STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
    3772 research outputs found

    PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN\ud REPRODUKSI TERHADAP TINGKAT\ud PENGETAHUAN DAN SIKAP DALAM\ud PENCEGAHAN SEKS PRANIKAH\ud DI SMA NEGERI 1 SEDAYU

    No full text
    Latar belakang: Masalah yang kini tengah dihadapi remaja berkaitan dengan sistem\ud dan fungsi serta proses reproduksi remaja yaitu perilaku seks pranikah yang akan\ud mengakibatkan terjadinya gangguan pada kesehatan reproduksi, seperti penyakit\ud menular seksual, aborsi yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, kemandulan,\ud kematian akibat perdarahan, perasaan rendah diri, depresi, rasa berdosa, serta\ud hilangnya harapan masa depan. Data di peroleh dari SMAN 1 Sedayu pada bulan\ud Februari 2017 sebanyak 10 siswa hanya 1 yang mengetahui kesehatan reproduksi\ud secara menyeluruh dan 3 lainnya mengatakan tidak setuju mengenai sek pranikah.\ud Tujuan: Mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi terhadap tingkat\ud pengetahuan dan sikap dalam pencegahan seks pra nikah pada siswa kelas X SMAN\ud 1 Sedayu tahun 2018.\ud Metode penelitian: Menggunakan rancangan quasi eksperiment dengan one group\ud pretest posttest design. Populasi penelitian ini sebanyak 313 siswa kelas X. Sampel\ud penelitian ini sebanyak 76 responden. Pengambilan sampel dengan teknik random\ud sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Analisis data yang\ud digunakan yaitu unvariat dan bivariat dengan wilcoxon-test.\ud Hasil penelitian: Berdasarkan hasil analisis data menggunakan wilcoxon-test nilai p\ud value 0,00 ≤ 0,1. Artinya ada pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi terhadap\ud tingkat pengetahuan dan sikap dalam pencegahan seks pranikah di SMAN 1 Sedayu.\ud Simpulan dan Saran: Tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja sebelum\ud diberikan penyuluhan dengan 76 responden terdapat 60 responden (78,95%) dengan\ud tingkat pengetahuan baik. Setelah diberikan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja\ud terjadi peningkatan menjadi 76 responden (100%) dengan tingkat pengetahuan baik.\ud Sikap dalam pencegahan seks pranikah sebelum diberikan penyuluhan dengan 76\ud responden terdapat 45 responden (59,2%) masuk dalam kategori baik. Setelah\ud diberikan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja terjadi peningkatan menjadi 76\ud responden (100%) dalam kategori baik. Setelah diberikan penyuluhan kesehatan\ud reproduksi dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menjaga dan merawat\ud organ reproduksi dengan baik serta mencegah dari perilaku seks pranikah

    HUBUNGAN POLA KONSUMSI PROTEIN DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA\ud PERINEUM PADA IBU NIFAS DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

    No full text
    Latar Belakang : Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)\ud 2012, AKI di Indonesia sebanyak 359 per 100.000 kelahiran hidup. infeksi (sepsis\ud puerpuralis) merupakan penyebab kematian terbanyak nomor dua setelah perdarahan.\ud Yaitu sebesar 25-55%. Salah satu diantaranya adalah robekan pada perineum. Faktor\ud gizi terutama protein sangat mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum\ud karena protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain,\ud yaitu pertumbuhan, pemeliharaan jaringan tubuh, dan perbaikan jaringan.\ud Tujuan : Mengetahui ada hubungan pola konsumsi protein dengan proses\ud penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di RSUD Panembahan Senopati Bantul\ud Tahun 2018.\ud Metode : Desain penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan\ud pendekatan cross sectional. Tempat penelitian di RSUD Panembahan Senopati\ud Bantul. Populasi ibu nifas yang mengalami perlukaan pada perineum yaitu 89 orang\ud dan sampel adalah 30 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah accidental\ud sampling. Analisa data menggunakan uji Fisher Exact Test\ud Hasil : Hasil analisis univariat Ibu dengan pola konsumsi protein yang baik sebanyak\ud 28 orang (93.3%) Ibu yang luka perineumnya sembuh sebanyak 28 orang (93,3%)\ud %) uji Fisher Exact Test di dapatkan nilai p-value 0.002 <α (0.05) sehingga ada\ud hubungan pola konsumsi protein dengan proses penyembuhan luka perineum pada\ud ibu nifas di RSUD Panembahan Senopati Bantul\ud Simpulan dan Saran : Ada hubungan pola konsumsi protein dengan proses\ud penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di RSUD panembahan senopati bantul.\ud Diharapkan Ibu nifas mengkonsumsi protein yang mempercepat proses\ud penyembuhan luka perineum dan melakukan kontrol ulang jahitan perineum minimal\ud 2 kali seminggu

    HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH ORANG\ud TUA DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 1-5 \ud TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS \ud SEWON 1 BANTUL

    No full text
    Latar Belakang: Berdasarkan hasil Profil Kesehatan Provinsi Daerah Yogyakarta tahun\ud 2014, laporan gizi tahun 2014 masih dijumpai permasalahan gizi di Kota Yogyakarta\ud antara lain adanya balita gizi buruk dan gizi kurang dengan prevalensi balita gizi kurang\ud sebesar 6,96%, balita dengan status gizi buruk 0,67% serata ditemukan kegemukan pada\ud balita sebanyak <5%.\ud Tujuan: Mengetahui hubungan pola makan dan pola asuh orangtua dengan status gizi\ud pada anak usia 1-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sewon I Bantul. \ud Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan\ud desain deskriptif korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel\ud sebanyak 92 balita yang berusia 1-5 tahun dan ibu balita sebagai responden.\ud Pengumpulan data menggunakan kuesioner pola asuh orangtua, status gizi diukur\ud dengan menggunakan KMS. Analisis data bivariate menggunakan Kendal tau. \ud Hasil: Status gizi balita dengan indeks berat badan menurut umur (BB/U) mengalami\ud gizi Kurang sebanyak 9.8%, gizi lebih 3.3% dan gizi baik 87.0%. Uji Kendal tau\ud diperoleh nilai Ʈ sebesar 0.305 pada pola makan dan 0.272 pada pola asuh (Sig < 0.05).\ud Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara Pola Makan dan Pola Asuh Orangtua\ud dengan Status Gizi pada Anak Usia 1-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sewon I\ud Bantul. Diharapkan ibu lebih rutin mencari informasi tentang pemenuhan zat gizi balita,\ud manfaat zat gizi balita, tanda-tanda gangguan pertumbuhan balita dan untuk selalu \ud memperhatikan status gizi balitannya dengan cara menimbang balita secara rutin setiap\ud bulannya di posyandu

    PERBEDAAN PENGARUH\ud DURASI STATIC STRETCHING 30 DETIK DAN DURASI\ud STATIC STRETCHING 60 DETIK OTOT HAMSTRING\ud TERHADAP PENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI\ud LUTUT PADA LANJUT USIA

    No full text
    ABSTRAK\ud Latar Belakang:Menua bukan suatu penyakit, akan tetapi proses yang berangsur-angsur\ud menjadikan perubahan yang komulatif, menurunnya daya tahan tubuh dalam menanggapi\ud rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang akan berakhir dalam suatu kematian. Lgs dapat\ud diartikan pergerakan maksimal yang dimungkinkan pada sebuah persendian. Pada lansia usia\ud mulai 45s/d70 tahun, lingkup gerak sendi paha dan sendi lutut akan menurun sekitar\ud 20%.Tujuan:Untuk mengetahui pengaruh pemberian durasi static stretching 30 detik otot\ud hamstring terhadap peningkatan lingkup gerak sendi lutut, untuk mengetahui pengaruh\ud pemberian durasi static stretching 60 detik otot hamstring terhadap peningkatan lingkup\ud gerak sendi.Untuk mengetahui pengaruh pemberian durasi static stretching 30 detik dan\ud durasi static stretching 60 detik otot hamstring terhadap peningkatan lingkup gerak sendi\ud lutut.Metode:Penelitian ini menggunakan metode quasy eksperimental dengan pre and\ud posttest two group design, sampel berjumlah 30 orang kemudian dibagi menjadi 2\ud kelompok. Kelompok I diberi latihan durasi static stretching 30 detik dan kelompok II diberi\ud latihan durasi static stretching 60 detik. Dilakukan selama 4 minggu dengan seminggu 3 kali\ud hari senin, rabu dan jumat, alat ukur yang digunakan goniometer yang diambil sebelum dan\ud sesudah perlakuan. Data yang diperoleh diuji beda menggunakan bantuan program komputer\ud SPSS versi 2.1.Hasil:Hasil analisa data dengan paired sample t-test pada kelompok I dan II\ud menunjukkan nilai p=0.000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh pada setiap\ud kelompok dan terjadi peningkatan lingkup gerak sendi lutut.Hasil analisa dengan independent\ud sample t-test menunjukkan nilai ekstensi p=0,523 dan nilai fleksi p=0,409 (p=>0.05) berarti\ud tidak ada perbedaan pengaruh pemberian durasi static stretching 30 detik dan durasi static\ud stretching 60 detik otot hamstring terhadap peningkatan lingkup gerak sendi\ud lutut.Kesimpulan:Tidak ada perbedaan antara pemberian durasi static stretching 30 detik dan\ud durasi static stretching 60 detik otot hamstring terhadap peningkatan lingkup gerak sendi\ud lutut.Saran:Dalam penelitian selanjutnya disarankan untuk dengan jangka waktu yang lebih\ud panjang dan jumlah responden yang lebih banyak

    PENGARUH PEMBERIAN\ud DIAPHRAGMATIC BREATHING DALAM\ud MENINGKATKAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI\ud PEROKOK AKTIF REMAJA DI CLUB MOTOR\ud CAFERACER YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Masa remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak menuju\ud dewasa tetapi hal ini sering kali diperoleh dengan perilaku yang oleh orang dewasa\ud dianggap tidak bertanggung jawab salah satunya perilaku merokok, di Indonesia\ud mencapai 67,4% perokok aktif laki dan perempuan sebesar 4,5% dengan\ud kemungkinan besar 70% diantaranya mengalami penurunan arus pucak ekspirasi\ud Dampak yang ditimbulkan akibat merokok dapat menyebabkan perubahan struktur\ud dan fungsi saluran nafas dan penurunan arus puncak ekspirasi paru.Untuk mengukur\ud nilai arus puncak ekspirasi seseorang dapat menggunakan alat ukur peak flow meter\ud .Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan arus puncak\ud ekspirasi yaitu latihan diaphragmatic breathing. Tujuan : mengetahui pengaruh\ud pemberian diaphragmatic breathing dalam meningkatkan arus puncak ekspirasi.\ud Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental, uji normalitas\ud menggunakan saphiro wilk test, uji hipotesis menggunakan paired simple t-test\ud dengan desain penelitian pretest-postest one group design. Responden berusia 17-20\ud tahun dan berjumlah 10 orang. yaitu diberikan perlakuan diaphragmatic breathing\ud exercise. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 2 kali\ud seminggu. Alat ukur pada penelitian ini adalah peak flow meter. Hasil: hasil uji\ud hipotesis menggunakan paired sample t-test diperoleh nilai p : 0,000\ud (p<0,05).Kesimpulan:ada pengaruh pemberian diaphragmatic breathing dalam\ud meningkatkan arus puncak ekspirasi pada perokok aktif remaja di club motor\ud caferacer yogyakarta.Saran: kepada peneliti selanjutnya,untuk mengontrol aktivitas\ud responden, mengontrol intensitas dan durasi latihan yang dilakukan responden diluar\ud penelitian

    PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAAN\ud ACTIVE SPINAL MOBILIZATION DAN\ud PASSIVE SPINAL MOBILIZATION TERHADAP\ud PENINGKATAN FUNGSIONAL\ud CERVICOGENIC HEADACHE

    No full text
    Latar Belakang:Adanya persaingan bebas sekarang ini membawa pengaruh besar di\ud lingkungan kerja dimana peralatan dan teknologi sudah menjadi kebutuhan pokok\ud bagi setiap pekerjaan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam bekerja.\ud Peralatan dan teknologi yang kurang sesuai (ergonomis) dengan kebutuhan para\ud pekerja menimbulkan kerugian bagi pekerjanya contohnya kesalahan sikap.\ud Cervicogenic headache banyak dikeluhkan pasien dengan usia rata-rata 20-42 tahun\ud dengan perbandingan perempuan:laki-laki yaitu 4:1.Tujuan:Untuk mengetahui\ud pengaruh pemberian active spinal mobilization terhadap peningkatan fungsional\ud cervicogenic headache, untuk mengetahui pengaruh pemberian passive spinal\ud mobilization terhadap peningkatan fungsional cervicogenic headache. Untuk\ud mengetahui pengaruh pemberian active spinal mobilization dan passive spinal\ud mobilization terhadap peningkatan fungsional cervicogenic headache.\ud Metode:Penelitian ini menggunakan metode quasy eksperimental dengan pre and\ud post test two group design, sampel berjumlah 16 orang kemudian dibagi menjadi 2\ud kelompok. Kelompok I diberi latihan passive spinal mobilization dan kelompok II\ud diberi latihan active spinal mobilization. Dilakukan selama 4 minggu dengan\ud seminggu 2 kali hari senin dan kamis, alat ukur yang digunakan neck disability\ud indeks yang diambil sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh diuji beda\ud menggunakan bantuan program komputer SPSS versi 2.1.Hasil:Hasil analisa data\ud dengan paired sample t-test pada kelompok I dan II menunjukkan nilai p=0.000\ud (p<0,05). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh pada setiap kelompok dan terjadi\ud peningkatan fungsional pada cervicogenic headache. Hasil analisa dengan\ud independent sample t-test menunjukkan nilai p=0,694 (p=>0.05) berarti tidak ada\ud perbedaan pengaruh pemberian active spinal mobilization dan passive spinal\ud mobilization terhadap peningkatan fungsional cervicogenic headache.\ud Simpulan:Tidak ada perbedaan antara pemberian active spinal mobilization dan\ud passive spinal mobilization terhadap peningkatan fungsional cervicogenic\ud headache.Saran:Dalam penelitian selanjutnya disarankan untuk dengan jangka\ud waktu yang lebih panjang dan jumlah responden yang lebih banyak

    PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN\ud STRETCHING INTERCOSTALIS PADA LATIHAN\ud MOBILISASI SANGKAR THORAKS TERHADAP\ud PENINGKATAN PENGEMBANGAN THORAKS\ud PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS\ud (PPOK)

    No full text
    Latar Belakang: Penurunan pengembangan sangkar thoraks, penurunan aktivitas\ud dan penurunan endurance karena PPOK di RS Khusus Paru Respira sebesar 40%\ud dengan umur di atas 50 tahun dari 270 pasien, di RS PKU Bantul dan RS PKU Kota\ud 10% dari 30 pasien PPOK. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh\ud penambahan stretching intercostalis dan latihan mobilisasi sangkar thoraks terhadap\ud pengembangan thoraks pada pasien PPOK. Metode: Penelitian ini menggunakan\ud quasi-experimental dengan pre and post test two group design. Jumlah sampel 10\ud orang dibagi 2 kelompok. Kelompok I latihan mobilisasi sangkar thoraks dan\ud kelompok II stretching intercostalis dan latihan mobilisasi sangkar thoraks selama 6\ud minggu, 2 kali seminggu, diukur menggunakan midline menggunakan uji paired\ud sample t-test, wilcoxon, independent t-test dan mann-whitney Hasil: Ada pengaruh\ud latihan mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan pengembangan thoraks pada\ud pasien PPOK pada intercostal tiga (p=0,001), thoraks lima (p=0,007), prosesus\ud xiphoid p=0,005 dan thoraks sepuluh p=0,009. Ada pengaruh penambahan\ud stretching intercostalis dan latihan mobilisasi sangkar thoraks pada intercostal tiga\ud (p=0,012) dan thoraks lima (p=0,037) serta tidak ada pengaruh penambahan pada\ud prosesus xiphoid p=0,111 dan thoraks sepuluh p=0,279 terhadap peningkatan\ud pengembangan thoraks pada pasien PPOK. Hasil analisis pada intercostalis tiga\ud (p=0,088), thoraks lima (p=0,786), prosesus xiphoid p=0,825 dan thoraks sepuluh\ud p=0,072. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh penambahan stretching\ud intercostalis dan latihan mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan\ud pengembangan thoraks pada pasien PPOK pada titik intercostal tiga, thoraks lima,\ud procesus xiphoid dan thoraks sepuluh. Saran: Melakukan penelitian untuk\ud meningkatkan pengembangan thoraks pada pasien PPOK

    PENGARUH PENAMBAHAN CORE STABILITY\ud PADA LATIHAN ZIG-ZAG RUN TERHADAP KELINCAHAN PEMAIN BOLA BASKET PUTRA

    No full text
    Latar Belakang : Permainan bola basket merupakan permainan body contact langsung, yang menuntut kemampuan fisik setiap individu maupun kerjasama tim untuk bergerak. Agar dapat menggiring bola dengan baik tanpa kehilangan keseimbangan serta pada saat mengontrol bola, melakukan pivot atau gerakan berporos maupun pada saat melakukan gerakan tipuan untuk melakukan passing kepada teman maupun menerima umpan dari teman maka dibutuhkan suatu kelincahan. Apabila kelincahan tidak dimiliki oleh seorang pemain bola basket maka teknik dan taktik dalam permainan bola basket akan mudah dibendung oleh lawan. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui apakah ada pengaruh penambahan core stability pada latihan zig-zag runterhadap kelincahan pemain bola basket putra. Metode Penelitian : Metode Quasy Experimental, yang bersifat pre dan post two group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probalitytotal sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 16 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Pada kelompok 1 diberikan latihan zig-zag run sedangkan pada kelompok 2 diberikan perlakuan zig-zag run dan core stability. Hasil Penelitian : Hasil uji hipotesis I menggunakan paired sampelt-test nilai p = 0.001 dihitung lebih kecil (p<0.05) maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti bahwa ada pengaruh latihan zig-zag run terhadap kelincahan pemain bola basket putra. Sedangkan hasil uji hipotesis II nilai p = 0,000 dihitung lebih kecil (p<0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti bahwa ada pengaruh penambahan core stability pada latihan zig-zag run terhadap kelincahan pemain bola basket putra. Kesimpulan : Bahwa ada pengaruh penambahan core stability pada latihan zig-zag run terhadap kelincahan pemain bola basket putra. Saran : Diharapkan Bagi peneliti lain dapat mengontrol kegiatan sampel dan kondisi tubuh sampel sebelum melakukan latihan

    PERBEDAAN PENGARUH CORE STABILITY DAN\ud TENS DENGAN MC KENZIE DAN TENS TERHADAP\ud PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL\ud PENDERITA HERNIA NUCLEUS PULPOSUS

    No full text
    Latar Belakang: Banyak orang mengalami nyeri otot daripada rasa sakit lainnya,\ud termasuk nyeri punggung. Akibat dari penyakit ini apabila dibiarkan menyebabkan\ud penyakit lain yang menganggu aktivitas bahkan menyebabkan kecacatan sampai\ud kematian. Studi populasi di daerah pantai utara Jawa Indonesia ditemukan insidensi\ud 8,2% pada pria dan 13,6% pada wanita. Di Rumah Sakit Jakarta, Yogyakarta dan\ud Semarang insidensinya sekitar 5,4–5,8%, terbanyak pada usia 45-65 tahun. Tujuan:\ud Mengetahui pengaruh core stability dan TENS terhadap kemampuan fungsional\ud HNP, mengetahui pengaruh Mc kenzie dan TENS terhadap kemampuan fungsional\ud HNP, perbedaan pengaruh core stability dan TENS dengan Mc kenzie dan TENS\ud terhadap peningkatan kemampuan fungsional penderita HNP. Metode: Penelitian ini\ud menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre and post test two group\ud design. Sampel berjumlah 26 orang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok.\ud Kelompok I diberikan intervensi core stability dan TENS dan kelompok II diberikan\ud intervensi Mc kenzie dan TENS. Intervensi dilakukan selama 3 minggu, 2 kali\ud seminggu. Alat ukur menggunakan oswestry disability index. Hasil: Hasil uji\ud hipotesis I dan II dengan paired sample t-test menunjukkan p=0,000 (p<0,05), berarti\ud ada pengaruh kedua intervensi terhadap peningkatan kemampuan fungsional\ud penderita HNP. Hasil analisis data menggunakan independent sample t-test\ud menunjukkan p=0,028 (p<0,05), berarti ada perbedaan pengaruh core stability dan\ud TENS dengan Mc kenzie dan TENS terhadap peningkatan kemampuan fungsional\ud penderita HNP. Kesimpulan: Ada pengaruh core stability dan TENS terhadap\ud kemampuan fungsional HNP,ada pengaruh Mc kenzie dan TENS terhadap\ud kemampuan fungsional HNP, ada perbedaan pengaruh core stability dan TENS\ud dengan Mc kenzie dan TENS terhadap peningkatan kemampuan fungsional penderita\ud HNP

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN\ud DENGAN PERILAKU VCT (VOLUNTARY\ud COUNSELING AND TESTING) HIV/AIDS \ud PADA IBU RUMAH TANGGA DI\ud PUSKESMAS TEGALREJO \ud YOGYAKARTA

    No full text
    INTISARI \ud Latar Belakang: Ibu rumah tangga termasuk salah satu kelompok beresiko terhadap\ud HIV/AIDS untuk mengurangi resiko, maka pencegahan dilakukan dengan perilaku\ud VCT (Voluntary Counseling and Testing).\ud Tujuan Penelitian: Diketahuinya hubungan umur, pendidikan dan pengetahuan\ud dengan perilaku VCT HIV/AIDS.\ud Metode: Desain menggunakan pendekatan cross sectional dengan 46 responden,\ud pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Sampling yang\ud digunakan adalah non random sampling yaitu accidental sampling.\ud Hasil Penelitian: Didapatkan p value = 0,950 yang menunjukkan bahwa tidak ada\ud hubungan antara usia dengan perilaku VCT HIV/AIDS pada ibu rumah tangga di\ud Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. p value = 0,003 yang menunjukkan ada hubungan\ud antara pendidikan dengan perilaku VCT HIV/AIDS di Puskesmas Tegalrejo\ud Yogyakarta. p value = 0,006 yang menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan\ud dengan perilaku VCT HIV/AIDS di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta.\ud Simpulan: Tidak ada hubungan antara usia dengan perilaku VCT HIV/AIDS pada\ud ibu rumah tangga di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Ada hubungan antara\ud pendidikan dengan perilaku VCT HIV/AIDS di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. \ud Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku VCT HIV/AIDS di Puskesmas\ud Tegalrejo Yogyakarta.\ud Saran: Bagi ibu rumah tangga hendaknya lebih berperan aktif dalam melaksanakan\ud kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, dalam hal ini melakukan\ud VCT HIV/AIDS sebagai upaya pencegahan penularan HIV/AIDS

    0

    full texts

    3,772

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇