Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
9773 research outputs found
Sort by
Pengaruh Lama Pembendungan Darah Vena Selama 1 Menit Dan 3 Menit Terhadap Kadar Bilirubin Total
Latar Belakang : Kesalahan yang sering terjadi dalam proses pengambilan darah vena yaitu mengenakan torniquet terlalu lama sehingga mengakibatkan terjadinya hemokonsentrasi. Tekanan torniquet yang melebihi 1 menit dapat menyebabkan analit keluar dari jaringan dan masuk dalam darah sehingga terjadi peningkatan konsentrasi darah.
Tujuan : Mengetahui pengaruh lama pembendungan selama 1 menit dan 3 menit terhadap pemeriksaan bilirubin total.
Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pra-eksperimen karena desain ini memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi efek dari perlakuan tanpa adanya kelompok kontrol. Penelitian ini dilaksanakan bulan April 2025. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Semester 6 Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Analisis data menggunakan paired samples t-test.
Hasil : Hasil rata-rata pemeriksaan bilirubin total pada pemasangan tourniquet selama 1 menit yaitu sebesar 0,77 mg/dl sedangkan Hasil rata-rata pemeriksaan bilirubin total pada pemasangan tourniquet selama 3 menit sebesar 0,90 mg/dl. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh waktu pembendungan tourniquet 1 menit dan 3 menit.
Kesimpulan : Pembendungan 3 menit mengakibatkan kadar bilirubin total lebih tinggi dari pada pembendungan 1 menit. Kadar bilirubin pada pembendungan 3 menit lebih tinggi secara signifikan.
Kata Kunci : bilirubin total, pembendungan, tourniquet, hemokonsentras
ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN NY. N USIA 23 TAHUN G1P0AB0AH0 DENGAN KEK DAN ANEMIA RINGAN DI PUSKESMAS PAJANGAN
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, diantaranya dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Hal yang perlu dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam membantu mengurangi AKI dan AKB adalah peran tenaga kesehatan khususnya bidan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh dan bermutu kepada ibu dan bayi dalam lingkup kebidanan adalah melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif (continuity of care), mulai dari masa hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana. Salah satu ibu hamil di Puskesmas Pajangan adalah Ny. N.
Selama kunjungan ANC pada ibu hamil, tidak ditemukan permasalahan atau tanda bahaya pada ibu hamil terutama pada trimester tiga. Pada tanggal 29 Maret 2025, ibu bersalin di RS UII secara spontan pada pukul 12.41 WIB. Kondisi ibu dan bayi dalam keadaan baik, yaitu bayi lahir spontan dengan berat 3095 gram, dan menangis spontan. Selama masa nifas pada ibu dan neonatus pada bayi, ibu dan bayi tidak ditemukan komplikasi. Ibu memutuskan menggunakan KB Suntik 3 bulan 1 bulan setelah bersalin.
Kesimpulan dari asuhan ini adalah ibu hamil dalam kondisi normal sampai proses persalinan. Pada persalinan ibu melahirkan secara spontan di PMB dan kondisi baik ibu maupun bayi dalam keadaan baik. Selain itu, pada masa nifas hingga pemakaian KB suntik 3 bulan tidak ditemukan komplikasi. Saran untuk, bidan agar dapat meningkatkan asuhan berkesinambungan dengan cara memantau secara ketat ibu dan bayi sehingga ketika ditemukan komplikasi dapat dilakukan tindakan secara tepat sesuai prosedur
ASUHAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. NS USIA 25 TAHUN G1P0AB0AH0 UMUR KEHAMILAN 38 MINGGU DENGAN OLIGOHIDRAMNION DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2024, tercatat 8
kasus kematian ibu, sebagian besar terjadi pada masa nifas dan disebabkan oleh
komplikasi seperti penyakit jantung dan perdarahan. Di wilayah kerja Puskesmas
Pundong, salah satu masalah kehamilan yang menjadi perhatian adalah
oligohidramnion, yakni kondisi cairan ketuban yang rendah yang berpotensi
menimbulkan komplikasi serius pada ibu dan janin. Berdasarkan data Register KIA
periode Januari–Februari 2025, tercatat 466 ibu hamil, 7 ibu bersalin, dan 15 ibu
nifas, serta 208 bayi dan balita sakit. Sedangkan untuk jumlah kasus
oligohidramnion 4, kondisi ini termasuk penyebab penting yang meningkatkan
risiko komplikasi kehamilan di wilayah Bantul. Oleh karena itu, Puskesmas
Pundong fokus meningkatkan pelayanan antenatal care dengan pemantauan ketat
terhadap ibu hamil yang berisiko, khususnya pada kasus oligohidramnion.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Pundong terus ditingkatkan
melalui pemantauan aktif masa kehamilan, persalinan, dan nifas, termasuk
kunjungan rumah untuk deteksi dini faktor risiko kehamilan. Puskesmas Pundong
juga menerapkan sistem asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care)
guna mendukung penurunan angka kesakitan dan kematian pada ibu dan bayi. Peran
tenaga kesehatan, terutama bidan, sangat krusial dalam memberikan edukasi dan
pemantauan rutin agar komplikasi seperti oligohidramnion dapat dideteksi sejak
dini dan segera ditangani dengan tepat.
Ny. NS seorang wanita berusia 25 tahun dengan status G1P0A0Ah0, menjalani
pemeriksaan antenatal care (ANC) sebanyak 14 kali selama masa kehamilannya,
dimulai pada usia kehamilan 10 minggu di Praktik Mandiri Bidan (PMB) dekat
tempat tinggalnya. Selama pemeriksaan awal hingga trimester kedua, kondisi
kehamilan dinyatakan normal. Namun, memasuki trimester ketiga, saat usia
kehamilan 36 minggu, bidan PMB mencurigai adanya kelainan pertumbuhan janin
karena tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai usia kehamilan dan gerakan janin
terasa berkurang. Atas dasar temuan tersebut, Ny. NS dirujuk untuk pemeriksaan
lanjutan di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, yakni Puskesmas Pundong.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan pada tanggal 24 Februari 2025, saat kehamilan
memasuki usia 38 minggu. Pada kunjungan ANC pertama, ditemukan IMT ibu
masuk dalam kategori overweight 27,7 kemudian ditemukan juga adanya
oligohidramnion melalui pemeriksaan USG kemudian dikonfirmasi kembali pada
kunjungan kedua. Karena kondisi ini, Ny. NS dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah
Bantul untuk penanganan lebih lanjut. Pada usia kehamilan 39 minggu, Ny. NS
melahirkan secara normal pervaginam spontan di RS PKU Muhammadiyah Bantul.
Bayi lahir dalam kondisi sehat, dengan tangisan kuat segera setelah lahir, tonus otot
yang aktif, warna kulit kemerahan, dan berat badan lahir 3270 gram yang masuk
kategori Berat Badan Lahir Cukup (BBLC), Cukup Bulan (CB), serta Spontan
Menangis Kuat (SMK). Pada masa neonatus, bayi sempat mengalami penurunan
berat badan pada hari kedua, namun kondisi ini membaik dan berat badan bayi
meningkat kembali pada hari kesembilan. Selama masa nifas, Ny. NS tidak
mengeluhkan masalah kesehatan dan menerima penyuluhan (KIE) yang sesuai
dengan tahapan masa nifas. Ibu memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi
kondom sebagai metode KB sementara. Ia juga berencana untuk berkonsultasi lebih
lanjut dengan bidan dan suaminya mengenai penggunaan KB IUD setelah masa
nifas selesai. Keseluruhan proses asuhan kebidanan ini menunjukkan bahwa
meskipun masalah oligohidramnion terdeteksi saat kunjungan ANC terakhir,
pendampingan dan rujukan yang tepat mampu menjamin kelahiran bayi yang sehat
dan proses nifas yang baik. Pendekatan komprehensif dari pemeriksaan kehamilan
hingga perencanaan KB pascapersalinan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan
ibu dan bayi
Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien Gangren Ekstremitas Inferior Sinistra pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Gombong
Latar Belakang : Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai hiperglikemi. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius, salah satunya gangren. Komplikasi ini berisiko terjadi pada sekitar 15% pasien DM di Indonesia, dan secara global mencapai 6,4%. Asuhan gizi perlu dilakukan untuk mendukung perawatan terutama dalam mengontrol kadar gula darah, penyembuhan luka, mencegah infeksi, dan peningkatan status imun, sehingga perlu dikaji untuk mendukung perawatan pasien gangren.
Tujuan : Mengetahui pelaksanaan asuhan gizi terstandar pada pasien Gangren Ekstremitas Inferior Sinistra dengan Tindakan Amputasi pada Diabetes Melitus Tipe 2
Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yang dirancang sebagai studi kasus.
Hasil : Hasil asesmen pada pasien Gangren Ekstremitas Inferior Sinistra menunjukkan bahwa pasien memiliki status gizi kurang. Kadar glukosa darah sewaktu dan leukosit tinggi, albumin, kalium dan hemoglobin rendah. Pasien mengalami mual, kulit kering, luka di ibu jari kaki, atrofi otot, dan penurunan nafsu makan. Riwayat asupan makan pasien dapat dikategorikan dalam defisit tingkat berat berdasarkan 24-Hour Recall dan SQFFQ selama satu bulan. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi selama dua hari, terjadi peningkatan asupan makan, penurunan kadar glukosa darah sewaktu, peningkatan kadar albumin, serta perbaikan kondisi fisik ditandai dengan hilangnya keluhan mual.
Kesimpulan : Pasien gangren ekstremitas inferior sinistra menunjukkan status gizi kurang dengan gangguan biokimia dan fisik yang mengindikasikan kondisi metabolik yang buruk. Intervensi gizi yang diberikan selama dua hari menunjukkan hasil positif berupa peningkatan asupan makan, perbaikan kadar glukosa darah dan albumin, serta perbaikan gejala fisik.
Kata Kunci : Proses Asuhan Gizi Terstandar, Gangren Ekstremitas, Diabetes Melitus Tipe
GAMBARAN PERILAKU MENYIKAT GIGI DENGAN KEJADIAN ABRASI PADA LANSIA
Latar Belakang : Abrasi gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan
mulut yang umum terjadi, terutama pada kelompok lansia. Di Indonesia, prevalensi
abrasi pada usia 50 – 59 tahun sebesar 53,33%. Berdasarkan studi pendahuluan
yang telah dilakukan melalui wawancara dan pemeriksaan secara langsung
terhadap 15 orang lansia, ditemukan bahwa 14 orang di antaranya mengalami abrasi
gigi.
Tujuan : Diketahuinya gambaran perilaku menyikat gigi dengan kejadian abrasi
pada lansia.
Metode : Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif melalui survei dan observasi
dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional). Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Mei 2025. Sampel dalam penelitian ini menggunakan
sampling jenuh atau mengambil seluruh lansia di Dusun VIII Janten, Ngestiharjo,
Kasihan, Bantul, DIY sejumlah 70 lansia usia 51 – 70 tahun. Instrumen penelitian
meliputi kuesioner perilaku menyikat gigi dan format pemeriksaan abrasi gigi.
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang.
Hasil : Sebagian besar responden memiliki perilaku menyikat gigi dalam kriteria
buruk sebanyak 39 responden (56,5%) dan sejumlah 40 responden (58,0%)
mengalami abrasi gigi dengan kategori tinggi. Abrasi gigi kategori tinggi
ditemukan pada laki – laki sebanyak 19 responden (67,9%), usia 56 – 60 tahun
sebanyak 13 responden (72,2%), berpendidikan terakhir SD sebanyak 23 responden
(63,9%). Perilaku menyikat gigi dalam kriteria buruk dengan kejadian abrasi gigi
kategori tinggi yaitu sebanyak 31 responden (79,5%).
Kesimpulan : Perilaku menyikat gigi pada lansia menggambarkan adanya
keterkaitan dengan kejadian abrasi gigi.
Kata Kunci : Perilaku menyikat gigi, abrasi gigi, lansi
Gambaran Perilaku Menyikat Gigi dan Tingkat Kebersihan Mulut Pada Remaja
Latar Belakang : Persentase penduduk yang menyikat gigi dengan benar yaitu menyikat gigi dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur malam hanya sebesar 2,8%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Oktober 2024 dengan hasil 60% anak belum mengetahui cara menyikat gigi yang baik dan benar.
Tujuan Penelitian : Diketahuinya gambaran perilaku menyikat gigi dan tingkat kebersihan mulut pada remaja
Metode Penelitian : Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah 65 remaja berusia 15-17 tahun di Pondok Pesantren Mlangi Nogotirto Gamping Sleman, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk perilaku menyikat gigi dan pemeriksaan OHI-S untuk tingkat kebersihan mulut.
Hasil Penelitian : Tingkat perilaku menyikat gigi responden sebagian besar dalam kategori baik (46,2%), namun tingkat kebersihan mulut (skor OHI-S) mayoritas berada pada kategori sedang (60,0%). Ditemukan juga bahwa meskipun sebagian besar responden berusia 17 tahun memiliki perilaku menyikat gigi yang baik (69,2%), responden berusia 15 tahun cenderung memiliki skor OHI-S sedang (80,0%). Tabulasi silang antara perilaku menyikat gigi dan tingkat kebersihan mulut menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan perilaku menyikat gigi yang baik masih memiliki skor OHI-S dalam kategori sedang (84,6%).
Kesimpulan : perilaku menyikat gigi remaja di Pondok Pesantren Mlangi Nogotirto Gamping Sleman sudah cukup baik, tingkat kebersihan mulut mereka masih dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku menyikat gigi yang baik perlu didukung oleh faktor lain seperti teknik menyikat gigi yang benar.
Kata Kunci : Perilaku, Menyikat Gigi, Skor OHI-S, Remaja
GAMBARAN PENERIMAAN BAHAN MAKANAN LAUK HEWANI DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING
Latar Belakang : Penerimaan bahan makanan lauk hewani merupakan salah satu tahapan penting dalam penyelenggaraan makanan di rumah sakit. Bahan makanan lauk hewani bersifat mudah rusak secara fisik dan mikrobiologis, sehingga proses penerimaan yang tepat sangat diperlukan untuk menjamin mutu dan keamanan pangan yang akan disajikan kepada pasien. Ketidaktepatan dalam proses penerimaan dapat mempengaruhi pada kualitas makanan dan pelayanan gizi di rumah sakit. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Gamping, ditemukan adanya ketidaktepatan waktu dan spesifikasi dalam penerimaan bahan makanan lauk hewani.
Tujuan : Mengetahui kegiatan penerimaan bahan makanan lauk hewani di Instalasi Gizi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode observasional. Objek dalam penelitian ini adalah bahan makanan lauk hewani yang diterima dalam waktu lima hari pada siklus menu di Instalasi Gizi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Variabel penelitian ini yaitu ketepatan jenis, jumlah, spesifikasi, dan waktu penerimaan lauk hewani.
Hasil : Penerimaan bahan makanan berdasarkan jenis lauk hewani 100% tepat. Berdasarkan jumlah lauk hewani yang diterima. Berdasarkan jumlah, 97,5% tepat dan 2,5% tidak tepat yaitu pada penerimaan bahan makanan lauk hewani menu VIII. Pihak rekanan tetap melengkapi bahan makanan yang kurang. Berdasarkan Spesifikasi, 97,5% tepat dan 2,5% tidak tepat yaitu pada penerimaan menu VIII. Berdasarkan waktu pada penerimaan bahan makanan, 82,5% tepat dan 17,5% tidak tepat yaitu pada menu V dan menu VIII. Hal tersebut dikarenakan barang datang melebihi batas waktu yang ditetapkan.
Kesimpulan : Penerimaan bahan makanan lauk hewani di Instalasi Gizi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping sudah tepat untuk jenis, namun masih ditemukan ketidaktepatan pada aspek jumlah, spesifikasi, dan waktu penerimaan.
Kata Kunci : Ketepatan Penerimaan, Lauk Hewani, Penerimaan bahan makanan
Pengaruh Waktu Pendiaman Reagensia Pada Suhu Ruang Setelah Disimpan Dalam Kulkas Terhadap Hasil Pemeriksaan Kadar Ureum
Latar Belakang : Regensia yang disimpan dalam kulkas sering kali perlu didiamkan pada suhu ruang terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memastikan reaksi yang optimal. Namun, waktu pendiaman yang tidak tepat dapat mempengaruhi aktivitas enzim dalam reagen sehingga perlu diketahui pengaruh penggunaan reagen kerja yang digunakan langsung dari dalam kulkas dan didiamkan terlebih dahulu pada suhu ruang.
Tujuan : Mengetahui pengaruh lama pendiaman reagensia ureum setelah disimpan dalam kulkas terhadap hasil pemeriksaan ureum.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian semu dengan rancangan posttest-only control design. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2025. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan tingkat dua Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Dengan jumlah sampel uji sebanyak 6 mahasiswa. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk dan One-Way Anova.
Hasil : Rerata hasil pemeriksaan ureum pada menit ke-0 yaitu 27,4 mg/dL; menit ke-10 yaitu 24,1 mg/dL; menit ke-20 yaitu 20,3 mg/dL dan menit ke-30 yaitu 19,5 mg/dL. Hal ini menunjukkan kadar ureum mengalami penurunan. Hasil pengujian statistik menggunakan uji One-Way Anova didapatkan Sig.0,523 (>0,05) dimana hasil tersebut dinyatakan tidak ada pengaruh yang signifikan.
Kesimpulan : Tidak ada pengaruh yang signifikan pada pendiaman reagensia ureum setelah disimpan dalam kulkas yang langsung digunakan dan didiamkan pada suhu ruang selama 10, 20 dan 30 menit terhadap hasil pemeriksaan kadar ureum.
Kata Kunci : Waktu Pendiaman, Reagensia, Ureu
PENERAPAN METODE TEACH-BACK UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISIS
ABSTRAK
Latar Belakang : Pasien yang menjalani hemodialisis dengan defisit pengetahuan terkait terapi. Kurangnya pemahaman mengenai konsep dasar hemodialisis dapat berdampak pada kualitas hidup pasien. Metode teach-back merupakan strategi edukasi interaktif yang memungkinkan evaluasi pemahaman pasien secara langsung melalui pengulangan informasi dengan kata-kata mereka sendiri.
Tujuan: Menerapkan metode teach-back untuk meningkatkan pengetahuan pasien yang menjalani hemodialisis melalui pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus deskriptif pada dua pasien hemodialisis di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, serta edukasi kesehatan menggunakan media leaflet dengan pendekatan teach-back. Proses keperawatan dilakukan mulai dari pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan intervensi, implementasi, hingga evaluasi.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan edukasi kesehatan dengan pendekatan metode teach-back selama 1 kali pertemuan didapatkan hasil tingkat pengetahuan kedua pasien meningkat
Kesimpulan: Penerapan metode teach-back terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan kedua pasien hemodialisis.
Kata Kunci: hemodialisis, teach-back, pengetahuan, asuhan keperawata
UJI DAYA PREDASI IKAN KEPALA TIMAH (Aplocheilus panchax) DAN IKAN CERE (Gambusia affinis) TERHADAP LARVA Aedes sp. PADA AIR HUJAN DI DESA TUREKISA KABUPATEN NGADA
Nyamuk Aedes sp. merupakan vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang populasinya meningkat selama musim penghujan, terutama di daerah tropis seperti Desa Turekisa, Kabupaten Ngada. Penampungan air hujan tanpa tutup di desa ini berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya larva Aedes sp., sehingga meningkatkan risiko penularan DBD. Pengendalian biologis menggunakan ikan predator merupakan alternatif ramah lingkungan untuk menekan populasi larva nyamuk. Penelitian ini bertujuan mengetahui daya predasi ikan kepala timah (Aplocheilus panchax) dan ikan cere (Gambusia affinis) terhadap larva Aedes sp. pada media air hujan. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain posttest-only. Setiap ikan diuji untuk memangsa 20 larva Aedes sp. dalam media air hujan dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan Gambusia affinis memiliki waktu predasi rata-rata tercepat sekitar 5 menit 5 detik, sedangkan Aplocheilus panchax membutuhkan waktu sekitar 56 menit 4 detik untuk memangsa seluruh larva. Uji statistik Independent Sample t-test mengonfirmasi perbedaan signifikan p=0,002 (p <0,5) antara kedua jenis ikan dalam memangsa larva. Kesimpulan Gambusia affinis terbukti lebih efektif dan responsif dalam memangsa larva Aedes sp. dibanding Aplocheilus panchax. Ikan ini berpotensi sebagai agen pengendalian biologis alami untuk mengurangi risiko penularan DBD di Desa Turekisa. Penelitian lanjutan direkomendasikan dilakukan secara langsung pada Penampungan Air Hujan (PAH) terbuka milik warga untuk memperoleh hasil aplikasi yang lebih optimal.
Kata Kunci: Daya predasi, Aplocheilus panchax, Gambusia affinis, larva Aedes sp., Air hujan