAMBARAN TINGKAT KEBISINGAN DI PT TONGGAK AMPUH SLEMAN PADA TAHUN 2025
Latar Belakang : Industri merupakan sektor penting dalam pembangunan yang memanfaatkan berbagai mesin dan peralatan untuk mengoptimalkan proses produksi. Namun, penggunaan mesin dan teknologi modern di lingkungan industri juga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, khususnya akibat paparan kebisingan. Kebisingan yang melebihi ambang batas dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis pada pekerja. Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 5 Tahun 2018, ambang batas kebisingan di lingkungan kerja adalah 85 dB(A) selama 8 jam per hari. Studi pendahuluan di PT Tonggak Ampuh Sleman menunjukkan tingkat kebisingan sebesar 92,07 dB(A), melebihi ambang batas yang ditetapkan. Kondisi ini mendorong perlunya penelitian lebih lanjut mengenai tingkat kebisingan di PT Tonggak Ampuh Sleman dan kesesuaiannya dengan standar baku mutu kebisingan yang berlaku, sebagai bagian dari upaya penyehatan udara di lingkungan kerja.
Tujuan : Untuk mengetahui informasi tingkat kebisingan di PT Tonggak Ampuh Sleman pada Tahun 2025.
Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan tingkat kebisingan PT Tonggak Ampuh Sleman pada tahun 2025. Pengukuran kebisingan dilakukan di dua titik menggunakan alat Sound Level Meter(SLM).
Hasil : Berdasarkan penelitian tingkat kebisingan tertinggi terdapat pada area produksi saat mesin beroperasi sebesar 92,29 dB(A), melebihi nilai ambang batas 85 dB(A) sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018. Area sekitar perkantoran tercatat maksimum 77,3 dB(A). Saat mesin tidak beroperasi, kebisingan menurun signifikan.
Kesimpulan : Tingkat kebisingan di PT Tonggak Ampuh Sleman masih belum memenuhi baku mutu kebisingan di lingkungan kerja saat mesin beroperasi memproduksi tiang listrik.
Kata Kunci : Kebisingan, Industri, Sumber Tidak Bergera
GAMBARAN KENAIKAN BERAT BADAN BADUTA SEBAGAI INDIKASI GEJALA STUNTED DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANTUL 2, KABUPATEN BANTUL
Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi dimana Panjang atau tinggi badan
bayi lebih pendek dari usianya. Prevalensi stunting di Kabupaten Bantul mengalami
kenaikan dari 6,42% pada tahun 2022 menjadi 6,45 % pada tahun 2023.
Tujuan : Mengetahui gambaran kenaikan berat badan baduta sebagai indikasi
gejala stunted di wilayah kerja Puskesmas Bantul 2, Kabupaten Bantul
Metode : Penelitian deskriptif dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian
adalah baduta stunting sebanyak 32 orang. Penelitian ini dilakukan pada November
2024 sampai April 2025, dengan menggunakan data sekunder dari EPPBGM
Puskesmas. Analisa menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil : Baduta stunting sebagaian besar berusia 20-23 bulan sebanyak 15 orang
yaitu 46,9%, sebagian besar baduta stunting berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20
orang yaitu 62,5%. Berdasarkan frekuensi penimbangan baduta stunting selama 12
bula terakhir sebagian besar baduta stunting dengan frekuensi penimbangan selama
10x dalam 12 bulan terakhir sebanyak 12 orang yaitu 68,8%. Berdasarkan
Frekuensi Tidak Naik Berat Badan (T) Baduta Stunting Dalam 12 Bulan Terakhir
sebagian besar baduta stunting dengan frekuensi tidak naik berat badan 5-10x
sebanyak 27 orang dengan persentase sebesar 84,4%.
Kesimpulan : Baduta dengan frekuensi tidak naik berat badan diatas 5x baik
berturut-turut maupun tidak berisiko tinggi terhadap stunting.
Kata Kunci : Kenaikan Berat Badan, Baduta, Gejala Stuntin