STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
3772 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN INDUKSI PERSALINAN OKSITOSIN DRIP\ud DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA DI RSU PKU\ud MUHAMMADIYAH BANTUL\ud TAHUN 2016
Latar Belakang: Menurut laporan rutin kesehatan ibu dan anak tahun 2013,\ud
AKI (Angka Kematian Ibu) di Indonesia masih berada pada angka 228/100.000\ud
kelahiran hidup atau sedikitnya 11.534 ibu meninggal setiap tahunnya. Angka\ud
kematian bayi di Indonesia masih tinggi yang di sebabkan oleh asfiksia pada urutan\ud
kedua setelah BBLR (Bayi Baru Lahir). Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada\ud
tahun 2014 angka kematian bayi sebesar 11,8/1000 kelahiran hidup dan meningkat\ud
menjadi 14,19 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Oksitosin dianggap\ud
merangsang pengeluaran prostaglandin sehingga terjadi kontraksi otot rahim dan bisa\ud
menyebabkan hipoksia. Pada tahun 2016, tercatat dari 927 bayi lahir 117 (12,7%)\ud
bayi mengalami asfiksia.\ud
Tujuan: Diketahui hubungan induksi persalinan oksitosin drip dengan\ud
kejadian asfiksia di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016.\ud
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah case control study, dengan\ud
pendekatan cross sectional. Sampel menggunakan teknik accidental sampling,\ud
sampling sebanyak 84 responden yang terdiri dari 42 kelompok kasus dan 42\ud
kelompok kontrol. Analisa data menggunakan uji Chi-Square.\ud
Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan dari 42 ibu bersalin dengan bayi\ud
asfiksia pada kelompok kasus, ditemukan 27 responden yang diberikan induksi\ud
persalinan oksitosin drip, lebih banyak dibandingkan dari ibu bersalin dengan bayi\ud
tidak asfiksia pada kelompok kontrol, dari 42 responden hanya 17 responden yang\ud
diberikan induksi persalinan oksitosin. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square\ud
diperoleh nilai ρ value sebesar 0,029 yaitu ρ value <0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha\ud
diterima berarti ada hubungan induksi persalinan oksitosin drip dengan kejadian\ud
asfiksia di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016.\ud
Simpulan dan Saran: Ada hubungan induksi persalinan oksitosin drip\ud
dengan kejadian asfiksia di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Diharapkan rumah\ud
sakit umum PKU Muhammadiyah Bantul dapat melengkapi data rekam medis (lilitan\ud
tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, dan prolapsus tali pusat) untuk\ud
memudahkan pengambilan data pada penelitian
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN PASANGAN USIA\ud SUBUR UNMET NEED DENGAN KEJADIAN KEHAMILAN \ud DI KELURAHAN PANEMBAHAN KECAMATAN KRATON \ud KOTA YOGYAKARTA
Latar Belakang: Unmet need merupakan pasangan usia subur yang tidak \ud
menggunakan alat kontrasepsi modern maupun tradisional, tetapi tidak ingin anak\ud
dalam waktu dekat atau tidak menginginkan anak lagi. Menurut data Badan\ud
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun 2015 bahwa kejadian unmet\ud
need di Indonesia sebesar 12,7%. Unmet need dapat berdampak pada keadaan\ud
psikologis atau kecemasan pasangan usia subur terhadap kemungkinan risiko untuk\ud
terjadi kehamilan yang tidak direncanakan, bahkan dapat mengakibatkan\ud
peningkatan angka kelahiran di masa mendatang. \ud
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan pasangan usia subur\ud
unmet need dengan kejadian kehamilan di Kelurahan Panembahan Kecamatan\ud
Kraton Kota Yogyakarta. \ud
Metode: Metode penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross\ud
sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 30 pasangan usia subur unmet need berusia\ud
20-45 tahun dengan teknik kuota sampling. Alat penelitian ini menggunakan\ud
kuesioner kecemasan dan tes kehamilan. Analisa data menggunakan Chi Square. \ud
Hasil: 50% mengalami tingkat kecemasan sedang, 80% tidak mengalami\ud
kehamilan, dan ada hubungan tingkat kecemasan pasangan usia subur unmet need\ud
dengan kejadian kehamilan di Kelurahan Panembahan Kecamatan Kraton Kota\ud
Yogyakarta. \ud
Simpulan & Saran: Ada hubungan antara tingkat kecemasan pasangan usia\ud
subur unmet need dan kejadian kehamilan dengan nilai p-value (0,010 < 0,05).\ud
Diharapkan pasangan usia subur terutama unmet need agar segera menjadi akseptor\ud
KB dengan menggunakan alat kontrasepsi yang sesuai dengan dirinya
HUBUNGAN PERAN ORANGTUA TERHADAP\ud PERILAKU SEKSUAL ANAK REMAJA \ud DI DUSUN PASEKAN KIDUL BALECATUR \ud GAMPING SLEMAN YOGYAKARTA
Latar Belakang : Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh\ud
hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Remaja\ud
melakukan seks pranikah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yang\ud
pertama adalah faktor individu dan yang kedua adalah keluarga. Dalam hal ini peran\ud
orang tua sangat penting mengarahkan remaja menuju tingkah laku yang positif dan\ud
terutama dalam pendidikan sehingga dapat mencapai sasaran belajar yang\ud
dikehendaki. Di samping itu tingkah laku orang tua pun menjadi contoh dan menjadi\ud
panutan remaja dalam bertingkah laku.\ud
Tujuan : penelitian ini menganalisis hubungan antara peran orang tua terhadap\ud
perilaku seksual anak remaja di dusun Pasekan kidul Gamping Sleman Yogyakarta\ud
tahun 2017.\ud
Metode : metode penelitian kuantitatif dengan rancangan survey analitik dan\ud
pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini terdiri dari 35 anak yang\ud
berusia 15-18 tahun beserta orang tuanya dan diambil dengan teknik total sampling.\ud
Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan teknik uji kendall tau.\ud
Hasil : hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan signifikan antara\ud
peran orang tua dengan perilaku seksual anak remaja di dusun Pasekan Kidul\ud
Balecatur Gamping Sleman Yogyakarta tahun 2017. Analisis Kendall Tau\ud
menyimpulkan bahwa pata taraf signifikansi p = 0,005 diperoleh nilai p = 0,005\ud
sehingga p≤ 0,05.\ud
Simpulan : (1) Peran orang tua dalam memberikan pendidikan seksual pada anak \ud
remaja termasuk dalam kategori cukup, (2) Perilaku seksual pada anak remaja\ud
termasuk dalam kategori tidak beresiko, (3) Ada hubungan peran orang tua terhadap\ud
perilaku seksual anak remaja di dusun Pasekan Kidul Balecatur Gamping Sleman\ud
Saran : Untuk orang tua diharapkan lebih dapat berperan dalam memberikan\ud
pendidikan tentang seksual sehingga tidak ada perilaku anak yang beresiko terhadap\ud
seksual
PENGARUH LATIHAN FISIK INTRA DIALISIS\ud TERHADAP ADEKUASI DIALISIS PADA PASIEN \ud YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA\ud DI RSU PKU MUHAMMADIYAH \ud BANTUL
Latar Belakang: Keberhasilan proses terapi hemodialisa pada pasien Gagal Ginjal \ud
Kronik ditentukan oleh terpenuhinya dosis HD, sehingga tercapai adekuasi dialisis(KT/V).\ud
Beberapa hal yang mempengaruhi adekuasi dialisis adalah kecukupan jam dialisis, Qb,\ud
Clearance of dializer serta aktifitas fisik pasien. Aktifitas fisik yang dilakukan saat terapi\ud
HD dapat meningkatkan aliran darah, memperbesar jumlah kapiler dan permukaan\ud
kapiler sehingga menigkatkan perpindahan toksin di jaringan vaskuler.\ud
Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan fisik intra dialisis terhadap adekuasi dialisis pada\ud
pasien yang menjalani terapi hemodialisa di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, tahun\ud
2017.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain\ud
penelitian menggunakan quasi eksperimental design. Rancangan yang digunakan adalah\ud
pre test only design with control dimana perlakuan hanya dilakukan pada kelompok\ud
responden. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi latihan fisik intra\ud
dialisis dan monitor nilai Kt/V. Analisa data menggunakan analisa unvariat dan analisa\ud
bivariat dengan menggunakan rumus chi square.\ud
Hasil Peneltian: Adekuasi dialisis(nilai Kt/V) meningkat pada kelompok interevensi yang\ud
melakukan latihan fisik intra dialisis. Peningkatan adekuasi dialisis terjadi pada 37\ud
responden(94%), sedang 2 responden (5,1%) tidak mengalami peningkatan. Hal ini tidak\ud
terjadi pada kelompok kontrol.\ud
Simpulan: Ada pengaruh latihan fisik intra dialisis terhadap adekuasi dialisis pada pasien\ud
yang menjalani terapi hemodialisa di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Berdasar hasil uji\ud
chi square didapatkan hasil p sebesar 0,000 (p<0,05).\ud
Saran: Bagi perawat agar mampu memotivasi dan menggerakkan pasien untuk melakukan\ud
latihan fisik intra dialisis. Bagi RSU PKU Muhammadiyah Bantul diharapkan latihan fisik\ud
intra dialisis menjadi pertimbangan dalam penatalaksanaan HD
PENGARUH PENYULUHAN STIMULASI DETEKSI\ud INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG TERHADAP \ud PENGETAHUAN TENTANG STIMULASI DETEKSI\ud INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG PADA \ud KADER DI PUSKESMAS GAMPING 2\ud YOGYAKARTA
Latar Belakang : Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang balita\ud
merupakan salah satu upaya untukmeningkatkan kualitas anak dan merupakan salah\ud
satu program dari KemenkesRI.\ud
Tujuan : penelitian ini diketahuinya “Pengaruhpenyuluhan SDIDTK terhadap \ud
pengetahuan SDIDTK pada kader di puskesmas Gamping 2 Yogyakarta”\ud
Metode : metode penelitian Quasy experiment dengan rancangan one group pre-test \ud
– post-test design. Responden penelitian ini terdiri dari 33kader dan diambil dengan\ud
teknik pre-testpost-test. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan teknik\ud
uji Paired t-test.\ud
Hasil : hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan signifikan antara\ud
penyuluhandenganpengetahuankaderdi puskesmasGamping 2 Sleman Yogyakarta\ud
tahun 2017. Analisis Paired t-testmenyimpulkan bahwa pata taraf signifikansi p =\ud
0,05 diperoleh nilai p = 0,000 sehingga p≤ 0,05.\ud
Simpulan : (1) sebagian responden diketahui mendapatkan pengetahuan dengan\ud
cukup, (2) sebagian responden diketahui memiliki tingkat memiliki pengetahuan\ud
baik, (3) ada hubungan signifikan antara penyuluhan SDIDTK dengan\ud
pengetahuankaderterhadap SDIDTK di puskesmasGamping 2 Sleman Yogyakarta\ud
tahun 2017.\ud
Saran : Hasil penelitian ini diharapakan puskemas Gamping 2 merencanakan\ud
kegiatan penyuluhan atau pelatihan terhadap kader-kader supaya pengetahuan kader\ud
bertambah
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN \ud KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA \ud DI BPSTW YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR\ud KASONGAN BANTUL
Latar Belakang: Demensia merupakan salah satu masalah kesehatan yang akan\ud
mengganggu kegiatan sehari-hari lansia maupun hubungan sosial lansia dengan\ud
lingkunganya, bahkan demensia menjadi salah satu penyebab kematian pada lansia.\ud
Organisasi Alzheimer International mencatat sekitar 4,6 juta kasus demensia baru\ud
dilaporkan di dunia pada tahun 2001 atau kasus baru muncul setiap tujuh detik.\ud
Demensia pada lansia memiliki beberapa faktor salah satunya adalah status gizi.\ud
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian demensia pada\ud
lansia. \ud
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan Deskriptif Korelatif dengan\ud
Pendekatan waktu Cross Sectional. Untuk mengetahui tingkat demensia\ud
menggunakan kuesioner MMSE sedangkan untuk mengetahui status gizi\ud
menggunakan IMT. Sampel penelitian menggunakan Total Sampling sebanyak 40\ud
responden. Analisis data yang digunakan adalah Kendall-Tau. Uji analisis hubungan\ud
dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Kendall Tau.\ud
Hasil: Hasil uji kendall tau status gizi dengan kejadian dimensia didapatkan hasil\ud
nilai p-value 0,000 (p<0,05) dan nilai koefesiensi korelasi sebesar 0,463 sehingga\ud
dapat disimpulkan terdapat hubungan dengan tingkat sedang pada status gizi dengan\ud
kejadian dimensia pada lansia. \ud
Simpulan: berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa status gizi\ud
mempengaruhi kejadian dimensia yang dialami lansia.\ud
Saran: bagi BPSTW disarankan untuk menambahkan varian menu makanan serta\ud
lebih memperhatikan tekstur makanan untuk meningkatkan nafsu makan dan\ud
mempermudah asupan serta memperbanyak menu makanan yang kaya akan asam\ud
folat, B12 dan keratin untuk menurunkan resiko demensia pada lansia
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU\ud TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI \ud PADA BALITA DI PUSKESMAS \ud TEGALREJO KOTA \ud YOGYAKARTA
Latar Belakang: Gizi merupakan salah satu faktor penting untuk\ud
menentukan kualitas sumber daya manusia. Balita merupakan kelompok rawan gizi. \ud
Diusia ini pertumbuhan otak masih berlangsung cepat. Kurangnya pengetahuan\ud
tentang gizi akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan menerapkan informasi\ud
dalam kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya \ud
gangguan gizi pada balita. Prevalensi gizi tidak normal di Puskesmas Teglarejo\ud
sejumlah 13,3% dari 615 balita. \ud
Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan\ud
status gizi pada balita di Puskesmas Tegalrejo Kota Yogyakarta. \ud
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian Analisi Korelasi,\ud
karena mencari hubungan dua variabel yang kemudian dicari koefisien korelasinya, \ud
dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 61 responden yang\ud
memiliki anak berusia 6–24 bulan. Teknik pengambilan sampel adalah teknik \ud
Accidental Sampling. Analisis data dilakukan dengan Chi Square dengan tarif\ud
singnifikasi 5% (0,05). \ud
Hasil: Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi paling tinggi yaitu sebanyak 57\ud
responden (93,4,2%). Status gizi pada balita dengan kategori status gizi normal\ud
sebanyak 41 responden (67,2%). Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi \ud
dengan status gizi pada balita hal ini ditunjukan dari hasil uji statistik dengan Chi\ud
Square diperoleh p value sebesa 0,009 dimana nilai p value <0,05. \ud
Simpulan dan Saran: Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi\ud
dengan status gizi pada balita. Diharapkan responden dapat meningkatkan\ud
wawasannya/pengetahuannya mengenai gizi pada balita sehingga dapat memenuhi \ud
kebutuhan gizi pada balitanya
PENGARUH KONSUMSI TINGGI PROTEIN NABATI TERHADAP KUALITAS PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS DI PUSKESMAS\ud MLATI II KABUPATEN SLEMAN
Latar Belakang: Infeksi masa nifas masih menjadi penyebab utama kematian ibu setelah perdarahan dan hipertensi dalam kehamilan. Faktor penyebab utama terjadinya infeksi pada masa nifas ialah adanya perlukaan pada perineum. Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Mlati II pada tahun 2016 pernah terdapat kasus penyembuhan luka perineum yang lama dan kualitas penyembuhan luka tidak berjalan dengan baik. Penyembuhan luka dengan penilaian kualitas jahitan perineum dalam masa nifas sangat diharapkan untuk menghindarkan ibu nifas dari bahaya infeksi atau keluhan fisiologis yaitu dengan cara penambahan asupan atau konsumsi tinggi protein dalam menu makan kesehariannya.\ud
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh konsumsi tinggi protein nabati terhadap kualitas penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Puskesmas Mlati II Kabupaten Sleman Tahun 2017.\ud
Metode Penelitian: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang bersalin secara normal dan mengalami perlukaan pada perineum. Teknik sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan Uji Mann-Whitney.\ud
Hasil: Hasil p-value skala REEDA menunjukkan p-value sebesar 0.050 = 0,05 dan untuk food record menunjukkan p-value sebesar 0.000 < 0,05, maka hasil uji statistik signifikan.\ud
Simpulan dan Saran: Ada pengaruh yang terjadi antara konsumsi tinggi protein nabati terhadap kualitas penyembuhan luka perineum dengan p-value = 0,05 (p-value < 0,05). Diharapkan agar para petugas kesehatan bisa memberikan konseling alternatif jika tidak bisa membujuk ibu nifas untuk meninggalkan budaya pantang makan yang masih dianut
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN \ud TINGKAT MOTIVASI UNTUK SEMBUH \ud PADA PENYALAHGUNA \ud NAPZA DI \ud LAPAS NARKOTIKA KELAS II A \ud YOGYAKARTA
Intisari: \ud
Pen\ud
elitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan \ud
tingkat motivasi untuk sembuh pada penyalahguna NAPZA di Lapas Narkotika \ud
Kelas II A Yogyakarta. penelitian kuantitatif dengan \ud
study correlational\ud
design \ud
dan \ud
pendekatan waktu \ud
cross sectional\ud
.\ud
Populasi dalam penelitian semua penyalahguna \ud
NAPZA yang berstatus narapidana berjumlah 193. Tehnik pengambilan sampel \ud
menggunakan \ud
non probability sampling \ud
yaitu \ud
kuota sampling \ud
berjumlah 130 \ud
responden\ud
dengan pengujian hipotesis menggunakan tehnik \ud
kendall \ud
tau\ud
.Terdapat \ud
71,5% dukungan keluarga dalam katagoti tinggi dan 90,8% tingkat motivasi untuk \ud
sembuh penyalahguna NAPZA dalam katagori tinggi. Nilai signifikansi adalah \ud
p=0,000 \ud
sehingga p<0,05. Ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat \ud
motivasi untuk sem\ud
buh pada penyalahguna NAPZA di Lapas Narkotika Kelas II A \ud
Yogyakarta. Saran bagi keluarga untuk tetap memberi dukungan yang dibutuhkan \ud
klien agar bisa mencapai kesembuhan yang optimal
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN\ud KEJADIAN DIARE PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN\ud DI PUSKESMAS PIYUNGAN
10,2%. Kejadian diare untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun\ud
2013 sebesar 1,7%. Angka kesakitan diare Bantul pada tahun 2015 sebesar 4,57%,\ud
per 1000 penduduk. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian diare pada bayi\ud
adalah pemberian ASI eksklusif. Angka ketercapaian ASI Eksklusif di Indonesia\ud
pada tahun 2014 baru mencapai 52,3% sedangkan untuk provinsi DIY 74% dan\ud
untuk Kabupaten Bantul sebanyak 63,51% yang dikatakan masih rendah\ud
dibandingkan dengan target nasional 80%.\ud
Tujuan : Diketahuinya hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian\ud
diare pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Piyungan.\ud
Metode Penelitian : Rancangan penelitian ini adalah studi korelasi dengan\ud
pendekatan waktu cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua bayi berusia\ud
6-12 bulan yang diare di Puskesmas Piyungan pada bulan Januari – Desember 2016\ud
yang berjumlah 60 bayi. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Uji\ud
analisis data menggunakan chi square.\ud
Hasil : Bayi yang diberi ASI eksklusif sebanyak 50 bayi (83,3%) sedangkan\ud
bayi yang tidak diberi ASI eksklusif sebanyak 10 bayi (16,7%). Hasil uji chi square\ud
didapatkan nilai X2 12,230 dengan signifikansi (p) 0,002\ud
Simpulan dan Saran : Ada hubungan dengan tingkat rendah antara\ud
pemberian ASI eksklusif dengan diare pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas\ud
Piyungan (X2 9,019; p 0,007 dan C 0,361). Bagi ibu menyusui agar menyadari\ud
pentingnya pemberian ASI eksklusif selama minimal 6 bulan yang memiliki\ud
pengaruh terhadap diare pada bayi