STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
3772 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN STATIC\ud MUSCLE CONTRACTION DAN MUSCLE STRETCHING\ud EXERCISE TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA\ud PASIEN FIBROMYALGIA MUSCLES ROTATOR CUFF
Latar belakang : Seiring dengan bertambahnya usia, kondisi serta daya tahan tubuh\ud
manusia semakin lama akan semaki menurun. Proses pertambahan usia ini tanpa disadari\ud
akan berdampak juga pada perubahan anatomis, fisiologis tubuh dan bertambahnya tingkat\ud
stressor dalam lingkungan sehari hari, sehingga akan mengalami gangguan (impairment),\ud
ketidakmampuan (disability), meningkat menjadi ketidakmampuan menjalankan fungsi\ud
(difunction), dan timbulnya rintangan (handcap). Hal ini disebabkan beberapa faktor yang\ud
berawal dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Apabila perubahan-perubahan tersebut\ud
terus berjalan seiring dengan pertambahan umur, maka dapat mempengaruhi pada suatu\ud
penyakit (disease). Tujuan penelitian : untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian\ud
static muscle contraction dan muscle stretching exercise terhadap penurunan nyeri pada\ud
pasien fibromyalgia muscles rotator cuff. Metode penelitian : Penelitian ini bersifat quasi\ud
ekperimental dengan rancangan pre and post test group two design yang bertujuan untuk\ud
mengetahui perbedaan pengaruh antara static muscle contraction dan muscle stretching\ud
exercise terhadap penurunan nyeri pada pasien fibromyalgia muscles rotator cuff. Kelompok\ud
1 static muscle contraction berjumlah 9 responden dan kelompok 2 muscle stretching\ud
exercise 9 responden. Kemudian diukur tingkat nyerinya menggunakan Visual Analog Scale\ud
(VAS) yang diambil sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh diuji beda\ud
menggunakan bantuan program komputer SPSS versi 17. Hasil penelitian : Hasil penelitian\ud
yang telah di uji dengan paired sample t-test untuk static muscle contraction dengan nilai p:\ud
0,000 dan muscle stretching exercise dengan nilai p: 0,000. Maka kesimpulan yang di ambil\ud
dengan uji independent sample t-test yaitu ada perbedaan pengaruh pemberian latihan Static\ud
Muscle Contractiondan Muscle Stretching Exercise terhadap penurunan nyeri dengan nilai\ud
p:,0,001. Saraan : Untuk rekan sejawat fisioterapi bagi yang mendapatkan pasien\ud
fibromyalgia dapat menggunakan Muscle Stretching Exercise untuk penurunan nyeri,\ud
dikarnakan Muscle Stretching Exercise lebih efektif dari pada Static Muscle Contraction
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA SENAM LANSIA TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI
Latar Belakang: Lansia merupakan suatu fase dimana manusia mengalami\ud
penurunan kemampuan aktifitas sehari-hari yang di ikuti penurunan dari fungsi\ud
tubuh. Pada tahun 2010 penduduk lansia di indonesia mencapai 23,9 juta atau 9,77%\ud
dan UHH sekitar 67,4 tahun. Dengan semakin banyaknya jumlah lansia yang terus\ud
meningkat maka menimbulkan masalah yang serius, hipertensi merupakan salah satu\ud
masalah yang muncul pada usia lanjut. Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar\ud
merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik\ud
menyebabkan besarnya kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard\ud
bahkan walaupun tekanan diastoliknya dalam batas normal. Tujuan: Penelitian ini\ud
bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh penambahan relaksasi otot\ud
progresif pada senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi. Metode:\ud
penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan design penelitian pre and\ud
post test two group design. Responden berusia 60-69 tahun dan berjumlah 20 orang\ud
kemudian di bagi secara acak menjadi dua kelompok. kelompok 1 di berikan\ud
perlakuan berupa senam lansia dan kelompok 2 di berikan perlakuan senam lansia di\ud
tambah relaksasi otot progresif. Intervensi pada kelompok 1 dilakukan selama 4\ud
minggu dengan frekuensi latihan 2 kali dalam seminggu.sedangkan kelompok 2\ud
dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 2 kali dalam seminggu. Alat\ud
ukur pada penelitian ini menggunakan Spygmomanometer. Hasil: Hasil uji hipotesis\ud
I menggunakan paired sample t-test diperoleh nilai p: 0.000 (p<0,05) sedangkan uji\ud
hipotesis II menggunakan paired sample t-test diperoleh nilai p: 0,000 (p<0,005)\ud
untuk uji hipotesis III menggunakan independent sample t-test diperoleh nilai p:\ud
0,042 (p<0,005). Kesimpulan: Ada pengaruh penambahan relaksasi otot progresif\ud
pada senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi. Saran: Kepada\ud
peneliti selanjutnya, untuk menambah jumlah responden dan memperhatikan setiap\ud
responden dalam melakukan gerakan intervensi, sehingga diketahui keefektifan\ud
latihan relaksasi otot progresif dan senam lansia
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN MASSAGE DAN\ud STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI AKIBAT\ud DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS)
Latar Belakang: Problematika setelah olahraga pada individu kurang aktifitas fisik\ud
yang dapat terjadi salah satunya adalah delayed onset muscle soreness (DOMS).\ud
DOMS dapat terjadi ketika pertama kali melakukan olahraga dengan intensitas tinggi\ud
dan kerja otot secara berlebihan. DOMS adalah nyeri otot dan ketidaknyamanan yang\ud
dirasakan mulai dari 1-3 hari setelah olahraga. Gejala DOMS sering terjadi pada\ud
individu yang tidak terbiasa olahraga, terutama olahraga yang membutuhkan\ud
kontraksi otot ekstra. Massage telah dipelajari sebagai pilihan penanganan untuk\ud
DOMS dengan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi rasa sakit dengan aplikasi\ud
selama 10 menit dimulai dari 2-3 jam setelah latihan yang merangsang DOMS.\ud
Intervensi stretching dengan kontraksi isometrik akan meningkatkan rileksasi otot\ud
melalui pelepasan analgesik endogenus opiat sehingga nyeri regang dapat\ud
diturunkan. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian massage dan\ud
stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS).\ud
Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan pre dan\ud
post test one group design. Sampel berjumlah 34 orang yang dibagi dalam 2\ud
kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi massage dan kelompok 2 diberikan\ud
intervensi stretching dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu selama 4 minggu. Alat\ud
ukur penelitian ini adalah Visual Analog Scale (VAS). Hasil: Hasil uji kelompok I\ud
dengan paired sample t-tes diperoleh p=0,000 yang berarti ada pengaruh pemberian\ud
massage terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS).\ud
Hasil uji kelompok II dengan paired sample t-tes diperoleh p=0,000 yang berarti ada\ud
pengaruh pemberian stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset\ud
muscle soreness (DOMS). Hasil uji kelompok III dengan independent t-test diperoleh\ud
p=0,355 yang berarti tidak ada perbedaan pengaruh pemberian massage dan\ud
stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS)\ud
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian massage dan stretching\ud
terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS)
PERBEDAAN PENGARUH\ud LATIHAN SENAM AEROBIK DAN YOGA TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS VITAL PARU\ud PADA REMAJA PUTRI
Latar Belakang: Masa remaja merupakan bagian dari fase perkembangan dalam kehidupan seorang individu. Rendahnya aktivitas fisik pada remaja berhubungan terhadap penurunan kapasitas vital paru. Data mahasiswi di Universitas „Aisyiyah Yogyakarta yang mengalami penurunan kapasitas vital paru pada mahasiswi program studi fisioterapi adalah 53%, program studi perawat adalah 33%, program studi bidan adalah 40%, mahasiswi program studi radiologi adalah 26% dari 30 mahasiswi, sedangkan program studi gizi adalah 18% dari 11 mahasiswi. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan senam aerobik dan yoga terhadap peningkatan kapasitas vital paru pada remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan pre and post test two group design. Sampel berjumlah 22 orang kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberikan intervensi senam aerobik dan kelompok II diberikan intervensi yoga. Intervensi dilakukan selama 8 minggu, 3 kali seminggu. Alat ukur penelitian ini adalah spirometri Minato AS-507. Uji normalitas menggunakan shapiro wilk test, sedangkan uji statistik menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil: Hasil analisis data dengan paired sample t-test pada kelompok I dan II menunjukkan p=0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh latihan senam aerobik dan yoga terhadap peningkatan nilai kapasitas vital paru pada remaja putri. Hasil analisis dengan independent sample t-test menunjukkan p=0,407 (p>0,05) berarti tidak ada perbedaan pengaruh latihan senam aerobik dan yoga terhadap peningkatan kapasitas vital paru pada remaja putri. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh latihan senam aerobik dan yoga terhadap peningkatan kapasitas vital paru pada remaja putri. Saran: Bagi peneliti selanjutnya diharap bisa mengontrol pola makan responden dan menambah jumlah responden serta lama penelitian
PERBEDAAN PENGARUH SIT-UP EXERCISE DENGAN\ud PRONE PLANK EXERCISE TERHADAP\ud PENURUNAN LINGKAR PERUT\ud PADA REMAJA PUTRI
Latar Belakang: Zaman modern sekarang banyak terjadi perubahan gaya hidup, pola makan, kemajuan pengetahuan serta teknologi sehingga muncul dampak positif yaitu dalam bentuk kemudahan bertransportasi serta berkomunikasi adapun sisi negatif yaitu menurunkan bahkan menghentikan dari gerak badan alami dan berdampak pada kesehatan individu. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh sit-up exercise dengan prone plank exercise terhadap penurunan lingkar perut pada remaja putri. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini experimental pre test and post test two group design, 10 mahasiswi kebidanan menjadi sampel. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I mendapatkan sit-up exercise dilakukan 3 kali dalam 1 minggu selama 6 minggu, kelompok II mendapatkan prone plank exercise dilakukan 3 kali dalam 1 minggu selama 6 minggu. Penelitian ini menggunakan alat ukur midline untuk mengukur lingkar perut. Uji normalitas dengan Shapiro wilk test dan uji homogenitas data dengan Lavene’stest. Uji paired sampel t test untuk mengetahui penurunan lingkar perut kelompok 1 dan II, dan independent sampel t-test untuk menguji beda pengaruh intervensi kelompok I dan II. Hasil: Hasil uji paired sampel t-test pada kelompok I adalah p = 0,000 (p< 0,05) dan hasil uji paired sample t-test pada kelompok II adalah p = 0,001 (p< 0,05), menunjukkan bahwa kedua intervensi berpengaruh terhadap penurunan lingkar perut masing masing kelompok. Sedangkan hasil independent sampel t-test adalah p = 0,539(p˃ 0,05), menunjukkan bahwa perlakuan yang dilakukan pada kelompok I dan II tidak memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan lingkar perut. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh sit-up exercise dengan prone plank exercise terhadap penurunan lingkar perut pada remaja putri. Saran: Bagi peneliti selanjutnya untuk lebih mengontrol pola makan responden agar hasil lebih optimal
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TEKNIK\ud MENYUSUI DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI \ud EKSKLUSIF DI PUSKESMAS PAKUALAMAN\ud YOGYAKARTA
Latar Belakang: Pemberian ASI yang benar dimulai dari teknik menyusui\ud
yang benar. Cara menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi\ud
produksi ASI. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di Puskesmas\ud
Pakualaman Yogyakarta jumlah kunjungan bayi yang datang ke Puskesmas dari\ud
bulan Januari-Desember 2016 sebanyak 74 bayi. \ud
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan\ud
ibu tentang teknik menyusui dengan perilaku dalam pemberian ASI eksklusif di\ud
Puskesmas Pakualaman Yogyakarta Tahun 2017. \ud
Metode: Metode yang digunakan survey analitik denga pendekatan cross\ud
sectional, populasi 166 responden teknik pengambilan sampel menggunakan\ud
sampling insidental dengan kriteria inklusi dan eksklusi sampel 62 responden. Data\ud
yang diperoleh menggunakan kuisioner dan checklist dan analisis data bivariat\ud
menggunakan Kendal Tau. \ud
Hasil: Responden yang berpengetahuan baik 48 responden (77,4%),\ud
responden yang mempunyai perilaku baik 27 responden (43,5%). Hasil uji Kendal\ud
Tau dengan nilai signifikan (τ) p-value 0,001. Koefisien korelasi 0,416 terdpat\ud
keeratan hubungan dengan kategori sedang. \ud
Simpulan dan Saran: Hubungan pengetahuan ibu tentang teknik menyusui\ud
dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Pakualaman Yogyakarta\ud
tahun 2017, dengan kategori sedang. Diharapkan agar bidan bisa berperan sebagai\ud
sarana penyampaian yang jelas dan terbuka kepada ibu menyusui tentang informasi\ud
mengenai teknik menyusui dengan perilaku dalam memberikan ASI yang benar pada\ud
bayinya
HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK\ud DEPO MEDROXI PROGESTERON ASETAT (DMPA) \ud DENGAN KEJADIAN PENINGKATAN BERAT \ud BADAN DI BPS ISTRI UTAMI \ud SLEMAN
Latar Belakang : Jenis kontrasepsi hormonal yang saat ini sering digunakan\ud
adalah KB suntik Depo Medroxi Progesteron Asetat (DMPA). Resiko peningkatan \ud
berat badan ini secara statistik tidak ada perbedaan pada 12 bulan pertama \ud
penggunaan. Semakin lama penggunaan kontrasepsi hormonal maka resiko\ud
terjadinya obesitas akan semakin besar. \ud
Tujuan : Mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi suntik Depo Medroxi\ud
Progesteron Asetat (DMPA) dengan kejadian peningkatan berat badan di BPS Istri\ud
Utami Sleman. \ud
Metode : Metode penelitian Descriptive Corelasional dengan desain pendekatan\ud
cross sectional. Responden penelitian terdiri dari 37 responden diambil menggunakan\ud
purposive sampling. Kejadian peningkatan berat badan diukur menggunakan rekam\ud
medis. Data penelitian diuji dengan teknik Spearman Rank. \ud
Hasil : Ada hubungan positif yang signifikan antara penggunaan kontrasepsi\ud
suntik Depo Medroxi Progesteron Asetat (DMPA) dengan kejadian peningkatan berat\ud
badan di BPS Istri Utami Sleman. Analisis Spearman Rrank menunjukkan bahwa\ud
taraf signifikan p = 0,000 dengan α = 0,05 sehingga p < 0,05. \ud
Simpulan & Saran : Kenaikan berat badan rata-rata 1,0-2,9 kg adalah yang\ud
paling banyak yaitu sebanyak 27 responden (73,0%). Sedangkan yang mengalami \ud
kenaika berat badan 5,0-5,9 kg sebanyak 5 responden (13,5%); terdapat hubungan\ud
yang signifikan dengan p-value sebesar 0,000; terdapat keeratan hubungan penggunan\ud
kontrasepsi suntik DMPA dengan kejadian peningkatan berat badan di BPS Istri\ud
Utami dengan kekuatan hubungan kuat Nilai r menunjukkan r = 0,963 maka r = 0,81,0.\ud
BPS\ud
Istri\ud
Utami\ud
Sleman\ud
diharapkan\ud
dapat\ud
memberikan\ud
asuhan\ud
yang\ud
komperhensif\ud
\ud
kepada\ud
akseptor\ud
KB\ud
Suntik\ud
DMPA
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN SENAM BAYI\ud PADA SPA BABY TERHADAP PERKEMBANGAN\ud GROSS MOTOR BAYI USIA 7 BULAN DI\ud POSYANDU USWATUN HASANAH
Latar Belakang: Stimulasi spa baby dan senam bayi yang dilakukan oleh ibu\ud
kepada bayi usia 7 bulan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan gross motor\ud
pada bayi. Tujuan Penelitian untuk mengetahui Apakah ada pengaruh penambahan\ud
senam bayi pada spa baby terhadap perkembagan gross motor bayi usia 7 bulan.\ud
Tempat penelitian di Posyandu Uswatun Hasanah. Penelitian dilakukan di bulan\ud
desember 2017. Metode Penelitian: Metode quasi eksperimental pre test and post\ud
test two group design, sampel berjumlah 16 bayi usia 7 bulan. Dibagi menjadi 2\ud
kelompok, kelompok I dengan perlakuan spa baby, kelompok II dengan perlakuan\ud
spa baby dan senam bayi dilakukan 2 kali dalam 1 minggu selama 4 minggu, alat\ud
ukur yang digunakan yaitu DDSTII. Hasil: Data tidak normal maka uji hipotesis 1\ud
dan II menggunakan Wilcoxon. Hasil uji hipotesis 1 adalah p= 0,008 < (p= 0,05) dan\ud
hasil uji hipotesis II adalah p= 0,007 < (p= 0,05) menunjukkan bahwa kedua\ud
intervensi berpengaruh terhadap perkembangan gross motor bayi pada kedua\ud
kelompok tersebut. Sedangkan hasil uji hipotesis III menggunakan Mann-Whitney\ud
Test adalah p= 0,535 > (p=0,05), menunjukkan bahwa perlakuan yang dilakukan\ud
pada kelompok I dan II tidak memiliki perbedaan pengaruh terhadap perkembangan\ud
gross motor anak. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh antara spa baby dan\ud
penambahan senam bayi pada spa baby terhadap perkembangan gross motor bayi\ud
usia 7 bulan di Posyandu Uswatun Hasanah. Saran: peneliti selanjutnya melakukan\ud
penelitian dengan membandingkan faktor- faktor lain seperti prenatal, postnatal dan\ud
faktor yang mempengaruhi kemampuan gross motor anak dengan kombinasi metode\ud
latihan yang lain
PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KEBUGARAN\ud KARDIORESPIRASI PADA LANSIA
Latar Belakang : Seiring bertambahnya usia menjadi lanjut usia, kondisi kebugaran\ud
kardiorespirasi akan semakin menurun. Kebugaran kardiorespirasi adalah\ud
kemampuan jantung dan paru serta pembuluh darah untuk mengambil oksigen lalu\ud
mendistribusikannya ke jaringan saat istirahat maupun latihan. Kebugaran\ud
kardiorespirasi dapat diukur dengan menentukan VO2max. Latihan fisik low impact\ud
seperti senam dapat membantu meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dan\ud
menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler pada lansia. Senam lansia adalah\ud
olahraga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan jika diterapkan pada\ud
lansia. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh senam lansia\ud
terhadap kebugaran kardiorespirasi pada lansia. Metode Penelitian : Jenis penelitian\ud
ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre test and post test one\ud
group design, 17 orang lansia menjadi sampel dengan non probability sampling.\ud
Sampel dibagi menjadi 1 kelompok, yaitu kelompok yang diberikan latihan senam\ud
lansia yang dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Penelitian ini menggunakan\ud
alat ukur Six Minutes Walking Test (SMWT) yang dikonversikan kedalam rumus\ud
VO2max untuk mengukur kebugaran kardiorespirasi. Uji normalitas dengan saphiro\ud
wilk test. Uji hipotesis dengan paired sample t-test digunakan untuk mengetahui\ud
peningkatan kebugaran kardiorespirasi pada kelompok perlakuan. Hasil : Hasil uji\ud
hipotesis pada kelompok perlakuan dengan uji paired sample t-test diperoleh\ud
p=0,000, yang berarti ada pengaruh senam lansia terhadap peningkatan kebugaran\ud
kardiorespirasi pada lansia. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian senam lansia\ud
terhadap peningkatan kebugaran kardiorespirasi pada lansia. Saran : Penelitian\ud
selanjutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih banyak, waktu penelitian\ud
yang lebih lama, serta alat ukur yang berbeda
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN JUMP TO BOX\ud DAN LATIHAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP\ud PENINGKATAN AGILITY
Latar Belakang: Olahraga merupakan kegiatan yang di lakukan dengan memerlukan kondisi fisik yang baik. Kemampuan individu untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan merupakan salah satu faktor penting bagi seorang pemain voli. Studi pendahuluan pada dusun Gancahan desa Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta menunjukkan jumlah pemain dalam bola voli lokal daerah sejumlah 24 orang.Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh latihan jump to box dan knee tuck jump terhadap peningkatan agility. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi-experimental dengan pre and post test two group design. Jumlah sampel 14 orang dibagi 7 kelompok. Kelompok I diberikan latihan jump to box dan kelompok II diberikan knee tuck jump dan kedua kelompok diukur side step agility test. Hasil: Ada pengaruh yang signifikan pada pemberian jump to box terhadap peningkatan agility. Pada kelompok I menggunakan paired simple t- test dengan nilai p = 0,000. Ada pengaruh yang signifikan pada pemberian knee tuck jump terhadap peningkatan agility. Pada kelompok II menggunakan paired simple t-test dengan nilai p = 0,528. Tidak ada perbedaan pengaruh latihan jump to box dan knee tuck jump terhadap peningkatan agility. Pada kelompok I dan II dengan menggunakan lavent test untuk menguji homogenitas dan menggunakan shapiro wilk test untuk menguji normalitas serta uji independent sample t-test untuk menguji hipotesis III dan didapatkanhasil p = 0,753. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh latihan jump to box dan knee tuck jump terhadap peningkatan agility