STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
3772 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN\ud SQUAT EXERCISE DENGAN NORDIC HAMSTRING EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PADA STRAIN HAMSTRING
Latar Belakang : Cedera hamstring yang terjadi di Amerika menurut America Football lebih dari 40% yang terkena cedera hamstring, sedangkan menurut Australia Ruler Football menduduki urutan ketiga setelah cedera knee dan ankle dengan presentase cedera hamstring 16%. Strain hamstring menyebabkan gangguan keseimbangan dan gangguan fleksibilitas otot sehingga menurunkan kemampuan aktivitas fungsional penderita.\ud
Tujuan : Mengetahui perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring.\ud
Metode Penelitian : Jenis pepenelitian ini quasy experimental sedangkan rancangan penelitian ini bersifat randomized dan design menggunakan pre and post test two group design. Populasi adalah pemain sepakbola di perum tirto, nogotirto, sleman, yogyakarta yang mengalami penurunan kemampuan aktivitas fungsional dikarenakan strain hamstring. Sampel didapat melalui metode purposive sampling, sampel terdiri dari 7 orang setiap kelompok perlakuan. Instrumen pengukuran aktivitas fungsional pada strain hamstring menggunakan OSTRC indeks. Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas data dengan Lavene‟s Test. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test untuk mengetahui peningkatan aktivitas fungsional pada kelompok I dan II serta uji Independent Sample T-Test untuk menguji perbedaan pengaruh kelompok I dan II.\ud
Hasil : Uji dengan Paired Sample T-Test untuk kelompok I nilai p=0,000 (p<0,05) dan untuk kelompok II nilai p=0,000 (p<0,05). Uji perbedaan pengaruh kelompok I dan II dengan Independent Sample T-Test nilai p=0,000 (p>0,05). Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring.\ud
Simpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring.\ud
Saran : Untuk peneliti selanjutnya, agar peneliti dapat mengatur aktivitas sampel selama penelitian
PERBEDAAN PEMBERIAN KINESIOTAPING DAN PENAMBAHAN TOWEL TOE CURL DENGAN KINESIOTAPING TERHADAP KEMAMPUAN FUNGSIONAL SPRAIN ANKLE KRONIS MAPALA SANGGURU UMS
Latar Belakang : Pendakian gunung adalah salah satu olahraga favorit bagi pecinta alam, sebuah olahraga yang membutuhkan stamina fisik, mental, kesehatan dan strategi untuk menjaga keselamatan. Sprain ankle kronis adalah penguluran dan kerobekan (overstrech) trauma pada ligamen kompleks lateral, oleh adanya gaya inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/tanah. Peneliti mengaplikasikan metode pemberian kinesiotaping dan latihan towel toe curl untuk mengetahui peningkatan aktifitas fungsional. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui apakah ada perbedaan pemberian kinesiotaping dan penambahan towel toe curl dengan kinesiotaping terhadap kemampuan aktifitas fungsional. Metode Penelitian : Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan penelitian ini bersifat pre and post test two group design. Sampel berjumlah 16 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi kinesiotaping sendangkan kelompok 2 diberikan intervensi towel toe curl dan kinesiotaping. Uji pengaruh menggunakan Paired T-Test untuk mengetahui pengaruh pre and post test sedangkan uji beda menggunakan Independent T-Test. Hasil : Penelitian menunjukkan terdapat pengaruh kinesiotaping (p value 0,000), terdapat pengaruh penambahan towel toe curl dan kinesiotaping (p value 0,000), terdapat perbedaan pengaruh antara kinesiotaping dan penambahan towel toe curl dengan kinesiotaping terhadap peningkatan fungsional sprain ankle (p value 0,010). Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan pengaruh kinesiotaping dan penambahan towel toe curl dengan kinesiotaping terhadap kemampuan fungsional
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN ISOMETRIC\ud OTOT QUADRICEPS DAN LATIHAN CLOSED KINETIC\ud CHAIN TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS\ud FUNGSIONAL PADA PENDERITA\ud OSTEOARTHRITIS KNEE
Latar Belakang: Meningkatnya jumlah lansia terjadi peningkatan jumlah usia harapan\ud
hidup, dimana pada lansia telah mengalami degenaratif atau fungsi penurunan\ud
struktur tubuh, yang banyak terjadi yaitu osteoarthritis knee menyebabkan lansia\ud
mengalami penurunan dalam aktivitas fungsionalnya sehingga menghambat dalam\ud
melakukan aktivitas sehari-hari.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh\ud
latihan isometric otot quadriceps dan latihan closed kinetic chain terhadap\ud
peningkatan aktivitas fungsional pada penderita osteoarthritis knee . Metode:\ud
Penelitian ini merupakan quasi experimental randomized pre test and post test\ud
two group design sebanyak 16 orang penderita osteoarthritis knee. Sampel dibagi\ud
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I mendapat perlakuan latihan isometric otot\ud
quadriceps, kelompok II mendapat perlakuan latihan closed kinetic chain ,\ud
keduanya dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Alat ukur dalam\ud
penelitian kemampuan fungsional Western Ontario and Mcmaster Universities\ud
Osteoarthritis Index (WOMAC) . Uji normalitas data menggunakan uji shapiro wilktest\ud
dan uji homogenitas data menggunakan l avene’ test. Penggunaan Paired\ud
samples t-test untuk mengetahui peningkatan aktivitas fungsional pada kelompok I\ud
dan II serta menggunakan Independent samples t-test untuk menguji perbedaan\ud
pengaruh hasil intervensi kelompok I dan II. Hasil: Hasil uji menggunakan Paired\ud
samples t-test pada kelompok I p=0,000 (p<0,05) dan pada kelompok II p=0,000\ud
(p<0,05) menunjukkan bahwa kedua perlakuan berpengaruh terhadap peningkatan\ud
aktivitas fungsional pada penderita osteoarthritis knee, Sedangkan perbedaan\ud
pengaruh menggunakan Indepndent samples t-test p=0,011 (p<0,05) menunjukkan\ud
bahwa kedua perlakuan memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap\ud
peningkatan aktivitas fungsional pada penderita osteoarhritis knee. Kesimpulan:\ud
Ada perbedaan pengaruh latihan isometric otot quadriceps dan latihan closed kinetic\ud
chain terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada penderita osteoarthritis knee.\ud
Saran: Peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih spesifik dan dapat\ud
mengontrol aktivitas subjek penelitian yang berbeda-beda diluar waktu perlakuan\ud
yang dapat mempengaruhi hasil penelitian
PENGARUH FARTLEK TRAINING TERHADAP VO2MAX PADA MAHASISWA OVER WEIGHT
Latar belakang : Sebanyak 25 orang atau sekitar 5% dari seluruh jumlah populasi mahasiswa kebidanan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta mengalami overweight masalah yang timbul akibat over weight yaitu penurunan VO2Max Salah satu cara untuk meningkatkan VO2Max. Fartlek training membantu meningkatkan VO2Max. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh fartlek training terhadap VO2Max pada mahasiswa overweight. Metode penelitian : penelitian ini menggunakan penelitian quasi eksperimental, populasi adalah mahasiswa kebidanan usia 18-24 tahun yang mengalami penurunan VO2Max. Sampel terdiri dari 18 orang dan diberikan perlakuan dengan metode fartlek training latihan diberikan sebanyak 3 kali seminggu selama 24 kali pertemuan. Instrumen pengukuran dengan menggunakan bleep test. Hasil : uji hipotesis dengan menggunakan paired sample t-test dengan nilai : P = 0,000 (< 0,05) ada pengaruh fartlek training terhadap VO2Max pada mahasiswa over weight. Saran : peneliti agar mengatur aktivitas sampel selama penelitian.\ud
Kata Kunci : Fartlek training, VO2Max, Overweight, bleep Tes
PERBEDAAN PENGARUH\ud CAT STRETCHING DAN LOWER TRUNK ROTATION TERHADAP DISMINORE PRIMER PADA MAHASISWI UNIVERSITAS AISYIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Remaja mengalami pubertas ditandai dengan munculnya menstruasi pada masa remaja. Remaja pada umumnya mengalami menstruasi sebulan sekali dan cenderung pada awal menstruasi menimbulkan nyeri. Menurut WHO angka disminore di dunia sangat besar, rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap Negara mengalami disminore dan di Indonesia diperkirakan 55% perempuan produktif mengalami disminore. Disminore tidak hanya memunculkan keluhan rasa sakit atau rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah saja. Hal lainnya seperti rasa nyeri di bagian bawah punggung, nyeri di bagian dalam atau depan paha, sakit kepala, dan mual juga seringkali dikeluhkan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh cat stretching pada disminore primer, untuk mengetahui pengaruh lower trunk rotation pada disminore primer, untuk mengetahui pengaruh perbedaan pengaruh cat stretching dan lower trunk roatation pada kondisi disminore primer. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi expertimental dengan pre and post test two group design. Sampel berjumlah 34 orang kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberikan interverensi cat stretching dan kelompok II diberikan lower trunk rotation. Intervensi dilakukan selama 1 minggu, 4 kali seminggu. Alat ukur pada penelitian ini adalah visual analog scale. Hasil: Hasil analisis data dengan paired sample t-test pada kelompok I dan II menunjukan nilai p=0,000 (p<0,5). Hal ini menunjukan adanya pengaruh pada setiap kelompok dan terjadi penurunan nyeri haid. Hasil analisis dengan independent sample t-test menunjukan nilai p=0,835 (p>0,05) berarti tidak ada perbedaan pengaruh terhadap cat stretching dan lower trunk rotation terhadap disminore primer. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan antara pemberian cat stretching dan lower trunk rotation pada kondisi disminore primer
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN\ud PENYAKIT TUBERKOLUSIS DI WILAYAH KERJA \ud PUSKESMAS GAMPING I SLEMAN\ud YOGYAKARTA
INTISARI\ud
Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit infeksius terbanyak penyebab\ud
kematian di dunia. Menurut WHO pada tahun 2014, sebanyak 9,6 juta jiwa terjangkit\ud
penyakit Tuberkulosis dan 1,5 juta diantaranya meninggal akibat penyakit\ud
tersebut.Indonesia sebesar 1.000.000 kasus, Cina sebesar 930.000 kasus, Nigeria\ud
sebesar 570.000 kasus, Pakistan sebesar 500.000 kasus dan Afrika Selatan sebesar\ud
450.000 kasus. Sedangkan di Indonesia Pada tahun 2015 angka kejadian TB sebesar\ud
183 per 100.000 penduduk dengan angka kematian TB sebesar 25 per 100.000\ud
penduduk. Angka prevalensi TB Paru pada tahun 2008 di negara-negara anggota\ud
ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 kasus per 100.000 penduduk. Menurut Seksi\ud
Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Yogyakarta pada tahun 2014 Jumlah\ud
penemuan kasus baru TB BTA (+) PWS Kota Yogyakarta sedikit menurun dibanding\ud
tahun 2013.Di Kabupaten Sleman pada tahun Tahun 2015, berdasarkan laporan dan\ud
temuan lapangan, jumlah penderita TBC di DIY mencapai 1.141orang. Secara\ud
umum, kenaikan penderita TBC dalam tujuh tahun terakhir di kabupaten sleman\ud
≥15%.\ud
Tujuan: : Mengetahui Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Penyakit\ud
Tuberkolusis di Puskesmas Gamping I Sleman.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi\ud
korelasi, dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini\ud
sebanyak empat puluh limaresponden sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria\ud
eksklusi.Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket.Analisa data\ud
menggunakan Add Ratio Asymp. Sig. (2-sided) lebih kecil dari 0.01\ud
Hasil Penelitian:Berdasarkan penelitian ini hasil dari Hubungan Perilaku Merokok\ud
dengan Kejadian Penyakit Tuberkolosis bahwa nilai signifikansi Asymp. Sig. (2sided)\ud
\ud
=.003 dan perilaku merokok beresiko 9 kali lipat terkena penyakit\ud
tuberkolusis.Artinya terdapat hubungan yang signifikansi dari perilaku merokok\ud
dengan kejadian penyakit tuberkolosis di wilayah kerja puskesmas gamping 1\ud
sleman. \ud
Simpulan :Terdapat Hubungan Perilaku merokok dengan kejadian penyakit\ud
tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Gamping I Sleman Yogyakarta.\ud
Saran: Dapat memberikan informasi berhubungan dengan prilaku merokok terhadap\ud
penyakit TB Paru dalam mengurangi aktifitas merokok
HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN\ud TINGKAT RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT \ud DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA\ud UNIT BUDI LUHUR BANTUL \ud YOGYAKARTA
Latar Belakang: Kejadian jatuh dilaporkan terjadi pada sekitar 30% orang berusia\ud
65 tahun ke atas setiap tahunnya, dan 40% sampai 50% dari mereka yang berusia 80\ud
tahun keatas. Di panti werda (nursing homes), sekitar 50% penghuninya mengalami\ud
satu kali jatuh setiap tahunnya, setengah dari jumlah tersebut mengalami jatuh\ud
berulang, 10 sampai dengan 25% mengalami komplikasi serius. Sekitar 30% lanjut\ud
usia di dunia yang tinggal di komunitas pernah terjatuh. Latihan keseimbangan\ud
sangat efektif untuk meningkatkan keseimbangan fungsional dan statis serta\ud
mobilitas lansia. Adapun salah satu latihan fisik yang dilakukan untuk melatih\ud
keseimbangan adalah dengan olahraga, yaitu senam lansia.\ud
Tujuan:Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan frekuensi senam lansia\ud
dengan tingkat risiko jatuh pada usia lanjut di BPSTW Unit Budi Luhur Bantul\ud
Yogyakarta, Tahun 2018.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi\ud
korelasi dengan penelitian menggunakan survey analitik korelasi. Pengambilan\ud
sampel dengan teknik total sampling dan diperoleh 88 responden. Instrumen\ud
penelitian yang digunakan yaitu dokumentasi frekuensi senam lansia dan kuesioner\ud
risiko jatuh. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.\ud
Hasil Penelitian: Tingkat risiko jatuh di BPSTW unit Budi Luuhur yaitu sebanyak\ud
tidak ada risiko jatuh 46 orang (52,3%),risiko rendah sebanyak 37 orang (42,0%) dan\ud
risiko tinggi 5 orang (5,7%). Frekuensi senam secara teratur sebanyak 81 orang\ud
(92%), frekuensi senam tidak melakukan senam sebanyak 7 orang (8%).\ud
Simpulan dan saran: Ada hubungan antara frekuensi senam lansia dengan tingkat\ud
risiko jatuh usia lanjut di BPSTW Unit Budi Luhur Bantul Yogyakarta (t = 0,510;p<\ud
0,05) yaitu sebesar 0,000. Supaya lansia yang sudah teratur dalam mengikuti senam\ud
lansia tetap mempertahankan gaya hidupnya ini. Dan bagi lansia yang tidak teratur\ud
dalam mengikuti senam supaya meningkatkan frekuensi senamnya minimal 2 kali\ud
dalam seminggu untuk mengurangi risiko jatuh
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP SIKAP REMAJA UNTUK BERHENTI MEROKOK DI \ud DUSUN PETUGURAN PITURUH \ud PURWOREJO
Latar Belakang: Perilaku merokok merupakan salah satu masalah yang sering\ud
terjadi pada anak usia remaja. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan\ud
khususnya tentang merokok. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan kesehatan\ud
akan kesadaran kesehatan dalam diri remaja. Keinginan untuk berhenti merokok\ud
sangat rendah, hanya sekitar 25% saja yang berusaha untuk berhenti merokok.\ud
Dengan dilakukanya pendidikan kesehatan tentang merokok diharapkan remaja dapat\ud
menanggulangi sikap merokok agar tidak terjerumus dalam perilaku yang berresiko. \ud
Tujuan: Diketahuinya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap sikap remaja untuk\ud
berhenti merokok di Dusun Petuguran Pituruh Purworejo. \ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metodepra-eksperimental dengan\ud
rancangan One group Pre-Test Post-Test Design. Uji normalitas dengan ShapiroWilk\ud
dan\ud
analisis\ud
data\ud
menggunakan\ud
Wilcoxon.\ud
Jumlah\ud
sampel\ud
20\ud
remaja\ud
berusia\ud
1719\ud
tahun.\ud
Tekhnik\ud
\ud
sampling dilakukan dengan metode random sampling. Instrumen\ud
yang digunakan adalah kuesioner. \ud
Hasil Penelitian: Hasil pretest menunjukan sikap untuk berhenti merokok dapat\ud
dikategorkan tinggi sebanyak 0 remaja (0%) dan posttest meningkat menjadi 17\ud
remaja (85%). Hasil uji Wilcoxon pada remaja postest-pretest didapatkan pvalue\ud
0,000, p<0,05). \ud
Simpulan dan saran: Ada pengaruhpendidikan kesehatan terhadap sikap remaja\ud
untuk berhenti merokok di Dusun Petuguran Pituruh Purworejo. Agar sikap berhenti\ud
merokok pada remaja semakin baik, maka diharapkan remaja memiliki pengetahuan\ud
tentang bahaya merokok dan dampak yang ditimbulkan akibat dari merokok, serta\ud
mampu melakukan pencegahan mulai dari diri merka sendiri, salah satunya dengan\ud
cara pendidikan kesehatan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI \ud KEJADIAN BAYI BARU LAHIR DENGAN \ud BERAT BADAN LAHIR RENDAH \ud DI RSUD WONOSARI
Latar Belakang: Kasus BBLR merupakan masalah kesehatan global yang \ud
menjadi perhatian pemerintah pasalnya penyebab kematian pada kelompok perinatal\ud
sebagian disebabkan oleh BBLR dan Asfiksia (Dinkes DIY, 2016). Berdasarkan data\ud
dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015, angka kejadian\ud
BBLR di Propinsi DIY tergolong tinggi yaitu sebesar 5,32%, dengan kejadian BBLR\ud
tertinggi berada di Kabupaten Gunungkidul sebesar 7,33%. Penyebab terjadinya\ud
BBLR antara lain: usia, paritas, umur kehamilan, pendidikan dan kadar Hemoglobin. \ud
\ud
Tujuan: Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi bayi lahir dengan \ud
BBLR di RSUD Wonosari.\ud
\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode penelitian \ud
kuantitatif, desain penelitian observasional analitik. Sampel yang digunakan\ud
sebanyak 216 responden dengan teknik pengambilan sampel Sistematic Random\ud
Sampling. Instrument dalam penelitian ini menggunakan rekam. Analisis data\ud
menggunakan uji Chi Square yakni nilai kemaknaan α= 0.05. \ud
\ud
Hasil: Hubungan paritas dengan kejadian BBLR diperoleh nilai P = 0.092 \ud
(P>0.05). Hubungan usia ibu dengan kejadian BBLR diperoleh nilai P = 0.005\ud
(P<0.05). Hubungan umur kehamilan dengan kejadian BBLR diperoleh nilai P =\ud
0.000 (P<0.05). Hubungan pendidikan dengan kejadian BBLR diperoleh nilai P =\ud
0.001 (P<0.05). Hubungan HB ibu dengan kejadian BBLR diperoleh nilai P = 0.000\ud
(P<0.05). \ud
\ud
Simpulan dan Saran: Ada hubungan usia, umur kehamilan, pendidikan, \ud
kadar hemoglobin dengan kejadian BBLR dan tidak terdapat hubungan antara paritas\ud
dengan kejadian BBLR. Bagi ibu hamil diharapkan untuk melakukan pemeriksaan\ud
rutin selama kehamilan (ANC) agar resiko terjadinya BBLR dapat lebih dini\ud
teridentifikasi serta segera mendapat penanganan yang tepat
PENGARUH PENYULUHAN ADAPTASI PUBERTAS\ud TERHADAP PENGETAHUAN ORANG TUA \ud TENTANG PENDIDIKAN SEKSUAL PADA \ud ANAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM \ud DI SD MUHAMMADIYAH MLANGI \ud GAMPING KABUPATEN SLEMAN
Latar Belakang : Masalah pendidikan seks bagi anak di usia dini merupakan\ud
hal yang masih dianggap tabu dan kotor yang tidak patut untuk diajarkan orang tua\ud
ke anak karena pendidikan seks itu identik dengan cabul dan pornografi. Salah satu\ud
faktor yang memperngaruhi adalah kurangnya pengetahuan orang tua tentang\ud
pendidikan seksual pada anak. \ud
\ud
Tujuan : Mengetahui pengaruh penyuluhan adaptasi pubertas terhadap \ud
pengetahuan orang tua tentang pendidikan seksual pada anak dalam perspektif islam\ud
di SD Muhammadiyah Mlangi. \ud
\ud
Metode Penelitian : Merupakan Jenis penelitian ini adalah metode Quasi \ud
eksperiment dengan desain penelitian ini adalah Two-group pre-post test design with\ud
control. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik totall sampling dengan\ud
jumlah sampel 60 responden. Analisis statistik menggunakan uji rank wilcoxon. \ud
\ud
Hasil : Hasil analisis data diperoleh nilai p value 0,001<α =0,05. Hasil ini \ud
menunjukan bahwa ada pengaruh penyuluhan adaptasi pubertas terhadap\ud
pengetahuan orang tua tentang pendidikan seksual pada anak dalam perspektif Islam\ud
SD Muhammadiyah Mlangi Yogyakarta. \ud
\ud
Simpulan dan Saran : Ada pengaruh penyuluhan adaptasi pubertas terhadap \ud
pengetahuan orang tua tentang pendidikan seksual pada anak dalam perspektif islam\ud
SD Muhammadiyah Mlangi Yogyakarta. Diharapkan petugas kesehatan bisa\ud
menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan untuk melakukan penyuluhan terkait\ud
kesehatan pendidikan seksual pada orang tua dalam perspektif Isla