STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
3772 research outputs found
Sort by
PENGARUH HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING\ud TERHADAP PENINGKATAN VO2MAX\ud PEMAIN SEKOLAH SEPAK BOLA
Latar Belakang:.Sepakbola merupakan permaian yang membutuhkan stamina dan\ud
daya tahan tubuh yang tinggi dalam bermain. Stamina dan daya tahan atlet dapat\ud
ditentukan dari tingkat kebugaran tubuh, sebab tingkat kebugaran merupakan\ud
indikator dalam menentukan tingkat performa atlet. Kebugaranatlet dapat dilihat dari\ud
pengukuran nilai VO2Max. Kondisi kebugaran fisik secara keseluruhan siswa sekolah\ud
sepak bola (SSB) se Kabupaten Demak sebagian besar (60%) siswa termasuk dalam\ud
kategori sedang, (38%) termasuk dalam kategori baik, dan 2%) siswa termasuk\ud
dalam kategori kurang. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh High intensity interval\ud
training terhadap peningkatan VO2Max pada Pemain Sekolah Sepak Bola. Metode:\ud
Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre dan post test\ud
one group design. Sampel berjumlah 15 orang kemudian diberikan intervensi high\ud
intensity interval training dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu.\ud
Alat ukur penelitian ini adalah Balke Test. Hasil: Uji normalitas menggunakan\ud
Shapiro wilk test, sedangkan uji statistik menggunakan paired sample t-test hasil\ud
hipotesis p=0,000 (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh high intensity\ud
interval training terhadap peningkatan VO2Max pada kelompok perlakuan.\ud
Kesimpulan: Ada pengaruh high intensity interval training terhadap peningkatan\ud
VO2Max pada Pemain Sekolah Sepak Bola.Saran: Dalam penelitian selanjutnya\ud
disarankan menambahkan kuisioner riwayat penyakit dahulu
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN STATIC STRETCHING EXERCISE DAN MUSCLE ENERGY TECHNIQUE (MET) TERHADAP PENINGKATAN AKTIFITAS FUNGSIONAL LEHER PADA KONDISI NECK PAIN
Latar Belakang : Aktivitas penggunaan laptop yang tinggi pada kalangan\ud
mahasiswa dengan durasi lebih lama dengan posisi statis serta ergonomi yang buruk\ud
jika dibiarkan terlalu lama akan menyebabkan nyeri pada leher atau neck pain.\ud
Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian static stretching exercise\ud
dan muscle energy technique ( MET) terhadap peningkatan fungsional leher pada\ud
kondisi neck pain. Metode : metode quasi eksperimental yang bersifat pre test and\ud
post test two group design. Jumlah sampel 16 dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok\ud
1 perlakuan static stretching exercise dan kelompok II perlakuan dengan pemberian\ud
muscle energy technique (MET). Penelitian dilakukan selama 2 minggu dengan 6x\ud
terapi 1 minggu 3x. Hasil: Uji normalitas menggunakan Saphiro Wilk Test dan uji\ud
homogenitas dengan Levene Test. Hasil paired t-test kelompok I nilai p=0,00, ada\ud
pengaruh pemeberian static stretching terhadap peningkatan fungsional leher pada\ud
kondisi neck pain. Hasil paired t-test kelompok II nilai p=0,000,ada pengaruh\ud
pemeberian muscle energy technique terhadap peningkatan fungsional leher pada\ud
kondisi neck pain, yang berarti ke dua kelompok ada peningkatan kemampuan\ud
fungsional. Hasil Independent sample t-Test didapatkan nilai p=0,022, maka ada\ud
perbedaan pengaruh pemberian static stretching dan muscle energy technique (MET)\ud
terhadap peningkatan kemampuan fungsional leher pada kondisi neck pain.\ud
Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh pemberian static stretching exercise dan\ud
muscle energy technique (MET) terhadap peningkatan aktifitas fungsional leher pada\ud
kondisi neck pain.Saran: Bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan\ud
penelitian ini lebih lanjut,dengan menambah sampel penelitian dan dengan jangka\ud
waktu yang lebih panjang
PERBEDAAN PENGARUH KOMBINASI BABY SPA\ud DAN PLAY THERAPY DENGAN BABY GYM DAN\ud PLAY THERAPY TERHADAP DURASI TIDUR\ud PADA BAYI DI KLINIK SRIKANDI YOGYAKARTA
Latar Belakang :Apabila bayi mengalami kurang tidur maka akan mengalami\ud
penurunan kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan, perkembangan fisik dan\ud
mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang otak bayi, terutama kemampuan\ud
berfikirnya ketika dewasa. Hal ini dikarenakan sebagian besar hormon bekerja ketika\ud
dalam keadaan tidur. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan\ud
pengaruh kombinasi baby spa dan play therapy dengan baby gym dan play therapy\ud
terhadap durasi tidur pada bayi. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah\ud
penelitian quasi eksperimental dengan membandingkan pre test dan post test 2\ud
kelompok .Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 10 bayi berusia 3-12 Hasil :\ud
Hasil pengujian hipotesis menggunakan paired sample t-test pada kelompok baby\ud
spa dan play therapy di dapatkan nilai (p<0,05) p= 0,001 yang berarti terdapat\ud
pengaruh pemberian baby spa dan play therapy terhadap durasi tidur pada bayi\ud
sedangkan pada kelompok baby gym dan play therapy di dapatkan hasil (p<0,05) p=\ud
0,003 yang berarti terdapat pengaruh pemberian baby gym dan play therapy terhadap\ud
durasi tidur pada bayi. Dari hasil uji beda menggunakan independent sample t-test\ud
didapatkan hasil (p<0,05) p= 0,022 yang berarti terdapat perbedaan pengaruh\ud
pemberian baby spa dan play therapy dengan baby gym dan play therapy terhadap\ud
durasi tidur pada bayi. Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh kombinasi baby spa\ud
dan play therapy dengan baby gym dan play therapy terhadap durasi tidur pada bayi\ud
dimana baby spa dan play therapy lebih efektif dalam meningkatkan durasi tidur\ud
pada bayi. Saran : Penelitian selanjutnya di harapkan dapat melakukan penelitian\ud
mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi durasi tidur pada bayi (berat\ud
badan, tingkat kebisingan, lingkungan, kesehatan bayi )
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN\ud CORE STABILITY EXERCISE PADA PELVIC FLOOR EXERCISE\ud TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI\ud STRES INKONTINENSIA URIN PADA LANSIA
Latar Belakang : Wanita yang mengalami menopause dan memasuki masa lanjut usia\ud
banyak masalah kesehatan yang akan muncul salah satunya stres inkontinensia urin.\ud
Data Stres inkontinensia urin di Yogyakarta pada wilayah Bantul, khususnya di daerah\ud
pedukuhan Geneng Panggungharjo Sewon, yang di lakukan dari 40 orang lansia 50%\ud
diantaranya mengalami penurunan frekuensi stres inkontinensia urin dengan skor\ud
RUIS antara 6 sampai 12. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan pengaruh\ud
penambahan core stability exercise pada pelvic floor exercise terhadap penurunan\ud
frekuensi stres inkontinensia urin pada lansia. Metode : Penelitian ini menggunakan\ud
quasi experimental dengan pre and post test two group design. Sampel berjumlah 14\ud
orang kemudian di acak menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi pelvic\ud
floor exercise, kelompok 2 diberikan intervensi penambahan core stability exercise\ud
pada pelvic floor exercise. Intervensi dilakukan seminggu 3 kali selama 3 minggu.\ud
Alat ukur ruangan ini adalah RUIS (Revisi Urinary Incontinence Scale). Uji normalitas\ud
menggunakan Shapiro wilk test, sedangkan uji statistik dengan paired sampel t-test\ud
dan independent sampel t-test. Hasil : analisa data dengan paired sampel t-test pada\ud
kelompok I dan II menunjukan p= 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukan bahwa ada\ud
pengaruh latihan pelvic floor exercise dan core stability exercise terhadap penurunan\ud
frekuensi stres inkontinensia urin. Hasil analisa dengan independent sampel t-test\ud
menunjukkan p= 0,061 (p>0,05) berarti tidak ada perbedaan pengaruh penambahan\ud
core stability exercise pada pelvic floor exercise terhadap penurunan frekuensi stres\ud
inkontinensia urin. Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh penambahan core\ud
stability exercise pada pelvic floor exercise terhadap penurunan frekuensi stres\ud
inkontinensia urin. Saran : Untuk penelitian selanjutnya supaya mengontrol asupan\ud
makan, aktivitas responden
PENGARUH PENAMBAHAN\ud PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FASCILITATION (PNF) PADA PILATES EXERCISE TERHADAP\ud FLEKSIBILITAS LUMBAL\ud REMAJA PUTRI OVERWEIGHT
Latar Belakang: Fleksibilitas tubuh pada manusia umumnya digambarkan sebagai suatu rentang pergerakan di sekitar sendi atau sekelompok sendi tertentu.Peningkatan IMT dapat mengurangi fleksibilitas tubuh terutama fleksibilitas lumbal. Data mahasiswi di Universitas „Aisyiyah Yogyakarta yang mengalami overweight pada mahasiswi program fisioterapi sebanyak 30%, program studi radiologi sebanyak 15%, pgrogram perawat sebanyak 23%, program studi bidan 20% dan program studi gizi 12% dari 30 mahasiswi. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penambahan PNF pada pilates exercise terhadap fleksibilitas lumbal remaja putri overweight. Metode: Penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan metode experimental deangan pre and post test two group desain. Sampel berusia 18-22 tahun dan berjumlah 12 orang kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Intervensi pada kelompok I dilakukan selama 4 minggu, 3 kali seminggu dengan perlakuan pilates exercise sedangkan kelompok II, 2 minggu pelakuan pilates exercise dan 2 minggu pelakuan PNF dilakukan 3 kali seminggu. Fleksibilitas lumbal diukur dengan modified schober test menggunakan midline, uji normalitas dengan menggunakan shapiro-wilk test dan uji analisis menggunakan paired sample t-test. Hasil: hasil analisis data dengan paired sample t-test pada kelompok I dan II menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh penambahan PNF pada pilates exercise terhadap fleksibilitas lumbal remaja putri overweight. Kesimpulan: Ada pengaruh penambahan PNF pada pilates exercise terhadap fleksibilitas lumbal remaja putri overweight. Saran: untuk peneliti selanjutnya diharapkan bisa mengontrol pola makan, aktivitas sehari-hari, dan dapat meneliti emosional responden
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SELF SNAGS DENGAN\ud LATIHAN DEEP CERVICAL FLEXOR STRENGTHENING\ud TERHADAP NYERI DALAM FORWARD HEAD POSTURE
Latar Belakang : Forward Head Posture adalah gangguan postur ditandai dengan\ud
posisi kepala semakin ke depan, disebabkan karena penggunaan laptop dan\ud
handphone secara berlebihan dalam posisi yang tidak ergonomis. Self SNAGS\ud
merupakan teknik mobilisasi sendi disertai dengan gerakan aktif yang menyebabkan\ud
penurunan nyeri pada vertebra servikal. Deep Cervical Flexor Strengthening adalah\ud
latihan penguatan otot stabilisator leher sehingga dapat menyangga leher dalam\ud
posisi tegak serta mengurangi nyeri leher. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan\ud
pengaruh latihan Self SNAGS dengan latihan Deep Cervical Flexor Strengthening\ud
terhadap nyeri dalam kondisi Forward Head Posture. Metode Penelitian : Jenis\ud
penelitian ini quasi eksperimental pre test and post test two group design, 12\ud
mahasiswa menjadi sampel dengan simple random sampling. Sampel dibagi menjadi\ud
2 kelompok, yaitu kelompok I diberikan latihan Self SNAGS yang dilakukan 3 kali\ud
seminggu selama 4 minggu, dan kelompok II diberikan latihan Deep Cervical Flexor\ud
Strengthening yang dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Penelitian ini\ud
menggunakan alat ukur Visual Analog Scale (VAS) untuk mengukur nyeri leher.\ud
Hasil : Hasil uji kelompok I dengan uji paired sample t-test diperoleh p=0,007 yang\ud
berarti ada pengaruh latihan Self SNAGS terhadap penurunan nyeri pada Forward\ud
Head Posture. Hasil uji kelompok II dengan uji paired sample t-test diperoleh\ud
p=0,003 yang berarti ada pengaruh latihan Deep Cervical Flexor Strengthening\ud
terhadap penurunan nyeri pada Forward Head Posture. Hasil uji hipotesis III dengan\ud
uji independent sample t-test diperoleh p=0,827 yang berarti tidak ada perbedaan\ud
pengaruh latihan Self SNAGS dan latihan Deep Cervical Flexor Strengthening\ud
terhadap penurunan nyeri pada Forward Head Posture. Kesimpulan : Tidak ada\ud
perbedaan pengaruh latihan Self SNAGS dan latihan Deep Cervical Flexor\ud
Strengthening terhadap penurunan nyeri pada Forward Head Posture. Saran :\ud
Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih banyak serta alat\ud
ukur yang berbeda
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN\ud DIAFRAGMA BREATHING PADA\ud MOBILISASI SANGKAR THORAKS\ud TERHADAP PENINGKATAN EKSPANSI THORAKS\ud PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)
Latar Belakang : PPOK terjadi karena adanya kelainan obstruksi saluran nafas pada\ud
paru-paru, hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita PPOK, salah\ud
satunya adalah terjadi penurunan ekspansi thoraks pada penderita PPOK. Di RS\ud
Respira Yogyakarta dari 190 pasien PPOK rawat jalan di poli fisioterapi, 50%\ud
diantaranya mengalami penurunan ekspansi thoraks. Tujuan : Untuk mengetahui\ud
perbedaan pengaruh penambahan diafragma breathing pada mobilisasi sangkar\ud
thoraks terhadap peningkatan ekspansi thoraks PPOK. Metode : Penelitian ini\ud
menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre and post test two group\ud
desaign. Kelompok I diberikan intervensi mobilisasi sangkar thoraks dilakukan\ud
selama 6 minggu, 3 kali dalam seminggu. Sedangkan kelompok II diberikan\ud
intervensi mobilisasi sangkar thoraks dengan diafragma breathing dilakukan selama\ud
6 minggu, 3 kali dalam seminggu sedangkan untuk diafragma breathing dilakukan\ud
selama 4 minggu, 5 kali dalam seminggu. Hasil : hasil analisa data hipotesis I\ud
dengan paired t-test kelompok I dan II pada titik pengukuran axilla dan procecus\ud
xypoideus nilai p=0,001, titik pengukuran intercostae 4-5 p=0,004 (p<0,05) sehingga\ud
dapat disimpulkan ada pengaruh mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan\ud
ekspansi thoraks PPOK. Hasil analisa data hipotesis II titik pengukuran axilla dan\ud
intercostae 4-5 p=0,208 (p>0,05) berarti tidak ada pengaruh penambahan diafragma\ud
breathing pada mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan ekspansi thoraks\ud
PPOK pada titik axilla dan intercostae 4-5, titik pengukuran procecus xypoideus,\ud
nilai p=0,05 (p<0,05) berarti ada pengaruh penambahan diafragma breathing pada\ud
mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan ekspansi thoraks PPOK pada titik\ud
procecus xypoideus. Hasil analisa data dengan independent sample t-test menunjukan\ud
nilai p=0,007 pada titik pengukuran axilla, intercostae 4-5 nilai p=0,002, dan\ud
procecus xypoideus p=0,000, jadi p<0,05 dapat disimpulkan ada perbedaan pengaruh\ud
penambahan mobilisasi sangkar thoraks terhadap peningkatan ekspansi thoraks\ud
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh\ud
penambahan diafragma breathing pada mobilisasi sangkar thoraks terhadap terhadap\ud
peningkatan ekspansi thoraks PPOK. Saran : Diharapkan peneliti selanjutnya\ud
meneliti faktor genetik, dan paparan pekerjaa
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN\ud TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN GGK DENGAN HD \ud DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING\ud YOGYAKARTA
Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kegagalan fungsi ginjal \ud
untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan elektrolit akibat\ud
kerusakan struktur ginjal yang progresif. Dukungan keluarga dapat mempengaruhi\ud
pelaksanan pengobatan pasien serta mempengaruhi status kesehatan mental anggota\ud
keluarganya. Salah satu faktor yang memperngaruhi tingkat depresi pada pasien\ud
gagal ginjal kronik yaitu dukungan keluarga.\ud
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga\ud
dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di RS\ud
PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta.\ud
Metode: Metode penelitian deskriptif kuantitatif korelasional dengan pendekatan\ud
cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Responden penelitian terdiri dari 44\ud
\ud
orang responden gagal ginjal kronik berjenis kelamin perempuan yang dilakukan\ud
tindakan hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta, pada\ud
Agustus 2017. dan diambil dengan menggunakan teknik total sampling. \ud
Hasil: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien\ud
gagal ginjal kronik. Analisis Kendali-tau menunjukkan bahwa pada taraf\ud
signifikansi p=0,05 diperoleh nilai p=0,020 sehingga p\ud
≤0,05 dengan nilai\ud
koefisien keeratan -0,266. Diperoleh nilai signifikan dengan koefisien keeratan\ud
rendah negatif yang berati kedua variabel tersebut bersifat berlawanan yaitu jika\ud
dukungan keluarga yang baik maka tingkat depresi akan turun.\ud
Kesimpulan: (1)Dukungan keluarga didapat kategori baik sebanyak 37 orang\ud
(84,1%). (2)Tingkat depresi pasien gagal ginjal kronik didapat kategori\ud
normal/tidak mengalami depresi sebanyak 19 orang (43,2%). (3)Terdapat hubungan\ud
antara duk\ud
ungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik \ud
Saran: Keluarga pasien diharapkan meningkatkan dukungan instrumental seperti\ud
memberi bantuan pinjaman atau sumbangan uang atau benda dari orang lain yang\ud
merupakan bantuan nyata berupa materi atau jasa pada pasien gagal ginjal kronik\ud
yang menjalani hemodialisis, karena keluarga sangat berpengaruh terhadap kondisi\ud
psikologis pasien
HUBUNGAN PERAN KETUA TIM TERHADAP PENDOKUMENTASIAN\ud PENGKAJIAN KEPERAWATAN PADA PERAWAT PELAKSANA \ud DI RUANG RAWAT INAP DEWASA RSU\ud PKU MUHAMMADIYAH BANTUL
Latar Belakang: Dokumentasi pengkajian keperawatan merupakan aspek penting dari\ud
proses keperawatan yang berisi catatan pengumpulan data status kesehatan pasien. Peran\ud
ketua tim sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pengkajian yang komprehensif\ud
dari pemberi pelayanan keperawatan.\ud
Tujuan: Mengetahui hubungan peran ketua tim terhadap pendokumentasian pengkajian\ud
keperawatan pada perawat pelaksana di ruang rawat inap dewasa RSU PKU Muhamadiyah\ud
Bantul, Tahun 2017.\ud
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif korelasional\ud
dengan penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan\ud
teknik total sampling dan diperoleh 44 responden. Instrumen penelitian yang digunakan\ud
yaitu kuesioner peran ketua tim dan lembar checklist penilaian kelengkapan pengkajian\ud
keperawatan. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.\ud
Hasil Penelitian: Peran ketua tim di RSU PKU Muhammadiyah Bantul menunjukan bahwa\ud
katagori baik yaitu sebanyak 26 orang (59,1%) dan cukup sebanyak 18 orang (40,9%).\ud
Pendokumentasian pengkajian keperawatan kategori lengkap yaitu sebanyak 17 orang\ud
(38,4%) dan cukup sebanyak 27 orang (61,4%).\ud
Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara peran ketua tim terhadap pendokumentasian\ud
pengkajian keperawatan pada perawat pelaksana di ruang rawat inap dewasa RSU PKU\ud
Muhammadiyah Bantul (t = 0,669;p< 0,05) yaitu sebesar 0,000. Bagi manajer keperawatan\ud
agar dapat melakukan evaluasi kinerja ketua tim dan meningkatkan sumber daya\ud
keperawatan melalui pelatihan dan workshop, sehingga pendokumentasian pengkajian dapat\ud
dilakukan secara komprehensif
PENGARUH SOSIODRAMATIC PLAY TERHADAP \ud KETERAMPILAN SOSIAL ANAK PRASEKOLAH \ud DI TK ‘AISYIYAH KARANGMALANG \ud YOGYAKARTA
INTISARI \ud
Latar Belakang: Anak yang tidak memiliki keterampilan sosial yang baik untuk\ud
mengembangkan kemampuan sosialnya dapat berdampak pada perkembangan\ud
sosialnya yang memicu anak untuk bersikap introvert. Sikap tersebut akan\ud
membentuk anak menjadi individualis dan tidak percaya diri serta mengarah ke sikap\ud
menutup diri. Sosiodramatic play dapat mendorong kreativitas, kesadaran diri,\ud
empati dan kedekatan kelompok. \ud
Tujuan: Mengetahui pengaruh sosiodramatic play terhadap peningkatan\ud
keterampilan sosial anak prasekolah di TK Aisyiyah Karangmalang Yogyakarta.\ud
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasy experiment)\ud
dengan rancangan non-equivalent control grup design. Teknik pengambilan sampel\ud
menggunakan simple random sampling, Jumlah sampel didapatkan 30 responden\ud
dengan 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden kelompok kontrol yang\ud
bersekolah di TK Aisyiyah Karangmalang Yogyakarta. Analisis data menggunakan\ud
Wilcoxon dan Mann Whitney U Test.\ud
Hasil: Hasil analisis statistik Mann Whitney U dengan nilai ρ = 0,000 (ρ<0,05)\ud
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan \ud
kelompok eksperimen.\ud
Simpulan & Saran: Ada pengaruh sosiodramatic play terhadap peningkatan\ud
keterampilan sosial Anak Prasekolah di TK Aisyiyah Karangmalang Yogyakarta.\ud
Sosiodramatic play bisa digunakan sebagai salah satu alternatif tindakan yang bisa\ud
dilakukan untuk meningkatan keterampilan sosial anak prasekolah